FALSIFIKASI EVOLUSI


Mitos mengenai runtuhnya teori evolusi telah tersebar begitu luas, terutama akibat ketidakmengertian masyarakat awam mengenai apa itu evolusi, teorinya dan faktanya. Disini saya akan menyarikan tulisan dari Douglas Theobald, Ph.D. Tulisannya yang asli sesungguhnya terdiri dari 4 bagian yaitu konsep, prediksi, bukti dan falsifikasi. Istilah falsifikasi sendiri artinya adalah “cara meruntuhkan sebuah teori”. Semua teori ilmiah tidak boleh kebal. Sebuah teori yang ilmiah harus dapat di falsifikasi, ia harus dapat digugurkan jika ada bukti yang mengatakan sebaliknya. Sebuah teori dikatakan tidak ilmiah jika ia tidak mungkin di sangkal. Contoh, teori kalau kita hidup dalam program komputer (teori matrix). Teori ini tidak ilmiah karena kita tidak dapat membayangkan adanya bukti yang dapat memfalsifikasikannya. Setiap kali terjadi sesuatu, apapun itu tanpa terkecuali, seorang pendukung teori matrix dapat mengatakan, memang dari sananya sudah di program demikian. Sebaliknya, teori bulan terbelah adalah sebuah teori ilmiah. Kita dapat membayangkan bukti kalau teori ini salah, misalkan pengamatan kalau tidak ada tanda di bulan kalau ia pernah terbelah.

Ada beberapa teori evolusi. Paling tidak ada tiga, yaitu teori evolusi Lamarck, teori evolusi Darwin dan teori evolusi Gould. Teori evolusi Lamarck mengatakan kalau peristiwa yang terjadi dalam hidup organisme dapat diwariskan. Ambil contoh seorang binaraga. Beliau berlatih dari kecil sehingga awalnya kurus menjadi kekar. Teori evolusi Lamarck mengatakan bahwa kelak sang anak yang lahir juga akan kekar, tanpa harus berlatih bina raga lagi (karena ayahnya sudah melakukannya sebelum ia lahir). Falsifikasinya gampang, kalau kita menemukan bukti ada anak yang kurus padahal orang tuanya kekar, maka teori Lamarck dapat gugur. Dan teori Lamarck memang sudah lama gugur. Teori Gould lebih dikenal sebagai Punctuated Equilibrium. Gould mengatakan kalau evolusi berlangsung tersendat-sendat. Kadang terjadi evolusi berlangsung sangat cepat, kemudian terjadi evolusi yang sangat lambat. Teori Gould sampai sekarang belum dapat diperiksa, terutama karena teori ini sangat luas dan komprehensif. Satu contoh tidak cukup, seandainya kita mengamati satu spesies berevolusi dengan kecepatan tetap, bisa jadi spesies lain tidak. Tapi kita dapat membayangkan bukti penyangkalnya, yaitu bila kita menemukan sebagian besar spesies atau seluruh spesies, ber evolusi dengan kecepatan konstan.

Teori evolusi Darwin juga sangat komprehensif. Darwin mengatakan evolusi terjadi karena adanya seleksi alam terhadap keturunan, yang kemudian secara modern, keturunan ini ditentukan oleh gen, dan perubahan keturunan adalah mutasi. Kita dapat membayangkan bukti kalau teori Darwin salah. Bukti-bukti ini, seandainya ditemukan, maka akan meruntuhkan teori evolusi Darwin atau paling tidak, membuat teori evolusi Darwin harus direvisi. Sebuah bukti, adalah nyata, artinya bukan hanya hasil berpikir semata. Banyak orang menganggap teori evolusi gugur hanya karena berpikir lewat akalnya. Perlu diperhatikan, akal setiap orang berbeda. Ada orang yang dapat menganggap sesuatu masuk akal, ada yang tidak dapat. Itu juga mengapa kita punya prestasi berbeda dengan orang lain saat sekolah. Menggunakan pikiran semata, bukanlah penyanggah teori ilmiah. Orang mengistilahkan berpikir semata sebagai sesuatu yang “subjektif”. Teori ilmiah adalah objektif, dan karenanya harus disanggah secara objektif pula. Menyanggah teori secara objektif berarti menggunakan fakta yang dapat diperiksa kebenarannya semua orang yang kompeten di bidangnya. Menggunakan fakta ilmiah, itu baru cara menyanggah yang benar.

