PERADABAN SUKU INKA – PERANG CAJAMARCA


PERADABAN : SUKU INKA
Peradaban Inka bermula dari sebuah suku kecil di daerah Cuzco saat Sapa Inka pertama, Manco Capac mendirikan pemukiman Kishawn Cuzco sekitar tahun 1200. Pada perkembangannya, keturunan dari Manco Capac berhasil mengembangkan wilayah kekuasaan dan menyerap masyarakat di sekitar Pegunungan Andes untuk bahu-membahu membangun Imperium Inka. Ekspansi besar bangsa Inka dilakukan pada tahun 1442 saat pemimpin Inka, Pachautec mendirikan Kekaisaran Inka (Tawantinsuyu) yang pada akhirnya menjadi kekaisaran terbesar di Benua Amerika sebelum era kedatangan Columbus.Kekaisaran Inka terpecah saat terjadi perang saudara untuk memutuskan siapa yang akan menjadi Inka Hanan dan siapa yang akan menjadi Inka Hurin. Perang saudara masing-masing dipimpin oleh dua bersaudara, Huascar dan Atahualpa. Di saat yang sama pada tahun 1526, penjelajah Spanyol bernama Fransisco Pizarro Gonzalez mencapai wilayah Inka setelah sebelumnya mengeksplorasi wilayah Panama. Kedatangan Pizarro mendapatkan momentum yang tepat untuk segera menguasai sebagian wilayah Inka yang kaya akan emas dengan cara diplomasi dan tipu muslihat.

Pada tahun 1529, Pizarro kembali ke Spanyol untuk meminta persetujuan demi menguasai wilayah Inka dan menjadi raja di sana. Permintaanya dikabulkan oleh Raja Spanyol dan dia kembali ke Inka. Saat Pizarro kembali ke Inka, hubungan Spanyol dengan Atahualpa sedang membaik. Di saat bersamaan, muncul wabah penyakit cacar di Amerika Tengah yang menewaskan banyak orang dan melemahkan Kekaisaran Inka yang masih terpecah dua, Huascar dan Atahualpa. Keadaan tersebut dimanfaatkan Spanyol untuk menyebarkan ajaran Kristen kepada masyarakat Inka dengan dalih, penyakit cacar tersebut didatangkan Tuhan Kristen untuk membinasakan populasi Inka atas hukuman akibat penyembahan berhala yang dilakukan dalam ritual-ritual adat Inka.

Pada dasarnya, penaklukan Pizarro atas wilayah Inka lebih mengedepankan diplomasi dan tipu muslihat. Ini dibuktikan dengan kekuatan Pizarro yang hanya mengandalkan 180 tentara, 27 kuda, dan 1 meriam. Jalan tersebut diambil demi menghindari konfrontasi potensial yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan eksistensi Spanyol di Inka. Menurut sejarah, pertempuran pertama kali yang dilakukan Pizarro adalah ketika pasukan Pizarro menyerang kelompok suku Puna di daerah Guayaquil, Ekuador. Penyerangan yang dinamakan Pertempuran Puna berhasil mengalahkan penduduk lokal dengan kerugian kecil di pihak Spanyol. Setelah itu Pizarro membangun kota Piura pada bulan Juli 1532, sebagai awal penaklukan atas Inka.

Untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Pizarro mengirim Hernando de Soto untuk menjelajahi pedalaman Inka. Di saat yang sama, Pizarro mendapat undangan dari Atahualpa sebagai perayaan atas keberhasilannya mengalahkan saudaranya, Huascar. Atahualpa berserta 80.000 tentara yang lelah setelah berperang, beristirahat di Cajamarca untuk menunggu rombongan Pizarro yang juga hendak pergi ke istana.

Saat rombongan Pizarro tiba di Cajamarca, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan dengan pasukan Atahualpa. Di tengah-tengah pesta, Pizarro membujuk Atahualpa untuk masuk agama Kristen. Sebuah legenda menceritakan bahwa Atahualpa diberi Alkitab oleh Pizarro dan melemparnya ke lantai. Penghinaan yang dilakukan Atahualpa membuat Pizarro marah. Rombongan Pizarro yang bersenjata lengkap menyerang 80.000 tentara Inka yang hanya bersenjatakan pedang. Dalam satu jam, rombongan Pizarro menembaki 5.000 pasukan Inka hingga tewas. Kelelahan akibat perang sebelumnya melawan Huascar, membuat pasukan Inka yang tersisa tercerai-berai dan ditangkapnya Atahualpa.

Setelah peristiwa di Cajamarca, pasukan Inka melakukan perundingan dengan Pizarro untuk membebaskan Atahualpa. Pihak Pizarro memberikan syarat berupa emas yang jumlahnya harus bisa mengisi ruang tahanan tempat Atahualpa dipenjara. Pasukan Inka memenuhi tebusan tersebut dengan memberikan emas sebanyak yang disyaratkan, namun Pizarro menolak untuk membebaskan Atahualpa. Saat Atahualpa dipenjara, tentara Spanyol memburu Huascar dan berhasil membunuhnya. Setelah membunuh Huascar, pihak Spanyol menghukum mati Atahualpa pada 29 Agustus 1533, setelah sebelumnya dipaksa masuk agama Kristen. Setelah itu Spanyol mengangkat saudara dari Atahualpa, Manco Yupanqui sebagai pemimpin Kaisar Inka sekaligus sekutu utama Spanyol. Yupanqui didesak untuk menumpas pemberontakan yang dipelopori pasukan Inka yang masih setia terhadap Atahualpa.

Sementara itu, rekan Pizarro bernama Diego de Almagro mencoba mengklaim Cuzco untuk dirinya sendiri yang akhirnya menimbulkan perseteruan hebat antara Pizarro dan Almagro. Keadaan terebut kemudian dimanfaatkan Yupanqui untuk kembai menguasai Cuzco pada 1536, namun gagal setelah Spanyol merebutnya kembali. Merasa dikhianati, Pizarro memburu Yupanqui hingga terdesak ke Pegunungan Vilcabamba, Peru, tempat dia dan penerusnya memerintah selama 36 tahun. Pada tahun 1572, Spanyol berhasil menemukan tempat persembunyian Inka terakhir yang dipimpin oleh putra Yupanqui, Tupac Amaru yang kemudian ditangkap dan dibunuh. Meninggalnya Tupac Amaru dianggap para ahli sebagai titik berakhirnya Kekaisaran Inka.

