FAQ TENTANG SAYA


Saya merasa teralienasi, saya merasa sendiri dan kesepian didalam pemikiran ini, saya harap saya dapat menemukan teman yang nyata yang dapat mengerti.

Kalau kau Tanya tentang TUHAN ?

Jawabanya : saya tidak tahu (hanya itu)

“Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin menjadi murid kebenaran, carilah!”

Aku ingin kebenaran walapun itu sangat menyakitkan, jangan kau membuat diriku nyaman dalam kebodohan, meululuh lantakan logika akal ku dalam kepatuhan, ketaatan serta ketakutan.

Kalau saya jawab pada point ke-3 maka saya akan mempunyai tuhan yang sama seperti peraih nobel steven wienberg

“At some point will it be possible to find proof that God or the Ultimate Designer does not exist? I don’t think that we can ever prove that God does not exist. But if he does exist it might be possible to prove it.”

Kalau saya menjawab : Saya percaya Tuhan adalah alam semesta/hukum alam

Tuhan saya sama seperti Spinoza (pantheis) : Deus sive substantia sive Natura=Allah (atau) adalah substansi (atau) adalah Alam, Schopenhaeur, “Seorang manusia bisa bertindak semaunya, tetapi bukan seperti yang dia mau”

Ini kisahku mengenai kenapa saya seperti ini :

Dimulai pada ketika saya kelas 1 SMA (17 tahun) membaca buku kakak yang telah dibelinya tentang “Pemikiran Karl Marx” by magnis suseno, yang paling berkesan dibuku itu adalah ketika ada konsep tentang agama karl marx yang diambil dari lewid feurbach, berikut adalah statement-statmentnya :

“Allah yang tidak kelihatan, sedangkan manusia hanyalah wayangnya. Padahal yang nyata adalah manusia. Bukan manusia pikiran Allah, tetapi Allah lah pikiran manusia”

“Bagi Feuerbach, manusia inderawi tidak bisa dibantah, sedangkan roh semesta hanya berada sebagai objek pikiran manusia”

Ketika saya baca itu, saya mulai berfikir ulang, bahwa tiada agama pun tida apa-apa asalkan kita selalu berfikiran jernih dengan akal sehat. Ketika itu saya menganut deism dari feurbach, kita wayang-wayang yang punya kehendak, kemauan tapi tidak lepas dari tangan sang dalang.

Dengan pemikiran seperti itu, Membuat saya nyaman, dengan freewill illusion, kenapa ? “semuanya telah ditentukan, kita hanya perlu mencobanya, untuk mengetahui resultnya”

Ferubach ketika itu berhasil meruntuhkan konsepsi yang ditanamkan sejak kecil kepada diriku, puzzle-puzzle yang terusun rapih itu pun sekarang berantakan, sekarang saya masih mencoba mengumpulkan mozaik-mozaik baru, pemahaman baru, tapi bedanya tanpa frame, saya bebas merangkai, mengumpulkan semua mozaik yang saya temui, tanpa keterkungkungan, akhirnya bebas berfikir, bebas mempertanyakan apa yang seharusnya tidak dipertanyakan. Setidaknya saya bebas dalam pemikiran.

KAU BERTANYA KEPADAKU TENTANG AGAMA : Teologi harus menjadi antropologi

Kata “Agama” harus diganti dengan kata “kemanusian” : mereka dengan buta mematuhinya, tanpa mencerna baik dan buruk, seperti membunuh orang yang berlainan keyakinan itu halal. Tapi sesungghunya itu melanggar HAM. “kemanusiaan lebih penting daripada ketuhanan”.

Jangan kau asingkan dirimu didalam agama kawan “surga dan istana langitnya”, doa-doa yang dikira mustajab, walaupun saya yakin itu akan terasa sangat sulit ketika kau mencoba merubah konsep yang ditanamkan sejak kau masih belum bisa berfikir secara mandiri, tapi kau sudah besar sekarang. Bisa berfikir apapun yang kau inginkan, jangan mempersempit lorong pemikiranmu, jangan kau akhiri pertanyaamu dijawaban, zeus dan appollo, itu hanya akan menjadi “science stopper” bagimu, kau harus sadar, dan mulai “mengubah sahabat- sahabat Tuhan menjadi sahabat- sahabat manusia, mengubah kaum beriman menjadi pemikir- pemikir, mengubah orang yang beribadat menjadi orang yang bekerja”

In the bottom line, I will write : “manusia adalah allah untuk sesama.”

