PERADABAN SUKU INKA – PERANG CAJAMARCA


PERADABAN : SUKU INKA
Peradaban Inka bermula dari sebuah suku kecil di daerah Cuzco saat Sapa Inka pertama, Manco Capac mendirikan pemukiman Kishawn Cuzco sekitar tahun 1200. Pada perkembangannya, keturunan dari Manco Capac berhasil mengembangkan wilayah kekuasaan dan menyerap masyarakat di sekitar Pegunungan Andes untuk bahu-membahu membangun Imperium Inka. Ekspansi besar bangsa Inka dilakukan pada tahun 1442 saat pemimpin Inka, Pachautec mendirikan Kekaisaran Inka (Tawantinsuyu) yang pada akhirnya menjadi kekaisaran terbesar di Benua Amerika sebelum era kedatangan Columbus.Kekaisaran Inka terpecah saat terjadi perang saudara untuk memutuskan siapa yang akan menjadi Inka Hanan dan siapa yang akan menjadi Inka Hurin. Perang saudara masing-masing dipimpin oleh dua bersaudara, Huascar dan Atahualpa. Di saat yang sama pada tahun 1526, penjelajah Spanyol bernama Fransisco Pizarro Gonzalez mencapai wilayah Inka setelah sebelumnya mengeksplorasi wilayah Panama. Kedatangan Pizarro mendapatkan momentum yang tepat untuk segera menguasai sebagian wilayah Inka yang kaya akan emas dengan cara diplomasi dan tipu muslihat.

Pada tahun 1529, Pizarro kembali ke Spanyol untuk meminta persetujuan demi menguasai wilayah Inka dan menjadi raja di sana. Permintaanya dikabulkan oleh Raja Spanyol dan dia kembali ke Inka. Saat Pizarro kembali ke Inka, hubungan Spanyol dengan Atahualpa sedang membaik. Di saat bersamaan, muncul wabah penyakit cacar di Amerika Tengah yang menewaskan banyak orang dan melemahkan Kekaisaran Inka yang masih terpecah dua, Huascar dan Atahualpa. Keadaan tersebut dimanfaatkan Spanyol untuk menyebarkan ajaran Kristen kepada masyarakat Inka dengan dalih, penyakit cacar tersebut didatangkan Tuhan Kristen untuk membinasakan populasi Inka atas hukuman akibat penyembahan berhala yang dilakukan dalam ritual-ritual adat Inka.

Pada dasarnya, penaklukan Pizarro atas wilayah Inka lebih mengedepankan diplomasi dan tipu muslihat. Ini dibuktikan dengan kekuatan Pizarro yang hanya mengandalkan 180 tentara, 27 kuda, dan 1 meriam. Jalan tersebut diambil demi menghindari konfrontasi potensial yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan eksistensi Spanyol di Inka. Menurut sejarah, pertempuran pertama kali yang dilakukan Pizarro adalah ketika pasukan Pizarro menyerang kelompok suku Puna di daerah Guayaquil, Ekuador. Penyerangan yang dinamakan Pertempuran Puna berhasil mengalahkan penduduk lokal dengan kerugian kecil di pihak Spanyol. Setelah itu Pizarro membangun kota Piura pada bulan Juli 1532, sebagai awal penaklukan atas Inka.

Untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Pizarro mengirim Hernando de Soto untuk menjelajahi pedalaman Inka. Di saat yang sama, Pizarro mendapat undangan dari Atahualpa sebagai perayaan atas keberhasilannya mengalahkan saudaranya, Huascar. Atahualpa berserta 80.000 tentara yang lelah setelah berperang, beristirahat di Cajamarca untuk menunggu rombongan Pizarro yang juga hendak pergi ke istana.

Saat rombongan Pizarro tiba di Cajamarca, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan dengan pasukan Atahualpa. Di tengah-tengah pesta, Pizarro membujuk Atahualpa untuk masuk agama Kristen. Sebuah legenda menceritakan bahwa Atahualpa diberi Alkitab oleh Pizarro dan melemparnya ke lantai. Penghinaan yang dilakukan Atahualpa membuat Pizarro marah. Rombongan Pizarro yang bersenjata lengkap menyerang 80.000 tentara Inka yang hanya bersenjatakan pedang. Dalam satu jam, rombongan Pizarro menembaki 5.000 pasukan Inka hingga tewas. Kelelahan akibat perang sebelumnya melawan Huascar, membuat pasukan Inka yang tersisa tercerai-berai dan ditangkapnya Atahualpa.

