MANUSIA MENEMUKAN ILMU PENGETAHUAN

0

Dari generasi ke generasi, manusia selalu berusaha mengetahui mengapa suatu fenomena bisa terjadi, mereka selalu tertarik untuk dapat menjelaskannya, lalu kemudian berusaha memanfaatkan pengetahuan tentang fenomena-fenomena alam itu untuk kemudahan hidupnya. Menurut Rummel (1958), pada dasarnya proses berpikir yang dilakukan manusia telah terjadi dalam empat periode, yaitu: (1) periode mencoba-coba; (2) periode otoritas; (3) periode argumentasi; dan (4) periode hipotesis dan eksperimen. Mari kita bahas satu per satu.

1. Periode Mencoba-Coba

Pada jaman dahulu, orang menggunakan proses berpikir mencoba-coba (trial and error). Dapat dimengerti, pada jaman ini, dengan pola berpikir yang demikian pengetahuan yang dimiliki umat manusia berkembang dengan sangat lambatnya. Cara-cara yang dilakukan tidak pasti. Untuk memperoleh suatu pengetahuan, manusia melakukan begitu banyak kesalahan dan kegagalan dahulu sebelumnya. Oleh sebab itu, seringkali manusia pada jaman ini mengambil kesimpulan yang keliru. Kita contohkan begini. Anggap saja di depan kita ada sebuah pintu yang ingin anda buka, dan anda mempunyai 150 anak kunci di tangan anda, di mana salah satu anak kunci itu dapat membuka pintu tersebut. Dengan menggunakan proses berpikir mencoba-coba, anda akan memasukkan secara bergantian satu demi satu anak kunci tersebut hingga akhirnya pintu dapat dibuka. Faktor kebetulan lebih memegang peranan di sini. Cepat atau lambatnya anda menemukan anak kunci yang tepat untuk membuka pintu bergantung sepenuhnya pada faktor kebetulan. Sebenarnya cara berpikir coba-coba sampai saat ini juga masih digunakan.

2. Periode Otoritas

Periode otoritas dalam proses berpikir manusia ditandai dengan pengaruh besar pada pemegang otoritas (kekuasaan) terhadap cara berpikir manusia. Periode ini berhasil dicapai setelah manusia begitu lama bergelut dengan proses berpikir mencoba-coba. Pemegang otoritas menjadi sandaran kebenaran suatu ilmu pengetahuan, misalnya raja, gereja, bangsawan, dan sebagainya. Kata-kata pemegang otoritas adalah kebenaran dan tidak dapat dibantah. Oleh karena itu, ketika Nicolaus Copernicus pada masanya menyatakan bahwa pusat tata surya kita adalah matahari, maka dihukum penggal lah ia. Kebenaran yang berlaku saat itu dipegang oleh raja dan gereja, di mana menurut pengetahuan pemegang otoritas, pusat atata surya kita bukan matahari melainkan bumi.

3. Periode Argumentasi

Periode kegita proses berpikir manusia adalah jaman periode argumentasi. Pada masa ini, kebenaran (ilmu pengetahuan) tidak lagi dipegang oleh pihak-pihak yang memiliki ototritas, akan tetapi lebih dipegang oleh para pemikir. Sumber pengetahuan manusia pada jaman ini adalah para pemikir tersebut. Kebanyakan para pemikir pada periode argumentasi, juga merupakan para orator (ahli pidato) yang mampu menyampaikan pemikiran-pemikirannya bahkan melalui perdebatan (adu argumentasi). Pada masa-masa periode argumentasi, kebenaran dipegang para pemikir dan orator ulung. Orang-orang awam hanya menyaksikan dan mendengarkan mereka yang sedang beradu argumen. Sesuatu dianggap benar oleh khalayak umum apabila argumen-argumen yang disampaikan masuk akal. Kebenaran menjadi sulit diterima dan dapat berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Pada periode ini belum dikenal pembuktian kebenaran.

4. Periode Hipotesis dan Eksperimen

Periode keempat, yaitu periode hipotesis dan eksperimen muncul ketika pada periode argumentasi sering muncul ketidakpuasan di mana suatu kebenaran tidak mutlak sifatnya dan belum tentu dapat diterima oleh semua orang. Banyak orang menjadi ragu terhadap suatu kebenaran ketika mereka tidak dapat membuktikan kebenaran atau pengetahuan tersebut. Oleh karena itu muncullah periode hipotesis dan eksperimen. Pada masa ini kebenaran adalah milik semua orang karena semua orang dapat melakukan pembuktian.

Iklan

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN TUHAN MENURUT SARTRE

0

Kebebasan Manusia Menurut Jean Paul Sartre 

 Perdebatan tentang manusia menjadi tema yang tidak pernah berhenti diperbincangkan. Manusia kerap dihadapkan pada menggumpalnya hasrat mencari tahu siapakah sejatinya dirinya? Apa sekiranya tujuan keberadaannya di tengah dunia? Bagaimana seharusnya ia hidup sebagai manusia? Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti ini telah banyak dikupas oleh para filosof dari berbagai era dan aliran pemikiran filsafat. Jean-Paul Sartre (1905-1980) menjadi salah satu filosof yang akrab menggumulinya terutama dalam kerangka pemikiran eksistensialismenya.

Existensialism is a Humanism merupakan salah satu karya representatif eksistensialisme Sartre. Karya ini awalnya merupakan ceramah yang presentasi dan publikasinya dimaksudkan sebagai tanggapan terhadap kritik-kritik yang dialamatkan kepada pemikirannya, sekaligus merupakan upaya mempertegas konsepsi eksistensialismenya sendiri. Sartre barangkali tidak pernah mengeksplisitkan maksud proyek eksistensialismenya sebagai sebuah kajian filosofis tentang manusia. Tetapi dalamExistensialism is a Humanism kelihatan sekali bahwa Sartre berupaya mencerahkan pembacanya melalui tesis-tesis dan argumentasi filosofis tentang siapakah manusia pun bagaimana seharusnya menjadi manusia. Berangkat dari asumsi itu, berikut ini penulis berupaya menggali dan memperkenalkan konsep Sartre tentang manusia dengan memanfaatkan pembacaan terhadap karyanya, Existensialism is a Humanism.


