SCIENCE BERCERITA CINTA TENTANG HORMON : IST LOVE STILL TRANSCENDENCE SPACE AND TIME ? –

0

SCIENCE BERCERITA CINTA TENTANG HORMON

Ketika orang awam meyakini bahwa cinta bersifat magis dan hanya bisa tergambarkan oleh puisi dan lirik lagu romantis, para ilmuwan bertanya, “Mengapa kita tidak teliti saja resep ilmiah di balik cinta?” Para ilmuwan di bidang cinta (ya, ada ilmuwan yang risetnya khusus tentang cta :p) mengumpulkan orang-orang sebagai sampel penelitian, memasang brain scanner, memindai (scan) kepala para sampel untuk melihat apa yang terjadi di otak manusia terkait cinta.

love-science

Cinta tak ayal merupakan reaksi kimia (hormon) di otak kita. Pemahaman saintifik mengenai cinta menyatakan bahwa ada 3 fase terkait cinta dengan reaksi hormon yang berbeda pada tiap fase. Dari nafsu hingga menjadi gila dalam bercinta, sains punya jawabannya.

Fase 1 – Nafsu

Pertama kali bertemu dan mengenal seseorang, ada rasa suka, ketertarikan, dan getaran. Inilah yang disebut nafsu.

Nafsu dikendalikan oleh hormon testosteron dan estrogen. Jangan salah kira, testosteron bukanlah hormon eksklusif yang hanya ada pada pria. Testosteron juga diproduksi di tubuh wanita dan memainkan peran pada sex drive (dorongan seksual) wanita.

Lalu, apakah cinta pada pandangan pertama itu eksis? Tidak, nafsu pada pandangan pertamalah yang eksis. Mengapa begitu? Mari simak definisi ilmiah dari nafsu dan cinta.

Nafsu

Hasrat yang dipicu oleh kesan fisik atau dangkal terhadap seseorang. Nafsu hanya memikirkan kepentingan diri sendiri untuk mendapat kesenangan (biasanya bersifat seksual) dari orang tersebut.

Cinta

Hasrat yang dilengkapi dengan kesadaran tentang pentingnya orang tersebut bagi diri kita. Perhatian yang kita berikan kepada orang ini adalah bentuk apresiasi terhadap nilai atau makna dirinya bagi kita.


Fase 2 – Cinta Romantis Bergairah (Passionate/Romantic Love)

Dari rasa ketertarikan, pedekate pun mulai digencarkan, hubungan mulai dijalani. Segala aktivitas baru dan pertama kali dilakukan dengannya. Kita mabuk kepayang bersamanya. Segala yang dilakukan bersamanya menjadi lebih indah. Apa yang sebenarnya terjadi?

Pada fase ini, otak kita akan dibanjiri dengan berbagai hormon kesenangan (pleasure hormones). Untuk konteks cinta, hormon-hormon ini disebut juga ini hormon romantis, seperti adrenalin, serotonin, dan dopamin.

1. Adrenalin

Tahap awal menjalin hubungan dengan seseorang akan meningkatkan kadar adrenalin pada darah seperti saat kita melakukan aktivitas yang menantang dan menegangkan. Adrenalin pada orang jatuh cinta akan memberikan efek, seperti tiba-tiba berkeringat, mulut tiba-tiba kering, atau jantung berdegup kencang ketika bersama dengannya.

2. Dopamin

Hormon ini memicu sensasi kesenangan yang intens. Efek yang ditimbulkan sama dengan efek jika otak dalam pengaruh kokain. Orang yang sedang jatuh cinta tidak jauh berbeda dengan pecandu narkoba. Efek dari dopamin adalah energi meningkat, berkurangnya kebutuhan untuk tidur dan makan, pikiran selalu terfokus dan senang memikirkan tiap detil kecil yang dijalani dalam hubungan.

3. Serotonin

Serotonin membuat kita begitu tergila-gila pada pasangan. Penelitian menunjukkan, efek kimia yang ditimbulkan serotonin mirip dengan penampakan otak orang obsessive-compulsive disorder (OCD). Hal ini dapat menjelaskan ketika kita tergila-gila pada seseorang, kita tidak bisa memikirkan orang lain, ia selalu muncul di pikiran kita.

Produksi hormon kesenangan dalam tubuh terpicu saat kita menjalani kegiatan yang sifatnya baru atau menegangkan. Pada saat pedekate atau awal menjalani hubungan, kita banyak sekali mengalami “hal yang baru dan pertama kali”. Misalnya, pertama kali chatting, pertama kali telponan, pertama kali kencan, pertama kali gandengan, pertama kali bercumbu, pertama kali mengunjungi berbagai tempat bersamanya. Untuk setiap kegiatan “baru pertama kali” itu, kita menyala bahagia.

Fase ini disebut dengan Passionate/Romantic Love. Cinta romantis yang penuh gairah. Asmara meletup-letup bagaikan kembang api yang meledak-ledak. Kita tidak bisa memikirkan hal lain. Kita bahkan kehilangan nafsu makan dan tidur, memilih menghabiskan waktu berjam-jam untuk melamunkan dirinya.


Fase 3 – Cinta Penuh Kasih (Compassionate Love)

Lama-kelamaan, asmara yang dijalani semakin intim. Kedua sejoli pun makin penuh cinta kasih yang lebih dalam. Hubungan masuk ke fase berikutnya, yaitu Compassionate Love.

Mulainya fase ini dipicu oleh dilepasnya hormon oksitosin di dalam tubuh. Hormon ini biasa disebut sebagai cuddle hormone (hormon pelukan) atau love hormone (hormon cinta). Produksi oksitosin dipicu ketika adanya sentuhan fisik dengan pasangan, seperti berpelukan, pijatan penuh cinta, berciuman, hingga orgasme saat berhubungan seks. Oksitosin menimbulkan efek emosional terhadap pasangan, berupa kasih sayang, keterikatan, rasa peduli, cinta, rasa damai, rasa aman, hingga perasaan bahagia, khususnya setelah berhubungan seks. Riset mengatakan, semakin sering melakukan hubungan intim dengan pasangan, semakin dalam ikatan yang terbentuk. Ikatan yang dibentuk oleh produksi oksitosin mendorong dua sejoli untuk tetap bersama.