TUHANMU MENURUT MU DENGAN VERSIMU

Kau buat istana langit mu sendiri, tuhanmu dengan nereka, malaikan serta surganya, lalu kau meyembahnya, tidak ubahnya seperti yang dilakukan kaum suku maya, Persia pada saat itu. Saya sadari manusia kehilangan sesuatu. Ia diasingkan, dialienasikan dari dirinya sendiri. Dan untuk menjadi sembuh dari penyakit alienasi, proses ini harus dibalikkan lagi. Manusia harus mengerti, bahwa Allah hanya merupakan ciptaan dari dirinya sendiri, sehingga ia bukan hamba lagi. “Ilusi religius yang terdiri dari suatu objek bersifat imanen pada pikiran kita menjadi lahiriah, mewujudkannya, mempersonifikasikannya. ”Atribut- atribut Ilahi merupakan perwujudan dari predikat- predikat manusiawi”.

Menyedihkan apabila manusia menciptakan agama berserta punishment serta rewardnya hanya untuk menciptakan masyarakat yang idealis, kondusif, untuk menegakan HAM. Meyedihkan kau berbuat baik karena terpaksa, meyedihkan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya membajak sawah untuk membantu petani. Inilah moralitas budak. Budak bertindak bukan atas dasar dirinya sendiri melainkan ketakutan akan tuannya. Tindakannya selalu didasarkan pada perintah tuannya.

Kau bisa lakukan itu tanpa agama, dengan morality landbase by your empathy : saya rasa, tidak harus dengan religion.. kadang empiris, empathy, peraturan itu bisa dijadikan landasan moralitas.. kenapa kalau lampu merah kita dengan sadar harus berhenti..

lalu banyak diantara yang beragama masih melakukan kejahatan, karena kita punya standart, akal, pengetahuan, konsep berifkir, kesadaraan, yg berbeda. kadang NURANI itu pengejawantahan tuhan itu sendiri. <~ franz magnis suseno

Saya tau apa yang kau takutkan : ketika seorang scientist yang tidak punya religion membuat nuklir dan akan memusnahkan semua orang atau seperti seseorg ibu yang beragama telah membunuh bayinya.. salahkan tipisnya rasa kemanusian, dan rasa empathy pada diri mereka..serta akal, pengetahuan, dan kesadaraanya.. Bahkan anjing sekalipun mempunyai moral, lihat anjing hachiko dari jepang, Nungguin majinkanya yang udah mati, lihatlah singa sekejam-kejam nya pemangsa tetapi tidak memangsa anak nya sendiri ketika lapar? itu moral dari siapa ? agama bukan ? Kebijaksanaan, karsa, keadilan, cinta kasih, sekian banyak atribut kekal yang seluruhnya merupakan hakikat manusia yang sesungguhnya dan bukan Allah yang menciptakan manusia, melainkan sebaliknya Allah adalah ciptaan angan-angan manusia.

Agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Allah yang hanya merupakan ciptaan manusia akhirnya dihormati dalam kebaktian. Itu berarti bahwa manusia menjadi hamba dari ciptaannya. Manusia memandang dirinya sendiri sebagai ciptaan dari ciptaannya. Akhirnya manusia meletakkan dirinya lebih hina daripada hasil proyeksinya itu. Misalnya, manusia itu lemah sedangkan Tuhan itu mahakuasa, manusia itu jahat sedangkan Tuhan itu suci dan seterusnya . It was sick, kau ciptakan patung-patung transenden di dalam angan-anganmu sendiri.

Kau ciptakan istana langitmu sendiri, agar kelak apabila kau gagal di dunia, kau akan berahli ke opsi yang kedua, bersantai di rumah mewah dan ditemani 72 bidadari-bidadari didalam angan-anganmu sendiri. Menurutku lebih baik 1 bidadari di kenyataan dari pada puluhan bidadari di angan-angan.

