THE SELFISH GENE


Baru pada akhir tahun 1930-an mekanisme Darwin untuk evolusi – seleksi alam – mendapat penerimaan yang luas. Pada masa ini, para ilmuwan terkemuka seperti Fisher, Haldane dan Wright menjadi para pendiri dari neo-Darwinisme, yang menggabungkan seleksi alam dengan genetika Mendel. Teori hereditas [pewarisan ciri-ciri induk] bersifat hakiki bagi hubungan antara teori evolusi dan teori sel. Di abad ke-19, biolog Scheilden, Schwann dan Virchow menjelaskan bahwa sel adalah unit dasar dari mahluk hidup. Di tahun 1944, Oswald Avery mengenali DNA dalam inti sel sebagai bahan yang membangun basis bagi hereditas. Penemuan Crick dan Watson tentang struktur pilinan ganda [double helix] memperlancar jalur pemahaman atas evolusi. Variasi Darwinian pada keturunan disebabkan oleh perubahan dalam DNA, yang muncul dari mutasi acak dan pengaturan ulang molekular internal, yang menjadi landasan bekerjanya seleksi alam.

Gregor Johann mendel, seorang biarawan Austria, dan seorang botanis amatir, di tahun 1860-an membuat satu telaah yang cermat atas ciri-ciri terwariskan pada tanaman, dan kemudian menemukan gejala pewarisan genetik. Mendel, seorang yang pemalu dan rendah hati, mengirimkan penemuannya pada seorang ahli biologi ternama yang, seperti dapat kita harapkan, menganggap penemuannya itu sebagai omong kosong. Karena sangat terpukul, Mendel menyembunyikan idenya dari dunia dan kembali merenungi tanaman-tanamannya. Karyanya yang revolusioner ini baru ditemukan kembali di tahun 1900-an ketika ilmu genetika dilahirkan. Perkembangan dalam teknik mikroskopi memungkinkan untuk melihat ke dalam sel, yang membawa kita pada penemuan gen dan kromosom.

Genetika memungkinkan kita memahami perkembangan kehidupan yang berlangsung terus-menerus. Evolusi kehidupan bermakna kemunculan molekul-molekul yang sanggup menyalin dirinya sendiri yang dapat memindahkan ciri-ciri satu bentuk kehidupan ke generasi selanjutnya. Mekanisme yang memungkinkan hal itu adalah asam deoksiribonukleat (DNA). Molekul DNA yang sanggup menyalin diri sendiri ini tidaklah terkonsentrasi dalam satu bagian tubuh tertentu, melainkan terkandung dalam tiap sel dari suatu hewan atau tumbuhan. Spesies yang berevolusi paling tinggi, satu produk evolusi selama 3 milyar tahun, adalah manusia. Pada saat dewasa, manusia tersusun dari sekitar satu trilyun sel, tapi pada saat pembuahan ia hanya terdiri dari satu sel saja. Bagaimana ini dapat terjadi? Rahasianya ada pada DNA. Di dalam sel tunggal ini terdapat molekul DNA yang mengandung sandi genetik untuk rekonstruksi seorang manusia. Informasi genetik yang dikandung dalam gen ini disimpan dalam satu bentuk sandi kimiawi. Gen adalah sebuah bagian dari DNA yang memiliki informasi untuk membuat satu jenis protein tertentu.

Gen yang terkandung dalam tiap sel adalah bagian dari organisme yang mengandung semua informasi yang diperlukan untuk menciptakan hewan atau tumbuhan tertentu. Kebanyakan gen membawa informasi yang mengarahkan sel untuk membuat protein. Beberapa gen memberitahu sel dalam embrio di mana mereka berada dan apakah mereka harus tumbuh menjadi tangan atau kaki. Urutan basa yang tersimpan dalam gen-gen ini menentukan mahluk hidup macam apa yang akan tercipta. Informasi warisan disimpan dalam inti tiap sel dalam bentuk rantai gen yang dinamai kromosom. Seperti sebuah buku teks yang hidup, dua set kromosom membawa semua gen yang dimiliki oleh satu individu, menentukan sifat dari struktur protein yang melakukan sebagian besar kerja di dalam tubuh.

Baru di tahun 1950-an komposisi kimia dari gen dikenali sebagai DNA. Di tahun 1953 Francis Crick dan James Watson membuat satu terobosan revolusioner dalam genetika dengan penemuan mereka atas model pilinan ganda dari molekul-molekul asam nukleat, penemuan yang membawa mereka berbagi Hadiah Nobel di tahun 1962. Hal ini membuat jelas bagaimana kromosom disalin dalam pembelahan sel. DNA hadir dalam bentuk-bentuk kehidupan yang paling rendah sekalipun: sebuah virus memiliki satu molekul DNA tunggal. Semua bentuk kehidupan yang kita kenal pada akhirnya tergantung pada DNA. Penemuan dan perkembangan genetika makin jauh mengungkap rahasia evolusi. Hukum-hukum evolusi yang ditemukan oleh Darwin telah diperkaya oleh pemahaman akan genetika, melalui karya Fisher, Haldane dan Wright, para pendiri neo-Darwinisme.

Gen adalah unit hereditas. Seluruh koleksi gen yang dimiliki oleh satu organisme disebut genom. Pada saat ini pada ilmuwan sedang berusaha mengenali semua genom yang dimiliki manusia, yang jumlahnya sekitar 100 ribu. Gen-gen itu sendiri mereproduksi diri dalam tiap generasi sel; protein dalam bentuk enzim-enzim khusus memainkan peranan penting dalam proses ini. Melalui reproduksi-diri, gen dibentuk lagi dan lagi dalam tiap sel baru. Dengan demikian, gen-gen secara tidak langsung menghasilkan protein yang membangun dan memelihara semua sel. Dari sel-sel bakteria, sel-sel tumbuhan dan sel-sel hewan; sel-sel berspesialisasi untuk membentuk daun dan batang, otot dan tulang, hati dan ginjal, dan banyak lagi, termasuk otak. Tiap sel mengandung komplemen gen yang sama dengan yang ada pada sel yang pertama membentuk mereka. Tiap sel manusia mungkin mengandung informasi genetik yang dibutuhkan untuk membuat tiap jenis sel manusia, dan dengan demikian keseluruhan manusia, tapi dalam tiap sel hanya satu potongan informasi yang digunakan. Hal ini dapat dianalogikan dengan sebuah buku panduan, di mana hanya beberapa halaman tertentu, dan bahkan hanya beberapa baris atau kata yang dipilih untuk menyandikan protein tertentu yang diperlukan untuk menghasilkan berbagai jenis sel.

Efek dari reproduksi seksual adalah percampuran atau pengocokan gen. Sel-sel seksual (telur atau sperma) hanya mengandung 23 kromosom, tapi ketika bergabung membentuk jumlah normal 46 kromosom. Sel yang baru ini akan, seperti kata Dawkins, menjadi “satu mosaik atas gen-gen ibu dan ayah.” Ketika dua himpunan kromosom bersatu, jika dua gen memberi sinyal yang berbeda, salah satu akan berjaya dari yang lain. Gen untuk mata coklat, misalnya, bersifat dominan terhadap gen untuk mata biru. Ini adalah apa yang dikenal sebagai gen resesif atau dominan. Kadang kala satu kompromi hibridalah yang dihasilkan.

