HYPERDIMENSIONAL – BRANE WORLD : HYPERSPACE (MULTIVERSE)

0

Fisika Quantum

Mulai dari sini tulisan saya akan lebih rumit untuk diikuti, saya pun menemukan kesulitan dalam menuliskannya. Kehadiran Einstein yang cemerlang dan teorinya yang memukau membangkitkan semangat seluruh fisikawan teoretis diseluruh dunia. Gagasan-gagasan baru diajukan dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada kesempatan ini saya hanya akan menyinggung yang penting-penting saja.

James Clerk Maxwell

Listrik (electricity) adalah sebuah forsa. Magnet juga febuah forsa. Orang menemukan bahwa listrik dan magnet adalah relevan, keduanya saling berpengaruh. James Clerk Maxwell berhasil menggabungkan kedua forsa tersebut menjadi sebuah forsa fundamental alam lainnya selain forsa gravitasi, yaitu forsa Electromagnetic (EM). Forsa EM dihasilkan oleh alam setiap saat, bahkan setiap partikel membawa muatan listrik yang mempengaruhi secara signifikan interaksi antar pertikel.

Maxwell mengirimkan sebuah paper kepada Einstein untuk dipublikasikan. Maxwell meyakini bahwa selain forsa gravitasi yang merambat pada dan melengkungkan ruang, forsa EM juga demikian, dan forsa EM memerlukan ruang untuk merambat. Tapi dimana? Untuk menjawab ini maka Maxwell mengusulkan sebuah dimensi ruang tambahan agar Forsa EM tersebut dapat merambat. Einstein menerima ide Maxwell ini. Diterimanya sebuah dimensi ruang tambahan adalah sebuah momentum awal manusia dalam mengkoreksi cara pandang terhadap alam. Lalu, dimana letak dimensi tambahan ini? Mengapa kita tidak melihatnya?

Ilmuan lain, Kaluza dan Klein mengusulkan bahwa dimensi extra itu sangat kecil. Bayangkan saja bila anda melihat sebuah kawat listrik dari jauh. Anda melihat kawat tersebut sangat kecil bagaikan sebuah tali yang memiliki panjang saja tanpa lebar. Namun bila kita melihat dari jarak yang sangat dekat, misalkan dari pandangan seekor semut, maka seekor semut itu dapat bergerak maju, mundur serta berputar ke kanan dan ke kiri di badan kawat listrik tersebut. Inilah dimensi extra yang tak tampak tesebut. Kaluza-Klein mengusulkan bahwa dimensi extra berukuran sangat kecil di setiap titik lokasi pada ruang. Karena terlalu kecil maka ia tak terlihat.

Einstein terinspirasi oleh forsa EM ini dan meyakini bahwa untuk mengerti alam ini secara fundamental maka forsa Gravitasi harus bisa disatukan dengan forsa EM. Sebuah penggabungan atau unification. Sejak saat itu seluruh hidupnya dihabiskan untuk menemukan sebuah rumusan tunggal yang mampu menjelaskan forsa gravitasi dan EM.

Sementara itu Neils Bohr memperkenalkan model atomnya yang diterima dengan baik, yaitu bahwa atom terdiri dari inti, inti terbentuk dari proton yang bermuatan positif dan neutron yang bermuatan netral, di sekitar inti mengorbit electron yang bermuatan negatif.

Di sinilah orang mulai berpikir pada semesta yang sangat kecil. Untuk mengerti perilaku alam semesta secara keseluruhan, maka orang harus mengerti interaksi antar partikel. Penelitian ini menghantarkan orang pada alam sub-atomic. Disinilah lahirnya fisika quantum.

Jika Teori Relativitas menjelaskan alam semesta dalam ukuran besar, maka fisika quantum menjelaskan alam semesta dalam ukuran sangat kecil.

Namun terjadi sebuah kontradiksi. Pada ukuran alam yang sangat kecil ini, gravitasi bagaikan tidak punya gigi. Maksudnya, forsa gravitasi tidak memiliki peran sama sekali dalam reaksi antar partikel. Malahan, fisikawan berhasil menemukan forsa fundamental lainnya, yaitu forsa nuklir Kuat (Strong Nuclear Force) yang merekatkan inti atom pada tempatnya, dan forsa nuklir lemah (Weak Nuclear Force) yang menyebabkan peluruhan atom atau radiasi.

Sejauh ini telah ditemukan seluruh forsa fundamental alam. Mereka adalah forsa gravitasi, forsa electromagnetic, forsa nuklir kuat dan forsa nuklir lemah. Ditinjau dari kekuatan energi-nya, maka forsa nuklir kuat adalah yang terkuat. Ini telah dibuktikan dengan dibuatnya bom atom. Peledakan bom atom adalah sebuah pelepasan energi forsa nuklir kuat yang disebabkan oleh pemisahan partikel pada inti atom. Pemecahan inti atom ini membuat luruhnya (radiasi) atom yang energi-nya (energi forsa nuklir lemah) masih dapat dideteksi hingga sekarang.

Forsa gravitasi adalah yang terlemah di antara ketiganya. Bila dibandingkan dengan forsa EM saja, maka forsa EM trilyunan kali lebih kuat. Forsa Gravitasi hanya dapat dirasakan pada benda-benda ber-massa sangat besar seperti planet dan bintang. Pada alam quantum, forsa gravitasi tidak memiliki pengaruh, karena kekuatan forsa ini terlalu kecil untuk diperhitungkan.

Sebuah dilema dan masalah serius bagi fisikawan. Unification mengalami kendala.

Pada kesempatan lain, Roger Penrose dan Stephen Hawking mendalami sebuah fenomena alam, yaitu keruntuhan bintang. Sebuah bintang dapat runtuh bila setiap partikel yang membentuknya kehilangan energi. Electron yang kehabisan energi akan jatuh ke inti atom. Ukuran atom mengkerut sangat signifikan sehingga ukuran bintang itu pun mengkerut ke ukuran yang sangat kecil. Namun demikian, forsa gravitasi tidak berubah. Singkatnya, pada ukuran yang sangat kecil ini, forsa gravitasi sangat kuat. Ruang terlengkungkan ke ukuran tak hingga.

Demikian kuatnya forsa gravitasi hingga cahaya pun tidak dapat lolos. Bila cahaya tidak dapat lolos, maka kita tidak mungkin bisa melihat bintang runtuh tersebut. Keberadaan bintang runtuh ini hanya dapat dilihat dengan memperhatikan daerah hitam gelap di langit yang memiliki gravitasi kuat. Oleh kerenanya bintang runtuh lebih sering disebut lubang hitam (black hole).


Relativitas VS Quantum 

Lubang hitam adalah sebuah momok bagi fisika saat itu. Dikala mereka melupakan forsa gravitasi karena dinilai terlalu lemah, di depan mata mereka terpampang peristiwa nyata mengenai penyatuan forsa-forsa tersebut ke dalam sebuah singularitas. Bagaimana sebuah obyek berukuran tak-hingga kecilnya menghasilkan gravitasi begitu besarnya? Bagaimana menjelaskan mekanika lubang hitam ini?

Teori Relativitas tidak berlaku di alam berukuran quantum karena pada teori ini forsa gravitasi sangat berperan dan hanya melibatkan benda-benda besar. Teori fisika quantum mampu menjelaskan alam sangat kecil ini namun ia tidak bisa melibatkan forsa gravitasi.

Kesimpulannya, fisika runtuh di lubang hitam. Benar-benar sebuah lubang hitam yang sangat gelap karena tidak ada satu pun perangkat ilmu yang mampu menjelaskannya.


Strings Theory

Agak kembali sedikit ke masa lampau, saat hampir semua fisikawan berbondong-bondong menyelidiki fisika quantum, ada sebagian kecil, mungkin boleh dikatakan, satu atau dua orang saja yang tersisa dari seluruh ilmuwan yang ada di dunia ini yang tidak mengikuti jejak rekan-rekan yang lainnya.

Saat semua orang beranggapan bahwa wujud atom dan partikel berbentuk menyerupai titik atau bola, maka sebagian kecil ilmuwan ini menemukan kemungkinan lain dari persamaan matematis yang membawa mereka pada ide liar bahwa kesalahan fisika selama ini terletak pada ‘bentuk’. Kita telah keliru memandang partikel berbentuk bola. Mereka menemukan bahwa pertikel berbentuk tali atau string.

Lalu apa implikasinya jika pertikel fundamental berbentuk string?

String berukuran sangat kecil, yaitu berjuta-juta kali lebih kecil dari quark. Untuk membayangkan ukuran string yang sangat kecil ini, bayangkanlah bila sebuah atom adalah tata surya kita, maka sebuah string berukuran sebuah pohon di bumi. String super kecil ini yang saking kecilnya dianggap hanya memiliki panjang saja (satu dimensi-ruang) bergetar dan variasi getarannya itulah yang menghasilkan apa yang kita amati sebagai partikel-partikel. Para pengusung teori string ini mengatakan bahwa string adalah satu-satu nya bahan dasar pembentuk ruang dan waktu. Yang kita amati sebagai beraneka ragam partikel itu sebenarnya adalah hasil variasi getar string-string yang sama.

Dengan demikian maka perhitungan atau persamaan matematikanya menjadi berubah sama sekali. Alam fisika quantum yang tadinya mengabaikan forsa gravitasi sekarang dapat menerima forsa gravitasi tersebut sebagai bagian dari persamaan matematisnya. Atau boleh dikatakan telah ditemukan forsa gravitasi di alam quantum. Fisika relativitas dan fisika quantum berhasil disatukan. Teori string diduga kuat sebagai teori pamungkas yang dicari, sebuah teori tunggal yang mampu menjelaskan perilaku alam semesta ini; sebuah teori segala hal.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana forsa gravitasi ditemukan dalam persamaan matematika fisika quantum? Untuk menyinggung ini, perlu kita kilas balik sedikit sekelumit sejarah panjang perkembangan teori string.

Teori string tidak terjadi dalam semalam saja. Diawali di tahun 1968, oleh seorang fisikawan muda asal Italy, Gabriele Veneziano, sekarang bekerja untuk CERN, yang mempelajari persamaan matematis yang menjelaskan forsa nuklir kuat. Ditemukannya persamaan ini membuka jalan pada penelitian forsa tersembunyi di inti atom. Kemudian penelitian menggugah ilmuwan lainnya, Leonard Suskind dari Stanford University yang melihat bahwa persamaan tersebut mengindikasikan sesuatu yang tersembunyi, sebuah partikel yang memiliki struktur internal yang bisa melendut dan meregang. Partikel ini bukan berbentuk titik atau bola, namun berbentuk string yang secara alami bergerak lentur. Temuannya ini sempat tidak mendapat tanggapan dari fisikawan lainnya.


John H. Schwarz dan Michael B. Green (Pictures from NOVA)

Adalah seorang fisikawan yang melanjutkan penelitian mengenai string ini, di tahun 1973, yaitu John H. Schwarz dari California Institute of Technology, mengemukakan bahwa jika string ini benar, maka string akan mampu menjelaskan banyak misteri alam ini. Schwarz berhasil menarik perhatian para ilmuwan dunia dan orang mulai banyak bergabung mendalami teori radikal ini.

Namun teori string mengalami kendala besar. Yaitu terdapat beberapa anomali pada perhitungan atau persamaan matematisnya. Pertama, teori string melibatkan sebuah partikel bermassa nol dan partikel tachyon, yaitu partikel yang bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya. Telah disinggung sebelumnya bahwa Teori Relativitas tidak membenarkan adanya obyek yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Teori string sekali lagi nyaris turun pamor.

Michael B. Green dari Cambridge University bergabung dengan Schwarz untuk mengkaji dan membedah persamaan matematis teori string ini lebih dalam. Di tahun 1984 Mereka berhasil meniadakan anomali tersebut. Mereka menemukan bahwa partikel aneh yang menjadi momok teori ini sebenarnya adalah “graviton” yaitu partikel untuk forsa gravitasi. Peristiwa sangat bersejarah ini dikenal sebagai salah satu yang menggemparkan dunia. Schwarz dan Green menemukan forsa gravitasi dalam persamaan mereka. Mereka berhasil gemilang meniadakan anomali.

Lebih banyak lagi orang ikut bergabung melanjutkan perjuangan Schwarz dan Green hingga kemudian sebuah kendala besar dihadapi mereka kembali, yaitu:

  1. Teori string melibatkan dimensi extra.
    Seperti yang kita kenali bersama bahwa kita hidup di alam dengan 3 dimensi-ruang yaitu panjang, lebar, dan tinggi ditambah 1 dimensi waktu menjadikan total = 4 dimensi ruang-waktu. Namun string harus bergerak di lebih dari 3 dimensi ruang itu. String harus bergerak di 9 dimensi ruang. Sehingga menurut teori string, alam yang kita tempati ini sebenarnya memiliki 10 dimensi ruang waktu.Lalu dimana ke-enam dimensi ruang lainnya? Mengapa kita tidak bisa melihat atau merasakannya? Sekali lagi Kaluza dan Klein mengajukan bahwa 6 dimensi ruang ini berukuran sangat kecil sehingga tidak bisa teramati.