Setelah peristiwa di Cajamarca, pasukan Inka melakukan perundingan dengan Pizarro untuk membebaskan Atahualpa. Pihak Pizarro memberikan syarat berupa emas yang jumlahnya harus bisa mengisi ruang tahanan tempat Atahualpa dipenjara. Pasukan Inka memenuhi tebusan tersebut dengan memberikan emas sebanyak yang disyaratkan, namun Pizarro menolak untuk membebaskan Atahualpa. Saat Atahualpa dipenjara, tentara Spanyol memburu Huascar dan berhasil membunuhnya. Setelah membunuh Huascar, pihak Spanyol menghukum mati Atahualpa pada 29 Agustus 1533, setelah sebelumnya dipaksa masuk agama Kristen. Setelah itu Spanyol mengangkat saudara dari Atahualpa, Manco Yupanqui sebagai pemimpin Kaisar Inka sekaligus sekutu utama Spanyol. Yupanqui didesak untuk menumpas pemberontakan yang dipelopori pasukan Inka yang masih setia terhadap Atahualpa.

Sementara itu, rekan Pizarro bernama Diego de Almagro mencoba mengklaim Cuzco untuk dirinya sendiri yang akhirnya menimbulkan perseteruan hebat antara Pizarro dan Almagro. Keadaan terebut kemudian dimanfaatkan Yupanqui untuk kembai menguasai Cuzco pada 1536, namun gagal setelah Spanyol merebutnya kembali. Merasa dikhianati, Pizarro memburu Yupanqui hingga terdesak ke Pegunungan Vilcabamba, Peru, tempat dia dan penerusnya memerintah selama 36 tahun. Pada tahun 1572, Spanyol berhasil menemukan tempat persembunyian Inka terakhir yang dipimpin oleh putra Yupanqui, Tupac Amaru yang kemudian ditangkap dan dibunuh. Meninggalnya Tupac Amaru dianggap para ahli sebagai titik berakhirnya Kekaisaran Inka.

