THE RED BARON


Semua orang yang hidup di masa Perang Dunia I pasti mengenal dia. Ia adalah seorang penerbang jagoan di Angkatan Udara Kerajaan Jerman dengan sederet prestasi yang membanggakan bagi bangsanya sekaligus menakutkan bagi musuh-musuhnya. Nama lengkapnya Baron Manfred von Richthofen. Gelar Baron adalah sebuah gelar kebangsawanan yang dianugrahkan pemerintah Jerman kepadanya. Namun dikalangan masyarakat ia lebih dikenal sebagai Red Baron karena selalu memakai pesawat andalan Fokker Dr I Triplane, pesawat tempur bersayap susun tiga yang berwarna merah menyala.

Masa Kecil Manfred von Richthofen

Mungkin anda pernah mendengar nama diatas, bagi seorang Ace (julukan untuk pilot penempur) nama diatas mungkin sudah tidak asing lagi. Pilot tempur paling terkenal di masa PD I, tidak lain adalah Manfred von Richthofen a.k.a “Red Baron” diambil dari tampilan pesawat tempurnya yang dicat serba merah. Seorang hebat yang lahir di Kleinburg dekat Breslau, Jerman (menjadi kota Polandia setelah PD I), tanggal 2 Mei 1892 dari keluarga ninggrat Prussia. Semasa mudanya ia gemar berkuda dan berburu serta olahraga. Saat berusia sembilan tahun, keluarganya pindah ke Schweidnitz dimana di kelasnya, von Richthofen sangat menonjol dan meraih sejumlah penghargaan. Bersama saudara laki-lakinya, Lothar (di kemudian hari menjadi ace dengan 40 victories) dan Bolko, Manfred gemar berburu babi hutan rusa, burung dan kijang. Kegemaran berburu inilah rupanya yang menjadikannya mahir menembak jatuh pesawat musuh dikemudian hari.

Dalam usia sangat muda, 11 tahun, von Richthofen sudah mengikuti pendidikan kadet militer, begitu selesai pendidikan pada tahun 1911, bergabung dengan Ulanen-Regiment Kaiser Alexanders des II von Russland. Singkat cerita pilot muda bersemangat tinggi ini masih bertugas di Front Timur saat Agustus 1916 bertemu dengan pilot tempur Oswald Boelcke yang sedang mencari calon pilot untuk mengisi unit tempur baru.
Begitu berjumpa dengan Manfred von Richthofen, langsung direkrutnya untuk bergabung dalam Jagdstaffel (Skadron Tempur) baru, Jasta 2. Dalam unit tempur inilah, von Richthofen memenangkan kombat udara pertamanya di atas Cambrai, Perancis 17 September 1916.

Karir Awal Manfred von Richthofen

Pada karir awalnya di Angkatan Udara, Manfred kembali bertugas sebagai tim reconn. Sebagai observer di pesawat two-seater, ia tidak menjadi pilot, melainkan menangani bom dan senapan mesin. Tapi kemudian ia berlatih menjadi pilot, bergabung dengan skuadron Boelcke sebagai pilot tempur solo, dan belakangan memimpin suadron sendiri (Jagdstaffel alias Jasta 11). Dan… tentu saja sisa hidup selanjutnya menjadi legenda.

Membaca kisah Manfred von Richthofen dari sudut pandang dan pemikiran pribadinya ini mengasyikkan. Meskipun pada saat itu pihak lawan menjulukinya “Le Diable Rouge” atau “Red Devil” alias Setan Merah (sama sekali tidak ada hubungannya dengan Manchester United) karena kepiawaiannya di angkasa, kita tahu kalau dia manusia biasa. Manusia biasa yang melakukan hal-hal luar biasa, tentu saja. Dan karena penuturannya tentang hal-hal yang dialaminya selama perang, seburuk apapun, selalu dipandang dari sudut yang positif, sehingga kisah perang yang dialaminya terasa bagaikan petualangan yang seru dan mendebarkan. Pembaca seolah menonton film perang dengan Von Richthofen sebagai tokoh utama, mendukung apapun keputusan yang dibuatnya, dan lupa berpikir dari sudut lawannya yang jadi korban.