BIOGRAPHY : FRANSISCO PIZARRO
Si buta huruf orang Spanyol, Fransisco Pizarro ini lahir sekitar tahun 1475 di kota Trujillo, Spanyol. Biar buta huruf, dialah orang yang menaklukkan kerajaan Inca di Peru. Seperti halnya Hernando Cortes yang banyak sekali kemiripan dengannya, Pizarro mendarat di Dunia Baru mencari kemasyhuran dan adu nasib. Dari tahun 1502 sampai 1509 Pizarro tinggal di Hispaniola, kepulauan Karibia, di daerah yang kini termasuk Republik Dominika dan Haiti. Tahun 1513 dia menjadi anggota ekspedisi di bawah pimpinan Vasco Nunez de Balboa, yang menemukan Samudera Atlantik. Tahun 1519 dia menetap di Panama. Dari tahun 1522, tatkala Pizarro menginjak umur empat puluh tujuh tahun, tahulah dia bahwa sebuah kerajaan Inca dari seorang penjelajah Spanyol Pascual de Andagoya yang pernah mengunjunginya. Pizarro, didorong oleh ilham penaklukan Mexico oleh Hernando Cortes, bertekad menaklukkan Kerajaan Inca.
Percobaan pertamanya tahun 1524-1525 mengalami kegagalan dan dua kapalnya terpaksa putar haluan sebelum menjamah Peru. Percobaan keduanya tahun 1526-1528 dia berhasil menjejakkan kaki di pantai Peru dan memboyong pulang emas, llamas, dan orang-orang Indian.
Tahun 1528 dia kembali ke Spanyol. Di sana, tahun berikutnya, Raja Charles V memberi kuasa kepadanya menaklukkan Peru buat kepentingan Spanyol dan memperlengkapinya dengan dana dan segala yang perlu buat ekspedisi itu. Pizarro balik ke Panama dan mempersiapkan ekspedisi. Ekspedisi itu berlayar dari Panama tahun 1531. Waktu itu umur Pizarro sudah masuk lima puluh lima tahun. Kekuatan yang terhimpun dalam ekspedisi itu kurang dari 200 orang sedangkan kerajaan Inca yang akan ditaklukkannya berpenduduk tidak kurang dari enam juta orang!
Pizarro mendarat di Peru tahun berikutnya. Bulan September 1532, hanya dengan membawa 177 orang dan 62 kuda, dia menyerbu masuk daratan. Dengan pasukan yang begitu kecil Pizarro mendaki pegunungan Andes yang menjulang tinggi dengan tujuan kota Cajamarca, kedudukan penguasa Inca-Atahualpa –yang punya kekuatan 14.000 prajurit. Tentara “liliput” Pizarro sampai di Cajamarca bulan Nopember tanggal 15 tahun 1532. Tahun berikutnya, atas permintaan Pizarro, Atahualpa meninggalkan sejumlah besar tentaranya dan hanya dengan dikawal oleh sekitar 5.000 pengikut setianya yang tak bersenjata. datang berunding dengan Pizarro.
Tingkah laku Pizarro membingungkan meskipun selayaknya Atahualpa sudah bisa menangkap gelagatnya. Terhitung sejak orang-orang Spanyol itu menginjakkan kaki di pantai, mereka tanpa tedeng aling-aling sudah menunjukkan maksud jahatnya dan kekasarannya. Oleh sebab itu hampir tak masuk akal apa sebab Atahualpa mengijinkan pasukan Pizarro mendekati Cajamarca tanpa hambatan. Kalau saja orang-orang Indian melabrak Pizarro di jalan jalan sempit lereng gunung yang sudah pasti pasukan kuda Pizarro tak punya daya, pastilah mereka dengan mudah membabat habis orang-orang Spanyol. Sikap Atahualpa sesudah Pizarro sampai di Cajamarca juga amat mengherankan. Menghampiri pasukan yang jelas-jelas ganas sementara dia sendiri tak bersenjata, betul-betul suatu tindakan gegabah dan tolol. Misteri ini makin menjadi-jadi mengingat taktik kebiasaan orang Inca adalah melakukan serangan mendadak.
Pizarro karuan saja tidak menyia-nyiakan peluang emas ini. Dia perintahkan pasukannya melabrak Atahualpa berikut pengawalnya yang tak bersenjata samasekali. Pertempuran –atau lebih tepatnya penjagalan–berlangsung hanya sekitar setengah jam saja. Tak seorang serdadu Spanyol pun terbunuh. Yang terluka justru Pizarro sendiri yang tergores sedikit akibat dia melindungi Atahualpa yang dapat ditangkapnya hidup-hidup.
Strategi Pizarro berjalan sempurna. Kerajaan Inca punya sistem struktur terpusat, semua kekuasaan terpancar dari Inca atau Kaisar yang dianggap sebagai setengah dewa. Dengan tertangkapnya Inca sebagai tawanan, orang-orang Indian tak berdaya menahan serbuan Spanyol. Dengan harapan bisa kiranya memperoleh kemerdekaan kembali, Atahualpa membayar Pizarro sejumlah besar emas serta perak yang harganya mungkin lebih dari $28 juta. Tetapi, hanya dalam beberapa bulan kemudian dia dihukum mati oleh Pizarro. Bulan November tahun 1533, setahun sesudah Atahualpa tertangkap, pasukan Pizarro masuk Cuzco, ibukota Inca, tanpa pertempuran sedikit pun. Di sana, Pizarro mengangkat seorang raja boneka. Tahun 1535 dia menemukan kota Lima yang jadi ibukota Peru.
Tahun 1536, raja Inca boneka melarikan diri dan memimpin pemberontakan melawan Spanyol terkepung di Lima dan Cuzco. Sesudah itu Spanyol berusaha keras memulihkan pengawasannya atas seluruh negeri di tahun berikutnya, tetapi baru tahun 1572 pemberontakan betul-betul bisa tertumpas. Sesudah itu matilah Pizarro.
Kemerosotan bintang Pizarro mulai tampak ketika orang-orang Spanyol baku hantam sesamanya. Salah seorang teman dekat Pizarro, Diego de Almargo, memberontak di tahun 1537 menuntut Pizarro tidak membagi adil barang rampasan. Almargo ditangkap dan dihukum mati. Tetapi, kematian ini tidaklah menyelesaikan soal. Isyu-isyu tentang ini menyebar terus sehingga di tahun 1541 kelompok pendukung Almargo menyerbu istana Pizarro di Lima dan membunuh pemimpin itu yang usianya sudah enam puluh lima tahun, hanya delapan tahun sejak dia menduduki Cuzco dengan kemenangan gemilang.
Fransisco Pizarro seorang pemberani, percaya kepada diri sendiri, dan kaku. Diukur dari mentalnya, dia seorang beragama, dikabarkan Pizarro tatkala sekarat melukis gambar salib dengan darahnya dan kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya adalah “Yesus”. Sebaliknya, dia pun serakah bukan main, kejam, ambisius, dan licik; mungkin penakluk Spanyol yang paling brutal.