Melalui reproduksilah variasi tercapai. Dari sudut pandang evolusi hal ini adalah hal yang vital. Reproduksi aseksual dari organisme primitif menghasilkan salinan yang identik dengan sel induknya, mutasi sangat jarang terjadi. Di pihak lain, reproduksi seksual, dengan kombinasi-kombinasi gen baru dari dua sumber, meningkatkan kemungkinan variasi genetik dan mempercepat tingkat kecepatan evolusi itu sendiri. Tiap bentuk kehidupan membahwa sandi informasi genetiknya di dalam DNA. Bukti-bukti kesamaan moyang kita terletak pada kemiripan struktur sel dari semua mahluk hidup. Mekanisme pewarisannya adalah sama, di mana DNA menentukan tikus akan berbentuk seperti tikus, manusia nampak seperti manusia, dan bakteri seperti bakteri. Beberapa organisme, seperti bakteria, hanya memiliki satu molekul DNA utama, sementara sel-sel kita sendiri, dan sel-sel dari organisme yang lebih tinggi mengandung sejumlah bundel DNA yang terpisah (kromosom).

Gen dan Lingkungan

Pada lebih dari 25 tahun terakhir, ideologi kembar reduksionisme dan determinisme biologis telah mendominasi segala cabang biologi. Metode reduksionisme berusaha menjelaskan sifat-sifat dari keseluruhan yang kompleks – misalnya, protein – melalui ciri-ciri atom-atomnya dan bahkan partikel-partikel fundamental yang menyusun atom-atom itu. Semakin dalam kita pergi, semakin baik pula pemahaman kita (klaimnya begitu). Lebih jauh lagi, mereka menyatakan bahwa unit-unit yang menyusun keseluruhan terjadi sebelum keseluruhan itu terjadi, bahwa satu rantai kausalitas berjalan dari bagian menuju keseluruhan, bahwa telur selalu datang lebih dahulu dari ayam.

Determinisme biologis berkaitan sangat erat dengan reduksionisme. Ia mengklaim, contohnya, bahwa perilaku manusia ditentukan oleh gen-gen yang dimiliki seseorang dan membawa mereka pada kesimpulan bahwa seluruh masyarakat manusia ditentukan oleh jumlah perilaku semua individu dalam masyarakat tersebut. Kontrol genetik ini setara dengan ide-ide lama yang dinyatakan dengan istilah “sifat manusia”, human nature. Lagi-lagi para ilmuwan boleh berpendapat bahwa ini bukanlah apa yang mereka maksud, tapi ide tentang determinisme dan tentang gen sebagai “entitas yang tetap dan tak berubah” bertebaran dalam pernyataan-pernyataan mereka dan ditelan sampai bersendawa oleh para politisi sayap kanan. Bagi mereka, ketidakadilan sosial adalah sesuatu yang patut disayangkan, tapi juga statis dan tak dapat diubah; tidak mungkin bagi mereka untuk memperbaiki keadaan sosial, karena dengan melakukan hal itu mereka akan “melawan kehendak alam”. Ide ini telah dinyatakan oleh Richard Dawkins dalam The Selfish Gene yang digunakan sebagai buku teks di berbagai universitas Amerika.

Mekanisme evolusi dikondisikan oleh kesalingterhubungan dialektik antara gen dan lingkungannya. Sebelum Darwin, Lamarck telah mengajukan satu teori evolusi yang berbeda, yang menyatakan bahwa individu beradaptasi langsung terhadap lingkungannya dan meneruskan modifikasi ini pada keturunannya. Interpretasi mekanik ini telah dibuktikan keliru sepenuhnya, sekalipun ide bahwa lingkungan dapat mengubah hereditas secara langsung telah muncul kembali di Rusia, di bawah Stalin, dalam bentuk Lysenkoisme. Evolusi manusia memiliki baik “sifat alamiah” maupun “sejarah”. Bahan baku genetik memasuki hubungan dinamis dengan lingkungan sosial, ekonomi dan budaya. Mustahil memahami proses evolusi dengan mengambil salah satu saja tanpa menyertakan yang lain karena adanya interaksi terus-menerus antara unsur-unsur biologis dan “budaya”.

Telah dibuktikan secara meyakinkan bahwa kemampuan yang didapat dari proses belajar (yang diturunkan dari lingkungan) tidaklah dapat diteruskan secara biologis. Budaya diteruskan dari satu generasi ke generasi berikut hanya melalui pengajaran dan contoh. Inilah satu ciri yang menentukan, yang memisahkan masyarakat manusia dari kerajaan hewan, sekalipun unsur-unsur dari sini dapat pula diamati di tengah kera-kera tingkat tinggi. Sangat mustahil bagi kita untuk menyangkal peran vital dari gen dalam perkembangan manusia, bahkan hal ini tidak bertentangan sedikitpun dengan materialisme. Tapi apakah dengan demikian “semuanya tergantung dari gen”? Mari kita kutip apa yang dikatakan oleh ahli genetik terkemuka Theodore Dobzhansky:

“Kebanyakan evolusionis kontemporer berpendapat bahwa adaptasi dari spesies hidup pada lingkungan adalah agen utama yang menggerakkan dan mengarahkan evolusi biologis.”

Lagi:

“Namun, kebudayaan adalah alat adaptasi yang jauh lebih efisien dari proses biologis yang membawa pada kelahiran dan perkembangannya sendiri. Ia jauh lebih efisien di antara hal-hal lain karena ia sangat cepat – gen-gen yang berubah diteruskan hanya pada keturunan langsung dari individu di mana mereka pertama muncul; untuk menggantikan gen-gen lama, orang-orang yang membawa gen baru itu harus secara perlahan memiliki keturunan lebih banyak dan menggantikan seluruhnya generasi terdahulu. Kebudayaan yang berubah dapat diteruskan kepada siapa saja tanpa memandang keturunan biologis, atau dapat dipinjam dalam bentuk jadi dari orang lain.”[i]

Para ahli biologi membagi organisme menjadi dua bagian, susunan genetiknya, yang dikenal sebagai genotip, dan kualitas yang nampak di permukaan, fenotip. Adalah satu kesalahan yang umum jika kita menganggap bahwa di antara keduanya terdapat satu hubungan sebab-akibat yang sederhana. Genotip, katanya, datang sebelum fenotip, dan dengan demikian merupakan unsur yang menentukan dalam persamaan itu. Kita dilahirkan dengan satu himpunan gen tertentu, yang tidak dapat diubah, dan ini menentukan nasib kita, sama pastinya seperti posisi planet-planet dalam astrologi. Jenis determinisme mekanis genetik ini adalah citra cermin dari teori palsu Lysenko. Ini adalah Lamarckisme yang diputarbalikkan. Pada kenyataannya, genotip, atau gen yang ditemukan dalam inti tiap sel kurang atau lebih tetap – dengan memperhitungkan terjadinya mutasi sekali-kali. Fenotip, atau ciri-ciri morfologi, fisiologi dan perilaku total dari satu individu, tidaklah tetap. Sebaliknya, ia berubah terus sepanjang hidup organisme itu melalui interaksi antara genotip dan lingkungannya dan antara fenotip dengan lingkungannya. Dengan kata lain, ia adalah sebuah hasil dari interaksi dialektik antara organisme dengan lingkungan. Jika Albert Einstein dilahirkan di sebuah perkampungan kumuh New York, atau sebuah desa di India, tidak akan butuh banyak kepandaian untuk melihat bahwa potensi genetik yang dimilikinya akan tersia-sia.