Bagi Manfred von Richthofen, berperang dan bertempur itu fun! Tidak peduli di darat ataupun di udara. Sebagai seorang pemburu sejati, (iya, ia masih sempat-sempatnya berburu babi dan bison di masa perang), menjadi pilot pesawat tempur jelas pekerjaan ideal: menyalurkan hobi sambil tetap mengabdi pada negara. Memburu skuadron lawan, dog-fight satu lawan satu, atau satu lawan banyak sekalipun, menembak jatuh minimal satu pesawat musuh setiap kali terbang, benar-benar mengasyikkan. Ia mengakui bahwa sebagai pilot pada awalnya ia lebih sebagai hunter ketimbang shooter. Ia merasakan kepuasan setiap kali berhasil menembak jatuh lawannya. Seorang shooter lebih klinis, apabila berhasil menembak jatuh lawan, ia tidak merasakan emosi yang berlebihan, dan langsung beralih pada lawan berikutnya. Hm, kalau von Richthofen hidup di masa sekarang, mungkin ia bisa menyalurkan hobinya dengan bermain video games, tanpa benar-benar membunuh makhluk bernyawa.

Kenapa Manfred von Richthofen dijuluki Red Baron? Pertama, ia seorang Freiherr yang tidak ada gelar padanannya di Inggris, tapi kira-kira setingkat gelar baron. Kedua, ia mengecat pesawat Fokker triplane-nya dengan warna merah menyala. Benar-benar mencolok, seolah menunjukkan dirinya dan menantang semua orang “Come and get me!”, persis seperti warna armor Iron Man atau jacket Rita Vrataski di All You Need Is Kill. Pokoknya kelihatan banget dari jauh, dan membuat lawan sempat lempar koin dulu sebelum memutuskan untuk memburu atau menghindarinya.

Kok sombong banget sih, di saat orang lain berusaha terbang diam-diam tanpa ketahuan? Menurut cerita adiknya, Lothar, yang juga merupakan anak buah dan wingman-nya, pada awal karir sebagai pilot tempur Manfred merasa terganggu karena ia merasa terlalu mudah dilihat oleh lawannya dalam pertempuran udara, dan sudah berusaha menggunakan berbagai macam warna untuk penyamaran, tapi kamuflase tidak ada gunanya untuk benda bergerak seperti pesawat. Akhirnya, supaya mudah dikenali oleh rekan-rekannya di udara, ia memilih warna merah menyala.
Pada awalnya hanya Manfred sendirian yang menggunakan pesawat berwarna merah. Awalnya ia dijuluki “Le petit rouge“, dan pernah dikira “Joan of Arc” atau wanita sekaliber itu karena warna merah identik dengan wanita. Tapi segera semua orang tahu siapa yang duduk di dalam pesawat merah. Setiap kehadirannya dapat langsung meningkatkan semangat pasukan darat dan mengendurkan semangat pasukan lawan. Demi melindungi Manfred yang terlalu mencolok itulah, para anggota skuadronnya memutuskan untuk ikut mengecat merah pesawat mereka juga. Untungnya, kepiawaian tempur mereka membuktikan bahwa mereka juga pantas mengenakan simbol yang sama dengan pemimpin mereka.
Korban Manfred kebanyakan penerbang Inggris, dan ia memang lebih suka menghadapi orang Inggris. Baginya, penerbang Prancis pengecut, karena lebih memilih kabur kalau bertemu dengannya. Penerbang Inggris umumnya berani menantangnya atau menerima tantangannya. Kalau dipikir-pikir, antara pintar dan pengecut atau berani dan bodoh itu memang tipis bedanya. Kalau sudah tahu lawan yang dihadapi adalah the Red Baron, memangnya salah kalau memilih kabur?
Karena itulah Inggris sampai membentuk skuadron khusus dengan tujuan utama menghancurkan Manfred von Richthofen. Pilot yang berhasil menembak jatuh atau menangkapnya akan mendapat Victoria Cross, promosi, pesawat pribadi, 5.000 poundsterling, dan hadiah khusus dari pabrik pesawat yang digunakan si pilot. Bersama skuadron itu akan terbang juru kamera yang akan merekam seluruh kejadian dengan tujuan film propaganda British Army. Apa yang dipikirkan Manfred von Richthofen ketika membaca berita spesial itu benar-benar kocak!
Pada tanggal 6 Juli 1917, Manfred terluka dalam sebuah dog-fight. Deskripsinya tentang apa yang terjadi ketika kepalanya tertembak dan pesawatnya jatuh benar-benar membuat kita dapat merasakan berada di kokpit pesawat dan terluka bersamanya. Ia selamat dengan luka parah di kepala dan dadanya. Tapi, karena beberapa waktu sebelumnya adiknya Lothar juga terluka dan dirawat di rumah sakit, yang terpikir olehnya malah siapa di antara mereka yang bisa terbang lebih dulu. Dasar kompetitif!
Manfred von Richthofen menulis dan menerbitkan jurnal perangnya selama masa perawatan (berdasarkan instruksi bagian propaganda Angkatan Udara Jerman). Kalau sebelumnya ia sudah terkenal di kalangan militer baik di pihaknya sendiri maupun pihak lawan, kali ini ia mendadak jadi selebriti dan idola buat masyarakat kebanyakan, yang membanjirinya dengan surat penggemar. Bahkan London Times juga menulis review bukunya, padahal waktu itu perang belum berakhir.