Berikut apa saja bukti, yang bila ditemukan, dapat dipakai untuk menyanggah teori evolusi. Silakan anda yang ingin membuktikan kalau teori evolusi salah, mencari salah satu bukti yang dibayangkan dalam daftar ini. Kalau saudara bisa menemukannya, mungkin saudara akan mendapatkan hadiah nobel.

1. Ditemukannya Mahluk Hidup dengan DNA dan protein yang tidak ada hubungannya dengan mahluk hidup lainnya di bumi

Ribuan spesies baru ditemukan setiap tahun, dan baris DNA dan protein diuraikan setiap hari dari spesies yang sebelumnya belum diperiksa (Wilson 1992, Ch. 8). Pada laju saat ini, yang bertambah secara eksponensial, hampir 38 juta barisan basa baru dibaca setiap hari. Masing-masing merupakan ujian bagi teori evolusi. Hanya berdasarkan pada teori evolusi dan genetika dari organisme yang telah diketahui, kita dengan yakin meramalkan kalau kita tidak akan pernah menemukan satupun spesies modern dari filum manapun yang dikenal di bumi ini dengan bahan genetik asing non-asam nukleat. Kita juga meramalkan dengan penuh keyakinan kalau semua spesies yang akan ditemukan yang merupakan anggota filum yang telah dikenal akan memakai kode genetik standar atau turunan dekatnya. Sebagai contoh, menurut teori, tidak satupun dari ribuan serangga yang baru dan tidak diketahui sebelumnya yang terus ditemukan di hutan hujan Brazil akan memiliki genome non-asam nukleat. Tidak pula akan spesies serangga yang belum ditemukan ini akan memiliki kode genetik yang bukan turunan dekat dari kode genetik standar. Dengan ketiadaan teori evolusi, adalah mungkin setiap spesies akan memiliki kode genetik berbeda, spesifik padanya, karena ada sebanyak 1.4 x 10^(70) kode genetik yang ekuivalen secara informasional, semuanya memakai kodon dan asam amino yang sama seperti kode genetik standar (Yockey 1992). Kemungkinan ini akan sangat bermanfaat bagi organisme, karena akan menyingkirkan infeksi virus antar spesies. Walau demikian, ini tidak diamati di alam, dan teori evolusi secara efektif menjelaskan kenapa pengamatan demikian tidak mungkin didapat.

Sebagai contoh lain, sembilan spesies baru lemur dan dua marmoset (semuanya primata) ditemukan di rimba Madagaskar dan Brasil tahun 2000 (Groves 2000; Rasoloarison et al. 2000; Thalmann dan Geissmann 2000). Sepuluh spesies monyet baru telah ditemukan di Brasil sejak tahun 1990 (Van Roosmalen et al. 2000). Tidak ada yang melanggar hukum biologi bila spesies-spesies ini akan memiliki kode genetik yang tidak digunakan sebelumnya tidak ada, kecuali teori evolusi. Walau demikian, kita sekarang tahu dengan pasti bahwa lemur-lemur baru ini memiliki DNA dengan kode genetik standar (Yoder et al. 2000); para marmoset belum lagi diperiksa. Lebih jauh, masing-masing spesies dapat menggunakan polimer berbeda untuk katalisis. Polimer yang digunakan dapat tetap identik tapi memiliki siralitas berbeda pada spesies berbeda.

Ada ribuan jalur glikolisis yang ekivalen secara termodinamis (bahkan bila memakai sepuluh langkah reaksi yang sama namun urutannya berbeda), jadi adalah mungkin setiap spesies akan memiliki jalur glikolisisnya sendiri-sendiri, dirancang untuk kebutuhannya sendiri. Penalaran yang sama berlaku pada jalur metabolik inti lainnya, seperti siklus asam sitrat dan fosforilasi oksidatif. Terakhir, banyak molekul lain selain ATP yang dapat menjadi alat tukar energi dalam berbagai spesies (CTP, TTP, UTP, ITP, atau molekul mirip-ATP lainnya dengan satu dari 293 asam amino yang diketahui atau satu dari selusin basa lain yang dapat menggantikan adenosin). Penemuan adanya hewan atau tanaman yang memuat salah satu dari contoh yang disebutkan di atas akan menjadi penemuan yang meruntuhkan teori evolusi, namun sampai sekarang mereka belum pernah ditemukan.