Tetapi, kekasaran Pizarro janganlah menutup mata atas kesuksesannya di bidang militer. Ketika tahun 1967 Israel peroleh kemenangan dramatis atas Arab yang jumlahnya jauh lebih besar dibanding Israel sendiri dan persenjataannya pun lebih lengkap, banyak orang terbengong-bengong. Kemenangan itu betul mengesankan. Tetapi, sejarah penuh dengan kisah kemenangan militer oleh pasukan kecil menghadapi pasukan yang iauh lebih besar. Napoleon dan Alexander Yang Agung berulang kali memenangkan pertempuran melawan musuh yang berlipat lebih besar jumlahnya. Orang-orang Mongol di bawah penakluk Jengis Khan mampu menaklukkan Cina, negeri yang berpenduduk tiga puluh kali lebih besar dari bangsa Mongol.
Tetapi, Pizarro menaklukkan sebuah kerajaan yang berpenduduk lebih dari enam juta hanya dengan pasukan 180 prajurit memang benar-benar suatu kejadian mencengangkan dalam sejarah. Apa yang diperbuatnya itu lebih hebat dari Cortes yang dengan 800 prajurit menaklukkan negeri yang berpenduduk sekitar lima juta. Bahkan, mungkinkah Jengis Khan atau Alexander Yang Agung mengungguli Pizarro? Saya ragu, karena mereka tidak punya kenekadan melakukan penaklukan gila-gilaan seperti itu.
Tetapi, tentu orang bisa saja bertanya: bukankah Spanyol punya senjata api yang membantu keunggulan taktiknya? Sama sekali tidak. Arquebuses, senjata api primitif masa itu yang cuma punya daya tembak jarak pendek dan memerlukan banyak waktu mengisi mesiunya. Kendati memang menimbulkan suara yang menakutkan, sebenarnya senjata macam begitu masih kalah ampuh ketimbang panah yang bagus. Pada suatu saat tatkala Pizarro menerobos masuk Cajamarca, cuma tiga prajuritnya yang genggam senjata api arquebuses dan tak lebih dari dua puluh punya busur berikut anak panahnya. Umumnya orang-orang Indian terbunuh dengan senjata konvensional seperti pedang dan tombak. Selain cuma memiliki sedikit kuda dan senjata api, jelas sekali orang-orang Spanyol melibatkan diri dalam konflik dalam posisi yang secara militer amat tidak menguntungkan. Adalah kepemimpinan dan tekad baja dan bukannya senjata yang menjadi faktor utama kemenangan Spanyol. Tentu saja, nasib baik memang berpihak pada Pizarro tetapi seperti kata pepatah “Keberuntungan senantiasa berada pada pihak yang berani.”
Fransisco Pizarro dikecam oleh beberapa penulis tak ubahnya sebagai seorang jagal yang beringas. Andaikata toh begitu, dia termasuk sedikit dari jagal-jagal yang punya pengaruh dalam sejarah. Kerajaan yang ditumbangkannya menguasai daerah seluas Peru dan Ecuador sekarang, begitu juga separoh dari bagian utara Chili dan sebagian Bolivia. Penduduknya sedikit lebih banyak dari sisa penduduk seluruh Amerika Selatan digabung jadi satu. Sebagai akibat penaklukan Pizarro agama dan kebudayaan Spanyol tertanam di seluruh daerah. Lebih jauh dari itu, sesudah jatuhnya kerajaan Inca, tak satu pun bagian Amerika Selatan lain yang mampu bertahan terhadap penaklukan bangsa Eropa. Berjuta-juta bangsa Indian masih berdiam di Amerika Selatan, tetapi di sebagian besar benua itu orang-orang Indian tak pernah lagi bisa pegang peranan politik. Bahasa Eropa, agamanya, kebudayaannya, tetap dominan.
Cortes dan Pizarro, masing-masing cuma memimpin pasukan kecil, berhasil dengan cepat menumbangkan kerajaan Aztec dan Inca. Peristiwa ini membikin banyak orang memperhitungkan bahwa penaklukan Mexico dan Peru oleh orang-orang Eropa tak bisa dicegah lagi. Kenyataannya, kerajaan Aztec tak punya kesempatan mempertahankan kemerdekaannya. Letak kedudukan (dekat Teluk Mexico dan tak berjauhan dari Kuba) terbuka buat penyerangan bangsa Eropa. Bahkan andaikata pun Aztec berhasil memukul pasukan Cortes yang kecil itu, tentara Spanyol dalam jumlah yang lebih besar pasti segera akan datang menyusul.
Kerajaan Inca, di lain pihak, punya posisi bertahan yang lebih menguntungkan. Satu-satunya perbatasan samudera hanyalah Pasifik yang lebih sulit dimasuki ketimbang Atlantik. Inca punya tentara berjumlah besar, berpenduduk banyak dan terorganisir rapi. Lebih dari itu medan Peru tak rata dan bergunung-gunung, dan di banyak bagian dunia, kekuatan kolonial Eropa biasanya menghadapi kesulitan menaklukkan daerah pegunungan. Bahkan di akhir abad ke-19 sewaktu persenjataan Eropa jauh lebih maju dibanding yang mereka miliki di abad ke-16, percobaan Italia menaklukkan Ethiopia tidak berhasil. Hal serupa menimpa juga Inggris yang nyaris menghadapi kesulitan tak habis-habisnya menghadapi suku-suku di pegunungan barat laut perbatasan India. Dan orang-orang Eropa tak pernah mampu menjajah negeri berpegunungan seperti Nepal, Afganistan dan Iran. Kalau saja penaklukan Pizarro gagal, dan kalau saja orang Inca punya sedikit pengetahuan tentang persenjataan dan taktik orang Eropa, mereka akan mampu melawan kekuatan Eropa yang datang belakangan. Sedangkan dalam keadaan seperti begitu, Spanyol memerlukan waktu tiga puluh enam tahun menumpas pemberontakan orang Indian di tahun 1536, kendati orang Indian cuma memiliki sedikit senjata api dan tak pemah sanggup menghimpun lebih dari pasukan-pasukan kecil sebelum penaklukan Pizarro. Spanyol akan dapat menaklukkan Kerajaan Inca bahkan tanpa Pizarro sekalipun, tetapi perkiraan itu tampaknya jauh dari pasti.
Jadi Pizarro ditempatkan sedikit lebih tinggi daripada Cortes dalam daftar urutan buku ini. Cortes mendorong lajunya sejarah, Pizarro mungkin sekali mengubah jalan arusnya.
PERANG CAJAMERCA