Siapakah Manusia Menurut Sartre?

Gagasan Sartre tentang manusia diselipkan dalam kajiannya tentang beberapa konsep dasar eksistensialismenya seperti ‘Eksistensi Mendahului Esensi’ dan ‘Humanisme.’ Maka dalam terang kedua konsep ini, penelusuran ‘siapakah manusia’ itu akan dilakukan.

1) Eksistensi Mendahului Esensi

Eksistensi mendahului esensi (Existence comes before Essence) merupakan salah satu konsep penting dalam bangunan eksistensialime Sartre. Apa yang sekiranya dimaksudkan Sartre dengan konsep ini? Sartre sejatinya berupaya mengukuhkan subjektivitas manusia dan di sisi lain menendang jauh-jauh keberadaan Tuhan dengan segala argumentasi yang menyokongnya. Subjektivitas manusia dan keberadaan Tuhan seperti berada pada polaritas yang berbeda dan saling meniadakan. Untuk mengukuhkan subjektivitasnya, manusia mesti menyingkirkan Tuhankarena subjektivitas tak pernah bertoleransi dengan segala bentuk determinisme.

Untuk menjelaskan konsep eksistensi mendahului esensi, Sartre memulainya dengan memakai contoh pembuatan pisau kertas (paper-knife) oleh seorang artisan. Apa yang terlebih dahulu exist tentu bukan produk material pisau, tetapi segala konsep tentang pisau entah bentuk, cara pembuatan, maksud dan cara penggunannya. Konsep ini bercokol dalam benak artisan sebagai pre-existent technique. Tapi logika ini adalah logika esensi mendahului eksistensi, jalan berpikir yang tidak bisa dikenakan pada Tuhan yang de facto tidak bereksistensi. Ketika menyebut Tuhan sebagai Pencipta, sebetulnya kita sedang mengenakan pada Tuhanmodel kerja seorang artisan. Ketika menciptakan manusia, kita menganggap bahwa dalam benak Tuhan telah bercokol berbagai konsep tentang esensi manusia entah kodrat manusia sebagai makhluk rasional, citra Tuhan, ens sociale, dan sebagainya.

Konsep seperti inilah yang ditentang Sartre melalui eksistensialisme ateistiknya: “Oleh karena Tuhan tidak exist maka setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya mendahului esensinya, makhluk yang ada sebelumnya dapat dibatasi oleh konsep-konsep tentang eksistensinya. Makhluk itu adalah manusia.” Dengan tesis inilah, Sartre menegaskan hakikat manusia sebagai being yang eksistensinya ada sebelum esensinya. Di sisi lain, keberadaan Tuhan dibatasi oleh berbagai definisi manusia tentang eksistensinya sendiri. Artinya, Tuhan ada sejauh manusia mendefinisikannya atau tegasnya,Tuhan melulu merupakan ciptaan atau buah pengatribusian oleh manusia saja.

Sampai di sini, pertanyaan yang mendesak diajukan adalah profil manusia macam manakah yang dimaksudkan Sartre dengan ‘manusia yang bereksistensi sebelum esensi?’ Pertama, Manusia sebagai Adalah. Eksistensi mendahului esensi berarti bahwa “manusia pertama-tama itu ada, menjumpai dirinya, mentas ke dalam dunia dan kemudian mendefinisikan siapa dirinya.” Manusia bukan apa-apa sebelum ia menjadi apa yang dikehendakinya sendiri untuk menjadi. Dengan kata lain, pada awal keberadaannya manusia tidak mengenakan definisi apapun tentang dirinya. Dalam arti inilah, Sartre menolak segala konsepsi tentang kodrat manusia sebab tidak ada Tuhan yang memiliki konsepsi apapun tentang manusia. Sebagai makhluk yang bereksistensi sebelum esensi, manusia tidak terikat atau terbelenggu pada berbagai pasokan definisi tentangnya. Manusia berkebebasan menentukan sendiri siapakah dirinya. Manusia ibarat buku tulis kosong yang kemudian di sepanjang hidupnya menyusun isi bukunya dengan tulisan-tulisan tangannya sendiri. Manusialah yang membentuk dirinya sendiri. Itulah sebabnya, Sartre menyebut manusia sebagai adalah (Man simply is). Manusia selalu terus-menerus bergerak maju memformulasi dirinya.

Pada titik ini kita menemukan nilai intrinsik tanggung jawab dalam kemanusiaan manusia. Sartre berujar “Manusia bukan apa-apa tetapi apa yang ia lakukan pada dirinya sendiri.” Artinya, manusia sepenuhnya adalah apa yang ia kehendaki sendiri. Dalam arti ini, Sartre hendak menegaskan bahwa sejak keberadaannya, setiap manusia memikul tanggung jawab untuk menentukan dirinya sendiri dalam ruang kehidupannya masing-masing. Dengan demikian, pengaruh pertama eksistensialisme menurut Sartre adalah menempatkan setiap manusia pada kepemilikan atas dirinya sendiri sebagaimana adanya dia, dan menaruh seluruh tanggung jawab atas keberadaannya di atas pundaknya sendiri. Maka karakter kedua manusia versi Sartre adalah manusia yang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Sampai di sini bukankah kita mendapatkan kesan bahwa manusia Sartrian adalah subjek-subjek tertutup yang semata-mata bertanggung jawab atas dirinya sendiri, yang keberadaannya melulu bernilai untuk dirinya? Di manakah letak tanggung jawab terhadap sosialitasnya? Untuk mengatasi ekstremitas kesan ini, Sartre berupaya membuat dua arti berbeda terhadap konsep subjektivismenya. Subjektivisme di satu sisi berarti kebebasan individual subjek yakni kebebasan dalam memilih dan menentukan hidupnya sendiri. Di sisi lain, termuat arti bahwa manusia tidak dapat melampaui subjektivitas manusia. Ketika manusia memutuskan memilih sesuatu dalam konteks mewujudkan dirinya tentulah ia memilih apa yang bernilai baik untuk dirinya dan dengan sendirinya pilihan itu bernilai baik untuk sesamanya. Dalam arti inilah Sartre melihat letak tanggung jawab individualitas seseorang pada sesamanya. Oleh karena itu, manusia Sartrian bukan saja bertanggung jawab atas hidupnya sendiri tetapi juga bertanggung jawab atas kemanusiaan sesamanya.Meskipun menurut saya, konsep ini menyisakan celah untuk dipersoalkan. Bukankah keputusan bernilai sedemikian subyektifnya sehingga tidak bisa diberlakukan secara objektif?