    Namun kemudian orang mulai menerima kehadiran dimensi ektra ini karena memang HARUS ada dimensi extra di alam ini bagi string untuk wujud. Dimensi extra adalah sebuah temuan fenomenal.
     

  2. Terdapat 5 teori string.
    Ini merupakan masalah besar. Bagaimana sebuah teori segala hal hadir dalam 5 variasi? Setiap teori sama-sama benar namun memiliki perbedaan mendasar pada persamaan matematisnya.

Strings / M-Theory

Edward Witten (Picture from NOVA)

Barulah Pada tahun 1995, pada konvensi fisika sedunia, seorang fisikawan yang kemudian menjadi sangat terkenal, yaitu Edward Witten, dari Institute for Advance Study, mempublikasikan papernya. Edward Witten dijuluki sebagai orang tercerdas di planet bumi ini dan mendapat julukan “the true successor of Einstein”, ia berhasil menggabungkan ke-lima teori string menjadi sebuah teori tunggal yaitu M-Theory.

Witten mengemukakan bahwa kelima teori string itu sebenarnya hanyalah ragam cara melihat suatu hal yang sama. Kita bagaikan berada dalam ruangan gelap gulita dan saling meraba seekor gajah yang sama di depan kita. Sebagian meraba kepalanya, sebagian meraba kakinya, sebagian meraba belalainya dan sebagian meraba badannya, begitu Edward Witten memberikan penerangan di dalam ruangan, barulah orang menyadari bahwa sebenarnya mereka semua meraba seekor gajah yang sama.

Penerangan yang dibawa oleh Witten dalam M-Theory nya ini adalah dengan menghadirkan sebuah dimensi ruang tambahan ke dalam hitungan matematis teori string. Seluruh persamaan menjadi klop dan semuanya mejadi masuk akal. Kini alam kita diyakini oleh string/M-theory memiliki 10 dimensi ruang menjadikannya total 11 dimensi ruang-waktu.

Edward Witten tidak menyebutkan kepanjangan dari “M” itu.


Braneworlds 
M-theory mengemukakan bahwa:

  1. String merupakan tali super kecil yang memiliki panjang saja (1 dimensi) dengan kedua ujungnya terbuka (open loop).
  2. Terdapat string yang melar hinga memiliki panjang dan lebar (2-dimensi), membentuk membrane (disingkat, “brane”) atau sebuah lembaran super tipis. Kita sebut ini sebagai 2-brane. Sedangkan string 1 dimensi disebut dengan 1-brane.
  3. Kedua ujung string 1-brane harus melekat / bertumpu pada 2-brane.

Perbedaan signifikan terjadi setelah hadirnya M-Theory adalah bahwa orang mulai meninggalkan gambaran dimensi extra yang terpilin sangat kecil itu. M-Theory memberi gambaran pada kemungkinan yang berlawanan, yaitu bahwa dimensi-ruang extra itu berukuran sangat besar. Kita mungkin hidup di alam semesta 3 diemensi-ruang yang berada di dalam sebuah dimensi-ruang yang lebih besar lagi. Bahwa alam semesta kita berupa membrane 3 dimensi ruang atau 3-brane, dan alam 3-brane kita berada di dalam alam berdimensi lebih tinggi – yaitu alam 4 dimensi-ruang atau 4-brane.

Agar lebih mudah mengerti konsep membrane ini, bayangkanlah bahwa layar televisi anda adalah sebuah dunia dua dimensi. Pemain film di dalam televisi hidup di alam dengan 2 dimensi-ruang saja (hanya memiliki dimensi panjang dan lebar) mereka tidak memiliki dimensi ruang ke-tiga. Mereka tidak tau dan tidak menyadarinya. Jarak antara mata anda ke layar televisi adalah sebuah dimensi-ruang ke-tiga yang tidak dimiliki alam dalam televisi itu. Atau boleh saya dikatakan bahwa untuk menemukan dimensi extra, maka makhluk yang hidup di dimensi layar televisi harus keluar dari layar televisi tersebut.

Sampai tahap ini apakah anda sudah bisa membayangkannya? Sekarang coba bayangkan alam semesta kita adalah layar televisi tersebut. Televisi dengan 3 dimensi ruang. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu adalah dimensi ruang ke-empat yang tidak dimiliki oleh alam kita. Alam di luar alam kita adalah sebuah alam semesta yang memiliki 4 dimensi-ruang.

Sekarang bayangkan bila alam semesta dengan 4 dimensi-ruang itu adalah sebuah layar televisi. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu adalah dimensi ruang ke-lima yang tidak dimiliki oleh alam 4 dimensi-ruang.

Demikian seterusnya.

Marilah kita lanjutkan membayangkan dengan cara yang sama ke alam semesta kita.

Alam semesta kita yaitu 3-brane berada di membrane yang lebih tinggi; 4 brane. Atau boleh saya katakan alam 3-brane kita dibungkus oleh alam 4-brane. M-Theory mengatakan bahwa alam 3-brane kita memiliki kemungkinan exist berdampingan dengan alam 3-brane lainnya (parallel universe). Ada berapa banyak parallel universe? Tidak ada yang tau.

Lalu dimana dimensi 5, 6, 7, 8, 9, dan 10?
Mari kita lanjutkan lagi membayangkannya. Bila alam 3-brane dibungkus alam 4-brane, maka:
Alam 3-brane dibungkus oleh alam 4-brane (lapis 1)
Alam 4-brane dibungkus oleh alam 5-brane (lapis 2)
Alam 5-brane dibungkus oleh alam 6-brane (lapis 3)
Alam 6-brane dibungkus oleh alam 7-brane (lapis 4)
Alam 7-brane dibungkus oleh alam 8-brane (lapis 5)
Alam 8-brane dibungkus oleh alam 9-brane (lapis 6)
Alam 9-brane dibungkus oleh alam 10-brane (lapis 7)

Alam semesta kita dibungkus oleh alam lainnya yang berdimensi-ruang lebih tinggi. Dan di setiap membrane terdapat parallel universe.


String terbuka (opened-loop string) yang kedua ujungnya tertambat pada membrane. (Picture from NOVA)


Graviton

M-Theory diterima luas sebagai teori elegan dengan keindahan matematika tingkat tinggi. Inilah sebuah wujud pencapaian peradaban manusia terkini.Untuk melengkapi pemaparan saya, saya akan singgung sedikit lagi kelanjutan atau perkembangan dari teori ini.

String tertutup (closed-loop string) (Picture from NOVA)
String dipercaya memiliki bentuk open-loop atau kedua ujungnya terbuka dan menumpu pada membrane lain. Namun diyakini ada pula string dengan ujungya saling bertautan (besambung) sehingga membentuk closed-loop. Dengan ujung yang tidak bebas ini maka string jenis ini tidak bisa bertumpu pada membrane. Jenis string seperti ini bebas melayang ke ruang mana saja dan menyebrang ke membrane lain. String dengan closed-loop ini adalah Graviton.

Masih ingat forsa gravitasi yang dianggap paling lemah diantara forsa yang lainnya? Dengan sifat graviton yang bebas itu maka forsa gravitasi sesungguhnya sangat kuat, bahkan mungkin sama kuatnya dengan forsa Electromagnetic. Ia tampak lemah karena sebagian kekuatan forsa gravitasi mampu menyebrang ke brane lainnya dengan bebas.

Graviton adalah satu-satunya partikel saat ini yang diyakini bebas bergerak menyebrang ke membrane lainnya. Forsa lainnya tidak bisa meninggalkan suatu membrane. Sehingga tidak mungkin kita bisa melihat alam brane lain atau parallel universe karena cahaya tidak dapat keluar dari membrane. Forsa nuklir kuat, forsa nuklir lemah, Electromagnetic dan cahaya terperangkap di dalam sebuah membrane.

Satu hal yang menjadi perhatian dunia adalah membuktikan keberadaan string melalui percobaan laboratorium. String adalah teori elegan yang belum terbukti melalui experimen. Namun dengan syarat yang ditentukan oleh teori ini sendiri, terbuka peluang untuk membuktikannya dan upaya pembuktian ini menjadi prioritas utama. Antara lain adalah sedang berjalannya usaha bersama antara Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan California Intitute of Technology (CIT) dan didanai oleh The National Science Foundation membangun sebuah Observatory raksasa yang bukan berbasis cahaya maupun radio, melainkan berbasis forsa gravitasi. Harapannya adalah terdeteksinya graviton yang muncul semerta-merta membawa signature dari alam semesta membrane lain. Wahana ini dinamakan Laser Interferometer Gravitational Wave Observatory (LIGO). Juga direncanakan untuk dibangun Versi luar angaksa dari LIGO, adalah Laser Interferometer Space Antenna (LISA).

Ilustrasi Graviton bergerak meninggalkan membrane (picture source: NOVA)

Usaha lainnya sedang dilakukan Fermilab, sebuah laboratorium di Illinois yang memiliki atom smasher, yaitu sebuah Akselerator Partikel yang berfungsi untuk mempercepat inti atom hydrogen dalam suatu lintasan sepanjang 4 mil untuk kemudian ditabrakkan dengan inti atom Hydrogen lain ujung lintasan. Inti atom yang ditabrakkan akan terpecah dan menghasilkan siraman partikel-partikel yang lebih kecil. Sebelum M-Theory, ilmuwan hanya berusaha mengindentifikasi siraman partikel-partikel baru tersebut, namun kali ini mereka berusaha mendeteksi partikel graviton yang muncul saat terjadi tabrakan. Namun graviton akan muncul hanya sekejap karena graviton yang berdiri sendiri akan langsung menyeberang ke membrane lain. Graviton yang muncul dan hilang hanya dalam sekejap ini tidak akan memberi kesempatan pengamat untuk mendeteksinya. Untuk mengatasi ini maka pendeteksian graviton ditandai dengan absen-nya partikel tersebut sesaat setelah tabrakan.


Fermilab (Picture source: NOVA)

Hal serupa akan disusul oleh sebuah atom smasher raksasa yang sedang dalam tahap pembangunan yang memiliki kekuatan 7 kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki Fermilab. Atom smasher dan Akselerator Partikel raksasa ini adalah milik CERN, Swiss.

Large Hadron Collider (LHC) milik CERN, akselerator partikel terbesar di dunia
(Picture source: NOVA)Jutaan dollar telah dikeluarkan untuk pembangunan alat-alat raksasa tersebut dan mereka saling berlomba sebagai yang pertama kali menemukan graviton. Jika graviton ditemukan, maka teori string kukuh dan benar dengan seluruh impllikasinya; braneworlds yang meggambarkan alam semesta kita ini berlapis dengan 11 dimensi ruang-waktu adalah benar. Dan alam semesta ini bisa terjelaskan dengan sebuah teori tunggal, “Theory of Everything”.


Membranes (Picture from NOVA)


Zero-Brane

Perkembangan lain dari String/M-Theory adalah munculnya sekelompok ilmuwan yang menemukan kejanggalan atas statement bahwa string adalah satu-satunya ingredient atau bahan dasar pembentuk ruang dan waktu. Pertanyaan mereka adalah, jika string perlu ruang dan waktu untuk bergetar dan bergerak, bagaiman bisa mereka dinobati sebagai bahan dasar pembentuk ruang-waktu?

Jikapun harus ada bahan dasar yang paling fundamental yang membentuk ruang-waktu, maka entity ini haruslah tidak terikat oleh ruang-waktu, atau space-less and time-less entity . Entity semacam ini tidak mungkin berbentuk string, melainkan sebuah titik tanpa dimensi atau berdimensi nol; Zero-Brane Entity. Usulan ini patut mendapat perhatian karena usulan ini meng-klaim bahwa string bukanlah bahan fundamental pembentuk ruang waktu.

Zero-Brane yang berbentuk titik tanpa dimensi ini haruslah teratur menandai setiap titik pada ruang namun tidak terikat oleh ruang. Titik-titik teratur bagai grid. Teori ini dikenal sebagai Matrix Theory. “M” sebagai “Matrix” dari M-theory.

HOLOGRAPHIC UNIVERSE

0

Leonard Susskind menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya pada properti dari Black Hole yang membawanya kepada ide dimana seluruh alam semesta memiliki kemiripan dengan Black Hole. Susskind menuangkan kisah perdebatannya ini ke dalam sebuah buku yang ia beri judul :

“The Black Hole War: My Battle with Stephen Hawking to Make the World Safe for Quantum Mechanics”


Information is indestructible

Prinsip awal untuk memahami teori ini adalah dengan mengetahui hukum penting fisika mengenai informasi; bahwa informasi tidak bisa musnah. Informasi tidak bisa dihilangkan, tidak bisa dihapus. Informasi akan ada terus sepanjang masa. Informasi ini berbentuk bit. Seperti pada ilmu komputer, satuan informasi terkecil (yaitu data) adalah bit. Pada alam ini, informasi pun tersimpan dalam bit. Satu bit ini diwakili oleh sebuah partikel fundamental, misalkan photon atau partikel fundamental lain.

