GRADUALISM DARWIN


“Kadangkala dikatakan bahwa sudut pandang dialektik adalah identik dengan evolusi. Tidak ada keraguan bahwa kedua metode ini memiliki titik-titik persinggungan. Namun, di antara keduanya terdapat satu perbedaan yang mendasar dan penting, yang harus diakui, sangat jauh dari membenarkan paham tentang evolusi. Para evolusionis modern memasukkan pencampuradukan yang cukup besar dengan konservatisme ke dalam ajaran-ajaran mereka. Mereka ingin membuktikan bahwa tidak ada lompatan baik di alam maupun dalam sejarah. Dialektika, di pihak lain, memahami sepenuhnya bahwa di alam maupun dalam pemikiran manusia dan sejarah lompatan-lompatan adalah niscaya. Tapi ia tidak pula mengabaikan fakta yang tak terbantahkan bahwa proses tanpa henti yang sama bekerja pada segala fase perubahan. Ia hanya berusaha memperjelas pada dirinya sendiri rangkaian kondisi macam apa yang akan menyebabkan satu perubahan bertahap berubah menjadi sebuah lompatan.”[i] (Plekhanov)

Darwin menganggap bahwa kecepatan evolusi adalah proses gradual yang terdiri dari langkah-langkah yang teratur. Ia maju dalam kecepatan yang konstan. Ia berpegang pada motto Linnaeus: “Alam tidak membuat lompatan.” Pandangan ini tercermin di mana-mana di dunia ilmiah, khususnya pada murid Darwin, Charles Lyell, rasul gradualisme dalam bidang geologi. Darwin demikian berkomitmen dengan gradualisme, sehingga ia membangun seluruh teorinya berdasarkan hal ini. “Catatan geologi sangatlah tidak sempurna,” tegas Darwin, “dan fakta ini akan sangat menjelaskan mengapa kita tidak menemukan varian-varian antara, yang menghubungkan semua bentuk-bentuk kehidupan yang sudah punah dengan yang masih ada melalui langkah-langkah bertahap yang paling halus. Mereka yang menolak pandangan tentang sifat catatan geologis ini, pasti akan menolak teori saya secara keseluruhan.” Gradualisme Darwinian ini berakar pada pandangan filsafati dalam masyarakat Victorian. Dari “evolusi” semacam ini, semua lompatan, perubahan mendadak dan perubahan revolusioner disingkirkan. Pandangan yang anti-dialektik ini telah berjaya atas ilmu pengetahuan sampai saat ini. “Satu bias pemikiran Barat yang berakar sangat kuat telah memaksa kita untuk terus mencari kesinambungan dan perubahan bertahap,” ujar Gould.

Namun, pandangan ini telah melahirkan satu kontroversi yang panas. Catatan fosil yang kita punya sekarang memang penuh dengan lubang-lubang. Ia memberi kita gambaran tentang kecenderungan jangka panjang, tapi ia juga penuh dengan lompatan-lompatan. Darwin percaya bahwa lompatan-lompatan ini disebabkan oleh adanya lubang-lubang dalam catatan itu. Sekali bagian yang hilang ditemukan, ia akan menunjukkan satu evolusi yang berjalan mulus di alam. Atau akankah demikian halnya? Berlawanan dengan pendekatan kaum gradualis, paleontologis Niles Eldrege dan Stephen Jay Gould telah mengajukan satu teori evolusi yang disebut “kesetimbangan yang terputus”, yang menyatakan bahwa catatan fosil tidaklah akan selengkap yang dipikir sebelumnya. Lubang-lubang itu boleh jadi merupakan cerminan dari apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa evolusi berjalan dengan lompatan-lompatan, yang memutus-mutus masa-masa panjang perkembangan yang gradual.

“Sejarah kehidupan bukanlah satu perkembangan yang sinambung, tapi satu catatan yang tersentak-sentak oleh episode-episode singkat, kadang seketika jika dilihat secara geologis, kepunahan massal dan diversifikasi yang menyusulnya,” ujar Gould. Bukannya satu transisi yang gradual, “hewan multiselular modern membuat kemunculan tanpa tandingnya yang pertama dalam catatan fosil sekitar 570 juta tahun lalu – dan dengan sebuah ledakan, bukan sebuah kresendo yang berkepanjangan. “Ledakan Kambrian” ini menandai bangkitnya (setidaknya apa yang ditunjukkan bukti nyata) dari hampir semua kelompok besar hewan modern – dan semuanya terjadi pada jangka yang sangat kecil, secara geologis, yaitu hanya beberapa juta tahun saja.”[ii]