Manfred von Richthofen

Lahir tanggal 2 Mei 1892 sebagai putra tertua dari tiga bersaudara memang tak terhindarkan sebagai seorang prajurit karena mengikuti tradisi keluarga bangsawan Prusia yang militeristik pada saat itu. Karir militernya dimulai saat menjadi perwira kaveleri 1st Regiment of Uhlan, April 1911. Saat perang parit dimulai setahun setelah perang dunia I meletus, kaveleri tidak begitu terpakai sehingga Richthofen memutuskan untuk pindah ke bagian dinas udara. Padahal ia tidak tahu menahu soal terbang bahkan mulanya sempat mengganggap remeh, tapi itu lebih baik daripada menjadi infanteri ! Mulai karir sebagai observer pada pesawat intai tanggal 10 Juni 1915 dan mulai merasakan bertempur tiga bulan kemudian dan berhasil menembak sebuah Farman Perancis walapun kemenangan ini tidak diakui karena jatuh diwilayah lawan.

Peristiwa inilah yang memacu Richthofen untuk belajar sebagai pilot yang akhirnya berhasil didapatkannya Maret 1916. Mimpinya adalah sebagai pemburu yang menembak jatuh lawan baru kesampaian saat diajak ace top dan guru strategi tempur udara Lt. Oswald Boelcke yang mengajak bergabung dalam skuadron tempur. Ia meraih kemenangan pertama tanggal 17 September 1916 atas pesawat pengintai FE 2b RAF(AU Inggris). Kemenangan demi kemenangan diperoleh sehingga ia menjadi ace top dan pahlawan nasional Jerman, apalagi setelah sang guru Oswald Boelcke tewas akibat kecelakan terbang. Pada saat itulah, seluruh pesawat tempur skuadron Jerman dicat warna-warni menyolok bak pemain sirkus yang bertujuan menciutkan nyali penerbang sekutu. Termasuk Richthofen yang memakai warna merah terang, terinspirasi dari warna seragam kaveleri Uhlan yang mengibarkan nama legendaris Red Baron dan Flying Circus.

Meskipun beberapa kali nyaris tertembak dan tewas dalam pertempuran udara, tidak pelak lagi kehadiran dan kemampuannya memimpin berhasil membuat takut dan kekalahan yang besar bagi armada udara sekutu April 1917 yang terkenal sebagai Bloody April. Tidak seperti pilot sekutu yang mengandalkan kemampuan individu, Richthofen unggul karena mengutamakan aksi tim / skuadron dan taktik hebat yang dikembangkan mendiang Boelcke yang sering disebut Boelcke Dicta.
Memang tidak ada yang abadi, Richthofen hanya manusia biasa yang dapat mati dan melakukan kesalahan. Ia terbang sendirian, terlalu jauh dan terlalu lama di wilayah musuh pada hari naas itu. Walaupun masih kontroversial apakan benar Roy Brown yang menembak jatuh atau akibat tembakan artileri tapi yang jelas merupakan pukulan berat bagi AU Kekaisaran Jerman. Walau dianggap musuh toh ia mendapat penghormatan militer layaknya seorang pahlawan.