BIOGRAPHY : FRANSISCO PIZARRO
Si buta huruf orang Spanyol, Fransisco Pizarro ini lahir sekitar tahun 1475 di kota Trujillo, Spanyol. Biar buta huruf, dialah orang yang menaklukkan kerajaan Inca di Peru. Seperti halnya Hernando Cortes yang banyak sekali kemiripan dengannya, Pizarro mendarat di Dunia Baru mencari kemasyhuran dan adu nasib. Dari tahun 1502 sampai 1509 Pizarro tinggal di Hispaniola, kepulauan Karibia, di daerah yang kini termasuk Republik Dominika dan Haiti. Tahun 1513 dia menjadi anggota ekspedisi di bawah pimpinan Vasco Nunez de Balboa, yang menemukan Samudera Atlantik. Tahun 1519 dia menetap di Panama. Dari tahun 1522, tatkala Pizarro menginjak umur empat puluh tujuh tahun, tahulah dia bahwa sebuah kerajaan Inca dari seorang penjelajah Spanyol Pascual de Andagoya yang pernah mengunjunginya. Pizarro, didorong oleh ilham penaklukan Mexico oleh Hernando Cortes, bertekad menaklukkan Kerajaan Inca.
Percobaan pertamanya tahun 1524-1525 mengalami kegagalan dan dua kapalnya terpaksa putar haluan sebelum menjamah Peru. Percobaan keduanya tahun 1526-1528 dia berhasil menjejakkan kaki di pantai Peru dan memboyong pulang emas, llamas, dan orang-orang Indian.
Tahun 1528 dia kembali ke Spanyol. Di sana, tahun berikutnya, Raja Charles V memberi kuasa kepadanya menaklukkan Peru buat kepentingan Spanyol dan memperlengkapinya dengan dana dan segala yang perlu buat ekspedisi itu. Pizarro balik ke Panama dan mempersiapkan ekspedisi. Ekspedisi itu berlayar dari Panama tahun 1531. Waktu itu umur Pizarro sudah masuk lima puluh lima tahun. Kekuatan yang terhimpun dalam ekspedisi itu kurang dari 200 orang sedangkan kerajaan Inca yang akan ditaklukkannya berpenduduk tidak kurang dari enam juta orang!
Pizarro mendarat di Peru tahun berikutnya. Bulan September 1532, hanya dengan membawa 177 orang dan 62 kuda, dia menyerbu masuk daratan. Dengan pasukan yang begitu kecil Pizarro mendaki pegunungan Andes yang menjulang tinggi dengan tujuan kota Cajamarca, kedudukan penguasa Inca-Atahualpa –yang punya kekuatan 14.000 prajurit. Tentara “liliput” Pizarro sampai di Cajamarca bulan Nopember tanggal 15 tahun 1532. Tahun berikutnya, atas permintaan Pizarro, Atahualpa meninggalkan sejumlah besar tentaranya dan hanya dengan dikawal oleh sekitar 5.000 pengikut setianya yang tak bersenjata. datang berunding dengan Pizarro.
Tingkah laku Pizarro membingungkan meskipun selayaknya Atahualpa sudah bisa menangkap gelagatnya. Terhitung sejak orang-orang Spanyol itu menginjakkan kaki di pantai, mereka tanpa tedeng aling-aling sudah menunjukkan maksud jahatnya dan kekasarannya. Oleh sebab itu hampir tak masuk akal apa sebab Atahualpa mengijinkan pasukan Pizarro mendekati Cajamarca tanpa hambatan. Kalau saja orang-orang Indian melabrak Pizarro di jalan jalan sempit lereng gunung yang sudah pasti pasukan kuda Pizarro tak punya daya, pastilah mereka dengan mudah membabat habis orang-orang Spanyol. Sikap Atahualpa sesudah Pizarro sampai di Cajamarca juga amat mengherankan. Menghampiri pasukan yang jelas-jelas ganas sementara dia sendiri tak bersenjata, betul-betul suatu tindakan gegabah dan tolol. Misteri ini makin menjadi-jadi mengingat taktik kebiasaan orang Inca adalah melakukan serangan mendadak.
Pizarro karuan saja tidak menyia-nyiakan peluang emas ini. Dia perintahkan pasukannya melabrak Atahualpa berikut pengawalnya yang tak bersenjata samasekali. Pertempuran –atau lebih tepatnya penjagalan–berlangsung hanya sekitar setengah jam saja. Tak seorang serdadu Spanyol pun terbunuh. Yang terluka justru Pizarro sendiri yang tergores sedikit akibat dia melindungi Atahualpa yang dapat ditangkapnya hidup-hidup.
Strategi Pizarro berjalan sempurna. Kerajaan Inca punya sistem struktur terpusat, semua kekuasaan terpancar dari Inca atau Kaisar yang dianggap sebagai setengah dewa. Dengan tertangkapnya Inca sebagai tawanan, orang-orang Indian tak berdaya menahan serbuan Spanyol. Dengan harapan bisa kiranya memperoleh kemerdekaan kembali, Atahualpa membayar Pizarro sejumlah besar emas serta perak yang harganya mungkin lebih dari $28 juta. Tetapi, hanya dalam beberapa bulan kemudian dia dihukum mati oleh Pizarro. Bulan November tahun 1533, setahun sesudah Atahualpa tertangkap, pasukan Pizarro masuk Cuzco, ibukota Inca, tanpa pertempuran sedikit pun. Di sana, Pizarro mengangkat seorang raja boneka. Tahun 1535 dia menemukan kota Lima yang jadi ibukota Peru.
Tahun 1536, raja Inca boneka melarikan diri dan memimpin pemberontakan melawan Spanyol terkepung di Lima dan Cuzco. Sesudah itu Spanyol berusaha keras memulihkan pengawasannya atas seluruh negeri di tahun berikutnya, tetapi baru tahun 1572 pemberontakan betul-betul bisa tertumpas. Sesudah itu matilah Pizarro.
Kemerosotan bintang Pizarro mulai tampak ketika orang-orang Spanyol baku hantam sesamanya. Salah seorang teman dekat Pizarro, Diego de Almargo, memberontak di tahun 1537 menuntut Pizarro tidak membagi adil barang rampasan. Almargo ditangkap dan dihukum mati. Tetapi, kematian ini tidaklah menyelesaikan soal. Isyu-isyu tentang ini menyebar terus sehingga di tahun 1541 kelompok pendukung Almargo menyerbu istana Pizarro di Lima dan membunuh pemimpin itu yang usianya sudah enam puluh lima tahun, hanya delapan tahun sejak dia menduduki Cuzco dengan kemenangan gemilang.
Fransisco Pizarro seorang pemberani, percaya kepada diri sendiri, dan kaku. Diukur dari mentalnya, dia seorang beragama, dikabarkan Pizarro tatkala sekarat melukis gambar salib dengan darahnya dan kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya adalah “Yesus”. Sebaliknya, dia pun serakah bukan main, kejam, ambisius, dan licik; mungkin penakluk Spanyol yang paling brutal.
