REVIEW AIR BATTLE PD 1


Mustard or mud, sit or blood, greed your teeth and stay there……

Sesakit apapun yang kamu rasakan jangan pernah berpikir untuk meninggalkan pertempuran.  Pertempuran di udara sama sulitnya seperti di darat, maka perlu taktik dan kerjasama yang baik di antara penerbang.

Sebagai pesawat pengintai, penerbang belum mengenal tugas-tugas penembakan atau pengeboman.  belum juga tejadi adanya pertempuran udara sampai pertengahan tahun 1914.  Sebuah momen paling bersejarah dari perjalanan panjang pertempuran udara adalah pada tanggal 5 Oktober 1914. Pada hari itulah sebutan pesawat pengitai berubah menjadi pesawat tempur.

Pada hari itu, sebuah pesawat Voisin tipe 3 milik French Air Service, sedang melaksanakan patroli di garis pertempuran.  Pesawat tersebut diterbangkan oleh Sersan Joseph Frantz dan Sersan Louis Quenault sebagai juru tembak. Kedua penerbang tersebut melihat sebuah pesawat Jerman di wilayah tersebut.  Mereka kemudian mendekati pesawat Jerman tersebut, untuk mengambil jarak tembak yang baik.  Pesawat Jerman, antara tidak tahu kehadiran pesawat Perancis tersebut atau mengabaikannya, tidak memberikan reaksi terhadap mendekatnya pesawat Voisin.  Pesawat yang bermusuhan memang sering mengabaikan pertemuan antar pesawat, karena sudah menjadi hal yang biasa sebelumnya.  Antar pesawat juga tidak saling menembak/mengancam bila saling bertemu.   Namun, itu sebelumnya khan ?  Karena pada saat itu, senapan mesin Quenault sudah diarahkan pada pesawat Jerman yang benar-benar lengah terhadap bahaya yang sedang mengancam keselamatan jiwa mereka. “Tret..tret..tret..tret” peluru pun berhamburan dari pesawat Voisin, dan menerjang badan pesawat Jerman.  Beberapa detik kemudian, pesawat Jerman sudah melayang, jatuh, dan hancur.  Pesawat dan penerbang Jerman ini menjadi korban pertama dalam pertempuran udara.  (Walaupun Jerman menjadi pemicu terjadinya PD I, namun justru Perancis-lah yang pertama memuntahkan amunisinya dalam pertempuran udara)

Sejak saat itu, semua pesawat-pesawat mulai dipersenjatai.  Semua negara yang terlibat perang menyadari bahwa penerbang tidak mungkin mengharapkan bahwa dalam setiap misi yang dijalankan mereka terbebas dari setiap rintangan.  Untuk mengatasi segala permasalahan yang dijumpai di udara, mereka harus mempunyai senjata yang memadai untuk mempertahankan diri.  Para penerbang mulai memikirkan metoda yang baik untuk menyergap pesawat musuh.  Mereka dilengkapi dengan pistol, riffle, bom kecil, selain senapan mesin.

Mulai tahun 1915, Inggris mulai mengembangkan pesawat tempur single seat.  Sebelumnya, penerbang selalu terbang berdua, ditemani oleh juru tembak. Untuk pola yang baru, penerbang harus terbang sendiri, dengan satu tangan.  Metoda ini sebenarnya meniru apa yang dilakukan oleh pasukan kavaleri saat menunggang kuda.  Sementara satu tangan memegang tali, tangan yang lain digunakan untuk membidik dan menembak lawan.  Memang pada awalnya sangat sulit untuk dilakukan,  namun menimbang keuntungan dan kerugian yang didapat, pola ini nantinya semakin berkembang dan menjadi dasar bagi sistem Hands On Throttle And Stick (HOTAS), seperti yang dipakai pada pesawat tempur modern.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pemasangan senapan mesin pesawat pada masa pra PD I adalah letak propeller di hidung pesawat yang menghalangi lintasan tembakan.  Salah satu penerbang yang berhasil melaksanakan percobaan senapan mesin adalah Rolland Garros, seorang penerbang Perancis.  Nama penerbang ini menjadi nama paling bersinar pada masa awal PD I.  Pada percobaan yang dilakukan, senapan mesin dipasang sebuah interupter gear, yang bisa mencegah benturan tembakan dengan propeller, karena senapan akan tidak aktif pada saat garis tembakan sejajar dengan permukaan propeller blade.  Namun demikian, percobaan ini berakhir dengan kegagalan.  Karena sering kali peluru masih sering nyasar dan menghantam putaran propeller blade.  Hal ini sangat berbahaya, karena blade bisa patah.  Jerman pun yang saat itu mengadakan eksperimen yang sama, mengalami kegagalan karena masalah yang sama.