Studi genetika menyediakan satu jawaban yang meyakinkan bagi idealisme. Tidak ada satu organisme yang akan dapat mengada tanpa satu genotip. Dan tidak ada genotip yang dapat mengada tanpa adanya satu contemporal continuum – satu lingkungan. Gen berinteraksi dengan lingkungan untuk melahirkan proses perkembangan manusia. Sesungguhnya, jika hereditas adalah sempurna, tidak akan pernah ada evolusi, karena hereditas adalah kekuatan yang konservatif. Pada hakikatnya ia adalah mekanisme untuk menyalin diri sendiri. Tapi ada satu kontradiksi yang inheren di dalam gen, di mana kadang kala dihasilkan satu salinan yang tidak sempurna – satu mutasi. Ada tak berhingga banyaknya kebetulan semacam itu, kebanyakan bukan hanya tidak berguna, tapi benar-benar merugikan bagi organisme itu.

Satu mutasi tunggal tidak dapat mengubah satu spesies menjadi spesies lainnya. Informasi yang terkandung dalam gen tidaklah tinggal di sana dalam isolasi mutlak. Ia memasuki kontak dengan dunia fisik, di mana ia diuji, diolah, diartikulasikan dan dimodifikasi. Jika satu varian tertentu terbukti menyediakan protein yang lebih baik dari varian lain dalam satu lingkungan tertentu, ia akan berkembang biak, sementara yang lain akan tersingkir. Pada titik tertentu, variasi-variasi kecil ini akan mencapai satu tahap kualitatif, dan sebuah spesies baru terbentuk. Inilah makna seleksi alam. Untuk sekitar empat milyar tahun, gen-gen dalam tiap benda hidup – tumbuhan dan hewan, termasuk manusia – telah terbentuk dengan cara ini. Ini bukanlah sebuah proses yang berjalan searah. Ide tentang determinasi genetik, bahwa gen adalah penguasa, telah digambarkan oleh Francis Crick, salah satu penemu sandi DNA sebagai “dogma sentral” dari biologi molekuler. Dogma ini tidak lebih sahih dari dogma tentang Dikandung Tanpa Noda Asal. Dalam hubungan dialektik antara organisme dengan lingkungannya, informasi tentang fenotip mengalir balik ke dalam genotip. Gen kemudian “diseleksi” oleh lingkungan, yang menentukan mana yang akan bertahan, dan mana yang akan gugur.

Peran sandi genetik memainkan peran vital dalam menegakkan “kerangka kerja” bagi manusia, sementara lingkungan bekerja untuk mengisi dan mengembangkan perilaku dan kepribadian. Keduanya bukan faktor yang saling terpisah, tapi bergabung secara dialektik untuk menghasilkan satu individu dan ciri-ciri unik mereka. Tidak ada dua orang yang identik satu sama lain. Namun, sekalipun tidak mungkin mengubah susunan herediter dari seseorang, sangat mungkin untuk mengubah lingkungannya. Cara untuk memperbaiki potensi seseorang adalah dengan memperbaiki lingkungannya. Ide ini telah memprovokasi satu argumen yang panas selama bertahun-tahun: apakah mungkin mengatasi atau mengubah “kekurangan” genetik melalui perbaikan lingkungan? Salah satu ahli genetika awal yang ternama Francis Galton berusaha menunjukkan bahwa kejeniusan adalah herediter, dan memilih kebijakan perkawinan selektif untuk memelihara stok orang-orang cerdas. Ide bahwa orang kulit putih kelas menengah ke atas memiliki gen yang superior dari kelas dan ras lain menjangkiti masyarakat Victorian. Pandangan ini telah menjadi ideologi gerakan eugenik yang menganjurkan pemandulan paksa untuk mencegah berkembangnya mereka yang secara biologis tidak cukup kuat. Data yang kurang ilmiah, menggunakan tes IQ (intelligence quotient), digunakan untuk mendukung determinisme biologis dan ketidakadilan sosial yang didasarkan pada ras, jenis kelamin atau kelas, ketidakadilan yang katanya tidak dapat diubah karena itu hanya cerminan dari kepemilikan atas gen-gen yang inferior.

“Kecerdasan” dan Gen

Sosiobiologis E. O. Wilson menyatakan pandangan kaum determinisme biologis sebagai berikut:

“Jika satu masyarakat terencana – yang penciptaannya niscaya terjadi di abad berikut – dapat dengan sengaja mengendalikan anggota-anggota keluar dari stress dan konflik yang pernah memberi keuntungan Darwinian pada fenotip yang merusak (agresi dan keegoisan), maka fenotip yang lain (kerja sama dan altriusme) boleh jadi hancur bersama mereka. Dalam hal ini, dalam makna genetik sepenuhnya, kontrol sosial justru akan merampok kemanusiaan dari tangan manusia.”[ii]

Dengan kata lain, dengan menyingkirkan aspek-aspek yang buruk dari kemanusiaan, kita akan juga menyingkirkan aspek-aspek baiknya! Lagi-lagi, Wilson mencampuradukkan genotip dan fenotip dengan mengimplikasikan bahwa fenotip (bukannya genotip) adalah tetap dan tidak berubah. Tidak demikian. Genotip tidaklah “menyandikan” ciri-ciri yang ada pada fenotip dan tidak ada gen yang membawa pada altruisme dalam fenotip. Setiap benda hidup adalah hasil dari satu interaksi terus-menerus antar gen, lingkungan dan fenotip itu sendiri. Namun, kita harus juga menghindari jebakan lain sehingga percaya bahwa organisme tidak berdaya di “tangan” gen dan lingkungannya. Organisme juga memainkan peran dalam proses itu. Semua benda hidup berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang dialektik.

“Anggapan bahwa sebuah sel seksual membawa satu partikel yang disebut “kecerdasan” yang akan membuat pembawanya menjadi cerdas dan bijak tidak peduli apa yang terjadi padanya, sungguh, adalah anggapan yang menggelikan,” tegas Dobzhansky. “Tapi jelas bahwa orang-orang yang kita temui tidak sama kecerdasannya, kemampuan dan sikapnya, dan bukannya tidak beralasan untuk menganggap bahwa perbedaan-perbedaan ini sebagian disebabkan oleh sifat-sifat dasar yang dimiliki orang-orang ini dan sebagian lagi karena lingkungan mereka.”

Sekalipun hal ini dengan jelas menunjukkan sifat materialis dan dialektik dari proses kehidupan, genetika telah melahirkan kontroversi yang panas dan membuka pintu bagi idealisme dan paham-paham reaksioner. Satu bentuk genetika yang sepihak niscaya akan berujung pada kesalahan dan kebingungan. Demikianlah, beberapa ahli genetika telah terjebak pada determinisme biologis atau determinisme genetik. Ini juga terjadi pada para sosiobiologis seperti E. O. Wilson dan Richard Dawkins. Berkomentar tentang hal ini, Steven Rose bertanya:

“Apakah teori evolusi mengimplikasikan bahwa beberapa aspek manusia – kapitalisme, nasionalisme, patriarki, xenophobia, agresi dan persaingan – “ditetapkan” di dalam ‘gen egois’ kita? Beberapa ahli biologi telah mengklaim bahwa mereka memiliki jawaban atas pertanyaan ini secara afirmatif, dan para teoritisi politik dari sayap kanan – dari monetaris libertarian sampai neo-fasis telah meraup pernyataan-pernyataan mereka sebagai pembenaran ‘ilmiah’ atas filsafat politik mereka.”

Satu-satunya kesimpulan dari sini adalah bahwa kapitalisme dan segala keburukannya adalah “alamiah”, karena diturunkan dari fakta-fakta biologis. Teori ketidaksetaraan rasial dan jenis kelamin juga telah mencari basis bagi keberadaannya sendiri pada interpretasi-interpretasi tertentu dari ilmu pengetahuan.