Perang-perang dengan perbandingan pasukan yang sangat timpang cukup banyak terjadi dalam sejarah, dan hampir semua pasukan yang jumlahnya lebih kecil mengalami kekalahan. Namun sejarah mencatat bahwa pernah ada sedikitnya satu kali di mana pertempuran berjumlah tidak imbang namun pasukan yang lebih kecil jumlahnya berhasil memenangkan pertempuran, yaitu The Battle of Cajamarca. Pertempuran yang berlangsung di Cajamarca, Peru, pada tanggal 16 November, 1532 ini merupakan titik tolak sejarah Amerika Selatan yang paling penting, yaitu dominasi kekuatan Eropa (Spanyol) dari tangan penduduk asli setempat. Pasukan Spanyol dipimpin oleh Marques Qonquistador Francisco Pizarro Gonzales, yang lebih dikenal dengan nama Pizarro dengan kekuatan 106 infantri dan 62 pasukan berkuda. Sedangkan Amerika Selatan (dalam hal ini merupakan Kekaisaran Inca) dipimpin langsung oleh Sapa Inca (kaisar) Atahualpa, dengan pasukan berjumlah 7000 orang infantri.

Pertempuran ini berlangsung selama satu hari penuh dengan hasil yang bisa membuat orang terheran-heran. Atahualpa sendiri ditangkap dan dijadikan tawanan, 2000 pasukan Inca tewas dan 5000 lainnya tunggang-langgang. Dari pasukan Pizarro hanya 5 orang tewas dan dua lainnya terluka. Bagaimana hal ini bisa terjadi, akan kita bahas bersama melalui dua sudut pandang, yaitu penyebab jangka pendek dan penyebab jangka panjang.

PENYEBAB JANGKA PENDEK

Kekalahan Atahualpa dan 7000 pasukan Inca nya terjadi karena beberapa hal, antara lain penggunaan strategi perang, penggunaan teknologi perang, serta kondisi politik yang sedang terjadi di kekaisaran Inca.

Kekaisaran Inca merupakan salah satu kekaisaran terbesar di dunia dari segi luas wilayah dan populasi penduduk, mencakup sebagian besar wilayah utara dan tengah Amerika Selatan, dengan total populasi mencapai belasan juta penduduk pada jaman keemasannya. Dengan potensi sumber daya manusia sebesar itu, tidak sulit bagi kekisaran untuk merekrut prajurit dan kemudian merebut daerah sekitar yang belum masuk ke kekaisaran. Jumlah prajurit yang akhirnya berlipat ganda menjadikan Kekaisaran Inca menjadi satu-satunya kekuatan militer terbesar di benua tersebut, tanpa ada suku-suku pemberontak manapun yang bisa menandinginya.

Kekaisaran Inca mengalami masa keemasanya dalam masa kepemimpinan Sapa Inca Tupac Inca pada abad ke 15 CE. Pada masa ini, Inca menjadi benar-benar satu-satunya kekaisaran yang berdiri di seluruh benua Amerika, setelah Kaisar Aztec, Moctezuma II berhasil ditumbangkan oleh Hernan Cortes. Semenanjung Panama yang menyempit di antara kedua belah kekaisaran membuat keduanya tidak pernah berkonflik dalam sejarahnya. Karena tidak menemui saingan yang berarti dalam segi peperangan, Inca hanya mengandalkan jumlah prajurit yang maha banyak demi menindas suku-suku yang berada di sekitarnya untuk kemudian tunduk. Hal ini lama-kelamaan menyebabkan bangsa ini tidak memerlukan adanya strategi perang khusus, penguatan senjata menjadi lebih kuat, serta membuat kendaraan serta artileri dalam peperangan, semua hanya diandalkan oleh jumlah prajurit yang tidak terbatas.

Ketika bangsa Inca akhirnya bertemu dengan sekelompok manusia pirang bertubuh putih bersenjata berkilauan, mereka hanya melihat bahwa orang-orang putih tersebut hanya berjumlah sedikit sehingga mereka tidak merasa gentar dalam menghadapinya. Ketika diajak oleh Pizarro untuk melakukan perundingan di sebuah bangunan di tengah-tengah Lapangan Cajamarca, Atahualpa serta-merta menuruti ajakan tersebut dan membawa 7000 ribu pasukannya untuk menghadapi jika akhirnya perundingan tersebut berujung brutal. Atahualpa datang dengan tandu bertahtakan emas murni dengan bulu-bulu mewah yang dipanggul oleh para pengawalnya. Sesampainya di tempat tersebut, Atahualpa hanya menemukan seorang saja, yaitu Pendeta Vincente de Valverde yang mengajukan anjuran bagi Atahualpa untuk menganut Kristen dan mengimani Yesus Kristus, serta tunduk pada kekuasaan Kaisar Romawi Suci saat itu, Charles V. Lebih lanjut de Valverde menyodorkan Kitab Suci kepada Atahualpa. Atahualpa sendiri lalu membanting Kitab Suci tersebut. De Valverde akhirnya meneriakan kata “Santiago!!” yang diikuti seluruh prajurit berkuda Spanyol dipimpin langsung oleh Pizarro yang tadinya bersembunyi entah di mana. Atahualpa dan pasukannya yang tidak pernah mengenal strategi ambush dan tidak pernah melihat kuda sepanjang hidupnya, kontan langsung tunggang langgang tanpa menimbulkan perlawanan berarti, hingga Pizarro menculik Atahualpa dan membunuh sebanyak-banyaknya pasukan Inca yang melarikan diri. Death toll: 2000 orang tewas dari pihak Inca!