Masalah bisa teratasi saat Rolland Garros bergabung dengan Raymond Saulnier, seorang ahli yang sanggup menjawab semua masalah kegagalan interupter gear.  Dibelakang setiap blade (baling-baling) dilapisi besi deflector, sehingga bila ada peluru yang nyasar dan menghantam blade, peluru akan dibelokkan dan berhamburan, namun masih mengarah pesawat yang dibidik oleh penerbang. Metoda ini cukup sukses dalam beberapa percobaan, sehingga mulai digunakan pesawat-pesawat Perancis di medan pertempuran.

Pada tanggal 1 April 1915, Garros dengan senapan Morane-Saulnier tipe L bisa menembak dan menjatuhkan pesawat Albatross Jerman. Setelah itu nama Rolland Garros berkibar dalam kancah pertempuran udara.  Dalam waktu setengah bulan, dia berhasil menembak 5 pesawat Jerman.

Namun sayang, pada tanggal 18 April 1915, pesawatnya berhasil ditembak pesawat Jerman dan melaksanakan pendaratan darurat di wilayah Jerman.  Garros dan pesawatnya menjadi tawanan perang.  Peristiwa ini menjadi bumerang bagi Perancis.  Bila Perancis merasa sangat pilu atas tertangkapnya Garros, maka Jerman sebaliknya.  Tertangkapnya Garros membawa berkah besar bagi mereka.  Senapan mesin rancangan Garros-Saulnier ternyata telah lama menjadi misteri bagi Jerman.  Dengan tertangkapnya Garros dan pesawatnya, Jerman bisa mengadakan penelitian terhadap sistem senjata Perancis tersebut.  Dan sebuah keberuntungan lagi bagi Jerman, si anak ajaib telah datang, yaitu Anthony Fokker.

Fokker, oleh Jerman diberi tugas untuk menganalisa pesawat dan senapan mesin Garros.  Fokker melepas senapan dan melihat bahwa deflector yang melindungi propeller blade dari lintasan peluru ternyata bisa dilepas.  Fokker langsung mengambil kesimpulan bahwa yang terpenting dalam sistem senapan mesin adalah meyakinkan bahwa peluru-peluru tidak akan mengenai propeller blade pada saat lintasan mereka bertemu.  Sehingga Fokker mengembangkan sistem senapan mesin dengan semburan pendek.  Peluru hanya akan keluar dari laras bila lintasan peluru dan propeller blade tidak bertemu. Fokker hanya memerlukan waktu 3 hari untuk membuat kesimpulan ini. Pesawat-pesawat Jerman kemudian dimodernisasi sistem senjatanya. Dan setelah itu mereka banyak memborong korban pesawat-pesawat Perancis dan Inggris.

Senapan mesin jenis baru ini dipasang pada pesawat monoplane Fokker IV. Dengan pesawat ini, banyak penerbang Jerman melambungkan ketenarannya. Letnan Oswald Boelcke, salah satu ace Jerman pertama, berhasil mencoba senapan ini untuk menjatuhkan korban ke-3 sampai 37 korban selanjutnya. Perancis dan Inggris juga tidak mau kalah dalam pengembangan pesawat-pesawatnya, mereka berlomba dan terus berlomba.  Sejak saat itu pesawat mulai menguasai sebagian jalan pertempuran di PD I secara keseluruhan.

Terbentuknya Skadron tempur

Pada awal PD I, pesawat-pesawat mulai memasuki arena pertempuran. Namun penggunaannya tentunya masih sangat terbatas, karena kemampuannya yang masih sangat rendah.  Dalam setiap perpindahan dari suatu garis pertempuran, pesawat harus diangkut dalam gerbong kereta atau dinaikkan truk. Sehingga kadang-kadang hal ini dianggap sebagai beban bagi pasukan darat.  Apalagi pada saat akan melakukan penerbangan, suara pesawat yang keras sering mengganggu kuda-kuda pasukan kavaleri.  Pesawat terbang masih belum sepenuhnya diterima oleh para prajurit di garis depan.

