FAQ : ATHEISM

0

Apakah Ateisme itu?

Ateisme, berasal dari kata Yunani ἄθεος (atheos), menurut kata berarti “tanpa tuhan”, mengacu kepada orang yang menolak keberadaan dewa-dewi Yunani. Dalam lingkup masa sekarang, ateisme dapat merepresentasikan beberapa sudut pandang yang berbeda, yang diurutkan disini:

  1. Tidak percaya adanya tuhan.
  2. Menolak adanya tuhan.
  3. Percaya tuhan tidak ada.

Perlu dicatat bahwa tidak ada kaitan antara ateisme dan sebuah agama. Seseorang dapat menjadi ateis dan beragama, asalkan bila dia percaya pada agama yang tidak memiliki tuhan atau dewa apapun, seperti salah satu bentuk dalam ajaran agama Budha.


Di mana letak perbedaannya dengan theism?

Theism adalah sebuah kepercayaan setidaknya pada satu tuhan. Maka, agama-agama seperti Kristen, Hindu, Islam, Yahudi, dan Zoroastrianisme semuanya termasuk dalam theistic.


Bagaimana dengan agnosticism?

Agnosticism (dari bahasa Yunani – a (tanpa) gnosis (pengetahuan)) adalah sebuah klaim mengenai dirinya sendiri lewat pengetahuan, atau sebaliknya, kurang atau tidak adanya pengetahuan. Seseorang yang mengklaim dirinya agnostic terhadap tuhan secara sederhana menyatakan bahwa dia tidak tahu atau tidak mungkin dapat mengetahuinya.

Bantahan umum terhadap ateisme biasanya adalah berupa argumen seperti berikut: “Bagaimana mungkin anda dapat menyebut diri anda sendiri ateis? Anda tidak mungkin tahu secara pasti, oleh sebab itu anda seharusnya agnostic”.

Kunci perbedaan dari kedua pengertian tersebut ialah semata pada perbedaan antara pengetahuan dan keyakinan. Walaupun tidak mungkin untuk “tahu” bahwa tuhan itu ada atau tidak, bukan berarti mencegah orang tersebut mengevaluasi kemungkinan keberadaan tuhan dan membuat sebuah “keyakinan” berdasarkan kesimpulan itu semata.

Yang perlu dicatat disini adalah ateisme dan agnosticism adalah tidak saling terpisah satu dengan yang lain. Seseorang dapat menjadi agnostic ateis, disebut juga dengan ateis “ringan”, atau gnostic ateis, disebut juga dengan ateis “kuat”. Agnosticism dan ateisme memiliki pernyataan yang berbeda menyangkut pada perbedaan pada tingkat pengartian. Mayoritas ateis secara bebas mengakui walau mereka tidak “tahu” bahwa tuhan ada, mereka lebih memilih untuk “percaya” bahwa tuhan tidak ada — berdasarkan kurangnya bukti, pernyataan-pernyataan, ketidakpercayaan terhadap mahluk magis/gaib, dan lain-lain.

Lihat gambar berikut atau halaman aslinya untuk melihat diskusi lebih detil mengenai prinsip tersebut.


Bagaimana dengan Deism?

Deist percaya bahwa ada sebuah kekuatan yang lebih tinggi (“higher power”) yang menciptakan alam semesta pada awalnya tetapi ia tidak lagi aktif lagi berada di dunia ini. Karena kepercayaan mereka terhadap “higher power” tersebut, terkadang disebut juga sebagai tuhan/dewa, mereka tidak memenuhi syarat dikelompokkan dalam label “ateis”.

Namun, secara praktis hanya terdapat perbedaan kecil antara seorang deist dan ateis: Kebanyakan deist tidak melakukan praktek keagamaan seperti berdoa, menyembah, ritual-ritual, aturan diet dan/atau gaya hidup atau menyangkut sebuah pusat kedoktrinan yang suci. Deist memiliki kesamaan dengan keyakinan pada ateis bahwa tidak ada tuhan/dewa yang aktif pada saat *sekarang*.

Karena kesamaan tersebut, beberapa ateis bisa saja mengklaim sebagai deism saat ditanya agamanya. Deism tidak memiliki kewajiban praktis terhadap pengikutnya, dan juga tidak memiliki stigma besar di ruang publik yang berkaitan dengan ateisme. Orang Amerika memperoleh keuntungan yang diberikan oleh para Deist terkenal diantara pemimpin-pemimpin bangsanya: Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, Thoman Paine, James Madison, George Washington.


Ateisme vs. Anti-Teisme vs. Negara Ateisme vs. Sekularisme

Ateisme telah didiskusikan sebelumnya, tetapi istilah-istilah berkaitan juga perlu dicatat:

Anti-theism – Adalah suatu aksi aktif atau non-aktif untuk mencoba mengakhiri theism, sering terjadi karena reaksi terhadap anti-pemikiran sains, bigotry (fanatik — sikap tidak toleransi terhadap sesuatu yang berbeda opini terhadap dirinya sendiri), dan pertanyaan moral yang sering diajukan oleh para theist. Banyak ateis yang vokal pada kenyataan adalah seorang anti-theist pada tingkat-tingkat tertentu. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi, penyebab yang lebih sering terjadi karena anti-theist memiliki banyak hal yang mereka bisa ungkapkan. Jangan sampai salah: banyak ateis yang tidak terbuka terhadap agama. Roda yang paling berbunyi biasanya yang paling ingin mendapat minyak, dan ateis yang tidak memiliki keluhan dengan keyakinan agama umumnya kurang termotivasi untuk berbicara. Contoh ateis terkenal yang tidak anti-theist adalah S.E. Cupp (walaupun banyak yang skeptis terhadap ke-ateis-annya). Salah satu anti-theist yang terkenal yaitu Christopher Hitchens.

Negara Ateisme – Ini adalah suatu bentuk teokrasi dari ateisme. Ia adalah suatu bentuk ideologi bahwa ateisme seharusnya ditegakkan oleh pemerintah, seperti pemerintahan yang telah ada di bawah komunisme.

Secularism (Sekularisme) – sekularisme mengacu kepada pemerintahan yang tidak menganggap agama atau kepercayaan agama apapun. Dengan jalan ini ia tidak mempromosikan bentuk apapun dari teisme atau ateisme. Misalnya, pemerintahan yang memperingati “Day of Prayer”(Hari Berdoa) bukanlah pemerintahan yang sekuler, dan tidak juga pemerintahan yang memperingati “Hari Tidak Percaya Pada Tuhan”.

Bagaimana dengan teologis non-cognitivism ?

Para teologis non-cognitivism menyimpulkan bahwa semua pembicaraan mengenai “tuhan” pada dasarnya tidak ada maknanya. Ketidak bermaknaan tersebut dapat berpusat pada kontradiksi yang melekat atau kondisi tak terbatas dari “tuhan” non-konsep itu sendiri atau teis yang tidak mengerti ekstrapolasi (*) dari pengalaman manusia atau keduanya. Sebagai contoh, kalimat, “Tuhan ada”, bisa ditolak jika tidak ada penjelasan yang logis mengenai “Tuhan” yang mendahuluinya atau jika tidak ada penjelasan rasional yang dikedepankan tentang bagaimana konsep dari keberadaan diekstrapolasi menjadi non-konsep dari “keberadaan metafisikal“. Sama juga dengan kalimat “Tuhan menciptakan alam semesta” membuat para non-cognitivist menginginkan sebuah metoda yang bermanfaat untuk mengekstrapolasi pengalaman manusia dalam “menciptakan”, yaitu suatu proses dimana sesuatu yang telah ada digabungkan atau berubah menjadi non-konsep “penciptaan metafisikal” yang secara keseluruhan merupakan proses yang tidak dapat diidentifikasi.

(*) ekstrapolasi: Perluasan data di luar data yg tersedia, tetapi tetap mengikuti pola kecenderungan data yg tersedia itu.


Ateisme Lemah vs. Kuat

“Kenapa ateis yakin bahwa tuhan tidak ada?”

Kebanyakan ateis tidak memaksakan bahwa tuhan tidak ada; hanya bagian darinya yang termasuk ateis ‘kuat’ atau ‘positif’. Pada kenyataannya, kebanyakan ateis dapat diketahui dari ketidak percayaan mereka terhadap tuhan, bukan dari pernyataan bahwa tuhan tidak ada.

Makna dari “kuat” dan “lemah” di dalam hal ini bukan mengacu kepada tingkat keyakinan seseorang mengenai ateisme. Makna tersebut lebih mengindikasikan apakah orang tersebut memiliki keyakinan gnostic atau tidak.

Ateisme lemah tidak perlu gnostic. Ia hanyalah sebuah bentuk ketidak percayaan terhadap tuhan. Monotheists tidak percaya kepada tuhan manapun, kecuali satu tuhan yang mereka percaya ada. Ateisme lemah adalah posisi mayoritas dari ateis pada saat sekarang.

Ateisme kuat adalah ateisme lemah ditambah dengan keyakinan gnostic: ateisme kuat menegaskan dengan pasti bahwa tuhan tidak ada.

Semua ateis paling kurang adalah ateis lemah; sebagian dari itu semua ada yang termasuk ateis kuat.


Kenapa seseorang memilih menjadi ateis kuat?

Ateis kuat biasanya berdasarkan alasan dalam penolakan dari keberadaan tuhan. Bergantung kepada kedudukan epistemological (bagian dari ilmu filsafah yang membahas tentang asal-usul), beberapa ateis dapat menyatakan bahwa tuhan itu memiliki sifat bertentangan oleh karena itu tidak dapat ada (sebuah alasan “a priori”), atau bahwa konsep bahwa (beberapa) tuhan tidak konsisten berdasarkan observasi kita (sebuah alasan “a posteriori”).

Banyak argumentasi menyatakan bahwa tuhan secara definisi umum adalah tidak mungkin atau tidak memiliki bukti-bukti. Definisi dari Tuhan sangat fleksibel seperti Yahweh yang berbeda dengan Loki yang berbeda dengan Tuhan Spinoza, dll. Sifat dasar dari klaim ketuhanan dapat sangat ambigu dan dapat diterima seperti halnya logika itu sendiri dapat ditundukan sesuai dengan keinginan pencipta logika itu sendiri. Begitu juga, atribut-atribut tertentu haruslah ditangani dalam konteks bagaimana kita menentukan validasinya.

Sangat penting di catat bahwa tidak semua argumen haruslah mutlak lebih banyak bersifat persuasif. Bukti yang mutlak pada umumnya tidak dapat dibuat dan ditambahkan, seperti argumen pada Brain in a vat.

Contoh:

Argumentasi A Priori

Hal pertama yang harus diketahui tentang argumen logis mengenai Tuhan, adalah apakah hipotesis Tuhan itu terikat atau kebal terhadap logika dapat ditunjukkan. Seseorang dapat berpendapat bahwa karena Tuhan merancang hukum-hukum logika, ini berarti Tuhan tidak terikat olehnya. Seperti, tidak mungkin secara logika tetap hanya berarti ‘sangat mustahil’ dalam kasus ini, dan suatu mahluk mahakuasa secara definisi tidak dapat diberi batas. Lebih lanjut, atribut-atribut tertentu dapat dirubah untuk membuat suatu pengecualian, tetapi melakukan hal seperti ini, kekeliruan dalam merubah tujuan awal telah dilakukan.

Paradoks mahakuasa

  1. Tuhan itu mahakuasa
  2. Jika anda mahakuasa maka anda memiliki semua kekuatan
  3. Mahluk mahakuasa tidak dapat dibatas dengan cara apapun
  4. Membatasi sesuatu adalah suatu kekuatan
  5. Mahluk mahakuasa tidak dapat memiliki kekuatan untuk membatasi dirinya sendiri
  6. Tidak mungkin menjadi mahakuasa

Tuhan yang mahatahu dan memiliki kehendak bebas (freewill)

Jika Tuhan mengetahui masa depan, dan memiliki freewill, tindakannya akan dipilih secara langsung secara ia melihatnya terpilih di masa depan. Walaupun mungkin saja, ia menghadirkan suatu tingkat ketidak-masukakalan. Lebih lanjut, jika kehendak bebas ada, tetapi Tuhan mengetahui masa depan (sebagaimana juga merancangnya), maka kehendak bebas adalah sesuatu yang telah ditetapkan.