Informasi seperti apakah yang kita bicarakan ini? Semuanya. Misal sebuah pensil, ada jutaan informasi yang tersimpan dalam pensil ini, mulai dari yang paling sederhana seperti ukurannya; panjang, lebar, tinggi, kemudian warna, berat, sampai ke yang lebih dalam seperti jenis kayu, karbon, jenis cat yang digunakan, suhu, kandungan air, usia, hingga sampai ke molekul dan atom yang menyusunnya, arah dan kecepatan partikel, dan lain sebagainya. Semua itu adalah informasi yang tersimpan di dalam pensil, dan yang dapat digunakan untuk menyusun pensil itu kembali jika dihancurkan. Informasi-informasi tersebut tersimpan dalam satuan bit.

Bit informasi ini mempengaruhi suhu. Semakin banyak informasi yang bergerak, semakin tinggi suhunya.


Entropy

Saya sudah pernah singgung mengenai entropi di tulisan-tulisan saya sebelumnya. Ada baiknya saya singgung sedikit di sini. Entropi adalah tingkat ketidakteraturan suatu sistem. Hukum entropi mengatakan bahwa alam ini bergerak dari kondisi teratur ke tidak-teratur. Dari order to disorder. Entropi berlaku dimana saja di alam semesta ini. Contoh mudahnya, es dari kondisi teratur mencair menjadi air yang tidak teratur. Entropi berhubungan langsung dengan suhu. Semakin tinggi entropi (tingkat ketidakteraturan) suatu sistem, semakin tinggi pula suhunya.

Jika masih kurang paham mengenai entropi ini, silahkan lakukan pencarian di internet mengenai entropi yang lebih lengkap.


Black Hole

Black Hole atau lubang hitam adalah bintang yang runtuh. Sebuah bintang yang jika sudah kehabisan energi, maka setiap atomnya akan mulai mengkerut, yaitu electron pada orbit atom kehabisan energi dan jatuh ke inti atom, sehingga ukuran atom mengecil. Ini bagaikan meniadakan ruang pada setiap atom penyusun bintang itu. Massa bintang tidak berubah, namun ukurannya berubah drastis. Gravitasi pada bintang runtuh ini sangat kuat bahkan cahaya pun tidak dapat lolos. Jika cahaya saja tidak dapat lolos, maka tidak ada satu obyek pun di alam semesta ini yang dapat lolos. Semua benda yang melintas akan tersedot ke dalam lubang hitam ini yang berpusat pada singularity.

Kekuatan gravitasi lubang hitam berkurang pada jarak tertentu dari pusat singularitas. “Jarak aman” ini membentuk sebuah wilayah atau tapal batas yang disebut sebagai event horizon(horison peristiwa). Di event horizon ini cahaya atau photon masih cukup kuat untuk tidak tersedot oleh gravitasi black hole, namun tidak cukup kuat untuk menjauh darinya, sehingga photon hanya melayang-melayang di event horizon. Jika anda pernah bertanya-tanya apakah photon bisa berhenti bergerak (karena ia tidak memiliki massa diam), maka jawabannya adalah ya, ia bisa berhenti bergerak, di event horizon.


Black Hole and Entropy

Bisa dibayangkan bahwa black hole berbentuk seperti bola berwarna hitam. Namun oleh karena tidak ada yang dapat lolos dari dalam black hole, maka kita tidak bisa mengetahui interior dari black hole itu. Kita hanya bisa mengukur permukaannya saja, sebatas event horizon. Seorang fisikawan bernama Jacob Bekenstein, mengatakan bahwa black hole memiliki entropi. Ini artinya black hole memiliki suhu, dan black hole memancarkan radiasi (yang dinamakan Hawking radiation). Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah bahwa volume black hole berbanding lurus dengan luas permukaanblack hole tesebut. Atau lebih mudahnya adalah bahwa volume black hole adalah sama dengan luas permukaannya.

Bagaimana mungkin Volume atau isi dari suatu obyek yang terbentuk dari 3 dimensi-ruang bisa sama dengan Luasnya (2 dimensi ruang)? Terdengar aneh? tetapi demikianlah kenyataannya. Untuk memahami hal ini kita harus mengetahui dulu apa itu 2D dan 3D.


2D vs 3D

Untuk memahami konsep 2 dimensi-ruang dan bagaimana hubungannya dengan black hole di atas, saya akan mencoba merangkum (dari video di atas). Dalam sebuah konstruksi obyek 2 dimensi, kita memerlukan dimensi panjang dan dimensi lebar. Sehingga membentu selembar obyek 2 dimensi. Unit-unit terkecil pada selembar obyek 2 dimensi dinamakan Pixel. Satu unit pixel terkecil sama dengan satu unit planck, satu unit pixelterkecil ini dapat diisi oleh sebuah partikel fundamental. Di setiap unit pixel yang ditempati 1 buah partikel fundamental inilah bit – kepingan terkecil informasi tersimpan.

Untuk sebuah konstruksi obyek 3 dimensi-ruang. Kita memerlukan panjang, lebar, dan tinggi. Unit terkecil dari kubus 3 dimensi dinamakan Voxel (vo, untuk volume).
 

Information + Black Hole

Apa yang terjadi jika sebuah benda dijatuhkan ke dalam black hole? Sebagian berkata bahwa benda tersebut hancur dikarenakan permukaan black hole yang sangat panas. Ada yang berpendapat, jika pun benda tersebut mampu menahan panasnya suhu permukaan black hole, benda tersebut akan hancur ketika masuk ke dalam interior black hole yang berupa singularitas. Ada juga yang berpendapat bahwa benda tersebut tidak hancur di dalamblack hole.

Yang terjadi adalah seperti ini:
Benda tersebut akan hancur dan selamat secara bersamaan. Ini adalah sifat mekanika quantum, benda tersebut akan berada pada dua kondisi sebelum ditentukanya kondisi mana yang sesungguhnya terjadi. Ingat percobaan pikiran kucing Schrodinger? Jika anda kebingungan akan hal ini, mungkin ada baiknya mencari-cari artikel mengenai mekanika quantum khususnya percobaan kucing Schrodinger.

Kondisi pertama adalah, benda tesebut akan hancur di permukaan black hole, namun informasi yang dikandungnya akan tetap ada. Informasi tersebut dibawa oleh partikel-partikel fundamental yang membentuk benda tersebut. Partikel-pertikel itu tidak dapat hancur dan senantiasa ada, menghuni permukaan black hole. Kondisi kedua, yang juga terjadi secara bersamaan adalah benda tersebut selamat masuk ke dalam black hole, hal ini karena informasi yang benda yang tersimpan pada permukaan black hole terproyeksikan ke dalam interior black hole.

Benda yang jatuh – yang berwujud 3 dimensi itu – informasinya akan tersimpan pada medium 2 dimensi (permukaan black hole). 3D menjadi 2D. Untuk dapat memahaminya dengan lebih baik, kita sudah familiar dengan pencitraan obyek/gambar dari 2D menjadi 3D, yaitu pada hologram. Hologram adalah teknologi yang digunakan untuk merubah 2D menjadi 3D. Merubah Pixel menjadi Voxel.

Contoh yang paling sering anda lihat dan dapat kita gunakan untuk memahami konsep hologram di sini adalah seperti gambar di bawah ini;

Selembar hologram adalah obyek 2 dimensi dengan gambar acak, seperti gambar di atas yang tidak dapat kita mengerti, acak dan chaos, karena begitu bangyak informasi tersimpan padanya – pada setiap pixel pada lembar hologram itu yang berukuran sangat kecil. Lalu untuk mengerti apa yang diwujudkan oleh hologram itu adalah dengan cara memproyeksikan data tersebut ke dalam 3 dimensi ruang, seperti yang diilustrasikan pada  gambar di bawah ini.

Di atas adalah penggambaran atau ilustrasi bagaimana data 2D diproyeksikan menjadi obyek 3D. dari pixel ke voxel.

Kembali pada nasib benda yang jatuh ke dalam black hole itu, benda tersebut juga akan terproyeksikan kembali di dalam interior black hole sebagai obyek 3D seperti semula, dari informasi 2D yang ada di permukaan black hole. Namun oleh karena tidak ada satu instrumen pun yang mampu mengobservasi nasib benda tersebut di dalam blak hole, maka kita tidak akan pernah tau apakah hal ini benar.

Kita lupakan sejenak benda yang ada di dalam black hole dan nasibnya yang kurang beruntung itu. Mari kita lebih memfokuskan bahasan kita pada informasi yang tersimpan pada permukaan black hole. Informasi yang tersimpan pada permukaan black hole tidak akan hilang dan jika dikumpulkan, dapat digunakan untuk membangun kembali benda yang tadi hancur tersebut. 2D menjadi 3D. Pixel menjadi Voxel.

Jika anda sedang berada di dalam sebuah ruangan tertutup, maka sesungguhnya, seluruh obyek yang ada di dalam ruangan itu termasuk anda sendiri dapat diketahui hanya dengan mengambil informasi yang ada pada dinding ruangan. Demikian perumpamaan mudahnya.


Our Universe is a Hologram?

Menurut String/M-Theory, dan juga Quantum Mechanics, kedua cabang ilmu fisika teoretis ini bermuara pada kesimpulan yang sama dimana alam semesta kita tidak sendirian. Ada alam semesta lain di luar alam semesta kita. Dimanakah batas alam semesta? Alam semesta adalah alam yang terhitung/ter-observasi/terjangkau oleh ilmu pengetahuan. Jika cahaya (photon) adalah batas kecepatan tertinggi di alam ini – yang sekaligus juga boleh kita katakan sebagai batas ilmu pengetahuan, maka batas alam semesta ditentukan oleh sejauh apa cahaya dapat mencapainya. Jika cahaya tidak dapat mencapainya maka wilayah tersebut tak terjangkau (un-observable universe), Itulah tapal batas alam semesta, atau disebut “Cosmic Horizon“.

Namun, oleh karena tapal batas ini ditentukan oleh kemampuan partikel fundamental untuk meraihnya, maka Cosmic Horizon ini boleh jadi adalah membrane atau brane (pada M-Theory, baca tulisan saya “Braneworlds“). Alam semesta kita berada dalam sebuah membrane. Dan ada banyak membrane lain di luar membrane alam semesta kita. Setiap membrane bisa juga berisi sebuah alam semesta yang mirip dengan alam semesta kita, atau berbeda sama sekali. Membrane-membrane itu bisa jadi sangat dekat dengan kita, tetapi karena tidak ada partikel yang dapat keluar dari membrane ini, maka membrane tetangga itu tidak dapat kita raih atau diketahui keberadaannya.

Anda bisa membayangkan, jika alam semesta kita yang di dalam sebuah membrane ini di -‘lihat’ oleh pengamat di luar membrane (sang pengamat berada di membrane yang membungkus membrane kita, yaitu yang berdimensi-ruang lebih tinggi), maka ia akan mampu mengetahui isi alam semesta kita, dari partikel terkecil hingga obyek terbesar, hanya dengan mengambil informasi yang tersimpan pada dinding membrane kita ini, pada cosmic horizon. Sama dengan sifat black hole yang kita bicarakan di atas, bahwa seluruh informasi isi black hole adalah sama dengan luasan black hole itu sendiri. Dan oleh karena mekanika atau fisika di dalam dan di luar black hole adalah sama, maka, alam semesta kita yang berdimensi ruang tiga ini, disalinkan pada selembar informasi berdimensi-ruang dua di cosmic horizon. Atau keberadaan kita dan seluruh ini alam semesta kita ini adalah dari selembar informasi 2 dimensi-ruang yang diproyeksikan ke wujud 3 dimensi-ruang.

Sampailah kita pada pertanyaan besar. Jika apa yang dianalisa dan dihitung oleh Leonard Susskind (melalui debat sengit – “war” -nya dengan Stephen Hawking) adalah benar, maka sangatlah mungkin bahwa seluruh isi alam semesta ini adalah sebuah proyeksi hologram dari sebuah permukaan yang luas yang membungkus alam semesta ini – cosmic horizon. We live in a Holographic Universe?

“The world is a pixelated world, not a voxelated world.” (Leonard Susskind)

===========================================
Leonard Susskind. Awalnya tuh bermula gara2 si Hawking ngebuat statement bahwa semua informasi yang masuk ke sebuah black hole itu pada akhirnya akan musnah.. Nah si Susskind gak seneng sama ide-nya, karena secara gak langsung statement si Hawking itu menunjukan bahwa salah satu hukum Quantum Mechanics, i.e. hukum kekekalan informasi, itu salah. Dia pada awalnya bukan ahli black hole, cuman gara2 tertantang sama si Hawking, dia jadi menekunin fisika-nya black hole. Nah setelah dia teliti2 dengan seksama, akhirnya dia mencapai kesimpulan bahwa informasi yang ditelan black hole itu gak bakal ilang dan di-publish lah paper dia di jurnal. Setelah beberapa lama, si Hawking buat statement bahwa dia ternyata memang salah, dan si Susskind lah yang bener.

