FAQ : ATHEISM


Apakah Ateisme itu?

Ateisme, berasal dari kata Yunani ἄθεος (atheos), menurut kata berarti “tanpa tuhan”, mengacu kepada orang yang menolak keberadaan dewa-dewi Yunani. Dalam lingkup masa sekarang, ateisme dapat merepresentasikan beberapa sudut pandang yang berbeda, yang diurutkan disini:

  1. Tidak percaya adanya tuhan.
  2. Menolak adanya tuhan.
  3. Percaya tuhan tidak ada.

Perlu dicatat bahwa tidak ada kaitan antara ateisme dan sebuah agama. Seseorang dapat menjadi ateis dan beragama, asalkan bila dia percaya pada agama yang tidak memiliki tuhan atau dewa apapun, seperti salah satu bentuk dalam ajaran agama Budha.


Di mana letak perbedaannya dengan theism?

Theism adalah sebuah kepercayaan setidaknya pada satu tuhan. Maka, agama-agama seperti Kristen, Hindu, Islam, Yahudi, dan Zoroastrianisme semuanya termasuk dalam theistic.


Bagaimana dengan agnosticism?

Agnosticism (dari bahasa Yunani – a (tanpa) gnosis (pengetahuan)) adalah sebuah klaim mengenai dirinya sendiri lewat pengetahuan, atau sebaliknya, kurang atau tidak adanya pengetahuan. Seseorang yang mengklaim dirinya agnostic terhadap tuhan secara sederhana menyatakan bahwa dia tidak tahu atau tidak mungkin dapat mengetahuinya.

Bantahan umum terhadap ateisme biasanya adalah berupa argumen seperti berikut: “Bagaimana mungkin anda dapat menyebut diri anda sendiri ateis? Anda tidak mungkin tahu secara pasti, oleh sebab itu anda seharusnya agnostic”.

Kunci perbedaan dari kedua pengertian tersebut ialah semata pada perbedaan antara pengetahuan dan keyakinan. Walaupun tidak mungkin untuk “tahu” bahwa tuhan itu ada atau tidak, bukan berarti mencegah orang tersebut mengevaluasi kemungkinan keberadaan tuhan dan membuat sebuah “keyakinan” berdasarkan kesimpulan itu semata.

Yang perlu dicatat disini adalah ateisme dan agnosticism adalah tidak saling terpisah satu dengan yang lain. Seseorang dapat menjadi agnostic ateis, disebut juga dengan ateis “ringan”, atau gnostic ateis, disebut juga dengan ateis “kuat”. Agnosticism dan ateisme memiliki pernyataan yang berbeda menyangkut pada perbedaan pada tingkat pengartian. Mayoritas ateis secara bebas mengakui walau mereka tidak “tahu” bahwa tuhan ada, mereka lebih memilih untuk “percaya” bahwa tuhan tidak ada — berdasarkan kurangnya bukti, pernyataan-pernyataan, ketidakpercayaan terhadap mahluk magis/gaib, dan lain-lain.

Lihat gambar berikut atau halaman aslinya untuk melihat diskusi lebih detil mengenai prinsip tersebut.


Bagaimana dengan Deism?

Deist percaya bahwa ada sebuah kekuatan yang lebih tinggi (“higher power”) yang menciptakan alam semesta pada awalnya tetapi ia tidak lagi aktif lagi berada di dunia ini. Karena kepercayaan mereka terhadap “higher power” tersebut, terkadang disebut juga sebagai tuhan/dewa, mereka tidak memenuhi syarat dikelompokkan dalam label “ateis”.

Namun, secara praktis hanya terdapat perbedaan kecil antara seorang deist dan ateis: Kebanyakan deist tidak melakukan praktek keagamaan seperti berdoa, menyembah, ritual-ritual, aturan diet dan/atau gaya hidup atau menyangkut sebuah pusat kedoktrinan yang suci. Deist memiliki kesamaan dengan keyakinan pada ateis bahwa tidak ada tuhan/dewa yang aktif pada saat *sekarang*.

Karena kesamaan tersebut, beberapa ateis bisa saja mengklaim sebagai deism saat ditanya agamanya. Deism tidak memiliki kewajiban praktis terhadap pengikutnya, dan juga tidak memiliki stigma besar di ruang publik yang berkaitan dengan ateisme. Orang Amerika memperoleh keuntungan yang diberikan oleh para Deist terkenal diantara pemimpin-pemimpin bangsanya: Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, Thoman Paine, James Madison, George Washington.


Ateisme vs. Anti-Teisme vs. Negara Ateisme vs. Sekularisme

Ateisme telah didiskusikan sebelumnya, tetapi istilah-istilah berkaitan juga perlu dicatat:

Anti-theism – Adalah suatu aksi aktif atau non-aktif untuk mencoba mengakhiri theism, sering terjadi karena reaksi terhadap anti-pemikiran sains, bigotry (fanatik — sikap tidak toleransi terhadap sesuatu yang berbeda opini terhadap dirinya sendiri), dan pertanyaan moral yang sering diajukan oleh para theist. Banyak ateis yang vokal pada kenyataan adalah seorang anti-theist pada tingkat-tingkat tertentu. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi, penyebab yang lebih sering terjadi karena anti-theist memiliki banyak hal yang mereka bisa ungkapkan. Jangan sampai salah: banyak ateis yang tidak terbuka terhadap agama. Roda yang paling berbunyi biasanya yang paling ingin mendapat minyak, dan ateis yang tidak memiliki keluhan dengan keyakinan agama umumnya kurang termotivasi untuk berbicara. Contoh ateis terkenal yang tidak anti-theist adalah S.E. Cupp (walaupun banyak yang skeptis terhadap ke-ateis-annya). Salah satu anti-theist yang terkenal yaitu Christopher Hitchens.

Negara Ateisme – Ini adalah suatu bentuk teokrasi dari ateisme. Ia adalah suatu bentuk ideologi bahwa ateisme seharusnya ditegakkan oleh pemerintah, seperti pemerintahan yang telah ada di bawah komunisme.

Secularism (Sekularisme) – sekularisme mengacu kepada pemerintahan yang tidak menganggap agama atau kepercayaan agama apapun. Dengan jalan ini ia tidak mempromosikan bentuk apapun dari teisme atau ateisme. Misalnya, pemerintahan yang memperingati “Day of Prayer”(Hari Berdoa) bukanlah pemerintahan yang sekuler, dan tidak juga pemerintahan yang memperingati “Hari Tidak Percaya Pada Tuhan”.

Bagaimana dengan teologis non-cognitivism ?

Para teologis non-cognitivism menyimpulkan bahwa semua pembicaraan mengenai “tuhan” pada dasarnya tidak ada maknanya. Ketidak bermaknaan tersebut dapat berpusat pada kontradiksi yang melekat atau kondisi tak terbatas dari “tuhan” non-konsep itu sendiri atau teis yang tidak mengerti ekstrapolasi (*) dari pengalaman manusia atau keduanya. Sebagai contoh, kalimat, “Tuhan ada”, bisa ditolak jika tidak ada penjelasan yang logis mengenai “Tuhan” yang mendahuluinya atau jika tidak ada penjelasan rasional yang dikedepankan tentang bagaimana konsep dari keberadaan diekstrapolasi menjadi non-konsep dari “keberadaan metafisikal“. Sama juga dengan kalimat “Tuhan menciptakan alam semesta” membuat para non-cognitivist menginginkan sebuah metoda yang bermanfaat untuk mengekstrapolasi pengalaman manusia dalam “menciptakan”, yaitu suatu proses dimana sesuatu yang telah ada digabungkan atau berubah menjadi non-konsep “penciptaan metafisikal” yang secara keseluruhan merupakan proses yang tidak dapat diidentifikasi.

(*) ekstrapolasi: Perluasan data di luar data yg tersedia, tetapi tetap mengikuti pola kecenderungan data yg tersedia itu.


Ateisme Lemah vs. Kuat

“Kenapa ateis yakin bahwa tuhan tidak ada?”