KAU NAMAKAN TUHANMU :

“Allah”. Allah dipahami sebagai yang Mahatahu (rasio sempurna), yang Mahabaik (kehendak sempurna), dan Kasih (hati sempurna). Tapi buktinya mana ? kau lihat diluar, many design is failed. Ketika ada seorang ibu yang sedang menyusui bayinya yang idotic, kau mau bilang itu apa ? tuhan tidak butuh pembelaan. There is was paradoxical concept then.

MASA KETERTARIKANKU TERHADAP ILMU ALAM (GEOGRAPHY) :

Hal ini juga yang membuatku untuk berhenti percaya – saya masuk jurusan geography akibat ketertarikanku terhadap matapelajaran geography sewaktu SMA. Saya diperkenalkan dengan materi “geology” dan “kosmography” disana tidak satupun tuhan disinggung ketika dosen menerangkanya, menurutku ia tahu bahwa cara kerja iman dan science itu berbeda. Lalu disini saya mulai mengenal tentang penciptaan alam semesta, serta waktu geologinya, yang memuarakan saya kepada : lawrence krauss, carl sagan, Hawkins.

Saya rasa saya tidak ingin percaya kepada simsalabim, abracadabra atau kunfayakun itu sangat absurd dan mustahil, bagaimana kita mendapatkan kebeneran yang sesungguhnya tanpa melewati proses eksperimen dan observasi, jika hanya sekedar keyakinan saja? Saya kira itu adalah jalan pintas dan jalan kemalasan yang banyak disenangi oleh para manusia yang ingin hidup di alam dunianya sendiri. Saya rasa science tidak akan berkembang kalau selalu diakhiri oleh zeus dan appollo. Sekali lagi alam semesta ini ada seperti apa adanya suka atau tidak suka, dan pekerjaan terbesar dari manusia adalah mencari tahu bagaimana semua ini bekerja.

Don’t make GOG, jika kau membuat GOG dalam gap science itu hanya mensempitkan ruang lingkup tuhan hingga tuhan itu menghilang dari seluruh aspek kehidupan. Misalnya ketika zaman dulu ketika kau bilang petir dari zeus atau pelangi dari leprachun. Sekrang kita tau, it doest approve.. seperti kau yang bilang where the dust come from ? to begin bigbang. Its seems universe smarter than us. Sekarang gap-gap telah diperkecil, begitu juga tuhan yang kau taruh di dalam gap-gap tersebut. Kita hanya perlu menunggu hingga gap tersebut is reveal. Tuhan pun akan menghilang. Kita semakin dekat dengan hal itu, hanya butuh beberapa waktu lagi. pernyataan Hawking adalah bahwa fisika sudah cukup maju sehingga Tuhan tidak muat lagi untuk diselipkan dalam bolongan-bolongan dalam kotak fenomena alam yang belum terjawab. Celah ini jelas semakin lama semakin sempit. Kalau Nietzsche bilang “kita telah membunuh tuhan”, saya mau bilang “kita telah menghilangkan tuhan”.

SAYA & BIOGEORAPHY, dan GEOGRAPHY SEJARAH :

Saya diajarkan dan bertemu dengan matakuliah diatas, dimana alam dikupas secara tuntas, lalu saya menemukan jawabnya di Richard dawkins, Daniel C. Dennet dan juga david deamer, dan dosen saya pun setuju tidak menyebutkan bahwa kreasion itu ada, sepertinya dia sangat menjunjung tinggi keilmiahanya dan tidak mau mahasiswanya tersesat dalam keabsurtisme agamawi. Saya setuju dan menghargai itu dan memang kebanyakan ilmuwan setuju bahwa kehidupan melewati masa ketika RNA adalah molekul utama yang membentuk kehidupan dengan mendesain rancangan kehidupan. Menurut hipotesis “Dunia RNA” ini, RNA adalah molekul inti kehidupan primitif dan berada di belakang layar ketika DNA dan protein—yang melakukan pekerjaan lebih efisien daripada RNA—dikembangkan. Ini semua diajarkan dalam geography sejarah bagaimana kehidupan bermula.