2) Humanisme Radikal

Sartre juga mengemukakan konsepnya tentang humanisme. Humanisme Sartrian pertama-tama berkarakter radikal karena menyingkirkan sama sekali nilai-nilai yang diproduksi oleh kepercayaan kepada Tuhan pun segala norma yang terkait dengannya. Hanya dengan begitu, setiap manusia dapat menemukan ruang untuk berkreasi menghasilkan nilai-nilai yang digumulinya dalam hidup. Dengan kata lain, penyingkiran Tuhan adalah satu-satunya cara tepat yang memungkinkan manusia menghidupi hndividualitasnya. Itulah sebabnya dengan mengutip perkataan Dostoyevsky, Sartre berkata, “Jika Tuhan tidak ada, segala sesuatu akan menjadi mungkin.” Manusia akan lepas dari cengkeraman kebenaran-kebenaran yang diproduksi dari luar, bebas dari beragam determinasi religius-etis dan menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Dengan konsep ini, humanisme Sartrian sebetulnya melaunching hakikat manusia sebagai makhluk yang bebas. Manusia menggenggam dalam tangannya sendiri kebebasan untuk menentukan hidupnya. Dalam arti ini, kebebasan yang dimaksud Sartre tidak melulu berupa kondisi bebas dari tekanan dan determinasi, tetapi juga keleluasaan di dalam menjalankan tanggung jawab dan tindakan yang perlu bagi kemanusiaannya. Manusia selalu berupa aksi dan kreasi merealisasikan diri. “Ia tidak dapat lain selain serangkaian tindakan dengan dirinya sebagai rangkaian, organisasi, sekumpulan relasi yang menetapkan tindakan-tindakan ini”, begitu kata Sartre. Menentang tuduhan para komunis, Sartre menampilkan model manusia eksistensialnya sebagai manusia yang tidak berkubang dalam quetisme, tetapi bergerak maju merealisasikan diri. Manusia seperti ini memiliki komitmen-diri (self-commitment) atas kehidupannya dan karena itu selalu melibatkan dirinya melalui pilihan tindakan-tindakan subyektifnya.

Manusia versi Sartre memang bukan manusia yang cukup-diri. Kehadirannya selalu merupakan proyek yang belum tuntas terselesaikan. Nilai dan makna dari kemanusiaan manusia senantiasa ditentukan oleh setiap pilihan yang dibuat dan komitmen yang dijalani. Sehingga segala hal untuk, katakanlah kesempurnaan bagaimana menjadi manusia, sebetulnya terletak sepenuhnya pada manusia. Tetapi dengan ini Sartre tidak memaksudkan pandangan humanisme tradisional yang menempatkan manusia sebagai tujuan dari dirinya sendiri atau manusia sebagai nilai tertinggi. Sebab kemudian Sartre mengkonsepkan adanya tujuan-tujuan transenden yang pencapaiannya dimungkinkan oleh sifat manusia sebagai makhluk yang mampu melampaui dirinya (self-surpassing). Pelampauan atau transendensi ini tidak terarah pada tujuan tertentu seperti halnya dalam bahasa kristianitas,‘keserupaan dengan Allah’ atau ‘keselamatan kekal’. Manusia hanya perlu berupaya menyempurnakan kesadarannya sebagai manusia bebas dan bahwa keberlangsungannya bergantung sepenuhnya pada totalitas tindakan yang dipilihnya setiap hari. Dengan begitu manusia memang memberi jaminan untuk kehidupannya sendiri.

Kritik dan Aktualitasnya

1. Pembuktian Ketidakadaan Tuhan

Eksistensialisme ateistik Sartre memang telah memberangus keberadaan Tuhan. Secara eksplisit Sartre berujar bahwa gagasan “Jika Tuhan tidak ada, segala sesuatu menjadi mungkin” merupakan poin awal yang penting bagi proyek eksistensialismenya. Ini berarti segala konsep tentang manusia sebagai ‘adalah’, ‘individu yang bebas’, ‘proyek yang tak pernah selesai’, ‘yang menentukan hidupnya sendiri’ merupakan buah dari pemberangusan Tuhan. Manusia sedemikian terisolir, sendirian, terlempar begitu saja ke dalam dunia dan karena itu memikul tanggung jawab besar untuk realisasi kemanusiaannya. Sebuah gambaran yang diandaikan tidak akan tercipta bila Sartre tidak menendang Tuhan jauh-jauh.

Dalam konteks ini penulis menilai bahwa Sartre sebetulnya tidak memberikan argumen yang adequat tentang ketidakadaan Tuhan. Sartre hanya menempatkan ketidakadaan Tuhan sebagai kondisi atau proposisi yang perlu untuk melegitimasi rangkaian konsepnya tentang subjektivisme manusia. Baginya ketiadaan Tuhan harus menjadi alasan yang mutlak perlu untuk menunjukkan kemandirian dan otonomitas absolut manusia atas hidupnya sendiri. Dengan tidak diikat oleh sistem nilai dan norma religius-etis, manusia sangat berpeluang mengaktivasi kebebasan dan tanggung jawab individual, merakit nilai-nilai secara selektif untuk kepentingannya saja tanpa perlu menanggung beban nilai produksi eksternal. Tapi bukankah dengan merampas legitimitas kebenaran tertinggi dari Sang Tuhan, Sartre merancang relativisasi kebenaran? Kebenaran menjadi sedemikian subjektif dan dalam hal ini argumen nilai tanggung jawab manusia pada sesamanya melalui pilihannya menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi. Jika misalnya kodrat kebernilaian manusia direlativisir, bagaimana mungkin Sartre menjadi sedemikian naif dengan merelakan pembasmian atas hak hidup sesamanya entah dalam perang atau aborsi dengan mengatasnamakan kebenaran subjektif belaka?