Tanggal 19 November 1925, jenazah Richthofen dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan dengan pengiring Presiden Jerman sendiri yaitu von Hidenburg, sang ibu, dan adik Bolke Richthofen. The Red Baron dikubur tepat disamping sang ayah dan adik kedua, Lothar yang meninggal dunia akibat kecelakaan terbang tahun 1922.
Bagi seluruh penerbang tempur dunia tahu kebesaran nama Richthofen dan jumlah kemenangannya yang merupakan ace top saat Perang Dunia I. Meskipun pada Perang Dunia II banyak pilot tempur yang meraih angka kemenangan jauh melebihi prestasinya tapi situasi jelas jauh berbeda pada saat itu dimana keterampilan terbang, tempur, dan insting lebih dominan dibanding keunggulan teknologi. Oleh karena itu tak pelak lagi Red Baron adalah “ACE TERBESAR SEPANJANG SEJARAH.”

Hari-Hari Terakhir Red Baron

Pagi hari yang berkabut tanggal 21 April 1918, Richthofen melangkah menuju hangar pesawat di Chappy. Sejak bergabung di AU Jerman ia sudah menunjukan keterampilannya sebagai pilot jagoan dan menjadi algojo udara bagi musuh-musuhnya penerbang Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada. Di zaman itu pertempuran udara tidak seperti saat sekarang yang berlangsung cepat dan terkadang kedua pesawat yang terlibat bahkan belum saling melihat lawannya. Pertempuran udara era Perang Dunia I tak ubahnya sebuah perkelahian buas, perjuangan hidup mati di angkasa. Masa hidup seorang penerbang rata-rata paling lama hanya 3 minggu sebelum akhirnya tewas ditembak jatuh lawannya.
Richthofen pun tahu itu tapi tampaknya musuhnya-lah yang harus gentar. Sebab bila Red Baron mengangkasa pasti ada beberapa pesawat lawan yang ditembak jatuh olehnya. Maka pagi itu seperti penerbangan sebelumnya.pria berumur 26 tahun itu kelihatan santai dan tenang. Rutin. Tak terlihat raut muka tegang seperti prajurit yang akan maju ke medan tempur.

Melangkah pelan sambil merapatkan jaket kulit penerbangnya dan di depan pintu hangar, seekor anak anjing lucu menarik perhatiannya. Ia berjongkok dan bermain-main dengan anak anjing itu. Seorang juru foto melihat kejadian unik itu berlari mendekat. “Tuan Richthofen,” katanya. Richthofen menoleh sambil tersenyum didepan lensa kamera. Ya, ia memang pahlawan besar dan selalu diincar wartawan. Prestasi luar biasa dengan menembak jatuh 80 pesawat musuh selalu menjadi pembicaraan hangat dan diberitakan lewat surat kabar ke seluruh dunia. Bahkan setahun yang lalu pada bulan yang sama, Manfred von Richthofen pernah menembak jatuh sebanyak 5 pesawat musuh hanya dalam satu hari saja !
Ada tahkyul yang beredar luas dikalangan penerbang bahwa pantang bagi pilot difoto sebelum berhasil melaksanakan tugas. Richthofen tak percaya tahkyul. Jika pantangan itu dilanggar niscaya nasib sial akan selalu membayangi. Namun dengan kebesaran nama Red Baron tak sebersit sedikitpun tentang kepercayaan itu.

Berikut perjalanan waktu keterlibatan The Red Baron dalam pertempuran udara :

