RED HERRING


Kekeliruan Red Herring

Perhatikan contoh di bawah ini:

Contoh A
Jenny: “Anak perempuan lebih pintar dari pada laki-laki.“
Bert : “Ooo yaaa… Bagaimana kamu tahu?“
Jenny: “Karena memang demikian adanya.“
Bert: “Tapi bagaimana kamu tahu?“
Jenny: “Ada banyak anak perempuan yang melakukan banyak hal. Tetangga kami, Nyonya Jones pintar; Joan of Arc menyelamatkan Perancis dari Inggris; dan Madamme Curie menemukan bohlam.”
Bert: “Bagaimana kamu tahu bahwa mereka lebih pintar dari laki-laki?”
Jenny: “Karena ada banyak perempuan yang ber-IQ tinggi. Karena itu mereka pintar.”
Bert: “Kamu masih belum menjawab pertanyaan saya. Mengapa perempuan lebih pintar dari laki-laki?“
Jenny: “Yaaaa.. aku pintar dan kamu dungu. Itu buktinya!“

Harusnya jelas bahwa Jenny tidak menjawab pertanyaan sama sekali. Dia mengatakan hal-hal yang kedengarannya menjawab pertanyaan tetapi sebenarnya tidak sama sekali. Dia mencoba membuktikan bahwa perempuan lebih pintar daripada laki-laki. Namun akhirnya dia hanya menunjukkan bahwa beberapa perempuan memang pintar dan tidak menujukkan sama sekali berapa pintar laki-laki.

Tidak berarti Jenny mengatakan hal-hal yang tidak benar (kecuali tentang Madame Curie). Tetapi dia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan “mengapa perempuan lebih pintar dari pada laki-laki?“ Kalau andaikata dia menjawab pertanyaan yang diajukan, dia dapat saja mengatakan:

Jenny: “Perempuan lebih pintar dari pada laki-laki karena terbukti bahwa IQ rata-rata perempuan lebih tinggi dari pada IQ rata-rata laki-laki.“

Saat berargumen sulit sekali untuk tidak merubah arah pembicaraan yaitu menjawab pertanyaan saat kita mengemukakan argumen. Sangat mudah mengintrodusir sesuatu yang tidak relevan dengan pembicaraan dalam argumen kita.

Setiap kali kita mengintrodusir sesuatu yang tidak relevan ke dalam satu argumen, maka kita menghindari pertanyaan.

Contoh Lain :
“Sparkledent sangat baik untuk mengurangi gigi berlubang. Dokter gigi mengatakan bahwa gigi berlubang merupakan masalah kesehatan gigi utama di Amerika.”

Pembuat iklan mengatakan sesuatu yang benar yaitu: “gigi berlubang adalah masalah besar.” Namun demikian, iklan tersebut tidak mengatakan apakah atau bagaimana Sparkdelent mengurangi gigi berlubang. Andaikata iklan tersebut mengatakan: “Sparkdelent direkomendasikan oleh dokter gigi dimana-mana sebagai pasta gigi anti gigi berlubang nomor satu. Karena itu anda harus menggunakannya,” maka iklan itu akan menjawab masalah. Iklan ini malah mengangkat red herring.

Red Herring

Saat seseorang menghindari pertanyaan dan menegaskan sesuatu yang tidak relevan, dikatakan bahwa dia mengintrodusir red herring (ikan [haring] busuk) ke dalam argumen. Red Herring adalah ikan mati yang mulai “matang” dan berbau. Dulu pelatih anjing biasa menggunakan red herring (ikan [haring] busuk) untuk melatih anjing pelacak. Pelatih anjing akan membuat sebuah jejak berbau rakun (atau apapun yang mereka ingin anjing lacak) dan membiarkan jalur itu lama, lalu mereka akan menarik red herring (yang sudah sangat “matang” dan berbau) melintasi jejak berbau rakun tadi tetapi dengan arah berbeda. Pelatih anjing akan melatih anjing untuk tetap berada pada jalur bau rakun dan mengabaikan bau red herring. Jadi, red herring adalah jejak pengganggu. Dalam konteks kita, red herring terjadi pada saat seseorang mengangkat topik yang tidak relevan yang mengalihkan kita dari pertanyaan yang sesungguhnya.

