EKOSISTEM PULAU – PULAU


KEPULAUAN DI TENGAH SAMUDERA
Pulau-pulau kecil / gugusan pulau-pulau kecil adalah kumpulan pulau-pulau yang secara fungsional saling berinteraksi dari sisi ekologis, ekonomi, sosial dan budaya, baik secara individual maupun kelompok yang secara sinergis dapat meningkatkan skala ekonomi bila dilakukan pengelolaan sumber dayanya. Pulau-pulau kecil memiliki spesies yang emumnya bersifat endemik dan rentan terhadap pengaruh luar. Meskipun demikian, karena ekosistemnya bersifat khas, pulau-pulau kecil dapat menunjang pengembangan ekonomi wilayah pesisir pulau induknya melalui kegiatan-kegiatan seperti perikanan dan pariwisata.
Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 tahun 2000, definisi, batasan, dan karakteristik pulau-pulau kecil adalah sebagai berikut :
  1. Pulau yang ukuran luasnya kurang atau sama dengan 10.000 km2, dengan jumlah penduduk kurang atau sama dengan 200.000 orang.
  2. Secara ekologis terpisah dari pulau induk (mainland island), memiliki batas fisik yang jelas, dan terpencil dari habitat pulau induk sehingga bersifat insular.
  3. Memiliki sejumlah jenis biota endemik dan keanekaragaman biota yang tipikal dan bernilai ekonomis tinggi.
  4. Daerah tangkapan (catchment area) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran permukaan dan sedimen akan langsung masuk ke laut.
  5. Kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat pada pulau-pulau ini bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya.

Ekosistem Pulau- Pulau Kecil

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya Pulau merupakan daratan yang terbentuk secara alamiah, dikelilingi oleh air dan selalu ada di atas air pada saat air pasang (UNCLOS, 1982 dalam Asriningrum, 2004). Pulau-pulau kecil (PPK) didefinisikan sebagai pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya (Undang-undang RI No. 27 Tahun 2007).

Alternatif batasan pulau kecil dikemukakan pada pertemuan CSC (1984) yang menetapkan pulau kecil adalah pulau dengan luas area maksimum 5.000 km2. Selanjutnya berlandaskan pada kepentingan hidrologi (ketersediaan air tawar), ditetapkan batasan pulau kecil sebagai pulau dengan ukuran kurang dari 1.000 km2 atau lebarnya kurang dari 10 km. Batasan ini mengalami perubahan UNESCO (1991) yang memberikan batasan sebagai pulau dengan luas area kurang dari atau sama dengan 2.000 km2.

Dari segi luasnya, UNESCO (1994) menetapkan bahwa pulau-pulau yang luasnya kurang dari 200 km tergolong pulau kecil, sedangkan yang luasnya kurang dari 100 km2 tergolong pulau sangat kecil. Definisi lainnya menyebutkan, pulau kecil adalah ruang daratan yang berelevasi di atas muka air pasang dari perairan yang mengelilinginya dengan luas kurang dari 100 km2 (BBPT-Proyek Pesisir USAID 1998).

Kriteria Pembatasan Pulau Kecil

a. Secara Ekologis

•  Habitat/ Ekosistem pulau kecil cenderung memiliki spesies endemik yang tinggi dibandingkan proporsi ukuran pulaunya.

• Memiliki resiko lingkungan yang tinggi, misalnya akibat pencemaran dan kerusakan akibat aktivitas transportasi laut dan aktivitas  penangkapan ikan, akibat bencana alam seperti gempa tsunami.

•  Keterbatasan daya dukung lingkungan pulau (ketersediaan air tawar dan tanaman pangan

b. Secara Fisik

1) Terpisah dari pulau besar

2) Bentuk gugusan atau sendiri

3) Tidak mampu mempengaruhi hidroklimat laut

4) Luas pulau tidak lebih dari 10.000 km2

5) Rentan terhadap perubahan alam dan atau manusia seperti bencana angin badai, gelombang tsunami, letusan gunung berapi, fenomena kenaikan permukaan air laut (sea level rise) dan penambangan

c. Secara Sosial – Budaya – Ekonomi

1)Ada pulau yang berpenduduk dan tidak

2)Penduduk asli mempunyai budaya dan sosial ekonomi yang khas

3)Kepadatan penduduk sangat rendah (1-2 orang per hektar)

4)Ketergantungan ekonomi lokal pada perkembangan ekonomi luar (pulau induk, kontinen)

5)Keterbatasan kualitas sumberdaya manusia

6)Aksesibilitas (sarana, jarak, waktu) rendah atau maksimal satu kali sehari. Jika aksesibilitasnya tinggi maka keunikan pulau lebih muda

 

Potensi Sumberdaya Hayati Pulau-pulau Kecil : Terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan massif kalsium karbonat (CaCO3)

Manfaat terumbu karang :

1.  Manfaat langsung (sebagai habitat bagi sumberdaya ikan, batu karang, pariwisata, wahana penelitian

2.manfaat tidak langsung (sebagai penahan abrasi pantai, keanekaragaman hayati)

Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki rhizoma, daun dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut.