Gould juga menunjuk pada satu ciri bahwa batas-batas waktu geologis bersesuaian dengan titik-titik balik dalam evolusi kehidupan. Pandangan tentang evolusi yang semacam ini sangat mendekati pandangan Marxis tentang evolusi. Evolusi bukanlah satu pergerakan yang halus dan bertahap dari rendah ke tinggi. Evolusi terjadi melalui perubahan yang terakumulasi, yang meledak melalui perubahan kualitatif, melalui revolusi dan transformasi. Sekitar seratus tahun lalu, pemikir Marxis, George Plekhanov, berpolemik melawan pandangan gradualis tentang evolusi:

“Filsafat idealis Jerman,” urainya, “dengan tegas memberontak terhadap pandangan tentang evolusi yang cacat itu. Hegel dengan pahit menertawakannya, dan menunjukkan tanpa terbantahkan lagi bahwa baik di alam maupun dalam masyarakat manusia lompatan merupakan satu hal yang sama hakikinya dalam tahapan evolusi dengan perubahan-perubahan kuantitatif yang bertahap. ‘Perubahan dalam keberadaan,’ katanya, ‘terdiri bukan hanya atas fakta bahwa satu kuantitas berpindah menjadi kuantitas yang lain, tapi juga bahwa kuantitas berpindah menjadi kualitas, dan sebaliknya. Tiap transisi yang disebut belakangan itu merupakan satu keterputusan dalam kebertahapan, dan melahirkan gejala yang memiliki aspek baru, yang secara kualitas bebeda dari gejala yang mendahuluinya.”[iii]

“Evolusi” dan “revolusi” adalah dua sisi dari proses yang sama. Dengan menolak gradualisme, Gould dan Eldrege telah mencari satu penjelasan alternatif, dan terpengaruh oleh materialisme dialektik. Paper Gould tentang “Kesetimbangan yang Terputus-putus” memiliki satu kesejajaran dengan pandangan materialis atas sejarah. Teori seleksi alam adalah satu penjelasan yang sangat baik mengenai bagaimana satu spesies menjadi semakin baik dalam karakternya, tapi merupakan satu penjelasan yang tidak memuaskan tentang bagaimana satu spesies baru terbentuk. Catatan fosil menunjukkan enam kepunahan massal besar yang terjadi pada awal dan akhir jaman Kambrium (berturut-turut 600 juta dan 500 juta tahun lalu), dan pada akhir jaman Devonian (345 juta tahun lalu), jaman Permian (225 juta tahun), jaman Triasik (180 juta tahun) dan jaman Cretaseus (63 juta). Satu pendekatan yang berkualitas baru diperlukan untuk menjelaskan gejala ini.

Evolusi dari satu spesies baru ditandai dengan evolusi susunan genetik yang memungkinkan anggota-anggota spesies baru untuk kawin-mawin dengan sesamanya tapi tidak dengan anggota spesies lain. Spesies baru muncul dari percabangan yang bersumber dari satu moyang. Yaitu, seperti penjelasan Darwin, satu spesies muncul dari spesies lainnya. Pohon kehidupan menunjukkan bahwa lebih dari spesies dapat dilacak mundur ke satu moyang yang sama. Manusia dan simpanse adalah spesies yang berbeda tapi memiliki satu moyang bersama, yang kini telah punah. Perubahan dari satu spesies menjadi spesies lainnya terjadi secara cepat antara dua spesies yang stabil. Peralihan ini tidak terjadi dalam satu atau dua generasi tapi mungkin sepanjang ratusan ribu tahun. Seperti komentar Gould: “Hal ini nampaknya merupakan waktu yang sangat lama jika dilihat dari kerangka kehidupan kita, tapi waktu itu sekejap saja secara geologis…. Jika sebuah spesies lahir dalam waktu ratusan atau ribuan tahun, kemudian tidak berubah lama, untuk beberapa juta tahun, masa kelahirannya adalah satu persentase yang amat kecil dari seluruh masa kerbelangsungannya.”