Kebanyakan ateis tidak memaksakan bahwa tuhan tidak ada; hanya bagian darinya yang termasuk ateis ‘kuat’ atau ‘positif’. Pada kenyataannya, kebanyakan ateis dapat diketahui dari ketidak percayaan mereka terhadap tuhan, bukan dari pernyataan bahwa tuhan tidak ada.

Makna dari “kuat” dan “lemah” di dalam hal ini bukan mengacu kepada tingkat keyakinan seseorang mengenai ateisme. Makna tersebut lebih mengindikasikan apakah orang tersebut memiliki keyakinan gnostic atau tidak.

Ateisme lemah tidak perlu gnostic. Ia hanyalah sebuah bentuk ketidak percayaan terhadap tuhan. Monotheists tidak percaya kepada tuhan manapun, kecuali satu tuhan yang mereka percaya ada. Ateisme lemah adalah posisi mayoritas dari ateis pada saat sekarang.

Ateisme kuat adalah ateisme lemah ditambah dengan keyakinan gnostic: ateisme kuat menegaskan dengan pasti bahwa tuhan tidak ada.

Semua ateis paling kurang adalah ateis lemah; sebagian dari itu semua ada yang termasuk ateis kuat.


Kenapa seseorang memilih menjadi ateis kuat?

Ateis kuat biasanya berdasarkan alasan dalam penolakan dari keberadaan tuhan. Bergantung kepada kedudukan epistemological (bagian dari ilmu filsafah yang membahas tentang asal-usul), beberapa ateis dapat menyatakan bahwa tuhan itu memiliki sifat bertentangan oleh karena itu tidak dapat ada (sebuah alasan “a priori”), atau bahwa konsep bahwa (beberapa) tuhan tidak konsisten berdasarkan observasi kita (sebuah alasan “a posteriori”).

Banyak argumentasi menyatakan bahwa tuhan secara definisi umum adalah tidak mungkin atau tidak memiliki bukti-bukti. Definisi dari Tuhan sangat fleksibel seperti Yahweh yang berbeda dengan Loki yang berbeda dengan Tuhan Spinoza, dll. Sifat dasar dari klaim ketuhanan dapat sangat ambigu dan dapat diterima seperti halnya logika itu sendiri dapat ditundukan sesuai dengan keinginan pencipta logika itu sendiri. Begitu juga, atribut-atribut tertentu haruslah ditangani dalam konteks bagaimana kita menentukan validasinya.

Sangat penting di catat bahwa tidak semua argumen haruslah mutlak lebih banyak bersifat persuasif. Bukti yang mutlak pada umumnya tidak dapat dibuat dan ditambahkan, seperti argumen pada Brain in a vat.

Contoh:

Argumentasi A Priori

Hal pertama yang harus diketahui tentang argumen logis mengenai Tuhan, adalah apakah hipotesis Tuhan itu terikat atau kebal terhadap logika dapat ditunjukkan. Seseorang dapat berpendapat bahwa karena Tuhan merancang hukum-hukum logika, ini berarti Tuhan tidak terikat olehnya. Seperti, tidak mungkin secara logika tetap hanya berarti ‘sangat mustahil’ dalam kasus ini, dan suatu mahluk mahakuasa secara definisi tidak dapat diberi batas. Lebih lanjut, atribut-atribut tertentu dapat dirubah untuk membuat suatu pengecualian, tetapi melakukan hal seperti ini, kekeliruan dalam merubah tujuan awal telah dilakukan.

Paradoks mahakuasa

  1. Tuhan itu mahakuasa
  2. Jika anda mahakuasa maka anda memiliki semua kekuatan
  3. Mahluk mahakuasa tidak dapat dibatas dengan cara apapun
  4. Membatasi sesuatu adalah suatu kekuatan
  5. Mahluk mahakuasa tidak dapat memiliki kekuatan untuk membatasi dirinya sendiri
  6. Tidak mungkin menjadi mahakuasa

Tuhan yang mahatahu dan memiliki kehendak bebas (freewill)

Jika Tuhan mengetahui masa depan, dan memiliki freewill, tindakannya akan dipilih secara langsung secara ia melihatnya terpilih di masa depan. Walaupun mungkin saja, ia menghadirkan suatu tingkat ketidak-masukakalan. Lebih lanjut, jika kehendak bebas ada, tetapi Tuhan mengetahui masa depan (sebagaimana juga merancangnya), maka kehendak bebas adalah sesuatu yang telah ditetapkan.

Paradoks mahatahu

Beberapa pengetahuan secara definisi tidak diketahui, seperti ‘Tidak ada yang mengetahui apakah X adalah benar’. Jika itu adalah statemen yang benar, Tuhan akan mengetahuinya. Jika Tuhan mengetahuinya, ia tidak akan menjadi benar.

Argumentasi A Posteriori

Argumentasi A Posteriori berdasarkan pada pengalaman. Seperti, setiap perancang kekebalan Tuhan berdasarkan logika tidak dapat lagi dipermainkan.

Tuhan itu bersifat baik (benevolent)

Apakah Tuhan mau mencegah kejahatan, tapi tidak mampu? Maka ia tidaklah omnipotent.

Apakah ia mampu, tapi ia tidak mau? Maka ia adalah malevolent (memiliki atau memperlihatkan kemampuan untuk berbuat jahat kepada orang lain).

Apakah ia mampu dan mau? Lalu darimana datangnya jahat?

Apakah ia tidak mampu dan tidak mau? Lalu kenapa dipanggil Tuhan?

– Epicurus

Ini adalah bagian dari Omission Bias. Pertimbangkan situasi lain dimana tidak ada usaha sama sekali yang dibutuhkan untuk melawan kejahatan.

Kejahatan-kejahatan dapat termasuk,

  1. Jahat langsung, seperti Tuhan membunuh anak-anak lewat kitab suci.
  2. Jahat secara buatan, seperti merancang planet yang dapat menimbulkan bencana alam.
  3. Jahat tangan kedua. Tuhan yang membuat free-will telah membuat sebuah kemungkinan atau bahkan mungkin kecenderungan bagi ciptaannya berperilaku jahat.

Tuhan yang menjawab semua doa

Hasil dari sebuh penelitian memperlihatkan bahwa doa tidak efektif selain dari efek placebo. Penelitian yang memperlihatkan efek positif telah dirancang untuk membuat hasil sesuai dengan keinginan. Artikel bagus. Penting diketahui penelitian tentang doa harus dilakukan secara double-blind untuk menghilangkan kemungkinan efek psikologis termasuk efek placebo atau keinginan untuk merubah performansi.

Hasil yang bebas terhadap rancangan (seperti menumbuhkan anggota tubuh yang telah diamputasi) secara pasti tidak akan pernah terjadi, tapi bahkan pengetosan koin tidak dapat diubah dengan berdoa, jadi pengujian yang ekstrim, termoderasi, sepele tampak sepenuhnya tidak terpengaruhi oleh doa.

Tuhan Yang Perhatian Utamanya Pada Kehidupan Manusia

Apa yang tuhan lakukan triliunan tahun sebelum adanya manusia? Kenapa begitu banyak rentang waktu? Apa yang ia lakukan selama jutaan tahun homo genus tidak percaya kepadanya (kemungkinan berkeyakinan polytheist) dan juga selama kondisi pre-historic?

Tuhan yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan Tuhan pada kitab-kitab suci

Tuhan dari non-agama memiliki kemiripan dengan Yahweh dalam hal menjawab doa, mahakuasa, mahatahu, peduli pada kemanusiaan, pencipta keberadaan, dll. Jika anda menolak Yahweh, anda harus menanyakan pada diri anda sendiri apakah dasar dari pertanyaan anda. Apakah yang menyebabkan anda mempertanyakan tuhan yang baru tapi berbeda dengan sifat yang sama ini ada? Apakah mungkin lebih mudah bila ada beberapa Tuhan? Apakah mungkin Tuhan berbuat keliru atau jahat? Kenapa harus ada alasan untuk berpikir bahwa Tuhan seperti itu ada?