Ketidaktahuan bangsa Inca terhadap strategi perang apapun selain mengandalkan jumlah dan membabi-buta menyerang ke depan menimbulkan kerugian yang sangat besar, yaitu penurunan moral bagi seluruh pasukan. Mengapa akhirnya banyak sekali kematian yang diderita pasukan sangat banyak, dapat ditentukan oleh penggunaan alat-alat militer serta kendaraan perang yang TIDAK dimiliki oleh bangsa Inca. Bangsa Inca sama sekali tidak mengenal besi. Logam yang mereka kenal hanyalah emas dan perak, dan kedua logam ini bisa dipatahkan dengan mudah oleh kayu. Oleh karena itu mereka hanya bersenjatakan Obsidian tanpa adanya perlindungan tubuh yang berarti untuk mengurangi kerusakan tubuh yang karena senjata.

Bangsa Eropa sudah lama mengenal besi dan menggunakannya dalam berbagai kepentingan membuat mereka sudah sangat siap menggunakan senjata-senjata yang maju seperti Broadsword, Longsword, perisai, panah mata besi, crossbow, armor sebadan, dan lain sebagainya, sehingga kehancuran yang ditimbulkan mereka terhadap pasukan Inca yang tidak memiliki pertahanan tubuh yang baik sangatlah maksimal. Dan, yang paling menakutkan adalah sepasukan Arquebusier, yang bersenjatakan arquebus, yaitu senapan kuno yang hanya bisa diisi satu peluru dan kemudian bergantian dengan orang di belakangnya.

Satu hal lagi yang sangat penting untuk diperhatikan adalah penggunaan kendaraan perang. Eropa sudah mengenal kuda sejak jaman perunggu, dan akhirnya setelah berganti-ganti fungsi, akhirnya menjadi kendaraan perang yang tidak tertandingi (kuda hanya bisa dikalahkan oleh unta, yang teriakan, ukuran, serta baunya membuat kuda menjauh). Sedangkan pasukan Atahualpa hanya bermodalkan kaki (bahkan ada yang harus bersusah-payah menandu sang Kaisar). Secara umum, ada dua macam kuda yang digunakan dalam peperangan, Light Cavalry dan Heavy Cavalry. Light cavalry biasa digunakan untuk scouting dan pengejaran serta tanpa dipasang baju besi yang berat, sedangkan heavy cavalry berfungsi untuk meluluh-lantakkan pertahanan lawan dengan kekuatan charge nya, dengan dilengkapi pertahanan tubuh lengkap. Pizarro adalah seorang Conquistador, yang biasanya mengepalai sepasukan berkuda yang dilengkapi armor penuh, sehingga termasuk ke dalam kategori heavy cavalry. Dapat dibayangkan bagaimana daya hancur yang dilakukan pasukan kuda Pizarro dalam menembus pertahanan pasukan Inca.

Faktor politik selebihnya memegang peranan yang tidak kalah pentingnya. Pada saat kekuasaan Atahualpa, Kekaisaran Inca sedang dilanda perang saudara. Kaisar sebelumnya, Huayna Capac, ayah Atahualpa, terjangkit smallpox yang akhirnya menyebabkan dirinya tewas. Tahta dan daerah kekuasaan akhirnya menjadi rebutan Atahualpa dengan saudara kandungnya, Huascar, yang sebenarnya merupakan putera mahkota dari kekaisaran. Setelah baru saja mengalahkan Huascar, di perjalanan pulang Atahualpa beserta 80.000 pasukannya bertemu dengan Pizarro. Ketika ia belum sempat untuk melakukan reformasi kabinet dan pasukan di Cusco (ibukota Inca), ia harus langsung menghadapi sekumpulan orang yang ia anggap aneh berbicara bahasa aneh (spanyol) serta memantra-mantrakan bahasa yang lebih aneh lagi (latin). Pertempuran di Cajamarca memang fatal akibatnya untuk Atahualpa, namun ada kemungkinan ia bisa kembali merebut kekuasaannya apabila keseluruhan Inca berada di bawah komandonya tanpa ada masalah sebelumnya.

AFTER EFFECT KEKALAHAN SUKU INCA

Kekalahan pasukan Inca pada pertempuran di Cajamarca dan akhirnya menyerah total pada kekuasaan Spanyol memperlihatkan bahwa manusia sangat bergantung pada lingkungan alam sekitar. Manusia diasumsikan memiliki tingkat kreativitas dan kecerdasan yang kurang lebih identik pada setiap suku bangsa. Yang membedakan hanyalah lingkungan tempat masing-masing bangsa tinggal. Dengan kecerdasan yang ada, manusia mampu untuk mengolah lingkungan alamnya untuk kemudian bisa survive dalam melangsungkan keturunannya. Eropa dan Amerika merupakan dua daerah yang benar-benar terpisah secara fisik. Satu-satunya saat keduanya bertemu adalah ketika es menutupi Selat Bering pada akhir Jaman Es. Pada saat itu lah, menurut para ahli, terjadinya eksodus manusia untuk pertama kali dan terakhir kalinya hingga abad 2 CE, dari Dunia Lama ke Dunia Baru. Terpisahnya kedua benua tersebut secara fisik menyebabkan terputusnya informasi dan transfer pengetahuan dan sumber daya alam yang dapat diolah.

Hal yang penting pertama adalah ketiadaan sumber makanan yang mampu memberikan protein dan kalori yang cukup bagi mayoritas penduduk Native America. Sebelum masa Columbus, hanya ada tiga tempat di seluruh benua Amerika yang mampu menghasilkan makanannya sendiri yang akhirnya mampu untuk berubah menjadi kebudayaan yang kompleks, yaitu daerah Andes di selatan, Semenanjung Yucatan di bagian tengah, serta bagian tenggara dari apa yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat. Daerah lain tidak cukup kuat untuk menyediakan makanan bagi masyarakatnya, karena ketiadaan sumber makanan seperti benih tanaman dan hewan ternak.