Paradoks mahatahu

Beberapa pengetahuan secara definisi tidak diketahui, seperti ‘Tidak ada yang mengetahui apakah X adalah benar’. Jika itu adalah statemen yang benar, Tuhan akan mengetahuinya. Jika Tuhan mengetahuinya, ia tidak akan menjadi benar.

Argumentasi A Posteriori

Argumentasi A Posteriori berdasarkan pada pengalaman. Seperti, setiap perancang kekebalan Tuhan berdasarkan logika tidak dapat lagi dipermainkan.

Tuhan itu bersifat baik (benevolent)

Apakah Tuhan mau mencegah kejahatan, tapi tidak mampu? Maka ia tidaklah omnipotent.

Apakah ia mampu, tapi ia tidak mau? Maka ia adalah malevolent (memiliki atau memperlihatkan kemampuan untuk berbuat jahat kepada orang lain).

Apakah ia mampu dan mau? Lalu darimana datangnya jahat?

Apakah ia tidak mampu dan tidak mau? Lalu kenapa dipanggil Tuhan?

– Epicurus

Ini adalah bagian dari Omission Bias. Pertimbangkan situasi lain dimana tidak ada usaha sama sekali yang dibutuhkan untuk melawan kejahatan.

Kejahatan-kejahatan dapat termasuk,

  1. Jahat langsung, seperti Tuhan membunuh anak-anak lewat kitab suci.
  2. Jahat secara buatan, seperti merancang planet yang dapat menimbulkan bencana alam.
  3. Jahat tangan kedua. Tuhan yang membuat free-will telah membuat sebuah kemungkinan atau bahkan mungkin kecenderungan bagi ciptaannya berperilaku jahat.

Tuhan yang menjawab semua doa

Hasil dari sebuh penelitian memperlihatkan bahwa doa tidak efektif selain dari efek placebo. Penelitian yang memperlihatkan efek positif telah dirancang untuk membuat hasil sesuai dengan keinginan. Artikel bagus. Penting diketahui penelitian tentang doa harus dilakukan secara double-blind untuk menghilangkan kemungkinan efek psikologis termasuk efek placebo atau keinginan untuk merubah performansi.

Hasil yang bebas terhadap rancangan (seperti menumbuhkan anggota tubuh yang telah diamputasi) secara pasti tidak akan pernah terjadi, tapi bahkan pengetosan koin tidak dapat diubah dengan berdoa, jadi pengujian yang ekstrim, termoderasi, sepele tampak sepenuhnya tidak terpengaruhi oleh doa.

Tuhan Yang Perhatian Utamanya Pada Kehidupan Manusia

Apa yang tuhan lakukan triliunan tahun sebelum adanya manusia? Kenapa begitu banyak rentang waktu? Apa yang ia lakukan selama jutaan tahun homo genus tidak percaya kepadanya (kemungkinan berkeyakinan polytheist) dan juga selama kondisi pre-historic?

Tuhan yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan Tuhan pada kitab-kitab suci

Tuhan dari non-agama memiliki kemiripan dengan Yahweh dalam hal menjawab doa, mahakuasa, mahatahu, peduli pada kemanusiaan, pencipta keberadaan, dll. Jika anda menolak Yahweh, anda harus menanyakan pada diri anda sendiri apakah dasar dari pertanyaan anda. Apakah yang menyebabkan anda mempertanyakan tuhan yang baru tapi berbeda dengan sifat yang sama ini ada? Apakah mungkin lebih mudah bila ada beberapa Tuhan? Apakah mungkin Tuhan berbuat keliru atau jahat? Kenapa harus ada alasan untuk berpikir bahwa Tuhan seperti itu ada?

Tuhan yang memiliki bentuk rancangan seperti manusia

(Pernyataan ini mungkin lebih berkaitan dengan Tuhan Jesus pada agama Kristen)

Jika saya beritahu anda bahwa anjing saya memiliki ekor, maka itu akan masuk akal karena evolusi membuat anjing memiliki ekor. Jika saya beritahu anda bahwa anjing saya memiliki paruh, hal ini akan secara langsung menarik kecurigaan.

Kenapa tuhan memeliki pusar, puting, gigi, dll? Semua hal tentang ciri-ciri manusia adalah hasil evolusi, kausalitas dibelakang semua fitur Tuhan tersebut akan tampak salah.

Tuhan dengan moralitas

Seperti yang telah dijelaskan pada argumen sebelumnya, kausalitas untuk mahluk yang berevolusi akan tampak salah. Tetapi moralitas juga merupakan sifat yang berevolusi bagi mahluk sosial supaya berfungsi lebih baik lewat interaksi dengan yang lainnya. Darimana moralitas Tuhan berkembang?

Pikiran Tanpa-Otak

Seperti ciri-ciri evolusi seperti paruh, ekor, moralitas, dll. walaupun pikiran itu sendiri berevolusi diluar keuntungan secara evolusi, berawal dari sistem saraf pusat pertama di nematodes. Kausalitas untuk Tuhan yang berpikir juga sesuatu yang salah. Gagasan bahwa sebuah Pikiran Tanpa-Otak ada dengan mengabaikan bahwa sebuah pikiran ada selama otak biologis juga ada.


Tetapi Pengertian-pengertian diatas salah!

“Anda tidak menggunakan definisi yang benar mengenai agnostic/gnostic atau teisme/ateisme”

Argumentasi mengenai pengertian kata sering timbul mengenai istilah agnostic, ateisme, ateisme kuat, ateisme lemah, dan seterusnya. Argumen-argumen ini biasanya berkisar diantara bagaimana seseorang mendefinisikan kata-kata, dan bagaimana orang lain mendefinisikan kata-kata, seperti “pasti”, “iman”, “tahu”, dan “yakin”. Pada akhirnya, beberapa dari garis pembatas berubah-ubah. Pengertian yang diberikan dalam artikel ini merepresentasikan pada pendekatan yang lebih banyak diterima yang telah didiskusikan di beberapa tempat diskusi di dunia maya.

Sebelum berdebat mengenai istilah mana yang lebih tepat, mungkin lebih baik bersetuju mengenai pengertian dari setiap istilah tersebut.


Kitab suci ini adalah bukti sejarah bahwa Tuhan ada

Semua kitab suci memiliki klaim yang sama, apakah itu lewat hadis, berbagai penghafal kitab (Josephus, Tacitus) atau catatan dari Mormonism — tetapi secara sejarah buktinya saling menguntungkan. Banyak sumber-sumber yang diragukan secara asal-usulnya dan hanya mengacu kepada sejarah pengikut keagamaan, daripada kejadian supernatural. Catatan sejarah juga dapat di modifikasi dan bahkan disalahkan saat diartikan dan catatan sejarah membutuhkan sumber-sumber yang solid, dijaga secara objektif, pembuktian yang objektif, dan peer-review sebelum mereka menghasilkan suatu persetujuan. Pembuktian dari kitab suci terkadang tidak memiliki elemen-elemen kunci tersebut. Hanya karena sesuatu tertulis tidak membuatnya menjadi benar.

Masalah umum yang ada dalam kajian ini adalah standar ganda. Berapa banyak dokumentasi yang dibutuhkan seseorang untuk mempercayai keberadaan Quetzalcoatl atau Isis? Isis sebenarnya memiliki catatan tentang keberadaannya — kekuatan penyembuhan dan banyak dewa-dewi dan nabi-nabi lainnya memiliki catatan aktifitasnya di dunia.

Bila catatan sejarah adalah cara terbaik kita untuk memahami masa lalu, dan sementara beberapa sumber bisa lebih valid daripada sumber yang lainnya, ia masih tidak cukup bagus untuk dijadikan sebagai sebuah bukti, dan tidak cukup kuat untuk menjamin kepercayaan kepada suatu tuhan.


Argumen Penyebab Pertama (First cause argument)

“Semuanya disebabkan oleh sesuatu, sehingga alam semesta haruslah ada yang menyebabkannya. Penyebabnya adalah Tuhan.”

Argumen Penyebab Pertama hanya menghilangkan pertanyaan dari suatu penyebab pada beberapa tingkatan. Ada beberapa cara untuk melihat hal ini:

  • Lalu apa yang menyebabkan tuhan?
  • Jika tuhan dapat dibiarkan ada tanpa sebab, kenapa alam semesta tidak dapat ada tanpa sebab?
  • Mana yang lebih mungkin: Alam semesta sebagai kejadian alami, atau suatu mahluk supernatural menciptakan alam semesta, membaca pikiran-pikiran orang, dan melakukan aksi-aksi (mukjizat) yang melawan hukum-hukum alam?

Bahkan jika seseorang menerima argumen Penyebab Pertama sebagai sesuatu yang valid, dengan memberikan kualitas special untuk “tidak disebabkan” kepada suatu ketuhanan, satu-satunya metafisik yang didukungnya adalah deism. Penyebab Pertama itu sendiri tidak mendukung adanya tuhan apapun yang berinteraksi dengan segala hal di alam semesta.

Secara filosofi, jika anda memiliki klaim positif seperti “Tuhan ada”, anda harus membuktikannya dengan bukti-bukti yang memuaskan. Jika klaimnya berupa keluarbiasaan alam semesta, ia membutuhkan bukti yang lebih berat. Tidak adanya bukti memberikan alasan untuk menolak percaya kepada klaim luar biasa dari teis.

Pascal’s Wager (Taruhan Pascal)

“Lebih banyak yang saya dapat bila saya percaya kepada Tuhan, dan saya tidak kurang apapun bila percaya, jadi bukankah saya harusnya percaya kepada Tuhan?”

Blaise Pascal menduga bahwa walaupun keberadaan Tuhan tidak dapat ditentukan lewat alasan, seseorang harusnya bertaruh apakah bahwa Tuhan ada, karena hidup dengan hal tersebut lebih banyak untungnya, dan tidak kehilangan satu apapun.

Terdapat empat pernyataan pada taruhannya:

  • Hidup dengan jika tuhan ada, dan tuhan ada — balasan di hari akhir
  • Hidup dengan jika tuhan ada, dan tuhan tidak ada — tidak ada
  • Hidup dengan jika tuhan tidak ada, dan tuhan tidak ada — tidak ada
  • Hidup dengan jika tuhan tidak ada, dan tuhan ada — (Pascal sendiri tidak menyebutkan hasil dari kasus ini, tetapi dapat di asumsikan setidaknya hampir sama dengan balasan di hari akhir berupa “surga” dan “neraka”.)

Jadi berdasarkan Pascal, anda dapat hidup dengan menganggap tuhan ada, dan mendapatkan balasan di hari akhir jika taruhan anda menang.

Permasalahan utama dengan taruhan seperti ini adalah ia menganggap bahwa hanya ada satu tuhan, dan menganggap bahwa kematian merupakan jembatan ke kehidupan abadi.

  • Tidak ada indikasi bahwa kematian adalah jembatan menuju suatu tempat.
  • Banyak tuhan-tuhan yang telah dihadirkan oleh orang dalam sejarah.
  • Orang yang menyembah tuhan yang “sama” susah bersetuju antara mereka sendiri tentang makna dari “hidup dengan berpikir bahwa Tuhan ada.” (Lihatlah: Kristen, Yahudi, Islam)

Jika tuhan itu ada, dan jika kematian adalah jembatan ke kehidupan abadi, taruhan ini masih memiliki anggapan bahwa kita dapat dan mengetahui bagaimana dasar dari tuhan melakukan penilaian.

  • Mungkin tuhan akan memberikan balasan bagi mereka yang skeptis.
  • Mungkin tuhan akan memberikan balasan bagi mereka yang kejam.
  • Mungkin tuhan akan memberikan balasan bagi mereka yang berambut pirang.

Komplikasi lain datang bila anda mengaplikasikan taruhan ini pada Kristen (dimana Pascal sendiri harus beranggapan bahwa tuhan itu ada). Umumnya umat Kristen mengakui bahwa tuhan menilai seseorang berdasarkan tingkat keyakinan pada Jesus sebagai penyelamat — bukan hanya perilaku mereka saja. Jika hal ini berlaku, maka seseorang yang tidak percaya pada Jesus sebagai penyelamat harus memaksakan dirinya untuk percaya (cobalah untuk membuat diri anda percaya bahwa segi-empat itu bulat), atau pura-pura percaya. Anda harus berpikir bahwa Tuhan Ibrahim tahu bila seseorang mencoba mempercayai selain dia, dan menilai seseorang berdasarkan hal tersebut.