Tuhan yang memiliki bentuk rancangan seperti manusia

(Pernyataan ini mungkin lebih berkaitan dengan Tuhan Jesus pada agama Kristen)

Jika saya beritahu anda bahwa anjing saya memiliki ekor, maka itu akan masuk akal karena evolusi membuat anjing memiliki ekor. Jika saya beritahu anda bahwa anjing saya memiliki paruh, hal ini akan secara langsung menarik kecurigaan.

Kenapa tuhan memeliki pusar, puting, gigi, dll? Semua hal tentang ciri-ciri manusia adalah hasil evolusi, kausalitas dibelakang semua fitur Tuhan tersebut akan tampak salah.

Tuhan dengan moralitas

Seperti yang telah dijelaskan pada argumen sebelumnya, kausalitas untuk mahluk yang berevolusi akan tampak salah. Tetapi moralitas juga merupakan sifat yang berevolusi bagi mahluk sosial supaya berfungsi lebih baik lewat interaksi dengan yang lainnya. Darimana moralitas Tuhan berkembang?

Pikiran Tanpa-Otak

Seperti ciri-ciri evolusi seperti paruh, ekor, moralitas, dll. walaupun pikiran itu sendiri berevolusi diluar keuntungan secara evolusi, berawal dari sistem saraf pusat pertama di nematodes. Kausalitas untuk Tuhan yang berpikir juga sesuatu yang salah. Gagasan bahwa sebuah Pikiran Tanpa-Otak ada dengan mengabaikan bahwa sebuah pikiran ada selama otak biologis juga ada.


Tetapi Pengertian-pengertian diatas salah!

“Anda tidak menggunakan definisi yang benar mengenai agnostic/gnostic atau teisme/ateisme”

Argumentasi mengenai pengertian kata sering timbul mengenai istilah agnostic, ateisme, ateisme kuat, ateisme lemah, dan seterusnya. Argumen-argumen ini biasanya berkisar diantara bagaimana seseorang mendefinisikan kata-kata, dan bagaimana orang lain mendefinisikan kata-kata, seperti “pasti”, “iman”, “tahu”, dan “yakin”. Pada akhirnya, beberapa dari garis pembatas berubah-ubah. Pengertian yang diberikan dalam artikel ini merepresentasikan pada pendekatan yang lebih banyak diterima yang telah didiskusikan di beberapa tempat diskusi di dunia maya.

Sebelum berdebat mengenai istilah mana yang lebih tepat, mungkin lebih baik bersetuju mengenai pengertian dari setiap istilah tersebut.


Kitab suci ini adalah bukti sejarah bahwa Tuhan ada

Semua kitab suci memiliki klaim yang sama, apakah itu lewat hadis, berbagai penghafal kitab (Josephus, Tacitus) atau catatan dari Mormonism — tetapi secara sejarah buktinya saling menguntungkan. Banyak sumber-sumber yang diragukan secara asal-usulnya dan hanya mengacu kepada sejarah pengikut keagamaan, daripada kejadian supernatural. Catatan sejarah juga dapat di modifikasi dan bahkan disalahkan saat diartikan dan catatan sejarah membutuhkan sumber-sumber yang solid, dijaga secara objektif, pembuktian yang objektif, dan peer-review sebelum mereka menghasilkan suatu persetujuan. Pembuktian dari kitab suci terkadang tidak memiliki elemen-elemen kunci tersebut. Hanya karena sesuatu tertulis tidak membuatnya menjadi benar.

Masalah umum yang ada dalam kajian ini adalah standar ganda. Berapa banyak dokumentasi yang dibutuhkan seseorang untuk mempercayai keberadaan Quetzalcoatl atau Isis? Isis sebenarnya memiliki catatan tentang keberadaannya — kekuatan penyembuhan dan banyak dewa-dewi dan nabi-nabi lainnya memiliki catatan aktifitasnya di dunia.

Bila catatan sejarah adalah cara terbaik kita untuk memahami masa lalu, dan sementara beberapa sumber bisa lebih valid daripada sumber yang lainnya, ia masih tidak cukup bagus untuk dijadikan sebagai sebuah bukti, dan tidak cukup kuat untuk menjamin kepercayaan kepada suatu tuhan.


Argumen Penyebab Pertama (First cause argument)

“Semuanya disebabkan oleh sesuatu, sehingga alam semesta haruslah ada yang menyebabkannya. Penyebabnya adalah Tuhan.”

Argumen Penyebab Pertama hanya menghilangkan pertanyaan dari suatu penyebab pada beberapa tingkatan. Ada beberapa cara untuk melihat hal ini:

  • Lalu apa yang menyebabkan tuhan?
  • Jika tuhan dapat dibiarkan ada tanpa sebab, kenapa alam semesta tidak dapat ada tanpa sebab?
  • Mana yang lebih mungkin: Alam semesta sebagai kejadian alami, atau suatu mahluk supernatural menciptakan alam semesta, membaca pikiran-pikiran orang, dan melakukan aksi-aksi (mukjizat) yang melawan hukum-hukum alam?

Bahkan jika seseorang menerima argumen Penyebab Pertama sebagai sesuatu yang valid, dengan memberikan kualitas special untuk “tidak disebabkan” kepada suatu ketuhanan, satu-satunya metafisik yang didukungnya adalah deism. Penyebab Pertama itu sendiri tidak mendukung adanya tuhan apapun yang berinteraksi dengan segala hal di alam semesta.

Secara filosofi, jika anda memiliki klaim positif seperti “Tuhan ada”, anda harus membuktikannya dengan bukti-bukti yang memuaskan. Jika klaimnya berupa keluarbiasaan alam semesta, ia membutuhkan bukti yang lebih berat. Tidak adanya bukti memberikan alasan untuk menolak percaya kepada klaim luar biasa dari teis.

Pascal’s Wager (Taruhan Pascal)

“Lebih banyak yang saya dapat bila saya percaya kepada Tuhan, dan saya tidak kurang apapun bila percaya, jadi bukankah saya harusnya percaya kepada Tuhan?”

Blaise Pascal menduga bahwa walaupun keberadaan Tuhan tidak dapat ditentukan lewat alasan, seseorang harusnya bertaruh apakah bahwa Tuhan ada, karena hidup dengan hal tersebut lebih banyak untungnya, dan tidak kehilangan satu apapun.

Terdapat empat pernyataan pada taruhannya:

  • Hidup dengan jika tuhan ada, dan tuhan ada — balasan di hari akhir
  • Hidup dengan jika tuhan ada, dan tuhan tidak ada — tidak ada
  • Hidup dengan jika tuhan tidak ada, dan tuhan tidak ada — tidak ada
  • Hidup dengan jika tuhan tidak ada, dan tuhan ada — (Pascal sendiri tidak menyebutkan hasil dari kasus ini, tetapi dapat di asumsikan setidaknya hampir sama dengan balasan di hari akhir berupa “surga” dan “neraka”.)

Jadi berdasarkan Pascal, anda dapat hidup dengan menganggap tuhan ada, dan mendapatkan balasan di hari akhir jika taruhan anda menang.

Permasalahan utama dengan taruhan seperti ini adalah ia menganggap bahwa hanya ada satu tuhan, dan menganggap bahwa kematian merupakan jembatan ke kehidupan abadi.

  • Tidak ada indikasi bahwa kematian adalah jembatan menuju suatu tempat.
  • Banyak tuhan-tuhan yang telah dihadirkan oleh orang dalam sejarah.
  • Orang yang menyembah tuhan yang “sama” susah bersetuju antara mereka sendiri tentang makna dari “hidup dengan berpikir bahwa Tuhan ada.” (Lihatlah: Kristen, Yahudi, Islam)

Jika tuhan itu ada, dan jika kematian adalah jembatan ke kehidupan abadi, taruhan ini masih memiliki anggapan bahwa kita dapat dan mengetahui bagaimana dasar dari tuhan melakukan penilaian.

  • Mungkin tuhan akan memberikan balasan bagi mereka yang skeptis.
  • Mungkin tuhan akan memberikan balasan bagi mereka yang kejam.
  • Mungkin tuhan akan memberikan balasan bagi mereka yang berambut pirang.