Hormon lain yang berperan dalam komitmen jangka panjang adalah vasopresin. Vasopresin biasa disebut sebagai hormon monogami (setia pada satu orang). Vasopresin yang dirilis setelah melakukan hubungan seksual dengan pasangan berperan signifikan dalam menciptakan keinginan untuk setia dengan pasangan, menciptakan perasaan untuk melindungi (bahkan cemburu) pasangan dan keturunan.


Kejenuhan dalam Bercinta

Produksi hormon kesenangan (pleasure hormones) tidaklah terjadi secara konstan selamanya, ada tenggat waktunya. Rata-rata, fase passionate love atau cinta romantis bertahan antara 18 bulan hingga 3 tahun jalannya sebuah hubungan. Bahkan ada ahli yang mengatakan, 3 bulan hingga 2 tahun. Setelah itu, produksi hormon kesenangan secara perlahan berkurang.

Seiring berjalannya waktu, hubungan mulai terasa hambar. Timbul kejenuhan dan rasa malas dengan pasangan. Bukan karena tidak lagi menyayanginya, tetapi seperti ada yang kurang, ingin meninggalkan pun enggan rasanya. Apa yang terjadi?

Ketika hubungan mencapai titik stabil, kadar oksitosin (hormon keterikatan) stabil. Namun, kadar pleasure hormone (hormon romantis) berkurang. Sensasi mabuk kepayang seperti dulu awal menjalani kasih tidak lagi terlalu terasa, apalagi jika kedua sejoli terbiasa menjaga rutinitas hubungan yang kurang variatif. Sebaliknya, pleasure hormone dipicu oleh petualangan, tantangan, permainan, segala yang baru. Hal ini sungguhlah lumrah terjadi dalam suatu hubungan.

Pada saat ini jugalah hubungan rentan kandas karena kejenuhan atau terjadi perselingkuhan. Ketika seseorang merasa jenuh dalam hubungannya, tidak ada sesuatu yang baru, dia akan gampang tergoda dengan pihak ketiga. Godaan petualangan dan semburan pleasure hormone dengan orang atau suasana baru.

Lalu, apa yang harus dilakukan dengan pasangan agar tidak terjebak cinta jenuh atau bahkan perselingkuhan?

Para ilmuwan melakukan penelitian pada pasangan yang berhasil membina hubungan dan tetap romantis selama puluhan tahun. Mereka menemukan bahwa walaupun oksitosin dan vasopresin adalah hormon yang awalnya membentuk ikatan antara dua individu, tapi dopamin lah yang menyegarkan romansa tersebut hingga bertahun-tahun ke depan. Segala kegiatan baru yang membangkitkan kembali getaran akan meningkatkan kadar dopamin yang kemudian memicu timbulnya kembali perasaan romantis.

Lakukan hal-hal baru dan menantang dengan pasangan. Rutinitas memang perlu tapi tetap penting untuk menyisipkan hal baru di tengah rutinitas. Berkolaborasi dengan pasangan agar terus menghasilkan kegiatan baru, saling menantang, dan sama-sama meningkatkan kualitas diri. Pahami bahwa cinta perlu senantiasa dirawat.

Jika hal ini dapat dilakukan selama jalannya hubungan, hubungan akan selalu terasa “hidup”. Kadar oksitosin dan dopamin di tubuh terjaga keseimbangannya. Hubungan cinta jadi membahagiakan, mendewasakan, dan memuaskan. Cinta itu akan terus tumbuh dengan kuat bagaikan sulur anggur yang semakin panjang, merambat, dan melilit kuat satu sama lain.


 

Sumber-sumber

Diskusi sains Menrva Indonesia, “Science of Love” oleh dr. Ryu Hasan

Diskusi sains Menrva Indonesia, “Science of Happiness” oleh Henry Manampiring

Kultwit @lexdepraxis

http://molly.kalafut.org/misc/oksitosin.html

http://goodlifezen.com/2008/03/28/from-lust-to-losing-your-mind-science-reveals-secrets-of-love/

http://guardian.co.tt/womanwise/2012-11-02/science-love

http://www.youramazingbrain.org/lovesex/sciencelove.htm

http://www.match.com/magazine/article/12799/New-Findings-Show-That-Passion-Can-Last/

http://wiki.answers.com/Q/What_is_the_definition_of_lust

http://www.bbc.co.uk/science/hottopics/love/index.shtml

http://thenewviewonsex.blogspot.com/2008/04/oksitosin-vasopressin-and-tale-of-two.html

sumber gambar: http://www.oxytocin.org/oxytoc/love-science.html

Iklan

Jenis Kelamin, Gender, dan Orientasi: Apa Bedanya?

0

Pandangan awam di masyarakat kita:

Kebanyakan orang yang berjenis kelamin laki-laki, gendernya maskulin, dan orientasi seksualnya kepada orang perempuan. Yang tidak demikian, juga ada. Kebanyakan orang yang berjenis kelamin perempuan, bergender feminin, berorientasi seksual kepada orang laki-laki. Yang tidak demikian pun juga ada.

Tapi bukan berarti orang yang tidak sama dengan orang kebanyakan, lantas identik dengan orang yang mengalami gangguan atau abnormal.

Jenis Kelamin, Gender, dan Orientasi pada dasarnya adalah konsep yang saling independen, masing-masing berdiri sendiri, tapi sering dicampuradukkan! Orang suka menyamaratakan penggunaan istilahnya. Apa yang seharusnya disebut jenis kelamin, dibilang gender, atau sebaliknya. Banyak lagi contoh lain dari ketidaksesuaian penggunaan istilah ini.

Karena terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang 3 konsep yang independen ini, banyak yang ga ngerti dengan seksualitas diri sendiri. Plus, nilai-nilai heteronormatif yang sangat mengakar di masyarakat membuat banyak individu merasa “aneh” sendiri. Di tulisan ini, saya mengajak kamu untuk “membuka mata” akan keberagaman seksualitas di tengah masyarakat sekaligus menelusuri dan memahami seksualitas diri sendiri.

Jadi, jenis kelamin itu apa? Gender itu apa? Orientasi itu apa? Bedanya apa? Yuk mari..