Mengenai hewan ternak, benua Amerika sebenarnya memiliki banyak sekali mamalia besar pada jaman sebelum Jaman Es, namun secara tiba-tiba, pada akhir Kala Pleistocene seluruh mamalia tersebut punah (atau dipunahkan) dari muka bumi. Hanya sedikit sumber daya mamalia besar yang tersedia, yang akhirnya pilihan yang paling sesuai untuk bisa didomestikasi adalah Llama. Mamalia lainnya yang tersisa sangat buas untuk bisa di dijinakkan, seperti American Buffalo.

Llama adalah binatang sebesar keledai yang tidak memiliki kekuatan sebesar kuda, susunya juga tidak bisa diminum seperti sapi, dan persediaannya cukup terbatas hanya di sekitar dataran tinggi Andes. Eropa memiliki sedikitnya 13 jenis hewan yang telah terdomestikasi dari 72 kandidat, sedangkan Amerika hanya memiliki satu spesies yang berhasil di domestikasi dari 24 kandidat.

Selain untuk sumber makanan primer, hewan ternak juga efektif untuk membantu pertanian serta transport. Ketiadaan hewan ternak untuk membantu pertanian membuat penduduk Amerika harus bercocok tanam dengan tenaganya sendiri, serta menyebabkan lahan garapan tidak bisa dibangun dalam area yang sangta luas, karena akan memakan banyak tenaga. Selain itu, pupuk hasil kotoran tanaman juga tidak mereka miliki, sehingga tanah lebih susah subur dan usaha yang dilakukan akan semakin besar.

Keuntungan lainnya dari domestikasi mamalia besar adalah untuk transport. Kuda dan sapi sudah lama sekali dikenal oleh bangsa Eropa dan Asia (karena kedua benua ini sebenarnya ada dalam satu daratan besar yang sama, maka lebih lanjut akan disebut sebaga Eurasia). oleh karena itu penduduknya dapat dengan mudah berpindah tempat dalam jumlah yang besar membawa produk-produk lokal sehingga memungkinkan terjadinya perpindahan informasi dari satu tempat ke tempat lainnya dalam waktu yang cukup singkat.

Mengenai kuda, penduduk Eurasia sebenarnya berupaya untuk menjadikan kuda sebagai hewan serbaguna, bisa diambil daging dan susunya, untuk transport, serta membantu pertanian. Namun yang terakhir akhirnya tidak terlalu efektif karena untuk membajak kuda tergolong mamalia yang cepat hingga yang ada hasilnya adalah menghancurkan ladang itu sendiri, hingga akhirnya ditemukan collar untuk kuda agar bisa dikendalikan dengan kecepatan yang sangat rendah namun tidak membuat kuda tersebut tercekik. Kuda juga merupakan kendaraan perang yang tidak dapat ditandingi oleh kendaraan apapun hingga jaman revolusi industri. Oleh karena itu pasukan kavaleri Pizarro dapat dengan mudah melibas pasukan berkaki Inca karena daya terjang dan kecepatan kuda yang sangat besar untuk bisa melindas dan melontarkan pasukan Inca, serta mengejar sisanya.

Hal lainnya yang menarik tentang domestikasi hewan adalah ekses yang ditimbulkan yaitu penyebaran kuman penyakit yang sangat cepat menyebar dan menjadi pembunuh Homo sapiens terbesar sepanjang sejarah, antara lain virus smallpox, virus malaria, bakteri tifus, leptospirosis, serta virus influenza. Kuman-kuman tersebut sejatinya adalah sel-sel fagosit yang biasa hidup di kalangan hewan, terutama bovine (sapii, domba, dll). Karena manusia akhirnya memilih untuk hidup bersama kuman-kuman tersebut, perpindahan kuman tersebut ke badan manusia tidak dapat dihindari, sehingga menyebabkan kematian yang terkadang berubah menjadi wabah (pada akhir abad pertengahan bakteri Yersinia pestis (plague) membunuh 33% orang eropa hanya dalam hitungan bulan, suatu peristiwa yang dikenal dengan sebutan Black Death atau Bubonic Plague). Influenza, smallpox, dan plague menjadi yang teratas dari segi angka kematian yang disebabkan oleh mereka. Penderitaan umat manusia ini akhirnya dapat berakhir ditandai dengan ditemukannya penicillin oleh Alexander Flemming, yang membuat angka kematian manusia karena kuman menular menurun drastis.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa orang-orang Eurasia akhirnya bisa survive jikalau berabad-abad selalu hidup berdampingan dengan kuman? Jawabannya adalah gen kita berhasil untuk mengubah susunannya menjadi lebih imun terhadap kuman. Jika kakek kita dan abangnya terkena smallpox dan hanya beliau yang survive, sedangkan abangnya tidak, kemungkinan besar gen yang beliu turunkan ke ayah/ibu kita lalu ke kita merupakan gen yang memproduksi lebih banyak antibodi (atau memproduksi antibodi yang lebih kuat) dalam menangkal serangan virus smallpox. Orang-orang Eropa survive dengan cara ini. Bermilenia lamanya mereka rentan dari serangan kuman-kuman yang selalu silih berganti menyerang mereka, terutama sejak Jalur Sutera menjadi ramai dan banyak sekali terjadi perpindahan orang, barang, serta hewan ternak yang terjadi di sepanjang Asia dan Eropa, dari Dataran Cina hingga Andalusia. Ratusan juta penduduk Eurasia telah menjadi korban serangan kuman sepanjang sejarah, namun tidak semuanya tewas dan tidak berketurunan. Bagi mereka yang selamat dan berhasil memiliki keturunan, gen mereka yang dengan antibodi lebih kuat dibandingkan mereka yang tewas akan diturunkan kepada keturunannya sehingga akhirnya setelah keturunan tertentu, mereka kebal terhadap kuman tersebut.

Native American, tidak memiliki pengetahuan sedikit pun tentang hewan-hewan ternak, kuman yang dibawanya, serta penyakit yang diakibatkannya, sehingga ketika pemukim dari Eropa pertama kali datang pada abad 15 mereka serta-merta berada pada tingkat kerentanan tertinggi dalam hal terjangkit oleh penyakit-penyakit tersebut. Hal ini juga disebabkan karena gen leluhur mereka telah berpisah jauh dengan gen leluhur orang Eropa, sebelum leluhur mutual mereka tersebut berhasil mendomestikasi satu binatang pun. Walhasil mereka menjadi generasi pertama yang pertama kali berhadapan dengan kuman tersebut, sebelum gen mereka mampu untuk membentuk antibodi yang cukup kuat untuk menangkal serangan “asing” tersebut.