Perumpamaan atas evolusi yang simplisistik dan kasar ini, seperti “yang kuat yang menang” dan “perjuangan untuk hidup” menemukan jalannya melalui Herbert Spencer ke dalam kosa kata Darwinisme Sosial. Di dalam biologi ditemukanlah pembenaran terakhir atas kapitalisme, ketidaksetaraan kelas dan imperialisme. Nampaknya para sosiobiologis semodel E. O. Wilson membuntut Darwinisme Sosial dalam pandangan mereka tentang sifat manusia dan determinisme biologis. Marx dan Engels menjelaskan bahwa “manusia menentukan dirinya sendiri”. Sifat manusia, seperti kesadaran, adalah satu produk dari kondisi-kondisi sosial dan ekonomi yang dominan. Itulah mengapa sifat manusia terus berubah sepanjang sejarah, mengikuti perkembangan masyarakat itu sendiri. Bagi para sosiobiologis, ciri-ciri manusia tampaknya ditetapkan secara biologis melalui gen kita, menyokong mitos bahwa “Anda tidak akan dapat mengubah sifat manusia.”

Sesungguhnya, apa yang disebut “sifat manusia” telah berubah dan diubah lagi berkali-kali sepanjang sejarah manusia, seperti yang ditunjukkan oleh Dobzhansky:

“Darlington (1953) percaya bahwa ‘kemampuan adaptasi individu sungguh merupakan ilusi besar dari pengamatan berdasarkan nalar-sehat. Itu adalah ilusi yang bertanggung jawab atas beberapa kesalahan utama dari administrasi ekonomi dan politik yang berjalan saat ini. Individu dan populasi tidak dapat dipindahkan dari tempat atau pekerjaan yang satu ke yang lain setelah satu masa pelatihan yang cocok dengan kebutuhan segelintir perancang, sebagaimana petani di gunung tidak akan dapat diubah menjadi nelayan laut dalam atau penjahat kambuhan diubah menjadi warga negara yang baik.’

“Sekalipun terdapat banyak kekurangan dan ketidakpastian dalam pengetahuan kita tentang genetika manusia, terdapat cukup banyak bukti yang berlawanan dengan pandangan Darlington, dan bukti-bukti ini sangat konklusif.

“Sejarah sangat kaya dengan bukti bahwa individu dan populasi dapat dengan berhasil berpindah dari tempat atau pekerjaan yang satu ke yang lain. Revolusi industri di banyak negeri di seluruh dunia telah menunjukkan bukti yang sangat kuat tentang hal ini. Moyang dari jutaan buruh yang sekarang ada tentulah para petani yang ‘sejak jaman tak terkira’ telah selalu membajak sawah. Pergerakan dari tanah ke kota-kota industrial yang sekarangpun masih terus berlangsung, dan pada skala yang besar pula, di negeri-negeri ‘berkembang’.”

The Selfish Gene

Richard Dawkins, yang menjadi terkenal dengan bukunya yang diberi judul kontroversial The Selfish Gene, telah menjadi pusat dari satu polemik yang panas tentang genetika. Para ahli biologi molekuler telah mengidentifikasi pentingnya gen dalam mereplikasi salinan molekul DNA. Gen mengandung perintah-perintah sandi yang menghasilkan batu penyusun kehidupan, asam amino. Zat-zat ini menyusun protein yang membentuk sel dan organ. Karena ini, beberapa ahli biologi molekuler dan juga sosiobiologi telah menyatakan bahwa seluruh seleksi alam, pada akhirnya, berlaku pada tingkat DNA. Ini telah membawa sejumlah ilmuwan untuk menjadi terobsesi dengan sifat menakjubkan dari gen, sehingga tidak sedikit yang gagal membedakan kayu dari pohon. Beberapa orang telah melekatkan mistik pada gen yang menyebabkan ide-ide reaksioner berkesempatan muncul. Ide bahwa ciri-ciri fisik, mental dan moral merupakan warisan dari gen yang tak berubah dan tak dapat diubah jelas tidak didukung oleh fakta-fakta ilmu genetika. Namun ide ini terus muncul lagi dan lagi dalam literatur dan telah menimbulkan dampak yang serius pada politik sosial sepanjang abad ke-20.

Gen meneruskan pengaruh dari induk pada turunannya. Ia hanya dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara sejumlah gen yang saling berbeda (disebut alela) yang mempengaruhi satu hal tertentu (misal, warna mata dipengaruhi oleh alela untuk warna biru atau coklat). Perbedaan ini dikenali melalui pengujian/pengamatan biokimia, fisiologis, struktural atau behavioral (setelah lain-lain sumber variasi, seperti lingkungan, diabaikan).

Sayangnya, banyak ilmuwan dan orang-orang lain telah menggunakan satu penyederhanaan yang menyesatkan untuk definisi di atas. Khususnya, bahwa sebuah gen yang berperan untuk membuat perilaku satu hewan berbeda dari lainnya kemudian dianggap sebagai gen yang menentukan perilaku khasnya tersebut. Dawkins bukan satu-satunya ilmuwan yang jatuh ke dalam jebakan ini. Di tahun 1970-an banyak orang bicara tentang penyandian genetik atas ciri-ciri fisik dan perilaku. Satu gen harus diperbandingkan dengan gen lain yang juga berperan dalam menimbulkan ciri-ciri yang sama. Gen bukanlah satu entitas yang dapat berdiri sendiri dengan hak dan kewajibannya sendiri. Seperti yang ditunjukkan dengan tepat oleh J. B. S Haldane, genetika adalah ilmu tentang perbedaan bukan kesamaan. Sederhananya, Anda dan saya sama-sama dapat menjadi egois. Perbedaannya adalah Anda memperoleh kesempatan untuk itu sedang saya tidak. Anda tidak dapat menerapkan ciri personal dalam perbandingan. Dalam bukunya The Selfish Gene, Dawkins melompat-lompat dari satu definisi [berperan] ke definisi yang lain [menentukan], sambil mengklaim bahwa keduanya dapat dipertukarkan – padahal tidak. Hasilnya adalah dukungan terhadap determinisme biologis. Satu generasi penuh orang Amerika dan para ilmuwannya telah digiring ke dalam kekacauan ini.

Riset ilmiah ke dalam genetika menunjukkan kemungkinan bagi pengobatan, di mana kerusakan gen seperti Huntington’s chorea, Duchene muscular dystrophy, dan lain-lain telah dikenali. Namun, ada pernyataan yang luas bahwa dengan cara tertentu gen juga bertanggung jawab atas segala hal lainnya, seperti homoseksualitas dan kriminalitas. Determinisme genetik mereduksi segala masalah sosial ke tingkat genetika. Di bulan Februari 1995, satu konferensi tentang Genetika dari Perilaku Kriminal dan Anti-Sosial diadakan di London. Sepuluh dari tigabelas pembicara adalah dari Amerika Serikat di mana seminar serupa diadakan di tahun 1992, di mana tekanan publik berhasil menyingkirkan nada rasis dari pertemuan itu. Sekalipun ketua konferensi, Sir Michael Rutter dari London Institute of Psychiatry menyatakan “tidak ada itu yang namanya gen untuk kriminalitas,” peserta lain seperti Dr. Gregory Carey dari Institue of Behavioural Genetics, University of Colorado, bertahan bahwa faktor genetik secara keseluruhan bertanggung jawab untuk 40-50% tindak kejahatan dengan kekerasan. Sekalipun ia mengatakan bahwa akan menjadi tidak praktis ketika kita menempatkan kriminalitas ke dalam rekayasa genetik, yang lain mengatakan bahwa ada prospek yang baik untuk mengembangkan obat-obatan untuk mengendalikan agresi yang berlebihan, sekali gen yang bertanggung jawab untuk perilaku itu ditemukan. Walau demikian, ia menyarankan bahwa aborsi harus dipertimbangkan ketika pemeriksaan pra-kelahiran menunjukkan bahwa seorang anak memiliki kemungkinan dilahirkan dengan gen yang akan mendorong perilaku agresif atau antisosial. Pandangan ini didukung oleh Dr. David Goldman dari Laboratory of Neurogenetics pada US National Institute of Health. “Keluarga-keluarga harus diberi informasi dan harus diberi keleluasaan untuk menentukan secara pribadi bagaimana menggunakan informasi itu.” (The Independent, 14 Februari 1995.)