 Jenis Kelamin

Fisik alat kelamin seorang individu. Kategori yang langsung disematkan dokter kandungan atau bidan atau dukun beranak ketika seorang bayi lahir ke dunia. Kalo punya penis, ya laki-laki. Kalo punya vagina, ya perempuan.

Baca lebih lanjut: Kajian Gen dalam Menentukan Jenis Kelamin

Walaupun jenis kelamin merupakan karakteristik biologi yang cukup definitif, tapi banyak juga individu yang karakteristik gen dan fisik luarnya bertolak belakang. Hal ini disebut dengan Intersex.

Secara sederhana, diketahui jika orang berkromosom XX itu perempuan, sedangkan yang XY laki-laki. Padahal tidak selalu demikian. Orang berkromosom XY tidak selalu berjenis kelamin laki-laki, orang yang berkromosom XX juga tidak selalu berjenis kelamin perempuan.

eden atwood intersexEden Atwood – Wanita Intersex [1]

Contoh wanita yang memiliki DNA laki-laki (Androgen Insensitivity Syndrome/AIS) adalah Eden Atwood, musisi jazz Amerika. Ia juga sempat meniti karir sebagai aktris dan model.

Secara fisik, lumayan lah. Suaranya juga asik, cari aja di YouTube. Tapi siapa yang sangka kalau dia adalah setengah laki, setengah perempuan. Yup, dia memiliki vagina, tapi tidak punya rahim. Dan, di internal tubuhnya, ia memiliki testis. Eden Atwood cuma salah satu contoh. Masih banyak lagi variasi dari intersex. Ada kromosom XXX, XXY, XYY, dll.

Eh tapi, intersex beda ya dengan transgender (gender dysphoria). Pada individu transgender, organ reproduksi dan kelamin berkembang baik, tapi ia merasa identitas gendernya tidak cocok dengan kelamin biologisnya.

Hah? Maksudnya gender tidak cocok itu apa? Yuk lanjut ke pembahasan tentang gender.

Gender

Jika jenis kelamin adalah karakteristik biologis, maka gender adalah karakteristik mental dan perilaku (ekspresi) berkenaan dengan karakteristik biologis tadi. Gender ini dikonstruksikan secara sosial (budaya).

Gender sendiri terbagi lagi menjadi 2 konsep, yaitu identitas gender dan ekspresi gender.

Identitas Gender

Bagaimana seseorang memandang dirinya (personal sense). Kelamin perempuan, tapi bisa saja ia memandang dirinya sebagai pria. Kelamin laki, punya penis, tapi bisa saja ia memandang dirinya sebagai wanita, “aku salah tubuh..

Ekspresi Gender

Cara seseorang mengekspresikan gendernya melalui perilaku, cara berpakaian, gaya rambut, hingga gaya bicara. Bisa feminin, maskulin, atau androgini (tidak feminin dan tidak pula maskulin, tengah-tengah).

gender spektrum identitas ekspresi

Ekspresi gender juga independen terhadap identitas gender. Seseorang bisa saja memandang dirinya sebagai perempuan tulen tapi suka berpenampilan tomboy.

Baca lebih lanjut: Keberagaman Seksualitas dan Gender di Nusantara

shiloh tomboy kingston femininShiloh, anak perempuan Angelina Jolie, yang tomboy | Kingston, anak laki-laki Gwen Stefani, gemar berpenampilan feminin [3]

Orientasi

Pola ketertarikan seksual dan emosional seseorang terhadap suatu objek. Objek tersebut bisa berupa lawan jenis, sesama jenis, binatang, pohon, sampai meja..

Masyarakat umum biasanya paling mengenal atau pernah mendengar orientasi heteroseksual, homoseksual, dan biseksual. Tapi, masih banyak lho bentuk orientasi lainnya yang agak jarang kita dengar. Dan tentu, individu dengan orientasi tersebut eksis di tengah masyarakat. Apa saja?

Heteroseksual

Ketertarikan seksual terhadap individu dengan jenis kelamin berbeda. Pria tertarik pada wanita. Wanita tertarik pada pria.

Homoseksual

Ketertarikan seksual terhadap individu dengan jenis kelamin yang sama. Pria tertarik pada pria (biasa disebut gay). Wanita tertarik pada wanita (lesbian).

Biseksual

Bisa tertarik pada lawan jenis, bisa tertarik pada sesama jenis.

Aseksual

Orang yang sangat sedikit bahkan tidak sama sekali merasakan ketertarikan seksual. Kebanyakan orang merasakan hasrat intrinsik untuk melibatkan aspek seksualitas (aktivitas dan ekspresi) pada hubungan mereka. Nah, orang aseksual tidak merasakan hasrat tersebut. They don’t crave for sex, no hunger for sex.

Demisexual

Orang yang memiliki ketertarikan seksual hanya setelah ia benar-benar memiliki ikatan emosional yang kuat dengan seseorang.

Gray-asexual

Tengah-tengah antara seksual dengan aseksual. Individu gray-asexual bervariasi, bisa salah satu dari kemungkinan berikut.

  • Default-nya tidak merasakan ketertarikan seksual, tapi kadang bisa juga merasakan ketertarikan seksual, atau
  • Punya ketertarikan seksual, tapi sex drive-nya (dorongan seksual) rendah, atau
  • Secara teknis sih seksual, tapi dia merasa seks bukanlah bagian yang penting atau tidak perlu diprioritaskan dalam hidupnya, atau
  • Orang yang merasakan ketertarikan dan dorongan seksual, tapi tidak cukup kuat sampai membuatnya ingin melakukan aktivitas seksual, atau
  • Orang-orang yang menikmati dan menginginkan seks, tapi hanya dengan kondisi dan syarat tertentu dan spesifik

Tidak tertutup variasi gray-asexual lain dari yang disebutkan di atas. Ya namanya juga abu-abu..

Pansexual

Orang yang tertarik pada berbagai jenis gender. Gender-blind. Baginya, gender ga penting. Jadi dia bisa suka dengan individu yang feminin, andro, maskulin, transgender,, pokoknya semua tipe gender.

Polysexual

Ketertarikan dengan banyak tipe gender, tapi ga semuanya. Wait, fan. Ada gitu orang aseksual? Kok bisa ada orang ga tertarik sama seks? Ga punya hasrat seksual?