SAYA & KOSMOGRAPHY :

Sewaktu itu saya juga diperkenalkan dengan matakuliah kosmography, dimana saya membaca sana sini untuk mempresentasikan pembentukan bumi, alam semesta dan lain-lain, sangat menarik bagi saya bagaimana keteraturan itu tercipta, saya mencari tahu lebih lanjut. Lalu menemukan fakta yang menyakitkan diatas observasi kesadaran dan penelitian, menemukan tidak ada tuhan disana-sini, mereka yang menyebutnya maha ghaib bagi saya sama dengan tidak ada. Saya kira seandainya kita melihat di mana saja tangan suatu kepribadian perancang, itu tidak lain adalah prinsip-prinsip dasar, hukum-hukum alam terahir, buku peraturan yang mengatur dan menguasai seluruh fenomena alami. Kita belum mengetahui hukum terahir, namun sejauh yang dapat kita amati, hukum-hukum itu sungguh tidak berkepribadian dan diam tanpa peranan istimewa terhadap kehidupan. “Betapa alam raya berjalan penuh dengan keteraturan berdasarkan hukum-hukumnya, sehingga ia tak perlu lagi sang pengatur,” tulis Carl Sagan. Idea designer tak membuat manusia berhenti bertanya. Karena we are permanently in the tragic position of not being able to understand at the deepest possible level, mengapa hal itu terjadi demikian. Jawaban terjadi karena ciptaan Allah adalah jawaban yang tidak berguna. Pada akhirnya Sains adalah satu-satunya cara yang valid untuk memperoleh pengetahuan. Tuhan tidak diperlukan untuk menjelaskan dunia. Ilmu pengetahuan pada akhirnya akan mengungkap semua misteri. Sesuatu yang tidak dapat dijelaskan adalah tidak ada

PRADOXIAL dalam AGAMA CONCEPT :

Serta menemukan bahwa tiada tuhan dalam alam, yang ada hanya misteri yang belum terungkapkan. Saya rasa ada salah dalam concept agama, seperti freewill dan keadilan, serta narciscus.

Freewill : freewill (kehendak bebas) vs omniscient (maha tahu) adalah kontradiksi dogma agama. freewill diciptakan untuk “membebaskan” tuhan dari tuduhan biang keladi, krn semua pilihan adalah tanggung jawab individu padahal eksistensi freewill (kalau memang ada), akan mematikan attribut tuhan sebagai maha tahu, alfa-omega. Contoh: jika adam hawa punya freewill, artinya tuhan TIDAK TAHU apa yg akan dilakukan mereka setelah pohon ditaruh di taman, namun jika tuhan tahu apa yang akan dilakukan adam, artinya adam berprilaku SESUAI KALKULASI tuhan.

Jadi jika tuhan memberi adam kehendak bebas, artinya he’s no longer god. because he’s not omniscient, tapi jika tuhan adalah omniscient, freewill adalah ilusi. semua prilaku kita ada ruang lingkup tuhan. kalau kata samawi, tak akan jatuh sehelai rambut pun tanpa ijin -NYA. masuk akal kan? salah satu kutipan dari alkitab “Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga ia tidak mendengarkan mereka” berdasarkan ayat tsb, firaun bekerja sesuai dengan RENCANA TUHAN tuhan yang mahatahu, gak perlu ngetes adam. kecuali dia ngelakuin hal tsb buat iseng-iseng aja jika tuhan alfa omega, kita gak lebih dari bagian rangkaian aksi reaksi antara awal dan akhir. semuanya telah ditentukan itu adalah paradox freewill.

Rasanya seperti sedikit tidak adil bagi keluarga saya yang dibunuh agar menyediakan kesempatan bagi freewill orang Jerman, bahkan dengan mengkesampingkan hal itu, bagaimana dengan freewill yang diberikan kepada kanker? Apakah itu suatu kesempatan freewill bagi tumor-tumor?

Kesalahan konsep keadilan menurut tuhan anda bisa lihat di bawah ini :

‘Keadilan’ Tuhan teramat Sederhana, jika percaya maka engkau akan selamat, sebejat apapun semua tindakanmu. Sebaliknya, jika tak percaya, sebaik apapun tindakanmu maka engkau akan dipanggang selamanya di neraka. Ingat, bukan 1.000 atau 1.000.000 tahun, melainkan selamanya. Jadi nampaknya Tuhan begitu terobsesi dengan ‘percaya’. Apa sih istimewanya ‘percaya’? Kenapa Tuhan sama sekali tak menoleh amal baik dan buruk dan hanya menyandarkan penilaian pada percaya? Tuhan seperti ini semacam Tuhan yang tidak punya percaya diri, takut kalau diriNya ditinggalkan makhluk yang dia ciptakan sendiri.