  • September 1915
    Dalam tempur udara kedua (masih sebagai pengamat), Richthofen membuat jatuh sebuah pesawat Perancis. Tapi Richthofen tidak mencatatnya sebagai kemenangan.
  • 24 April 1916
    Richthofen pertama kali menerbangan pesawatnya sebagai seorang pilot. Dengan pesawatnya itu dia berhasil menembak jatuh sebuah Nieuport Perancis. Dan sekali lagi, kemenangan itu tidak tercatat dalam kemenangan tempur udaranya.
  • September 1916
    Saat menemui Oswald Boelcke, Richthofen ditugaskan di Front Barat. Richthofen mengawali karir sebagai penerbanga tempur dengan Jagdstaffel 2, pesawat terbang Albatros D. II dengan sayap ganda (biplane) . Meskipun Richthofen dikenang dunia sebagai Red Baron dengan pesawat tempur Fokker Dr.I bersayap tiga tingkat (triplane), tapi sebenar dia lebih lama menghabiskan sebagian besar waktu terbangnya dengan pesawat tempur Albatros D.II dan D.III.
  • 17 September 1916
    Skor kemenangan Richthofen udara pertama kali dikonfirmasi.
  • 23 November 1916
    Seorang penerbang tempur andalan Inggris, Mayor Lanoe Hawker, menjadi korban kesebelas Richthofen.
  • 4 Januari 1917
    Richthofen membukukan kemenangan pertempuran udaranya yang ke-16, sehingga membuatnya menjadi The Ace dari Jerman. Selanjutnya pada tanggal 12 Januari 1917, Richthofen menerima anugerah Pour Le Mérite (“Blue Max”) dan ditetapkan sebagai komandan Jasta 11. Sejak itu Richthofen memutuskan untuk mengecat pesawat tempurnya dengan warna merah dengan maksud agar mudah dikenali oleh sekutu-sekutunya pada saat dia sedang terbang. Richthofen mengatakan bahwa ia memilih warna merah karena warna resimen kavaleri Uhlan dimana dia mengawali karier militernya. Hal ini diikuti oleh para penerbang di skuadronnya yang menggunakan warna merah untuk menunjukkan solidaritas. Pada saat perang, beberapa pesawat Inggris menggunakan warna merah pada bagian hidung pesawat yang mengumumkan niat mereka untuk memburu The Red Baron.
  • 9 Maret 1917
    Richthofen ditembak jatuh di atas Oppy, tapi terbang lagi pada hari yang sama.
  • 7 April 1917
    Richthofen dipromosikan untuk Rittmeister.
  • 8 April 1917
    Sayap bawah Albatros D. III tidak bisa digerakkan untuk kedua kali saat diterbangkan oleh anggota lain Jasta III dalam sebuah penerbangan. Dengan marah Richthofen menulis surat ke Berlin. Dan hasilnya adalah kedatangan seorang desainer pesawat Anthony Fokker yang segera mengamati kendala pada sayap bagian bawah itu. Anthony Fokker telah mengamati Sopwith Triplane milik Inggris, dan ini membuatnya memutuskan untuk membangun Fokker Dr.I bersayap tiga tingkat (triplane) .
  • 29 April 1917.
    Richthofen menembak jatuh empat pesawat musuh dalam satu hari. Bulan tersebut juga dikenal sebagai “Bloody April”. Inggris telah kehilangan 912 pilot dan pengamat selama bulan April itu, sementara Richthofen mencetak 21 kemenangan yang luar biasa selama periode yang sama. Setelah kemenangan 41 nya, Richthofen diperintahkan cuti. Ia menghabiskan liburan dengan berburu di kota asalnya, dan juga bertemu dengan Kaiser Wilhelm.
  • 24 Juni 1917
    Jagdgeschwader 1 (Fighter Wing 1) dibentuk dan dibawah komando Manfred von Richthofen. Skuadron tempur ini kemudian diganti namanya menjadi “Jagdgeschwader Frieherr von Richthofen” untuk menghormatinya.
  • Juli 1917
    Richthofen ditembak jatuh oleh Capt Cunnel Douglas dan Lt. Albert Woodbridge. Meskipun selamat, tapi dia telah mengalami luka tembak serius di kepala. Dengan segera dia dipensiunkan dari pertempuran udara dan dilarang terbang kecuali benar-benar diperlukan. Richthofen mulai menghabiskan lebih banyak waktu di bagian administrasi dan bagian umum lainnya. Tapi akhirnya ia kembali ke medan pertempuran udara ketika para pemimpin Jerman menyadari bahwa mereka tidak memiliki penerbang tempur yang lebih baik selain Richthofen.
  • Agustus 1917
    Fokker triplane yang pertama dikirim untuk skuadron tempur Jagdgeschwader 1.
  • 1 September 1917
    Richthofen membukukan kemenangannya yang ke-60. Kemenangan ini menjadi kemenangan pertamanya setelah menggunakan pesawat tempur Fokker Dr.I triplane. Pada 6 September 1917, dia mengambil cuti untuk penyembuhan sakit pada kepalanya. Pada bulan berikutnya ia kembali menggunakan pesawat tempur VD Albatros.
  • April 1918
    Richthofen mencatat dua kemenangan lagi saat terbang menggunakan Fokker Dr.1 triplane. Meskipun pesawat tempur yang ia terbangkan sebagian besar adalah pesawat terbang bertype biplane pada hampir seluruh karirnya, dan pesawat-pesawat terbang itu juga dicat dengan warna merah, Fokker Dr.1 triplane inilah yang membuatnya dikenal dunia dengan sebutan The Red Baron.
  • Pada tanggal 21 April 1918, Richthofen mengikuti pesawat tempur Camel Sopwith yang dikemudikan pilot Wilfred May hingga masuk jauh ke wilayah Inggris hingga sebuah peluru yang ditembakkan dari belakang menembus dadanya. Tembakan ini diyakini berasal dari penembak Australia di tanah, tapi mungkin juga berasal dari senjata penerbang Kanada Arthur “Roy” Brown yang datang untuk membantu May. Pesawat yang dikemudikan Manfred von Richthofen terhempas di sebuah lapangan yang terletak di samping jalan antara Corbie dan Bray. Tubuhnya ditemukan oleh pasukan Inggris, dan dia dikuburkan dengan upacara militer penuh.