Nah itulah dia. Jika kita menelanjangi topeng masyarakat, sebenarnya populasi orang aseksual cukup mengambil porsi. Di Inggris sendiri, populasi aseksual mencapai 1%, berarti sekitar 600 ribu jiwa. Jumlah penduduk kota Jogja aja masih kalah (sekitar 300 ribu jiwa).

Kultur kita yang terlalu mempopulerkan dan “memuja” seks membuat kita merasa aneh ketika mendengar kalo ada segelintir orang yang kurang atau bahkan tidak tertarik pada seks. Tapi sebenarnya apa definisi dari ketertarikan seksual? Simpelnya begini.

Ketika para wanita heboh melihat pria yang tampan dan badan oke, seperti Adam Levine atau Super Junior. Dan ketika para pria heboh melihat aduhai-nya para personil SNSD atau Victoria’s Secret’s Angels. Nah, individu aseksual itu ga ngerti sama kehebohan itu. They can’t relate to the attraction. Mereka ga ngerti seksinya personil SNSD atau Adam Levine atau objek apapun yang biasa dilihat masyarakat awam sebagai seksi, cantik, tampan. Mereka ga ngerti kenapa orang-orang doyan dan penasaran dengan hubungan intim. Ya, mereka pun ga ngerti apa enaknya hubungan seksual.

Karena dibesarkan di lingkungan yang sangat mempopulerkan seks, jadinya individu aseksual angguk-angguk aja sama definisi seksi, cantik, dan tampan yang beredar di masyarakat luas. Mereka cukup tau, “hoo yang begitu adalah yang biasa dibilang seksi.” Tapi secara internal, individu aseksual tidak memahami parameter tersebut.

Sama seperti pria homo ga bisa relate jika pria hetero mengatakan, “Apa sih enaknya cowok, cewek itu seksi men“. Pria hetero dan pria homo berdiri pada platform yang berbeda.

Si lesbi berkata, “Apa sih enaknya pria. Wanita itu adalah makhluk terindah di dunia“. Pria gay menjawab, “lah, apa enaknya wanita. Pria itu makhluk yang terindah di dunia“.

Nah, seperti didefinisikan di awal, orientasi itu meliputi ketertarikan seksual dan emosional, jadi sebenarnya orientasi dibedakan lagi atas orientasi seksual dan orientasi emosional (romantis): ketertarikan pada seseorang untuk memberikan dan menerima affection (kasih sayang).

Jenis-jenis orientasi romantis sama saja dengan orientasi seksual. Kalo untuk orientasi seksual, kita pake akhiran –sexual, untuk orientasi emosional ya tinggal tambahin akhiran –romantic. Dan yap, orientasi seksual dan emosional seseorang bisa saja berbeda. Contoh, seseorang tertarik secara seksual pada pria dan wanita (biseksual) tapi hanya merasakan koneksi emosional pada wanita (homoromantic).

orientasi seksual romantis emosionalOrientasi Seksual dan Orientasi Romantis [4]

3. Konsep yang Independen

Karena ketiga konsep ini bersifat independen, maka jenis kelamin, identitas gender, ekspresi gender, dan orientasi seksual dan emosional seseorang bisa berbeda atau tidak berkaitan satu sama lain.

Konstruksi sosial yang awam akan “menuntut” eksistensi arkaik, seperti jenis kelamin laki-laki, identitas gender laki-laki, ekspresi gender maskulin, dan tertarik pada wanita.

Padahal di luar sana, variasi-variasi di bawah ini sangat mungkin eksis:

  • jenis kelamin laki-laki, identitas gender laki-laki, ekspresi gender androgini, dan tertarik pada wanita dan pria
  • jenis kelamin perempuan, identitas gender laki-laki, ekspresi gender feminin, tertarik secara seksual pada wanita dan pria, tapi tertarik secara emosional hanya dengan wanita.
  • daan masih banyak variasi lainnya.

Ga semua pria gemulai (ekspresi gender: feminin) itu homo, yang macho bisa aja gay. Ga semua wanita tomboy (ekspresi gender: andro) itu lesbi, yang feminin abis bisa aja lesbi. Dan ga semua pria atau wanita seksi itu tertarik sama seks.

Bingung? Ribet? Enggak kok. Sebenarnya simpel banget!

Dikotomi kiri-kanan tidak bersifat absolut, semuanya bersifat spektrum. Secara indah dirangkum di gambar ini.

genderbread jenis kelamin sex gender identitas ekspresi orientasi seksual emosional romantisGenderbread Person: Rangkuman Jenis Kelamin, Gender, dan Orientasi [5]

Nah, sekarang saya tanya. Jenis kelamin kamu apa? Gender (identitas dan ekspresi) kamu apa? Orientasi (seksual dan emosional) kamu apa? ;)

Tidak serta-merta yang berbeda itu abnormal. Hanya umum dan tidak umum.

Individu intersex, aseksual, homoseksual, hingga transgender dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik dan bahagia akan kehidupannya.

Variasi di dunia sangat tidak terbatas. Dunia ini indah dengan keanekaragamannya. Kotak-kotakmu yang arkaik hanya akan menafikan keindahannya.

Sumber-sumber

saduran rangkuman kultwit dan diskusi bersama dr. Ryu Hasan @ryuhasan (neurosurgeon) mengenai Jenis Kelamin (Sex), Gender, dan Orientasi Seksual.

http://www.dso.iastate.edu/lgbtss/library/gi-ge

http://pamshouseblend.firedoglake.com/2011/05/07/gender-expression-and-gender-identity-are-two-separate-concepts/

http://rationalwiki.org/wiki/Gender_expression

http://www.northeastern.edu/womensstudies/graduate/courses/course_material/men_women_social/documents/Udry_Nature_of_Gender.pdf

http://abcnews.go.com/Health/MedicalMysteries/story?id=5465752&page=1

http://www.nhs.uk/Conditions/Androgen-insensitivity-syndrome/Pages/Introduction.aspx

http://asexualadvice.tumblr.com/glossary

http://www.huffingtonpost.com/2013/06/17/what-is-asexuality_n_3360424.html

http://www.asexualawarenessweek.com/whatis.html

http://anthro.palomar.edu/abnormal/abnormal_5.htm

http://www.princeton.edu/~achaney/tmve/wiki100k/docs/Affectional_orientation.html