Jadi begini loh konsep gabungan diantara semua paradox diatas :

Bukankan Tuhan Maha Tahu dan Maha Kuasa. Jadi sesungguhnya dia secara sadar menciptakan dan menakdirkan sebagian manusia akan di surga dan sebagian besar akan disiksa di neraka. Jadi buat yang ditakdirkan jadi penghuni neraka kira-kira akan begini ceritanya: Tak minta diciptakan – Namun Tuhan toh menciptakan juga – Karena Tuhan Maha Kuasa maka Dia pasti telah tahu sebelumnya bahwa manusia ini akan masuk neraka – Setelah mati disiksa selamanya.

Ringkasnya: Tuhan sengaja menciptakan sebagian manusia yang sebenarnya si manusia ini tak minta diciptakan untuk kelak disiksaNya.

KALAU KAU TANYA TENTANG CREASION :

Saya tidak pernah percaya tentang penciptaan itu sama halnya saya seperti anak SD yang percaya kepada simsalabim BOOM !! lalu ada. That was silly thought, saya lebih percaya kepada teori M Hawkins, yang menganalisi dari hitungan fisika dan mekanik kuantum Richard feynman, itu pun hanya sekedar theory dan belum tentu benar, bagaimana kau percaya 100% terhadap kitab usangmu, yang hanya katanya. Mereka yang melakukan penelitian secara metode ilmiahpun belum tentu benar, bagaimana kau percaya dan merasa benar dengan sumber anonimu (TUHAN).

Ironisnya masih ada beberapa orang bodoh menyatakan, bahwa Sang Pencipta menjadikan dunia ini. Ajaran, bahwa dunia ini diciptakan, adalah kekeliruan yang seharusnya disangkal. Kalau Tuhan menciptakan dunia, di manakah Ia sebelum dunia dijadikan?… Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan dunia ini tanpa bahan mentah apapun? Kalau Anda mengatakan, Ia membuat ‘anu’ dulu sebelum menciptakan dunia, Anda akan terus mundur tanpa ujung pangkal…. Ketahuilah, bahwa dunia ini tidak diciptakan, sebagaimana halnya waktu, tanpa awal dan tanpa akhir.

Lalu kau masih bilang itu dari penciptaan, kau membuat ku GILA..!!! pada zaman dahulu ketidaktahuan mengenai bagaimana alam bekerja menyebabkan orang-orang kuno menciptakan dewa-dewa untuk disembah pada tiap bidang kehidupan. Ada dewa cinta dan perang; dewa surya, bumi dan langit; dewa lautan dan sungai; dewa hujan dan badai; bahkan ada dewa gempabumi dan gunung berapi. Itu ketika sebelum masehi bung, sekitar 500 SM, lalu sekarang kau masih percaya akan hal itu, saya rasa kau tak perlu membelanya sehingga kau harus menaruh otakmu dalam lemari. Kau tak harus mempersempit lorong penglihatanmu, dan ruang berfikirmu, kau bebas bung, pada dasarnya, tapi kau malah membuat sesuatu yang mengungkung mu (TUHAN-AGAMA-KITAB) itu kata sarte bung.

I don’t wanna make you to stop believing.. im just sick everytime you argue to defend something.. that you even understand. Lack of evidence.. im sick everytime you argue about that myth too. Mitologi Viking, Skoll dan Hati mengejar bulan dan surya. Saat serigala-serigala itu menangkap salah satunya, terjadilah gerhana. Ketika ini terjadi, orang-orang di bumi bergegas menyelamatkan surya atau bulan dengan membuat kegaduhan sebising-bisingnya berharap menakut-nakuti kedua serigala itu. Ada mitos-mitos serupa pada budaya lain. Namun beberapa waktu kemudian orang-orang memperhatikan bahwa surya dan bulan segera muncul dari gerhana tidak perduli apakah mereka berlarian berteriak-teriak dan menabuh apapun atau tidak sama sekali. Setelah beberapa waktu mereka juga pasti memperhatikan bahwa gerhana tidak terjadi secara acak: Gerhana terjadi dengan pola yang teratur yang berulang sendiri. Pola ini lebih mudah pada gerhana bulan sehingga orang Babilonia kuno dapat meramalkan gerhana bulan dengan cukup akurat meskipun mereka tidak menyadari bahwa itu disebabkan bumi yang menghalangi sinar surya.