Komplikasi lain datang bila anda mengaplikasikan taruhan ini pada Kristen (dimana Pascal sendiri harus beranggapan bahwa tuhan itu ada). Umumnya umat Kristen mengakui bahwa tuhan menilai seseorang berdasarkan tingkat keyakinan pada Jesus sebagai penyelamat — bukan hanya perilaku mereka saja. Jika hal ini berlaku, maka seseorang yang tidak percaya pada Jesus sebagai penyelamat harus memaksakan dirinya untuk percaya (cobalah untuk membuat diri anda percaya bahwa segi-empat itu bulat), atau pura-pura percaya. Anda harus berpikir bahwa Tuhan Ibrahim tahu bila seseorang mencoba mempercayai selain dia, dan menilai seseorang berdasarkan hal tersebut.

Secara singkat, Pascal Wager memiliki kesalahan dalam menganggap bahwa suatu nilai adalah konstanta padahal mereka hanyalah variabel dengan nilai tanpa batas (dan mungkin juga tidak mungkin diketahui). Memperbaiki persamaan pikiran menggunakan variabel bukan konstanta menghasilkan sebuah hasil yang sangat ber-variabel sehingga membuatnya sama sekali tidak berguna.

Apakah Ateisme itu sebuah agama?

Ateisme hanyalah agama.” atau “Memerlukan sebuah keimanan untuk menjadi seorang ateis”

Ada beberapa kesalahan dari asumsi tersebut. Terutama diantaranya adalah ateisme adalah gambaran dari sebuah karakteristik tunggal: ketidak percayaan pada tuhan atau dewa. Secara harfiah hal-hal lainnya dapat dirundingkan. Adalah mungkin bila seorang ateis percaya kepada hantu, sebagai contohnya, selama hantu tersebut bukanlah tuhan. Theism, kebalikan dari ateisme, juga bukanlah sebuah agama. Agama memerlukan doktrin, ritual, dan lain-lain.

Hal tersebut, tentu saja, tidak cukup untuk meyakinkan seseorang yang bersiteguh bahwa keyakinan pada ateisme hanyalah suatu bentuk dari agama. Untungnya, ada banyak karakteristik umum pada agama-agama:

Benda keramat, tempat keramat, waktu atau hari keramat

Tidak ada konsep “keramat” pada ateisme.

Ritual yang difokuskan pada yang hal-hal keramat

Tidak ada yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang ateis atau seseorang akan selamat bila tidak percaya pada tuhan.

Membuat pernyataan pada keberadaan, baik pada saat sekarang atau pada awalnya

Hal ini sering dinyatakan oleh agama dalam bentuk mitos penciptaan. Ateisme tidak memiliki hal tersebut.

Menyediakan sebuah filosofi

“Ketidak percayaan pada tuhan atau dewa” tidak menuntun cara orang untuk hidup. Masyarakat cukup hidup sebagaimana mereka menginginkan.

Menyediakan pandangan hidup terhadap dunia

Versi agama dari bentuk ini yaitu “Tuhan melakukannya” dan hidup dari hal tersebut. Ateisme tidak memiliki pandangan seperti itu.

Menyediakan kode moral

Hal ini ada turun-temurun pada manusia secara umum. Kebanyakan orang, baik yang percaya pada tuhan (atau tidak), akan setuju bahwa adalah salah untuk memukul seseorang, misalnya. Ateisme sendiri tidak memberikan pernyataan tentang moral atau perilaku.


Apakah anda harus menjadi X untuk menjadi ateis?

Apakah anda harus menjadi seorang yang rasionalis, materialis, skeptis, humanis, freethinker, sekularis, dan/atau naturalis untuk menjadi seorang ateis?

Secara singkat, tidak. Anda dapat menjadi seorang ateis dan percaya kepada hampir semua hal — kecuali pada tuhannya para theist. Ada beberapa ateis, cukup banyak diantara mereka, yang spiritual, percaya pada hal gaib, menerima dualisme dari akal/badan, atau apapun. Anda akan menemukan bahwa orang yang mengaku ateis akan melakukan pendekatan rasional untuk mempertahankan keyakinanannya pada tingkat filosofi. Karena alasan tersebut anda akan menemukan dominasi oleh skeptisme dan naturalisme, dan penolakan umum terhadap mahluk gaib hampir di setiap forum atau diskusi. Banyak pertanyaan yang ditujukan pada ‘ateis’ lebih cocok di berikan kepada freethinkers, atau rasionalis, atau materialis.


Apakah ateis itu Satanik? Apakah ateis menyembah dirinya sendiri atau sains ?

Tidak.

Ateis tidak percaya pada Tuhan, dan kebanyakan ateis juga menolak segala takhyul yang mengelilingi mitos Tuhan. Hal ini termasuk Setan, Malaikat, Iblis, Roh, Hantu, Kekuatan magis, Unicorn, Santa Claus, dan mahluk-mahluk fiksi lainnya yang diciptakan oleh agama. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian lainnya, seseorang tidak harus secara mutlak menolak hal-hal gaib untuk menjadi ateis, walaupun mayoritas ateis menolaknya.

Ateis tidak menyembah sains atau dirinya sendiri karena hal tersebut berarti percaya kepada ketuhanan (sesuatu yang disembah) dan anda tidak akan menemukan ateis yang menyembah dalam pengertian sembahyang terhadap sains atau sujud kepada suatu idola yang merepresentasikan sains setiap harinya. Setiap orang yang mengklaim bahwa ateis menyembah sains terlibat dalam kesalahan persamaan derajat.

Di sisi lain, sebuah kajian mengenai LaVeyan Satanism menunjukkan bahwa orang-orang yang ada pada hal semacam itu adalah ateis, dimana mereka percaya tidak ada mahluk gaib. “Satan” dalam LaVeyan Satanism adalah simbolik, dan banyak yang beranggapan bahwa keseluruhan organisasi adalah troll terbesar di tahun 1960-an. Mereka membedakan diri mereka dengan orang lain yang mempercayai Satan yang asli dan gaib, yang sering disebut dengan “pemuja setan”. Tetap, hanya karena seseorang diidentifikasi sebagai ateis bukan berarti mereka sejajar dengan LaVeyan Satanism.


Ateis stereotype

Seringkali orang yang bukan ateis memiliki stereotype di kepala meraka tentang ateis adalah orang yang anti-theist dan sering kali kasar, arogan, terus terang atau marah.

Walaupun tidak ada bukti statistik yang mendukung pernyataan ini, hal ini merupakan hasil dari ‘Toupee Fallacy’. Semua orang berpikir bahwa mereka dapat menentukan orang yang menggunakan toupee karena mereka hanya melihat pengguna toupee yang buruk. Pengguna toupee yang bagus tidak terbedakan. Pada tingkat ini, orang berpikir mereka tahu ateis itu blak-blakan, arogan, dll. karena itu adalah hal yang paling mudah dilihat dari para ateis.

Jika perilaku ini menjadi sesuatu yang lazim, ia kemudian dapat dipahami dengan perbandingan sederhana terhadap entitas fiksi. Dimana populasi dunia membunuh dirinya sendiri karena adanya suatu komitmen yang kuat dengan keturunan centaur yang tidak dapat dilihat, seseorang harusnya berharap ada orang logis yang akan marah dan berbicara, atau mereka akan dianggap arogan dan berperilaku kasar.


Kekeliruan ‘No True Scotsman’ (The ‘No True Scotsman’ fallacy)

“Tidak ada penganut sebenarnya yang berperilaku seperti itu!”

Kekeliruan ‘No True Scotsman’ adalah sebuah kekeliruan logis yang sering timbul selama debat, biasanya saat mendiskusikan fundametalisme atau penganut yang ekstrim/teroris. Istilah ini mengacu pada bagaimana seseorang mencoba menolak atau memungkiri suatu perilaku dengan dasar bahwa pelaku dari perilaku tersebut tidaklah merepresentasikan keseluruhan.