Gambar [1]: http://www.israbox.com/uploads/posts/2008-05/thumbs/1210533995_eden-atwood-waves-the-bossa-nova.jpg

Gambar [2], dialihbahasakan dari: http://31.media.tumblr.com/tumblr_loosne8Tle1qjxqozo1_500.jpg

Gambar [3]: http://25.media.tumblr.com/28c719af9652f27b7b0608c666f0075d/tumblr_ms43o72mFD1rnsvk1o1_500.png

Gambar [4], sedikit dialihbahasakan dari: http://25.media.tumblr.com/tumblr_m6nu1kT5VE1rs0n8so1_1280.jpg

Gambar [5]: http://itspronouncedmetrosexual.com/wp-content/uploads/2012/03/Genderbread-2.1.jpg

 

DOUBLE – SLIT DAN SINGLE SLIT

0

hmm menyatakan pemahaman manusia akan konsep difraksi belum sempurna sama seperti menyatakan hukum newton tentang gerak belum sempurna. konsep difraksi sudah dijabarkan dengan sangat detail, seperti halnya hukum newton tentang gerak. jadi, walau saya cenderung menghindari kata sempurna, tapi saya rasa pemahaman kita sudah sangat baik.

wah, justru dengan adanya faktor penentu, difraksi tidak boleh terjadi. manusia sudah sangat paham kalau difraksi hanya terjadi jika gelombang saling bersuperposisi. andaikata teori yang fauzul ajukan benar, maka setiap foton yang ditembakan ke celah ganda, maka foton akan ditentukan melewati celah tertentu. maka jika kita tembakan foton tunggal terus menerus, kita akan mendapati foton terkumpul di satu area. karena jika foton sudah ‘ditentukan’ untuk melewati salah satu celah, maka fenomenanya harus sama dengan percobaan celah tunggal (single-slit experiment).

ini contohnya jika menggunakan single slit dan menggunakan double slit.

nah apa yang terjadi jika foton tunggal (atau electron/proton/etc) ditembakan kedalam double slit?

nah perhatikan ketika foton yang dites semakin banyak (e), entah mengapa partikel2 yang ‘pilihannya sudah ditentukan’ ini memiliki pola difraksi jika percobaan dilakukan berulang2 kali? padahal seharusnya foton bertindak seakan2 celah yang ada hanya satu (50% dari foton menganggap celah yang ada hanya celah pertama, sisanya menganggap yang ada hanya celah kedua) sehingga harusnya pola single slit yang terbentuk.

MWI menjawab ini, dengan menjelaskan ketika foton melewati celah. universe membelah, namun dalam skala kuantum, dua universe ini masih bisa saling terkait sehingga foton universe 1 akan bersuperposisi dengan foton universe 2.
Copenhagen menjawab dengan konsep bahwa ketika foton memasuki celah, foton berada pada dua tempat sekaligus (seperti halnya konsep gabungan hidup dan mati) dan kemudian bersuperposisi dengan dirinya sendiri.
benar sekali. memang seperti itu, probability jumlah 7 lebih banyak dibanding jumlah lainnya. sehingga seharusnya sesuai dengan central limit theorem, distribusi yang diperoleh harusnya memenuhi distribusi normal.
namun seperti halnya string theory, teknologi kita masih belum memungkinkan untuk menguji hal tersebut saat ini.

hanya saja, menolak teori ini hanya berlandaskan “pokokny tidak mungkin/terlalu aneh/dll” sama seperti dengan menolak teori evolusi berdasarkan landasan2 yang serupa kan 😉


Sepertinya permasalahan Double Slit hanyalah seperti masalah probabilitas pada lemparan 2 dadu, dimana probabilitas kemunculan jumlah 7 lebih banyak, diikuti jumlah 6 & 8, 5 & 9, dst yang semakin kecil. Gag ada yang aneh dalam penembakan photon satu persatu yang akhirnya menciptakan pola distribusi, yang pada akhirnya pancaran photon akan menghasilkan pencitraan terang-gelap sebagaimana pencitraan gelombang. Bukankah Gelombang Air juga terdiri dari molekul2 Air yang berbentuk partikel? Hanya saja pada kasus Double Slit, Photon2 bukan sebagai media perambat sebagaimana molekul Air, namun berjalan dalam pola gelombang (bukan garis lurus sebagaimana peluru) sehingga menciptakan Fenomena sebagaimana Fenomena Gelombang (terang-gelap).

itulah yang terjadi pada single slit experiment. keliatan kan di gambar single slit pola intensitasnya memenuhi distribusi normal. tapi yang terjadi dalam double slit experiment tidak seperti itu. secara statistik, penambahan 1 celah lagi tidak akan mempengaruhi bentuk distribusinya. melainkan, akan terbentuk 2 sebaran yang memenuhi distribusi normal.

celah pertama akan membentuk pola single slit experiment, celah kedua pun akan membentuk pola yang sama. karena celah nya sangat berdekatan, maka polanya akan menumpuk. namun kenyataannya, yang terjadi malah seperti ini:

penyebab terjadinya pola ini adalah disebabkan adanya interferensi dari kedua celah. interferensi hanya terjadi bila foton bersuperposisi dengan foton lainnya. pada teori yang diajukan fauzul, tiap foton hanya ada pada satu tempat di tiap waktu (karena di tiap waktu hanya ada single foton yang melewati celah) sehingga tidak terjadi yang namanya interferensi. jadi pertanyaan besarnya, jika bukan karena interferensi, karena apa?

copenhagen dan MWI memberikan model sehingga interferensi dapat terjadi. kedua model ini memberikan solusi atas fenomena yang ada.

