DOUBLE – SLIT DAN SINGLE SLIT


hmm menyatakan pemahaman manusia akan konsep difraksi belum sempurna sama seperti menyatakan hukum newton tentang gerak belum sempurna. konsep difraksi sudah dijabarkan dengan sangat detail, seperti halnya hukum newton tentang gerak. jadi, walau saya cenderung menghindari kata sempurna, tapi saya rasa pemahaman kita sudah sangat baik.

wah, justru dengan adanya faktor penentu, difraksi tidak boleh terjadi. manusia sudah sangat paham kalau difraksi hanya terjadi jika gelombang saling bersuperposisi. andaikata teori yang fauzul ajukan benar, maka setiap foton yang ditembakan ke celah ganda, maka foton akan ditentukan melewati celah tertentu. maka jika kita tembakan foton tunggal terus menerus, kita akan mendapati foton terkumpul di satu area. karena jika foton sudah ‘ditentukan’ untuk melewati salah satu celah, maka fenomenanya harus sama dengan percobaan celah tunggal (single-slit experiment).

ini contohnya jika menggunakan single slit dan menggunakan double slit.

nah apa yang terjadi jika foton tunggal (atau electron/proton/etc) ditembakan kedalam double slit?

nah perhatikan ketika foton yang dites semakin banyak (e), entah mengapa partikel2 yang ‘pilihannya sudah ditentukan’ ini memiliki pola difraksi jika percobaan dilakukan berulang2 kali? padahal seharusnya foton bertindak seakan2 celah yang ada hanya satu (50% dari foton menganggap celah yang ada hanya celah pertama, sisanya menganggap yang ada hanya celah kedua) sehingga harusnya pola single slit yang terbentuk.

MWI menjawab ini, dengan menjelaskan ketika foton melewati celah. universe membelah, namun dalam skala kuantum, dua universe ini masih bisa saling terkait sehingga foton universe 1 akan bersuperposisi dengan foton universe 2.
Copenhagen menjawab dengan konsep bahwa ketika foton memasuki celah, foton berada pada dua tempat sekaligus (seperti halnya konsep gabungan hidup dan mati) dan kemudian bersuperposisi dengan dirinya sendiri.
benar sekali. memang seperti itu, probability jumlah 7 lebih banyak dibanding jumlah lainnya. sehingga seharusnya sesuai dengan central limit theorem, distribusi yang diperoleh harusnya memenuhi distribusi normal.
namun seperti halnya string theory, teknologi kita masih belum memungkinkan untuk menguji hal tersebut saat ini.

hanya saja, menolak teori ini hanya berlandaskan “pokokny tidak mungkin/terlalu aneh/dll” sama seperti dengan menolak teori evolusi berdasarkan landasan2 yang serupa kan😉


Sepertinya permasalahan Double Slit hanyalah seperti masalah probabilitas pada lemparan 2 dadu, dimana probabilitas kemunculan jumlah 7 lebih banyak, diikuti jumlah 6 & 8, 5 & 9, dst yang semakin kecil. Gag ada yang aneh dalam penembakan photon satu persatu yang akhirnya menciptakan pola distribusi, yang pada akhirnya pancaran photon akan menghasilkan pencitraan terang-gelap sebagaimana pencitraan gelombang. Bukankah Gelombang Air juga terdiri dari molekul2 Air yang berbentuk partikel? Hanya saja pada kasus Double Slit, Photon2 bukan sebagai media perambat sebagaimana molekul Air, namun berjalan dalam pola gelombang (bukan garis lurus sebagaimana peluru) sehingga menciptakan Fenomena sebagaimana Fenomena Gelombang (terang-gelap).

itulah yang terjadi pada single slit experiment. keliatan kan di gambar single slit pola intensitasnya memenuhi distribusi normal. tapi yang terjadi dalam double slit experiment tidak seperti itu. secara statistik, penambahan 1 celah lagi tidak akan mempengaruhi bentuk distribusinya. melainkan, akan terbentuk 2 sebaran yang memenuhi distribusi normal.

celah pertama akan membentuk pola single slit experiment, celah kedua pun akan membentuk pola yang sama. karena celah nya sangat berdekatan, maka polanya akan menumpuk. namun kenyataannya, yang terjadi malah seperti ini:

penyebab terjadinya pola ini adalah disebabkan adanya interferensi dari kedua celah. interferensi hanya terjadi bila foton bersuperposisi dengan foton lainnya. pada teori yang diajukan fauzul, tiap foton hanya ada pada satu tempat di tiap waktu (karena di tiap waktu hanya ada single foton yang melewati celah) sehingga tidak terjadi yang namanya interferensi. jadi pertanyaan besarnya, jika bukan karena interferensi, karena apa?

copenhagen dan MWI memberikan model sehingga interferensi dapat terjadi. kedua model ini memberikan solusi atas fenomena yang ada.