Istilah ini pertama kali ditemukan oleh Antony Flew pada tahun 1975 :

Bayangkan seorang Hamish Macdonal, seorang Scotsman, duduk dengan koran Glasgow Morning Herald-nya dan membaca sebuah artikel tentang “Maniak Sek dari Brighton Muncul Kembali.” Hamish terkejut dan berkata “Tidak ada seorang Scotsman pun yang akan melakukan hal tersebut.” Pagi berikutnya dia duduk membaca Glasgow Morning Herald-nya kembali dan kali ini menemukan artikel tentang seseorang dari Aberdeen yang dengan aksi brutalnya membuat maniak sek dari Brighton tampak seperti seorang yang lebih terhormat. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa Hamish salah dalam opininya tetapi apakah dia akan mengakuinya? Mungkin tidak. Kali ini dia berkata, “Tidak ada seorang Scostman pun yang akan melakukan hal tersebut.” –Antony Flew, Thinking About Thinking (1975)

Banyak orang tampaknya salah dalam memahami kekeliruan dari ‘No True Scostman’. Kunci dari kekeliruan disini adalah pada equivocation (pengelakan), yaitu dimana seseorang mundur dari posisi sebelumnya. Pernyataan yang sederhana “orang X tidaklah seorang Y sejati” tidak memiliki kriteria yang cukup untuk dilabelkan sebagai sebuah kekeliruan. Jika bukan begitu, maka akan tidak mungkin untuk seseorang memanggil orang lain penipu tanpa mengakui atau menganggap dirinya sendiri salah dalam beralasan. Dengan kata lain, seseorang harus memberikan peryataan terlebih dahulu, dalam sebuah debat, bahwa “tidak ada Y yang melakukan Z,” sebelum dia bertemu dengan bukti bahwa X, adalah seorang Y, telah melakukan Z. Jika orang tersebut merespon dengan memberikan informasi bahwa “maka X bukanlah seorang Y,” maka disinilah pendakwaan bahwa kekeliruan ‘No True Scotsman’ adalah benar.

Contoh dari Flew di atas adalah sebuah gambaran yang sempurna dari dalih dalam aksi. Tanpa dalih, tidak akan ada kekeliruan.


Bagaimana seseorang dapat berperilaku (baik) tanpa Tuhan?

Moralitas secara umum terbagi dalam tiga bagian:

  • Consequentialism, atau kepercayaan bahwa moralitas dari sebuah perilaku adalah berdasarkan pada konsekuensi dari aksi;
  • Deontology, atau kepercayaan bahwa moralitas dari sebuah perilaku adalah berdasarkan pada apakah sesuatu tunduk dengan aturan-aturan atau tidak; dan
  • Virtue ethics, atau kepercayaan bahwa moralitas harusnya berdasarkan pada ‘definisi’ dari orang, bukan dari apa yang orang ‘perbuat’.

Menggunakan definisi tersebut, kebanyakan agama sekarang menggunakan deontology, dengan sekumpulan aturan yang diberikan oleh Tuhan. Bagaimanapun, tidak ada yang menjadi sifat dari bagian tersebut yang membutuhkannya.

Di balik itu semua, moralitas dapat dipelajari dari bidang ilmu psikologi dan sosiologi. Dimana keduanya memberikan penjelasan dari moral, kedua bidang tersebut tidak memberikan solusi yang menyatakan bahwa suatu moral lebih baik dari moral lainnya, tetapi gagasannya masih dapat ditelusuri lewat filosofi sekular. Hal ini terbukti dengan aksi pengadilan dari institusi sekular (mungkin contoh yang bagusnya dari pemerintah) atau norma sosial yang berlaku tanpa berdasarkan agama atau tidak dipegang oleh penganut agama. Contohnya termasuk dilarangnya perbudakan, penolakan terhadap seksisme/rasisme, dan lain-lain.

Sebaliknya, pendekatan dogmatis oleh agama untuk memperlakukan sekumpulan aturan yang tetap yang mana secara tegas menentukan mana yang benar dan tidak, menghalangi perkembangan dari moralitas.

“Tapi lihat! Pemimpin dari pembunuhan masal dalam sejarah adalah ateis! Hitler! Pol Pot! Stalin!”

Kesalahpahaman yang umum yang telah dipromosikan diantara para komunitas theism adalah setiap diktator ini berbuat jahat karena mereka ateis. Akibatnya adalah tanpa Tuhan, orang tidak akan memiliki ‘moral dasar’ dan maka dari itu akan membuatnya menolak berbuat jahat seperti pembunuhan masal.

Hal ini salah. Moral dan moralitas adalah hal alami pada manusia, dan terpisah dari keyakinan agama. Apakah seorang yang tidak percaya lagi pada agama kemudian langsung membunuh dan memperkosa? Sungguh, bila moral benar-benar ditentukan oleh ajaran agama, maka perbudakan, pelemparan batu pada orang dewasa, homoseksual, perlakuan kasar pada anak, dan banyak lagi kekasaran yang diperintahkan dalam Bible tidak akan dianggap kasar sama sekali — mereka akan secara sempurna dianggap sebagai sesuatu yang ‘moral’ dilakukan. Dalam prakteknya, moralitas lebih baik diartikan sebagai hasil yang tidak dapat dielakkan dari [http://en.wikipedia.org/wiki/Zeitgeist Zeitgeist] (dari bahasa Jerman yang berarti ‘jiwa dari waktu’), perubahan pemahaman sosial yang kita bagi secara bersama yang menentukan perilaku apa yang dapat diterima dan tidak diterima di dalam setiap masyarakat.

Jika seseorang belum mengerti kenapa kekejaman itu salah, dia tidak akan mendapatkannya dari membaca Bible atau Quran — karena buku-buku tersebut penuh dengan perayaan kekejaman, manusia dan tuhan. Kita tidak akan mendapatkan moralitas kita dari agama. Kita menentukan apa yang baik dalam buku-buku dengan jalan lewat intuisi moral yang mana (pada suatu tahap) tertanam dalam diri kita dan hal tersebut telah diperhalus oleh ribuan tahun berpikir tentang sebab dan kemungkinan akibatnya terhadap kebahagiaan manusia.

Kita telah membuat suatu progres selama bertahun-tahun, dan kita tidak membuat progres tersebut dengan membaca Bible atau Quran. Kedua buku tersebut membenarkan perbudakan — dan setiap manusia sipil mengetahui bahwa perbudakan adalah sesuatu yang sangat dibenci. Apapun yang baik dalam tulisan kuno, seperti Golden Rule (aturan utama), dapat dinilai secara etis tanpa memerlukan kita percaya bahwa hal tersebut diturunkan oleh pencipta alam semesta.

Argumen tersebut pada hakekatnya salah dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  • Keberadaan tuhan tidak tergantung pada siapa yang mengambil posisi theist atau ateis.
  • Causality (hubungan sebab-akibat) adalah hal penting dalam memahami setiap hubungan. Causality antara contoh immoral dari ateis dan ateisme adalah garis batas dari ketidak-beradaaan, dalam banyak kasus — tidak lebih dari poin dalam pernyataan bahwa Hitler dan Stalin jahat karena mereka memiliki kumis.
  • Hubungan sebab-akibat antara aksi immoral lebih banyak berlaku pada agama. Contohnya yang baru-baru terjadi adalah penyerangan terhadap kartunis dari Eropa yang menggambar Muhammad. Bila penyerangnya bukan Muslim, akan sangat rancu mereka akan melakukan hal kejam tersebut.
  • Hal tersebut menunjukkan kesalahpahaman mengenai sejarah seperti yang akan dibahas lebih lanjut.

Mengacu pada Hitler, Pol Pot dan Stalin, perlu diketahui bahwa Hitler ternyata bukan ateis sama sekali. Dia dibesarkan sebagai Katolik, seringkali menggunakan kata Jesus dalam pidato, dan mengatakan bahwa dia dan rakyat Jerman sebagai “manifest destiny” (muatan takdir) — secara terang-terangan memposisikan tidak ateis. Sebagai tambahan, partai Nazi secara resmi melarang buku-buku yang “mengejek, merendahkan atau menodai agama Kristen dan institusinya, iman pada Tuhan, atau hal-hal lain yang suci.”