Bagi saya Probabilitas penembakan “single photon” untuk bisa membentur tengah layar adalah yang PALING besar dibanding sisi2 lainnya. Karena saya gag menganggap jalannya Single Foton tersebut seperti jalannya peluru (garis lurus), namun seperti gelombang. Dengan mengikuti Pola gelombang maka Probabilitas Single Foton membentur tengah layar akan mengikuti pola perambatan gelombang (Probabilitas lebih besar) dan bila berturut2 single photon ditembakan sampai jutaan kali maka kesemuanya akan menghasilkan pencitraan terang dan gelap sebagaimana POLA gelombang


begini ceritanya.

bayangkan agan didorong sama orang. maka agan pasti terdorong sehingga bergerak. nah satu2nya hal yang bisa menghentikan agan bergerak adalah adanya penghalang. jadi setiap gaya pasti akan menggerakan benda selama tidak ada penghalang.
Nah, sekarang agan didorong dari dua arah, depan dan belakang. agan tidak bergerak, karena penghalangnya sekarang adalah badan agan sendiri. kalo badan agan terbuat dari busa, maka agan akan ‘bergerak’ ambles kedalam.

kita summarykan:

rule 1: kalo gayanya impas, baru deh bendanya diam.
rule 2: kalo gayanya gak impas, baru deh bendanya bergerak.

naah.. kita lihat gaya gravitasi. mulanya gas ‘bergerak’ karena tertarik satu sama lain. akibat tarikan ini, gas mulai memadat menjadi bola. karena masih renggang, rule 1 gak terpenuhi, jadilah rule 2. gas makin padaat hingga akhirnya terjadi reaksi fusi. begitu terjadi reaksi fusi, panas yang dihasilkan menolak tarikan gravitasi. jadi dengan demikian rule 1 beraksi.

setelah sekian lama, bahan bakar fusi habiss. efeknya? rules 1 gugur, jadilah rule 2 yang jalan. bola gas makin lamaa makin padaat sampe akhirnya larangan pauli untuk elektron berlaku. larangan pauli mencegah fermion berada pada kondisi quantum state yg sama. kondisi ini menyeimbangkan gravitasi, sehingga rule 1 berjaya. jadilah bintang katai putih

nah apa jadinya jika gas yg ngumpul banyaak banget? larangan pauli untuk elektron ga cukup kuat untuk menahan gravitasi sehingga rule 2 berlaku lagi. akibatnya elektron tertarik oleh gravitasi yang begituu besarnya sehingga bergabung dengan proton membentuk neutron. naah kondisi ini akhirnya memunculkan larangan pauli untuk neutron yang lebih kuat dibanding untuk elektron. oleh karena itu rule 1 kembali menang.

nah gimana jika gas yang terkumpul lebiih banyak lagi? akhirnya sampailah kita pada situasi ini. situasi dimana ga ada lagi sifat alam yang bisa menahan gravitasi. whether you like it or not, law of physics must prevail.. rule 1 tidak terpenuhi, sehingga rule 2 harus jalan. volume harus semakin mengecil. semakin mengecil, gravitasi semakin kuat sehingga laju pengecilan harus semakin cepat. begitu terus hingga akhirnya membentuk blackhole. inilah yang dimaksud dengan “bintang yang dimakan oleh gravitasinya sendiri”


supersimetri tidak gagal ato berhasil. konsep ini belum pernah terbukti secara lengkap karena energi yang dibutuhkan untuk membuktikannya jauuh diatas kebutuhan LHC sekarang.

sedangkan pernyataan kedua, itulah yang disebut string theory. dimana istilah ‘kekusutan’ dan ‘persilangan’ lebih baik diganti dengan istilah ‘manifestasi’ dari getaran itu sendiri. penjelasan dasaaar banget dari model ini ada di post2 awal thread ini. Namun, sama seperti konsep supersimetri, inipun sangat sulit dibuktikan karena membutuhkan konsumsi energi yang luar biasa besar.


dalam sains, tiap teori hanya diganti jika teori tersebut menjadi tidak konsisten dengan pengamatan atau hukum2 lainnya yang lebih mendasar. bukan karena teori tersebut nyaman atau tidak. teori atom dalton/rutherford/etc diganti dengan teori bohr karena teori sebelumnya gagal menjelaskan fenomena spektrum diskrit maupun fenomena blackbody radiation. Teori gravitasi newton diganti general relativity ketika teori newton gagal memprediksi orbit merkurius maupun deviasi posisi bintang ketika diamati saat gerhana. namun tidak pernah sekalipun sebuah teori diganti hanya karena dirasa “tidak nyaman”. konsep ini sejenis dengan null hypothesis dalam statistik, dimana null hypothesis hanya dapat ditolak jika ada bukti bahwa null hypothesis gagal menjelaskan sebuah fenomena.

para kreasionis berupaya memberikan alternatif jawaban tanpa menunjukan kegagalan dari teori evolusinya itu sendiri. sehingga, by default pendekatan itu sudah gagal dengan sendirinya. menolak null hypothesis (dalam hal ini teori evolusi) tanpa menunjukan bukti kegagalan hypothesis tersebut. Dalam kasus ini, para biologist hanya sanggup menagih bukti pada para kreasionis akan teori2 yang diajukan mereka karena sulit diuji konsistensinya. Namun dalam fisika.

bersikap tidak ilmiah karena tidak menunjukan terlebih dahulu kegagalan dari teori tersebut.

penjelasan akan bagaimana sebuah fenomena itu terjadi secara sebenarnya bukan merupakan pendekatan sains, oleh karena itu situasi sebenarnya ala fauzul bukanlah hal yang dicari dalam sains.

situasi sebenarnya ala sains adalah sebuah penjelasan yang konsisten dengan yang ada di alam, sanggup menjelaskan maupun memprediksi fenomena di alam. terlepas dari janggal/aneh/absurd/dst.

 

FISIKA PARTIKEL DASAR

0

foton itu tak bermassa, alias bermasa 0. Massa disini adalah massa dalam artian sifat sebuah partikel (masa intrinsik). Tapi foton memiliki masa invariant ketika bergerak secara relativistik.

Higgs Boson itu juga tidak punya massa intrinsik.

Kita kembali lagi ke ke standard model.