Fungsinya :

1.  Sebagai produsen detritus dan zat hara

2.Mengikat sedimen

3.Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi beberapa jenis biota laut

 

Hutan Mangrove

fungsi ekologis : sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, penyerap limbah dan penahan abrasi

fungsi ekonomis : sebagai penyedia kayu, bahan baku obat-obatan, sebagai habitat bagi bermacam-macam binatang seperti binatang laut perikanan

Perikanan yang terdapat di pulau-pulau kecil adalah spesiea yang menggunkan karang sebagai habitatnya, seperti : kerapu, napoleon, kima raksasa (Tridacna gigas). Komoditas seperti ini dapat dikatakan sebagai komoditas spesifik pulau kecil.

KELAUTAN

1.Dengan luas wilayah laut yang lebih besar dibandingkan darat maka potensi energi kelautan memiliki prospek yang baik sebagai energi alternatif

2.Sumberdaya kelautan yang mungkin digunakan untuk pengelolaan pulau-pulau kecil adalah Konversi Energi Panas Samudera/Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), Panas Bumi (Geothermal), Ombak dan Pasang Surut.

Pulau-pulau kecil memberikan jasa-jasa lingkungan yang tinggi nilai ekonomisnya yaitu sebagai kawasan berlangsungnya kegiatan kepariwisataan, media komunikasi, kawasan rekreasi, konservasi dan jenis pemanfaatan lainnya. Kawasan pulau-pulau kecil  merupakan aset wisata bahari yang sangat besar yang didukung oleh potensi geologis dan karaktersistik yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan terumbu karang (Coral Reef), khususnya hard corals. Kondisi pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni, secara logika akan memberikan kualitas keindahan dan keaslian dari bio-diversity yang dimilikinya.

Potensi wisata terestrial yaitu wisata  yang merupakan satu kesatuan dengan potensi wisata perairan laut : Wisata terestrial di pulau-pulau kecil misalnya TN Komodo (NTT), sebagai lokasi Situs Warisan Dunia (World Herritage Site) merupakan kawasan yang memiliki potensi darat sebagai habitat komodo, serta potensi keindahan perairan lautnya di P. Rinca dan P. Komodo.

Contoh lain adalah Pulau Moyo yang terletak di NTB sebagai Taman Buru (TB), dengan kawasan hutan yang masih asri untuk wisata berburu dan wisata bahari (diving).

Pulau-pulau kecil  merupakan suatu prototipe konkrit dari suatu unit kesatuan utuh dari sebuah ekosistem yang terkecil : Salah – satu komponennya yang sangat signifikan adalah komponen masyarakat lokal. Masyarakat ini sudah lama sekali berinteraksi dengan ekosistem pulau kecil, sehingga secara realitas di lapangan, masyarakat pulau-pulau kecil  tentunya mempunyai budaya dan kearifan tradisional (local wisdom) tersendiri yang merupakan nilai komoditas wisata yang tinggi.

ARTI PENTING PULAU KECIL : Fungsi Pertahanan dan Keamanan

• Sebagai garda depan dalam menjaga dan melindungi keutuhan NKRI

• Misalnya di Sabang, Sebatik dan Batam yang merupakan pintu gerbang keluar masuknya aliran orang dan barang tetapi juga rawan terhadap penyelundupan barang-barang ilegal, narkotika, senjata, dan obat-obatan terlarang

Fungsi Ekologi

Sebagai pengatur iklim global, siklus hidrologi dan bio-geokimia, penyerap limbah, sumber plasma nutfah, sumber energi alternatif, dan sistem penunjang kehidupan lainnya.

Isu Regional

Dengan akan diberlakukannya pasar bebas ASEAN dan Asia Pasifik akan memacu pengembangan pulau-pulau kecil terutama dalam kegiatan  investasi.