Pol Pot dibesarkan dalam ajaran Buddha, selanjutnya menghabiskan delapan tahun dalam seminar Katolik, tetapi lebih akurat bila diartikan sebagai deist yang dikenal karena percaya pada “surga” dan “destiny.”

Stalin lahir dalam keluarga yang beragama dan menghadiri seminar Tiflis Theological, dimana dia dikeluarkan. Kepercayaannya pada agama agak sulit di tentukan secara pasti, bagaimanapun dia secara publik menggagaskan ide bahwa agama tidak diperlukan.

Sam Harris memberikan penjelasan yang terang mengenai aksi yang dilakukan oleh orang-orang tersebut:

“Orang dengan kepercayaan seringkali mengklaim bahwa ateisme bertanggung jawab terhadap kejahatan yang paling besar pada abad 20. Walaupun benar bahwa rezim Hitler, Stalin, Mao dan Pol Pot tidak beragama pada tingkat-tingkat yang berbeda, mereka secara khusus tidak rasional. Pada kenyataannya, pernyataan publik mereka lebih banyak pada khayalan litani — khayalan tentang ras, ekonomi, identitas nasional, parade sejarah atau bahaya moral dari intelektualisme. Dengan rasa hormat, agama secara langsung lebih dipersalahkan disini. Lihat saja Holocaust: anti-Semitisme yang dibangun oleh bangunan kremasi Nazi batu demi batu adalah turunan langsung dari zaman Kristen. Selama berabad-abad, umat beragama Jerman melihat kaum Yahudi sebagai spesies yang paling buruk dan menghubungkan setiap penyakit sosial dengan keberadaan mereka diantara orang-orang yang beriman. Sementara kebencian pada Yahudi di Jerman di ekspresikan secara dominan dengan cara sekular, perilaku peng-setan-an terhadap Yahudi di Eropa terus berlanjut. (Vatican sendiri mengabadikan sebagai darah fitnah di dalam korannya pada masa 1914.)”

“Auschwitz, gulag dan lahan pembunuhan bukan contoh akibat bila seseorang menjadi terlalu kritis terhadap kepercayaan yang tidak tepat; kebalikannya, horor tersebut mengakui berbahayanya tidak cukupnya berpikir kritis terhadap suatu ideologi sekular tertentu. Tidak ada gunanya kukatakan, argumen rasional terhadap keyakinan agama bukanlah argumen yang mencakup ateisme sebagai dogma. Permasalahan yang ateis sering kemukakan tidak lebih dari permasalah dari dogma itu sendiri — yang mana setiap agama memiliki bagiannya sendiri. Tidak ada masyarakat yang tercatat dalam sejarah yang menderita karena orang-orangnya menjadi terlalu berpikir masuk akal.”


Kenapa ilmu pengetahuan tidak memerlukan Tuhan

Untuk menjadi seorang ateis anda tidak perlu mencari alasan yang bagus untuk percaya pada keberadaan tuhan. Oleh karena itu, perlu juga untuk memahami kenapa para theist mengklaim bahwa ilmu pengetahuan adalah salah. Mayoritas argumen dari para theist hanya menambahkan kompleksitas lapisan gaib terhadap sesuatu yang terjadi secara alami di dunia. Tuhan tidak diperlukan dalam model ilmiah. Dibalik itu semua, bukti-bukti perlu diberikan untuk mengisi atribut terhadap ruang kosong antara ilmu pengetahuan dan tuhan. Respon intelektual terhadap ruang kosong tersebut adalah “Saya tidak tahu”, bukan “Saya tidak tahu, maka Tuhan lah yang melakukannya.” Garis pemikiran seperti ini telah menjadi dasar dari berbagai kesalahan atribut terhadap tuhan mengenai cahaya, matahari, laut, dan lainnya.

Pernyataan di bawah ini adalah klaim umum dari para theist mengenai ilmu pengetahuan:

Tuhan diperlukan untuk membuat keberadaan

Hukum pertama dari thermodynamics. Dengan adanya Yang Maha Kuasa, dia dapat membuat energi/benda, tetapi hal tersebut membuat asumsi bahwa benda/energi diciptakan untuk pertama kali. Tidak ada bukti yang lengkap yang menyatakan bahwa energi/benda diciptakan, hanya dapat direkayasa. Sampai ditemukannya pembebasan terhadap hukum pertama yang memperlihatkan bahwa energi dan benda adalah diciptakan, maka tidak ada alasan untuk berpikir bahwa keberadaan dimulai dengan suatu cara. Teori Big Bang bukanlah teori yang menyatakan keberadaan menjadi sesuatu. Teori Big Bang secara khusus menjelaskan perkembangan dan kondisi yang berkembang menjadi alam semesta. Penjelasan yang lebih bagus dapat dilihat di sini.

Tuhan diperlukan untuk membuat kehidupan pertama kalinya

Kesalahpahaman umum adalah bahwa evolusi alam digunakan untuk menjelaskan asal muasal mahluk hidup. Sejarah evolusi hanya menjelaskan bagaimana mahluk hidup berkembang melewati waktu, bukan bagaimana ia dibentuk. Teori menyangkut asal mula hidup dikenal dengan abiogenesis. Salah satu penelitian terkenal mengenai hal ini adalah eksperiment Miller-Urey. Disini, amino acids (pembangun protein) dibuat dari benda mati dan secara alami di dalam lab dengan membentuk suatu keadaan bumi pada saat awal mahluk hidup terbentuk. Amino Acids diperlukan untuk membuat kode genetis asli untuk menciptakan leluhur dunia paling awal. Bidang ilmu abiogenesis memberikan banyak penjelasan mengenai penyebab alami terhadap pembentukan mahluk hidup yang tidak memerlukan keterlibatan mahluk gaib.

Kompleksitas dari organisme moderen tidak dapat dijelaskan dengan hanya langkah-langkah evolusi. Tuhan pastilah berada dibelakangnya

Eksperimen jangka panjang terhadap bakteri e. coli memperlihatkan perubahan drastis dalam physiologi adalah sangat mungkin. Kemampuan memproses citrate, lawan dari nutrisi yang belum dicerna, adalah suatu langkah yang besar. Creationist terkadang sering membagi evolusi menjadi paham yang salah yaitu evolusi “macro” dan “micro” untuk membantah penelitian dan bidang eksperimen yang mencari bagaimana hidup dapat berevolusi. Dengan langkah-langkah kecil yang cukup dapat membuat anda berada di tempat yang sama dari beberapa langkah besar. Perkembangan bertingkat pada akhirnya menghasilkan perubahan yang besar.

Manusia adalah spesial dan sangat pintar dibandingkan binatang lainnya.

Perkembangan besar ini membuktikan adanya Tuhan

Omo Remains, berumur 200,000 tahun, siap membantah penciptaan bumi dari para creationism. Tetapi dibalik itu, juga ada beberapa sifat-sifat physiological yang menghubungkan mereka ke nenek moyang kita homo heidelbergensis termasuk kapasitas otak dan kemampuan untuk berjalan tegak. Melihat lebih kebelakang lagi mengungkap bahwa manusia tidak hanya turun dari homo genus tetapi jauh lebih kebelakang lagi ke Australopithecus. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa ada hal lain selain kekuatan alami yang membuat homo sapiens.

Moralitas memperlihatkan bahwa Tuhan menciptakan baik dan buruk

Evolusi dari moralitas. Melihat sepintas dari kehidupan alami dari binatang sosial (gajah, lumba-lumba, simpanse, serigala, kelelawar, dan lainnya), kelompok binatang terkadang sering merasa terpaksa menolong satu dengan yang lainnya, membalas perbuatan baik/buruk, dan menjadi monogami. Moralitas tidak hanya ada pada manusia seacara ekslusif. Moralitas menitis dari proses evolusi yang membuat hewan berbuat lebih baik dari yang lainnya.