2. Ditemukannya Melinjo berbunga, Pakis berkayu, Burung yang memiliki susu, mamalia berbulu burung, atau ikan dengan gigi geraham dan taring sekaligus.

Akan menjadi sangat problematik bila banyak spesies ditemukan memiliki karakteristik gabungan dari beragam kelompok. Sebagai contoh, sebagian tanaman tak berpembuluh dapat saja memiliki bunga atau biji, seperti tanaman berpembuluh, tapi ternyata tidak ada. Gymnosperma (seperti melinjo atau pinus) dapat saja memiliki bunga, tapi tidak pernah ditemukan. Tanaman tanpa biji, seperti pakis, dapat saja memiliki kayu; walau begitu hanya sebagian angiosperma yang memiliki kayu. Begitu pula, burung dapat saja memiliki kelenjar susu atau rambut; sebagian mamalia bisa saja memiliki bulu (ini sangat berguna untuk isolasi). Ikan atau amfibi tertentu dapat saja memiliki gigi terdiferensiasi, tapi ini hanya dimiliki oleh mamalia. Sebuah karakteristik campuran seperti ini akan membuatnya sangat sulit di organisasi secara objektif dalam hirarki. Tidak seperti organisme, mobil memang memiliki karakter campuran, dan ini persis mengapa hirarki bersarang tidak dapat secara alami dipakai untuk klasifikasi mobil.

Bila mustahil, atau sangat bermasalah, menempatkan spesies dalam skema klasifikasi yang objektif (seperti pada mobil, kursi, buku, unsur atom dan partikel elementer), teori evolusi akan runtuh secara efektif. Lebih tepatnya, bila pohon filogenetis dari semua kehidupan memberikan nilai rendah dari sinyal filogenetis (struktur hirarkis tertutup), teori evolusi akan hancur.

Faktanya, adalah mungkin memiliki pola resiprokal dari hirarki tertutup. Secara matematis, sebuah hirarki tertutup adalah hasil dari korelasi spesifik antara karakter atau organisme tertentu. Saat tingkat evolusi cepat, karakter menjadi tersebar secara acak satu sama lain, dan korelasi melemah. Walau demikian, karakter juga dapat anti korelasi – adalah mungkin bagi mereka berkorelasi dalam arah berlawanan dari apa yang dihasilkan hirarki bersarang (Archie 1989; Faith dan Cranston 1991; Hillis 1991; Hillis dan Huelsenbeck 1992; Klassen et al. 1991). Pengamatan pola anti korelasi demikian akan menjadi sebab keruntuhan teori evolusi, tanpa perlu melihat pada tingkat evolusioner.