Menurut Profesor Hans Bruner dari Nijmegen University Hospital di Belanda, para lelaki dari satu keluarga yang mewarisi satu abnormalitas genetik tertentu dari kromosom X yang membawa defisiensi dalam enzim yang berhubungan dengan pesan-pesan di otak, telah menunjukkan “agresi impulsif” termasuk pembakaran rumah dan percobaan perkosaan. Dr. David Goldman dari NIH Laboratory of Neurogenetic di Maryland, dan Profesor Matti Virkkunen dari University of Helsinky mengatakan mereka sedang berusaha mengungkap variasi genetik dalam proses kimia otak yang mengarah pada agresi. “Perusahaan-perusahaan farmasi telah menyatakan minat mereka dalam penemuan kami,” kata Virkkunen. (The Financial Times, 14 Februari 1995.)

Steven Rose menggambarkan konferensi itu sebagai “rusuh, penuh gangguan dan tidak seimbang.” Konferensi itu diserang melalui surat oleh 15 orang ilmuwan. Dr. Zakari Erzinclioglu, direktur dari Centre for Forensic Science pada Durham University, menyebutnya sebagai “sangat mengganggu, terbelakang dan berniat jahat.” Ashley Montague menunjuk bahwa “bukan ‘gen kriminal’ yang membuat orang menjadi kriminal, tapi dalam sebagian besar kasus adalah ‘kondisi sosial yang kriminal’.”

Buku Richard Dawkins The Selfish Gene yang edisi pertamanya muncul di tahun 1976 membuat beberapa pernyataan yang mengejutkan. “Kita dilahirkan egois,” kata Dawkins. Sekalipun ia mengatakan bahwa “gen tidak memiliki kemampuan meramal” dan “tidak merencanakan sejak awal” Dawkin mencampuradukkan gen dengan kesadaran dan identitas “egois”. Gen berusaha mereplikasi dirinya sendiri, seakan mereka dengan sadar merencanakan bagaimana hal ini dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya:

“Tentunya secara prinsip, dan juga dalam fakta, gen mengulurkan tangan melalui dinding tubuh individu dan merekayasa objek-objek di dunia luar, beberapa tidak hidup, beberapa adalah mahluk hidup lain, beberapa terletak jauh sekali dari mereka. Dengan sedikit imajinasi kita dapat melihat gen duduk di pusat satu jaring-jaring kekuatan fenotip yang jauh jangkauannya. Dan sebuah objek di dunia adalah pusat dari bersatunya segala jaring-jaring pengaruh dari banyak gen yang duduk di dalam banyak organisme. Jangkauan jarak jauh dari gen tidak mengenal batas yang nyata.”[vi] Karena bagi Dawkins organisme individual tidak bertahan dari satu generasi ke generasi yang lain, tapi gen melakukan itu, maka pastilah seleksi alam bekerja pada apa yang bertahan, yaitu, gen. Maka, segala seleksi pastilah pada akhirnya bekerja di tingkat DNA. Pada saat bersamaan, tiap gen berkompetisi satu dengan lainnya untuk mereproduksi dirinya dalam generasi berikutnya. “Apa yang sebenarnya demikian spesial tentang gen? Jawabannya adalah bahwa mereka semua adalah replikator.”

Dalam pandangan ini, replikator kehidupan adalah gen; maka organisme adalah sekedar kendaraan bagi gen (“mesin untuk bertahan hidup – kendaraan robot yang diprogram secara membuta untuk memelihara molekul egois yang dikenal sebagai gen” … “mereka berkerumun dalam koloni-koloni raksasa, aman di dalam robot raksasa yang canggung itu”). Ini adalah sebuah edisi cetak ulang dari pepatah Butler yang terkenal bahwa ayam hanyalah sekedar cara bagi sebutir telur untuk menghasilkan butir telur yang lain. Seekor hewan, bagi Dawkins, hanyalah cara dari DNA untuk membuat lebih banyak DNA. Ia mencampurkan gen ke dalam satu senyawa penuh mistik yang pada hakikatnya bersifat teleologis.

“Saya curiga,” kata Dawkins dalam pembelaannya, “bahwa Rose dan Gould adalah determinis karena mereka percaya akan sebuah basis fisik, materialistik, bagi tiap tindakan kita. Begitu juga saya… pandangan apapun yang kita ambil tentang persoalan determinisme, dimasukkannya kata ‘genetik’ tidak akan mengubah sesuatupun.” Ia kemudian menambahkan, “jika Anda memiliki darah determinis Anda akan percaya bahwa segala tindakan Anda ditentukan oleh sebab-sebab fisik di masa lalu… perbedaan apa yang dapat dibuat karena salah satu sebab fisik itu adalah genetik? Mengapa determinisme genetik dianggap lebih niscaya, atau lebih merupakan satu pembenaran, daripada ‘determinisme yang mendasarkan pada lingkungan’?”

Segala hal di alam ini memiliki sebab dan akibat, di mana sebuah akibat pada gilirannya menjadi sebab. Dawkins mencampuradukkan determinisme dan fatalisme: “Satu organisme adalah alat bagi DNA.” Determinisme genetik memiliki satu makna mendasar, di mana gen dikatakan sebagai “menentukan” sifat persis dari fenotip. Tidak ada keraguan bahwa gen memiliki dampak yang kuat terhadap bentuk organisme, tapi entitasnya akan secara menentukan dipengaruhi oleh lingkungannya. Contohnya, jika dua kembar identik ditempatkan pada dua lingkungan yang sama sekali berbeda, dua karakter yang berbeda akan menjadi hasilnya. Seperti yang dijelaskan Rose, “Pada kenyataannya, seleksi harus bekeja pada berbagai tingkat. Panjang rangkaian DNA boleh atau boleh tidak diseleksi karena diri mereka sendiri, tapi DNA itu dinyatakan berlatarbelakangkan seluruh genotip; satu rangkaian gen tertentu atau seluruh genotip pastilah mewakili satu tingkatan seleksi yang berbeda. Lebih jauh lagi, genotip terdapat dalam fenotip, dan apakah fenotipnya dapat bertahan atau tidak bergantung pada interaksinya dengan lain-lain fenotip. Maka ia hanya akan diseleksi terhadap latar belakang populasi di mana ia muncul.”

