SCALE OF FAITH


Guru agama saya berkata, “agnostik” itu percaya Tuhan tapi tidak percaya agama. Ada lagi orang yang berkata kepada yang lainnya, “dasar agnostik, beragama tapi tidak mematuhi dogma-dogma yang terkandung di dalamnya! Dasar agnostik, beragama tapi berteman pada kafir!”

Emmm, saya menggaruk-garuk kepala melihat contoh di atas. Kalau guru agama saya masih bisa sedikit dibenarkan, walaupun arti sebenarnya bukan itu, tapi kalau orang lain? Astaga, sejak kapan agnostik maknanya bergeser menjadi tidak setia atau berteman pada kafir? Ngarang ya bos? Entah bagaimana makna agnostisisme bisa menyempit seperti demikian…

Pertama, kita lihat dari asal katanya, pembentukan katanya. Agnostik berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu “a” dan “gnostein”. “A” berarti tidak, dan “gnostein” berarti tahu (bukan tahu hasil fermentasi kedelai ya #jayus). Jika digabung berarti “tidak tahu, tidak mengetahui”. Dari asal katanya saja sudah jelas, bahwa definisi-definisi yang disebutkan di paragraf pertama itu menyimpang semua.

Maka, agnostisisme adalah sebuah pandangan filosofis bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui. Dalam kata lain, agnostisisme adalah pandangan bahwa keberadaan dan ketidakberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan, tidak diketahui. Analoginya, agnostisisme adalah khatulistiwa, sementara teisme dan ateisme adalah kutub utara dan selatan. Mengapa demikian? Karena agnostisisme tidak mengetahui keberadaan dan ketidakberadaan Tuhan.

Nah dari definisi di paragraf satu coba kita lihat. Definisi guru saya bahwa ”agnostik” itu percaya Tuhan tapi tidak percaya agama, masih ada benarnya, tetapi terlalu spesifik. Karena agnostik itu cenderung di tengah, maka masih ada cabangnya lagi, yaitu:

1. Ateisme agnostik —> mereka ateis karena tidak percaya Tuhan, tetapi agnostik karena menyatakan tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak, bisa dibuktikan atau tidak.

2. Teisme agnostik —> Orangnya menyatakan ketidaktahuan, tetapi masih percaya keberadaan pencipta. Definisi guru agama saya lebih tepat ke sini.

3. Apateisme —> Tidak mengetahui keberadaan atau ketidakberadaan Tuhan, tetapi keberadaan atau ketidak beradaan Tuhan tidak penting untuk kehidupan kita semua. Jadi sesuai namanya, apatis😀 Tidak tahu, tidak peduli

4. Ignostisisme —> Semua pandangan tentang Tuhan terlalu asumtif.

5. Agnostisisme kuat —> “Saya tidak bisa tahu Tuhan ada atau tidak, dan kau juga tak bisa”

6. Agnostisisme lemah —> “Saya tidak bisa tahu Tuhan ada atau tidak, tapi suatu saat akan ada buktinya”

Dua contoh lain di paragraf 1… sangat tidak relevan dengan definisi aslinya. Jadi kalau ada yang berkata dengan makna seperti itu, silakan dibenarkan.

Salah satu kesalahan umum lainnya adalah mengatakan bahwa agnostisisme itu agama. Apanya yang agama? Keberadaan Tuhan saja menurut mereka tidak bisa dibuktikan. Dogma universal pun tidak punya. Jadi ini hanyalah pandangan filosofis biasa yang tidak boleh disalahartikan, kalau tidak ya fatal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s