Ukuran yang dipakai secara luas untuk struktur hirarkis kladistik adalah indeks konsistensi (CI). Sifat statistik dari ukuran CI diteliti dalam paper terkenal oleh Klassen et al. (1991). Nilai pasti CI tergantung pada jumlah taksa dalam pohon filogenetis yang diteliti. Dalam paper ini, penulis menghitung nilai berapa yang signifikan secara statistik untuk beragam jumlah taksa. Nilai CI yang tinggi menunjukkan derajat tinggi strutur hirarkis. Sebagai contoh, CI 0,2 diperkirakan dari data acak 20 taksa. Nilai 0,3 walau begitu adalah signifikan sekali secara statistik. Paling menarik pada point saat ini adalah fakta bahwa CI 0,1 dari 20 taksa juga sangat signifikan secara statistik, namun ia terlalu rendah-ia adalah indikator dari struktur anti kladistik. Klassen et al. mengambil 75 nilai CI dari kladogram yang diterbitkan dalam tahun 1989 (digabung dalam tiga paper) dan menemukan bagaimana mereka sangat signifikan secara statistik. Kladogram yang dipakai mulai dari 5 hingga 49 taksa (yaitu spesies berbeda). Tiga dari 75 kladogram jatuh dalam batas kepercayaan 95% dari data acak, yang artinya mereka tidak dapat dibedakan dari data acak. Semua sisanya merupakan nilai CI yang tinggi signifikansinya secara statistik. Tidak satupun menunjukkan nilai rendah signifikan; tidak ada yang menunjukkan pola anti hirarkis, anti korelasi. Catat, studi ini dilakukan sebelum ada ukuran signifikansi statistik yang dapat memungkinkan peneliti menyingkirkan kladogram yang buruk. Dapat diramalkan, tiga himpunan data buruk memiliki dibawah sepuluh taksa-tentu saja lebih rumit menentukan signifikansi statistik dengan sangat sedikit data. 75 studi independen dari peneliti-peneliti berbeda pada organisme dan gen berbeda dengan nilai CI tinggi (P < 0.01) adalah konfirmasi luar bisaa pada tingkat astronomis dari signifikansi statistik gabungan (P « 10^(-300), Bailey dan Gribskov 1998; Fisher 1990). Bila sebaliknya yang benar – bila studi memberikan nilai CI signifikan secara statistik (yaitu struktur hirarkis kladistik) yang rendah dari yang diharapkan dari data acak- teori evolusi akan runtuh dengan seketika.

Perlu dicatat bahwa ada 1,5 juta spesies yang diketahui saat ini, dan mayoritas spesies ini telah ditemukan semenjak Darwin menyatakan hipotesis evolusinya. Walau begitu, semuanya cocok dengan pola hirarkis tertutup dalam error metode kita. Lebih jauh lagi, diperkirakan hanya 1 hingga 10% dari semua spesies hidup telah kita catat, belum lagi diteliti secara detil. Spesies baru ditemukan setiap hari, dan masing-masing merupakan ujian untuk teori Evolusi (Wilson 1992, Ch. 8).

3. Penemuan Ketidak cocokan yang signifikan antara pohon evolusi yang dibuat secara morfologis dengan yang dibuat secara molekuler

Saat menjadi mungkin untuk membariskan molekul biologis, realisasi dari pohon berbeda berdasarkan bukti molekuler independen akan menjadi hantaman keras bagi teori evolusi, walaupun jauh dari hasil yang paling mungkin. Lebih tepatnya, teori evolusi akan runtuh bila pohon filogeni universal yang diperoleh dari bukti morfologis dan molekuler yang independen tidak cocok dengan signifikansi statistik. Lebih jauh, kita kini dalam posisi mulai membangun pohon filogenetis berdasarkan pada garis data lain yang independen, seperti organisasi kromosom. Secara umum, jumlah dan panjang kromosom serta posisi gen pada kromosom semuanya independen dari identitas morfologi dan barisan. Filogeni yang dibangun dari data ini harus menunjukan pohon filogenetis yang standar pula (Hillis et al. 1996; Li 1997).

4. Ditemukannya Hewan Separuh Mamalia separuh Burung seperti Pegasus

Penemuan apapun dari bentuk peralihan separuh mamalia separuh burung akan tidak konsisten dengan teori evolusi. Banyak contoh dari bentuk peralihan yang tidak mungkin berdasarkan pohon standar (Kemp 1982; Stanley 1993; Carroll 1997; Chaterjee 1997). Sebuah point penting adalah sebuah penafsiran kladistik evolusioner yang ketat mengeluarkan kemungkinan menemukan leluhur sejati; hanya bentuk peralihan dapat ditentukan secara positif. Bukti non kontroversi satu-satunya dari hubungan leluhur-keturunan adalah pengamatan kelahiran; jelas ini secara normal mustahil dalam catatan fosil. Bentuk peralihan tidak perlu sama pasti dengan yang leluhur yang diramalkan; faktanya, hampir mustahil kalau mereka sama. Hanya karena pertimbangan kemungkinan, bentuk peralihan yang kita temukan sepertinya bukanlah leluhur sejati dari spesies modern manapun, tapi akan paling berhubungan dengan leluhur yang diramalkan. Jadi, bentuk peralihan yang kita temukan akan memiliki karakter turunan tambahan yang menunjukkan mereka merupakan bentuk peralihan. Karena pertimbangan ini, saat sebuah fosil peralihan baru dan penting ditemukan, paleontolog yang hati-hati akan sering mencatat bahwa spesies peralihan pada studi mungkin bukan leluhur, namun “wakil dari leluhur bersama” atau sebuah “cabang tetangga” evolusioner. Semakin sedikit karakter turunan tambahan yang dimiliki sebuah fosil peralihan, semakin tinggi kemungkinan kalau fosil peralihan ini leluhur yang sejati.