Sartre adalah anak zamannya. Ia hidup di tengah berkecamuknya perang dunia II, bergelut dengan perdebatan politik seputar dekolonialisasi Aljazair dan berkecimpung dalam upaya menelusuri jejak-jejak kekejaman Nazi Jerman. Kenyataan penderitaan dan kematian banyak manusia barangkali menjadi alasan bagi penendangan Tuhan dan segala sistem normanya. Sartre tidak mendapatkan kepastian kehadiran Tuhan di tengah situasi eksistensial seperti itu. Jika Tuhan dan agamanya tidak bertindak apapun maka di tangan manusialah perubahan itu semestinya dimulai. Manusialah yang mesti menentukan nasib dan keselamatannya sendiri. Itulah arti terdalam dari menjadi manusia.

Setiap fenomena eksistensial macam kecemasan, penderitaan dan kematian oleh bencana dan perang misalnya, memang menjadi saat-saat menentukan bagi manusia dan disposisi keberimananya pada Tuhan yang disembahnya. Seperti Sartre orang bisa menjadi sedemikian yakin bahwa Tuhan yang terkesan pendiam dan cuek itu tidak benar-benar ada. Tuhan hanyalah ciptaan, produk ketidaksanggupan manusia menentukan hidupnya sendiri. Pada titik ini Sөren Kierkegaard, seorang eksistensialis Kristen tampil mencerahkan kita melalui konsep ‘kebenaran sebagai subjektivitasnya’. Untuk dapat beriman kepada Tuhan, manusia perlu melakukan lompatan iman, bergerak mengatasi segala ketidakmungkinan mendapatkan kepastian objektif tentang Tuhan. Dengan kata lain, beriman tidak mengisyratkan secara mutlak kebenaran objektif tentang keberadaan Tuhan sebab itu berada di luar kompetensi manusia sebagai yang terbatas. Manusia hanya cukup memeluk keyakinan subjektifnya bahwa Tuhan ada dan selanjutnya menghidupi keyakinan itu dengan penuh hasrat dalam kesehariannya.

2. Pemaknaan Kebebasan

Sartre begitu mendewa-dewakan kebebasan.Kebebasan menjadi unsur konstitutif eksistensi manusia, hal yang memungkinkan realisasi-diri dan pemaknaan kehidupannya. Tetapi menjadi terlalu naif ketika Sartre merangkum totalitas manusia sebagai kebebasan. Pandangan ini sedemikian ilusif sebab hampir tak pernah ada kebebasan yang murni. Dalam kajian para strukturalis macam Jacques Lacan misalnya, manusia sejak kecil telah direnggut oleh sistem sosial, dikuasai oleh bahasa orang tua, disituasikan dan ditentukan oleh nama dan beragam peran sosial yang diembannya. Maka dalam konteks ini, pemaknaan kebebasan Sartrian mesti menemukan artikulasinya yang realistis.
Di masa sekarang, keseharian manusia ditandai oleh himpitan interpelatif beragam citra dan makna terberi yang diproduksi oleh sistem-sistem massa. Kehadiran media komunikasi massa macam televisi dan internet berikut segala tampilannya entah gambar, iklan, sinetron ataupun jejaring sosial sungguh merangsang reduktifikasi pemaknaan kemanusiaan. Orang ramai-ramai mengidentifikasikan diri dengan artis-artis idolanya, dengan karakter yang diproduksi sinetron dan film, atau melalui modus konsumsi mereka berupaya mengasimilasi makna yang melekat erat di balik materi atau gaya hidup tertentu. Bukankah kesadaran diri ini menjadi sedemikian manipulatif sebab lahir sebagai produk determinasi struktur sosial belaka?

Sartre tentu akan menggugat pemaknaan manusia yang artifisial seperti ini. Manusia selalu berada dalam proses dan karena itu apa-apa yang digumuli dalam dunia tidak pernah memberikan keselesaian bagi proses pergumulannya. Manusia tidak dapat didefinisikan secara terbatas sebab manusia adalah totalitas tindakan dan pergumulannya di sepanjang hidupnya. Maka konsep kebebasan Sartre menawarkan penciptaan ruang terus-menerus bagi kreasi dan kreativitas memberi makna bagi kemanusiaan manusia dengan membebaskan diri dari belenggu pencitraan sosial. Manusia selalu terbuka pada kemungkinan-kemungkinan, tidak cukup-diri, tetapi selalu terjun ke dalam pergumulan dengan menggenggam komitmen merengkuh kesadaran bahwa dirinya ikut bertanggung jawab(untuk tidak jatuh pada subjektivitas Sartrian yang terkesan tertutup dan antroposentrik) atas eksistensinya sebagai manusia dan sosialitasnya.

Kajian konsep Sartre tentang manusia merupakan tema yang sebetulnya kaya pun dalam hal implikasinya. Pembahasan paper ini mungkin sangat terbatas sebab hanya merupakan upaya meneropong konsep Sartre dalam bukunya, Existensialism is a Humanism. Maka kajian ‘manusia menurut Jean-Paul Satre” senantiasa terbuka bagi eksplorasi lanjut melalui perspektif karya-karya eksistensialismenya yang lain.

Sumber Utama:
Sartre, Jean-Paul, Existensialism is a Humanism, dalam bentuk soft-copy diakses dari http://www.marxists.org/reference/archive/sartre/works/exist/sartre.htm, pada tanggal 15 Mei 2010.

Sumber Penunjang:
Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: Gramedia. 2006.

Apa itu Energi?

0

Pada istilah yang lebih luas, energi adalah segala sesuatu yang nyata dan ada. Kalo kita persempit lagi; energi adalah kuantitas ilusif yang memungkinkan suatu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lainnya. Ada banyak jenis energi, dan lebih banyak lagi cara untuk mengkategorikan jenis-jenis energi tersebut. Panas, cahaya, dan massa adalah tiga cara yang paling penting untuk mengkategorikannya.

