AWAN KELABU


Pernahkah kau dengan deburan ombak ve, merasakan lebutnya pasirnya putih nan bersih di bawah pijakan mu, ingatkah waktu kita pertama ke pantai ve, canda, tawapun tergoress di sana hingga tangis luka. Kita bertanya-tanya tentang hidup yang tak satu orangpun tahu. Masih ingatkah kau kita bermain bersama di bibir pantai, berlari-lari bermain dengan deburan ombak, kau mengengam tangan ku dengan sangat erat, seperti kaki langit mencengkram bintang gemintang, ku rasa apabila kita terjatuh, kita akan terjatuh bersama. Kita terjatuh dalam lelah lalu bersandar di pasir putih nan lembut dan membentuk The Vitruvian Man Leonardo Davinci sambil menatap awan, hingga angin membelai wajah cantikmu, membawa awan kelabu itu ve, kau agak gentar ve melihat awan itu, kau tergelak sebentar “ah rupanya kau takut dengan awan” pikirku. Lalu kaudiam dan bergumam, “warnanya kelabu aku tak suka warna kelabu bisa-bisa warna itu menutupi mataku, mengelabui ku, sehingga kabur bagi ku yang mana disebut kebenaraan itu, aku lebih suka warna yang jelas, tegas, bukan semu yang mencirikan ragu,biru, merah, ungu hitam, putih”, “putih tidak ada ve” , lalu kau menatapku lembut, penuh mesra dan berkata“ada, jika kita bisa mempertahankan kebenaran, putih akan ada”  tatapan yang tak akan pernah ku lupa.

***

Kau kembali terdiam, terhanyut dalam muram, alunan nyanyian angin laut menghempas kita membawa mimpi dan harapan yang meresahkan. Terjatuh ku dalam lamunan ketika suatu saat nanti kita akan membuat perahu ve, dimana kita dapat pergi kemanapun yang kita inginkan, menyeberangi benua maupun samudra. Dimana hanya ada kita berdua dan aku yang mendayuh tanpa harus kau gantikan ve, tak apa, kau tak perlu merasa bersalah, karena aku lebih suka seperti ini, karena aku bisa medayuh sesukau, cepat, lambat, kuat, lemah, atau kadang mendayuh sambil tertidur, yang penting aku yang memegang kendali, dengan memegang kendali aku dapat memutuskan arah yang aku ingin tuju, aku bukan ingin mengendalikan mu, aku hanya ingin melindungi mu ve.

***

Hanya ada kau dan aku di kapal, beserta camar di udara yang membuat langit memutih, mereka merentangkan sayap, mengepak lembut, terbang menjauh, tinggi mengangkasa, melihat cemburu ke arah ku, ku rasa camarpun tau bahwa kita tak ingin diganggu. Sementara malam, bintang dan rembulan berubah menjadi navigasi yang dapat mengarahkan. Langit biru berubah menjadi kelabu dan deruan ombak menjelma tombak-tombak, menujam, menghantam lambung kapal, terhuyun gontai, terjatuh lalu bangkit lagi itu yang ku lakukan, ku bangkit kembali dengan tenaga yang tersisa dan mulai berpegang terhadap keyakinan yang ada. Hidup bukan hanya menunggu badai berlalu tetapi bagaimana tetap tegar di tengah badai tersebut, biasanya orang-orang yang bersamaku sebelumnya menciut takut, bepaling dan lari menjauh membelakangi ku ketika badai menerpaku, tetapi berbeda dengan mu, ku tahu itu sejak awal kita bertemu ketika semua orang mulai menjauhi ku, terkecuali kau. Hanya sedikit orang bersama ku disini adalah mereka  yang tahu makna perjuangan ku, seharusnya ku berterimakasih terhadap waktu tersulit yang pernah ku alami, sehingga ku tahu mana yang kawan dan mana yang bukan.

***

Aku tak peduli seberapa banyak gelombang yang akan menghantam, dan tak peduli seberapa banyak ku kerjatuh, yang terpenting ialah seberapa cepat ku bangkit kembali. Gemuruh ombak yang mengerikan seolah-olah meneriakan ketakutan, ku rasa ikan-ikanpun takut, lari menjauhi kapal kami, tapi tak sanggup mengentarkan ku, karena aku mempunyai tanggung jawab membawa kapal ini berharap berlabuh ditempat dimana nilai kebenaran dan kemanusiaan di tegakan, ah.. berharap bosan aku berharap, aku lebih suka menjadi harapan dan bukan hanya bisa berharap. Di kapal ini jua terletak kemerdekaan serta kebebasan ku, apabila kapal ini tegelam, aku akan tegelam bersamanya, bersama harapan atas kebebasan dan kemerdekaan yang selama ini ku impikan. Aku melaut, aku menerjang gelombang seperti menerjang rumput liar di padang ilalang, walaupun sebagian ilalang mengores tangan akan tetap ku terjang. Aku melaut dengan menentang angin seolah-olah menentang takdir, entalah apa aku jadinya, sang pengendali angin atau bukan, kalau layang-layang dapat terbang karena menentang angin kenapa aku tak bisa, lain kali akan ku buat kapal yang dapat terbang mengangkasa. Aku suka pemberontakan, aku memberontak bila gelombang yang dibawa terlalu kecil karena aku terbiasa dengan yang besar. Aku tak suka bila laut mengasihaniku karena aku makhluk nomor dua, bukan nomor satu, padahal penomoran itu tidak pernah ku akui sebagai nomor ku. Tuhanpun tidak pernah menomori makhluknya, mengapa makhluknya yang serba kurang malah merasa berkuasa menomori atau melablekan sesuatu.