Isu Nasional

Belum terkoordinasinya bank data (database) pulau-pulau kecil yang berisi nama, luas, potensi, karakteristik, peluang usaha, permasalahan dan lain lain : Sebagian besar pulau-pulau kecil merupakan kawasan tertinggal, belum berpenghuni atau jarang penduduknya namun memiliki potensi sumberdaya alam yang baik, terbatasnya sarana dan prasarana perhubungan laut yang dapat menghubungkan dengan pulau induk (mainland) dan antara pulau-pulau kecil;

Isu daerah

  1. Pemberdayaan dan peningkatan peran serta kelembagaan daerah dan masyarakat dalam rangka pengelolaan pulau-pulau kecil;
  2. Tekanan terhadap sumberdaya alam dan lingkungan dalam rangka peningkatan pendapatan daerah;
  3. Ketersediaan data, informasi dan peraturan yang diperlukan dalam pengambilan kebijakan terkait dengan pengelolaan pulau-pulau kecil;

Permasalahan:

1.Belum Jelasnya Definisi Operasional Pulau-pulau Kecil, definisi masih mengacu pada definisi internasional yang pendekatannya pada negara benua, kegiatan yang dilakukan pada kawasan pulau menjadi terbatas, pembangunan pulau-pulau kecil terhambat

2. Kurangnya data dan informasi mengenai pulau-pulau kecil, menghambat identifikasi dan inventarisasi pulau-pulau kecil, menghambat proses perencanaan dan pembangunan pulau-pulau kecil, belum jelasnya jumlah pulau dan panjang garis pantai yang menghambat perencanaan dan pembangunan sektor kelautan dan perikanan

3. Kurangnya Keberpihakan Pemerintah terhadap Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil

4. Pertahanan dan Keamanan

  • Permasalahan penetapan sebagian perbatasan maritim dengan negara tetangga
  • Banyaknya pulau-pulau perbatasan yang tidak berpenghuni
  • Sangat terbatasnya sarana dan prasarana fisik serta rendahnya kesejahteraan masyarakat lokal
  • Okupasi negara lain

5. Disparitas Perkembangan Sosial ekonomi : Disparitas Perkembangan sosial dan ekonomi serta persebaran penduduk yang tidak merata antara pulau besar dengan pulau kecil di sekitarnya.

6. Terbatasnya Sarana dan Prasarana Dasar : Menyebabkan tingkat pendidikan (kualitas SDM), tingkat kesehatan, tingkat kesejahteraan dan pendapatan mayarakat pulau-pulau kecil rendah.

7. Konflik Kepentingan : Industri wisata bertentangan dengan kebudayaan lokal

8. Degradasi Lingkungan Hidup

  • Pemanfaatan SDA yang berlebihan
  • Lemahnya penegakan hukum
  • Meningkatnya kerusakan lingkungan hidup

 

Contoh :

Kabupaten Alor merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 15 pulau dimana 9 pulau telah berpenghuni yaitu ; Pulau Alor, Pantar, Pura, Ternate, Buaya, Tereweng, Kangge, Kura, Kepa, sedangkan 6 pulau belum berpenghuni yaitu; Pulau Lapang, Batang, Rusa, Kambing, Sika, dan Kapas

 

 

Ekosistemnya :

1.Tutupan lamunnya mencapai 86 % di Pulau Lapang.

2.Luas tutupan karang hidup di Pulau-pulau Kecil berkisar antara 10-90 %.

3. Fungsi Tutupan karang : membuat kondisi ikan karang dan makrobentosnya sangat bagus pula.

MASALAH

1.Kondisi hutan mangrove di lokasi ini sudah mengalami kerusakan akibat dari pengambilan kayu bakar oleh masyarakat untuk mengolah teripang.

2.Kerusakan fisik terumbu karang di Pulau Kangge tampak dari dijumpainya patahan karang dalam ukuran yang tidak beraturan yang dapat menjadi indikator kerusakan terumbu karang akibat jangkar perahu. Lokasi ini merupakan tempat berlabuh perahu nelayan, sehingga terumbu karang di lokasi ini sangat rentan terhadap kerusakan fisik akibat aktivitas perahu nelayan.

3.Kerusakan fisik terumbu karang di lokasi pulau Kambing dan ternate cukup tinggi, hal ini ditandai dengan persentase penutupan patahan karang yang cukup besar. Tingginya persentase penutupan patahan karang yang tinggi dapat menjadi indikasi adanya tekanan pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia. Pengamatan terhadap bentuk patahan karang dapat menjelaskan bahwa telah terjadi pemanfaatan dengan cara-cara yang destruktif dan juga akibat dari pelepasan jangkar.

4.Kerusakan yang terjadi di Pulau Pura dan pulau Rusa terutama disebabkan oleh pengoperasian alat tangkap bubu oleh nelayan setempat yang dilakukan secara tidak beraturan.

SUMBER REFERENSI :
Fandeli, C. dan Muhammad. 2009. Prinsip-prinsip Dasar Mengkonservasi Lanskap. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s