Dawkins dipaksa untuk mundur beberapa tindak, memperbaiki argumennya pada edisi-edisi berikut dari The Selfish Gene (1989) dan dalam The Extended Phenotype (1982). Ia mengatakan bahwa bahasanya yang flamboyan telah membuat dirinya mudah disalahartikan dan disalahpahami: “Terlalu mudah untuk terhanyut, dan mengijinkan gen memiliki kebijaksanaan kognitif dan kemampuan merencanakan ‘stretegi’ mereka.” Namun ia tetap mempertahankan argumen dasarnya dan memandang kehidupan “dalam makna replikator genetik yang memelihara dirinya melalui fenotip mereka yang diperluas.” Dan bahwa “seleksi alam adalah kemampuan bertahan diferensial dari gen.” Dawkin kini mengatakan “gen dapat memodifikasi dampak dari gen lain, dan dapat memodifikasi dampak dari lingkungannya. Kejadian pada lingkungan, baik internal maupun eksternal, dapat memodifikasi dampak dari gen, dan dapat memodifikasi dampak dari kejadian lain-lain pada lingkungan itu.” Tapi, di luar konsesi ini, tesis utama Dawkins tetap.

Misalnya, ia mengatakan: “Kontrasepsi adalah sesuatu yang diserang sebagai ‘tidak alamiah’. Demikianlah ia adanya, sangat tidak alamiah. Kesulitannya, demikian pula negara kesejahteraan. Saya pikir kebanyakan dari kita percaya bahwa negara kesejahteraan adalah hal yang sangat baik. Tapi Anda tidak dapat memiliki negara kesejahteraan yang tidak alami, kecuali jika Anda memiliki pembatasan kelahiran yang tidak alamiah, jika tidak demikian maka hasil akhirnya pastilah kepedihan yang jauh lebih besar daripada apa yang dapat kita temui di alam.” Ia melanjutkan, “negara kesejahteraan mungkin adalah sistem altruistik yang paling besar yang pernah dikenal oleh dunia hewan. Tapi tiap sistem altruistik memiliki ketidastabilan internal, karena ia terbuka untuk disalahgunakan oleh individu yang egois, yang siap mengeksploitasinya. Individu manusia yang memiliki lebih banyak anak daripada yang dapat diberinya makan mungkin terlalu bodoh, dalam sebagian besar kasus, untuk dituduh sengaja melakukan eksploitasi yang jahat.”

Menurut Dawkins pengangkatan anak berlawanan dengan naluri dan kepentingan “gen yang egois”. “Dalam kebanyakan kasus kita harus menganggap pengangkatan anak, bagaimanapun menyentuhnya hal itu, sebagai sebuah kegagalan dalam aturan yang inheren dalam diri kita,” kata Dawkins. “Ini karena perempuan yang terlalu baik itu tidak melakukan hal yang terbaik bagi gennya sendiri dengan memelihara anak yatim-piatu. Ia membuang waktu dan enerji yang seharusnya ditanamkannya pada kehidupan kerabatnya sendiri, khususnya anak-anaknya di masa depan. Mungkin hal ini adalah sesuatu yang terjadi terlalu jarang, sehingga seleksi alam ‘tidak mau repot-repot’ mengubah aturan sehingga naluri keibuan dapat menjadi lebih selektif.”

Ia menyatakan bahwa “jika seorang perempuan diberi bukti-bukti yang kuat bahwa ia dapat mengharapkan terjadinya kelaparan, merupakan bagian dari kepentingan dirinya yang egois untuk mengurangi tingkat kelahirannya sendiri.” Dawkins juga percaya bahwa seleksi alam akan memilih anak yang menipu, berbohong, licik dan menegekploitasi dan bahwa “ketika kita melihat populasi liar kita boleh berharap untuk melihat penipuan dan keegoisan di dalam keluarga. Frasa ‘anak harus menipu’ berarti bahwa gen yang cenderung membuat anak menipu memiliki satu keuntungan dalam pool gen.”[ix] Ia menyimpulkan bahwa organisme adalah alat dari DNA, bukannya sebaliknya.

Komentar-komentar ini menarik bukan hanya karena apa yang mereka katakan pada kita tentang gen, tapi karena apa yang mereka ungkap tentang keadaan masyarakat dalam dekade terakhir abad ke-20 ini. Dalam masyarakat tertentu, otot yang kuat atau kemampuan untuk berlari cepat dapat membawa keuntungan genetik. Jika keuntungan serupa dilekatkan pada kecenderungan untuk berbohong, menipu dan mengeksploitasi, artinya ciri-ciri semacam itu adalah kualitas yang paling penting dalam masyarakat modern, dan hal ini tentu saja sepenuhnya benar dari sudut pandang “nilai-nilai pasar”. Walaupun sangatlah dapat dipertanyakan apakah kualitas semacam itu dapat, pada kenyataannya, diteruskan melalui mekanisme genetik, jelas bahwa mereka adalah ciri-ciri paling hakiki dari egoisme borjuasi. “Perang semua melawan semua”, seperti yang diungkapkan si tua Hobbes, adalah sudut pandang dasar dari masyarakat borjuis.

Benarkah bahwa mentalitas semacam itu bagian yang terkondisi secara genetik dari “sifat manusia”? Mari kita ingatkan lagi diri kita bahwa kapitalisme dan nilai-nilainya baru ada selama 200 tahun terakhir dari sekitar 5.000 tahun sejak kita mengenal tulisan, dan 100.000 tahun yang telah berlalu sejak nenek-moyang kita mulai menjadi manusia. Masyarakat manusia, pada sebagian besar waktu keberadaannya, telah didasarkan pada prinsip kerja sama. Sungguh, manusia tidak akan pernah mengangkat dirinya di atas tingkatan hewani tanpa hal ini. Kompetisi sama sekali bukan sebuah unsur yang hakiki dari semangat kemanusiaan, kompetisi adalah gejala yang baru saja muncul, satu cerminan dari sebuah masyarakat yang didasarkan pada produksi komoditi, yang memuntir dan merusak sifat manusia ke dalam pola perilaku yang pasti akan dianggap menjijikan dan tidak alami di masa lalu.

Terlalu mudah untuk menyalahkan satu gejala yang misterius seperti “gen kita” untuk memahami moralitas egotisme dari perekonomian pasar. Lebih jauh lagi, ini bukan persoalan zoologi, tapi persoalan kelas sosial. Individu kapitalis bersaing satu dengan lainnya dan tidak ragu untuk menggunakan segala macam cara untuk menggulingkan pesaingnya – berbohong, menipu, spionase industri, insider dealing, pencaplokan tanpa ampun – hal ini dianggap praktek dagang yang normal. Dari sudut pandang kelas pekerja, segalanya sangat berbeda. Ini bukan persoalan moralitas individu, tapi persis persoalan bagaimana kelas sosial dapat bertahan (persoalan sosial yang sejajar dengan “survival of the fittest“). Satu-satunya kekuatan yang dimiliki kelas pekerja untuk melawan para majikan adalah kekuatan persatuan, persisnya: kerja sama.

Tanpa organisasi, yang dimulai dari tingkat serikat pekerja, kelas pekerja hanyalah bahan mentah untuk dieksploitasi. Kebutuhan kaum pekerja untuk bergabung dalam mempertahankan kepentingannya adalah satu pelajaran yang harus dipelajari lagi dan lagi. Egotisme dan “individualisme” (dalam pemaknaan borjuasi) berarti kekalahan bagi kelas pekerja. Tiap orang yang menyabot pemogokan selalu dipuja-puji sebagai pembela agung dari “kebebasan individu” oleh pers milik para milyuner karena merupakan kepentingan para majikan untuk memecah-mecah kelas pekerja, untuk mereduksinya menjadi unsur yang terpisah-pisah, yang masing-masing berada dalam cengkeraman Modal. Di sini juga, hukum dialektika berlaku bahwa keseluruhan pastilah lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Sadar atau tidak, mereka yang mengajukan keegoisan sebagai hal yang ideal, atau setidaknya sebagai “sifat manusia” telah mengambil posisi yang tegas dalam hubungannya dengan perjuangan antara kelas pekerja upahan dan Modal, dan tidak boleh mengeluh ketika mereka dikritik telah menyediakan pelumas bagi gerinda yang dijalankan tanpa ampun oleh Nyonya Thatcher.

