DEDUKSI – INDUKSI & LOGIKA


Terdapat dua cara penyimpulan yang terdapat dalam logika. Itu adalah deduksi dan Induksi. Sebenarnya pola berfikir ini sudah sering kita lakukan namun tidak kita sadari. Karena pola ini menggambarkan pola kerja otak kita, induksi dan deduksi sangat penting bagi penelitian dalam ilmu pengetahuan.

Deduksi adalah pola berfikir dari umum ke khusus. Pola ini sering kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Kita melihat gambaran besar sebelum ke gambaran yang lebih spesifik. Kita misal kita memikirkan soal anjing. Anjing memiliki ciri-ciri berkaki empat, berekor dan bertaring. Maka kesimpulannya, anjing Budi seharusnya memiliki kaki empat, berekor dan bertaring.

Sebelum kita melihat anjing Budi kita punya gambaran mengenai Anjing. Andai kita menemukan anjing budi berkaki dua dan bersayap kita bisa merubah gambaran kita mengenai anjing atau mempertanyakan apakah peliharaan budi adalah anjing.

LOGIKA DEDUKTIF

logika deduksi

Pengertian logika deduktif adalah ‘sistem penalaran yang menelaah prinsip-prinsip penyimpulan yang sah berdasarkan bentuknya (form) serta kesimpulan yang dihasilkan sebagai kemestian yang diturunkan dari pangkal pikiran yang jernih atau sehat’. Atau logika deduktif adalah ‘suatu ilmu yang mempelajari asas-asas atau hokum-hukum dalam berfikirm hokum-hukum tersebut harus ditaati supaya pola berfikirnya benar dan mencapai kebenaran’ (Sudiarja, dkk., 2006; Copi, I.M. 1978).

  • Dalam kajian logika deduktif, secara umum macam-macam definisi dibedakan menjadi tiga, yaitu:Definisi nominalis, yaitu ‘definisi yang menjelaskan sebuah istilah’. Definisi nominalis dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) definisi sinonim, yaitu penjelasan dengan memberi arti persamaan dari istilah yang didefinisikan. Contoh: Valid adalah ‘sahih’; Sawah-ladang adalah ‘lahan pertanian terbuka’, Universitas adalah lembaga pendidikan tinggi tempat mendidik mahasiswa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan sebagainya; (2) definisi simbolik, yaitu penjelasan dengan memberikan persamaan dari istilah berbentuk simbol-simbol. Contoh, ( p => q ) = df – ( p Λ – q ), di baca, Jika p maka q, didefinisikan non (p dan non q); dan (3) definisi etimologis, yaitu penjelasan istilah dengan memberikan uraian asal usul istilah atau kata tersebut. Contoh. pengertian kata ‘filsafat’ berasal dari bahwa Yunani terdiri dari kata ‘philein’ yang berarti cinta dan ‘sophia’ yang berarti kebijaksanaan, dan sebagainya.
  • Definisi realis, yaitu ‘penjelasan tentang sesuatu atau hal yang ditandai oleh suatu istilah’. Definisi realis dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) definisi essensial, yaitu penjelasan dengan cara menguraikan bagian penting atau mendasar tentang sesuatu hal yang didefinisikan. Contoh, definisi ‘manusia’, adalah makhluk yang mempunyai unsur jasad, jiwa dan ruh; Definisi ‘nilai’, adalah sesuatu yang diagungkan atau dijadikan pedoman hidup; (2) definisi deskriptif, yaitu penjelasan dengan cara menunjukkan sifat-sifat atau ciri-ciri yang dimiliki oleh sesuatu yang didefinisikan. Contoh, Bangsa Indonesia adalah ‘bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan’, dan sebagainya.
  • Definisi praktis, yaitu ‘penjelasan tentang sesuatu istilah atau kata dari segi manfaat dan tujuan yang hendak dicapai’. Contoh: (1) ‘filsafat’ adalah ‘pemikiran secara kritis, sistematis, rasional, logis, mendalam dan menyeluruh untuk mencari hakikat kebenaran’; (2) ‘Universitas atau Institut’ adalah lembaga pendidikan tinggi untuk mendidik dan mencetak sarjana yang berkualitas yang berguna bagi masyarakat’ (Mundiri, 1994; Maram.R.R. 2007).

1. Ciri-ciri dari logika deduktif adalah:

  • Analitis

2. Kesimpulan daya tarik hanya dengan menganalisa proposisi-proposisi atau premis-premis yang sudah ada

  • Tautologies

3. Kesimpulan yang ditarik sesungguhnya secara tersirat sudah terkandung dalam premis-premisnya

  • Apirori

4. Kesimpulan ditarik tanpa pengamatan indrawi atau operasi kampus.

  • Argument deduktif selalu dapat nilai sahih atau tidaknya.

