SPARKING HATRED


Seharusnya pemerintah tidak mencampuri wilayah private/agama seseorang, menjalankan agama ialah wilayah pribadi seseorang dengan tuhanya, yang wajib dilindungi oleh Negara, tapi implementasianya tidak demikian, kenapa perbedaan beragama berujung pada kekerasan agama. Konflik yang mengarah pada kekerasan agama akan menyulut percik-percik api disintegrasi bangsa.

 

“tidak perlu dan tidak boleh terjadi pertentangan, antara yang disebut, minoritas dan mayoritas, semua adalah komponen, bangsa kita, yang harus hidup bersama, dengan rukun dan damai, serta saling hormat dan menghormati “  (Pidato – SBY)

 

Beribadah ialah domain ssorang dengan tuhanya, sejauh ia tidak melakukan kekerasan terhadap pemeluk agama lain.

 

Seharusnya kita semua merujuk kepada konstitusi, kepada pancasila, saya kira itu adalah pijakan yang paling mendasar, di Negara Indonesia yang berbasis hukum, kalau nanti pijakanya berdasarkan intepretasi ada ribuan intepretasi, semua orang harus di tempatkan dalam posisi yang sama, karena mereka sama-sama warga Negara, sama-sama manusia..

 

Syiah rembesan konflik dari timur tengah,

Sayangny Negara tidak bs menyelesaikan masalah ini dengan logika hukum atau logika konstitusi

Dan menarik, ktk kita sering meilhat, muncul pharse/logika minoritas dan mayoritas..

Mnrt saya Logika/pharse minoritas dan mayoritas, sprt ini tidak bersumber hukum, konstitusi dan juga tidak bersumber dari agama.

Karena nilai agama juga tidak mengenal nilai-nilai minoritas dan mayoritas, zaman ketika nabi masih menyebarkan ajaranya, mayoritas adalah kaum kafir/menyimpang (katanya) ..

Mayoritas dan minoritas bukanlah sebuah tolak ukur, dan seharusnya kita tidak berangkat dari pharse/logika minoritas dan mayoritas memasukanya/dibawa ke dalam ranah akidah..

 

Kekerasan yg d lakukan olh ormas/golongan2 tertentu seharusnya d tindak dan di jerat secara hukum/konstitusi secara tegas, takutknya itu akan menjadi preseden, dan biasanya preseden dalam kajian-kajian akan menjadi hukum, menjadi nilai, norma, dan biasanya juga pelaku atas kekerasan agama bisa menjustify dengan satu dan lain alasan, bahwa dia telah melakukan suatu kebenaran untuk menjaga ketertiban umum, dan untuk menjaga perasaan mayoritas dan sebagainya, ini yang bebahaya menurut saya, dan kalau ini menjadi logika yang dipegang dan yang diterima oleh Negara, maka Negara ini, kita bisa pastikan akan mengalami kehancuran. Dengan membakar masjid dan gereja atau tempat ibadad lain yang bertentangan dengan paham yang dianutnya.

 

Saya ragu bahwa Negara ini netral dan adil.

Ada sebagaian orang yang digusur secara ramai-ramai, tapi Negara tidak berbuat apa-apa.

Negara hanya mengamini..

Syiah di adili, sementara SBY foto2 dengan ronaldo di bali.

Orang di usir dari rumahnya itulah namanya sebuah pelanggaran hukum.

Relokasi akan mengakbiatkan hilangnya hak-hak warga Negara.

 

Ketika pelanggaran hukum dibenarkan oleh Negara, artinya membenarkan eigenrichting

Dari fakta pengadilan tajul muluk tidak terbukti melakukan penghinaan, tapi knp kalian teruskan pemfitnahaan ? dan lalu kenapa mereka masih d penjarakan ?

 

JANGAN MENGHIDUP-HIDUPKAN NILAI MAYORITAS DAN MINORITAS, KARENA ITU TIDAK BENAR MENURUT, AGAMA, HUKUM, ATAU KONSTITUSI.

 

Hukum harus ditegakan,  selama hukum tdk mnjd panglima maka disitu , pmbiaran kekerasan dan tali kiekerasan tidak pernah diputus, maka akan menimbulkan lingkaran kekerasan.  Penguasa tidak pernah hadir ktk warga Negara harus mendapat perlingdungan.

 

TAPI KALAU DI LEVEL NASIONAL KALAU PANDANGAN MUI SELALU MEMBAHAS PERSOLAN-PERSOALAN PERBEDAAN YANG MERUNCING, INI YANG BERBAHAYA, NOTHING MORE THAN SPARKING HATRED..

 

BIARKAN LAH ORANG SYIAH BERBICARA TENTANG SYIAH DAN SUNNI BERBICARA TENTANG SUNNI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s