Informasi yang masuk ke black hole emang akan tersimpan di dalam event horizon dari si black hole tsb, tapi bukan itu yang dipermasalahkan oleh Susskind. Menurut si Hawking, black hole itu akan terevaporasi sejalan dengan bertambah umurnya, melalui radiasi (Hawking’s Radiation). Sampe pada saatnya, si black hole akan lenyap/habis terevaporasi dari alam semesta ini. Trus kemana semua informasi yang pernah masuk ke dalam black hole tsb? Meenurut Hawking, semua informasinya ilang, dan ini yang ditentang oleh si Susskind. Lalu sebenernya kemana semua informasi yang masuk ke dalam black hole tsb? Karena gw lupa2 inget solusi-nya seharusnya bagaimana, coba baca ini aja: http://en.wikipedia.org/wiki/Black_h…mation_paradox

Nah dari penelurusan Susskind, ternyata dia menemukan juga bahwa, cmiiw, black hole itu pada dasarnya mirip dengan objek dua dimensi, kalo dilihat dari sisi volume-nya.

NIETZSCHE – SANG BAYI (UBERMENSCH)

1

Sang Bayi Yang Bermain

“Solusi” atas Modernitas (Sains) menurut Nietzsche

 

“Jangan-jangan yang namanya disiplin roh saintifik itu

memang dimulai dari pelarangan-diri atas segala bentuk keyakinan?”[1]

(Nietzsche, La Gaya Scienza (GS), Hal. 344)


“Modern”

Itulah nama yang menandai zaman kita dewasa ini.

Jika Shakespeare ada saat ini dan di sini, saya membayangkan bahwa ia akan bertanya,

“Apalah arti sebuah nama?[2] Apa artinya ‘modern’? Masihkah memiliki makna?”

Kata “modern” berasal dari kata Latin ‘moderna’, yang berarti ‘sekarang’, ‘baru’, atau ‘saat ini’. Jika kita mendasari pemahaman kita atas dasar pengertian tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa manusia senantiasa hidup dalam zaman “modern”, sejauh “kekinian” menjadi kesadarannya. Menurut para ahli, “kelahiran” zaman modern di Eropa itu sekitar tahun 1500. Lalu, “Apakah sebelum tahun 1500, manusia belum hidup di masa ‘kini’?” Tentunya TIDAK. Hal ini hanya ingin menunjukkan bahwa “kesadaran manusia akan ‘kekinian’ muncul di banyak tempat, khususnya di Eropa pada zaman itu (1500-an)”. Maka, “modern(itas)” itu pertama-tama bukan hanya menunjuk pada periode, melainkan juga ingin menyatakan “kesadaran” manusia, yang terkait juga dengan “kebaruan” dan “kekinian”. Maka, tak heran jika “modernitas” memiliki kata kunci, seperti perubahan, kemajuan, dan pertumbuhan. Maka seringkali, “modernitas” lebih didekatkan pada pemahaman umum mengenai tumbuhnya sains dan teknologi mutakhir-terbaru, di mana peran rasio (akal budi) begitu diagung-agungkan.[3]

Dalam makalah ini, penulis akan lebih berbicara mengenai (1) “modernitas”; dan (2) memfokuskan diri pada “sains”; lalu (3) “membaca”-nya dalam kacamata Nietzsche. Sebelum masuk pada inti pembahasan, saya akan memaparkan secara ringkas “Gaya Filsafat Nietzsche”, yang menjadi pintu masuk pandangannya terhadap “modernitas”.


II. Genealogi : Gaya Filsafat Nietzsche[4]

Nietzsche seringkali disalah mengerti karena ia menolak gaya berpikir sistematis. Ia lebih memilih aforisme[5] sebagai gaya penulisan (pemikiran)-nya. Ia memang memilih untuk tidak dimengerti ketika pemikir-pemikir lain berusaha keras untuk dimengerti. Baginya, “Semua pemikir yang dalam lebih takut dipahami daripada disalahpahami” (Melampaui Baik dan Buruk, paragraph 290).[6]

Meskipun Nietzsche menolak gaya berpikir sistematis, namun sebenarnya ada satu pola (metode) yang selalu berulang dalam tulisan (pemikiran)-nya. Metode itu adalah “Genealogi”. Itulah kata yang dapat merangkum metode filosofis Nietzsche. Genealogi, bagi Nietzsche, bukanlah sebuah teori mengenai “asal-usul” dan juga bukan sebuah ilmu yang berusaha mencari “logika dasar”. Melainkan, ia lebih mendekatkan diri pada “Metode Psikologis”[7] dan menempatkan dirinya sebagai seorang fisio-psikolog[8]. Pertanyaan inti yang ingin diajukannya adalah “Apa yang dikehendaki seseorang ketika ia menghendaki sesuatu?”. Dalam arti itulah Genealogi dipahami, sebuah metode yang digunakan Nietzsche untuk mencari “apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh kehendak”.

Sebagai seorang “fisio-psikologisi pemikiran filosofis, isi doktrin agama atau anti-agama, metode saintifik, ideologi, dan berbagai macam pola pemikiran lainnya, ia perlakukan sebagai sebuah simtom yang ingin didiagnosis lebih lanjut. Diagnosis itu sendiri akan menunjukkan analisis mengenai vitalitas penghendakan manusia (kuat atau lemah). Lalu dari situ, Nietzsche akan membawa kita untuk sampai pada tipologi subyek–yang–menghendaki: dekaden (lemah, menurun) atauasenden (kuat, menaik). Proyek besar pemikiran Nietzsche, yang “mencari kehendak di balik kehendak” inilah, yang selalu membawanya untuk mempertanyakan dan mengkritisi setiap hal.

Nietzsche selalu berusaha menguraikan segala macam bentuk fixed idea. Baginya, segala bentuk pemikiran yang ingin mencapai yang-akhir, final, dan fix adalah sebuah simtom yang patut didiagnosis (salah satunya adalah sains modern). Sebagai fisio-psikolog, Nietzsche membawa simtom yang didiagnosisnya pada “kebertubuhan”[9]—bagaimana mekanisme penghendakan si pemikir bekerja. Nietzsche, tidak memperdulikan isi atau ajaran pokok suatu pemikiran (rasional), melainkan mencari “Mengapa pemikiran itu dikehendaki dibandingkan pemikiran lainnya?” Pertimbangan ini akan sampai pada yang “amoral” (ekstra-moral), yang lepas dari kategori biner moral klasik (baik-buruk). Bagi Nietzsche, kebaikan atau keburukan ideal itu tidak ada. Yang ada secara real adalah kehidupan apa-adanya (kaotis dan plural). Melalui analisis ini, Nietzsche sampai pada uraian mengenai kebutuhan untuk percaya.

Secara umum, Nietzsche ingin menyatakan bahwa untuk percaya kita membutuhkan sesuatu, yaitu kebutuhan untuk percaya itu sendiri. Kebutuhan inilah yang menjadi dasar kokoh (elemen-penstabil) yang memberi sandaran pada sebuah kepercayaan atau keyakinan yang dipeluk. Secara sederhana, Metode Genealogi Filosofis Nietzsche dapat dipaparkan, sebagai berikut :

Metafisika – Moral – Psikologi

1. [Metafisika] Pertama-tama, Nietzsche akan melihat apa yang menjadi isi keyakinan (idea fix) seseorang mengenai sesuatu (misalnya: konsep tuhan,being, kebenaran, dlsb.).

2. [Moral] Kemudian, Nietzsche akan mengkaji sistem penilaian atas nilai-nilai (idea fix) yang diyakini itu, terlepas dari penilaian baik atau burukbenar atausalah. Pertanyaannya, “Mengapa seseorang dapat meyakini suatu Kebenaran atau Kebaikan (sebuah idea fix) sebagai benar-benar Kebenaran dan Kebaikan bagi dirinya?”

3. [Psikologi] Pada akhirnya, Nietzsche akan menelisik lebih dalam pada kondisi-eksistensi si penghendak. Penelitian pada tahap ini berujung pada pertanyaan,

 Ada apa sebenarnya dengan si penghendak nilai-nilai (idea fix) tersebutIa itu asenden atau dekaden?”

Di balik “Metafisika” (Idea Fix), ada “Moral” tertentu; di balik “Moral” itu, ada “Psikologi” tertentu. 


III.  Sains : “Sebuah Agama Baru”[10]

Bagi Nietzsche, manusia selalu membutuhkan “sesuatu untuk dipercaya”. Perwujudan dari kebutuhan akan “sesuatu untuk dipercaya” itu tampak dari pegangan-pegangan hidup manusia; baik itu agama (konsep tuhan), metafisika (konsep esensi), ideologi politik (demokrasi, komunis), dan juga tentunya sains (obyektivitas bukti sebagai kebenaran-akhir). Manusia tidak ingin selalu terombang-ambing oleh ketidakjelasan, maka sesuatu yang dapat diyakini dan dianggap sebagai benar adalah sesuatu yang patut diraih. Pencarian akan yang-akhir (idea fix) itulah yang menjadi pusat perhatian manusia pada setiap zaman. Manifestasi idea fix (yang-akhir) itu tampak jelas dalam sains. Sains dianggap sebagai “penyelamat” peradaban manusia. Sains diagung-agungkan sebagai “puncak” keberhasilan manusia. Sains pada akhirnya dipandang dapat memberi “landasan kokoh” bagi “iman-kepercayaan” manusia dalam memandang hidup ini—“Iman-kepercayaan” yang menyodori kebenaran fix, final, universal, rasional, dan tentunya ilmiah. Pada saat itulah, sains menjadi sebuah agama baru.

Melihat sains yang begitu “kudus”, Nietzsche pun mengajukan sebuah pertanyaan bagi manusia modern yang begitu “percaya” pada sains, “Dalam arti apa kita masih saleh?”. Apakah “kesalehan” kita terletak ketika kita mematuhi prosedur ilmiah yang ketat dan keras? Apakah “kesalehan” kita ditentukan dengan seberapa jauh kita berusaha mencapai obyektivitas, yang menuntut meninggalkan segala praduga psikologis yang subyektif, termasuk keyakinan agama dan ideologi kita? Dan, apakah “kesalehan” kita juga terletak pada klaim netralitas yang menawarkan solusi universal bagi siapa saja dan di mana saja?

Para saintis akan mengafirmasi seluruh pertanyaan di atas dengan mengatakan bahwa “kekudusan” sains terletak di sana. Dan, tepat di sanalah Nietzsche menunjukkan bahwa sains pun disetir oleh sebuah kepercayaan, yaitu kehendak untuk mendominasi. Wujudnya tampak dalam  :

(1) prosedur ilmiah yang ketat dan keras; 

(2) obyektivitas; dan juga 

(3) klaim netralitas yang menawarkan solusi universal. Alih-alih ingin meninggalkan keyakinan agama dan segala bentuk keyakinan psikologis-subyektif lainnya, sains di sisi lain justru membangun sebuah keyakinan (agama) barudengan “dogma”-nya sendiri, yaitu prosedur ilmiah, obyektivitas, netralitas, dan juga universalitas. Di balik roh saintifik ini, sebenarnya tetap ada sebuah moral tertentu yang menjadi perangkat peradilan tersendiri, yang dinamai benar atau salah. Dengan begitu, di atas “meja altar”-nya, sains mengorbankan keyakinan apa pun yang tidak lolos sensornya.

Menurut Nietzsche, di balik ambisi sains ini ada sebuah kehendak absolut akan kebenaran. Kemudian Nietzsche melanjutkan investigasinya dengan bertanya,

Sebenarnya ada apa di balik kehendak mati-matian akan kebenaran ini?

Bukannya berbicara mengenai sesuatu yang benar atau salah, melainkan kehendak akan kebenaran lebih menunjukkan manifestasi kebutuhan akan pegangan, akan sandaran. Kaum saintifik membutuhkan sesuatu untuk bertopang, dan hal itu terwujud dalam kebenaran yang mereka kehendaki secara mati-matian.

“Mengapa mereka seperti itu?”

Pisau genealogis Nietzsche akan langsung melihat bahwa ada sesuatu yang salah dalam kehendak mereka. Kehendak mereka lemah, loyo, bahkan cacat, dan untuk itulah mereka membutuhkan sandaran eksternal (sains) agar mereka tetap bisa hidup—tanpa sains, hidup bagi mereka tak bermakna lagi. Dengan kata lain, mereka ini adalah orang-orang yang dekaden. Sedangkan sebaliknya, orang yang memiliki kehendak yang kuat dan utuh, tidak akan takut berhadapan dengan realitas yang campur aduk, chaos, dan tidak menentu. Mereka tidak takut menghadapi realitas yang memuat kebenaran sekaligus ketidakbenaran. Kemampuan mereka itu mengutuhkan dirinya sendiri secara internal berhadapan dengan kekompleksitasan realitas yang ada di hadapannya. Mereka inilah yang bagi Nietzsche dipandang sebagai kaum asenden. Mereka berani hidup apa-adanya. Mereka berani bermain di antara kedalaman danpermukaan. Mereka beranai berkata ya dan tidak sekaligus. Merekalah yang merayakan kehidupan!


IV.  Bayi Yang Bermain : Sebuah Solusi atas Modernitas (Sains)[11]

Mengatasi dekadensi manusia modern yang selalu membutuhkan pegangan (khususnya, dalam hal sains), Nietzsche telah menulis sebuah “solusi” yang ditawarkan untuk para pembacanya. “Solusi” ini  digambarkan dengan puitis melalui gambaran “Tiga Metamorfosis”.