Detik-detik tewasnya Red Baron

Pukul 10.15 pagi, Fokker berwarna merah menyala itu meluncur ke angkasa bersama dua lusin pesawat tempur lainnya. Tujuannya Sailly-le-Sec, lembah Somme, Perancis dalam misi offensive patrol. Red Baron memimpin rombongan pesawat itu yang juga sering disebut sebagai “Richthofen’s Flying Circus ” atau “Sirkus Terbang Richthofen” dan gemuruh mesinnya meraung dan mengusik ketenangan pedesaan Jerman.
Di pihak lain pada waktu yang hampir bersamaan, Kapten Roy Brown, pilot kebangsaan Kanada berusia 24 tahun juga meluncur ke angkasa dari aerodrome Bertangles, Perancis. Dibanding Red Baron, bagai bumi dengan langit, Brown masih belum apa-apa karena baru berhasil menjatuhkan 12 pesawat Jerman. Bahkan di skuadronnya sekalipun yaitu skuadron 209 RAF (AU Inggris), Brown tidak jauh berbeda dengan puluhan pilot lain dan tidak pernah dielu-elukan sebagai pahlawan. Roy Brown seperti penerbang Sekutu lainnya sudah sering mendengar cerita tentang Red Baron dengan Fokker merahnya dan ia menaruh kagum terhadap musuhnya itu. Sebaliknya Manfred von Richthofen sama sekali tak pernah mendengar nama Roy Brown, pilot Kanada yang pada pukul 11.00 sedang melakukan patroli rutin di ketinggian 10.000 kaki bersama dengan 15 pesawat tempur buatan Inggris Sopwith Camel ke wilayah Sailly-le-Sec.

Dua pesawat pengintai jenis RE8 sedang terbang rendah di wilayah itu. Malang bagi mereka rombongan “Sirkus Terbang” melihatnya. Maka dimulailah pembantaian udara tak mengenal kasihan. lebih dari 20 pesawat tempur Jerman siap mengeroyok dua pesawat pengintai yang lamban dan tak berdaya !