Atom > Inti-Atom + Elektron
Inti-Atom > Proton + Neutron
Elektron = jenis partikel lepton, yang gak bisa dibelah lagi

Proton > Up Quark, Up Quark, Down Quark ( UUD )
Neutron > Down Quark, Down Quark, Up Quark (DDU)

Ternyata partikel up quark, dan down quark itu sebelumnya adalah partikel lain, sebelum dia meluruh. Ada charm, strange, top, bottom

Begitupun Elektron, sebelum meluruh menjadi dirinya, ia adalah muon dan tau. Ada juga 3 versi lainnnya (bersama neutrino)

Jadi partikel dasar itu 6 quark, 6 lepton. 5 partikel gaya (yang menjadikan seolah-olah interaksi mereka menjadi gaya)

Bedanya dari quark dan lepton adalah memiliki muatan warna atau tidak.
Dalam standard model, selain ada muatan listrik, juga ada yang disebut muatan warna.

Dalam fisika quantum itu ada yang dinamakan:
– Quantum Electrodynamics (QED) = menjelaskan tentang listrik-magnet (electromagnetism) dari sudut pandang quantum
– Quantum Chromodynamics (QCD) = Menjelaskan tentang kenapa Inti atom itu tidak tolak menolak, kan Proton itu positif, Neutron itu netral. Harusnya kalau neutron itu bermuatan listrik netral, sama saja dengan proton ketemu proton (+ ketemu +). Harusnya mental. Tapi kenapa gak mental. Ternyata proton dan neutron itu dilengketkan dengan partikel gluon (penyebab gaya nuklir kuat). Gluon ini yang memberikan sifat muatan warna. Chrome sendiri kalau gk salah artinya warna dalam bahasa yunani

Penggolongan partikel itu ada dua:

– Fermion = Partikel materi (quark, lepton)
– Boson = Partikel pembawa gaya
——— Foton = partikel penyebab adanya gaya listrik-magnet (electromagnetism). Jadi medan listrik-magnet itu akibat partikel foton dalam bentuk maya, sehingga membentuk medan listrik-magnet
——— Gluon = Partikel penyebab adanya Nuklir kuat dan bertanggung jawab memberikan muatan warna terhadap quark.
——— W+, W-, Z = Tiga partikel bosson yang bertanggung jawab kenapa partikel meluruh, dan adanya anti-partikel. W+ itu buat partikel, w- untuk antipartikel. Z untuk yg bermuatan netral.
——— Nah yang lagi itu Higgs: jadi tugas higgs, sebelum semua partikel fermion, dan partikel gaya W+, W-, Z memiliki masa, semua partikel melewati yang dinamakan medan higgs (sama seperti medan EM dan foton). Partikel higgs ini yang menyebabkan adanya medan higgs, yang nantinya bertanggung jawab untuk mekanisme higgs

Jadi massa sendiri sebenernya ya energi.


Semua field itu pasti ada partikel yang bisa diasosiasikan dengan field tsb. Kayak electromagnetic field punya photon, weak dan strong nuclear field punya W&Z boson, gavitational field punya partikel hipotesis graviton, dst.. Di sini, Higgs field punya partikel asosiasinya yaitu Higgs boson. Mekanisme penambahan massa elementary particles itu berhubungan dengan Higgs field, yang kemudian menurut teorinya, untuk membuktikan keberadaan field tsb, maka harus ditemukan partikel asosiasinya, yaitu Higgs boson.

Singkatnya, yang memberi massa itu Higgs field. Ada Higgs field artinya ada Higgs boson


standard model bercerita tentang apa sih sebenarnya yang namanya elektromagnetik, interaksi kuat, dan interaksi lemah. yang tadinya sudut pandang kita bahwa gaya2 itu merupakan ‘action at the distance’ dalam bentuk medan, menjadi interaksi2 partikel. Kalo pelajaran jaman smp/sma dulu misalnya, dibilang kalau ada yang namanya medan listrik, medan magnet, dst. nah konsep medan ini diganti menjadi interaksi partikel foton. bagaimana interaksi foton bisa menghasilkan efek elektromagnetik yang kita liat ini dijelaskan dalam QED (Quantum Electrodynamcis).

ada lagi yang namanya gaya kuat. gaya kuat ini yang membuat inti atom tidak tercerai-berai. kalau dari elektromagnetik, inti atom yang terdiri dari proton yang muatannya positif harusnya saling tolak menolak kan sehingga saling menjauh. Nah gaya kuat inilah yang mempertahankan inti atom ini. Gaya ini ratusan kali lebih kuat dibanding gaya elektromagnetik sehingga inti atom tidak tercerai-berai. Sudut pandang standard model terhadap gaya kuat ini adalah, adanya interaksi partikel gluon sehingga membuat quark dalam proton ini berganti color. efek pergantian color ini yang menyebabkan proton2 menjadi terikat dalam inti atom. interaksi gluon ini dijelaskan dalam QCD (Quantum Chromodynamics).

Naah, adalagi yang dijelaskan oleh standard model. tadinya, partikel itu ditinjau sebagai titik yang massless. Nah konsep ini ga bisa menjelaskan mengapa misalnya partikel seperti fermion memiliki massa diam yang tidak nol sedangkan sebagian jenis partikel kategori boson memiliki massa diam yang nol.. contoh partikel yang tergolong fermion itu misalnya elektron, quark, dst. sedangkan yang termasuk kategori boson itu misalnya foton. Akhirnya Higgs bisa menunjukan dengan yang namanya mekanisme higgs, partikel2 fermion itu akan memiliki massa diam yang tidak nol. Tentunya sesuai dengan pandangan standard model, tiap mekanisme itu pasti ada partikel pembawanya. partikel pembawa mekanisme higgs ini bisa diprediksi bagaimana propertiesnya. partikel inilah yang ditemukan oleh CERN baru2 ini.

QCBE (Quantum Chyomodynamics Binding Energy)

justru sebaliknya, orang2 udah tau apa yang sebenarnya menyebabkan massa. persamaannya terkenal banget:

persamaan einstein diatas menunjukan kalau massa itu adalah salah satu bentuk energi. Sehingga setiap ada yang namanya energi, pasti akan menghasilkan massa. Nah untuk quark, partikel ini memiliki 2 tipe massa. massa yang intrinsik, dan massa yang muncul akibat interaksi gluon. Massa intrinsik ini diakibatkan oleh mekanisme higgs sehingga massa diam quark tidak nol. Dalam ikatan quark yang diakibatkan gluon ini, energi ikat inilah yang menyumbang sebagian besar massa dalam proton.