Secara singkat, Pascal Wager memiliki kesalahan dalam menganggap bahwa suatu nilai adalah konstanta padahal mereka hanyalah variabel dengan nilai tanpa batas (dan mungkin juga tidak mungkin diketahui). Memperbaiki persamaan pikiran menggunakan variabel bukan konstanta menghasilkan sebuah hasil yang sangat ber-variabel sehingga membuatnya sama sekali tidak berguna.

Apakah Ateisme itu sebuah agama?

Ateisme hanyalah agama.” atau “Memerlukan sebuah keimanan untuk menjadi seorang ateis”

Ada beberapa kesalahan dari asumsi tersebut. Terutama diantaranya adalah ateisme adalah gambaran dari sebuah karakteristik tunggal: ketidak percayaan pada tuhan atau dewa. Secara harfiah hal-hal lainnya dapat dirundingkan. Adalah mungkin bila seorang ateis percaya kepada hantu, sebagai contohnya, selama hantu tersebut bukanlah tuhan. Theism, kebalikan dari ateisme, juga bukanlah sebuah agama. Agama memerlukan doktrin, ritual, dan lain-lain.

Hal tersebut, tentu saja, tidak cukup untuk meyakinkan seseorang yang bersiteguh bahwa keyakinan pada ateisme hanyalah suatu bentuk dari agama. Untungnya, ada banyak karakteristik umum pada agama-agama:

Benda keramat, tempat keramat, waktu atau hari keramat

Tidak ada konsep “keramat” pada ateisme.

Ritual yang difokuskan pada yang hal-hal keramat

Tidak ada yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang ateis atau seseorang akan selamat bila tidak percaya pada tuhan.

Membuat pernyataan pada keberadaan, baik pada saat sekarang atau pada awalnya

Hal ini sering dinyatakan oleh agama dalam bentuk mitos penciptaan. Ateisme tidak memiliki hal tersebut.

Menyediakan sebuah filosofi

“Ketidak percayaan pada tuhan atau dewa” tidak menuntun cara orang untuk hidup. Masyarakat cukup hidup sebagaimana mereka menginginkan.

Menyediakan pandangan hidup terhadap dunia

Versi agama dari bentuk ini yaitu “Tuhan melakukannya” dan hidup dari hal tersebut. Ateisme tidak memiliki pandangan seperti itu.

Menyediakan kode moral

Hal ini ada turun-temurun pada manusia secara umum. Kebanyakan orang, baik yang percaya pada tuhan (atau tidak), akan setuju bahwa adalah salah untuk memukul seseorang, misalnya. Ateisme sendiri tidak memberikan pernyataan tentang moral atau perilaku.


Apakah anda harus menjadi X untuk menjadi ateis?

Apakah anda harus menjadi seorang yang rasionalis, materialis, skeptis, humanis, freethinker, sekularis, dan/atau naturalis untuk menjadi seorang ateis?

Secara singkat, tidak. Anda dapat menjadi seorang ateis dan percaya kepada hampir semua hal — kecuali pada tuhannya para theist. Ada beberapa ateis, cukup banyak diantara mereka, yang spiritual, percaya pada hal gaib, menerima dualisme dari akal/badan, atau apapun. Anda akan menemukan bahwa orang yang mengaku ateis akan melakukan pendekatan rasional untuk mempertahankan keyakinanannya pada tingkat filosofi. Karena alasan tersebut anda akan menemukan dominasi oleh skeptisme dan naturalisme, dan penolakan umum terhadap mahluk gaib hampir di setiap forum atau diskusi. Banyak pertanyaan yang ditujukan pada ‘ateis’ lebih cocok di berikan kepada freethinkers, atau rasionalis, atau materialis.


Apakah ateis itu Satanik? Apakah ateis menyembah dirinya sendiri atau sains ?

Tidak.

Ateis tidak percaya pada Tuhan, dan kebanyakan ateis juga menolak segala takhyul yang mengelilingi mitos Tuhan. Hal ini termasuk Setan, Malaikat, Iblis, Roh, Hantu, Kekuatan magis, Unicorn, Santa Claus, dan mahluk-mahluk fiksi lainnya yang diciptakan oleh agama. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian lainnya, seseorang tidak harus secara mutlak menolak hal-hal gaib untuk menjadi ateis, walaupun mayoritas ateis menolaknya.

Ateis tidak menyembah sains atau dirinya sendiri karena hal tersebut berarti percaya kepada ketuhanan (sesuatu yang disembah) dan anda tidak akan menemukan ateis yang menyembah dalam pengertian sembahyang terhadap sains atau sujud kepada suatu idola yang merepresentasikan sains setiap harinya. Setiap orang yang mengklaim bahwa ateis menyembah sains terlibat dalam kesalahan persamaan derajat.

Di sisi lain, sebuah kajian mengenai LaVeyan Satanism menunjukkan bahwa orang-orang yang ada pada hal semacam itu adalah ateis, dimana mereka percaya tidak ada mahluk gaib. “Satan” dalam LaVeyan Satanism adalah simbolik, dan banyak yang beranggapan bahwa keseluruhan organisasi adalah troll terbesar di tahun 1960-an. Mereka membedakan diri mereka dengan orang lain yang mempercayai Satan yang asli dan gaib, yang sering disebut dengan “pemuja setan”. Tetap, hanya karena seseorang diidentifikasi sebagai ateis bukan berarti mereka sejajar dengan LaVeyan Satanism.


Ateis stereotype

Seringkali orang yang bukan ateis memiliki stereotype di kepala meraka tentang ateis adalah orang yang anti-theist dan sering kali kasar, arogan, terus terang atau marah.

Walaupun tidak ada bukti statistik yang mendukung pernyataan ini, hal ini merupakan hasil dari ‘Toupee Fallacy’. Semua orang berpikir bahwa mereka dapat menentukan orang yang menggunakan toupee karena mereka hanya melihat pengguna toupee yang buruk. Pengguna toupee yang bagus tidak terbedakan. Pada tingkat ini, orang berpikir mereka tahu ateis itu blak-blakan, arogan, dll. karena itu adalah hal yang paling mudah dilihat dari para ateis.

Jika perilaku ini menjadi sesuatu yang lazim, ia kemudian dapat dipahami dengan perbandingan sederhana terhadap entitas fiksi. Dimana populasi dunia membunuh dirinya sendiri karena adanya suatu komitmen yang kuat dengan keturunan centaur yang tidak dapat dilihat, seseorang harusnya berharap ada orang logis yang akan marah dan berbicara, atau mereka akan dianggap arogan dan berperilaku kasar.


Kekeliruan ‘No True Scotsman’ (The ‘No True Scotsman’ fallacy)

“Tidak ada penganut sebenarnya yang berperilaku seperti itu!”

Kekeliruan ‘No True Scotsman’ adalah sebuah kekeliruan logis yang sering timbul selama debat, biasanya saat mendiskusikan fundametalisme atau penganut yang ekstrim/teroris. Istilah ini mengacu pada bagaimana seseorang mencoba menolak atau memungkiri suatu perilaku dengan dasar bahwa pelaku dari perilaku tersebut tidaklah merepresentasikan keseluruhan.

Istilah ini pertama kali ditemukan oleh Antony Flew pada tahun 1975 :

Bayangkan seorang Hamish Macdonal, seorang Scotsman, duduk dengan koran Glasgow Morning Herald-nya dan membaca sebuah artikel tentang “Maniak Sek dari Brighton Muncul Kembali.” Hamish terkejut dan berkata “Tidak ada seorang Scotsman pun yang akan melakukan hal tersebut.” Pagi berikutnya dia duduk membaca Glasgow Morning Herald-nya kembali dan kali ini menemukan artikel tentang seseorang dari Aberdeen yang dengan aksi brutalnya membuat maniak sek dari Brighton tampak seperti seorang yang lebih terhormat. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa Hamish salah dalam opininya tetapi apakah dia akan mengakuinya? Mungkin tidak. Kali ini dia berkata, “Tidak ada seorang Scostman pun yang akan melakukan hal tersebut.” –Antony Flew, Thinking About Thinking (1975)

Banyak orang tampaknya salah dalam memahami kekeliruan dari ‘No True Scostman’. Kunci dari kekeliruan disini adalah pada equivocation (pengelakan), yaitu dimana seseorang mundur dari posisi sebelumnya. Pernyataan yang sederhana “orang X tidaklah seorang Y sejati” tidak memiliki kriteria yang cukup untuk dilabelkan sebagai sebuah kekeliruan. Jika bukan begitu, maka akan tidak mungkin untuk seseorang memanggil orang lain penipu tanpa mengakui atau menganggap dirinya sendiri salah dalam beralasan. Dengan kata lain, seseorang harus memberikan peryataan terlebih dahulu, dalam sebuah debat, bahwa “tidak ada Y yang melakukan Z,” sebelum dia bertemu dengan bukti bahwa X, adalah seorang Y, telah melakukan Z. Jika orang tersebut merespon dengan memberikan informasi bahwa “maka X bukanlah seorang Y,” maka disinilah pendakwaan bahwa kekeliruan ‘No True Scotsman’ adalah benar.

Contoh dari Flew di atas adalah sebuah gambaran yang sempurna dari dalih dalam aksi. Tanpa dalih, tidak akan ada kekeliruan.


Bagaimana seseorang dapat berperilaku (baik) tanpa Tuhan?

Moralitas secara umum terbagi dalam tiga bagian:

  • Consequentialism, atau kepercayaan bahwa moralitas dari sebuah perilaku adalah berdasarkan pada konsekuensi dari aksi;
  • Deontology, atau kepercayaan bahwa moralitas dari sebuah perilaku adalah berdasarkan pada apakah sesuatu tunduk dengan aturan-aturan atau tidak; dan
  • Virtue ethics, atau kepercayaan bahwa moralitas harusnya berdasarkan pada ‘definisi’ dari orang, bukan dari apa yang orang ‘perbuat’.

Menggunakan definisi tersebut, kebanyakan agama sekarang menggunakan deontology, dengan sekumpulan aturan yang diberikan oleh Tuhan. Bagaimanapun, tidak ada yang menjadi sifat dari bagian tersebut yang membutuhkannya.

Di balik itu semua, moralitas dapat dipelajari dari bidang ilmu psikologi dan sosiologi. Dimana keduanya memberikan penjelasan dari moral, kedua bidang tersebut tidak memberikan solusi yang menyatakan bahwa suatu moral lebih baik dari moral lainnya, tetapi gagasannya masih dapat ditelusuri lewat filosofi sekular. Hal ini terbukti dengan aksi pengadilan dari institusi sekular (mungkin contoh yang bagusnya dari pemerintah) atau norma sosial yang berlaku tanpa berdasarkan agama atau tidak dipegang oleh penganut agama. Contohnya termasuk dilarangnya perbudakan, penolakan terhadap seksisme/rasisme, dan lain-lain.

Sebaliknya, pendekatan dogmatis oleh agama untuk memperlakukan sekumpulan aturan yang tetap yang mana secara tegas menentukan mana yang benar dan tidak, menghalangi perkembangan dari moralitas.

“Tapi lihat! Pemimpin dari pembunuhan masal dalam sejarah adalah ateis! Hitler! Pol Pot! Stalin!”

Kesalahpahaman yang umum yang telah dipromosikan diantara para komunitas theism adalah setiap diktator ini berbuat jahat karena mereka ateis. Akibatnya adalah tanpa Tuhan, orang tidak akan memiliki ‘moral dasar’ dan maka dari itu akan membuatnya menolak berbuat jahat seperti pembunuhan masal.