Di ketinggian Roy Brown melihat pembantaian yang terjadi di bawah. Ia dan teman-temannya segera membantu seraya menukik tajam ke ketinggian 3,000 kaki dimana pesawat-pesawat Jerman itu berada. Mereka tahu bahwa mereka kalah jumlah dan kualitas. Jerman dengan 25 pesawat dengan penerbang sangat terlatih melawan 15 pesawat Inggris, 8 diantaranya pun merupakan pilot-pilot Australia yang masih “hijau” dan baru saja tiba di Perancis. Kedelapan pilot itu dilarang bertempur sampai cukup pengalaman berduel di udara. Salah satu pilot Australia itu adalah Letnan Wilfred May. Sempat ragu melihat keperkasaan Fokker-Fokker Jerman tapi segera dibuang pikirannya jauh-jauh. Keselamatan dua pengintai itu jauh lebih penting pikirnya. May nekat membawa pesawatnya masuk ke kancah pertempuran dimana seharusnya ia menghindar ke tempat yang aman. Munculnya rombongan Sopwith Camel secara mendadak mengejutkan pilot-pilot Jerman. Beberapa detik kemudian empat Fokker ditembak jatuh dengan sebuah diantaranya milik May.

Namun May tak dapat merayakan keberhasilan first kill-nya ini. Sang Red Baron melihat pesawatnya dan segera menjadikannya calon korban ke-81. Dalam beberapa kali tembakan beruntun dari sepasang senapan mesin Spandau-nya, pesawat May tercabik-cabik. Harapan satu-satunya kabur dengan terbang rendah menginggalkan pertempuran sambil berlindung dibalik tembakan artileri udara Sekutu. Sayang Red Baron terus memburunya laksana elang memburu mangsa, sepertinya dalam hitungan detik sudah jelas siapa pemenangnya. Roy Brown melihat kejadian itu dan segera meninggalkan arena pertempuran untuk membantu May. Letnan May masih berusaha menghindar tapi takkan bisa menandingi kehebatan Red Baron. Dengan satu rentetan tembakan Red Baron pasti akan memenangkan duel udara melawan May.

Namun tepat diatasnya Sopwith Camel milik Roy Brown melayang mendekati ekor Fokker milik Red Baron. Nyaris tak ada gerakan mengelak dari Red Baron karena terlalu sibuk mengikuti pesawat May dan memilih saat yang tepat untuk menghabisinya. Bahkan pilot sekaliber Red Baron-pun bisa lupa akan aturan utama bagi setiap pilot pemburu yaitu always check your six ! Benarlah, begitu ekor Fokker muncul dihadapan Brown tanpa membuang waktu lagi ia menekan tombol sepasang senapan mesin Vickers yang terpasang dihidung pesawatnya. Ratusan peluru menghambur dengan cepat seraya merobek warna merah menyala kulit pesawat Red Baron yang selama ini menjadi momok penerbang Sekutu. Detik itu juga Red Baron baru sadar, berusaha mengelak tapi terlambat. Hantaman peluru menerjang kabin pilot dan mesin pesawatnya. Seketika itu Fokker milik Red Baron terbakar dan melayang makin rendah dan menghujam ladang gandum di wilayah Sailly-le-Sec. Saat itu Roy Brown dan Wilfred May tidak menyadari bahwa mereka baru saja berduel sekaligus menembak jatuh jagoan udara dan pahlawan nasional Jerman yang terkenal ke seluruh penjuru dunia.


Sisa-sisa Fokker Red Baron (kiri). Dengan upacara kemiliteran (kanan), Red Baron disemayamkan di sebuah pemakaman kecil Bertangles sore hari tanggal 22 April 1918 dengan melibatkan 12 orang berpangkat Kapten dari Skuadron 3 RAF (Australia) menembakan salvo ke udara sebagai tanda penghormatan terakhir.

Manfred von Richthofen ditemukan tewas dalam pesawatnya oleh infanteri Inggris dengan sebuah peluru menembus jantungnya. Sementara itu di Chappy, puluhan wartawan dan pemain musik sibuk bersiap-siap menyambut Red Baron pulang dengan membawa kemenangan udara. Tak terkecuali si juru foto yang memotret di depan hangar pesawatnya tadi. Ia berharap sang Red Baron akan kembali dengan gagah sehingga ia berkesempatan mengabadikan gambarnya yang legendaris itu sekali lagi….

Meskipun sering bersenggolan dengan Maut, Manfred von Richthofen jarang benar-benar terluka. Namun, keberuntungannya berakhir pada tanggal 21 April 1918 ketika ia tertembak jatuh oleh Captain Roy Brown (catatan resmi demikian, meskipun sekarang terbukti bahwa peluru yang membunuh von Richthofen berasal dari anti-aircraft gun di darat). Ia dikebumikan secara militer dan penuh kehormatan oleh pihak Inggris.
Ia gugur di usia dua puluh lima tahun.