Alam semesta sangat komplek untuk diciptakan oleh selain Yang Maha Kuasa

Teori Chaos memperlihatkan semuanya adalah komplek secara tak terbatas. Tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa alam semesta membutuhkan pencipta dari pada bentuk batu tanpa-rancangan yang ada sekarang.

Alam semesta terlalu teratur untuk menjadi sebuah kebetulan

Argumen ini memiliki beberapa kesalahan:

  • Prisip Anthropic menjelaskan bahwa alam semesta secara logis harus ada sebagaimana adanya dengan tujuan supaya kita dapat mengamatinya. Logiknya adalah: jika alam semesta adalah tempat dimana mahluk tidak mungkin hidup, kita tidak mungkin ada disini untuk mengamati fakta tersebut. Oleh karena kita ada dan mampu mengamati keberadaan kita sendiri berarti alam semesta haruslah, secara paksa, salah satu dari (yang diasumsikan) bermacam tipe alam semesta yang membolehkan adanya mahluk hidup.
  • Jika alam semesta tekah diatur sedemikian rupa, itu berarti alam semesta ini dibuat secara kurang baik. Apakah sebuah radio dapat dikatakan dibuat secara baik bila hanya dapat menangkap satu saluran dari sekian banyak sinyal?
  • Bahkan bila alam semesta ini di-atur sedemikian rupa, bukti-bukti harusnya tertata atau terpampang untuk memperlihatkan bahwa tuhan itu ada. Kurangnya imaginasi untuk memperlihatkan hal tersebut bukanlah suatu alasan.
  • Jika pengaturan sedemikian rupa sangat diperlukan, maka itu menandakan bahwa sistem ini sangat cacat dari rancangan maka perlu di-tuning untuk memperbaikinya.
  • Heat Death – Degenerasi semua benda menjadi panas adalah contoh yang bagus bagaimana alam semesta ini TIDAK-lah teratur. Bahkan galaksi dan sistem solar kita tidaklah diatur untuk keberadaan kita, karena matahari akan berkembang menjadi bentuk besar merah dan menelan bumi, dan galaksi Andromeda nantinya akan berbenturan dengan Milky Way. Planet bumi tidak berarti cocok untuk mahluk hidup secara umum. Hanya di bagian atasnya lah ada mahluk hidup, dan kita hidup di planet paling semrawut di seluruh sistem solar. Kita melewati zaman es, seismic dan bencana meteorological. Ia tidak dicocokan untuk manusia secara spesifik, karena dua-per-tiga air garam tidak dapat kita minum bahkan hidup di dalamnya. Bumi penuh dengan hewan yang dapat memakan kita jika ada kesempatan, selain itu juga ada virus, bakteri, dan parasit. Lebih lanjut, cepatnya perkembangan alam semesta adalah hal yang merintangi hidup manusia. Alam semesta tidak diciptakan untuk hidup kita atau untuk keberadaan kita. Tampaknya memang diatur untuk kita karena hidup adalah proses pencocokan kita dengan lingkungan melewati evolusi.

Selain itu, argumen telah dibuat menyarankan bahwa Four Forces telah di-atur sedemikian rupa untuk menunjukkan perancang.

Beberapa simulasi memperlihatkan bahwa kekuatan (the forces) tidak diperlukan dalam proporsi untuk penciptaan alam semesta atau kemungkinan atau kehidupan.

Cosmological constant telah dibantah dengan “the red shift” dan perkembangan akselerasi dari alam semesta.

Pengalaman spriritual membuktikan pencipta

Sejumlah penyebab termasuk “The God Helment” memperlihatkan hal tersebut tidak membutuhkan Tuhan untuk mendapatkan pengalaman spiritual, dan lebih besar kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh penyebab alamiah. Dibalik itu, panca indra secara otomatis tidak selalu menghasilkan sesuatu benar, terutama bila efeknya berasal dari otak. Jika indra yang sama dapat menghasilkan pengamatan yang akurat tentang hal lainnya, mungkin itu adalah indra yang dipercaya, tetapi bukan begitu adanya. Argument dari pengalaman beragama bisa jadi penyebab beberapa orang berpikir kita dirancang untuk menggunakannya sebagai tujuan untuk berkomunikasi dengan tuhan.

Ada penyebab alami yang lebih baik yang dapat menjelaskan kenapa fungsi (indra) berubah. Beberapa ide menyatakan hal tersebut disebabkan bagian dari otak yang disfungsi (sama halnya dengan pengalaman melihat UFO), hal itu bisa saja merupakan adaptasi yang terbangun dari efek placebo. Kemujaraban dari berdoa adalah tergantung dari ketahuan kita pada apa yang didoakan. Perkembangan otak yang mudah terpengaruh terhadap pengalaman keagamaan mungkin lebih berkaitan dengan keuntungan perkembangan efek placebo bagi keagamaan.


Poe’s Law (Hukum Poe)

Poe’s Law menyatakan: “Tanpa senyuman atau ekspresi menyolok memperlihatkan humor, sangat tidak mungkin untuk membuat sebuah parodi Fundamentalisme bahwa SESEORANG tidak akan salah untuk hal yang sebenarnya.”

Poe’s Law, secara formal, mengatakan bahwa pikiran fantastis tentang keagamaan yang secukupnya tidak dapat dibedakan dari sesuatu yang tidak masuk akal, oleh karena itu sangat tidak mungkin untuk mengetahui apakah seseorang yang mempromosikan pandangan keagamaan adalah gila atau hanya sedang melakukan parodi. Sebaliknya, fundamentalisme asli dapat dengan mudah dianggap sebagai parodi dari fundamentalisme.

Contoh produksi parodi yang berhubungan dengan Poe’s Law :

contoh produksi non-parodi (nyata) yang berhubungan dengan Poe’s Law:

Untuk detil lebih lanjut lihat Rational Wiki – Poe’s Law.


Efek Dunning-Kruger

Efek Dunner-Kruger jarang muncul, tapi menerapkannya pada seseorang adalah sama dengan pedang bermata-dua yang berarti anda begitu yakin pada kesalahan alami dari kedudukan seseorang sehingga anda mengatribusikannya pada psychology. Perilaku ini secara jelas merupakan salah satu kepercayaan diri pada kedudukan anda sendiri bahwa orang lain salah yang menyebabkan anda sedikit patut dipersalahkan karena efek Dunning-Kruger.


Terlalu Menerima

Ateisme dan Bersin: Apa yang harus saya katakan saat orang lain bersin? atau Apa yang harus saya katakan bila saya bersin dan orang lain mengatakan “bless you” pada saya?

Tidak ada bahasa khusus yang harus anda gunakan (atau tidak gunakan) untuk menjadi ateis. Banyak ateis yang menghindari menggunakan bahasa yang berakar dari agama, “bless you” termasuk didalamnya. Alternatif dari kalimat tersebut yaitu “gesundheit” (German), “bon sante” (French) atau “salud” (Spanish) semuanya secara dasar berarti “untuk kesehatan anda.” Berikut adalah beberapa respon. Beberapa menyarankan untuk tidak mengatakan apapun karena “kenapa harus mengatakan sesuatu, itu hanyalah fungsi dari badan.” Bagian pemikiran lain menyatakan “bless you” merupakan perkataan yang bekerja dalam bahasa. Asal mula kalimat tersebut yang banyak diterima orang adalah bersin menyebabkan hati berhenti berdetak dan mengatakan “bless you” mencegah hal tersebut. Kebanyakan yang mengatakan “bless you” tidak mengetahui asal muasal dari kalimat tersebut, jadi hal tersebut juga dapat berlaku pada ateis.

Menyangkut mengenai apa yang harus dikatakan saat orang mengatakan “bless you”, jawaban biasanya adalah dengan tidak mengatakan apapun atau mengatakan “terima kasih” untuk mengindikasikan kebaikan dari orang yang mengatakan kalimat tersebut tanpa secara langsung mengakui kalimat tersebut.