Hal ini salah. Moral dan moralitas adalah hal alami pada manusia, dan terpisah dari keyakinan agama. Apakah seorang yang tidak percaya lagi pada agama kemudian langsung membunuh dan memperkosa? Sungguh, bila moral benar-benar ditentukan oleh ajaran agama, maka perbudakan, pelemparan batu pada orang dewasa, homoseksual, perlakuan kasar pada anak, dan banyak lagi kekasaran yang diperintahkan dalam Bible tidak akan dianggap kasar sama sekali — mereka akan secara sempurna dianggap sebagai sesuatu yang ‘moral’ dilakukan. Dalam prakteknya, moralitas lebih baik diartikan sebagai hasil yang tidak dapat dielakkan dari [http://en.wikipedia.org/wiki/Zeitgeist Zeitgeist] (dari bahasa Jerman yang berarti ‘jiwa dari waktu’), perubahan pemahaman sosial yang kita bagi secara bersama yang menentukan perilaku apa yang dapat diterima dan tidak diterima di dalam setiap masyarakat.

Jika seseorang belum mengerti kenapa kekejaman itu salah, dia tidak akan mendapatkannya dari membaca Bible atau Quran — karena buku-buku tersebut penuh dengan perayaan kekejaman, manusia dan tuhan. Kita tidak akan mendapatkan moralitas kita dari agama. Kita menentukan apa yang baik dalam buku-buku dengan jalan lewat intuisi moral yang mana (pada suatu tahap) tertanam dalam diri kita dan hal tersebut telah diperhalus oleh ribuan tahun berpikir tentang sebab dan kemungkinan akibatnya terhadap kebahagiaan manusia.

Kita telah membuat suatu progres selama bertahun-tahun, dan kita tidak membuat progres tersebut dengan membaca Bible atau Quran. Kedua buku tersebut membenarkan perbudakan — dan setiap manusia sipil mengetahui bahwa perbudakan adalah sesuatu yang sangat dibenci. Apapun yang baik dalam tulisan kuno, seperti Golden Rule (aturan utama), dapat dinilai secara etis tanpa memerlukan kita percaya bahwa hal tersebut diturunkan oleh pencipta alam semesta.

Argumen tersebut pada hakekatnya salah dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  • Keberadaan tuhan tidak tergantung pada siapa yang mengambil posisi theist atau ateis.
  • Causality (hubungan sebab-akibat) adalah hal penting dalam memahami setiap hubungan. Causality antara contoh immoral dari ateis dan ateisme adalah garis batas dari ketidak-beradaaan, dalam banyak kasus — tidak lebih dari poin dalam pernyataan bahwa Hitler dan Stalin jahat karena mereka memiliki kumis.
  • Hubungan sebab-akibat antara aksi immoral lebih banyak berlaku pada agama. Contohnya yang baru-baru terjadi adalah penyerangan terhadap kartunis dari Eropa yang menggambar Muhammad. Bila penyerangnya bukan Muslim, akan sangat rancu mereka akan melakukan hal kejam tersebut.
  • Hal tersebut menunjukkan kesalahpahaman mengenai sejarah seperti yang akan dibahas lebih lanjut.

Mengacu pada Hitler, Pol Pot dan Stalin, perlu diketahui bahwa Hitler ternyata bukan ateis sama sekali. Dia dibesarkan sebagai Katolik, seringkali menggunakan kata Jesus dalam pidato, dan mengatakan bahwa dia dan rakyat Jerman sebagai “manifest destiny” (muatan takdir) — secara terang-terangan memposisikan tidak ateis. Sebagai tambahan, partai Nazi secara resmi melarang buku-buku yang “mengejek, merendahkan atau menodai agama Kristen dan institusinya, iman pada Tuhan, atau hal-hal lain yang suci.”

Pol Pot dibesarkan dalam ajaran Buddha, selanjutnya menghabiskan delapan tahun dalam seminar Katolik, tetapi lebih akurat bila diartikan sebagai deist yang dikenal karena percaya pada “surga” dan “destiny.”

Stalin lahir dalam keluarga yang beragama dan menghadiri seminar Tiflis Theological, dimana dia dikeluarkan. Kepercayaannya pada agama agak sulit di tentukan secara pasti, bagaimanapun dia secara publik menggagaskan ide bahwa agama tidak diperlukan.

Sam Harris memberikan penjelasan yang terang mengenai aksi yang dilakukan oleh orang-orang tersebut:

“Orang dengan kepercayaan seringkali mengklaim bahwa ateisme bertanggung jawab terhadap kejahatan yang paling besar pada abad 20. Walaupun benar bahwa rezim Hitler, Stalin, Mao dan Pol Pot tidak beragama pada tingkat-tingkat yang berbeda, mereka secara khusus tidak rasional. Pada kenyataannya, pernyataan publik mereka lebih banyak pada khayalan litani — khayalan tentang ras, ekonomi, identitas nasional, parade sejarah atau bahaya moral dari intelektualisme. Dengan rasa hormat, agama secara langsung lebih dipersalahkan disini. Lihat saja Holocaust: anti-Semitisme yang dibangun oleh bangunan kremasi Nazi batu demi batu adalah turunan langsung dari zaman Kristen. Selama berabad-abad, umat beragama Jerman melihat kaum Yahudi sebagai spesies yang paling buruk dan menghubungkan setiap penyakit sosial dengan keberadaan mereka diantara orang-orang yang beriman. Sementara kebencian pada Yahudi di Jerman di ekspresikan secara dominan dengan cara sekular, perilaku peng-setan-an terhadap Yahudi di Eropa terus berlanjut. (Vatican sendiri mengabadikan sebagai darah fitnah di dalam korannya pada masa 1914.)”

“Auschwitz, gulag dan lahan pembunuhan bukan contoh akibat bila seseorang menjadi terlalu kritis terhadap kepercayaan yang tidak tepat; kebalikannya, horor tersebut mengakui berbahayanya tidak cukupnya berpikir kritis terhadap suatu ideologi sekular tertentu. Tidak ada gunanya kukatakan, argumen rasional terhadap keyakinan agama bukanlah argumen yang mencakup ateisme sebagai dogma. Permasalahan yang ateis sering kemukakan tidak lebih dari permasalah dari dogma itu sendiri — yang mana setiap agama memiliki bagiannya sendiri. Tidak ada masyarakat yang tercatat dalam sejarah yang menderita karena orang-orangnya menjadi terlalu berpikir masuk akal.”


Kenapa ilmu pengetahuan tidak memerlukan Tuhan

Untuk menjadi seorang ateis anda tidak perlu mencari alasan yang bagus untuk percaya pada keberadaan tuhan. Oleh karena itu, perlu juga untuk memahami kenapa para theist mengklaim bahwa ilmu pengetahuan adalah salah. Mayoritas argumen dari para theist hanya menambahkan kompleksitas lapisan gaib terhadap sesuatu yang terjadi secara alami di dunia. Tuhan tidak diperlukan dalam model ilmiah. Dibalik itu semua, bukti-bukti perlu diberikan untuk mengisi atribut terhadap ruang kosong antara ilmu pengetahuan dan tuhan. Respon intelektual terhadap ruang kosong tersebut adalah “Saya tidak tahu”, bukan “Saya tidak tahu, maka Tuhan lah yang melakukannya.” Garis pemikiran seperti ini telah menjadi dasar dari berbagai kesalahan atribut terhadap tuhan mengenai cahaya, matahari, laut, dan lainnya.

Pernyataan di bawah ini adalah klaim umum dari para theist mengenai ilmu pengetahuan:

Tuhan diperlukan untuk membuat keberadaan

Hukum pertama dari thermodynamics. Dengan adanya Yang Maha Kuasa, dia dapat membuat energi/benda, tetapi hal tersebut membuat asumsi bahwa benda/energi diciptakan untuk pertama kali. Tidak ada bukti yang lengkap yang menyatakan bahwa energi/benda diciptakan, hanya dapat direkayasa. Sampai ditemukannya pembebasan terhadap hukum pertama yang memperlihatkan bahwa energi dan benda adalah diciptakan, maka tidak ada alasan untuk berpikir bahwa keberadaan dimulai dengan suatu cara. Teori Big Bang bukanlah teori yang menyatakan keberadaan menjadi sesuatu. Teori Big Bang secara khusus menjelaskan perkembangan dan kondisi yang berkembang menjadi alam semesta. Penjelasan yang lebih bagus dapat dilihat di sini.

Tuhan diperlukan untuk membuat kehidupan pertama kalinya

Kesalahpahaman umum adalah bahwa evolusi alam digunakan untuk menjelaskan asal muasal mahluk hidup. Sejarah evolusi hanya menjelaskan bagaimana mahluk hidup berkembang melewati waktu, bukan bagaimana ia dibentuk. Teori menyangkut asal mula hidup dikenal dengan abiogenesis. Salah satu penelitian terkenal mengenai hal ini adalah eksperiment Miller-Urey. Disini, amino acids (pembangun protein) dibuat dari benda mati dan secara alami di dalam lab dengan membentuk suatu keadaan bumi pada saat awal mahluk hidup terbentuk. Amino Acids diperlukan untuk membuat kode genetis asli untuk menciptakan leluhur dunia paling awal. Bidang ilmu abiogenesis memberikan banyak penjelasan mengenai penyebab alami terhadap pembentukan mahluk hidup yang tidak memerlukan keterlibatan mahluk gaib.

Kompleksitas dari organisme moderen tidak dapat dijelaskan dengan hanya langkah-langkah evolusi. Tuhan pastilah berada dibelakangnya

Eksperimen jangka panjang terhadap bakteri e. coli memperlihatkan perubahan drastis dalam physiologi adalah sangat mungkin. Kemampuan memproses citrate, lawan dari nutrisi yang belum dicerna, adalah suatu langkah yang besar. Creationist terkadang sering membagi evolusi menjadi paham yang salah yaitu evolusi “macro” dan “micro” untuk membantah penelitian dan bidang eksperimen yang mencari bagaimana hidup dapat berevolusi. Dengan langkah-langkah kecil yang cukup dapat membuat anda berada di tempat yang sama dari beberapa langkah besar. Perkembangan bertingkat pada akhirnya menghasilkan perubahan yang besar.

Manusia adalah spesial dan sangat pintar dibandingkan binatang lainnya.

Perkembangan besar ini membuktikan adanya Tuhan

Omo Remains, berumur 200,000 tahun, siap membantah penciptaan bumi dari para creationism. Tetapi dibalik itu, juga ada beberapa sifat-sifat physiological yang menghubungkan mereka ke nenek moyang kita homo heidelbergensis termasuk kapasitas otak dan kemampuan untuk berjalan tegak. Melihat lebih kebelakang lagi mengungkap bahwa manusia tidak hanya turun dari homo genus tetapi jauh lebih kebelakang lagi ke Australopithecus. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa ada hal lain selain kekuatan alami yang membuat homo sapiens.

Moralitas memperlihatkan bahwa Tuhan menciptakan baik dan buruk

Evolusi dari moralitas. Melihat sepintas dari kehidupan alami dari binatang sosial (gajah, lumba-lumba, simpanse, serigala, kelelawar, dan lainnya), kelompok binatang terkadang sering merasa terpaksa menolong satu dengan yang lainnya, membalas perbuatan baik/buruk, dan menjadi monogami. Moralitas tidak hanya ada pada manusia seacara ekslusif. Moralitas menitis dari proses evolusi yang membuat hewan berbuat lebih baik dari yang lainnya.

Alam semesta sangat komplek untuk diciptakan oleh selain Yang Maha Kuasa

Teori Chaos memperlihatkan semuanya adalah komplek secara tak terbatas. Tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa alam semesta membutuhkan pencipta dari pada bentuk batu tanpa-rancangan yang ada sekarang.