Kunci bagi perubahan ini terletak dalam pemisahan geografis, di mana satu populasi kecil terpisah dari populasi utama di pinggir habitatnya. Bentuk spesiasi ini, yang dikenal sebagai triallopac, memungkinkan terjadinya satu evolusi yang cepat. Segera setelah satu spesies moyang terpisah, perkawinan sejenis juga berhenti. Perubahan genetik apapun yang terjadi akan tumbuh secara terpisah. Namun, dalam populasi yang lebih kecil, variasi genetik akan menyebar dengan sangat cepat dibandingkan dengan kelompok moyangnya. Hal ini dapat diakibatkan oleh seleksi alam dalam menanggapi perubahan faktor-faktor iklim dan geografis. Sejalan dengan semakin terpisahnya kedua populasi, akhirnya mereka mencapai satu titik di mana satu spesies baru telah terbentuk. Perubahan kuantitatif telah melahirkan perubahan kualitatif. Jika kedua populasi itu bertemu di masa datang, mereka telah demikian berbeda secara genetik sehingga tidak akan berhasil melakukan perkawinan; keturunan mereka akan sakit-sakitan atau mandul. Akhirnya, spesies-spesies yang mirip, dengan cara hidup yang sama, akan berkompetisi, yang akhirnya akan membawa kepunahan dari mereka yang kurang berhasil.

Seperti komentar Engels: “Proses organik dari perkembangan, baik atas individu maupun spesies, melalui diferensiasi, adalah ujian paling mencolokatas dialektika rasional.” Lagi, “Semakin jauh fisiologi berkembang, semakin penting jadinya perubahan-perubahan kecil yang berlangsung terus-menerus ini, dan dengan demikian semakin penting juga pertimbangan atas perbedaan di dalam identitas, dan sudut pandang lama yang abstrak tentang identitas formal, bahwa sebuah mahluk organik harus diperlakukan sebagai hal yang identik dengan dirinya sendiri, sebagai sesuatu yang konstan, telah menjadi usang.” Engels lalu menyimpulkan: “Jika ada individu yang beradaptasi yang dapat bertahan hidup dan berkembang menjadi spesies baru dengan secara terus-menerus meningkatkan adaptasinya, sementara individu yang lebih stabil semakin tersingkir dan akhirnya punah, dan bersama mereka habis juga tahap-tahap antara yang belum sempurna itu, maka ini dapat dan benar berlangsung tanpa Malthusianisme, dan jika yang disebut belakangan itu benar-benar bisa terjadi ia tetap saja tidak akan sanggup mengubah proses itu sedikitpun, paling-paling ia hanya dapat mempercepatnya.”[iv]

Gould dengan tepat menyatakan bahwa teori kesetimbangan yang terputus bukanlah satu kontradiksi terhadap tenet utama dari Darwin, seleksi alam, tapi sebaliknya memperkaya dan memperkuat Darwinisme. Richard Dawkins dalam bukunya The Blind Watchmaker berupaya merendahkan pengakuan Gould dan Eldrege atas perubahan dialektik di alam. Ia tidak melihat perbedaan antara gradualisme dari Darwinisme “sejati” dengan “kesetimbangan terputus”. Ia menyatakan: “Teori kesetimbangan terputus adalah satu teori gradualis, sekalipun ia menekankan pada masa-masa antara yang panjang antara ledakan-ledakan yang relatif singkat pada evolusi yang gradualistik. Gould telah salah memahami dirinya sendiri gara-gara retorikanya sendiri….” Dawkins kemudian menyimpulkan, “pada kenyataannya, semuanya adalah gradualis.”

Dawkins mengritisi kaum punctuationis karena menyerang dan mengklaim Darwinisme tanpa hak. Ia menyatakan bahwa kita perlu melihat gradualisme Darwin di dalam konteksnya – sebagai sebuah serangan atas kreasionisme. “Kaum Punctuationis sama gradualnya dengan Darwin atau penganut Darwin lainnya; mereka hanya memasukkan masa-masa panjang yang statis antara perubahan-perubahan evolusi gradual.” Tapi ini bukanlah perbedaan yang sekunder, justru itu adalah hakikat hakikat dari materi. Kritik terhadap kelemahan Darwinisme bukan berarti menggerogoti sumbangannya yang unik, tapi untuk mensintesanya terhadap satu pemahaman tentang perubahan-perubahan riil. Hanya dengan demikian sumbangan historis Darwin dapat dibulatkan sepenuhnya sebagai satu penjelasan terhadap evolusi di alam. Seperti yang dinyatakan dengan tepat oleh Gould, “Teori evolusi modern tidak membutuhkan perubahan gradual. Kenyataannya, kerja-kerja proses Darwin haruslah membuahkan apa yang kita lihat pada catatan-catatan fosil. Gradualismelah yang harus kita tolak, bukan Darwinisme.”[v]

Tidak Ada Kemajuan?

Arah mendasar dari argumen Gould tidak dapat diragukan kebenarannya. Apa yang lebih bermasalah adalah argumennya bahwa evolusi tidak berjalan dalam satu jalur yang progresif secara inheren.