Tetapi, kekasaran Pizarro janganlah menutup mata atas kesuksesannya di bidang militer. Ketika tahun 1967 Israel peroleh kemenangan dramatis atas Arab yang jumlahnya jauh lebih besar dibanding Israel sendiri dan persenjataannya pun lebih lengkap, banyak orang terbengong-bengong. Kemenangan itu betul mengesankan. Tetapi, sejarah penuh dengan kisah kemenangan militer oleh pasukan kecil menghadapi pasukan yang iauh lebih besar. Napoleon dan Alexander Yang Agung berulang kali memenangkan pertempuran melawan musuh yang berlipat lebih besar jumlahnya. Orang-orang Mongol di bawah penakluk Jengis Khan mampu menaklukkan Cina, negeri yang berpenduduk tiga puluh kali lebih besar dari bangsa Mongol.
Tetapi, Pizarro menaklukkan sebuah kerajaan yang berpenduduk lebih dari enam juta hanya dengan pasukan 180 prajurit memang benar-benar suatu kejadian mencengangkan dalam sejarah. Apa yang diperbuatnya itu lebih hebat dari Cortes yang dengan 800 prajurit menaklukkan negeri yang berpenduduk sekitar lima juta. Bahkan, mungkinkah Jengis Khan atau Alexander Yang Agung mengungguli Pizarro? Saya ragu, karena mereka tidak punya kenekadan melakukan penaklukan gila-gilaan seperti itu.
Tetapi, tentu orang bisa saja bertanya: bukankah Spanyol punya senjata api yang membantu keunggulan taktiknya? Sama sekali tidak. Arquebuses, senjata api primitif masa itu yang cuma punya daya tembak jarak pendek dan memerlukan banyak waktu mengisi mesiunya. Kendati memang menimbulkan suara yang menakutkan, sebenarnya senjata macam begitu masih kalah ampuh ketimbang panah yang bagus. Pada suatu saat tatkala Pizarro menerobos masuk Cajamarca, cuma tiga prajuritnya yang genggam senjata api arquebuses dan tak lebih dari dua puluh punya busur berikut anak panahnya. Umumnya orang-orang Indian terbunuh dengan senjata konvensional seperti pedang dan tombak. Selain cuma memiliki sedikit kuda dan senjata api, jelas sekali orang-orang Spanyol melibatkan diri dalam konflik dalam posisi yang secara militer amat tidak menguntungkan. Adalah kepemimpinan dan tekad baja dan bukannya senjata yang menjadi faktor utama kemenangan Spanyol. Tentu saja, nasib baik memang berpihak pada Pizarro tetapi seperti kata pepatah “Keberuntungan senantiasa berada pada pihak yang berani.”
Fransisco Pizarro dikecam oleh beberapa penulis tak ubahnya sebagai seorang jagal yang beringas. Andaikata toh begitu, dia termasuk sedikit dari jagal-jagal yang punya pengaruh dalam sejarah. Kerajaan yang ditumbangkannya menguasai daerah seluas Peru dan Ecuador sekarang, begitu juga separoh dari bagian utara Chili dan sebagian Bolivia. Penduduknya sedikit lebih banyak dari sisa penduduk seluruh Amerika Selatan digabung jadi satu. Sebagai akibat penaklukan Pizarro agama dan kebudayaan Spanyol tertanam di seluruh daerah. Lebih jauh dari itu, sesudah jatuhnya kerajaan Inca, tak satu pun bagian Amerika Selatan lain yang mampu bertahan terhadap penaklukan bangsa Eropa. Berjuta-juta bangsa Indian masih berdiam di Amerika Selatan, tetapi di sebagian besar benua itu orang-orang Indian tak pernah lagi bisa pegang peranan politik. Bahasa Eropa, agamanya, kebudayaannya, tetap dominan.
Cortes dan Pizarro, masing-masing cuma memimpin pasukan kecil, berhasil dengan cepat menumbangkan kerajaan Aztec dan Inca. Peristiwa ini membikin banyak orang memperhitungkan bahwa penaklukan Mexico dan Peru oleh orang-orang Eropa tak bisa dicegah lagi. Kenyataannya, kerajaan Aztec tak punya kesempatan mempertahankan kemerdekaannya. Letak kedudukan (dekat Teluk Mexico dan tak berjauhan dari Kuba) terbuka buat penyerangan bangsa Eropa. Bahkan andaikata pun Aztec berhasil memukul pasukan Cortes yang kecil itu, tentara Spanyol dalam jumlah yang lebih besar pasti segera akan datang menyusul.
Kerajaan Inca, di lain pihak, punya posisi bertahan yang lebih menguntungkan. Satu-satunya perbatasan samudera hanyalah Pasifik yang lebih sulit dimasuki ketimbang Atlantik. Inca punya tentara berjumlah besar, berpenduduk banyak dan terorganisir rapi. Lebih dari itu medan Peru tak rata dan bergunung-gunung, dan di banyak bagian dunia, kekuatan kolonial Eropa biasanya menghadapi kesulitan menaklukkan daerah pegunungan. Bahkan di akhir abad ke-19 sewaktu persenjataan Eropa jauh lebih maju dibanding yang mereka miliki di abad ke-16, percobaan Italia menaklukkan Ethiopia tidak berhasil. Hal serupa menimpa juga Inggris yang nyaris menghadapi kesulitan tak habis-habisnya menghadapi suku-suku di pegunungan barat laut perbatasan India. Dan orang-orang Eropa tak pernah mampu menjajah negeri berpegunungan seperti Nepal, Afganistan dan Iran. Kalau saja penaklukan Pizarro gagal, dan kalau saja orang Inca punya sedikit pengetahuan tentang persenjataan dan taktik orang Eropa, mereka akan mampu melawan kekuatan Eropa yang datang belakangan. Sedangkan dalam keadaan seperti begitu, Spanyol memerlukan waktu tiga puluh enam tahun menumpas pemberontakan orang Indian di tahun 1536, kendati orang Indian cuma memiliki sedikit senjata api dan tak pemah sanggup menghimpun lebih dari pasukan-pasukan kecil sebelum penaklukan Pizarro. Spanyol akan dapat menaklukkan Kerajaan Inca bahkan tanpa Pizarro sekalipun, tetapi perkiraan itu tampaknya jauh dari pasti.
Jadi Pizarro ditempatkan sedikit lebih tinggi daripada Cortes dalam daftar urutan buku ini. Cortes mendorong lajunya sejarah, Pizarro mungkin sekali mengubah jalan arusnya.
PERANG CAJAMERCA