Alam semesta terlalu teratur untuk menjadi sebuah kebetulan

Argumen ini memiliki beberapa kesalahan:

  • Prisip Anthropic menjelaskan bahwa alam semesta secara logis harus ada sebagaimana adanya dengan tujuan supaya kita dapat mengamatinya. Logiknya adalah: jika alam semesta adalah tempat dimana mahluk tidak mungkin hidup, kita tidak mungkin ada disini untuk mengamati fakta tersebut. Oleh karena kita ada dan mampu mengamati keberadaan kita sendiri berarti alam semesta haruslah, secara paksa, salah satu dari (yang diasumsikan) bermacam tipe alam semesta yang membolehkan adanya mahluk hidup.
  • Jika alam semesta tekah diatur sedemikian rupa, itu berarti alam semesta ini dibuat secara kurang baik. Apakah sebuah radio dapat dikatakan dibuat secara baik bila hanya dapat menangkap satu saluran dari sekian banyak sinyal?
  • Bahkan bila alam semesta ini di-atur sedemikian rupa, bukti-bukti harusnya tertata atau terpampang untuk memperlihatkan bahwa tuhan itu ada. Kurangnya imaginasi untuk memperlihatkan hal tersebut bukanlah suatu alasan.
  • Jika pengaturan sedemikian rupa sangat diperlukan, maka itu menandakan bahwa sistem ini sangat cacat dari rancangan maka perlu di-tuning untuk memperbaikinya.
  • Heat Death – Degenerasi semua benda menjadi panas adalah contoh yang bagus bagaimana alam semesta ini TIDAK-lah teratur. Bahkan galaksi dan sistem solar kita tidaklah diatur untuk keberadaan kita, karena matahari akan berkembang menjadi bentuk besar merah dan menelan bumi, dan galaksi Andromeda nantinya akan berbenturan dengan Milky Way. Planet bumi tidak berarti cocok untuk mahluk hidup secara umum. Hanya di bagian atasnya lah ada mahluk hidup, dan kita hidup di planet paling semrawut di seluruh sistem solar. Kita melewati zaman es, seismic dan bencana meteorological. Ia tidak dicocokan untuk manusia secara spesifik, karena dua-per-tiga air garam tidak dapat kita minum bahkan hidup di dalamnya. Bumi penuh dengan hewan yang dapat memakan kita jika ada kesempatan, selain itu juga ada virus, bakteri, dan parasit. Lebih lanjut, cepatnya perkembangan alam semesta adalah hal yang merintangi hidup manusia. Alam semesta tidak diciptakan untuk hidup kita atau untuk keberadaan kita. Tampaknya memang diatur untuk kita karena hidup adalah proses pencocokan kita dengan lingkungan melewati evolusi.

Selain itu, argumen telah dibuat menyarankan bahwa Four Forces telah di-atur sedemikian rupa untuk menunjukkan perancang.

Beberapa simulasi memperlihatkan bahwa kekuatan (the forces) tidak diperlukan dalam proporsi untuk penciptaan alam semesta atau kemungkinan atau kehidupan.

Cosmological constant telah dibantah dengan “the red shift” dan perkembangan akselerasi dari alam semesta.

Pengalaman spriritual membuktikan pencipta

Sejumlah penyebab termasuk “The God Helment” memperlihatkan hal tersebut tidak membutuhkan Tuhan untuk mendapatkan pengalaman spiritual, dan lebih besar kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh penyebab alamiah. Dibalik itu, panca indra secara otomatis tidak selalu menghasilkan sesuatu benar, terutama bila efeknya berasal dari otak. Jika indra yang sama dapat menghasilkan pengamatan yang akurat tentang hal lainnya, mungkin itu adalah indra yang dipercaya, tetapi bukan begitu adanya. Argument dari pengalaman beragama bisa jadi penyebab beberapa orang berpikir kita dirancang untuk menggunakannya sebagai tujuan untuk berkomunikasi dengan tuhan.

Ada penyebab alami yang lebih baik yang dapat menjelaskan kenapa fungsi (indra) berubah. Beberapa ide menyatakan hal tersebut disebabkan bagian dari otak yang disfungsi (sama halnya dengan pengalaman melihat UFO), hal itu bisa saja merupakan adaptasi yang terbangun dari efek placebo. Kemujaraban dari berdoa adalah tergantung dari ketahuan kita pada apa yang didoakan. Perkembangan otak yang mudah terpengaruh terhadap pengalaman keagamaan mungkin lebih berkaitan dengan keuntungan perkembangan efek placebo bagi keagamaan.


Poe’s Law (Hukum Poe)

Poe’s Law menyatakan: “Tanpa senyuman atau ekspresi menyolok memperlihatkan humor, sangat tidak mungkin untuk membuat sebuah parodi Fundamentalisme bahwa SESEORANG tidak akan salah untuk hal yang sebenarnya.”

Poe’s Law, secara formal, mengatakan bahwa pikiran fantastis tentang keagamaan yang secukupnya tidak dapat dibedakan dari sesuatu yang tidak masuk akal, oleh karena itu sangat tidak mungkin untuk mengetahui apakah seseorang yang mempromosikan pandangan keagamaan adalah gila atau hanya sedang melakukan parodi. Sebaliknya, fundamentalisme asli dapat dengan mudah dianggap sebagai parodi dari fundamentalisme.

Contoh produksi parodi yang berhubungan dengan Poe’s Law :

contoh produksi non-parodi (nyata) yang berhubungan dengan Poe’s Law:

Untuk detil lebih lanjut lihat Rational Wiki – Poe’s Law.


Efek Dunning-Kruger

Efek Dunner-Kruger jarang muncul, tapi menerapkannya pada seseorang adalah sama dengan pedang bermata-dua yang berarti anda begitu yakin pada kesalahan alami dari kedudukan seseorang sehingga anda mengatribusikannya pada psychology. Perilaku ini secara jelas merupakan salah satu kepercayaan diri pada kedudukan anda sendiri bahwa orang lain salah yang menyebabkan anda sedikit patut dipersalahkan karena efek Dunning-Kruger.


Terlalu Menerima

Ateisme dan Bersin: Apa yang harus saya katakan saat orang lain bersin? atau Apa yang harus saya katakan bila saya bersin dan orang lain mengatakan “bless you” pada saya?

Tidak ada bahasa khusus yang harus anda gunakan (atau tidak gunakan) untuk menjadi ateis. Banyak ateis yang menghindari menggunakan bahasa yang berakar dari agama, “bless you” termasuk didalamnya. Alternatif dari kalimat tersebut yaitu “gesundheit” (German), “bon sante” (French) atau “salud” (Spanish) semuanya secara dasar berarti “untuk kesehatan anda.” Berikut adalah beberapa respon. Beberapa menyarankan untuk tidak mengatakan apapun karena “kenapa harus mengatakan sesuatu, itu hanyalah fungsi dari badan.” Bagian pemikiran lain menyatakan “bless you” merupakan perkataan yang bekerja dalam bahasa. Asal mula kalimat tersebut yang banyak diterima orang adalah bersin menyebabkan hati berhenti berdetak dan mengatakan “bless you” mencegah hal tersebut. Kebanyakan yang mengatakan “bless you” tidak mengetahui asal muasal dari kalimat tersebut, jadi hal tersebut juga dapat berlaku pada ateis.

Menyangkut mengenai apa yang harus dikatakan saat orang mengatakan “bless you”, jawaban biasanya adalah dengan tidak mengatakan apapun atau mengatakan “terima kasih” untuk mengindikasikan kebaikan dari orang yang mengatakan kalimat tersebut tanpa secara langsung mengakui kalimat tersebut.

Jadi anda mendapatkan email berantai

Walaupun kita tidak keberatan dengan email berantai, tapi nampaknya hal yang sama selalu yang dikirimkan. Beberapa darinya mungkin terlihat masuk akal, paling tidak bagi para penganut kepercayaan, yang mana mungkin kenapa mereka lebih sering kita dapati. Yang paling banyak kita lihat umumnya berkaitan dengan:

Ex. Kejahatan adalah karena kurangnya sesuatu

Hal ini mengenai profesor dan anak muridnya yang Kristen. Dalam cerita ini si murid mengemukakan, dengan berbagai cara, bahwa X tidak ada karena tidak adanya Y. Seringkali hal ini diikuti dengan klaim bahwa si murid adalah Albert Einstein. Snope telah membahas hal ini, dan telah ada pemeriksaan dari cerita tersebut oleh Rational Responders. Argumen yang dikemukakan pada cerita tersebut, bahwa X adalah karena tidak adanya Y, disebut dengan theodicity dan dibuat oleh Augustine of Hippo sekitar 1600 tahun yang lalu.

Apa opini ateis mengenai setelah kematian, mengenai moralitas, apa opini ateis mengenai “ground zero mosque”? dll. dll.

Ateisme bukanlah ideologi yang membahas dan memiliki opini tentang segala hal. Walaupun beberapa opini lebih umum daripada yang lainnya diantara para ateis, tidak ada ‘dalam’ atheise yang mengatakan anda harus seperti ini dan seperti itu dalam segala sesuatu kecuali anda percaya kepada tuhan atau tidak.


Dimana Saya dapat belajar mengenai kontradiksi atau kesalahan informasi dalam Kitab Injil?

The Skeptic’s Annotated Bible.


Kenapa klaim dari para creasionisme tidak benar?

Lihat lebih lanjut di TalkOrigins.


Apakah Saya harus mengaku di luar sebagai ateis?

” Saya bergantung pada orang tua saya yang beragama dalam hal uang/rumah/pendidikan/dll, apakah Saya harus mengatakan kepada mereka bahwa Saya tidak percaya kepada Tuhan?”

Jawaban singkatnya “Tidak.”

Untuk jawaban yang sedikit lebih panjang adalah jika anda tidak berada di posisi dimana berakhir tidak baik bagi anda, anda sebaiknya menunggu sampai anda mandiri. Bagaimanapun juga, anda lebih tahu mengenai orang tua anda dari pada kami. Anda dapat mencoba menyinggung hal tentang ateisme secara halus terhadap mereka untuk merasakan bagaimana reaksi mereka secara umum, jika anda tidak yakin. Selalu ingat bahwa bagi sebagian orang agama adalah sesuatu hal yang sensitif, dan bagi para orang tua yang dilahirkan untuk percaya kepada “kekuatan moral” dari kepercayaan beragama, anak yang mengaku ateis dapat dianggap sebagai pengkhianatan terhadap mereka atau kegagalan dari diri mereka.

Pada beberapa agama, adalah hal yang sangat berbahaya untuk “keluar”. Jika anda datang dari salah satu agama seperti itu, ingatlah selalu dalam pikiran anda mengenai hal tersebut.

Haruskah kita lebih A daripada B?

“Saya rasa kita terlalu agresif/pasif sebagai komunitas. Bisakah kita agak diam/bertindak?”

Secara sederhana, kita tidak dapat menyuruh orang lain melakukan sesuatu, dan mereka tidak akan memperdulikannya.

Ateisme bukanlah agama, tidak ada yang memegang kekuasaan untuk menyuruh orang lain bagaimana dia harus berperilaku. ateis yang sering menyarankan untuk merubah perilaku kita sebagai sebuah kelompok biasanya diacuhkan karena bertindak sebagai troll, atau diingatkan bahwa ateisme bukanlah sebuah agama dan saran yang diberikan sudah pasti diacuhkan, terutama karena mayoritas biasanya lebih bertindak masuk akal dan diam.


Bacaan Yang Dianjurkan

Berikut adalah daftar buku-buku tentang ateisme yang direkomendasikan. {Daftar ini tidak terurut berdasarkan apapun}

The Demon Haunted World – Science as a Candle in the Dark oleh Carl Sagan

The God Delusion oleh Richard Dawkins

Unweaving the Rainbow: Science, Delusion and the Appetite for Wonder oleh Richard Dawkins

A Devil’s Chaplain: Reflections on Hope, Lies, Science, and Love oleh Richard Dawkins

Climbing Mount Improbable oleh Richard Dawkins

The Ancestor’s Tale: A Pilgrimage to the Dawn of Evolution oleh Richard Dawkins

The Blind Watchmaker: Why the Evidence of Evolution Reveals a Universe without Design oleh Richard Dawkins

The Greatest Show on Earth: The Evidence for Evolution oleh Richard Dawkins

God is Not Great: How Religion Poisons Everything oleh Christopher Hitchens

The Missionary Position: Mother Teresa in Theory and Practice oleh Christopher Hitchens

The End of Faith: Religion, Terror, and the Future of Reason oleh Sam Harris

Letter to a Christian Nation oleh Sam Harris

The Moral Landscape – How Science Can Determine Human Values oleh Sam Harris

In Defence of Atheism (aka The Atheist Manifesto: The Case Against Christianity, Judaism, and Islam) oleh Michel Onfray

Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon oleh Daniel Dennett

God: The Failed Hypothesis. How Science Shows That God Does Not Exist oleh Victor J. Stenger

The New Atheism: Taking a Stand for Science and Reason oleh Victor J. Stenger

Religion and Science oleh Bertrand Russell

The Bible/Qur’an/Torah/dll. oleh berbagai pengarang

  • Versi Kitab Injil dapat di unduh di sini, gratis.
  • Versi Qur’an dapat di unduh di sini, secara komplit dalam bahasa Arab dan saduran dalam bahasa Inggris untuk setiap bagian.

