BALADA AGAMA NUSANTARA


Tidak seharusnya Negara masuk keranah pribadi seseorang, apalagi menyangkut kepercayaan. Semua agama seharusny di catat dalam kolom KTP agama, Indonesia masih mempunyai PR besar tentang, toleransi, diskriminasi, dan keharmonisan antara umat beragama..  Ironis sekali ketika agama dari negeri seberang, timur tengah khususnya malah di legitimasi oleh negara, sementara agama pelestari kebudayaan, pewaris spiritual bangsa seperti, sunda wiwitan, tidak akomodir.. mereka bukan agama baru, agama nusantara jauh ada, sebelum agama pendatang ada.. jauh sebelum theory Gujarat, ksatria, brahmana, dan waysia, dicetuskan, kegamaan spiritual nusantara telah ada.

 

Agama-agama nusantara ini hanya memperjuangkan hak konsitusional mereka, nyatanya dalam perjalanan sejarah mereka, mereka selalu ditekan, selalu digiring untuk memilih salah satu agama dari 6 yang telah dilegitimasi Negara.

 

Negara tidak punyak hak untuk menentukan agama yang diakui dan juga tidak diakui, seharusnya agama diperlakukan sama oleh Negara, karena itu merupakan bagian dari hak kebebasan masyarakat untuk berkeyakinan. Kenapa kaum tertentu tidak boleh mencantumkan agamanya, apakah karena mereka mempunyai agama yang tidak disahkan oleh Negara .. seharusnya kita berhak mencantumkan agama apapun dikolom KTP. Istilah agama yang diakui dan tidak diakui tidak bisa diterima.. dari 243 kepercayaan, hanya 6 yang disahkan ? Yang perlu identitas ialah mereka, lalu kenapa Negara otoriter mengaturnya ? Negara mempersulit mereka, mendeskriminasikan kaum minor..

 

Ketika kita sebagai bangsa, dan telah mengakui kebhinekaan sebagai suatu kodrat dari bangsa ini. Tapi pada implementasinya menyimpang dari konstitusi itu sendiri, seperti apa yang telah dilakukan MUI, dan MENDAGRI.. UUD 45, tertera “melindungi segenap bangsa Indonesia” tetapi dalam implementasinya sampai sekarang sunni, syiah, ahmadiah, kolom agama di KTP, kasus gereja HKBP. Di Ujung sumatera ada agama parmalin, di Kalimantan ada agama kaharingan, di Sulawesi ada tolotang, ada watutelu dan ini bagian dari warga Indonesia.

 

Kenapa hingga kini agama kaharingan dihindukan,  agama tholotang dihindukan ?  Definisi agama katanya harus ada nabinya, harus ada kitabnya, transenden.. Menurut saya itu gak lebih dari sekedar definisi yang diadopsi dari kebudayaan lain, seperti timur tengah, dan negara lainya (adobsi dari kebudayaan semit/samawi). Bagaimana dengan mereka yang tidak mengenal budaya semit/samawi ? bisa saja mereka mempunyai definisi dan parameter yang berbeda tentang agama. Kolom agama, tidak harus dihilangkan, tapi cukup ditulis, apapun agamanya, itu merupakan suatu kesetaraan. Menurut saya mengakui keberadaan suatu kepercayaan di Indonesia ialah sangat penting sekali, karena mereka akan merasa diakui bagian dari Negara ini, bangsa ini. Kalau dikosongkan kolomnya seolah-olah kami ini warga Negara kelas dua, outcast.

 

Agama, itu hak sangat private, kenapa setiap kelompok yang lemah harus berjuang dengan sekuat tenaga dulu, baru diakui, tanpa adanya kesadaran dari Negara. Ketika sunda wiwidtan, parmalin, di kaharingan, tolotang, watutelu digolongkan sebagai aliran. Kalau begitu samawi juga bisa dikategorikan sebagai aliran, mengalir dari timur tengah, romawi, dan lain-lain. Dalam dunia pendidikan guru-guru ikut menjadi peran, “warga Negara hanya mengakaui 6 agama saja, dan diluar itu bukan agama”. Dan itu merupakan sebuah tekanan bagi anak-anak mereka yang menganut diluar kepercayaan 6 agama tersebut, anak-anak mereka bertanya kepada dirinya sendiri “lalu kami ini apa? Bagaimana dengan identitas kami ?”. Negara secara sturtucal dan sistematis telah membunuh identitas-identias yang minor, yang tidak diakui, di legitimasi sebagai kebenaran.

 

Sebuah keyakinan dan keagamaan, tidak perlu dilaporkan kepada Negara, untuk apa ? Itu keyakinan hubungan kita antara dengan tuhan, ini tertera dalam konstitusi, tapi nyatanya adanya oknum-oknum yang selalu bersuara membela kamu mayor, seperti MUI. Agama nusantara ada sebelum republic ini ada, ironisnya mereka tidak diakui dinegara ini. Negara yang mengaku berbhineka, HANYA MENGAKU.

 

Dan sebetulanya pengakuan yang mereka tuntut yang mereka ingin rasakan, apabila mereka setelah diakui, mereka merasa aman, terlindungi oleh Negara dalam hak sipil, dan mencegah timbulnya kekerasan baru atas nama agama, seperti yang terjadi main bakar, gusur, dan bunuh kepada kaum-kaum yang melakukan blasphemy seperti ahmadiah, dan HKBP.

 

Setelah KTP didapatkan dan ketika kolom agama diksongkan, terjadi diskriminasi, seperti sulitnya mendapat pekerjaan, tidak dapat mencatat akta pernikahan, anak-anak mereka tidak diakui Negara dan menjadi anak-anak liar, diluar pernikahan, bahkan mereka dikuburpun masih mendapat kesulitan. Kapling-kapling di TPU telah dipilah-pilah berdasarkan agama, Ada diskriminasi real yang terjadi kepada mereka yang kita harus pertimbangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s