Dalam hitungan tahun, kuman-kuman tersebut berhasil membunuh ribuan bahkan jutaan Native American. Marquis Conquistador Francisco Pizarro Gonzales, datang dengan pasukannya pada saat yang tepat. Pemukim dari Eropa sudah tinggal di selatan Panama beberapa tahun lebih dahulu sebelum kedatangan Pizarro, dan beberapa tahun setelah kedatangan Cortes. Pemukim tersebut membawa serta ternak dan biji-bijian agar mereka bisa hidup sesuai dengan kebiasaan mereka di Eropa. Secara tidak sengaja mereka juga “mengajak” tikus-tikus Eropa untuk naik ke kapalnya dan ikut bermukim di Amerika. Kuman dari ternak serta kuman tikus adalah bahan pokok utama dari bermulainya wabah. Wabah-wabah inilah yang menyebabkan Huayna Capac, Kaisar Inca pada waktu itu tewas beserta ribuan penduduk Inca lainnya, sehingga menyebabkan kekacauan politis yang terjadi di kekaisaran akibat dari kekosongan tahta serta perebutan tahta tersebut oleh kedua anak Huayna Capac, Atahualpa dan Huascar. Oleh karena itu kekaisaran Inca yang sedang dirundung perang saudara dengan sangat mudah dikalahkan oleh pasukan Pizarro.

Faktor makanan terhadap kuda dan faktor makanan terhadap kuman sudah dijelaskan pada bagian di atas, selanjutnya penulis akan berusaha menceritakan bagaimana faktor makanan dapat mengakibatkan perbedaan sistem politik dan teknologi yang dimiliki oleh orang-orang Eurasia dan Native American. Ketika manusia masih mendapatkan makanan dengan cara memburu dan mengumpul, amat sangat susah untuk menyimpan makanan tersebut dalam jumlah yang banyak karena makanan-makanan tersebut cepat sekali membusuk, serta sumber makanan sekitar pemukiman pemburu tersebut lama-kelamaan akan habis dan memaksa para pemukim untuk berpindah tempat mencari pusat sumber makanan baru. Dengan kondisi seperti itu, manusia juga sulit untuk memiliki banyak anak karena mereka memastikan bahwa anak-anak mereka tidak menjadi beban ketika mereka harus berpindah tempat. Alat tukar seperti uang juga belum terlalu dibutuhkan karena kebutuhan manusia hanya sekitar pemuasan lapar dan hausnya, tanpa ada kebutuhan untuk barang-barang yang lebih mewah.

Keadaan seperti ini berubah ketika manusia mulai menemukan biji-bijian yang bisa ditanam kembali. Hal ini memungkinkan mereka untuk menetap di suatu tempat (yang biasanya subur) dan membangun peradaban baru. Oleh karena itu mereka akan dengan sendirinya menemukan bahwa makanan yang mereka dapatkan menjadi sangat banyak dan mengharuskan mereka menyimpan makanan pada suatu tempat. Lebih lanjut, mereka akan merasa perlu untuk menunjuk salah seorang di antara mereka untuk menjaga persediaan makanan tersebut. Orang terpilih tersebut lama-kelamaan memutuskan untuk tidak menjaga tempat penyimpanan itu sendirian dan memutuskan untuk menyewa beberapa orang kuat lainnya. Terbentuklah pasukan awal dalam sejarah manusia. Peran penajga penyimpanan tersebut makin lama makin dianggap penting oleh masyarakat sekitarnya demi kesejahteraan mereka, sehingga mereka menyebut orang tersebut sebagai pemimpin mereka.

Begitulah kira-kira awal terbentuknya sistem kemasyarakatan tersentral dengan pemimpin (yang akhirnya berkembang menjadi raja). Sistem ini akhirnya menjadikan kekuasaan raja menjadi mutlak dan dengan pandangan superstitious yang lazim pada masyarakat kuno akhirnya menjadikan agama atau kepercayaan sebagai legitimasi terhadap kekuasaan suatu raja tersebut. Mereka memerintahkan para pendeta penjaga kuil dan tempat penyimpanan makanan untuk menjadikan kekuasaannya absolut, menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Oke, memang pada akhirnya kedua kebudayaan, Inca maupun Eropa mampu untuk membentuk kekaisaran yang sama-sama hebat dan mencakup wilayah yang sangat luas (Pada jaman Pizarro, Spanyol berada dalam bendera Kekaisaran Romawi Suci yang wilayahnya meliputi seluruh Eropa Barat). Namun ada perbedaan yang sangat kentara di antara keduanya. Inca tidak memiliki pesaing yang berpotensi untuk menandingi kekuasaannya. Kekaisaran terdekat dengan Inca adalah Kekaisaran Aztec, namun kedua kekaisaran tidak pernah saling bertemu karena dipisahkan oleh semenanjung Panama yang menyempit, serta tidak tersedianya alat angkut yang pantas untuk membantu mobilisasi orang dan barang antar kedua daerah. Hal ini menyebabkan kedua kekaisaran tidak pernah berkompetisi untuk menjadi yang terkuat di seluruh Amerika. Mengapa hanya kedua kekaisaran ini saja yang bisa berkembang menjadi kekuatan terbesar di daerahnya disebabkan oleh hanya di pusat kedua kekuatan inilah pertanian bisa dilakukan dalam skala yang besar.