“Tiga Metamorfosis” ini dapat menggambarkan diri manusia berkaitan dengan cara berpikir, hadir, tumbuh, berkembang, atau juga sebaliknya, stagnan. Gambaran ini terdapat dalam buku Zarathustra. Gambaran “Tiga Metamorfosis” ini, pada akhirnya dapat menunjukkan sebuah “solusi” bagi kita ketika berhadapan dengan sains dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam teks tersebut, digambarkan ada 3 metamorfosis roh, yaitu (1) Unta; (2) Singa; dan (3) Bayi.

(1) Unta. Unta merupakan sebuah gambaran yang menunjukkan sikap “iya secara naïf”. Terhadap apa saja yang datang padanya, ia menerimanya. Sakit, sebagai salah satu dari banyak segi kehidupan, diiyai secara naïf oleh roh berwujud Unta.

Iya, datanglah hai rasa sakit, aku menghendakimu, aku justru membutuhkanmu lebih banyak lagi. Aku butuh cobaan, aku butuh dicobai, sebab tanpa cobaan akan jadi apa aku ini nantinya?

Roh Unta di sini selalu membutuhkan beban eksternal agar ia memiliki pegangan hidup. Roh Unta bukanlah roh yang sadis (menyakiti orang lain). Melainkan sebaliknya, ia justru cenderung masokhis (menikmati rasa sakit, memuja rasa sakit sebagai sesuatu yang baik dalam dirinya sendiri). Kesembuhan, kelepasan dari beban rasa sakit justru membuat ia resah, tidak nyaman, dan tidak berguna. Sikapiya naïf ini tampak halus, bagus, suci, namun bila terus dijalankan akan berakibat menghancurkan diri si Unta sendiri. Sikap Roh Unta ini pun dapat kita lihat dalam diri para saintis. Mereka menerima (a) prosedur ilmiah yang ketat dan keras; (b)obyektivitas; dan juga (c) klaim netralitas yang menawarkan solusi universal, dengan sebuah sikap iya-naif. Mereka menerima begitu saja “prasyarat ilmiah” dalam sains, walaupun mereka seringkali merasa terbebani oleh itu semua. Namun, bagi mereka (para saintis), beban itu adalah beban yang membawa rahmat, karena mereka yakin melalui berbagai macam “prasyarat ilmiah” itu, mereka akan digiring pada kebenaran.Kehendak mereka untuk mencapai kebenaran (sandaran hidup), mereka rasakan dapat dipenuhi oleh sains.

(2) Singa. Singa merupakan sebuah gambaran yang menunjukkan sikap “tidak secara naïf”. Terhadap apa saja yang datang padanya, ia menolaknya. Roh ini berbalikan dari Roh Unta. Sakit tidak lagi diterimanya, melainkan ditantang dengan garang (ditolak). Singa berusaha untuk tidak ditundukkan oleh rasa sakit, melainkan dengan raungannya yang ganas, ia mencoba melawan (menidak). Roh Singa ini tampak pula dalam diri para anti-sains, mereka berpandangan bahwa sains itu tidak berguna, selalu berubah, dan tidak memberi kepastian (ditunjukkan dengan sifat tentatif sains [tidak pernah abadi], sejauh belum ada teori yang dapat menjatuhkan teori sebelumnya, maka teori itu tetap dapat dipegang). Penelitian-penelitian yang ada hanya dipandang sebagai sebuah proyek “rekayasa” demi kepentingan dan tujuan tertentu. Mereka sangat skeptis pada sains. Inilah paranoia Singa di hadapan sains (modern) dewasa ini, yang diwakili oleh mereka yang anti-sains.

(3) Bayi. Bayi merupakan sebuah gambaran yang menunjukkan sebuah sikap yang “sekaligus iya dan tidak”. Kekhasan seorang Bayi adalah “kepolosan”-nya. Apa saja yang datang (dunia kehidupan, realitas) tidak lagi diiyai secara naïf atau dikuasai, tetapi juga tidak menidak secara naïf atau menolakya begitu saja. Melainkan, Bayi berusaha menerima sekaligus menolak (ya dan tidak sekaligus). Ada sebuah ambiguitas di sana. Namun, tepat di sana pula Bayi dapat menciptakan nilai-nilai (dunia) baru, di mana kepolosannya menggiringnya pada “afirmasi kudus” pada apa saja yang datang—sebuah realitas yang pada dirinya sendiri tidak perlu ditakuti ataupun dipuja. Bayi ini juga mencerminkan sebuah sikap sopan-santun di hadapan kebenaran (sains). Di mana, ia mau menari di bibir jurang; menerima penampakan dan juga kedalaman sekaligus. Kebenaran sains, tidak lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus diterima atau ditolak begitu saja. Bagi Nietzsche, kebenaran – pada tahap Unta dan Singa – masih hanya ingin mengungkapkan kebutuhan subyektif manusia[12]. Kebenaran hanya dianggap sebagai sebuah properti yang dapat dimiliki (diterima atau ditolak). Banyak orang menganggap sesuatu benar karena ingin menganggapnya benar (jika tidak, ditinggalkan). Bahkan, seseorang harus yakin bahwa tindakannya itu benar sekalipun jika keyakinannya itu adalah sebuah kebohongan[13].  Dengan begitu, “kebenaran” itu dirasa dapat memberi kelegaan, keamanan, dan ketenteraman bagi hidupnya. Bagi Nietzsche, kebenaran bukanlah sebuah properti atau harta milik[14]. Kebenaran tidak dapat di-fix-kan, apalagi jika hanya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Jika kebenaran adalah wanita, maka para saintis dogmatis adalah pria-pria bodoh yang tidak tahu bagaimana caranya mengambil hati wanita. Bagi Nietzsche, para saintis ini terlalu percaya diri, dogmatis, dan serius.[15] Mereka seperti anak-anak muda Mesir yang karena rasa ingin tahunya, masuk ke kuil dan menyingkap selubung patung-patung. Mereka ingin mengetahui kebenaran sebenar-benarnya. Bagi Nietzsche, “Itu semua merupakan kejijikan yang sudah kita campakkan; Kita tidak lagi percaya bahwa sebuah kebenaran akan tetap sebuah kebenaran manakala selubungnya 

disingkap.”[16] Kebenaran itu adalah wanita dengan selubungnya – dua-duanya. Di hadapannya kita perlu menjunjung sopan santun dan hormat. Wanita adalah dunia, hidup, dan realitas apa adanya. Namun, bukan berarti hanya diterima apa adanya atau ditolak begitu saja. Melainkan, kita perlu menanggapinya dengan “ya-tidak” sekaligus. Di sanalah, Sang Bayi mulai bermain, tak ada ketakutan dan kecemasan, dan juga tak ada ambisi untuk meraih kebenaran (sains) secara absolut. Melainkan, menghormati kebenaran (sains) dengan “kepolosan” seorang anak yang mengafirmasi realitas apa adanya. Inilah solusi bagi masyarakat modern di tengah-tengah modernitas (sains). Inilah manusia asenden, di mana ia berani berhadapan dengan kehidupan yang plural dan khaos. Ia tidak lari dan mencari sebuah pendasaran metafisik (idea fix), melainkan mengafirmasi realitas, ya dan tidak sekaligus. Itulah Sang Bayi (Übermensch)[17].*


Daftar Pustaka

 

Buku

Hardiman, F. Budi. 2007. Filsasfat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia.

Sunardi, St. 1996. Nietzsche. Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang.

Wibowo, A. Setyo. 2004. Gaya Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press.

Artikel

Kristianto, Dwi. 2004. “Konsep Friedrich Nietzsche Tentang Kebenaran” dalam Driyarkara (Th.XXVII, No.2), Jakarta: STF Driyarkara.

Tanesini, Alessandra. 1995. “Nietzsche Theory of Truth” dalam Australasian Journal of Philosophy (Vol. 73, No.4, December 1995).

Wilujeng, Sri Rahayu dan P. Hardono Hadi. 2006. Humanika (19 (3), Juli 2006). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. 

Internet

Olson, Nate. 2001. “Perspectivsm and Truth in Nietzsche’s Philosophy: A Critical Look at the Apparent Contradiction” dalam http://www.stolaf.edu/depts/philosophy/reed/2001/ perspectivism.html, yang diakses pada Rabu, 30 September 2009, Pkl. 10.20 WIB.

Shakespeare, William. Romeo and Juliet (Scenes II), dalam http://enotes.com, yang diakses pada Rabu, 31 Maret 2010, pkl.09.12 WIB.

[1] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 185.

[2] Ungkapan terkenal Shakespeare, Romeo and Juliet (Scenes II), dalam http://enotes.com (diakses Rabu, 31 Maret 2010, pkl.09.12 WIB).

[3] Bdk. F. Budi Hardiman, 2007, Filsasfat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, hlm. 2-3.

[4] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, hlm. 171-181.

[5] Bentuk tulisan yang terdiri dari kalimat-kalimat pendek (bahkan mungkin hanya 1 kalimat saja), yang merupakan satu gagasan utuh yang tidak tergantung dengan kalimat sebelum  dan sesudahnya. (Bdk. St. Sunardi, 1996, Nietzsche, Yogyakarta: PT LKiS Printing  Cemerlang, hlm. 18-19)

[6] Bdk. Dwi Kristianto, 2004, “Konsep Friedrich Nietzsche Tentang Kebenaran” dalamDriyarkara (Th.XXVII, No.2), Jakarta: STF Driyarkara, hlm. 80.

[7] “Metode Psikologis” di sini lebih diartikan sebagai sebuah usaha Nietzsche untuk menelaah simtom-simtom (Idea Fix; misalnya: nilai-nilai agama, sains, metafisika, dlsb.) yang diyakini dan dihidupi oleh seseorang, yang nantinya dilepaskan dari kategori biner moral klasik baik-buruk. (Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, hlm. 115 & 171.)

[8] “Fisio-psikolog” di sini lebih ingin menunjukkan Nietzsche sebagai seorang pengkaji tipologi kebertubuhan—mencermati bagaimana mekanisme penghendakan seseorang akan sesuatu, yang akan membawa Nietzsche pada sesuatu yang “amoral” (ekstra- moral), di mana insting-insting yang dianggap buruk selama ini (kebencian, kecemburuan, dlsb.) juga merupakan bagian esensial dari pelaksanaan kehidupan. (Ibid,  hlm. 115 & 172.)

[9] Bagi Nietzshe, tubuh adalah rasio itu sendiri. (Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm.65.)

[10] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm.181-195.

[11] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 60- 64.

[12] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 125.

[13] Bdk. Nate Olson, 2001, “Perspectivsm and Truth in Nietzsche’s Philosophy: A Critical Look at the Apparent Contradiction” dalam http://www.stolaf.edu/depts/philosophy/reed/2001/ perspectivism.html  (diakses pada Rabu, 30 September 2009, Pkl. 10.20 WIB).

[14] Bdk. Alessandra Tanesini, 1995, “Nietzsche Theory of Truth” dalam Australasian Journal of Philosophy (Vol. 73, No.4, December 1995), hlm. 552.

[15] Sri Rahayu Wilujeng dan P. Hardono Hadi, 2006, Humanika (19 (3), Juli 2006), Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, hlm. 378.

[16] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 140.

[17] Ibid., hlm. 64.

NIETZSCHE : ROH UNTA, SINGA, BAYI

0

Lahir, hidup, bertumbuh, sakit, dan pada akhirnya mati adalah pengalaman yang selalu ada sejak manusia ada di dunia. Setiap pengalaman tersebut dialami oleh setiap individu dari sekian banyak wajah kehidupan. Yang membedakannya adalah cara memaknai setiap pengalaman yang ada. Cara memaknai menentukan pula makna yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Setiap orang yang memaknai hidupnya secara berbeda, ada yang bahkan tidak menemukan makna hidup dalam kehidupannya sehingga hidup itu diakhiri dengan kematian melalui bunuh diri.

Friedrich Nietzsche (1844), filsuf yang menguraikan dengan sangat bagus mengenai pengalaman manusia itu, terutama pengalaman sakit. Uraian tentang pengalaman sakit itu tidak berangkat dari ruang kosong sebab dia sendiri, yang membahas tentang pengalaman sakit itu, mengalami sakit yang sedemikian hebatnya. Pengalaman sakit oleh Nietzsche dilihat sebagai suatu hal yang datang begitu saja kepada setiap orang. Terhadap pengalaman tersebut, Nietzsche menyikapinya secara bijak artinya ia tidak menolak sakit dengan sikap lantang tak gentar atau pun menerima dengan sikap pasrah tetapi ia menerima dan mengolah rasa sakit itu sehingga pengalaman sakit yang ia derita itu diubah menjadi suatu konsolasi bagi seluruh hidupnya.

Tulisan ini membahas bagaimana pengalaman sakit dihadapi dengan meneropong pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche sebagai pijak refleksi. Mengapa harus pemikiran Nietzsche yang dijadikan tolok ukur dalam merefleksi pengalaman sakit? Alasan yang paling mendasar adalah bahwa ia merupakan seorang filsuf yang membahas mengenai tema tersebut dan pembahasannya berangkat dari pengalaman yang dia sendiri mengalami. Betapa dalam-nya pengalaman orang yang mengangkat refleksi tentang sakit berdasarkan pengalamannya sendiri jika dibandingkan dengan mereka yang hanya sekedar mengamati pengalaman sakit.