Kenapa kau hanya percaya kepada mitologimu, bukan mitologi bangsa Viking, itu disebut delusion. Kita seperti orang schrizophernia kawan, dengan sosok imajiner tesendiri-sendiri. Membuatku tidak mengerti tentang kegilaanmu. Lalu kita saling membunuh demi sosok imajiner mana yang lebih baik.

Untuk kreasion alam semesta dan makhluk hidup, saya akan mengutip. Lawrence krauss :

“Yang luar biasa adalah bahwa setiap atom di tubuhmu berasal dari bintang yang meledak. Dan atom di tangan kirimu mungkin berasal dari bintang yang berbeda jika dibandingkan dengan tangan kananmu. Inilah kutipan fisika paling puitis yang pernah kuketahui. Kalian semua adalah debu bintang. Kamu tidak akan ada di sini jika bintang tidak meledak. Karena unsur-unsur seperti karbon, nitrogen, oksigen, besi, semua yang penting untuk evolusi, tidak ada pada masa dimulainya waktu. Unsur-unsur tersebut dibuat dalam pembakaran di bintang. Karena unsur-unsur seperti karbon, nitrogen, oksigen, besi, semua yang penting untuk evolusi, tidak ada pada masa dimulainya waktu. Unsur-unsur tersebut dibuat dalam pembakaran di bintang. Dan satu-satunya cara agar unsur-unsur tersebut bisa masuk ke dalam tubuhmu adalah jika bintang tersebut cukup bersedia untuk meledak. Jadi lupakan Yesus! Bintang-bintang mati agar kamu bisa ada di sini hari ini“

Rasa rasa itu lebih masuk akal, lebih puitis dari pada “bimsalabim abracadabra” atau “kunfayakun”

COCOLOGI DALAM PARDIGM KU :

Yang hanya ada postdiksi menurutku, bukan prediksi, jadi cara kerjanya ialah : cari temuan baru dalam science lalu bacalah dikitab. Bukankah kalau kitab itu benar, posisinya selalu ada didepan, tidak harus perlu membaca/mencocok-cocokan dengan science untuk perlu dianggap benar.

Sciencepun tidak mengklaim dirinya benar 100%, sementara, apabila science salah, maka kitabpun harus direvisi gitu ? jadi jelaslah cocologi ialah sebuah misconception, 2 hal yang berbeda tidak usah dicampuradukan science dengan iman, iman tidak perlu bukti, abosolut mutak 100% benar, sementara science terbuka dengan segala macam kritik, koreksi, tidak stagnant, selalu mengikuti perkembangan zaman, itulah keunggulan science terhadap bible.

Zaman dulu gereja ortodoks/khatolik itu kuat dalam memegang ajaranya, sehingga Spinoza atau Seperti Galileo galilei, yang diasingkan karena mengungkap kebenaran atau menistakan agama. Galileo dalam karyanya “Matahari Centris”mengatakan, “Matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi sebagai pusat tata surya”. Temuan ini bertentangan dengan bible mengatakan “Bumi adalah pusat tata surya, matahari mengelilingi bumi” (Yoshua 10:12-13), Kitab Kejadian 1:1-18 dikatakan oleh dogmatika sebagai Geosentris. Saya rasa tuhan harus membuat revisi bible yang kedua. Sekarang coba lihat, orang disana-sini melakukan postdiksi (cocologi). Mungkin akibat kejadian gelileo maka orang samawi, belajar dari kesalahan dengan membuat cabang ilmu baru “cocologi”.

BODOH ITU : THEY HEAR THE TRUTH, SEEING THE TRUTH, KNOWING THE TRUTH BUT STILL BELIEVING IN LIES.
ITU MUDAH BAGAIMANA KITA MENIPU SESEORANG, TAPI LEBIH SULIT BAGAIMANA KITA MENYADARKANYA BAHWA DIA TELAH DITIPU..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s