Termodinamik, secara literal berarti pembelajaran tentang panas, tapi hukum itu mencakup untuk semua jenis energi. Jadi termodinamik biasanya dipakai untuk menjelaskan tentang entropi, dan entropi dipakai untuk menjelaskan informasi. Dan ya, informasi adalah energi. Ketika saya mengatakan bahwa energi adalah segala sesuatu yang ada, saya tidak mengatakannya dengan enteng.
Berdasarkan pemahaman kita tentang alam semesta, energi adalah.. ya energi
Energi adalah bahan pembuat, kuantitas abstrak dan fundamental dari yang seluruh alam semesta dan segala sesuatu yang ada. Jadi ketika kita menelaah lebih dalam lagi, energi ADALAH semesta dan semesta adalah energi

Bentuk-bentuk energi

Energi dalam berbagai bentuk

 

Bagaimana semua jenis energi berinteraksi dengan yang lain, pada hakikatnya adalah konsep yang sangat penting didalam fisika. Karena ketika kamu menelaah fisika kepada esensi yang paling dasarnya, fisika adalah pembelajaran tentang alam dan interaksi yang berlangsung didalam alam mikroskopis dengan berbagai bentuk energi.

Karena ga ada definisi yang jelas tentang energi secara keseluruhan, saya akan menjelaskan tentang cara yang umum untuk menjelaskan dan mengukur energi. Mari kita mulai dari yang paling dasar:

1. CAHAYA

10402646_10203289510191952_2047114384236977016_n

 

Cahaya mungkin adalah salah satu bentuk energi yang paling menarik. Dia berlaku berlawanan dengan hampir segala sesuatu. Contohnya adalah cahaya, mampu berjalan dengan kecepatan cahaya. Ketika sesuatu yang lain yang mempunyai massa berjalan dengan kecepatan cahaya, menurut pemahaman kita tentang fisika yang ada sekarang, itu akan menyebabkan semesta kita berantakan
Sebagai tambahan, jumlah energi yang ada didalam cahaya ga punya kontribusi apa-apa dengan kecepatannya. Cahaya mempunyai banyak kualitas yang menarik. Seperti superposisi kuantum antara partikel dan gelombang, efek seperti pergeseran merah (Red Shift) dan kenyataan bahwa kecepatan cahaya pada hakikatnya mempunyai hubungan dengan energi (e = mc^2) dan masih banyak lagi.

2. PANAS

Panas adalah sesuatu yang paling relevan ketika kita membicarakan tentang atom. Biasanya dijelaskan sebagai tingkat dari kehebohan sebuah elektron, yang bisa diobservasi pada orbitnya, walaupun penjelasan tersebut terlalu biasa dibandingkan dengan signifikansi panas didalam realitas. Didalam fisika, panas biasanya bukan diungkapkan seperti panas dalam pemahaman awam, biasanya panas diungkapkan dengan istilah “entropi”. Ada banyak penjelasan tentang entropi. Mungkin analoginya seperti ini: “Entropi adalah alasan kenapa memarkir mobil sport didalam hutan hujan selama 500 tahun adalah ide yang buruk.”
Entropi bisa didefinisikan sebagai kondisi ketika sebuah informasi hilang, kerusakan sebuah sistem, penyama-rataan energi, dan alasan utama kenapa mesin “Perpetual Motion” itu mustahil untuk diciptakan.

Tapi bukan berarti entropi itu buruk. Kalo bukan karena entropi, alam semesta akan sama seperti ketika awal semesta diciptakan. Memang benar entropi menyebabkan suatu sistem menjadi rusak. Tapi kerusakan sistem itu bisa membuat ada sistem yang baru untuk muncul.

3. MASSA

Cara yang paling mudah untuk menjelaskan energi didalam massa ada pada persamaan yang paling terkenal yang pernah dikeluarkan oleh Einstein:

E = mc^2

Sepertinya itu sudah cukup jelas untuk menjelaskan relevansi massa dengan energi

4. ENERGI KINETIK

Mungkin adalah jenis energi yang paling familiar untuk kita. Energi kinetik adalah alasan kenapa palu bisa menjadikan paku menempel kepada kayu, alasan kenapa mesin uap mampu untuk menghidupkan kereta, dan kenapa bom bisa menghancurkan kota. Dijelaskan cukup gamblang oleh Newton didalam hukum gerakannya, intinya adalah sesuatu mempunyai tendensi untuk selalu sama sampai sesuatu itu didorong oleh sesuatu yang lainnya.
Jadi apabila sesuatu tidak bergerak, maka sesuatu itu akan tetap diam sampai ada benda lain yang mendorong benda itu, sehingga benda tersebut bergerak ke arah yang sama sampai benda tersebut menabrak sesuatu yang lain yang bisa menghentikannya, atau mendorong benda itu ke arah yang lain.

5. ENERGI POTENSIAL

Sebetulnya penjelasannya agak ribet, tapi simpelnya, energi potensial adalah energi kinetik yang belom terjadi

6. GRAVITASI

10363963_10203289510551961_2492671398729065804_n

Salah satu properti dari sebuah massa adalah gravitasi. Semua yang mempunyai massa pasti mempunyai gravitasi, dan semua yang mempunyai gravitasi pasti mempunyai massa. Ini adalah cara yang paling signifikan untuk massa bisa mempengaruhi sistem yang lain. Gravitasi tersebar ke segala arah didalam kecepatan cahaya, dan gravitasi akan mempengaruhi segala sesuatu yang lain yang mempunyai massa dalam radius tak terhingga.
Yang paling menarik tentang gravitasi adalah, gravitasi akan semakin lemah, berbanding lurus dengan jaraknya, tapi nilainya tidak akan menjadi nol. Apabila diberi waktu yang cukup, maka gravitasi suatu benda mampu mempengaruhi segala sesuatu, apapun itu.

Trivia Time

0

-Angka 0 pertama kali ditemukan oleh matematikawan india kuno yang bernama Aryabhata.

-MSG/Monosodium Glutamat itu bukan penyedap rasa, tapi penguat rasa

-Penasaran kemana arah galaksi kita bergerak? Semua hal yang ada di alam semesta ini bergerak. Planet mengelilingi bintangnya, bintang mengelilingi inti galaksi, galaksi kita bergerak didalam grup lokal galaksi, yang sekarang bergerak kearah kluster Virgo.

-Tau panci teflon? Teflon ato polytetrafluorothene adalah substansi paling licin yang ada di dunia, dan sebetulnya itu ditemukan secara tidak sengaja.

-Ada sekitar 1/13 milyar gram emas disetiap liter dari air laut.

