AGNOSTISM – GOD DELUSION


Tidak ada yang salah dengan menjadi agnostic dalam kasus-kasus dimana kita tidak memiliki bukti-bukti karena satu hal atau hal lainya , itu adalah sikap yang masuk akal. Carl sagan bangga menjadi agnostic ketika ditanya apakah ada kehidupan ditempat lain di alam semesta ini ? Ia menolak untuk mengakuinya, walaupun telah didesak untuk menjawab dengan tegas, “jelas tak menjadi soal menunda penilaian sampai adanya bukti-bukti”

Hanya menyatakan kemungkinan-lemungkinan dalam satu atau cara lain, apakah terlalu naïf apabila kita menyekap tuhan dalam kemungkinan-keumngkinan, kalau begitu saya juga bisa menyekap pink unicorn, FSM, dalam kemungkinan itu juga. Mereka yang menempatkan sesuatu dalam probabilitas tidak akan pernah bisa disanggah dan tidak ada yang boleh disalahkan dalam kemungkinan, ketika asumsi-asumsi tersebut sama-sama memiliki sedikit bukti.

Saya bisa saja bilang bahwa di angkasa luar terdapat bersemayam kucing hitam, matanya seperti cahaya bintang, kalau kau tidak bisa menemukanya wajar saja, kerena hitamnya seperti angkasa luar. Dan kau juga boleh bilang tuhan mu juga ada disana, lihatlah probabilitas tuhan mu sama dengan kucing hitam punyaku.

Itu sangat lucu, karena semua orang bisa melakukan seperti itu, menempatkan pink unicornya, FSM, dan Pikachu, serta doraemon mereka didalam ketakterhinggan alam semesta, dengan beralasan, kau tidak bisa menyalahkanya karena mereka terdapat di sisi angkasa yang jauh, yang tak pernah terjamah oleh observasi teknologi atau satellite manapun.

In an infinite universe everything impossible could be possible. Dan Kita tidak bisa menyalahkanya karena kita minim bukti terhadap itu semua.

* 1: Teis
kuat. 100 persen kemungkinan keberadaan Tuhan (Tuhan pasti ada).
Seperti kata-kata filsuf C.G. Jung, ‘Saya tidak percaya, saya
mengetahui.’

* 2: Kemungkinan keberadaan Tuhan adalah sangat
tinggi, tapi tidak sampai 100 persen. De facto teis. ‘Saya tidak tahu
dengan pasti, tetapi saya sangat percaya terhadap Tuhan dan saya
menjalankan hidup saya dengan asumsi bahwa Tuhan ada.’

* 3: Lebih tinggi dari 50 persen tetapi tidak terlalu tinggi. Secara teknis agnostik tetapi condong ke arah teisme. ‘Saya sangat tidak pasti, tetapi saya condong untuk percaya terhadap Tuhan’

* 4 : Tepat 50 persen. Benar-benar agnostik tidak memihak. Kemungkinan keberadaan Tuhan dan ketidakberadaan Tuhan adalah tepat sama.

* 5 : Lebih rendah dari 50 persen tetapi tidak terlalu rendah. Secara teknis agnostik tetapi condong ke arah ateisme. ‘Saya tidak tahu apakah Tuhan ada tetapi saya cenderung skeptis tentang hal tersebut’

* 6 : Kemungkinan sangat rendah, tetapi tidak sampai 0 persen. De facto ateis. ‘Saya tidak tahu dengan pasti, tetapi saya berpendapat bahwa kemungkinan adanya Tuhan sangat kecil, dan saya menjalani hidup saya dengan asumsi bahwa Tuhan tidak ada’

* 7: Ateis kuat. ‘Saya mengetahui bahwa Tuhan tidak ada, dengan pengakuan yg sama seperti Jung tahu bahwa Tuhan ada’

Dalam skala dawkins agnostic 50:50 terdapat di skala 4, eksistensi dan non eksistensi tuhan sama-sama penting, sementara di skala 5, kurang dari 50% secara teoritis agnostic namum cendering mengarah pada atheism. “saya tidak tahu tuhan ada, tapi saya cenderung bersikap skeptic”

Ketika tuhan menunjukan bukti keberadaanya tanpa privillage terhadap perseorangan, misalnya menunjukan sinar/cahaya yang besar yang tiba-tiba turun dari langit lalu menyentuh tanah, dan cahaya itu lebih terang dari pada sinar matahari, dan kemunculan cahata itu belum dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi saya akan akan cenderung skeptic, apa cahaya itu benar dari tuhan atau ultramen ? atau dari flare, atau Cuma kebetulan semata.

Kalau saya jawab itu tuhan, apa bedanya dengan orang-orang pada masa ancient freek terdahulu ketika mereka melihat cahaya dilangit lalu mereka bilang dari zeus. Misalkan tuhan telah menunjukan dirinya, bukan secara practical tapi secara prinsip, masalah yang selanjutnya kita hadapi ialah delusi itu sendiri, tuhan manakah itu, tuhan modern seperti tuhanya para samawi dan polytheist (budhist dan hindust) atau tuhan the oldiest Greek, egeyptian (tuhan kuno) ?

Sangat sulit untuk memecahkan masalah delusi ini, karena kita tidak mungkin mewawancari tuhan itu sendiri, delusi merupakan masalah penting, karena apabila sifat tuhan seperti “narsiscus” yang telah diperbincangkan dikitab-kitab kuno samawai, mereka yang salah menyembah will be burn in eternal hell.