Dawkins melihat evolusi bukan sebagai hasil dari perjuangan organisme tapi sebagai sebuah perjuangan antar gen untuk rebutan menyalin dirinya sendiri. Tubuh yang mereka diami adalah sekunder. Ia membuang prinsip Darwin bahwa individu adalah unit seleksi. Ini adalah ide yang keliru secara mendasar. Seleksi alam bekerja atas organisme, atas tubuh. Ia memilih bentuk tubuh tertentu karena mereka lebih cocok dengan lingkungan tertentu. Gen adalah sepotong DNA yang terkandung di dalam inti sel, sejumlah besar dari mereka berperan dalam perkembangan sebagian besar bagian tubuh. Ini pada gilirannya dipengaruhi oleh serangkaian faktor lingkungan, internal maupun eksternal. Seleksi tidaklah terjadi langsung atas bagian per bagian. Seleksi alam terjadi atas tubuh karena mereka dengan cara tertentu “lebih cocok”, yaitu, lebih kuat, lebih ganas, lebih hangat, dan sebagainya. Jika memang ada gen khusus untuk kekuatan atau ciri-ciri lainnya, maka Dawkins mungkin benar. Tapi tidak demikian halnya. Misalnya, perintah untuk pembentukan telinga dikandung dalam beberapa gen yang terpisah, separuh datang dari ayah, separuh dari ibu.

Seperti yang dijelaskan oleh Stephen Jay Gould:

“Seleksi alam menerima atau menolak seluruh organisme karena sekumpulan bagian tubuh, yang berinteraksi dengan cara yang kompleks, membawa keuntungan tertentu…. Organisme jauh lebih berharga dari sekedar amalgamasi gen. Merekalah yang memiliki sejarah; bagian-bagian mereka berinteraksi dalam cara yang kompleks. Organisme dibangun dari gen-gen yang bertindak dalam sebuah konserto, dipengaruhi oleh lingkungan, diterjemahkan menjadi bagian-bagian yang dilihat maupun yang tak terlihat oleh seleksi. Molekul yang menentukan sifat-sifat air adalah analogi yang buruk bagi gen dan tubuh.”

Analisa ini telah didukung oleh Steven Rose dalam kritisismenya atas Dawkins:

“Pada kenyataanya, seleksi harus bekeja pada berbagai tingkat. Panjang rangkaian DNA boleh atau boleh tidak diseleksi karena diri mereka sendiri, tapi DNA itu dinyatakan berlatarbelakangkan seluruh genotip; satu rangkaian gen tertentu atau seluruh genotip pastilah mewakili satu tingkatan seleksi yang berbeda. Lebih jauh lagi, genotip terdapat dalam fenotip, dan apakah fenotipnya dapat bertahan atau tidak bergantung pada interaksinya dengan lain-lain fenotip. Maka ia hanya akan diseleksi terhadap latar belakang populasi di mana ia muncul.”[xi]

Metode Dawkins membawanya tercebur ke dalam lumpur idealisme, ketika ia mencoba berpendapat bahwa kebudayan manusia dapat direduksi menjadi unit yang disebutnya memes, yang kelihatannya, seperti gen, bersifat mereplikasi diri sendiri dan berkompetisi untuk bertahan hidup. Ini jelas keliru. Kebudayaan manusia diteruskan dari generasi ke generasi, bukan melalui memes, tapi melalui pendidikan, dalam maknanya yang terluas. Keragaman budaya tidak terkait dengan gen tapi dengan sejarah sosial. Pendekatan Dawkins pada hakikatnya adalah reduksionis.

Masyarakat tidak dapat dipecah menjadi organisme, organisme menjadi sel, sel menjadi molekul, dan molekul menjaid atom. Bagi Dawkins, sifat dan motivasi manusia haruslah dipahami dengan menganalisa DNA-nya. Sama persis dengan James Watson (yang bersama Crick dan Franklin menemukan double helix) yang menyatakan “Apa lagi selain atom?” Mereka tidak pernah menganggap penting berbagai tingkat analisis, atau cara determinasi yang kompleks dan bertingkat-tingkat. Mereka mengabaikan hubungan hakiki antara sel dan organisme sebagai sebuah keseluruhan. Metode empirik ini, yang muncul bersama dengan revolusi ilmiah di tengah kelahiran kapitalisme, bersifat progresif pada masanya, tapi kini telah menjadi belenggu atas perkembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman atas alam.

Masa Depan Genetika

“Sampai baru-baru ini, satu-satunya akses pada gen yang membentuk dunia natural ini adalah melalui perubahan atas lingkungan. Kini gen-gen itu dapat direkayasa secara langsung. Hal ini membuat perubahan menjadi mudah, segera dan dapat dipahami; teknologi yang memungkinkan rekayasa genetika langsung juga membuka pintu untuk memeriksa aktivitas gen. Tapi pada saat bersamaan ia membuat perubahan menjadi sesuatu yang acak, karena gen yang tidak akan dikembangkan secara spontan oleh hewan apapun kini menjadi mungkin. Teknik-teknik baru ini akan memberi umat manusia satu kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya untuk mengubah dunia – dan untuk mengubah dirinya sendiri.” (The Economist, 25 Februari 1995.)

Selama tiga dasawarsa terakhir, kemajuan-kemajuan raksasa telah dibuat dalam bidang genetika molekuler. Di tahun 1972, gen pertama telah diisolasi dan direproduksi (“kloning”) di laboratorium. Konsekuensi dari hal ini sangatlah menguatirkan sehingga para ilmuwan bersepakat untuk secara sukarela menghentikan upaya rekombinasi gen-gen hasil klon ke dalam DNA dari organisme lain. Tapi kini dimasukkannya gen hasil klon ke dalam DNA manusia sudah hampir menjadi hal yang rutin. Pada dasawarsa pertama dari abad mendatang, para ilmuwan akan mengetahui semua protein dalam tubuh manusia. Pengetahuan semacam ini memiliki implikasi yang luar biasa bagi masa datang – baik maupun buruk.

Sampai saat ini, gen masih dilingkupi misteri, seperti Thing-in-Itself-nya Kant. Gen adalah tuan yang kejam dari nasib manusia, keras kepala, tidak dapat diubah, dan tidak dapat diraba dalamnya. Berbicara tentang gen bukan hanya bicara tentang pewarisan. Ini satu pembicaraan tentang nasib kita. Dan nasib adalah satu mahkamah yang tidak memiliki tingkat banding.  Sampai saat ini. Tapi kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah sejarah kehidupan di planet ini, hadir satu kemungkinan bagi umat manusia untuk mengendalikan nasibnya sendiri, pada tingkatan yang terdalam. Bertentangan dengan segala omong kosong dari para reaksioner genetika, tidak pernah benar bahwa gen menentukan sepenuhnya evolusi manusia. Sekalipun mereka memainkan peranan yang besar pada kehidupan manusia, gen tidak mengendalikannya. Paling-paling, mereka menetapkan parameter tertentu untuk membatasi atau mengatur. Tapi kini genotip itu sendiri, untuk pertama kalinya, ditempatkan di bawah kendali. Ini adalah perkembangan yang revolusioner, yang penuh berisi berbagai konsekuensi yang besar bagi masa depan umat manusia.