5. Ditemukannya fosil mamalia, burung atau bunga di batuan zaman Silur atau sebelumnya

Akan sangat tidak konsisten dengan teori evolusi bila urutan kronologis terbalik dalam contoh reptil-burung dan reptil-mamalia. Bahkan menemukan bahwa tidak ada korelasi keseluruhan antara stratigrafi dan filogeni konsesus dari taksa utama akan sangat problematik untuk teori evolusi. Sebagai tambahan, korelasi yang teramati dapat menurun pada bingkai waktu lebih panjang atau saat kita mendapat lebih banyak data paleontologis – namun tidak pernah terjadi (Benton et al. 1999; Benton dan Storrs 1994). Berdasarkan pada keyakinan tinggi dalam beberapa cabang pohon filogenetis, sebagian batasan temporal sangat kaku. Sebagai contoh, kita tidak akan mungkin menemukan fosil mamalia atau burung pada atau sebelum deposit Devon, sebelum reptil berpisah dari garis tetrapoda amfibi. Ini mengeluarkan deposit prakambria, kambria ordovisian, dan silur, memuat 92% sejarah geologis bumi dan 65% sejarah biologis organisme multiseluler. Bahkan satu saja temuan fosil mamalia, burung atau bunga dari pra devon akan meruntuhkan teori evolusi dalam seketika (Kemp 1982; Carroll 1988; Stanley 1993; Chaterjee 1997).

6. Ada bayi yang dilahirkan berbulu seperti burung

Tidak ada organisme yang dapat memiliki struktur vestigial yang sebelumnya tidak fungsional dalam salah satu leluhurnya. Jadi, untuk setiap spesies, pohon filogenetis standar membuat sejumlah besar prediksi mengenai karakter vestigial yang boleh dan mustahil untuk setiap spesies. Karakter yang dimiliki bersama dan data barisan molekuler, bukan karakter vestigial, menentukan filogeni dan karakteristik leluhur bersama yang diprediksi. Jadi, bila teori evolusi salah, karakter vestigial sangat mungkin tidak dapat dijelaskan secara evolusioner. Sebagai contoh, paus digolongkan mamalia atas dasar banyak kriteria, seperti memiliki kelenjar susu, plasenta, satu tulang di rahang bawah, dll. Ular begitu pula digolongkan reptil karena memiliki fitur turunan lainnya. Walau demikian, adalah mungkin secara teoritis kalau ular atau paus digolongkan sebagai ikan (seperti yang dilakukan Linnaeus pada awalnya). Bila ini kasusnya, kaki vestigial dari paus atau tulang paha vestigial pada ular tidak akan masuk akal secara evolusioner dan tidak akan konsisten dengan teori evolusi. Selanjutnya, maka, kita tidak akan pernah menemukan puting susu vestigial atau tulang incus vestigial pada amfibi, burung atau reptil. Tidak ada mamalia yang akan ditemukan memiliki bulu vestigial. Tidak akan ada primata yang akan ditemukan memiliki tanduk vestigial atau sayap terdegenerasi tersembunyi dibalik kulit punggungnya. Kita tidak akan menemukan anthropoda manapun yang memiliki tulang belakang vestigial. Ular dapat memiliki kaki atau tangan vestigial, namun mereka tidak akan memiliki sayap vestigial. Manusia dapat ditemukan memiliki caecum vestigial, karena kita keturunan dari mamalia herbivora, namun tidak akan pernah satupun primata dapat memiliki gizzard vestigial seperti yang ada pada burung. Mutatis mutandis ad infinitum.

7. Ada anak ayam yang berekor m