Sementara dawkins sendiri dikategori 7 “saya tidak bisa mengetahu dengan pasti, namum saya pikir tuhan sangat tidak mungkin dibuktikan, dan saya menjalankan kehidupan saya berdasarkan asumsi bahwa ia tidak ada” Saya memaparkan skala dawkins karena itu (lebih detail dan cocok menurut saya, tentang opini terhadap eksistensi tuhan)

“Jika saya mengusulkan bahwa antara Bumi dan Mars ada teko teh Cina yg mengitari matahari dalam orbit elips, tidak akan ada yg mampu menyangkalnya, karena saya juga menambahkan bahwa teko teh itu terlalu kecil untuk dilihat oleh teleskop tercanggih kita. Namun bila saya tetap mempertahankan pernyataan ini dengan alasan karena pernyataan ini tak bisa dibantah, adalah sifat akal manusia untuk meragukannya. Sehingga pernyataan ini akan dianggap omong kosong.
Tetapi jika keberadaan teko semacam itu ditegaskan dalam buku-buku kuno, diajarkan sebagai kebenaran suci setiap Minggu, dan ditanamkan dalam pikiran anak-anak di sekolah, keengganan untuk memercayai keberadaannya akan menjadi tanda sebuah keanehan dan menggiring orang yang meragukannya ke psikiater “ – Bernard Russell

Itu tidak hanya terjadi pada senuah tea pot, tapi juga bisa terjadi pada ultramen, kucing hitam tadi, atau tuhan tidak lebih penting dibanding peri gigi. Kita tidak memiliki bukti-bukti dan tak lebih dari sekedar untuk menyatakan kemungkinan-kemungkinan terhadap sesuatu.

Dawkins membedakan ada dua jenis agnotism, yaitu temporary agno practical (TAP) dan permanent agno practical (PAP). TAP bisa dinyatakan dengan kalimat “suatu hari kita berharap mengetahuinya meskipun untuk saat ini kita tidak mengetahuinya”

Dan PAP dengan “seberapapun banyaknya bukti yang dikumpulkan, gagasan tentang bukti-bukti, bukti itu sendiri tidak dapat diteteapkan karena persoalan tesebut berada didalam tataran yang berbeda, dimensi yang berbeda, diluar zona yang dapat dijangkau bukti-bukti. PAP layak bagi suatu persoalan yang tak pernah terjawab. Contohnya PAP ialah tentang philosophical chestnut : persoalan tentang apakah amda melihat merah seperti yang saya llihat, mungkin merah anda adalah hijau bagi saya, para filusuf merunjuk persoalan ini sebagai suatu persoalan yang tak pernah bisa dijawab.

Analogy yang sama ketika tuhan menunjukan eksistensinya melalu prinsip-prinsip atau practical, kalau tuhan itu ada tuhan manakah itu, the modernist god (samawi, hindust, budhist gods) or the oldiest god (ancient Egypt or ancient greek – thor, Mithras, zeus, hellios, Apollo, zoroaster, ra, Osiris) ?

Dawkins sendiri beranggapan eksistensi tuhan jelas termasuk dalam kategori sementara atau TAP, suatu hari nanti kita mungkin mengetahui jawabanya dan untuk sementara ini kita dapat menyekap tuhan dalam probabilitas, untuk PAP, sebaiknya kita hendak ragu-ragu sebelum menyatakan kebenaran abadi agnostism.

T.H Huxley : Jangan berbupra-pura bahwa kesimpulan adalah pasti, jika semua itu tidak terbuktikan atau tidak dapat dibuktikan.

Tapi nyatanya Huxley sendiri termasuk dalam PAP, menurut dia tidak mungkin untuk membuktikan atau menyangkan tuhan, tampaknya telah mengabaikan factor probabilitas.

Eksistensi atau non eksistensi tuhan merupakan suatu fakta ilmiah tentang alam semesta yang dapat dibuktikan dan ditemukan dalam prinsip jika tidak dalam praktik, jika dia eksis dan memilih untuk menyingkapkan hal itu, tuhan sendiri dapat menyudahi perselisihan tersebut dan sekalipun eksistensi tuhan tidak pernah terbuktikan atau disangkal secara pasti, tapi bukti-bukti dan alasan yang ada mungkin menghasilkan suatu perkiraan probabilitas yang kurang dari 50%. Kalau tuhan mahakuasa ia bisa saja menyebunyikan dirinya dan mungkin suatu saat nanti akan membuktikan eksistensi dirinya (walapun ada permasalah paradoxical tentang concept omnipotent ini). Itu akan membawa kita pada atheist/agnsotik terhadap alien, multiverse or universe atau tuhan itu sendiri.

Khusus dituhan, apakah ituhan itu bisa dibuktikan secara empiris, practical or principal, atau kita hanya berusaha mengisi gap ketidakpahaman kita dengan tuhan itu sendiri, it will holds you and everyone back, in every of progress of human knowledge, teach us statisfy without understanding the world. Apakah kita mengira bahwa tuhan itu ada karena didasrkan kitab suci kuno yang telah di bicaarakan dan diperbincangkan sejak dahulu kala ? bagaimana yang diperbincangkan dan diwariskan secara turun temurun itu tentang FSM, kucing hitam miliku, atau ultramen, apakah nanti kau akan mempercayai eksistensi mereka juga ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s