“Meningkatnya keragaman dan transisi berganda kelihatannya mencerminkan satu kemajuan yang pasti dan ketat menuju segala sesuatu yang lebih tinggi,” papar Gould. “Tapi catatan paleontologis tidak mendukung interpretasi semacam itu. Tidak ada satu progres yang berlangsung secara tetap dalam perkembangan yang lebih tinggi dari disain organik. Selama dua pertiga sampai lima perenam bagian pertama dari sejarah bumi, hanya monera yang menghuni bumi, dan kami tidak melihat satu progres yang tetap dari prokariota “rendah” ke “tinggi”. Sebagaimana tidak ada satu tambahan terhadap disain dasar sejak ledakan Kambrian mengisi biosfer kita (sekalipun kita dapat mengatakan terjadinya perbaikan-perbaikan terbatas di dalam beberapa disain – vertebrata dan tumbuhan vaskular, misalnya).”[vi]

Gould berpendapat, khususnya dalam bukunya, Wonderful Life, bahwa jumlah filum hewan (yang menggambarkan rancangan dasar tubuh) malah jauh lebih banyak pada masa segera setelah “ledakan Kambrian” ketimbang sekarang. Ia mengatakan keragaman tidaklah meningkat dan tidak ada kecenderungan jangka panjang di dalam evolusi, dan bahwa evolusi atas kehidupan cerdas adalah satu kecelakaan.

Di sini kelihatannya kritisisme Eric Lerner atas Gould benar:

“Bukan saja terdapat satu perbedaan besar antara kemungkinan yang membawa evolusi dari satu spesies tertentu dan satu kecenderungan jangka panjang dalam evolusi, seperti menuju tingkat adaptasi atau kecerdasan yang lebih tinggi, tapi Gould justru mendasarkan pendapatnya pada fakta yang merupakan contoh dari kecenderungan itu!” papar Lerner. “Setelah beberapa waktu, evolusi telah cenderung berkonsentrasi pada jalur perkembangan yang semakin lama semakin spesifik. Hampir semua unsur kimia telah hadir sepuluh milyar tahun yang lalu. Jenis senyawa yang vital bagi kehidupan – DNA, RNA, protein, dan seterusnya – sudah juga hadir di bumi sekitar empat milyar tahun lalu. Kedua Kerajaan Besar kehidupan – hewan, tumbuhan, jamur, dan bakteri – telah ada dua milyar tahun lalu; tidak ada hal yang baru di sini. Seperti yang ditunjukkan Gould, fila utama telah ada selama enam ratus juta tahun, dan ordo-ordo besar (penggolongan yang lebih rendah tingkatannya daripada filum) telah ada sekitar empat ratus juta tahun.

“Karena evolusi telah berjalan semakin cepat, ia harus menjadi semakin spesifik, dan bumi telah diubah oleh evolusi sosial dari satu spesies saja, spesies kita. Inilah justru yang merupakan kecenderungan jangka panjang yang ditolak oleh Gould dengan keteguhan ideologis, sekalipun ia telah memberikan sumbangan yang sangat besar atas teori evolusi. Tapi kecenderungan itu ada, sebagaimana pula kecenderungan menuju kecerdasan.”[vii]

Fakta bahwa evolusi telah menghasilkan kompleksitas yang jauh lebih tinggi, dari organisme yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, yang menghasilkan manusia, dengan ukuran otak yang besar dan mampu mengerjakan tugas-tugas yang teramat kompleks, adalah bukti dari ciri progresif ini. Hal ini tidak berarti bahwa evolusi berjalan dalam satu garis lurus, seperti yang dikatakan dengan tepat oleh Gould: ada patahan, kemunduran, dan kemandegan di dalam gerak maju umum dari evolusi. Sekalipun seleksi alam terjadi dalam menanggapi perubahan lingkungan (bahkan satu ciri lokal), tentu saja ia tetap membawa kita pada tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dari segala bentuk kehidupan. Spesies-spesies tertentu telah beradaptasi terhadap lingkungan mereka dan telah hadir dalam bentuknya yang sekarang selama jutaan tahun. Yang lain telah punah karena kalah dalam kompetisi dengan model yang lebih maju. Inilah bukti yang disajikan oleh evolusi kehidupan selama 3,5 milyar tahun ini.