-Saat ini, ada 7 permasalahan matematis yang belom terpecahkan yang dinamakan “The Seven Unsolved Millennium Prize Math Problems”. Yang bisa memecahkan salah satu aja masalah dibawah ini bisa dikasih hadiah 1 juta USD loh
Mereka adalah:
1. Permasalahan P versus NP
2. Dugaan Hodge
3. Dugaan Poincaré (Dipecahkan pada tahun 2002)
4. Hipotesis Riemann
5. Celah eksistensial dan massa Yang-Mills
6. Persamaaan keberadaan dan Kehalusan Navier-Stokes
7. Dugaan Birch dan Swinnerton-Dyer

-Tembaga itu sebetulnya anti-bakterial

-Berbeda dengan partikel lain, Cahaya sama sekali tidak menua

-Bintang Epsilon Aurigae meredup setiap 27 tahun sekali karena ada benda misterius yang mengorbitnya.

-Lawrence Bragg, adalah penerima hadiah nobel termuda, dia menerima nobel pada umur 25 tahun

-Tau unsur kimia terlangka di bumi kita? Bukan emas, bukan berlian, atau platina. Tapi Astatine. Hanya ada sekitar 28 gram yang terkandung didalam kerak bumi kita.

-Sedangkan unsur kimia termahal? Bukan astatine, tapi Californium. Harganya? 68 milyar USD per gram.

-Ada 3 bola golf yang ditinggalkan oleh Alan Shepard, awak appolo 14 di bulan

-Massa dari atmosfer kita kurang lebih adalah 55 x 10^14 ton.

-Bentuk terdingin dari materi, Superfluid Bose-Einstein terkondensasi, melawan gravitasi. Bukannya mengalir kebawah, mereka malah mengalir keatas.

-Ada kacang didalam dinamit

-Laser Xenon bisa memotong benda terkeras sekalipun yang bahkan ga bisa dipotong oleh bor berlian

-20% oksigen yang ada di bumi diproduksi oleh hutan amazon.

-Setiap kali ada petir yang menyambar, tercipta lapisan ozon baru. Makanya jangan takut kalo ada petir, tapi bersyukur aja soalnya lapisan ozon bumi kita malah jadi makin kuat

-Capsaicin adalah substansi penyebab rasa pedas

-Emas murni itu sebetulnya sangat lembek, mirip tanah liat.

-Sengatan lebah itu bersifat asam (pH < 7) dan sengatan tawon itu bersifat alkali (pH > 7). Untuk mengobatinya, kita harus memakai substansi yang berlawanan dengan sifat masing2 racun.

-Pohon Redwood, pohon terbesar didunia, kulit pohonnya itu tahan api

-Banyak fisikawan berpendapat bahwa lubang cacing sebetulnya ada di sekeliling kita, tapi ukurannya lebih kecil daripada atom. 

-Samudra atlantik punya rasio pertumbuhan yang sama kayak kuku jari kita.

-Di titik terdalam di lautan, bola besi butuh satu jam hanya untuk menyentuh dasarnya karena tekanannya yang sangat besar.

RELATIVITAS – HAFELE & KEATING

0

Teori Absolutivitas dalam buku ini lahir pada mulanya berdasarkan pada pemikiran terhadap hasil ekperimen yang telah dilakukan oleh dua Fisikawan Amerika Serikat, yaitu J.C. Hafele dan R.E. Keating pada tahun 1971 untuk membuktikan kebenaran teori pemuluran waktu (time dilatation) yang dikemukakan oleh Albert Einstein pada tahun 1905 tentang Relativitas. Mereka memiliki 12 jam atom Cesium yang sangat teliti. Empat buah jam atom Cesium diletakkan di pangkalan Naval Observatory di Washington D.C., empat buah jam atom Cesium lainnya di letakkan di dalam pesawat jet dengan arah ke barat dan empat buah  jam atom Cesium dibawa dalam pesawat jet ke arah timur. Kedua pesawat jet diberangkatkan dalam waktu bersamaan mengelilingi bumi. Karena kelajuan pesawat jet jauh lebih kecil daripada kecepatan cahaya, efek pemuluran waktu sangatlah kecil. Akan tetapi jam atom Cesium ini memiliki ketilitian kira-kira + 10-9 s, sehingga efek ini dapat diukur. Jam atom berada di angkasa selama 45 jam, dan selang waktu yang diukurnya dibandingkan dengan jam atom standar yang disimpan di Bumi. Setelah dibandingkan dengan akurat, pesawat yang terbang ke arah timur terlambat 59 nanosekon dan pesawat jet yang terbang ke arah barat mengalami ketherlambatan 273 nanosekon. Hasil eksperimen menunjukkan adanya perbedaan selang waktu antara jam atom Cesium dalam 2 pesawat jet dengan jam atom di Bumi. Besar perbedaan selang waktu tersebut sesuai dengan perkiraan relativitas pemuluran waktu, yaitu jam atom Cesium dalam pesawat jet yang terbang dengan kecepatan tinggi setalah dibandingkan dengan jam atom Cesium di Naval Observatory adalah LEBIH LAMBAT.

Apa yang sangat penting dari hasil eksperimen ini?. Penting sekali hasil eksperimen tersebut sebagai bukti ilmiah kebenaran Teori Absolutivitas yang menunjukkan keberadaan kerangka acuan mutlak dan bersifat universal dimana segala sesuatu dapat dikatakan bergerak atau tidak berdasarkan kerangka acuan mutlak ini.

Dari hasil eksperimen yang dilakukan J.C. Hafele dan R.E. Keating membuktikan adanya efek pemuluran waktu dan sekaligus memecahkan persoalan paradoks kembar. Berdasarkan persamaan Relativitas Khusus untuk Dilatasi waktu karena jam atom Cesium yang berada dalam pesawat jet mengalami ketherlambatan berarti bahwa lebih muda usianya dibandingkan jam atom yang diletakkan di Laboratorium. Apa yang terjadi dalam fakta ilmiah tersebut bukanlah sebaliknya yaitu jam atom di laboratorium lebih lambat dari pada jam atom pada pesawat jet. Ini menunjukkan adanya kerangka acuan mutlak yang bersifat universal yang tidak lain adalah bumi itu sendiri. Dalam banyak kasus, yang paling sering dijadikan contoh adalah paradoks kembar.

