POLA PEMUKIMAN PERDESAAN


Pola pemukiman penduduk di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik daerahnya. Kondisi fisik yang dimaksud antara lain meliputi iklim, kesuburan tanah, dan topografi wilayah. Pengaruh kondisi fisik ini sangat terlihat pada pola pemukiman di daerah pedesaan, sedangkan di daerah perkotaan kurang begitu jelas, mengingat penduduk kota sangat padat, kecuali yang bertempat tinggal sepanjang aliran sungai, biasanya membentuk pola linear mengikuti aliran sungai.

Menurut Alvin L. Bertrand, berdasarkan pemusatan masyarakatnya, pola pemukiman penduduk desa dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
  1. Nucleated village, yaitu penduduk desa hidup bergerombol membentuk suatu kelompok yang disebut dengan nucleus.
  2. Line village, yaitu pemukiman penduduk yang menyusun tempat tinggalnya mengikuti jalur sungai atau jalur jalan dan membentuk deretan perumahan.
  3. Open country village, yaitu di mana penduduk desa memilih atau membangun tempat-tempat kediamannya tersebar di suatu daerah pertanian, sehingga dimungkinkan adanya hubungan dagang, karena adanya perbedaan produksi dan kebutuhan. Pola ini disebut juga trade centre community.
Sedangkan menurut Bintarto, terdapat enam pola pemukiman penduduk desa, yaitu:
  1. Memanjang jalan. Di daerah plain (datar) susunan desanya mengikuti jalur-jalur jalan dan sungai. Contoh desa ini dapat dilihat di daerah Bantul-Yogyakarta, dan merupakan Line Village atau pola desa yang memanjang.
  2. Memanjang sungai.
  3. Radial. Pola desa ini berbentuk radial terhadap gunung dan memanjang sepanjang sungai di lereng gunung.
  4. Tersebar, pola desa di daerah karst gunung adalah tersebar atau scattered, merupakan nukleus yang berdiri sendiri.
  5. Memanjang pantai. Di daerah pantai susunan desa nelayan berbentuk memanjang sepanjang pantai. Contoh ini terdapat di daerah Rengasdengklok Jawa Barat dan di daerah Tegal.
  6. Memanjang pantai dan sejajar dengan kereta api.
Line village atau pola desa memanjang mengikuti alur jalan. (Sumber: Indonesian Heritage)
Line village atau pola desa memanjang mengikuti alur
jalan. (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola desa radial. (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola desa radial. (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola desa memanjang mengikuti pantai. (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola desa memanjang mengikuti pantai.
(Sumber: Indonesian Heritage)
Jika kita perhatikan, ternyata ada keterkaitan antara pola pemukiman penduduk dengan pola pemukiman dengan iklim, pola pemukiman dengan kesuburan tanah, dan pola pemukiman dengan topografi wilayah.

1. Kaitan Pola Pemukiman dan Iklim

Pada umumnya penduduk terpusat di daerah-daerah dengan kondisi iklim yang mendukung kehidupannya. Banyaknya penduduk di suatu daerah dengan curah hujan yang cukup banyak menyebabkan sumber air banyak ditemukan di mana-mana. Hal ini dapat menyebabkan pola pemukiman penduduknya juga tersebar. Kurangnya curah hujan menyebabkan sumber air sedikit. Dengan demikian, penduduk akan mencari tempat tinggal yang memiliki sumber air untuk menunjang kehidupannya. Hal ini dapat menyebabkan pemukiman penduduk membentuk pola terpusat yang melingkari sumber air tersebut.

2. Pola Pemukiman dan Kesuburan Tanah

Daerah yang memiliki tanah-tanah yang subur dapat mengikat tempat tinggal penduduk dalam satu kelompok (memusat). Sebaliknya, di daerah-daerah dengan tingkat kesuburan tanahnya sangat rendah (misalnya di daerah kapur), penduduk akan mencari tempat-tempat yang agak subur untuk tempat tinggalnya. Dengan demikian, pola pemukiman penduduknya akan membentuk pola tersebar (scattered).
Contoh pola pemukiman berdasarkan kesuburan tanah (tersebar) (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola pemukiman berdasarkan kesuburan tanah
(tersebar) (Sumber: Indonesian Heritage)

3. Pola Pemukiman dan Topografi Wilayah

Topografi merupakan faktor dominan yang menyebabkan terjadinya perbedaan pola pemukiman penduduk di daerah-daerah. Pola pemukiman penduduk di daerah pantai akan membentuk pola “line” atau memanjang mengikuti garis pantai. Pola line juga akan terbentuk di sepanjang jalan, jalan kereta, atau sepanjang aliran sungai. Begitu juga di daerah dengan topografi relatif datar biasanya membentuk pola mengelompok.

Pada daerah dengan topografi kasar atau bergelombang menyebabkan pola pemukiman penduduknya tersebar, karena mereka mencari tempat yang agak datar untuk membangun tempat tinggalnya. Di daerah ini tidak jarang jarak antara satu desa dengan desa lainnya sangat berjauhan, dan hanya dihubungkan oleh jalan setapak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s