Alasan bagi penolakan empatik Gould terhadap paham progres dalam evolusi lebih berkaitan dengan alasan-alasan sosial dan politik daripada alasan-alasan ilmiah. Ia tahu bahwa ide tentang kemajuan evolusioner dan “spesies yang lebih tinggi” telah disalahgunakan secara sistematik di masa lalu untuk membenarkan rasisme dan imperialisme – paham palsu tentang keunggulan kulit putih menganggap bahwa negeri-negeri Eropa berhak merampas tanah dan kekayaan dari “ras yang biadab dan tak memiliki hukum” di Afrika dan Asia. Bahkan sampai tahun 1940-an, orang-orang ilmiah terkemuka masih menerbitkan “pohon evolusioner” yang menunjukkan orang kulit putih di puncak, sementara kulit hitam dan lain-lain “ras” terdapat di cabang yang terpisah dan lebih rendah, sedikit lebih tinggi dari gorila dan simpanse. Ketika dihadapkan pada pertanyaan apakah penolakannya terhadap paham tentang progres adalah karena anggapannya tentang bahaya paham itu, Gould menjawab sebagai berikut:

“‘Progres bukanlah sesuatu yang secara logis dan intrinsik berbahaya,’ jawabnya. ‘Ia menjadi berbahaya dalam konteks tradisi budaya Barat.’ Dengan akar yang berasal dari abad ke-17, progres sebagai etik sosial sentral telah mencapai puncaknya di abad ke-19, dengan revolusi industri dan ekspansionisme Victorian, Steve menjelaskan. Ketakutan akan penghancuran diri yang timbul pada dekade ini, baik secara militer maupun melalui polusi, telah memudarkan optimisme abadi dari masa-masa Victoria dan Edward. Meski demikian, anggapan tentang derap maju yang niscaya dari penemuan ilmiah dan pertumbuhan ekonomi terus menyalakan ide bahwa progres adalah sesuatu yang baik dan merupakan bagian alami dari sejarah. ‘Progres telah menjadi satu doktrin yang mendominasi interpretasi dari semua urutan sejarah,’ lanjut Steve, ‘dan karena evolusi adalah sejarah yang paling agung, paham tentang progres pastilah dimasukkan ke dalamnya secara otomatis. Anda paham konsekuensi dari hal ini.'”[viii]

Kita dapat bersimpati dengan reaksi Gould terhadap sampah-sampah reaksioner dan bodoh itu. Juga benar bahwa istilah “progres” mungkin tidak ideal untuk diterapkan dengan tepat kepada evolusi. Selalu terdapat resiko bahwa ini berarti satu pendekatan teleologis, yaitu, paham bahwa alam ini bekerja berdasarkan rencana yang telah dipaparkan sebelumnya oleh suatu Pencipta. Namun demikian, sebagaimana biasa, reaksi telah dilemparkan terlalu jauh ke arah yang berseberangan. Jika kata progres tidaklah cukup, ia dapat digantikan oleh, katakanlah, kompleksitas. Dapatkah dibantah bahwa benar-benar terdapat satu perkembangan dalam organisme hidup sejak munculnya hewan bersel satu sampai sekarang?

Tidak ada perlunya kembali pada pandangan sepihak kuno tentang Manusia, puncak dari evolusi, agar kita dapat menerima bahwa 3,5 milyar tahun evolusi ini tidaklah berarti perubahan sederhana, tapi merupakan perkembangan yang sejati, yang berjalan dari sistem kehidupan yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Catatan fosil merupakan saksi akan hal ini. Misalnya, peningkatan dramatik dalam ukuran otak sejalan dengan evolusi dari mamalia dari reptil, sekitar 230 juta tahun lalu. Mirip dengan itu, terdapat pula satu lompatan kualitatif dengan kemunculan manusia, dan hal ini, pada gilirannya, tidaklah terjadi dengan proses kuantitatif yang mulus, tapi dengan serangkaian lompatan, dengan Homo habilis, Homo erectus, Homo neanderthalensis, dan akhirnya Homo sapiens, yang merupakan titik balik yang menentukan.

Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa evolusi telah mencapai batasannya, atau bahwa umat manusia tidak akan mengalami perkembangan lebih lanjut. Proses evolusi akan terus berjalan, sekalipun ia tidak harus mengambil bentuk yang sama seperti di masa lalu. Perubahan-perubahan mendasar dalam lingkungan sosial, termasuk rekayasa genetik, dapat memodifikasi proses seleksi alam, memberi umat manusia untuk pertama kalinya kemungkinan menentukan jalannya evolusinya sendiri, setidaknya sampai tingkatan tertentu. Hal ini akan membuka bab yang sama sekali baru dalam sejarah perkembangan manusia, khususnya dalam sebuah masyarakat yang dipandu oleh keputusan manusia yang bebas dan sadar, dan bukan oleh kekuatan pasar yang membabi-buta dan hukum rimba yang diberlakukan pada manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s