Pada kelanjutannya, pesawat bisa menggantikan tugas-tugas pasukan pengintai yang biasanya memerlukan waktu yang lama untuk menentukan spot-spot posisi musuh di garis depan. Sebelumnya, tim intelijen harus mengendap-endap ke atas puncak gunung, melewati rimba raya, untuk mengintai posisi lawan. Dengan pesawat, tugas sulit tersebut bisa menjadi sangat mudah. Berdasarkan tugas pokok penerbang sebagai pengintai, maka pesawat dengan kecepatan tinggi dan memiliki kemampuan pesawat tempur yang baik belum terpikirkan saat itu.  Setiap pesawat bisa membawa 2 orang, penerbang dan observer.  Para penerbang hanya seorang bintara, justru observer yang bertugas mengintai adalah seorang perwira. Penerbang lebih suka dengan pesawat yang mempunyai kecepatan yang rendah, karena dia akan dengan leluasa bisa melihat ke permukaan.  Pesawat juga cukup terbang pada ketinggian 3000 feet di atas permukaan tanah. Karena dengan ketinggian tersebut, senjata di darat sudah tidak mampu menjangkau posisi pesawat.

Mungkin akan terasa sangat lucu bila kita tahu, bahwa pesawat dari pihak yang bermusuhan hanya akan saling menghindar bila saling bertemu.  Namun itulah aturan tak tertulis bagi setiap pesawat pengintai pada saat itu. Pesawat pun belum bisa membawa beban yang terlalu berat.  Penerbang biasanya hanya dilengkapi dengan pistol, dan bila masih memungkinkan ditambah dengan senapan riffle. Namun senapan itu tidak pernah digunakan di udara, kecuali pesawat mengalami kerusakan dan penerbang terjebak atau mendarat di wilayah musuh.

Dengan semakin banyaknya penempatan pesawat terbang dalam setiap posisi di garis depan, maka negara-negara yang terlibat dalam PD I (Inggris, Perancis, Jerman), banyak membentuk satuan-satuan udara untuk mengelola pesawat-pesawat tersebut.  Kekuatan udara Amerika belum muncul saat itu, termasuk pembentukan satuan-satuan udara. Perancis membentuk satuan-satuan udara yang masing-masing terdiri dari 4 pesawat.  Satuan udara ini dinamakan dengan Escadrille. Sedangkan Inggris membentuk satuan udara yang terdiri dari 3 flight.  Setiap flight terdiri dari 4 pesawat.  Setiap satuan udara sudah dilengkapi dengan personel penerbang, staf, tehnisi, dan personel pembantu lainnya.  Inggris menyebut satuan udaranya dengan nama Squadron. Satuan udara Inggris Squadron, nantinya menjadi dasar bagi pembentukan seluruh satuan udara di dunia.

Satuan-satuan udara Inggris ini kemudian dibawahi oleh Air Batalyon, di bawah komando War Office.  Sejalan dengan perkembangan kekuatan udara, Air Batalyon diubah menjadi Royal Flying Corps (RFC). Dengan semakin banyaknya Squadron yang dimiliki oleh Inggris, maka mulai terbentuklah Wing, sebagai satuan yang mengendalikan beberapa kelompok Squadron.  Namun sayangnya, semua organisasi tersebut masih mengabdi kepada Angkatan Darat. Sehingga Inggris memulai sebuah usaha untuk memisahkan  RFC dari Royal Army Forces. Berkat usaha kerasnya, Angkatan Udara Inggris nantinya berdiri pada tanggal 1 April 1918, sebagai Angkatan Udara pertama di dunia.

Pada saat Perang Dunia I berakhir pada tahun 1918, semua negara yang terlibat perang (Perancis, Inggris, dan Jerman) mendapatkan kerugian yang sangat besar.  Perjanjian perdamaian menuntut Jerman untuk menyerahkan semua pesawat tempur dan mesin-mesin pesawat yang dimiliki.  Kegiatan Angkatan Udara Jerman menjadi beku.  Sedangkan Angkatan Udara Perancis dan Inggris dikurangi kekuatannya menjadi bagian-bagian kecil, seperti rencana sebelum masa perang.  Pada tahun yang sama, telah berdiri organisasi Angkatan Udara pertama di dunia, yaitu Royal Air Force (RAF) milik Inggris.  Organisasi ini berdiri pada tanggal 1 April 1918.  Hal ini tentunya membangkitkan adanya reorganisasi seluruh kekuatan udara dunia saat itu.