Argumentasi untuk keberadaan Tuhan Setiap argumen berkait ke halaman lainnya yang memiliki pertanyaan kritis mengenai argumen berkaitan.


Film dan Dokumentasi

Berikut adalah daftar film dan dokumentasi tentang agama atau ateisme yang direkomendasikan,

Inherit the Wind (1960) watch watch

Marjoe (1972) watch

The Magdeline Sisters (2002) watch

Flight from Death: The Quest for Immortality (2003) watch

The God who wasn’t there (2005) trailer

Jesus Camp (2006) watch

Deliver us from evil (2006) trailer

The Man from Earth (2007) trailer

Religulous (2008) trailer

God on Trial (2008) preview

The Genius of Charles Darwin (2008) watch

Agora (2009) trailer

The Invention of Lying (2009) trailer

8: The Mormon Proposition (2010) trailer

Monty Python’s Life of Brian (1979) trailer


TV, Pidato, Pembicaraan dan Debat

Why are you not a Christian?.. (Interview with Bertrand Russell) watch

A Universe not made for us (Carl Sagan) watch

The Clash between Faith & Reason in the Modern World (Talk by Sam Harris) watch

Richard Dawkins on Militant Atheism (2002 TED talk) watch

Debate: The Catholic Church is a force for good in the world (Christopher Hitchens & Stephen Fry vs. The Catholic Church) watch

Pale Blue Dot (Carl Sagan) watch

On God or Gods (Carl Sagan) watch

Freedom of Speech (Christopher Hitchens) watch

On Religion (Christopher Hitchens) watch

Interview (Ayaan Hirsi Ali) watch part1 part2 mirror

Godless in America – The Madalyn Murray O’Hair story watch

Richard Dawkins demonstrates laryngeal nerve of the giraffe/evidence for evolution watch

Richard Dawkins: Root of all evil? (2006 UK TV Special) watch

Richard Dawkins: The God Delusion (2006 UK TV Special) watch

Richard Dawkins: The Enemies of Reason (2007 UK TV Special) watch

Richard Dawkins: Faith Schools menace? (2010 UK TV Special) watch

The Four Horsemen (Dawkins, Dennett, Hitchens & Harris) (2008) watch

Iklan

DIALOGUE EINSTEIN DENGAN PROFFESOR

0

Apakah benar Einstein pernah membantah seorang profesor tentang keberadaan Tuhan?

Dialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “sombong.” Biasanya di akhir kata ditambahkan embel-embel “murid itu adalah Albert Einstein,” yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal.

Berikut adalah perbaikan untuk dialog tersebut yang diterjemahkan dari http://www.rationalresponders.com/debunking_an_urban_legend_evil_is_a_lack_of_something dengan sedikit adaptasi.

Sementara itu, kalau mau lihat kisah aslinya yang ngawur bisa dilihat di http://novrya.blogspot.nl/2011/01/profesor-yang-tidak-punya-otak.html

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang muridnya: “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya profesor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Nah, ini ada teka-teki logika untuk kalian. Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab pernyataan profesor tersebut. Seorang mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si profesor. “Itulah inti dari diskursus filsafat.”

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Tentu saja,” ungkap si profesor. Raut muka si profesor tidak berubah karena ia sudah mendengar argumen buruk seperti ini berulang kali.

Si murid menanggapi, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Sang profesor pun menjawab dengan tegas: “Kamu ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam bukumu?”

Si murid tampak bingung.

“Biar saya ulangi secara singkat. ‘Panas’ dan ‘dingin’ adalah istilah subyektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh ‘kualitas sekunder’. Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah ‘dingin’ dan ‘panas’ merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu. Istilah ‘panas’ dan ‘dingin’ hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu.

“Maka argumen Anda salah. Anda tidak membuktikan bahwa ‘dingin’ itu tidak ada, atau bahwa ‘dingin’ ada tanpa status ontologis, apa yang Anda lakukan adalah menunjukkan bahwa ‘dingin’ adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subyektif tersebut, dan suhu yang kita sebut ‘dingin’ akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.”

Murid: (agak shock) “Uh … oke … em, apakah gelap itu ada?”

Profesor: “Anda masih mengulangi kesesatan logika yang sama, hanya kualitas sekundernya yang diganti.”

Murid: “Jadi menurut profesor kegelapan itu ada?”

Professor: “Apa yang saya katakan adalah bahwa Anda mengulangi kesesatan yang sama. ‘Kegelapan’ adalah kualitas sekunder.”

Murid: “Profesor salah lagi. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Profesor: “‘Gelap dan terang’ adalah istilah subyektif yang kita gunakan untuk mendeskripsikan bagaimana manusia mengukur foton atau partikel dasar cahaya secara visual. Foton itu memang ada, sementara ‘gelap’ dan ‘terang’ hanyalah penilaian subyektif kita, yang sekali lagi terkait dengan interaksi antara sistem saraf manusia dengan fenomena alam yang lain, yaitu foton. Jadi, sekali lagi, hapuskanlah istilah subyektif itu dan foton akan tetap ada. Jika manusia menyebut ‘foton sebanyak x’ sebagai ‘gelap’ sementara kucing menyebutnya ‘cukup terang untukku,’ foton sebanyak x yang kita sebut sebagai ‘gelap’ tetap ada, dan akan tetap akan ada walaupun kita tidak menyebutnya gelap. Sudah paham, atau masih kurang jelas?”

Sang murid tampak tercengang.

Sang profesor berkata, “Tampaknya Anda masih bingung dengan kesesatan dalam argumen Anda. Tapi silakan lanjutkan, mungkin Anda akan paham.”

Sang murid berkata, “Profesor mengajar dengan dualitas. Profesor berargumen tentang adanya kehidupan lalu mengajar tentang adanya kematian, adanya Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Profesor memandang Tuhan sebagai sesuatu yang dapat kita ukur.”

Profesor langsung memotong, “Berhati-hatilah. Jika Anda menempatkan Tuhan di luar jangkauan nalar, logika, dan sains dan membuatnya ‘tak terukur,’ maka yang tersisa hanyalah misteri yang Anda buat sendiri. Jadi jika Anda menggunakan dalih bahwa Tuhan ada di luar jangkauan untuk menyelesaikan masalah, Anda juga tak bisa mengatakan bahwa Tuhan Anda bermoral. Bahkan Anda tak bisa menyebutnya sebagai apa pun kecuali tak terukur. Jadi solusi Anda tidak ada bedanya dengan membersihkan ketombe dengan memangkas rambut.”

Murid tersebut tercengang, namun tetap berusaha melanjutkan, “Profesor, sains bahkan tidak dapat menjelaskan sebuah pemikiran. Ilmu ini memang menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah seorang pun yang melihat atau benar-benar memahami salah satunya.”

Profesor: “Anda mengatakan bahwa sains tak bisa menjelaskan pikiran. Saya sendiri kurang paham apa yang Anda maksud. Apakah Anda mencoba mengatakan bahwa masih banyak misteri dalam neurosains?”

Murid: “Begitulah.”

“Dan bahwa pikiran, listrik, dan magnetisme itu kita anggap ada walaupun tak pernah kita lihat?”

“Benar!”

Sang professor tersenyum dan menjawab, “Bukalah kembali bukumu mengenai kesesatan false presumption. Perhatikan bab ‘kesalahan kategoris.’ Kalau Anda pernah membacanya, Anda akan ingat bahwa kesalahan kategoris adalah saat Anda menggunakan tolak ukur yang salah untuk suatu entitas, misalnya menanyakan warna dari suara. Meminta seseorang melihat magnetisme secara langsung merupakan kesalahan kategoris.

“Namun, masih ada kesalahan lain dalam argumen Anda. Anda berasumsi bahwa empirisisme atau bahkan sains hanya didasarkan kepada pengamatan langsung. Ini tidak tepat. Penglihatan bukanlah satu-satunya cara untuk memahami dunia, dan sains juga bukan ilmu yang mempelajari apa yang kita lihat. Kita dapat menggunakan indera lain untuk melacak suatu fenomena. Dan kita juga dapat mempelajari pengaruh fenomena tersebut terhadap dunia. “Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan menyatakan bahwa karena sains itu belum lengkap berarti Tuhan itu ada. Mungkin Anda perlu mempelajari kembali kesesatan ‘argumentum ad ignoratiam’ atau argumen dari ketidaktahuan.

“Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Neil deGrasse Tyson, gunakanlah contoh yang lebih baik karena sains sudah mampu menjelaskan bagaimana pikiran terbentuk dan bahkan Maxwell sudah lama menggabungkan elektrisme dan magnetisme menjadi elektromagnetisme. Contoh yang lebih baik itu misalnya materi gelap yang membuat perluasan alam semesta menjadi begitu cepat. Fisikawan tak bisa menjawab itu, dan mungkin Anda akan mengatakan jawabannya Tuhan. Namun dengan begitu, Anda justru sedang menyusutkan Tuhan. Anda melakukan kesesatan ad ignoratiam bahwa yang belum dijelaskan sains itu adalah keajaiban Tuhan, dan itu berarti Anda menempatkan Tuhan untuk mengisi gap dalam sains. Nah, dahulu manusia juga tak mampu menjawab mengapa hujan terbentuk atau mengapa gunung meletus, dan orang-orang dulu menyebutnya karena Tuhan. Kini kita sudah memahami hujan dan gunung meletus, begitu pula pikiran, listrik dan magnetisme, dan ke depannya materi gelap juga mungkin akan kita pahami. Dengan begitu Tuhan yang mengisi gap pun terus menciut.

“Masih ada yang mau ditambahkan? Apakah penjelasan saya sudah cukup jelas?”

Sang murid tampak bingung dan mencoba melakukan ad nauseam, “Em … kembali ke diskusi awal kita. Untuk menilai kematian sebagai kondisi yang berlawanan dengan kehidupan sama saja dengan melupakan fakta bahwa kematian tidak bisa muncul sebagai suatu hal yang substantif. Kematian bukanlah kontradiksi dari hidup, hanya ketiadaan kehidupan saja.”

Profesor pun berkata, “Apakah Anda jatuh cinta dengan kesesatan kualitas sekunder? Lagi-lagi Anda melakukan kesalahan yang sama. ‘Kematian’ dan ‘kehidupan’ adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan fenomena keadaan-keadaan biologis. Menghapuskan istilah subyektif kematian tidak menghapuskan keberadaan kematian.”

Si murid pun mencoba mengalihkan pembicaraan, “Apakah imoralitas itu ada?”

Si profesor menggelengkan kepalanya dan berkata, “Keledai pun tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Ada yang masih kurang jelas, atau perlu saya ulangi lagi?”

Sang murid yang terus berusaha menjustifikasi kepercayaannya berkata, “Begini … imoralitas itu adalah ketiadaan moralitas. Apakah ketidakadilan itu ada? Tidak. Ketidakadilan adalah ketiadaan keadilan. Apakah kejahatan itu ada? Bukankah kejahatan itu ketiadaan kebaikan?”

Sang profesor menanggapi, “Jadi, jika seseorang membunuh ibumu malam ini, tidak terjadi apa-apa? Hanya ada ketiadaan moralitas di rumah Anda? Tunggu … dia tidak mati … cuma ketiadaan hidup kan?”

Si murid berkata, “eh…”

“Sekarang sudah mengerti di mana salahnya?” ujar sang profesor. “Anda mencampur kualitas sekunder dengan fenomena. ‘Imoralitas’ adalah istilah deskriptif untuk perilaku. Istilah tersebut bersifat sekunder, namun perilaku tetaplah ada. Jadi jika Anda menghapuskan kualitas sekunder itu, Anda tidak menghapuskan perilaku yang sesungguhnya terjadi. Dengan mengatakan imoralitas sebagai ketiadaan moralitas, Anda tidak menghapuskan keinginan atau perilaku imoral, tetapi hanya istilah subyektifnya. Begitu lho.”