Eurasia, sebaliknya, memiliki pusat penghasil makanan yang tersebar. Yang paling terkenal diantaranya adalah daerah Bulan Sabit Subur, Delta Sungai Nil, Lembah Sungai Indus, Lembah Sungai Kuning, Garis Pantai Yunani, serta Timbuktu. Daerah-daerah ini pada akhirnya berkembang menjadi kekaisaran tersendiri, Babylonia, Dinasti-dinasti Mesir, Maurya, Dinasti-dinasti Cina, Polis-polis Yunani, dan Mali. Melalui ramainya perdagangan yang melibatkan hingga seluruh daerah di sepanjang Jalur Sutera, banyak daerah-daerah yang tadinya tidak berkembang mengembangkan sistem pemerintahannya sendiri. Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, Sub-sahara Barat, Mongolia, Arabia, Turki, adalah contoh-contoh dari daerah yang berkembang belakangan, hasil dari kemajuan perdagangan dan teknologi pengembangan sumber makanan yang akhirnya membentuk kekaisaran sendiri. Daerah-daerah ini terletak sangat berdekatan satu dan lainnya, sehingga menyebabkan masing-masing harus memperkuat dirinya agar tidak kalah saing (dan akhirnya dikuasai) dengan tetangganya. Mereka menyempurnakan teknologi pangan mereka agar bisa mencukupi kebutuhan seluruh warganya, bahkan mengekspornya sebagai komoditas. Mereka juga memperkuat persenjataan serta memperbanyak prajurit untuk bisa mempertahankan wilayahnya, serta untuk mengembangkan wilayahnya apabila kebutuhan lahan masayarakatnya tidak lagi tercukupi.

Persaingan yang ketat dan sering berujung kepada konflik senjata inilah yang selama bermilenia lamanya dihadapi oleh masyarakat Eurasia. Mereka saling mengalahkan satu sama lain untuk bisa menjadi yang terkuat dan akhirnya menguasai lahan yang paling besar. Teknologi terus ditingkatkan untuk mendukung ambisi tersebut. Masing-masing wilayah saling berlomba untuk menguasai teknologi yang paling efisien untuk membuat daerah mereka menjadi yang paling kuat dan kaya. Salah satu imbas dari perlombaan ini adalah perlombaan bangsa-bangsa Eropa untuk mengambil keuntungan dari wilayah timur yang tidak diketahui, yaitu India. Cristoforo Colombo (Christopher Columbus), pelaut dari Italia yang mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui rute tercepat untuk mencapai India dan mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah (harga Jalur Sutera saat itu amat sangat mahal). Ia pada awalnya menawarkan idenya kepada Raja Portugis, namun tidak tertarik. Ia juga tidak sekali menawarkan kepada Raja Ferdinand dari Aragon yang saat itu menjadi penguasa Spanyol, sebelum akhirnya diterima dan dimodali pelayaran dengan tiga kapal besar agar bisa mencapai “India”.

Fenomena seperti ini tidak terjadi di mana pun di Amerika saat itu. Inca merasa tidak memiliki saingan sehingga ia tidak dengan gencar meriset teknologi yang lebih baik untuk survive dan berkembang. Inca tidak memiliki kebutuhan untuk mencapai India karena di sana tidak terjadi perdagangan ketat antar daerah yang menyebabkan harga bahan makanan melambung tinggi. Inca juga merupakan daerah dengan massa tanah yang cukup besar tanpa harus melewati samudera dengan perjalanan antar pulau sehingga tidak memerlukan penemuan kapal-kapal besar dengan layar luas berlapis-lapis serta tiga susun dayung (trireme). Hal-hal tersebut lah yang menyebabkan mengapa orang-orang dari Eurasia yang datang ke Amerika, daripada Native American mendatangi Eropa pada awalnya. Jikalau yang terakhir ini terjadi pun, Amerika kekurangan hewan ternak untuk bisa menularkan kuman yang bisa menyebabkan ribuan penduduk Eropa musnah.

Satu hal lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah tulisan. Cristoforo berlayar mengarungi Atlantik lalu mencatat hasil perjalanannya. Tulisan tentang dunia baru dengan emas berlimpah-limpah yang disusun oleh Cristoforo dan pemukim-pemukim awal yang menginspirasi conquistadores macam Hernan Cortes untuk mencari sponsor kepada raja untuk melakukan penaklukan terhadap daerah-daerah tersebut. Cortes pun berhasil menaklukkan kekaisaran Aztec dan juga mencatatnya dalam jurnal-jurnal. Jurnal-jurnal inilah yang menginspirasi conquistador lainnya, Pizarro, untuk menaklukkan bagian lain dari benua tersebut. Ia mendapatkan pengetahuan tentang lingkungan, masyarakat, serta gaya hidup orang-orang asli Amerika dari tulisan-tulisan pendahulunya. Ia juga mengetahui senjata yang digunakan, teknik berperang, hingga kebiasaan raja-raja yang memerintah di sana dari tulisan-tulisan tersebut. Native american sebagian besar tidak mengenal adanya tulisan. Satu-satunya bukti arkeologis mengenai tulisan pada native american hanyalah peninggalan kuno bangsa Maya maupun Olmec (keduanya terletak di Semenanjung Yucatan, jauh sebelum bangsa Aztec berkuasa di sana). Bangsa Inca hingga masa penaklukannya sama sekali belum mengenal tulisan. Hal ini menyebabkan masyarakatnya tidak mengenal daerah-daerah lain di luar teritorinya secara luas, hanya dari cerita beberapa orang pengembara yang menceritakannya pada masyarakat dalam skala kecil. Ide-ide yang dihasilkan juga tidak secara mudah bisa tersampaikan pada skala yang luas karena keabsenan tulisan. Teknologi juga tidak bisa berkembang dengan cepat karena hal ini. Bangsa Eropa jauh mengungguli Native American dalam hal ini.

Berbagai macam penjelasan di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa manusia sangat bergantung pada lingkungan alam di sekitar tempat tinggalnya. Ketersediaan tumbuhan pangan, hewan yang berpotensi untuk dijinakkan, serta letak geografis daerah menjadi faktor penentu bagaimana sejarah berjalan dan kebudayaan tercipta. Dan jika dua kebudayaan dari dua daerah yang sama sekali terpisah akhirnya bertemu, banyak sekali keanehan yang dipersepsi oleh orang-orang dari masing-masing kebudayaan. Intelegensi sama sekali tidak berperan dalam level ini. Kekompleksan budaya serta teknologi dalam skala luaslah yang selanjutnya akan menentukan siapa yang bisa survive dari pertemuan kedua kebudayaan tersebut. Sejarah telah memberikan salah satu contoh dari pertemuan tersebut melalui peristiwa di Cajamarca, Peru, 500 tahun silam, dan Pizarro dan Atahualpa adalah pion yang digerakkan oleh sejarah untuk bisa menceritakannya kepada kita, agar kita semua dapat berpikir.

One thought on “PERADABAN SUKU INKA – PERANG CAJAMARCA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s