Misalkan dua kejadian A dan B terjadi pada kedudukan yang sama dalam suatu kerangka acuan. Selang waktu antara dua kejadian tersebut, Δt0 =  tBtA, diukur oleh sebuah jam O yang diam terhadap kejadian. Selang waktu, Δt0, yang diukur oleh jam yang diam terhadap kejadian (jam dan kejadian berada dalam kerangka acuan yang sama) disebut selang waktu sejati (proper time). Jika selang waktu kejadian A dan B ini diukur oleh jam O’ yang bergerak dengan kecepatan v terhadap kejadian (kerangka acuan jam tidak sama dengan kerangka acuan kejadian), maka selang waktu ini disebut selang waktu relativistik (diberi lambang Δt). Sehingga akan selalu diperoleh bahwa selang waktu relativistik LEBIH LAMA (atau lebih lambat) daripada selang waktu sejati, ditulis Δt > Δt0 sehingga sama dengan persamaan relativitas pemuluran waktu. Contoh dari penjelasan ini misalkan Hasan dan Husain adalah anak kembar yang umurnya sama yaitu 20 tahun. Hasan pergi ke luar angakasa selama 30 tahun menggunakan pesawat jet dengan kecepatan yang sangat tinggi mendekati cahaya. Setelah kembali ke bumi, Hasan terkejut karena mendapati Husain telah berubah menjadi sangat tua berusia 50 tahun sementara dirinya hanya bertambah 10 tahun sehingga usianya 30 tahun. Jadi, menurut kerangka acuan bumi, Husain telah pergi selama 30 tahun sedangkan menurut Hasan sendiri baru merasa pergi selama 10 tahun. Letak paradoknya adalah kebalikannya, yaitu: Bagaimana seandainya kerangka acuannya dibalik dimana Hasan yang berada di dalam pesawat jet menganggap dirinya diam karena sebagai kerangka acuan gerak sedangkan Husain yang berada di bumi bergerak menjauhinya ke luar angkasa selama 30 tahun, bukankah seharusnya Husain mendapati dirinya lebih muda karena baru berusia 30 tahun sedangkan Hasan akan lebih tua berusia 50 tahun?. Lalu manakah yang benar?.

Untuk mengetahui manakah yang benar-benar akan terjadi, maka haruslah dilakukan eksperimen untuk membuktikan keadaan tersebut. Untuk gambaran ideal menciptakan sebuah pesawat jet dengan kecepatan cahaya sangatlah mustahil dan tidak akan pernah mungkin dapat dilakukan. Dan yang dapat dilakukan adalah dengan merubah variasi dari variabel kecepatan menjadi rekayasa variasi waktu dengan cara menciptakan sebuah jam atom dengan ketelitian yang sangat tinggi. Dan inilah yang ingin dilakukan J.C. Hafele dan R.E. Keating dalam eksperimen pembuktian pemuliran waktu di atas. Dan hasilnya adalah jam atom Cesium dalam pesawat jet telah mengalami perlambatan daripada jam atom yang berada di dalam laboratorium dan bukan sebaliknya.

HAFELE & R.E KEATING

Sebenarnya ada 2 teori relativitas, yaitu teori relativitas khusus dan teori relativitas umum, yang keduanya tidak dikeluarkan dalam waktu yang bersamaan. Dalam teori relativitas khususnya, Eintein menjelaskan tentang hubungan antara kecepatan dengan waktu, massa dan panjang benda. Sedangkan di dalam teori relativitas umumnya lebih jauh lagi, menjangkau tentang fenomena alam semesta termasuk di dalamnya pengaruh gravitasi terhadap ruang dan waktu. Dalam buku ini, kita tidak akan membahas secara detail tentang kedua teori tersebut, tetapi kami akan menjelaskan keduanya secara umum saja.

Dari teorinya tersebut, Einstein menyatakan bahwa atom-atom akan terpengaruh oleh gerak dan gravitasi. Atom-atom yang dimaksud di sini bisa apa saja, seperti atom-atom penyusun tubuh manusia atau atum-atom pada benda-benda mati. Semakin cepat gerakan suatu benda, maka atom-atom penyusunnya akan bergerak lebih lambat pula. Konsekwensi dari lambatnya gerakan atom-atom itu adalah waktu pun akan berjalan lebih lambat menurut perhitungannya. Begitu pula jika suatu benda yang berada di daerah yang memiliki medan gravitasi yang besar, maka karena pengaruh gravitasi tersebut membuat atom-atom penyusunnya bergerak lebih lambat , maka otomatis waktu pun terasa lebih lambat baginya.

Pernyataan yang tersirat dari teori ini, menimbulkan keinginan besar para ilmuwan untuk membuktikan kebenarannya. Maka dimulailah beberapa percobaan yang menguji teori ini. Pada tahun 1971, dua fisikawan Amerika Serikat bernama J.C Hafele dan Richard Keating melakukan suatu eksperimaen dengan membawa empat jam atom ceacium terbang mengelilingi dunia dengan pesawat jet. Mereka membandingkan waktu yang ditunjukkan jam atom ceacium mereka dengan waktu standar di US Nafal Observatory, Washington DC.

Percobaan dilakukan dengan terbang ke barat dan timur yang seluruhnya memakan waktu selama 3 hari. Dari percobaan ini menghasilkan suatu data bahwa jam atom mereka ternyata sudah tidak cocok lagi dengan jam waktu standart di US Naval Observatory. Untuk setiap hari, jam atom yang diterbangkan ke timur kehilangan waktu rata-rata 59 nano detik (59 .detik), atau waktu menjadi lebih lambat jika melakukan perjalanan ke Timur. Untuk perjalanan menuju ke Barat mengalami pertambahan waktu sebesar 273 nano detik (273. detik), artinya waktu terasa lebih cepat jika berjalan ke arah Barat. Ternyata data eksperimen ini hampir sekali cocok dengan perhitungan teori relativitas yang memperkirakan bahwa perjalanan ke arah Timur akan mengalami perlambatan waktu sebesar 40 nano detik, sedangkan ke arah Barat akan akan menambah waktu sebesar 275 nano detik.