Si murid masih kukuh, “Apakah profesor pernah mengamati evolusi itu dengan mata profesor sendiri?”

Sang profesor sudah bosan mendengar argumen “pernah lihat angin tidak.”

“Evolusi itu bisa diamati karena hingga sekarang masih berlangsung. Misalnya, pada tahun 1971, beberapa kadal dari pulau Pod Kopiste di Kroasia dipindah ke pulau pod Mrcaru. Pulau Pod Kopiste tidak banyak tumbuhan sehingga memakan serangga, sementara di pulau Pod Mrcaru ada banyak tumbuhan. Setelah ditinggal selama beberapa dekade, ketika ditemukan kembali, kadal di pulau Pod Mrcaru mengalami proses evolusi. Kadal tersebut mengembangkan caecal valve, yaitu organ yang penting untuk mengolah selulosa dalam tumbuhan, yang sebelumnya tidak ada. Atau, jika Anda pergi ke laboratorium Richard Lenski di Amerika Serikat, Anda bisa saksikan sendiri bagaimana bakteri e coli yang sebelumnya tak bisa mengolah asam sitrat, karena evolusi dengan seleksi alam muncul e coli yang bisa mengolah asam sitrat.

“Lagipula, Anda lagi-lagi terjeblos dalam kesesatan ad ignoratiam. Jika ingin konsisten dengan logika Anda, Anda akan mengatakan bahwa pohon tidak pernah tumbuh karena Anda tak pernah melihat langsung bagaimana pohon tumbuh. Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan mengasumsikan bahwa sains itu hanya terdiri dari pengamatan langsung.“

Si murid memotong, “Apakah ada dari kelas ini yang pernah melihat otak Profesor? Apakah ada orang yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tak seorang pun pernah melakukannya. Jadi, menurut prosedur pengamatan, pengujian dan pembuktian yang disahkan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa profesor tidak memiliki otak. Dengan segala hormat, bagaimana kami dapat mempercayai pengajaran profesor?”

Si profesor tertawa dan menjawab, “Terima kasih sudah hadir di kelas ini sehingga saya bisa membenarkan kesalahan Anda walaupun Anda terus menerus mengulanginya. Sekali lagi, sains itu tidak terbatas kepada ‘melihat’ sesuatu. Sains itu juga rasional. Kita dapat menyimpulkan berdasarkan bukti yang ada. Dan salah satu simpulan yang dapat saya tarik dengan mengamati perilaku Anda hari ini adalah bahwa Anda telah membuang-buang uang karena tidak membaca buku logika yang sudah Anda beli. Jadi saya sarankan bacalah buku itu kembali dari halaman satu agar tidak terus menerus mengulangi kesalahan yang sama.”

– Dan murid itu adalah orang yang tidak banyak membaca…

LINGKARAN, SEGITIGA, PERSEGI

0

Luas bangun datar dan contoh soal


 

Luas Bangun Datar

Kamu telah mempelajari tentang luas berbagai bangun datar di Kelas IV. Pada pokok bahasan ini, kamu akan mempelajari cara menghitung luas segi banyak. Sebelum mempelajari luas segi banyak, ingatlah kembali bagaimana menghitung luas persegi, persegipanjang, jajargenjang, dan trapesium.

1. Mengingat Kembali Luas Persegi, Persegipanjang, Segitiga, Jajar genjang, dan Trapesium

Untuk mengingat kembali bagaimana menghitung luas persegi, persegipanjang, segitiga, jajargenjang, dan trapesium, perhatikan contoh berikut.
Image:Bangun_D_R_3.jpg


Image:Bangun_D_R_4.jpg


Image:Bangun_D_R_5.jpg

2. Menghitung Luas Segi Banyak

Pada bagian ini, kamu akan mempelajari bagaimana menghitung luas daerah yang merupakan gabungan dari dua bangun datar. Ayo, perhatikanlah gambar berikut.

Bangun datar pada Gambar (a) dan (b) dinamakan juga segi banyak. Bangun (a) dibentuk oleh persegipanjang dan persegi. Adapun bangun (b) dibentuk oleh persegipanjang dan segitiga. Bagaimanakah cara menghitung luas segi banyak tersebut?

Langkah-langkah untuk menghitung luas segi banyak adalah sebagai berikut.
1. Tentukan bangun datar apa saja yang membentuknya.
2. Tentukan luas dari setiap bangun datar yang membentuknya.
3. Jumlahkan luas dari keseluruhan bangun datar yang membentuknya.
Berdasarkan langkah-langkah tersebut, maka
• Luas bangun (a) = luas persegipanjang ABCG + luas persegi DEFG
                              = (10 cm × 4 cm) + (3 cm × 3 cm)
                              = 40 cm2 + 9 cm2
                              = 49 cm2
• Luas bangun (b) = luas persegipanjang PQST + luas segitiga QRS
                              = (12 cm × 8 cm) + (1/2 × 8 cm × 3 cm)
                              = 96 cm2 + 12 cm2
                              = 108 cm2
Agar kamu lebih memahami dalam menghitung luas segi banyak, pelajarilah contoh berikut.
Image:Bangun_D_R_7.jpg

Image:Bangun_D_R_8.jpg

3. Menghitung Luas Lingkaran

Pada bagian ini, akan dibahas mengenai bagaimana cara menghitung luas daerah yang dibatasi oleh lingkaran. Yang dimaksud dengan lingkaran di sini adalah garis lengkung yang titik-titiknya berjarak tetap terhadap suatu titik tertentu. Titik tertentu ini dinamakan titik pusat lingkaran. Namun sebelumnya, akan diperkenalkan tentang jari-jari dan diameter lingkaran serta bagaimana menghitung keliling lingkaran.
a. Jari-jari dan Diameter Lingkaran
Perhatikanlah gambar lingkaran dengan titik pusat O berikut.

Jarak dari titik pusat ke setiap titik pada lingkaran dinamakan jari-jari lingkaran. Pada gambar tersebut jarak titik O ke titik A sama dengan jarak titik O ke titik B yang dalam hal ini merupakan jari-jari lingkaran. Jari-jari lingkaran biasanya dilambangkan dengan r. Diameter lingkaran adalah panjang ruas garis lurus yang melalui titik pusat dan menghubungan dua buah titik pada lingkaran.


Sebagai contoh, perhatikan gambar lingkaran berikut ini.

Titik pusat lingkaran pada gambar di atas adalah O. Titik A, B, C, dan D ada pada lingkaran. Ruas garis AC dan BD melalui titik O. Panjang ruas garis AC sama dengan ruas garis BD yang merupakan diameter lingkaran tersebut. Diameter lingkaran dilambangkan dengan d. Diameter lingkaran sama dengan dua kali jari-jarinya. Dengan demikian,

Contoh

Sebuah lingkaran memiliki jari-jari 6 cm. Berapa cm panjang diameternya?
Jawab:
r = 6 cm
Panjang diameter lingkaran adalah
d = 2 × r
   = 2 × 6 cm
   = 12 cm
Jadi, panjang diameter lingkaran tersebut adalah 12 cm.

b. Keliling Lingkaran
Sebuah taman berbentuk lingkaran memiliki diameter 5 meter. Ali berlari mengelilingi taman itu satu kali putaran. Berapa meter jarak yang telah ditempuh Ali?
Jarak yang ditempuh Ali sama dengan keliling taman yang berbentuk lingkaran tersebut. Dapatkah kamu mencari keliling
lingkaran jika diketahui diameternya?
Agar kamu dapat menjawabnya, lakukanlah kegiatan berikut.

Dari kegiatan tersebut, kamu akan mendapatkan bahwa perbandingan keliling (K) dan diameter lingkaran (d) mendekati bilangan 3,14 atau 22/7 . Selanjutnya, bilangan ini dinamakan π , dibaca pi .


Oleh karena panjang diameter sama dengan 2 kali panjang jari-jari, keliling lingkaran dapat juga dirumuskan sebagai berikut.

Image:Bangun_D_R_15.jpg

b. Luas Lingkaran
Kamu telah mengetahui cara menghitung keliling lingkaran. Sekarang, bagaimanakah cara menghitung luas lingkaran? Pengertian luas lingkaran di sini adalah luas daerah yang dibatasi oleh lingkaran tersebut. Luas lingkaran dapat dihitung jika diketahui panjang diameter atau jari-jarinya. Akan tetapi, bagaimana caranya? Perhatikanlah gambar berikut ini.

a. Sebuah lingkaran dibagi menjadi beberapa bagian. Pada gambar ini tampak bahwa lingkaran dibagi menjadi 16 bagian.


b. Bagian-bagian lingkaran disusun menyerupai persegi panjang dengan lebar sama dengan jari-jari lingkaran, yaitu r. Adapun panjangnya adalah setengah dari keliling lingkaran atau 1/2 K.

Dari gambar tersebut, diperoleh bahwa luas lingkaran mendekati luas persegi panjang dengan panjang 1/2 K dan lebar r. Luas lingkaran = luas persegi panjang ABCD
                        = p × l
                        =1/2 K × r
                        =1/2 × (π × 2 × r) × r
                        =1/2 × 2 × π × r × r
                        = π × r2

Jadi, luas lingkaran adalah


AHU DAN DUCTING

0

AHU merupakan singkatan dari Air Handling Unit. Di AHU ini terjadi proses pengkodisian udara seperti suhu, kelembaban dan kebersihan udara. Di AHU terdapat Cooling Coil, Filter dan Blower (fan). Sedangkan Ducting adalah saluran yang berfungsi menyalurkan udara. Dalam gambar 1 menunjukkan bagaiamana aliran udara dalam ducting dan AHU.

Gambar 1. Skema Ducting dan AHU


Aliran Udara.

Return Air (RA) adalah udara yang disirkulasikan untuk didinginkan kembali dari ruangan yang didalamnya terdapat beban panas.

Outdoor air (OA) adalah udara segar dari luar gedung. Di dalam gedung terdapat banyak manusia yang membutuhkan udara segar. Sedangkan di dalam gedung, terutama di gedung-gedung besar hanya memiliki sedikit jendela. Oleh karena itu udara segar ini disisipkan ke dalam sistem ducting untuk keperluan manusia di dalam gedung. Banyaknya udara luar yang dialirkan dalam sistem ini harus disesuaikan dengan keperluan.

Mixing Air adalah udara campuran dari Return Air dan Outdoor Air. Udara campuran inilah yang akan disupply ke dalam gedung atau ruangan dengan terlebih dahulu dibersihkan dan didinginkan.

RA dan OA bercampur menjadi Mixing air atau udara campuran. Kemudian udara campuran ini melewati filter untuk dibersihkan. Debu-debu akan disaring disini sehingga menjadi lebih bersih. Setelah melewati filter udara campuran ini akan mengalami pendinginan oleh Cooling Coil. Seteleh itu udara yang bersih dan dingin dialirkan ke ruangan-ruangan dan gedung.

Di dalam ruangan terdapat beban panas. Udara dingin yang dialirkan ke ruangan sehingga udara menjadi lebih sejuk.

Karena udara dingin tadi menarik kalor dari beban panas ruangan maka udara tersebut menjadi lebih panas dibandingkan sebelum memasuki ruangan. Udara yang lebih panas inilah yang disebut dengan Return Air (RA). Setelah itu RA akan kembali ke Ducting dan mengalami proses yang sama.


Cooling coil, Blower, dan Filter

Cooling coil merupakan sebuah penukar kalor (Heat Exchanger). Pertukaran kalor terjadi dengan udara yang lewat penukar kalor tersebut. Cooling coil yang lebih dingin akan menarik kalor dari udara yang lewat (Mixing Air) sehingga udara menjadi lebih dingin.

Cooling coil ini dingin karena adanya sistem refrigerasi (bagian evaporator) atau sistem chiller.

Blower dapat berupa kipas (fan) yang berfungsi untuk mengalirkan udara.

Filter mempunyai fungsi untuk membersihkan udara. Filter dapat berupa saringan yang menahan debu-debu sehingga tidak masuk ke ruangan.

SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM (SSA) / ATOMIC ABSORPTION SPECTRUMPHOTOMETRY

0

Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)




1. Pengertian

Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) adalah suatu alat yang digunakan pada metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan absorbsi radiasi oleh atom bebas.

