APAKAH “MEME” ITU ?


Virus kultural menyebar, bukan saja antarmanusia, tapi juga antar benua!

Apakah anda sudah tahu apa yang dinamakan “meme” (baca: mim)? Mungkin anda pernah membacanya atau mendengarnya, tapi tidak tahu apa maksudnya. Baiklah, saya mau menjelaskan teorinya.

“Meme” adalah pemendekan kata benda Yunani “mimeme” (atau “mimema”) (artinya “sesuatu yang ditiru”); kata kerjanya “mimeisthai” yang artinya meniru, mengingat, mengikuti, terjangkiti atau tertulari. Dalam bukunya The Selfish Gene, Richard Dawkins adalah orang pertama yang menciptakan dari kata “mimeme” kata tunggal “meme” yang baginya dekat dengan kata “gene”./1/

Kalau gen/molekul DNA diteruskan manusia ke manusia lain lewat sperma atau telur, meme juga menular lewat cara-cara lain yang nongenetik dari orang ke orang. Meme tidak meneruskan DNA, tapi semua produk kognitif budaya, seperti ide, pengetahuan, gambar, pakaian, kata-kata, cara hidup, cara berbudaya, adat-istiadat, dan juga ide-ide dalam agama-agama, dll.

Meme menularkan semua produk kognitif budaya ini lewat otak ke otak, lewat proses imitasi dan pembelajaran yang terus-menerus dan real, bukan lewat alam melalui seleksi alamiah. Jika kuliah dosen anda tertangkap oleh otak anda, alhasil anda makin cerdas dan berpengetahuan, meme yang dia sebarkan tertular dengan efektif ke otak anda. Dan meme dari otak anda akan meneruskan meme dosen anda ini ke orang-orang lain lebih banyak lagi.

Sejumlah pakar berpendapat, sebagaimana molekul DNA itu suatu struktur kimiawi yang hidup dan menyebar, begitu juga meme, terstruktur, hidup dan menyebar. Meme dianggap sebagai suatu struktur yang hidup, ada dalam otak, menyebar ke mana-mana dalam unit-unit lewat kegiatan pembelajaran dan penyebaran informasi dalam semua kebudayaan. Richard Dawkins sendiri dalam bukunya The Extended Phenotype (1982) menyatakan bahwa meme “secara ragawi berdiam dalam otak”./2/ Dengan kemajuan teknologi neurocitra (“neuroimaging technology”) masa kini, studi-studi empiris terhadap keberadaan meme dalam otak kini sudah dapat dilakukan, misalnya oleh Adam McNamara, khususnya untuk menemukan basis-basis neuralnya./3/

Karena sifatnya yang menyebar dan menular, meme juga dinamakan “virus kognitif” atau “virus kultural” yang memuat dan menularkan data dan informasi kultural. Sebagaimana data dan info komputasional hidup real dalam dunia virtual, diam atau menyebar, begitu juga meme hidup dalam suatu dunia virtual data dan informasi kultural setelah keluar dari otak. Meme juga berubah menjadi kata-kata dan ide-ide dalam buku-buku atau dalam e-books, atau dalam bentuk data digital di Internet, membentuk apa yang dinamakan meme Internet. Dengan adanya Twitter, misalnya, meme Internet dapat dengan cepat menyebar dan tertular nyaris ke seluruh muka Bumi.

Begitu juga, saat meme dalam unit-unit menyebar dari otak ke otak, meme selalu berinteraksi dengan bidang-bidang lain kehidupan yang dikaji oleh berbagai disiplin ilmu lainnya, sebab setiap otak manusia tidak berada dalam kevakuman atau kekosongan. Otak kita itu juga bersifat sosial, selalu membutuhkan pergaulan dengan otak-otak lain dalam berbagai konteks sosial dan ekologi. Saat menular dan berinteraksi ini, meme dapat memperbanyak diri, dan juga bermutasi khususnya saat meme menjawab “desakan-desakan selektif” seperti persaingan ide-ide kultural atau dalam suatu perang kultural.

Lewat meme yang menyebar lalu masuk ke dalam otak kita, lalu kita membangun budaya, evolusi kebudayaan pun berlangsung, tidak dikendalikan oleh seleksi alamiah. Kalau DNA yang tersebar membuat evolusi biologis berjalan dalam jangka waktu yang panjang, maka meme yang menyebar membuat evolusi kebudayaan berlangsung dalam jangka waktu yang pendek. Kalau DNA yang tersebar membuat evolusi biologis berjalan alamiah, lewat meme yang dinamis dan tersebar evolusi kultural kita bangun dan rancang sendiri, sesuai kemampuan setiap peradaban.

Jika unit-unit meme disebarkan dari otak manusia ke otak manusia lainnya, tentu adalah mungkin meme juga dapat disebarkan dan ditularkan dari otak spesies alien-alien cerdas dari angkasa luar ke otak banyak homo sapiens di planet Bumi ini, khususnya otak para manusia jenius yang telah dan sedang melahirkan pemikiran-pemikiran besar untuk peradaban manusia, dulu maupun kini. Tentu saja, meme yang ditularkan dari otak organisme-organisme cerdas dari dunia-dunia lain ini ke otak banyak manusia Bumi tidak begitu saja menguasai seluruh pemikiran dalam otak para manusia Bumi penerima meme luar Bumi. Dalam semua kasus interaksi antarmeme, selalu terjadi dialog, keterbukaan, penerimaan, sintesis, mutasi, atau bahkan penolakan penuh terhadap meme yang diterima. Tentu saja, interaksi antara meme alien-alien cerdas dan meme manusia-manusia jenius yang saya pikirkan ini murni spekulasi saya; kalaupun spekulasi ini benar, spekulasi ini sama sekali tidak bisa dibuktikan secara empiris, karena kita tidak akan pernah berhasil mewawancarai alien-alien cerdas itu atau menemukan meme mereka secara empiris.

Selain lewat meme yang terus mereproduksi diri, bermutasi dan menyempurnakan diri dan menyebar, evolusi kultural juga sebetulnya dapat berlangsung lewat DNA yang kita desain ulang untuk mencapai tujuan-tujuan kultural kita. Kita tidak hanya sedang mengalami evolusi alamiah lewat mutasi alamiah DNA yang memerlukan waktu sangat banyak generasi ke depan, tapi juga sedang mengalami “self-designed evolution” (SDE) lewat teknologi rekayasa genetik, terang-terangan ataupun diam-diam, dalam waktu yang sangat singkat.

SDE dan penyebaran virus kognitif meme menghasilkan evolusi homo sapiens dan kebudayaannya secara artifisial. SDE dan penyebaran virus kognitif meme adalah dua faktor utama perkembangan pesat peradaban kita sekarang ini. Evolusi spesies secara alamiah, yang juga berpengaruh pada evolusi kebudayaan, dapat kita kendalikan atau malah kita percepat lewat evolusi biologis dan evolusi kultural yang kita desain sendiri, lewat rekayasa genetik dan lewat penyebaran unit-unit meme yang dipercepat.

Catatan-catatan

/1/ Richard Dawkins, The Selfish Gene (edisi paperback; Oxford: Oxford University Press, 1976), hlm. 206.

/2/ Richard Dawkins, The Extended Phenotype (Oxford: Oxford University Press, 1982), hlm. 109.

/3/ Adam McNamara, “Can we measure memes?”, Frontier in Evolutionary Science 3 (25 May 2011), doi: 10.3389/fnevo.2011.00001, pada http://journal.frontiersin.org/Journal/10.3389/fnevo.2011.00001/full.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s