***

Badai berlalu, semilir angin membawa harapan baru, awan bergerak tenang, perlahan-lahan membawa kedamaian, ombakpun bergerak pelan seolah-olah menimang-nimang perahu kami, suara burung camarpun riang seakan-akan menyambut kemenangan setelah perjuangan. Menghalau badai hingga ke tepi, ku rindu suasana seperti ini, suasana alam menjelma menjadi simphony dan mengalun dalam satu harmoni. Suasana berubah hening menggerus pilu menjadi syahdu, setelah ku tau bahwa kau mencintaiku. Mentari bersinar kembali memberikan kehidupan kepada mahluk hidup yang tak abadi, menyinari lembut kearah mu ve, hingga senyum menghiasi wajah cantikmu, kau tersenyum manis, lepas, seolah-olah tergelak menang terhadap jerih-payah perjuangan. Lalu kita menaruh gelas di langit bersorak merayakan kemenangan atas perlawanan terhadap nasib, sementara selaput pelangi menggantung indah di langit. Ku melihat daratan hijau jauh disana ve, ku namakan tanah harapan. Malam berganti, bulan dan bintang menjelma menjadi navigasi. Kita akan pergi kesana ve, dimana hanya ada kau dan aku saja, di tengah hijau padang sabana, dan tak perlu ada orang ketiga.

***

Terbangun ku dari lamunan, tak terasa senja telah menjilat lautan. Kita duduk termenung bersandar dengan dua tangan menghadap kebelakang sambil mengenggam pepasir lalu melihat ke barat dan kau bilang, “indah bukan ciptaan tuhan”,“Ah sayang ku tak percaya dengan tuhan”, gumamku dalam hati. Alunan semilir angin lembut menyapa, menerbangkan pepasir berish nan putih dibibir pantai. Dari kejauhan ku melihat sampan yang semakin lama semakin mendekat, ku ragu terhadap apa yang kulihat, ternyata dugaan ku benar itu adalah sampan yang kulihat tadi pagi, ombak menyingkirkanya ke tepi. Dari sampan itu keluar orang tua yang berbaju lusuh sambil memikul jaring kosong di bahunya, murung, tertatih lemah menapaki langkahnya. Ku tertunduk termenung, mengenggam kesal pasir di tangan dengan amarah yang membeku di balut oleh waktu, dan ku kira kau tahu apa yang harus kau lakukan. Kau dapat dengan mudah menggerakan matahari timur ke barat, angin, ombak maupun arus, tetapi tidak mau menggerkan roda kehidupan nelayan ini, padahal bukankah ia hamba mu? yang selalu menyembah, sujud patuh terhadap mu, ya.. agama, tuhan beserta ajaranya.

***

Diam ku bertanya-tanya, mencoba memahami tentang zat yang tak seorangpun tahu, Aku bermunajat kepadamu walapun ku tak percaya dengan doa-doa yang sekiranya ialah mantra-mantra yang dikira mustajab. Tidakah kau melihat nan jauh di gelap lembah, orang-orang lapar sekarat. Kau perlihatkan roti padanya, tapi kau biarkan mereka mati. Sedangkan kau bertahta abadi tak tersentuh. Gemilang dan keji di atas rencana abadi. Kau biarkan yang muda mati, juga mereka yang sedang bahagia, tapi kau halangi yang ingin memilih mati. Banyak mereka yang telah membusuk percaya kepadamu dan mati harapan. Kaum miskin biarkan jadi miskin masa demi masa. Karena kerinduan mereka lebih elok dari pada surgamu. Apa mau mu? Apakah kau hanya ingin menciptakan harapan yang membius di atas kenyatan? Murkakah kau ketika ku berbicara seperti ini? dengan hati dan pikiran yang bebas, dengan hati dan pikiran yang telah kau berikan yang telah bebas mengungkapkan kejujuran, hati dan pikiran yang kau berikan untuk mencoba mengenali dan ku manfaatkan secara maksimal. Ku rasa kau juga benci dengan dengan ucapan-ucapan munafik bukan? tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran berpura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.

 

Thursday, April 12, 2012

10:21 PM

I See This Pic When I Was Dreaming

I See This Pic When I Was Dreaming

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s