Bagi saya Probabilitas penembakan “single photon” untuk bisa membentur tengah layar adalah yang PALING besar dibanding sisi2 lainnya. Karena saya gag menganggap jalannya Single Foton tersebut seperti jalannya peluru (garis lurus), namun seperti gelombang. Dengan mengikuti Pola gelombang maka Probabilitas Single Foton membentur tengah layar akan mengikuti pola perambatan gelombang (Probabilitas lebih besar) dan bila berturut2 single photon ditembakan sampai jutaan kali maka kesemuanya akan menghasilkan pencitraan terang dan gelap sebagaimana POLA gelombang


begini ceritanya.

bayangkan agan didorong sama orang. maka agan pasti terdorong sehingga bergerak. nah satu2nya hal yang bisa menghentikan agan bergerak adalah adanya penghalang. jadi setiap gaya pasti akan menggerakan benda selama tidak ada penghalang.
Nah, sekarang agan didorong dari dua arah, depan dan belakang. agan tidak bergerak, karena penghalangnya sekarang adalah badan agan sendiri. kalo badan agan terbuat dari busa, maka agan akan ‘bergerak’ ambles kedalam.

kita summarykan:

rule 1: kalo gayanya impas, baru deh bendanya diam.
rule 2: kalo gayanya gak impas, baru deh bendanya bergerak.

naah.. kita lihat gaya gravitasi. mulanya gas ‘bergerak’ karena tertarik satu sama lain. akibat tarikan ini, gas mulai memadat menjadi bola. karena masih renggang, rule 1 gak terpenuhi, jadilah rule 2. gas makin padaat hingga akhirnya terjadi reaksi fusi. begitu terjadi reaksi fusi, panas yang dihasilkan menolak tarikan gravitasi. jadi dengan demikian rule 1 beraksi.

setelah sekian lama, bahan bakar fusi habiss. efeknya? rules 1 gugur, jadilah rule 2 yang jalan. bola gas makin lamaa makin padaat sampe akhirnya larangan pauli untuk elektron berlaku. larangan pauli mencegah fermion berada pada kondisi quantum state yg sama. kondisi ini menyeimbangkan gravitasi, sehingga rule 1 berjaya. jadilah bintang katai putih

nah apa jadinya jika gas yg ngumpul banyaak banget? larangan pauli untuk elektron ga cukup kuat untuk menahan gravitasi sehingga rule 2 berlaku lagi. akibatnya elektron tertarik oleh gravitasi yang begituu besarnya sehingga bergabung dengan proton membentuk neutron. naah kondisi ini akhirnya memunculkan larangan pauli untuk neutron yang lebih kuat dibanding untuk elektron. oleh karena itu rule 1 kembali menang.

nah gimana jika gas yang terkumpul lebiih banyak lagi? akhirnya sampailah kita pada situasi ini. situasi dimana ga ada lagi sifat alam yang bisa menahan gravitasi. whether you like it or not, law of physics must prevail.. rule 1 tidak terpenuhi, sehingga rule 2 harus jalan. volume harus semakin mengecil. semakin mengecil, gravitasi semakin kuat sehingga laju pengecilan harus semakin cepat. begitu terus hingga akhirnya membentuk blackhole. inilah yang dimaksud dengan “bintang yang dimakan oleh gravitasinya sendiri”


supersimetri tidak gagal ato berhasil. konsep ini belum pernah terbukti secara lengkap karena energi yang dibutuhkan untuk membuktikannya jauuh diatas kebutuhan LHC sekarang.

sedangkan pernyataan kedua, itulah yang disebut string theory. dimana istilah ‘kekusutan’ dan ‘persilangan’ lebih baik diganti dengan istilah ‘manifestasi’ dari getaran itu sendiri. penjelasan dasaaar banget dari model ini ada di post2 awal thread ini. Namun, sama seperti konsep supersimetri, inipun sangat sulit dibuktikan karena membutuhkan konsumsi energi yang luar biasa besar.


dalam sains, tiap teori hanya diganti jika teori tersebut menjadi tidak konsisten dengan pengamatan atau hukum2 lainnya yang lebih mendasar. bukan karena teori tersebut nyaman atau tidak. teori atom dalton/rutherford/etc diganti dengan teori bohr karena teori sebelumnya gagal menjelaskan fenomena spektrum diskrit maupun fenomena blackbody radiation. Teori gravitasi newton diganti general relativity ketika teori newton gagal memprediksi orbit merkurius maupun deviasi posisi bintang ketika diamati saat gerhana. namun tidak pernah sekalipun sebuah teori diganti hanya karena dirasa “tidak nyaman”. konsep ini sejenis dengan null hypothesis dalam statistik, dimana null hypothesis hanya dapat ditolak jika ada bukti bahwa null hypothesis gagal menjelaskan sebuah fenomena.

para kreasionis berupaya memberikan alternatif jawaban tanpa menunjukan kegagalan dari teori evolusinya itu sendiri. sehingga, by default pendekatan itu sudah gagal dengan sendirinya. menolak null hypothesis (dalam hal ini teori evolusi) tanpa menunjukan bukti kegagalan hypothesis tersebut. Dalam kasus ini, para biologist hanya sanggup menagih bukti pada para kreasionis akan teori2 yang diajukan mereka karena sulit diuji konsistensinya. Namun dalam fisika.

bersikap tidak ilmiah karena tidak menunjukan terlebih dahulu kegagalan dari teori tersebut.

penjelasan akan bagaimana sebuah fenomena itu terjadi secara sebenarnya bukan merupakan pendekatan sains, oleh karena itu situasi sebenarnya ala fauzul bukanlah hal yang dicari dalam sains.

situasi sebenarnya ala sains adalah sebuah penjelasan yang konsisten dengan yang ada di alam, sanggup menjelaskan maupun memprediksi fenomena di alam. terlepas dari janggal/aneh/absurd/dst.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s