Pada saat PD I dimulai, Inggris memang menjadi pioner dalam organisasi kekuatan udara dengan mendirikan Air Batalyon.  Dalam pertumbuhannya, organisasi ini berkembang menjadi Royal Flying Corps (RFC). RFC-lah yang mengendalikan seluruh pergerakan pesawat tempur Inggris selama PD I. Dalam rangka pembentukan AU yang berdiri sendiri, maka diadakan peleburan 2 kekuatan udara utama Inggris, yaitu RFC dan Royal Naval Air Service.  Ditunjuk sebagai Kepala Staf AU pertama adalah Lord Viscount Trenchard.  Beliau nantinya disebut sebagai Bapak AU Inggris. Usaha reorganisasi yang dilakukan oleh Inggris berjalan semakin baik dengan diakhirinya PD I. Semua satuan menjalani proses efisiensi.  Jumlah prajurit AU dikurangi dari 350.000 menjadi 28.000. Jumlah Skadron dikurangi dari 200 menjadi 25.  Dengan kekuatan yang kecil dan efisien ini, Trenchard telah meletakkan dasar-dasar yang baik untuk AU Inggris yang hebat pada perang selanjutnya, PD II.  Pada tahun 1922, Angkatan Udara Inggris untuk pertama kali mengeluarkan buku petunjuk pokok-pokok organisasi dan petunjuk pelaksanaan lainnya. Semua prosedur operasi penerbangan tempur dibakukan.

Sistem komunikasi antar pesawat dibakukan dengan menggunakan gerakan pesawat leader. Penggunaan gerakan tangan sering membingungkan dan pirotehnik banyak merepotkan penerbang pesawat tempur single seater. Dengan adanya pembakuan sistem komunikasi antar pesawat ini, maka taktik pertempuran bisa berjalan lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Formasi tempur yang dibakukan adalah Vic formation. Formasi ini memberikan jarak pandang yang baik buat leader dan merupakan formasi yang teraman untuk menembus cuaca buruk. Jarak antar pesawat adalah 30 yard. Pertimbangan ini diambil karena cuaca di Eropa yang sangat buruk.  Sejak saat itu, mulai berlaku adanya sub formasi bila beberapa pesawat harus berpisah dari formasi awal karena sesuatu masalah seperti cuaca, kerusakan pesawat,  pertempuran, dan lain-lain.

Masa perang yang penuh dengan kegiatan pertempuran udara, memang menyulitkan para penerbang untuk mengkaji taktik-taktik yang digunakan. Mungkin mereka tahu bahwa taktik lama yang digunakan banyak yang tidak efektif lagi. Namun para penerbang tidak ada waktu untuk berlatih, sehingga tidak berani untuk keluar dari kebiasaan mereka sebelumnya.  Mereka harus bertempur dan bertempur.  Setelah masa perang, mereka semua mengkaji dan berlatih, membuktikan dan membandingkan berbagai macam taktik yang digunakan.  Dalam buku petunjuk operasi udara pertama tersebut, terdapat beberapa penekanan sebagai berikut  :

  1. Kemenangan hanya akan dapat dicapai dengan menggelar semua kekuatan yang memiliki semangat tempur tinggi.
  2. Setiap serangan harus diakhiri dengan hilangnya kekuatan musuh untuk membalas serangan.
  3. Daya kejut harus selalu menjadi kunci pokok dalam setiap pertempuran.

British Royal Air Force dibawah pimpinan Lord Viscount Trenchard memang telah memiliki dasar-dasar dan pengalaman tempur yang baik saat itu.  Dalam masa PD I, mereka telah biasa menggerakkan ratusan pesawat dalam misi pertempuran. Sehingga mereka memiliki wawasan yang baik untuk merumuskan segala macam operasi pertempuran yang akan dilakukan.

Dalam masa kelahiran organisasi Angkatan Udara, seorang tokoh yang berpengaruh pada masa itu adalah Jendral Guilio Douhet, yang telah menyusun buku berjudul The Command of the Air. Buku ini telah membuat perwira Italia ini menjadi tokoh berpengaruh dalam pengembangan Air Power di dunia internasional.  Dia menggariskan bahwa peperangan masa depan akan dimenangkan oleh negara yang mengembangkan kekuatan udaranya dengan baik. Menurut Douhet, hal ini bisa dicapai dengan penggunaan pesawat-pesawat yang bisa menjatuhkan bahan-bahan high explosive untuk menghancurkan bangunan, pembakaran, dan penyebaran gas beracun untuk mencegah pertumpahan darah antar pasukan darat.  Dengan metode ini, kehancuran total di pihak musuh akan bisa dicapai dengan lebih aman. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar penggunaan taktik pertempuran. yaitu mencapai hasil yang maksimal dengan resiko terkecil.