Kemunculan kehidupan dari materi anorganik adalah lompatan evolusioner raksasa. Setelah serangkaian transformasi, perkembangan dari otak yang dapat berpikir sebagai hasil dari kehidupan sosial dan kerja kolektif adalah langkah raksasa berikutnya. Kini, untuk pertama kalinya selama empat milyar tahun, umat manusia sedang berada dalam proses untuk menguasai rahasia evolusinya sendiri. Seleksi alam tidak lagi menjadi kekuatan misterius yang membabi buta. Genotip yang maha kuasa itu dapat ditundukkan ke bawah kendali fenotip. Umat manusia memiliki potensi untuk menentukan nasibnya sendiri, dan memodifikasi dikte seleksi alam yang tanpa ampun itu.

“Seperti juga organisme adalah interpretasi dari informasi genetik di dalam lingkungan tertentu,” tulis Oliver Morton, “demikian pula penggunaan pengetahuan genetik akan tergantung pada lingkungannya – ekonomi dan etik, personal dan politik – di mana penggunaan itu dilakukan. Kedua penggunaan itu, baik atau jahat, pasti akan terjadi. Gen yang tadinya dengan ketat membatasi dan mengatur kini ditundukkan ke bawah kehendak manusia; batasan-batasan akan digeser, pengaturan dilonggarkan. Gen tidak pernah menjadi tuan seutuhnya atas nasib manusia, tapi juga mereka tidak pernah menjadi pembantu bagi umat manusia. Sampai saat ini.” (The Economist, 25 Februari 1995)

Percuma kita menangisi penemuan ini, seperti halnya percuma saja sekelompok buruh yang putus asa menghancurkan mesin-mesin, apa yang terjadi pada awal Revolusi Industri. Penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian yang vital bagi perkembangan masyarakat, memungkinkan umat manusia untuk mendapatkan kendali yang lebih besar atas batasan-batasan yang dipaksakan oleh alam. Hanya dengan cara inilah umat manusia akan benar-benar bebas. Masalahnya bukan terletak pada apa yang ditemukan oleh pemikiran manusia. Masalahnya adalah bagaimana penemuan itu digunakan. Perkembangan ilmu pengetahuan membuka satu cakrawala baru yang menggemparkan dari perkembangan umat manusia yang tak terbatas itu sendiri. Tapi ada satu sisi yang lebih gelap dari semua ini. Abad ke-20 membawa pesan yang mengerikan tentang bagaimana kengerian dapat menyerbu dari kubu kapitalisme ketika mereka sedang mengalami kemunduran sejarahnya. Teknik rekayasa genetik di tangan para monopolis yang tidak terkontrol, yang hanya berminat pada keuntungan besar, merupakan satu ancaman yang mendirikan bulu roma.

Seluruh perkembangan teknologi, yang terus-menerus meruntuhkan segala rintangan yang menghadangnya, dan menyatukan dunia dengan cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, adalah sebuah pernyataan yang berpihak pada perekonomian dunia yang terencana. Bukan seperti karikatur mengerikan yang digambar oleh Stalinisme, tapi satu masyarakat yang dijalankan secara demokratis, di mana laki-laki dan perempuan akan mencapai kendali sadar atas kehidupan dan takdir mereka. Berdasarkan perekonomian yang ditata secara serasi, mengumpulkan sumberdaya dari seluruh planet, satu cakrawala perkembangan yang tak terbatas terbuka lebar. Di satu pihak kita memiliki tugas mengurus dunia kita, membuatnya cocok bagi umat manusia, memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh kerakusan perusahaan-perusahaan multinasional. Di pihak lain, kita melihat di hadapan kita satu tantangan terbesar yang pernah dihadapi oleh spesies kita – penjelajahan antariksa, yang terkait dengan masalah kemampuan umat manusia untuk bertahan hidup di masa datang. Ilmu rekayasa genetik, yang kini masih pada tahap janin, mungkin kelak akan terkait dengan tuntutan bagi perjalanan-perjalanan panjang menjelajah antariksa. Pada saat ini, ini masih berada di alam spekulasi. Namun sejarah seratus tahun terakhir telah memperlihatkan betapa cepatnya ide yang kelihatannya demikian fantastik sekalipun untuk segera menjadi kenyataan.

Apa yang kita lihat pada saat ini adalah sebuah potensi raksasa. Dalam konteks perekonomian yang demokratik dan direncanakan secara serasi, di mana laki-laki dan perempuan bebas dan dengan sadar menentukan takdirnya sendiri, ilmu genetika akan berhenti menjadi penghambat kemajuan manusia dan akan menempati kedudukannya yang sebenarnya, di dalam telaah dan transformasi atas kehidupan itu sendiri. Ini bukanlah satu khayalan, tapi berhubungan dengan kemungkinan aktual. Mengutip Oliver Morton:

“Kemungkinan dari biologi ini hampir-hampir tak berbatas. Dunia natural, termasuk tubuh dan pikiran manusia, akan menjadi dapat dibentuk. Organ-organ yang diimplantasi mungkin akan membentuk kembali otak manusia, virus yang dirancang khusus akan membangun kembali urat yang telah mengalami penuaan. Organ manusia yang ditumbuhkan pada hewan untuk transplantasi kini telah mulai dikerjakan. Berbagai jenis mahluk baru mungkin akan muncul, mahluk-mahluk yang boleh menjadi pusat kekaguman kita. Jika umat manusia tidak dapat menemukan kawan di antara bintang-bintang, ia dapat menciptakan mahluk cerdas baru di bumi. Perbedaan genetik antara manusia dan simpanse sangatlah kecil; spesies cerdas baru bukanlah satu kemustahilan.

“Semua ini akan dimungkinkan oleh genetika. Tapi, pada saat bersamaan, kejayaan gen akan berlalu. Gen telah kehilangan posisi istimewanya sebagai pembawa informasi. Informasi biologis akan disimpan dalam pikiran dan komputer, selain dalam gen, dan gen hanya akan menjadi salah satu cara untuk merekayasa dunia ini, cocok untuk satu hal dan tidak cocok untuk hal lainnya, seperti protein terapeutik….

“Apa yang semula unik pada gen kita kini berada dalam genggaman umat manusia. genggaman itu kelak akan segera memiliki semua kuasa yang pada satu waktu pernah dilekatkan pada gen dan lain-lain. Kecerdasan yang sama akan dapat membentuk gen dan lingkungan, yang selama ini bekerja sama untuk membuat semua organisme seperti adanya. Kendali atas informasi biologis pada skala ini – atas data mentah dan cara pengolahannya – berarti kendali atas biologi, kendali atas kehidupan itu sendiri.” (The Economist, 25 Februari 1995.)


[1] Penemuan Piltdown Man adalah salah satu skandal terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan, di mana beberapa orang ilmuwan, untuk keperluan membuktikan teori penciptaan, merekayasa fosil palsu di Piltdown. Setelah ditemukannya teknik penentuan usia geologis melalui pengukuran isotop radioaktif, terbukti bahwa fosil itu adalah palsu. Namun fosil-fosil palsu itu telah terlanjur melahirkan berbagai buku setelah selama puluhan tahun dianggap sebagai pembenar paling meyakinkan atas teori Penciptaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s