Nietzsche menjadikan sakit dan pengalaman akan sakit sebagai locus philosophicus[1] karena memang sakit merupakan pengalaman eksistensial, seperti hal hidup dan mati, yang tidak dapat dihindarkan dari kehidupan ini. Barangkali kebanyakan karya-karya filosofis filsuf kebanyakan lahir dari pengalaman-pengalaman yang bersifat eksistensial tersebut.


Pandangan Nietzsche tentang Sakit

Nietzsche adalah filsuf yang membahas pengalaman sakit secara serius. Salah satu alasan yang memungkinkan ia merefleksi mengenai sakit adalah pengalamannya sendiri akan sakit berat yang menimpa dirinya. Rasa sakit yang sedemikian kerasnya itu memaksa Nietzsche menjadi filsuf pengembara yang hidup berpindah-pindah. Pengalaman akan sakit tersebut juga mempengaruhi gaya penulisannya yang terkesan bersifat aforistik (tulisan singkat padat yang kaya akan makna).

Sakit, menurut Nietzsche, bukanlah sesuatu yang mengenakkan yang harus kita raih dalam hidup ini melainkan merupakan sesuatu yang, karenanya, membuat orang kehilangan harapan untuk hidup, kehilangan semangat untuk maju, membuat orang menjadi pesimis terhadap kehidupan ini. pengalaman akan sakit bagaikan masuk dalam kegelapan kematian.[2] Kegelapan kematian merupakan realitas absurd yang karenanya kehendak manusia untuk hidup terus tercampakkan. Sakit merupakan pengalaman yang tidak masuk akal, sesuatu yang tidak dikehendaki oleh manusia, namun selalu datang, meski tidak diharapkan, membayangi manusia.

Rasa sakit adalah apa yang datang begitu saja tanpa bisa dihindari oleh setiap manusia. Pemaknaan terhadap rasa sakit berbeda pada diri setiap orang tergantung bagaimana individu melihat dan menilainya. Reaksi terhadap rasa sakit bisa macam-macam: positif dan negatif. Secara positif berarti menerimanya dengan lapang dada rasa sakit tersebut atau secara negatif menolak rasa sakit tersebut. Reaksi negatif atas rasa sakit biasanya dengan mencari penyebab dari rasa sakit itu. Setelah menemukan penyebabnya orang kemudian mencari obat untuk menyembuhkan.

Nietzsche, yang adalah seorang pengembara, manusia yang hampir seluruh waktu hidupnya dihabiskan sebagai seorang soliter, berhadapan dengan pengalaman sakit menunjukan sikap siap waspada. Nietzsche membiarkan rasa sakit itu datang menghampirinya tanpa sedikit pun mengeluhkan kedatangannya namun di lain pihak menyadari bahwa sakit itu datang. Sakit adalah sesuatu yang tanpa makna pada dirinya sendiri yang datang menimpa seseorang haruslah disikapi secara bijak yakni dengan mengiyai sekaligus menidak. Terhadap pengalaman rasa sakit itu Nietzsche berkata:

Seorang pengembara yang sudah memutuskan bangun tidur pada jam tertentu lalu dia dengan tenang tidur: demikian pula kita para filsuf yang berbeda, dengan mengandaikan bahwa kita sedang jatuh sakit, kita juga menyerahkan jiwa dan juga tubuh kita kepada si penyakit—kita menutup mata, katakanlah terhadap diri kita sendiri. Sama seperti si pengembara yang tahu bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang tidak tidur, menghitung jam dan akan tahu jam berapa harus membangunkan sebagaimana dikehendaki sebelumnya, kita pun tahu sebuah saat yang menentukan akan menangkap kita dalam keadaan terbangun…[3]

Sikap yang dikehendaki Nietzsche terhadap rasa sakit yang datang adalah siap siaga. Dengan sikap demikian orang tidak akan lengah, ia akan dapat, setidak-tidaknya mengantisipasi rasa sakit yang datang, mengetahui apa yang datang. Dengan mengetahui yang datang sebagai sakit maka orang akan dapat dengan mudah juga untuk mengolah rasa sakit itu tanpa ada rasa takut akan apa yang menimpa dirinya. bagi orang yang telah mewaspadai rasa sakit yang datang akan dengan mudah mengenalinya dan mengidentifikasinya sebagai rasa sakit. Hal ini berbeda dengan orang yang sama sekali tidak menyadari kedatangan rasa sakit, akan dengan gampang menidaki rasa sakit itu, tidak menerima sakit sebagai sesuatu yang datang begitu saja. Lantas apa yang dilakukan? Mencari penyebab atas rasa sakit yang menimpanya sebab dengan berhasil menemukan penyebab dari rasa sakit maka orang akan dengan mudah menemukan obat untuk penyakitnya itu.

Di hadapan rasa sakit itu, Nietzsche menyarankan untuk bersikap hati-hati dan tidak terburu-buru mencari penjelas sebab barangkali rasa sakit yang datang itu merupakan tanda untuk masuk ke dalam suatu kedalaman. Kedalaman yang ditandai dengan kemampuan orang untuk mentransformasi rasa sakit yang absurd itu dengan rasionalitas manusia. Hal inilah yang kiranya dapat kita jumpai dari pengalaman Nietzsche melalui tulisan-tulisannya yang kaya akan makna dan dalam. Tulisan-tulisan Nietzsche mengalami masa produktif terjadi ketika ia sedang dalam pengalaman-pengalaman sulit rasa sakit. Banyak karya-karya besarnya, sebagaimana telah dipaparkan di bagian riwayat hidupnya, lahir dari pengalamannya akan rasa sakit. Hal ini dapat dipahami sebagai kemampuan Nietzsche dalam mengiyai sekaligus menidak rasa sakit yang datang dengan sikap waspada dan perlahan tetapi pasti mentransformasikannya menjadi karya-karya yang memiliki kedalaman makna. Maka benarlah bahwa sakit dan pengalaman akan sakit menjadi locus philosophicus. Karya-karya folosofis yang lahir dari permenungannya tentang realitas ini mendapat tempat dalam sakitnya yang ia derita. Dengan kata lain besar kemungkinan bahwa karya-karyanya tidak akan lahir tanpa melalui pengalaman sakit itu. Di sinilah letak kekhasan Nietzsche yang mengiyai sekaligus menidak pengalaman rasa sakit yang datang dan mentransformasinya menjadi sebuah karya yang besar.

Berhadapan dengan rasa sakit, individu hendaknya tidak terburu-buru untuk langsung menerimanya sebagai takdir yang harus dipikul bagaikan seekor unta yang menerima beban. Orang yang demikian menurut Nietzsche adalah orang yang bermentalkan roh unta yang penurut yang langsung memikul bebannya menuju padang gurun dirinya sendiri. Mental unta yang mengiyai secara naif pengalaman sakit yang datang sepintas kelihatannya baik namun jika mau ditelusuri secara lebih mendalam maka kita akan mendapati bahwa mentalitas seperti ini merupakan suatu tindakan masokhis. Artinya dengan mengiyai secara naif pengalaman sakit yang datang dia secara langsung mau menerimanya dengan segala konsekuensi yang ada. Seolah-olah rasa sakit adalah sesuatu yang masuk akal, sesuatu yang baik, sesuatu yang karenanya eksistensiku menjadi pasti dan sebaliknya tanpa rasa sakit aku menjadi tidak eksis. Kebersksistensiannya semata-mata hanya ditentukan oleh beban yang dia panggul itu.

Pada dasarnya orang yang bermentalkan mentalitas unta tidak sadar bahwa dirinya sepenuhnya tergantung pada beban yang di luar dirinya. ketidaksadaran ini lama-kelamaan akan menghancurkan dirinya sendiri. Menikmati rasa sakit sebagai sesuatu yang baik merupakan suatu tindakan yang naif karena berpotensi merusak diri sendiri. Namun Nietzsche mengatakan bahwa ada suatu titik di mana unta menjadi sadar akan kesendiriannya di padang gurun dirinya itu yang memaksa mentalitas unta untuk bermetamorfosis menjadi roh singa…dalam kesendirian memuncak, terjadilah metamorfosis kedua: roh menjadi singa.[4]

Pemberontakan akan pengalaman kesendirian ini memaksa roh bermetamorfosis menjadi roh singa. Mentalitas unta yang secara naif mengiyai sakit kini berubah menjadi mentalitas singa yang melihat sakit sebagai sesutu yang buruk dan berusaha untuk menidakinya secara naif. Mentalitas singa menolak sakit berkat kebebasan yang dimilikinya memandang sakit bukan sebagai yang harus dipikul sebagai beban melainkan harus ditantang dengan garang-ditolak. Kenaifan menolak rasa sakit bukan pada dasarnya bukan karena dia menolaknya karena itu buruk melainkan lebih kepada kehormatan harga diri. Harga diri yang tinggi, kesombongan, membuatnya menolak segala sesuatu yang datang, karena sesuatu yang bersifat eksternal, baginya adalah sesuatu yang dapat mengancam eksistensinya, menguasai dirinya, oleh karena itu harus ditolak.

Kedua model mentalitas di atas oleh Nietzsche tidak dapat menghasilkan nilai-nilai baru oleh karena itu harus melampaui diri untuk dapat menciptakan nilai-nilai baru, itulah yang dapat dibuat oleh kekuatan si singa. Melampau diri berari mengatasi kenaifan yang dimiliki oleh mentalitas mengiyai secara naif dan juga menidaki secara naif. Gambaran seorang bayi adalah gambaran yang, menurut Nietzsche, sangat tepat. Karena bayi adalah kepolosan dan pelupaan, permulaan baru, permainan, roda yang bergerak dari dirinya sendiri, penggerak pertama, afirmasi kudus.

Sikap yang paling bijak di hadapan realitas semacam itu adalah mengiyai sekaligus menidak sebagaimana dimiliki oleh seorang bayi yang polos yang dengan kemurnianya memberikan afirmasi kudus pada apa saja yang datang.[5] 

dengan realitas yang datang, bagi seorang bayi, tidaklah untuk dipikul secara naif bagai seekor unta atau ditantang secara garang bagai seekor singa. Sikap yang demikian adalah sikap orang yang dikuasai pemikiran yang sangat tidak sehat. Pemikiran yang sehat adalah pemikiran yang selalu terlibat dalam ralitas yang salalu tidak pasti, waspada pada apa saja yang datang, dengan demikian selalu dapat mentransformasikan realitas yang ada. Model bayi yang seperti ini, memiliki cita rasa ningrat, dapat dijumpai di kalangan para seniman besar dan juga di kalangan lemah, kaum petani.

Sakit dan pengalaman akan sakit, oleh Nietzsche, tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri. Namun pengalaman secamacam ini dapat dimasuki secara serius dalam arti untuk mentransformasikannya menjadi suatu nilai yang berharga. Berhadapan dengan rasa sakit orang mungkin akan melarikan diri dari padanya atau bahkan menjadikan rasa sakit sebagai ajang heroisme. Para martir dalam gereja katolik misalnya melihat rasa sakit sebagai bentuk solidaritas terhadap penderitaan Kristus oleh karena itu ketika dicambuk, dibakar, dll., mereka sedikitpun tidak mengeluh. Rasa sakit bagi mereka ini menjadi pintu masuk ke dalam horizon baru, kebahagiaan kekal bersama Allah. Bukankah hal ini merupakan bentuk pelarian dari realitas? Kehidupan lain yang sifatnya utopis yang diimani itu menjadi alasan bagi mereka untuk menahan rasa sakit itu sedemikian rupa. Kematian sebagai konsekuensi pun menjadi kesenangan karena mampu menderita bersama Kristus. Pelarian semacam ini menghilangkan kesempatan untuk pentransformasian nilai yang lebih tinggi. Padahal dalam pengalaman semacam ini, orang dapat menghadapinya dan memasukinya dengan rasa keingintahuan yang besar tentu saja dengan kewaspadaan sehingga ia memiliki kesadaran akan kedalaman dari kehidupan ini.

Pengalaman sakit bisa menjadi semacam titik pijak bagi seseorang untuk masuk dalam kedalaman realitas kehidupan ini. Hanya mereka yang telah terlibat dan bergulat dengan kegelapan kematian yang tahu bagaimana bersikap di hadapan kehidupan ini. Nietzsche melihat pengalaman sakit dan kehidupan ini sendiri menjadi sebuah locus dan kesempatan untuk berfilsafat, mengubah secara terus-menerus realitas yang ada. Segala bentuk yang bersifat tidak teratur olehnya diubah menjadi sesuatu yang teratur dengan sikap berani, tanpa sedikit pun membuatnya dalam suatu konsep yang fiks. Kesadaran akan realitas yang abyssal membuatnya selalu mentransfigurasi segala hal untuk semakin dalam menyelami realitas yang ada itu.

