CINTA, KEYAKINAN, KERAGUAN, & TOLERANSI


Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku padamu akan pulih kembali.

Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang. Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kpadaku dengan kemampuan bebasnya sekali ? Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri

Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik

Sampai sekarang saya masih berpendapat bahwa Tuhan tidak membatasi, dan Tuhan akan bangga dengan otak saya yang selalu bertanya, tentang Dia. saya percaya bahwa Tuhan itu segar, hidup, tidak beku. Dian tak akan mau dibekukan

Saya pikir, agama-agama yang ada sebagai aturan-aturan sekarang ini adalah untuk orang-orang awam yang kurang berpikir atau yang telah merasa selesai dalam berpikir.

Bagi kita, teis dan atheis bisa berkumpul. Muslim dan Kristen bisa bercanda. Artis dan atlet bisa bergurau. Kafirin dan Mutaqqin bisa bermesraan. Tapi pluralis dan antipluralis tidak bisa bertemu

Manusia memang lebih sering tak jujur pada tuhannya. Seolah-olah ia begitu jauh, jauh, jauh, dan tak terjangkau. Seolah-olah ia adalah tuhan yang tuan, dan kita hanya hamba sahaya yang wajib menjaganya dari angkara murka. Pernahkah bertanya, atau merasa, bahwa ia—tuhan, barangkali jengah, dan bosan, mendengar puji-pujian kolektif yang diucapkan dalam koloni? Pernahkah bertanya, adakah cinta kita pada tuhan kita, bukan hanya berasal dari sebuah kewajiban? Atau rasa takut semata?

Aku ingin bahwa orang-orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan yang utuh (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s