Red Herring terjadi saat ada hal yang tidak relevan yang diangkat ke dalam sebuah argumen. Orang mungkin berpikir (dan ingin kita berpikir) bahwa hal yang diangkat itu membuktikan dia benar, padahal sebenarnya tidak.

Saya yakin hal ini pernah terjadi dengan anda sebelumnya: anda berbicara dengan seseorang tentang sesuatu yang anda tidak setuju dan setelah beberapa saat anda menyadari bahwa anda tidak lagi berdiskusi tentang hal itu. Hal ini diakibatkan karena di sepanjang argumen, seseorang melakukan red herring dan sejak itu anda telah membahas tentang red herring.

Contoh B
Jenny      : “Saya pikir anak laki-laki harus selalu membuka pintu bagi anak perempuan.”
Bert        : “Kenapa?”
Jenny      : “Karena hal itu sopan.“
Bert        : “Mengapa itu merupakan sesuatu yang sopan?“
Jenny     : “Karena itu sangat membantu bagi anak perempuan.“
Bert       : “Tetapi bukankah juga sangat membantu bagi anak laki-laki kalau anak perempuan yang membuka pintu bagi anak laki-laki? Mengapa bukan anak perempuan yang membuka pintu bagi anak laki-laki?“
Jenny      : “Karena itu tidak benar. Sore ini ketika kita keluar dari toko bahan makanan, tanganku penuh dengan banyak barang dan aku harus meletakkan barang-barang tersebut baru membuka pintu hanya karena kamu terlalu kasar dan tidak mau membantuku.“
Bert        : “Aku tidak bisa membantumu karena aku masih berada di tempat parkir menunggu di mobil.“
Jenny     : “Sekarang terbukti khan? Kamu tidak perhatian sama sekali kalau-kalau aku butuh bantuan ketika keluar dari toko. Aku pikir itu tidak sopan.“
Bert        : “Aku tidak tau kalau kamu mau membeli begitu banyak bahan makanan, kalau tidak aku pasti membuka pintu untukmu.“
Jenny      : “Seharusnya kamu berpikir tentang itu.“

Apakah anda perhatikan bahwa Bert dan Jenny tidak lagi berargumen tentang apakah anak laki-laki harus membuka pintu untuk anak perempuan? Sekarang mereka berargumen tentang apakah Bert seharusnya membuka pintu untuk Jenny sore tadi. Hal ini terjadi karena Jenny mengangkat red herring ke dalam argumen dan Bert tidak sadar akan hal itu. Seharusnya Bert berkata:
Bert        : “Mungkin memang aku harus membuka pintu untukmu hari ini, tapi bagaimana itu membuktikan bahwa anak laki-laki  harus membuka pintu bagi anak perempuan?“

Untuk menjawab pertanyaan itu si Jenny dapat saya mengatakan:
Jenny      : “Karena anak perempuan memiliki tangan yang lebih kecil dibanding anak laki-laki sehingga sulit untuk memutar tombol pintu.“

Wapaupun ada argumen lain yang lebih baik dari pada itu, setidaknya jawaban itu menjawab pertanyaan yang diajukan.

Bukan Red Herring

Kalau seseorang mengatakan “Aku tidak tahu,” dan tidak menjawab pertanyaan, dia tidak melakukan red herring. Dia masih menjawab pertanyaan – hanya saja dia tidak tahu jawabannya.

Contoh C
Anak laki-laki       : “Berapa akar pangkat dua dari 234,09667?
Ayah                    : “Ayah tidak tahu. Kenapa tidak pake kalkulator saja?“

Sang ayah tidak menghindari pertanyaan anaknya. Dia memberi jawaban dengan mengakui bahwa dia tidak tahu jawaban yang benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s