Perang-perang dengan perbandingan pasukan yang sangat timpang cukup banyak terjadi dalam sejarah, dan hampir semua pasukan yang jumlahnya lebih kecil mengalami kekalahan. Namun sejarah mencatat bahwa pernah ada sedikitnya satu kali di mana pertempuran berjumlah tidak imbang namun pasukan yang lebih kecil jumlahnya berhasil memenangkan pertempuran, yaitu The Battle of Cajamarca. Pertempuran yang berlangsung di Cajamarca, Peru, pada tanggal 16 November, 1532 ini merupakan titik tolak sejarah Amerika Selatan yang paling penting, yaitu dominasi kekuatan Eropa (Spanyol) dari tangan penduduk asli setempat. Pasukan Spanyol dipimpin oleh Marques Qonquistador Francisco Pizarro Gonzales, yang lebih dikenal dengan nama Pizarro dengan kekuatan 106 infantri dan 62 pasukan berkuda. Sedangkan Amerika Selatan (dalam hal ini merupakan Kekaisaran Inca) dipimpin langsung oleh Sapa Inca (kaisar) Atahualpa, dengan pasukan berjumlah 7000 orang infantri.

Pertempuran ini berlangsung selama satu hari penuh dengan hasil yang bisa membuat orang terheran-heran. Atahualpa sendiri ditangkap dan dijadikan tawanan, 2000 pasukan Inca tewas dan 5000 lainnya tunggang-langgang. Dari pasukan Pizarro hanya 5 ora