Pengalaman sakit yang diderita Nietzsche secara hebat sampai kematian menjemputnya membuatnya semakin mendalam dalam melihat kehidupan ini. iabagaikan dilahirkan kembali, dengan kulit baru yang lebih peka.[6]


Daftar Pustaka

[1] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm. 58

[2] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm 50

[3] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm 53

[4] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm 61

[5] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm 65

[6] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm. 90

RIWAYAT & PEMIKIRAN NIETZSCHE

0

Friedrich Nietzsche adalah filsuf abad 19 yang lahir di Röcken, Jerman Timur pada 15 Oktober  tahun 1844.  Memahami filsafat Nietzsche melalui penyelaman ke dalam beberapa karya yang ditulisnya merupakan pekerjaan yang cukup sulit karena gaya penyampaian Nietzsche dalam karya-karyanya tidak seluruhnya sistematis. Dalam beberapa karyanya seperti On The Genealogy of Morality Nietzsche menulis dalam bentuk kumpulan esei yang saling terkait secara sistematis namun dalam beberapa karya lain Ia menulis dalam aforisme-aforisme pendek yang nampak sederhana dan to the point seperti dalam buku dan Also sprach Zarathustra (Thus Spoke Zarathustra). Terdapat pula penulisan aforisme dengan topik yang melompat-lompat seperti pada Die fröhliche Wissenschaft (The Gay Science) atau Ilmu Ceria. Meskipun demikian, setelah berusaha memahami apa yang ingin disampaikannya ternyata keunikan gaya menulis Nietzsche mengandung makna-makna yang mendalam dan subtil.

Setelah membaca beberapa karya asli Nietzsche dan bantuan berharga dari buku-buku tafsir atas teks Nietzsche, beberapa konsep-konsep kunci yang ingin disampaikan oleh Nietzsche dapat terlihat. Agak sulit untuk memahami dan meringkas pemikirannya dalam beberapa halaman saja oleh sebab itu dalam tulisan ini penulis pertama-tama akan membahas kehidupan Nietzsche secara singkat, kemudian memaparkan konsep-konsep kunci dalam filsafatnya yakni: Pencarian Kebenaran, Kematian Tuhan, Moralitas Tuan dan Budak, Manusia yang Melampaui (Übermensch). Dalam tulisan ini penulis tidak berpretensi untuk menjelaskan pemikiran Nietzsche secara komprehensif dan menyeluruh karena hal tersebut tidak mungkin dipaparkan hanya dalam beberapa paragraf saja. Penulis mencoba untuk merangkum beberapa konsep-konsep kunci Nietzsche (walaupun tidak semuanya) yang diambil melalui pecahan-pecahan tulisan dari beberapa karya-karya Nietzsche dan karya-karya interpretasi atas teks Nietzsche.


Riwayat Singkat Kehidupan Nietzsche

Nietzsche menerima beasiswa di sebuah sekolah asrama Protestan dan lulus tahun 1864. Setelah lulus Nietzsche melanjutkan studi ke Universitas Bonn untuk belajar teologi dan filologi (studi interpretasi teks klasik dan teks biblikal).  Pada abad 19 filologi mengacu pada studi bahasa dan literatur. Istilah ini jarang dipakai pada masa kini karena sudah ada pembedaan antara pertanyaan-pertanyaan pada studi literatur dan studi bahasa. Pada masa-masa perkuliahan, Ia menemui banyak momen yang merubah cara pandangnya terhadap kehidupan termasuk berkenalan dengan tulisan-tulisan Arthur Schopenhauer, berkenalan dengan komposer dan penulis drama terkenal Jerman, Richard Wagner, mengambil karir akademis, bergabung dengan militer,  serta tertular penyakit sipilis yang mendera sampai akhir hayatnya.

Tahun 1865 Nietzsche membaca buku Schopenhauer yakni Die Welt als Wille und Vorstellung (Dunia sebagai Kehendak dan Representasi) yang memengaruhi filsafat dan kehidupan Nietzsche selanjutnya. Nietzsche mengklaim bahwa buku ini mengubah dirinya menjadi filsuf. Di dalam buku ini Schopenhauer menyatakan konsepnya tentang kehendak sebagai kekuatan pendorong dalam kehidupan. Nietzsche kemudian memperluas dan memodifikasi ide Schopenhauer ini menjadi “Kehendak untuk Berkuasa”. Nietzsche bersahabat dengan Wagner yang mana Wagner memuji buku pertama The Birth of Tragedy from the Spirit of Music, namun persahabatan ini tidak berlangsung lama karena beberapa perbedaan pandangan di antara keduanya. Nietzsche menolak pandangan Wagner yang anti-semit dan tenggelam dalam fanatisme Kristen yang dinilai Nietzsche sebagai kemunafikan. Nietzsche juga sempat menjadi guru besar di Basel, Swiss tahun 1869 dan mengajar puisi-puisi dan lirik Yunani, gramar bahasa latin, pengantar studi Plato, dan pemikiran Sophocles. Nietzsche hanya mengajar sampai tahun 1879, karena ia mulai merasakan sakit yang dideritanya.

Setelah berhenti mengajar, Ia sempat bergabung dengan militer pada perang Franco-Prussia namun tidak berlangsung lama karena ia menderita masalah dengan kesehatannya. Nietzsche kemudian menjadi filsuf pengembara dan berkeliling  Swiss, Perancis, dan Italia serta menjadi penulis buku yang aktif walaupun buku-buku Nietzsche baru menjadi terkenal setelah kematiannya. Beberapa rumor juga beredar bahwa Nietzsche tertular sipilis karena ia senang main perempuan di rumah-rumah pelacuran. Penyakit inilah yang kemudian pada akhirnya mendera Nietzsche sampai akhir hayatnya dan memengaruhi cara pandang Nietzsche terhadap sakit dan kehidupan. Nietzsche meninggal tahun 1900 setelah sebelumnya mengalami penurunan mental dan menjadi gila.


Beberapa Karya Terpenting Nietzsche

Die Geburt der Tragödie,  (The Birth of Tragedy), 1872

Philosophie im tragischen Zeitalter der Griechen, (Philosophy in the Tragic Age of the Greeks), 1873

Über Wahrheit und Lüge im außermoralischen Sinn, (On Truth and Lies in a Nonmoral Sense) 1873

Menschliches, Allzumenschliches, (Human, All-Too-Human), 1878

Vermischte Meinungen und Sprüche, (Mixed Opinions and Maxims), 1879

Morgenröte, (The Dawn), 1881

Die fröhliche Wissenschaft, (The Gay Science) 1882, 1887

Also sprach Zarathustra, (Thus Spoke Zarathustra), 1883-5

Jenseits von Gut und Böse, (Beyond Good and Evil), 1886

Zur Genealogie der Moral, (On the Genealogy of Morality), 1887

Der Fall Wagner, (The Case of Wagner), 1888

Götzen-Dämmerung, (The Twilight of the Idols), 1888

Der Antichrist, (The Antichrist), 1888

Ecce Homo, 1888

Der Wille zur Macht, (The Will to Power), 1901


Konsep-konsep kunci dalam filsafat Nietzsche


Pencarian Kebenaran

Apakah kebenaran itu? Darimankah asalnya? Sebagai manusia kita seringkali menerima secara begitu saja konsep apapun yang diberi emblem sebagai suatu “kebenaran”. Saat kita dihadapkan pada pernyataan bahwa ada apel berwarna merah, kita langsung mengafirmasi bahwa benar ada apel yang memang berwarna merah. Dan jika ada seseorang mengatakan bahwa ada apel yang berwarna biru kita pasti akan langsung menyalahkan pernyataan orang tersebut dan akan mengklaim pernyataan orang itu sebagai kesalahan jika ia memaksakan pandangannya bahwa ada apel berwarna biru. Seseorang mungkin dapat mati-matian mempertahankan pernyataan bahwa warna beberapa apel memang merah karena hal itu sesuai dengan persepsi inderawi yang tertangkap melalui mata manusia, ditambah lagi dengan pengetahuan umum yang telah kita terima selama ini menegaskan bahwa memang benar beberapa apel itu berwarna merah.  Namun apakah secara absolut warna beberapa apel itu sebagai the thing in itself  atau das ding an sich? Apakah ini sebuah jawaban ultim yang harus kita terima sebagai sebuah kebenaran akhir saat kita mempertanyakan warna apel tersebut? Jika jawabannya adalah ya, mengapa manusia dapat sampai kepada kesimpulan tersebut dan menganggapnya sebagai pernyataan obyektif yang tidak perlu dipertanyakan keabsahannya? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin lebih mengacu pada obyektivitas kualitas properti warna yang terdapat pada sebuah apel. Dari contoh ini kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar lagi yakni mengapa manusia terdorong untuk menyatakan bahwa sesuatu adalah benar dan yang lainnya adalah salah?

Melalui contoh ini kita dapat melihat pada pertanyaan Nietzsche dalam karyanya yakni On Truth and Lies in a Nonmoral Sense[1] yakni: “Darimanakah asal dorongan manusia terhadap kebenaran berasal? Nietzsche berkata bahwa tahap pertama dorongan manusia terhadap kebenaran berasal dari efek dissimulation atau pemalsuan/penyembunyian dan deception atau penipuan yang dilakukan oleh individu.

This art of dissimulation reaches its peak in man. Deception, flattering, lying, deluding, talking behind the back, putting up a false front, living in borrowed splendor, wearing a mask, hiding behind convention, playing a role for others and for oneself –in short, a continous fluttering  around the solitary flame of vanity- is so much the rule and the law among men that there is almost nothing which is less comprehensible than how an honest and pure drive for truth  could have arisen among them.[2]

Setiap individu mempraktekan kepura-puraan terhadap satu sama lainnya untuk bertahan dalam masyarakat. Namun lambat laun orang sadar bahwa kepura-puraan dan penipuan ini dapat mengarah kedalam perang antara orang-orang itu sendiri. Oleh sebab itu sebuah pergeseran dari penipuan menuju sebuah kesepakatan damai terjadi dengan membuat aturan-aturan umum dan larangan-larangan dalam masyarakat. Kebenaran pada tahap ini merupakan tujuan umum dan mengikat yang merupakan legislasi bahasa karena perbedaan antara kebenaran dan kebohongan muncul untuk pertama kalinya.

Namun, Nietzsche meragukan kebenaran yang dipertahankan dan diagungkan oleh orang-orang sebagai kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran yang murni, yang bebas dari kepentingan pragmatis sekelompok orang. Kebenaran merupakan kata yang disetujui melalui konvensi bahasa. Ia mempertanyakan apakah konvensi bahasa merupakan produk pengetahuan yang mendekati kebenaran yang sebangun dengan berbagai hal yang direpresentasikan oleh produk bahasa itu? Nietzsche meragukannya. Ia berargumen:

“It is only by means of forgetfulness that man can ever reach the point of fancying himself to posses a “truth” of the grade just indicated. If he will not be content with empty husks, then he always exchange truths for illusions”[3]

Manusia lupa bahwa kebenaran yang diyakininya hanyalah semata-mata sebuah kata yang mana jika ia tetap mempertahankannya, ia akan selalu mempertukarkan kebenaran yang dipegangnya dengan ilusi semata.Nietzsche memberi contoh seperti dalam bahasa Jerman, Orang Jerman membagi hal-hal kedalam jender seperti sebuah pohon (der Baum) sebagai maskulin dan tanaman (die Pflanze) sebagai feminin. Ia berpendapat bahwa kata-kata tidak pernah dipertanyakan sebagai kebenaran dan juga tidak pernah dipertanyakan sebagai sebuah ekspresi yang memadai.

Menurut Nietzsche, kata merupakan salinan suara dari stimulus syaraf yang tidak bisa secara sempurna merepresentasikan kebenaran yang murni. Menurutnya kebenaran yang murni (the thing in itself) merupakan sebuah hal yang tidak dapat dipahami oleh pencipta bahasa. Para pencipta bahasa hanya menunjukan hubungan-hubungan dari berbagai hal dengan manusia dan untuk mengekspresikan hubungan ini mereka menggunakan metafor-metafor.  Proses munculnya sebuah kata sebagai stimulus syaraf manusia dijelaskan oleh Nietzsche: Tahap pertama sebuah stimulus syaraf diterjemahkan kedalam sebuah gambar, yang merupakan metafor pertama, kemudian tahap kedua gambar itu diimitasikan ke dalam sebuah bunyi, yang merupakan metafor kedua. Sebagaimana dikatakan Nietzsche:

“Thus the genesis of language does not proceed logically in any case, and all the material within and with which the man of truth, the scientist, and the philosopher later work and build, if not derived from never-never land, is at least not derived from the essence of things.”[4]

Jadi apakah sesungguhnya kebenaran menurut Nietzsche? Terjemahan bahasa Indonesia dari buku A. Setyo Wibowo “Gaya Filsafat Nietzsche” tentang kebenaran menurut Nietzsche:

“Jadi, apa itu kebenaran? Kumpulan-bergerak dari metafor dan metonimi, antropomorfisme, singkatnya sejumlah relasi-relasi manusiawi yang telah ditinggikan, ditransposisikan, dan dihiasi dengan puisi dan retorika, yang setelah lama digunakan lalu tampak mapan, kanonik, dan bersifat mengikat bagi sekelompok orang; kebenaran-kebenaran adalah ilusi-ilusi yang telah dilupakan bahwa mereka itu ilusi, metafor-metafor usang yang telah kehilangan kekuatannya, keping uang yang telah terhapus gambarnya yang tidak lagi dianggap sebagai uang melainkan logam belaka.”[5]

Jadi, Nietzsche menganggap bahwa kebenaran itu merupakan hasil subyektivitas manusia yang dilupakan manusia bahwa kebenaran itu merupakan ilusi belaka. Manusia dengan tidak sadar mengacu kepada kebiasaan-kebiasaan lama dan kelupaannya akhirnya sampai kepada perasaan kebenaran. Poin Nietzsche bukanlah berkata bahwa tidak ada hal apapun yang berupa kebenaran, namun bahwa kerap kali manusia melupakan atau dengan sengaja menekan fakta bahwa konsep kebenaran dikehendaki untuk ada untuk mengurangi konflik sosial dan memungkinkan perkembangan bentuk-bentuk baru dalam kehidupan.[6] Dengan demikian Nietzsche sepertinya ingin mendobrak dan menghancurkan kepercayaan membuta manusia dan kehausan manusia akan kebenaran melalui tulisannya ini.


