“FASISME BARU”


21 April 2014 pukul 0:55

Ketika seorang anak kecil menulis surat kepada tuhan..

Curhatan seorang anak tentang kegelisahan hatinya, tentang persahabatanya..

Persahabatan yang berbeda, karena dipisahkan oleh agama..

dan ini semua tentang toleransi terhadap sesama..

 

Tuhan aku lagi sedih..

Aku sedang menrindukan teman baiku..

Namanya Sammy..

Kami suka berbagi bekal..

Bekalku dan bekal makanya untuku..

 

Kini dia tak bisa bersekolah lagi..

Katanya.. Dia diusir dari kampung kami..

Katanya.. Dia dari keluarga kafir..

Gerejanya dibakar ramai-ramai..

Karena gerejanya dibangun ditengah-tengah permukiman kaum muslimin.

 

Padahal.. Dia baik sekali, Mengapa TUHAN.. ?

Kini ia tinggal dipenampungan bersama keluarga dan sanak saudaranya..

Neneknya yang meninggal disana, tak diperbolehkan dikubur dikampung kami..

Entah dibawa kemana..

Mengapa TUHAN ?

 

Tuhan katanya kamu maha baik, mengapa kamu tega membiarkan itu terjadi.. ?

Jawab aku tuhan.. ? 

Mengapa.. ?

 

PESAN DARI KAMI YANG TERASINGKAN.. 

 

Berilah kami tempat, Tuan Penguasa..

di mana saja di wilayah kota religius ini..

di pinggiran kota, di bantaran-bantaran kali..

di pembuangan-pembuangan sampah..

di tempat-tempat yang dianggap paling angker..

banyak setannya sekalipun..

atau di pekuburan-pekuburan..

yang penting kami dapat keluar dari penampungan..

hidup normal..

menghirup udara kebebasan..

dan kemerdekaan..

seorang anak kecil memimpin doa jemaat gereja, ketika proses eksekusi pembongkaran terjadi.

“kau berikan kasih dan suka cita tuhan, supaya gereja kami tidak jadi dibongkar tuhan, terimakasih tuhan, kami berdoa, semua berucap syukur.. Amienn..”

atau jika telah dianggap menodai agama..

telah melanggar Undang-undang di negeri ini..

sebagaimana selama ini diancamkan..

jebloskanlah kami, Tuan Penguasa..

ke dalam bui..

Kami seluruh warga pengungsi..

laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak..

lahir batin, ikhlas dibui tanpa proses hukum sekalipun..

 

atau..

jika sama sekali tidak ada tempat bagi kami..

di bui tidak ada tempat bagi kami..

di pembuangan sampah tidak ada..

di pekuburan-pekuburan juga tidak ada..

maka galikanlah bagi kami, Tuan Penguasa..

kuburan..

kami seluruh warga pengungsi..

laki-laki, perempuan, tua, muda, maupun anak-anak..

siap dan ikhlas dikubur hidup-hidup..

biarlah kami menempati ruang bernama neraka jahannam..

akibat kesesatan kami..

seperti yang dituduhkan kepada kami..

 

———————————————————————————–

Kita harus resah ketika sesuatu bernama agama yang sejatinya menyejukkan pemeluk maupun orang lain yang bersentuhan dengannya, tiba-tiba menjadi monster menakutkan yang bisa menggilas siapapun yang dianggap berbeda atau menyimpang..

Diskriminasi, konflik, dan kekerasan adalah bagian dari keseharian kita dan hanya sepintas lalu muncul dalam pemberitaan media, namun bagi korban yang mengalaminya, kasus-kasus tersebut membawa dampak yang sangat panjang..

Perlakuan yang diterima warga Ahmadiyah Lombok, Mataram, menimbulkan rasa putus asa bagi mereka, karena bertahun-tahun selama 1998-2009 hidup di pengungsian tanpa jaminan dari negara, membuat mereka mengirimkan surat kepada Walikota Mataram pada 2009, untuk dibunuh saja daripada hidup tanpa kepastian..

 

Apa yang dialami warga Ahmadiyah di pengungsian bukan hanya kehilangan hak untuk menempati tanah dan rumahnya sendiri, menggarap ladangnya sendiri, namun juga kehilangan beberapa hak mendasar mereka yang bahkan sudah dijamin secara tegas oleh konstitusi; hak atas pendidikan, kesehatan, pelayanan, dan bahkan hak politik mereka juga dikebiri, termasuk tidak berhak memilih dalam pemilu, karena sulit bagi mereka untuk mendapatkan KTP di pengungsian.

 

Saya mengharapkan Indonesia TANPA DISKRIMINASI..

Ini hanyalah sekedar cara baru beropini yang menyentuh hati..

Melalui puisi..

Semoga dengan membaca ini akan mengembalikan hati kita pada tempatnya, untuk bersikap toleran, simpati, menjadikan manusia sebagai manusia dan Tuhan sebagai Tuhan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s