Jadi anda mendapatkan email berantai

Walaupun kita tidak keberatan dengan email berantai, tapi nampaknya hal yang sama selalu yang dikirimkan. Beberapa darinya mungkin terlihat masuk akal, paling tidak bagi para penganut kepercayaan, yang mana mungkin kenapa mereka lebih sering kita dapati. Yang paling banyak kita lihat umumnya berkaitan dengan:

Ex. Kejahatan adalah karena kurangnya sesuatu

Hal ini mengenai profesor dan anak muridnya yang Kristen. Dalam cerita ini si murid mengemukakan, dengan berbagai cara, bahwa X tidak ada karena tidak adanya Y. Seringkali hal ini diikuti dengan klaim bahwa si murid adalah Albert Einstein. Snope telah membahas hal ini, dan telah ada pemeriksaan dari cerita tersebut oleh Rational Responders. Argumen yang dikemukakan pada cerita tersebut, bahwa X adalah karena tidak adanya Y, disebut dengan theodicity dan dibuat oleh Augustine of Hippo sekitar 1600 tahun yang lalu.

Apa opini ateis mengenai setelah kematian, mengenai moralitas, apa opini ateis mengenai “ground zero mosque”? dll. dll.

Ateisme bukanlah ideologi yang membahas dan memiliki opini tentang segala hal. Walaupun beberapa opini lebih umum daripada yang lainnya diantara para ateis, tidak ada ‘dalam’ atheise yang mengatakan anda harus seperti ini dan seperti itu dalam segala sesuatu kecuali anda percaya kepada tuhan atau tidak.


Dimana Saya dapat belajar mengenai kontradiksi atau kesalahan informasi dalam Kitab Injil?

The Skeptic’s Annotated Bible.


Kenapa klaim dari para creasionisme tidak benar?

Lihat lebih lanjut di TalkOrigins.


Apakah Saya harus mengaku di luar sebagai ateis?

” Saya bergantung pada orang tua saya yang beragama dalam hal uang/rumah/pendidikan/dll, apakah Saya harus mengatakan kepada mereka bahwa Saya tidak percaya kepada Tuhan?”

Jawaban singkatnya “Tidak.”

Untuk jawaban yang sedikit lebih panjang adalah jika anda tidak berada di posisi dimana berakhir tidak baik bagi anda, anda sebaiknya menunggu sampai anda mandiri. Bagaimanapun juga, anda lebih tahu mengenai orang tua anda dari pada kami. Anda dapat mencoba menyinggung hal tentang ateisme secara halus terhadap mereka untuk merasakan bagaimana reaksi mereka secara umum, jika anda tidak yakin. Selalu ingat bahwa bagi sebagian orang agama adalah sesuatu hal yang sensitif, dan bagi para orang tua yang dilahirkan untuk percaya kepada “kekuatan moral” dari kepercayaan beragama, anak yang mengaku ateis dapat dianggap sebagai pengkhianatan terhadap mereka atau kegagalan dari diri mereka.

Pada beberapa agama, adalah hal yang sangat berbahaya untuk “keluar”. Jika anda datang dari salah satu agama seperti itu, ingatlah selalu dalam pikiran anda mengenai hal tersebut.

Haruskah kita lebih A daripada B?

“Saya rasa kita terlalu agresif/pasif sebagai komunitas. Bisakah kita agak diam/bertindak?”

Secara sederhana, kita tidak dapat menyuruh orang lain melakukan sesuatu, dan mereka tidak akan memperdulikannya.

Ateisme bukanlah agama, tidak ada yang memegang kekuasaan untuk menyuruh orang lain bagaimana dia harus berperilaku. ateis yang sering menyarankan untuk merubah perilaku kita sebagai sebuah kelompok biasanya diacuhkan karena bertindak sebagai troll, atau diingatkan bahwa ateisme bukanlah sebuah agama dan saran yang diberikan sudah pasti diacuhkan, terutama karena mayoritas biasanya lebih bertindak masuk akal dan diam.


Bacaan Yang Dianjurkan

Berikut adalah daftar buku-buku tentang ateisme yang direkomendasikan. {Daftar ini tidak terurut berdasarkan apapun}

The Demon Haunted World – Science as a Candle in the Dark oleh Carl Sagan

The God Delusion oleh Richard Dawkins

Unweaving the Rainbow: Science, Delusion and the Appetite for Wonder oleh Richard Dawkins

A Devil’s Chaplain: Reflections on Hope, Lies, Science, and Love oleh Richard Dawkins

Climbing Mount Improbable oleh Richard Dawkins

The Ancestor’s Tale: A Pilgrimage to the Dawn of Evolution oleh Richard Dawkins

The Blind Watchmaker: Why the Evidence of Evolution Reveals a Universe without Design oleh Richard Dawkins

The Greatest Show on Earth: The Evidence for Evolution oleh Richard Dawkins

God is Not Great: How Religion Poisons Everything oleh Christopher Hitchens

The Missionary Position: Mother Teresa in Theory and Practice oleh Christopher Hitchens

The End of Faith: Religion, Terror, and the Future of Reason oleh Sam Harris

Letter to a Christian Nation oleh Sam Harris

The Moral Landscape – How Science Can Determine Human Values oleh Sam Harris

In Defence of Atheism (aka The Atheist Manifesto: The Case Against Christianity, Judaism, and Islam) oleh Michel Onfray

Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon oleh Daniel Dennett

God: The Failed Hypothesis. How Science Shows That God Does Not Exist oleh Victor J. Stenger

The New Atheism: Taking a Stand for Science and Reason oleh Victor J. Stenger

Religion and Science oleh Bertrand Russell

The Bible/Qur’an/Torah/dll. oleh berbagai pengarang

  • Versi Kitab Injil dapat di unduh di sini, gratis.
  • Versi Qur’an dapat di unduh di sini, secara komplit dalam bahasa Arab dan saduran dalam bahasa Inggris untuk setiap bagian.

Argumentasi untuk keberadaan Tuhan Setiap argumen berkait ke halaman lainnya yang memiliki pertanyaan kritis mengenai argumen berkaitan.


Film dan Dokumentasi

Berikut adalah daftar film dan dokumentasi tentang agama atau ateisme yang direkomendasikan,

Inherit the Wind (1960) watch watch

Marjoe (1972) watch

The Magdeline Sisters (2002) watch

Flight from Death: The Quest for Immortality (2003) watch

The God who wasn’t there (2005) trailer

Jesus Camp (2006) watch

Deliver us from evil (2006) trailer

The Man from Earth (2007) trailer

Religulous (2008) trailer

God on Trial (2008) preview

The Genius of Charles Darwin (2008) watch

Agora (2009) trailer

The Invention of Lying (2009) trailer

8: The Mormon Proposition (2010) trailer

Monty Python’s Life of Brian (1979) trailer


TV, Pidato, Pembicaraan dan Debat

Why are you not a Christian?.. (Interview with Bertrand Russell) watch

A Universe not made for us (Carl Sagan) watch

The Clash between Faith & Reason in the Modern World (Talk by Sam Harris) watch

Richard Dawkins on Militant Atheism (2002 TED talk) watch

Debate: The Catholic Church is a force for good in the world (Christopher Hitchens & Stephen Fry vs. The Catholic Church) watch

Pale Blue Dot (Carl Sagan) watch

On God or Gods (Carl Sagan) watch

Freedom of Speech (Christopher Hitchens) watch

On Religion (Christopher Hitchens) watch

Interview (Ayaan Hirsi Ali) watch part1 part2 mirror

Godless in America – The Madalyn Murray O’Hair story watch

Richard Dawkins demonstrates laryngeal nerve of the giraffe/evidence for evolution watch

Richard Dawkins: Root of all evil? (2006 UK TV Special) watch

Richard Dawkins: The God Delusion (2006 UK TV Special) watch

Richard Dawkins: The Enemies of Reason (2007 UK TV Special) watch

Richard Dawkins: Faith Schools menace? (2010 UK TV Special) watch

The Four Horsemen (Dawkins, Dennett, Hitchens & Harris) (2008) watch

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s