Moralitas Tuan dan Budak

Nietzsche mengategorikan moralitas ke dalam dua kategori yakni moralitas Tuan dan moralitas Budak. Ini adalah sebuah deskripsi dan bukan sebuah resep yang ditujukan Nietzsche untuk diikuti oleh pembacanya. Ia sepertinya ingin agar pembaca karyanya melihat dinamika dan ketegangan di antara kedua moralitas tersebut.

Dalam moralitas Tuan, Nietzsche menjelaskan bahwa pertentangan antara “yang baik” dan “yang jelek” berarti sama dengan “yang terhormat” atau the noble dan “yang buruk”. Kategori yang jelek dan buruk ada pada moralitas budak. Ia berkata bahwa tipe orang yang memiliki moralitas tuan merasa hina di hadapan kepengecutan, tidak suka dengan orang-orang yang cemas, orang-orang yang remeh, orang-orang yang curiga, dan para tukang tipu. Kategori moralitas tuan ini mengalami dirinya sendiri sebagai nilai-nilai penentu dan tidak membutuhkan persetujuan dari orang lain. Lebih lanjut Nietzsche berujar dalam bukunya Beyond Good and Evil bahwa:

“the noble person will also help the unfortunate, but not, or not entirely, out of pity, but rather from the urgency created by an excess of power.The noble person reveres the power in himself, and also his power over himself, his ability to speak and to be silent, to enjoy the practice of severity and harshness towards himself and to respect everything that is severe and harsh.”[7]

Seseorang dengan moralitas tuan membantu orang lain yang kurang beruntung bukan karena belas kasihan namun sebagai dorongan yang tercipta melalui kelebihannya memiliki kekuasaan. Sebaliknya, Nietzsche berpendapat bahwa para orang-orang bermoralitas budak tidak menyetujui keutamaan yang dimiliki oleh mereka yang memiliki kuasa karena para mental budak ini ragu dan curiga kepada pemegang kuasa. Ia berkata bahwa orang-orang bermoral budak ini menghargai rasa belas kasihan, perasaan ramah, yang berhati hangat, penyabar, rendah hati, dan bersahabat.

Dalam buku Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, pada bagian tentang Nietzsche, Hamersma menulis bahwa suatu ketika para budak memberontak dan membalikkan semua nilai. Moral mereka mejadi norma satu-satunya. Revolusi ini menurut Nietzsche dimulai oleh orang Yahudi. Nabi-nabi Yahudi berhasil memberi arti negatif pada semua kata kunci “baik” dari kaum bangsawan dan yang kuat. Tempat “kebaikan”kasta tinggi diambil alih oleh “kebaikan hati”, dan “kerendahan hati” berasal dari kasta rendah. Perbuatan ini berasal dari rasa benci dan sakit hati serta melawan alam. Karena setelah perbuatan para budak ini yang tidak kuat, yang miskin, yang celaka, yang menderita, yang jelek, dan seterusnya disebut “baik”. Yang mulia, tinggi, dan bagus menjadi “jahat”.[8]

Tiap-tiap moralitas yang dideskripsikan oleh Nietzsche oleh sebab itu berpegang pada nilai-nilai yang bertentangan dan berada dalam konflik antara satu dengan yang lainnya. Nietzsche lebih lanjut menulis:

“According to slave morality, then, the ‘evil’ person evokes fear;according to master morality, it is exactly the ‘good’ person who evokes fear and wants to evoke it, while the ‘bad’ person is felt to be despicable.”[9]

Jadi, kedua tipe moralitas ini berada dalam ketegangan diantara satu dengan yang lainnya.


Kematian Tuhan

Dalam bukunya The Gay Science bagian ketiga no. 125, Nietzsche menulis sebuah aforisme yang sangat terkenal tentang orang sinting yang menyalakan lentera di siang hari dan berteriak-teriak ditengah kerumunan orang-orang yang kebanyakan sudah tidak lagi percaya pada Tuhan di sebuah pasar. Ia berteriak “Aku mencari Tuhan, Aku Mencari Tuhan.” Si sinting tidak menemukannya dan berkata bahwa “Tuhan telah mati, Tuhan tetap mati, dan kita adalah pembunuhnya, kamu dan saya”. Pada bagian akhir aforisme tentang orang gila ini Nietzsche menulis : “Apakah gereja-gereja itu kalau bukan makam dan kuburan Tuhan?.”[10]

Berbagai macam tafsir bisa muncul sebagai reaksi atas tulisan Nietzsche ini yakni apakah Ia seorang ateis atau anti-teis. Beberapa pendapat kaum teistik bahkan menyerang Nietzsche secara ad hominem dengan membawa-bawa kegilaan yang diderita Nietzsche sehingga wajar saja jika Ia menolak Tuhan. Perbedaan tafsir atas Nietzsche ini merupakan hal yang wajar karena karyanya dibaca oleh orang-orang yang masih percaya pada Tuhan dan orang ateis. Meminjam penjelasan A. Setyo Wibowo bahwa si sinting dalam teks Nietzsche menganggap pembunuhan Tuhan merupakan hal yang serius di tengah-tengah ketidakpedulian orang yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tidak perlu dibahas lagi. Nietzsche mengajak orang sejamannya di Eropa untuk menyadari konsekuensi dari hilangnya Tuhan sebagai horizon yang membuat kita kehilangan arah dan tujuan masuk dalam kegelapan total.[11] Bagi sebagian orang, hidup tidak berarti lagi tanpa Tuhan.

Mungkin Nietzsche mengajak kita untuk menemukan sebuah pandangan baru setelah kematian Tuhan, walaupun mungkin bukan sebuah pandangan yang dipegang sebagai idée fix yang tidak dapat diganggu gugat seperti ide tentang Tuhan yang dibela mati-matian oleh orang fanatik. Lalu apakah pegangan yang menjadi makna baru pada kehidupan? Jawabannya mungkin dapat diperoleh dari teks Nietzsche lainnya, Thus Spake Zarathustra. Dalam bagian pertama, prolog nomor ketiga buku ini, Zarathustra mengajarkan tentang overman atau Übermensch, manusia yang melampaui. Ia menulis:

“Behold, I teach you the overman! The overman is the meaning of the earth. Let your will say: the overman shall be the meaning of the earth! I beseech you, my brothers, remain faithful to the earth and do not believe those who speak to you of extraterrestrial hopes! They are mixers of poisons whether they know it or not.”[12]

Nietzsche berpendapat melalui figur Zarathustra bahwa manusia yang melampaui adalah makna dari bumi yang bisa dibaca sebagai tempat manusia hidup. Ia mengajak kita untuk tidak memercayai harapan-harapan yang bersifat di luar bumi. Teks selanjutnya berbunyi:

Once the sacrilege against God was the greatest sacrilege, but God died, and then all these desecrators died. Now to desecrate the earth is the most terrible thing, and to esteem the bowels of the unfathomable higher than the meaning of the earth![13]

Nietzsche menyatakan bahwa karena Tuhan telah mati dan para penghujatnya juga sudah mati, sekarang hal yang paling buruk adalah mereka yang menodai bumi dan yang mengharapkan sesuatu yang lebih tinggi dari makna bumi atau kehidupan itu sendiri. Jika Übermensch merupakan makna baru bagi kehidupan manusia, lalu apakah manusia yang melampaui itu? Oleh sebab itu kita akan masuk pada pembahasan tentangnya dalam bagian berikutnya.


Manusia yang Melampaui ( Übermensch)

Melalui idenya tentang moralitas budak dan warta kematian Tuhan, Nietzsche menolak untuk hidup dalam ketakutan, kepura-puraan, dan tidak bisa mengambil jarak karena manusia budak lupa bahwa konsep-konsep yang dipegangnya hanya metafor-metafornya yang diciptakannya sendiri. Manusia bermoral budak ini sudah terlalu lama tenggelam dalam kesakitannya. Dalam teks Zarathustra, Nietzsche berkata:

“I teach you the overman. Human being is something that must be overcome. What have you done to overcome him? All creatures so far created something beyond themselves; and you want to be the ebb of this great flood and would even rather go back to animals than overcome humans?[14]

Ia berpendapat bahwa manusia (human being) merupakan sesuatu yang harus diatasi atau dilampaui supaya manusia tidak kembali menjadi sekedar binatang buas saja. Manusia yang melampaui adalah tujuan yang harus dicapai untuk mengisi kekosongan berujung nihilisme setelah kematian Tuhan, oleh sebab itu harapan tertinggi manusia yang baru adalah sang Übermensch. Hal ini ditegaskan melalui tulisan pada bagian prolog nomor lima dari teks Zarathustra:

It is time that mankind set themselves a goal. It is time that mankind plant the seed of their highest hope.[15]

Nietzsche berkata bahwa pelampauan manusia sesungguhnya adalah mengatasi diri sendiri yang artinya mengatasi ketakutan-ketakutannya sendiri, menyadari nilai dan maknanya sendiri. Seseorang perlu menyadari kekuatannya sendiri untuk mencipta. Pada bagian kedua karyanya ini tentang self-overcoming, melalui Zarathustra, Nietzsche berkata  tentang rahasia kehidupan:

And this secret life itself spoke to me: “Behold,” it said, “I am that which must always overcome itself.[16]

Manusia perlu untuk mengatasi dirinya terus menerus melalui transformasi diri.

Apa sajakah tahapan transformasi manusia menjadi manusia yang melampaui menurut Nietzcsche? Jawabannya dapat ditemui pada teks tentang tiga metamorfosis roh. Roh pertama adalah roh unta, dari unta bermetamorfosis menjadi singa, dan dari singa menjadi bayi manusia. Menurut A. Setyo Wibowo sikap unta adalah sikap iya secara naif terhadap apa saja yang datang. Roh yang selalu membutuhkan beban eksternal untuk selalu bertahan hidup. Saat unta menyadari bahwa beban yang dipanggulnya tidak lagi bermakna dia akan berubah menjadi Singa. Singa merupakan roh menidak naif yang hanya tahu untuk berkata tidak karena takut apa yang menyentuhnya akan menundukanya dan merebut daerah kekuasaanya. Roh singa ini tidak akan menciptakan nilai-nilai baru karena selalu menidak. Saat singa menjadi roh seorang bayi, roh ini kemudian punya kemampuan untuk bersikap sekaligus iya dan tidak dengan kepolosannya. Ia akan mendapatkan dunianya yang baru, yakni menciptakan dunianya sendiri.[17] Memiliki roh bayi ini, manusia menjadi manusia yang melampaui karena ia mempunyai kekuatan untuk mencipta makna dengan posisi iya dan tidak sekaligus agar tidak terjatuh dalam salah satu ekstrim saja.

Mengambil pendapat Lee Spinks, Übermensch mewakili sebuah visi kreatif dan afirmatif kehidupan yang melampaui negativitas nihilisme, ressentiment, dan moralitas budak. Ajaran Nietzsche ini berusaha mengatasi pengalaman nihilistik yang dihasilkan dari kematian Tuhan dan untuk mengafirmasi sebuah interpretasi baru atas eksistensi tanpa pertolongan nilai-nilai supernatural. Interpretasi baru kehidupan ini mempertimbangkan sebuah cara baru untuk mengada yang hanya mengetahui tentang afirmasi dan menciptakan nilai-nilai melalui keberlimpahan kehendak dan kekuatan. Untuk mengafirmasi eksistensi melalui perspektif ini artinya mengatasi visi reaktif manusia dan mistifikasi sebuah dunia “atas” dan menekankan perbedaan antara bentuk kehidupan yang menaik (ascending) dan menurun (descending). Manusia yang melampaui memperkuat re-interpretasi aktif dari kehidupan melalui ajaran tentang eternal reccurence atau kekembalian yang sama secara abadi. Kekembalian yang sama secara abadi ini menggambarkan sebuah visi non-teleologis kehidupan dan sebuah filosofi tentang kekuatan dan afirmasi. Individu yang kuat mampu untuk merengkuh kekembalian abadi yang tak terhidarkan dari seluruh pengalaman masa lalunya, yang baik maupun yang buruk karena ia memiliki kekuatan untuk memilih mana dari pengalaman-pengalaman yang ingin diafirmasinya, yang oleh sebab itu menciptakan sebuah interpretasi baru kehidupan yang melampaui setiap moral dan evaluasi reaktif.[18]