2. Prinsip Dasar

Spektrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis kuantitafif dari unsur-unsur yang pemakainnya sangat luas di berbagai bidang karena prosedurnya selektif, spesifik, biaya analisisnya relatif murah, sensitivitasnya tinggi (ppm-ppb), dapat dengan mudah membuat matriks yang sesuai dengan standar, waktu analisis sangat cepat dan mudah dilakukan. AAS pada umumnya digunakan untuk analisa unsur, spektrofotometer absorpsi atom juga dikenal sistem single beam dan double beam layaknya Spektrofotometer UV-VIS. Sebelumnya dikenal fotometer nyala yang hanya dapat menganalisis unsur yang dapat memancarkan sinar terutama unsur golongan IA dan IIA. Umumnya lampu yang digunakan adalah lampu katoda cekung yang mana penggunaanya hanya untuk analisis satu unsur saja.

Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Metode serapan atom hanya tergantung pada perbandingan dan tidak bergantung pada temperatur. Setiap alat AAS terdiri atas tiga komponen yaitu unit teratomisasi, sumber radiasi, sistem pengukur fotometerik.


Teknik AAS menjadi alat yang canggih dalam analisis. Ini disebabkan karena sebelum pengukuran tidak selalu memerlukan pemisahan unsur yang ditentukan karena kemungkinan penentuan satu unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan, asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia. AAS dapat digunakan untuk mengukur logam sebanyak 61 logam.

Sumber cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal dari elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi sampel yang telah teratomisasi, kemudia radiasi tersebut diteruskan ke detektor melalui monokromator. Chopper digunakan untuk membedakan radiasi yang berasal dari sumber radiasi, dan radiasi yang berasal dari nyala api. Detektor akan menolak arah searah arus (DC) dari emisi nyala dan hanya mengukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel.

Atom dari suatu unsur pada keadaan dasar akan dikenai radiasi maka atom tersebut akan menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ke tingkat energi yang lebih tinggi atau tereksitasi. Jika suatu atom diberi energi, maka energi tersebut akan mempercepat gerakan elektron sehingga elektron tersebut akan tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi dan dapat kembali ke keadaan semula. Atom-atom dari sampel akan menyerap sebagian sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Penyerapan energi oleh atom terjadi pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh atom tersebut.


3.Cara Kerja AAS :

1. pertama-tama gas di buka terlebih dahulu, kemudian kompresor, lalu ducting, main unit, dan komputer secara berurutan.

2. Di buka program SAA (Spectrum Analyse Specialist), kemudian muncul perintah ”apakah ingin mengganti lampu katoda, jika ingin mengganti klik Yes dan jika tidak No.

3. Dipilih yes untuk masuk ke menu individual command, dimasukkan nomor lampu katoda yang dipasang ke dalam kotak dialog, kemudian diklik setup, kemudian soket lampu katoda akan berputar menuju posisi paling atas supaya lampu katoda yang baru dapat diganti atau ditambahkan dengan mudah.

4. Dipilih No jika tidak ingin mengganti lampu katoda yang baru.

5. Pada program SAS 3.0, dipilih menu select element and working mode.Dipilih unsur yang akan dianalisis dengan mengklik langsung pada symbol unsur yang diinginkan

6. Jika telah selesai klik ok, kemudian muncul tampilan condition settings. Diatur parameter yang dianalisis dengan mensetting fuel flow :1,2 ; measurement; concentration ; number of sample: 2 ; unit concentration : ppm ; number of standard : 3 ; standard list : 1 ppm, 3 ppm, 9 ppm.

7. Diklik ok and setup, ditunggu hingga selesai warming up.

8. Diklik icon bergambar burner/ pembakar, setelah pembakar dan lampu menyala alat siap digunakan untuk mengukur logam.

9. Pada menu measurements pilih measure sample.

10. Dimasukkan blanko, didiamkan hingga garis lurus terbentuk, kemudian dipindahkan ke standar 1 ppm hingga data keluar.

11. Dimasukkan blanko untuk meluruskan kurva, diukur dengan tahapan yang sama untuk standar 3 ppm dan 9 ppm.

12. Jika data kurang baik akan ada perintah untuk pengukuran ulang, dilakukan pengukuran blanko, hingga kurva yang dihasilkan turun dan lurus.

13. Dimasukkan ke sampel 1 hingga kurva naik dan belok baru dilakukan pengukuran.

14. Dimasukkan blanko kembali dan dilakukan pengukuran sampel ke 2.

15. Setelah pengukuran selesai, data dapat diperoleh dengan mengklik icon print atau pada baris menu dengan mengklik file lalu print.

16. Apabila pengukuran telah selesai, aspirasikan air deionisasi untuk membilas burner selama 10 menit, api dan lampu burner dimatikan, program pada komputer dimatikan, lalu main unit AAS, kemudian kompresor, setelah itu ducting dan terakhir gas.


4.Bagian-Bagian pada AAS

a. Lampu Katoda

Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. Lampu katoda memiliki masa pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. Lampu katoda pada setiap unsur yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji, seperti lampu katoda Cu, hanya bisa digunakan untuk pengukuran unsur Cu. Lampu katoda terbagi menjadi dua macam, yaitu :
Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur 1 unsur
Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa logam sekaligus, hanya saja harganya lebih mahal.

Soket pada bagian lampu katoda yang hitam, yang lebih menonjol digunakan untuk memudahkan pemasangan lampu katoda pada saat lampu dimasukkan ke dalam soket pada AAS. Bagian yang hitam ini merupakan bagian yang paling menonjol dari ke-empat besi lainnya.

Lampu katoda berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang akan diuji, akan mudah tereksitasi. Selotip ditambahkan, agar tidak ada ruang kosong untuk keluar masuknya gas dari luar dan keluarnya gas dari dalam, karena bila ada gas yang keluar dari dalam dapat menyebabkan keracunan pada lingkungan sekitar.

Cara pemeliharaan lampu katoda ialah bila setelah selesai digunakan, maka lampu dilepas dari soket pada main unit AAS, dan lampu diletakkan pada tempat busanya di dalam kotaknya lagi, dan dus penyimpanan ditutup kembali. Sebaiknya setelah selesai penggunaan, lamanya waktu pemakaian dicatat.


b. Tabung Gas

Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas asetilen. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20000K, dan ada juga tabung gas yang berisi gas N2O yang lebih panas dari gas asetilen, dengan kisaran suhu ± 30000K. regulator pada tabung gas asetilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan, dan gas yang berada di dalam tabung. Spedometer pada bagian kanan regulator. Merupakan pengatur tekanan yang berada di dalam  tabung.

Pengujian untuk pendeteksian bocor atau tidaknya tabung gas tersebut, yaitu dengan mendekatkan telinga ke dekat regulator gas dan diberi sedikit air, untuk pengecekkan. Bila terdengar suara atau udara, maka menendakan bahwa tabung gas bocor, dan ada gas yang keluar. Hal lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan sedikit air sabun pada bagian atas regulator dan dilihat apakah ada gelembung udara yang terbentuk. Bila ada, maka tabung gas tersebut positif bocor.

Sebaiknya pengecekkan kebocoran, jangan menggunakan minyak, karena minyak akan dapat menyebabkan saluran gas tersumbat. Gas didalam tabung dapat keluar karena disebabkan di dalam tabung pada bagian dasar tabung berisi aseton yang dapat membuat gas akan mudah keluar, selain gas juga memiliki tekanan.


c. Ducting

Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh AAS, tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS, diolah sedemikian rupa di dalam ducting, agar ppolusi yang dihasilkan tidak berbahaya.

Cara pemeliharaan ducting, yaitu dengan menutup bagian ducting secara horizontal, agar bagian atas dapat tertutup rapat, sehingga tidak akan ada serangga atau binatang lainnya yang dapat masuk ke dalam ducting. Karena bila ada serangga atau binatang lainnya yang masuk ke dalam ducting , maka dapat menyebabkan ducting tersumbat.

Penggunaan ducting yaitu, menekan bagian kecil pada ducting kearah miring, karena bila lurus secara horizontal, menandakan ducting tertutup. Ducting berfungsi untuk menghisap hasil pembakara yang terjadi pada AAS, dan mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terhubung dengan ducting


d. Kompresor

Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit, karena alat iniberfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS, pada waktu pembakaran atom. Kompresor memiliki 3 tombol pengatur tekanan, dimana pada bagian yang kotak hitam merupakan tombol ON-OFF, spedo pada bagian tengah merupakan besar kecilnya udara yang akan dikeluarkan, atau berfungsi sebagai pengatur tekanan, sedangkan tombol yang kanan merupakantombol pengaturan untuk mengatur banyak/sedikitnya udara yang akan disemprotkan ke burner.

Bagian pada belakang kompresor digunakan sebagai tempat penyimpanan udara setelah usai penggunaan AAS. Alat ini berfungsi untuk menyaring udara dari luar, agar bersih.posisi ke kanan, merupakan posisi terbuka, dan posisi ke kiri meerupakan posisi tertutup. Uap air yang dikeluarkan, akan memercik kencang dan dapat mengakibatkan lantai sekitar menjadi basah, oleh karena itu sebaiknya pada saat menekan ke kanan bagian ini, sebaiknya ditampung dengan lap, agar lantai tidak menjadi basah., dan uap air akan terserap ke lap.


e. Burner

Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen, dan aquabides, agar tercampur merata, dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. Lobang yang berada pada burner, merupakan lobang pemantik api, dimana pada lobang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api.

Perawatan burner yaitu setelah selesai pengukuran dilakukan, selang aspirator dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquabides selama ±15 menit, hal ini merupakan proses pencucian pada aspirator dan burner setelah selesai pemakaian.

Selang aspirator digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan sampel dan standar yang akan diuji. Selang aspirator berada pada bagian selang yang berwarna oranye di bagian kanan burner. Sedangkan selang yang kiri, merupakan selang untuk mengalirkan gas asetilen.

Logam yang akan diuji merupakan logam yang berupa larutan dan harus dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan asam nitrat pekat. Logam yang berada di dalam larutan, akan mengalami eksitasi dari energi rendah ke energi tinggi. Nilai eksitasi dari setiap logam memiliki nilai yang berbeda-beda.

Warna api yang dihasilkan berbeda-beda bergantung pada tingkat konsentrasi logam yang diukur. Bila warna api merah, maka menandakan bahwa terlalu banyaknya gas. Dan warna api paling biru, merupakan warna api yang paling baik, dan paling panas, dengan konsentrasi


f. Buangan pada AAS

Buangan pada AAS disimpan di dalam drigen dan diletakkan terpisah pada AAS. Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar sedemikian rupa, agar sisa buangan sebelumnya tidak naik lagi ke atas, karena bila hal ini terjadi dapat mematikan proses pengatomisasian nyala api pada saat pengukuran sampel, sehingga kurva yang dihasilkan akan terlihat buruk.

Tempat wadah buangan (drigen) ditempatkan pada papan yang juga dilengkapi dengan lampu indicator. Bila lampu indicator menyala, menandakan bahwa alat AAS atau api pada proses pengatomisasian menyala, dan sedang berlangsungnya proses pengatomisasian nyala api. Selain itu, papan tersebut juga berfungsi agar tempat atau wadah buangan tidak tersenggol kaki. Bila buangan sudah penuh, isi di dalam wadah jangan dibuat kosong, tetapi disisakan sedikit, agar tidak kering.


5. Keuntungan metode AAS

Keuntungan metode AAS dibandingkan dengan spektrofotometer biasa yaitu spesifik, batas deteksi yang rendah dari larutan yang sama bisa mengukur unsur-unsur yang berlainan, pengukurannya langsung terhadap contoh, output dapat langsung dibaca, cukup ekonomis, dapat diaplikasikan pada banyak jenis unsur, batas kadar penentuan luas (dari ppm sampai %). Sedangkan kelemahannya yaitu pengaruh kimia dimana AAS tidak mampu menguraikan zat menjadi atom misalnya pengaruh fosfat terhadap Ca, pengaruh ionisasi yaitu bila atom tereksitasi (tidak hanya disosiasi) sehingga menimbulkan emisi pada panjang gelombang yang sama, serta pengaruh matriks misalnya pelarut.