If I should live through this war, I shall have more luck than sense. — Manfred von Richthofen

Versi Lain Kematian Manfred von Richtofen
Dalam kombat udara 6 Juli, Manfred von Richthofen terluka berat pada kepalanya hingga hingga ia terpaksa mendarat dekat Wervicq dan tidak bisa terbang untuk beberapa minggu. Kemenangan atas jago termpur Jerman ini diaraih oleh Captain Donald Cunnell yang tewas beberapa hari kemudian. Hari fatal bagi ace nomor satu Jerman ini terjadi pada pukul 11.00 pagi 21 April 1918. Manfred von Richthofen tewas, hanya 12 hari menjelang ulang tahunnya ke-26, saat terbang di atas bukit Morlancourt, dekat sungai Somme. Pada waktu itu Red Baron sedang mengejar pilot junior Kanada, Letnan Wilfrid “Wop” May dari RAF (Royal Air Force). Manfred von “Red Baron” Richthofen yang sedang mengejar May dilihat oleh flight comannder Kapten Arthur “Roy” Brown juga dari Kanada. Brown menukik turun menyerang Richthofen tapi serangan itu bisa dielakkan, ia lalu kembali mengejar May.

Pada pengejaran May itulah, diperkirakan sebuah peluru .303 melukai hati dan paru-paru Manfred von Richthofen dan mempercepat kematian sang jago tempur Jerman itu. Pada detik-detik terakhir hidupnya, The Red Baron masih mampu mendaratkan pesawatnya di suatu ladang dekat jalan Bray-Corbie, sebelah utara dari desa Vaux-sur-Somme, sektor yang dikontrol Australian Imperiaal Force (AIF). Seorang saksi mata, gunner George Ridgeway mengatakan, saat dia dan pasukan Australia tiba di pesawat, Red Baron masih hidup tetapi beberapa saat kemudian meninggal. Saksi mata lainnya, Sersan Ted Smout dari Australian Medical Corps mengutip kata terakhir yang keluar dari mulut Manfred von Richthofen mengatakan “kaput” (habis) sebelum ia menetup mata untuk selama-lamanya. Belum juga dapat dipastikan peluru milik siapa yang mengakhiri karier The Red Baron.

SUMMARY
Manfred von Richthofen lahir pada tanggal 2 Mei 1892 Breslau, Jerman (kini Wroclaw Polandia). Ia meninggal di Vaux sur Somme, Perancis, pada tanggal 21 April 1918, menjelang usianya yang ke 26 tahun. Rekan-rekan di sekuadron terbangnya sering memanggilnya dengan sebutan der rote Kampfflieger (The Red Battle-Flyer), Orang Prancis menyebutnya le petit rouge, dan dunia lebih mengenalnya dengan sebutan The Red Baron. Dan pilot muda ini pun hadir sebagai penerbang tempur yang sangat ditakuti pada masa Perang Dunia I.
Pada masa Perang Dunia I, saat pesawat terbang tempur masih terbuat dari kayu dan kain, dua puluh kemenangan pertempuran udara membuat seorang pilot mendapat status sebagai pilot legendaris dan berhak untuk penghargaan Pour Le Mérite (“Blue Max”), Richthofen telah membukukan 80 kemenangan pertempuran udara. Dan hari ini dianggap sebagai The Ace of Aces.
Manfred von Richthofen adalah putra dari Mayor Albrecht von Richthofen, seorang bangsawan Prusia. Manfred adalah sulung dari tiga bersaudara. Pada usian 11 tahun dia terdaftar sebagai siswa sekolah militer di Wahlstatt, dan kemudian belajar di Royal Military Academy Lichterfelde. Manfred lebih pantas disebut sebagai atlet daripada seorang pelajar. Salah satu keterampilan olah-raga yang dikuasainya adalah menunggang kuda. Keterampilan itu untuk membuatnya menjadi seorang perwira kavaleri. Pada bulan April 1911 dia bertugas di Resimen 1 Uhlans Kaiser Alexander III. Dan pada tahun 1912 dia dipromosikan menjadi Letnan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s