Dari percobaan di atas telah diketahui bahwa pengoperasian jam atom ternyata akan menjadi lebih lambat di bawah pengaruh gravitasi yang kuat dan sebaliknya akan menjadi cepat pada pengaruh gravitasi yang lemah. Hal ini disebabkan oleh karena cahaya bergerak lebih cepat dalam perjalanannya menuju pusat gravitasi daripada dalam gerakannya menjauhi pusat gravitasi. Waktu pun berlangsung lebih cepat ke satu arah tertentu daripada ke arah yang lain artinya waktu mendapatkan ruang terarah. Dalam perjalanan pesawat jet ke arah timur, yang berarti melawan arah rotasi bumi, mengakibatkan pesawat selalu bertemu dengan matahari yang memiliki medan gravitasi kuat, sehingga atom-atom jam ceacium bergerak lebih pelan. Sebaliknya, jika perjalanan dilakukan ke arah barat, artinya searah rotasi bumi, maka pesawat menjauhi arah matahari yang memiliki medan gravitasi kuat, akibatnya atom jam ceacium bergerak lebih cepat.

Gravitasi di permukaan bumi lebih kuat jika dibandingkan dengan gravitasi di luar amgkasa, tetapi gravitasi matahari ternyata lebih kuat daripada gravitasi di permukaan bumi. Hal ini mengakibatkan atom-atom yang bergerak di matahari akan lebih lambat jika dibandingkan dengan pergerakan atom di bumi. Karena itulah maka waktu di matahari menjadi lebih lambat daripada waktu di bumi, perbedaannya sekitar 1 menit setiap tahunnya.

Pengamatan lebih lanjut pada cahaya yang datang dari atom-atom di matahari, ternyata warna cahaya itu tampak berwarna lebih merah jika dibandingkan dengan yang terdapat di bumi. Di dalam ilmu fisika, spektrum cahaya tampak yang memiliki frekwensi rendah akan terlihat berwarna merah, semakin merah warnanya maka semakin rendah pula frekwensinya. Frekwensi adalah banyaknya gelombang yang terjadi dalam waktu 1 detik. Semakin cepat atom-atom bergetar, gelombang yang dihasilkan akan semakin banyak sehingga frekwensi semakin tinggi. Sebaliknya, jika atom-atom lambat bergetarnya, gelombang yang dihasilkan akan sedikit sehingga mengakibatkan frekwensinya menjadi rendah. Menurut Teori relativitas, pada matahari, karena atom-atomnya bergerak lebih lambat daripada bumi, maka pastilah frekwensi cahayanya lebih rendah daripada di bumi atau cahaya akan tampak berwarna lebih merah di matahari daripada di bumi. Ternyata hasil pengamatan itu benar-benar sejalan dengan Teori Relativitas Einstein.      

Selain bukti tentang gravitasi kuat menyebakan perlambatan waktu, masih ada bukti lain yang menunjukkan bahwa sebenarnya waktu itu bersifat relatif dan tidak absolut yaitu karena faktor kecepatan. Sinar kosmik yang berasal dari luar angkasa jika jatuh ke bumi akan menumbuk atom udara di atmosfer bagian atas, sehingga partikel yang bernama pion yang memiliki waktu peluruhan yang sangat pendek yaitu beberapa nanodetik (10 detik) dihasilkan. Waktu peluruhan yang semakin cepat akan membuat partikel ini akan semakin cepat pula “menghilang” di angkasa. Partikel muon tercipta ketika terjadi peluruhan pion dan ternyata ia juga memiliki masa hidup yang pendek, waktu peluruhannya adalah 2,2 mikrodetik (10 detik). Akan tetapi muon di atmosfer bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga efek dilasi waktu (pemuluran waktu) dari teori relativitas membuat mereka menjadi mudah dideteksi pada permukaan bumi. Penjalaran pada kecepatan relativistik membuat muon dapat menembus sampai kedalaman sepuluh meter ke dalam batuan dan materi lain sebelum menipis dan habis sebagai hasil absorpsi (penyerapan) oleh atom-atom yang lain. Jika waktu hidup mereka kita hitung tanpa menggunakan efek relativistik (menggunakan teori relativitas) maka jarak tembus mereka ke bumi maksimal hanya sekitar 0,66 km dari atmosfer. Dengan memperhitungkan efek dilasi waktu dari teori relativitas memperkenankan muon sekunder sinar kosmis untuk mempertahankan penerbangannya menuju permukaan bumi sampai kedalaman tertentu. Ini menunjukkan bahwa ternyata semakin cepat sesuatu itu bergerak maka atom-atom penyusunnya akan bergerak lebih pelan daripada di kondisi normal.

Kesimpulannya adalah, jika kita ingin awet muda, maka kita bisa mengambil salah satu dari cara berikut ini. Cara pertama, kita bisa pergi ke dekat daerah yang memiliki medan gravitasi yang lebih besar daripada bumi, contohnya matahari atau black hole (lubang hitam) di luar angkasa. Cara kedua, kita bisa terbang dengan pesawat angkasa berkecepatan tinggi ke luar bumi untuk menjelajah alam semesta. Hal ini disebabkan karena jika kita berangkat dengan pesawat luar angkasa dengan kecepatan sangat tinggi mendekati kecepatan cahaya atau berada pada medan gravitasi yang besar maka waktu menjadi lambat bagi kita dan atom-atom penyusun tubuh kita bergerak lebih pelan.. Tentu saja cara-cara di atas masih belum sanggup untuk kita laksanakan karena teknologi manusia sekarang masih belum bisa menjangkaunya.

Mungkin kita batasi sampai di sini saja pembahasan kita mengenai Teori Relativitas Einstein, sebatas yang kita perlukan untuk memahami tentang menembus batas ruang dan waktu. Maka kesimpulan yang paling mendasar yang dapat kita ambil dari sedikit ulasan di atas adalah bahwa sebenarnya waktu itu bersifat relatif dan bukan absolut, kadang waktu bisa menjadi lebih lambat begitu pun sebaliknya bisa lebih cepat tergantung keadaannya. Menurut teori tersebut maka ruang dan waktu normal yang dialami oleh manusia di Bumi tidaklah dapat ditembus kecuali dengan dua hal, yaitu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi atau berada di daerah yang memiliki medan gravitasi yang lebih kuat daripada di Bumi. Pernyataan ini menjadi kunci kita memahami bahwa sebenarnya ruang dan waktu itu bisa saja ditembus dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat canggih.