Yang jadi kebingungan sebelumnya bukan apa yang ‘menyebabkan’ massa seperti yang banyak orang bayangkan. tapi lebih kepada, mengapa sebagian partikel memiliki massa diam yang nol, sebagian lagi tidak nol. mekanisme higgs lah yang menjelaskan ini. dan LHC membuktikan kebenaran dari mekanisme higgs ini lewat pencarian partikel penyebab interaksi mekanisme higgs.

Sehingga jika dibilang partikel higgs boson sebagai pembawa mekanisme higgs ini yang menjadi penyebab utama adanya massa dialam semesta, maka pernyataan ini ga akurat. soalnya mekanisme higgs hanya menyumbang beberapa persen aja dari total massa suatu benda. sisanya disebabkan oleh energi ikat gluon yang dijelaskan dalam QCBE.


Quark:
– Atom tersusun dari Proton, Neutron, dan Elektron.
– Quarks adalah partikel penyusun proton ataupun neutron, ibarat atom tersusun dari inti atom dan elektron, proton ataupun neutron pun terdapat partikel penyusunnya.
– Quark itu sendiri ada 6 jenis (up, down, top, bottom, charm, and strange).
– 1 Proton terdiri dari 3 Quarks (2 up, 1 down).
– 1 Neutron terdiri dari 3 Quarks (1 up, 2 down).

Lepton:
– Elektron, Tau, Muon, dan Neutrino adalah termasuk ke dalam Lepton.
– Size elektron jauh lebih kecil dibandingkan inti atom, tapi spesifiknya berapa belum ada yg tahu disebabkan terlalu sulit untuk diukur karena terlalu kecilnya ukuran elektron. Lebih mudah membayangkan massa-nya berbanding proton (1 banding 1800an).
– Tau dan Muon adalah generasi pendahulu sebelum akhirnya menjadi elektron. Tau dan Muon lebih tidak stabil, oleh karena itu akhirnya akan meluruh menjadi elektron yg merupakan lepton paling stabil (Tau–>Muon–>Elektron).

 

BRANE WORLD

0

M-theory mengemukakan bahwa:

1. String merupakan tali super kecil yang memiliki panjang saja (1 dimensi) dengan kedua ujungnya terbuka (open loop).
2. Terdapat string yang melar hinga memiliki panjang dan lebar (2-dimensi), membentuk membrane (disingkat, “brane”) atau sebuah lembaran super tipis. Kita sebut ini sebagai 2-brane. Sedangkan string 1 dimensi disebut dengan 1-brane.
3. Kedua ujung string 1-brane harus melekat / bertumpu pada 2-brane.

Perbedaan signifikan terjadi setelah hadirnya M-Theory adalah bahwa orang mulai meninggalkan gambaran dimensi extra yang terpilin sangat kecil itu. M-Theory memberi gambaran pada kemungkinan yang berlawanan, yaitu bahwa dimensi-ruang extra itu berukuran sangat besar. Kita mungkin hidup di alam semesta 3 diemensi-ruang yang berada di dalam sebuah dimensi-ruang yang lebih besar lagi. Bahwa alam semesta kita berupa membrane 3 dimensi ruang atau 3-brane, dan alam 3-brane kita berada di dalam alam berdimensi lebih tinggi – yaitu alam 4 dimensi-ruang atau 4-brane.

Agar lebih mudah mengerti konsep membrane ini, bayangkanlah bahwa layar televisi anda adalah sebuah dunia dua dimensi. Pemain film di dalam televisi hidup di alam dengan 2 dimensi-ruang saja (hanya memiliki dimensi panjang dan lebar) mereka tidak memiliki dimensi ruang ke-tiga. Mereka tidak tau dan tidak menyadarinya. Jarak antara mata anda ke layar televisi adalah sebuah dimensi-ruang ke-tiga yang tidak dimiliki alam dalam televisi itu. Atau boleh saya dikatakan bahwa untuk menemukan dimensi extra, maka makhluk yang hidup di dimensi layar televisi harus keluar dari layar televisi tersebut.

Sampai tahap ini apakah anda sudah bisa membayangkannya? Sekarang coba bayangkan alam semesta kita adalah layar televisi tersebut. Televisi dengan 3 dimensi ruang. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu adalah dimensi ruang ke-empat yang tidak dimiliki oleh alam kita. Alam di luar alam kita adalah sebuah alam semesta yang memiliki 4 dimensi-ruang.

Sekarang bayangkan bila alam semesta dengan 4 dimensi-ruang itu adalah sebuah layar televisi. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu adalah dimensi ruang ke-lima yang tidak dimiliki oleh alam 4 dimensi-ruang.

Demikian seterusnya.

Marilah kita lanjutkan membayangkan dengan cara yang sama ke alam semesta kita.

Alam semesta kita yaitu 3-brane berada di membrane yang lebih tinggi; 4 brane. Atau boleh saya katakan alam 3-brane kita dibungkus oleh alam 4-brane. M-Theory mengatakan bahwa alam 3-brane kita memiliki kemungkinan exist berdampingan dengan alam 3-brane lainnya (parallel universe). Ada berapa banyak parallel universe? Tidak ada yang tau.

Lalu dimana dimensi 5, 6, 7, 8, 9, dan 10?
Mari kita lanjutkan lagi membayangkannya. Bila alam 3-brane dibungkus alam 4-brane, maka:
Alam 3-brane dibungkus oleh alam 4-brane (lapis 1)
Alam 4-brane dibungkus oleh alam 5-brane (lapis 2)
Alam 5-brane dibungkus oleh alam 6-brane (lapis 3)
Alam 6-brane dibungkus oleh alam 7-brane (lapis 4)
Alam 7-brane dibungkus oleh alam 8-brane (lapis 5)
Alam 8-brane dibungkus oleh alam 9-brane (lapis 6)
Alam 9-brane dibungkus oleh alam 10-brane (lapis 7)

Alam semesta kita dibungkus oleh alam lainnya yang berdimensi-ruang lebih tinggi. Dan di setiap membrane terdapat parallel universe.

Lalu dimana dimensi waktu? Dimensi waktu dimiliki semua alam itu. Kekal dan konstan adanya