Penyimpulan deduktif, yaitu pengambilan kesimpulan dari prinsip atau dalil atau kaidah atau hukum menuju contoh-contoh (kesimpulan dari umum ke khusus). Contoh: (a) – Setiap agama mengakui adanya Tuhan; – Budiman pemeluk agama Islam; – Jadi, Budiman mengakui (beriman) kepada Tuhan Yang Esa; (b) – Universitas Gadjah Mada mempunyai beberapa fakultas dan program studi; – Ani mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; – Jadi, Ani mahasiswa Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Contoh lain : Semua mahluk hidup pasti mati. Manusia adalah mahluk hidup. Maka manusia pasti mati.

Logika deduktif bisa berbahaya apabila salah dalam mengambil/menyusun kesimpulan. Sebagai contoh:

  • Pasir adalah material dasar sungai (premis major)
  • Lempung adalah material dasar sungai (premis minor)
  • Lempung adalah pasir (kesimpulan)
  • Semua karyawan di PT. Anaconda mempunyai IQ tinggi (premis major)
  • Komar bukan karyawan di PT. Anaconda (premis minor)
  • Komar tidak ber-IQ tinggi (kesimpulan)

Kesalahan ini sering terjadi karena menganggap kata “adalah” selalu berarti “sama dengan”. Perlu diingat bahwa kata “adalah” tidak selalu berarti “sama dengan”.


Induksi sebaliknya adalah pola pikir dari khusus ke umum. Artinya, berkebalikan dari umum ke khusus dia melihat sesuatu secara kasus-kasus sebelum menyimpulkan gambaran umum. Misalnya kita masuk ke sebuah ruang, lalu kita melihat dokter, lalu melihat tempat tidur putih dan kemudian melihat rak jendela, kita lalu menyimpulkan bahwa kita berada di rumah sakit. Contoh lainnya yang klasik adalah masalah logam. Kita meneliti mengenai logam. Lalu kita mengetes bagaimana logam logam itu bereaksi terhadap panas. Logam emas, memuai, logam perak memuai, logam besi memuai. Kesimpulannya logam memuai.

LOGIKA INDUKTIF

Ditinjau dari segi asal kata, maka kata ‘logika’ adalah  dari kata ‘logos’ yang berarti ‘pengertian atau pemikiran atau ilmu’. Sedangkan ditinjau dari makna esensialnya, maka logika adalah ‘cabang dari filsafat ilmu pengetahuan dan logika juga merupakan bagian yang sangat mendasar dalam kerangka berfikir filsafat’. Berdasarkan pengertian tersebut maka logika merupakan bagian yang sangat penting atau mendasar dalam studi filsafat ilmu pengetahuan (Oesman, A. 1978; Copi, I.M. 1978).

Logika induktif adalah ‘sistem penalaran yang menelaah prinsip-prinsip penyimpulan yang sah dari sejumlah hal khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi’

Pemakaian logika induktif ini berbahaya karena bisa terjadi terlalu cepat mengambil kesimpulan yang berlaku umum, sementara jumlah kasus yang digunakan dalam premis kurang memadai. Selain itu pula, kemungkinan premis yang digunakan kurang memenuhi kaedah-kaedah ilmiah.

Ciri-ciri logika induktif antara lain:

  • Sintesis

Kesimpulan ditarik dengan mensintesakan kasus-kasus yang digunakan dalam premis-premis.

  • General

Kesimpulan yang ditarik selalu meliputi jumlah kasus yang lebih banyak

  • Aposteriori

Kasus-kasus yang dijadikan landasan argumen merupakan hasil pengamatan inderawi

  • Kesimpulan tidak mungkin mengandung nilai kepastian mutlak (ada aspek probabilitas)

Secara umum, logika induktif sulit untuk dibuktikan kebenaran/ke-reliable­-annya dilihat dari ciri-cirinya. Sebagai contoh:

Strong Inductive/Induktif kuat

  1. Besi (logam) apabila dipanaskan memuai
  2. Perunggu (logam) apabila dipanaskan memuai
  3. Perak (logam) apabila dipanaskan akan memuai
  4. Jadi, logam (besi, perunggu, perak) apabila dipanaskan akan memuai.

Buktinya sangat kuat. Hampir semua logam bila dipanaskan akan memuai.

Weak Inductive/Induktif lemah

  1. Apel di Toko A rasanya manis
  2. Apel di Toko B rasanya manis
  3. Apel di Toko C rasanya manis
  4. Jadi, semua apel rasanya manis.

Buktinya lemah. Tidak semua apel rasanya manis, karena ada juga apel yang rasanya masam.

Dari contoh di atas antara Strong Inductive dan Weak Inductive, bisa diambil kesimpulan bahwa logika induktif bisa menjadi reliable ketika kebanyakan orang sudah pernah mengalaminya sendiri atau menurut pendapat kebanyakan orang secara global.

Kedua pemikiran ini tidak hanya penting bagi ilmu pengetahuan namun juga penting bagi kehidupan kita sehari-hari. Pemikiran deduktif dan induktif sering kali digunakan ke sebuah penelitian walau nampaknya penelitian itu cenderung terlihat murni induktif. Pemikiran Induktif untuk melakukan generalisasi dari penelitian penelitan. Pemikiran Deduktif digunakan untuk menguji hipotesis-hipotesis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s