Salah satu teori Douhet yang menarik adalah tentang nilai efektivitas dan efefisiensi operasi pengeboman. Douhet mengasumsikan bahwa target-target yang ada di permukaan tanah biasanya terkonsentrasi dalam area kurang dari 500 m².  Target ini akan bisa dihancurkan oleh hanya 10 pesawat bomber yang masing-masing membawa 2 ton bom, yang dijatuhkan dari ketinggian 10.000 feet oleh penerbang-penerbang yang sudah terlatih dengan baik. Dengan memiliki 1000 buah pesawat bomber, maka 50 target bisa dihancurkan setiap hari. Sehingga pasukan darat tidak perlu repot-repot menggerakkan peralatannya yang sangat sulit dipindahkan dan pasukannya yang bergerak dengan sangat lambat.  Pesawat bomber tidak boleh bergerak sendirian.  Mereka harus dikawal oleh pesawat escort yang memiliki kecepatan yang lebih tinggi dan jarak jangkau yang lebih jauh dari pesawat bomber.

Kekuatan di laut dan di darat akan bisa dihancurkan dari udara.  Sasaran utama seperti pangkalan militer, garis komunikasi, dan pusat logistik dapat dihancurkan pada hari-hari awal penyerangan. Untuk dapat melakukan tugas-tugas tersebut secara mandiri, Angkatan Udara harus memiliki organisasi yang independen. Sebaliknya, bagi negara yang diserang, pembangunan sistem pertahanan udara adalah kebutuhan dasar.  Kita tidak boleh membiarkan pesawat-pesawat tersebut mengudara. Mereka harus dihancurkan di pangkalannya bila mungkin.

Oswald Boelcke, Maha Guru Taktik Pertempuran Udara

Untuk mengenang Kapten Boelcke, musuh kami yang berani dan kesatria (Korps Penerbangan Inggris)       

Pada saat PD I dimulai tahun 1914, Oswald Boelcke masih berusia 23 tahun.  Pada tahun tersebut, dia mendapatkan sertifikat sebagai seorang penerbang dan ditempatkan di satuan udara Jerman di Perancis.  Nama satuan tersebut masih cukup aneh buat Boelcke, yaitu Seksi ke-13. Namun demikian, dia cukup beruntung karena saudara laki-lakinya yang bernama Wilhelm Boelcke sudah berdinas di sana sebagai observer. Pada saat itu, pertempuran udara belum dimulai.  Tugas penerbang hanya sebatas membawa observer, yang bertugas mengintai posisi musuh. Sehingga satuan tersebut banyak memiliki pesawat kursi ganda, namun belum dilengkapi senapan mesin.Pesawat-pesawat Jerman pun menjalankan tugasnya sebagai pengintai, mencari posisi pasukan sekutu dan menuntun pasukan Jerman ke arah sasaran tersebut.  Bila sudah menemukan sasaran, pesawat akan mengeluarkan tanda yang menimbulkan warna tertentu di udara.

Pada akhir tahun 1914, Boelcke sudah melakukan 43 kali penerbangan operasional. Boelcke sebenarnya sudah banyak mendengar tentang adanya pertempuran udara. Dia dan observernya juga sudah dilengkapi dengan senapan panjang dan pistol.  Namun sejauh itu, dia belum terlibat dalam pertempuran udara.  Pesawat-pesawat Jerman sebagian besar hanya bertugas sebagai pengawal pasukan darat, Scout Aircraft, dan belum dilengkapi senapan mesin.

Setelah tertangkapnya Rolland garros dan keberhasilan Anthony Fokker untuk mendesain senjata baru bagi Jerman, Boelcke yang sudah pindah di seksi ke-62, mendapat kesempatan untuk terbang di pesawat Fokker yang bertempat duduk ganda dan sudah dilengkapi senapan mesin baru.  Sebagai juru tembaknya adalah Letnan Von Wuhlisch. Pada tanggal 6 Juli 1915, mereka berhasil menembak jatuh pesawat Morane, Perancis. Keberhasilannya yang pertama ini juga menjadi penerbangan terakhir Boelcke di pesawat kursi ganda.

Di satuan yang baru, Boelcke mendapat kawan yang nantinya menjadi pasangan terhebat selama karirnya, yaitu Oberleutnan Max Franz Immelman. Perpindahan dari pesawat berkursi ganda, ke kursi tunggal memang menimbulkan masalah baru bagi penerbang.  Pada saat penerbang berkonsentrasi untuk mengadakan penyerangan, perhatian penerbang sangat tersita. Sehingga tidak sempat memperhatikan datangnya ancaman dari arah yang lain.  Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka pesawat-pesawat Jerman mulai terbang berpasangan.  Penerbang yang sering menjadi pasangan Boelcke adalah Immelman.

Kedua orang ini menjadi senjata paling mematikan bagi Jerman.  Pada saat mereka masing-masing berhasil menjatuhkan korban ke-8, pemerintah Jerman menganugerahkan Pour le Merite.  Dua