DERRIDRA : DIFFERANCE – DEKONSTRUKTIF


Pengantar

Banyak orang yang mengatakan bahwa karya-karya Derrida sangat sulit ditafsirkan, karena menurut Derrida selama ini ilmu filsafat hanya berani menilai dan menghakimi jenis sastra lain namun tidak mau disebut sebagai salah satu jenis sastra.

Derrida sangat keberatan terhadap para filusuf yang mengenggap diri mereka sebagai pengamat yang obyektif, mereka selalu berfikir bahwa disiplin ilmunya mempunyai hak untuk melemparkan pertanyaan mendasar teerhadap disiplin ilmu lainnya.(Sutrisno, 2005, 167)

Bagi Derrida, filsafat tidak dapat dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Tidak masuk akal jika dikatakan bahwa ilmu pengetahuan sedang menyingkirkan filsafat atau bahwa filsafat sudah tidakmempunyai lingkup gerak lagi karena perkembangan ilmu pengetahuan.

Menurut Derrida antara ilmu pengetahuan dan filsafat merupakan hal yang sama, karena keduanya berakar dalam rasionalitas yang sama. (Bertens, 2001, 329)


Différance

Différance adalah istilah yang diusulkan oleh Derrida pada tahun 1968 dalam hubungannya dengan penelitiannya tentang teori Saussurean dan teori bahasa strukturalis. Derrida menginginkan untuk memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan dengan perbedaan yang tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep.

Perbedaan itu bukan suatu identitas dan juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan perbedaan yang di-tunda (defer) karena dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (diffèrer)bisa berartimembedakan (to differ) atau menangguhkan (to defer). (Lechte, 2001, 171)

Konsep Différance ini muncul ketika Derrida mencoba menemukan bagaimana bahasa mempunyai arti, Ia tidak pusa dengan jawaban yang dierikan oleh kaum modernis yang sering keliru karena meletakkan ”arti” dalam kekuatan rasio dan kalimat manusia dipakai untuk mengga,barkan realitas yang sebenarnya.

Derrida mengkritik kaum modernis karena mereka menganggap tulisan sebagai cermin dari ucapan.(Sutrisno, 2005, 168)Kritik Derrida ini terutama ditujukan pada fenomenologi-nya Husserl, dimana Husserl melakukan tindakan pembaharuan terhadap cita-cita modern untuk menciptakan suatu dasar mutlak yang menopang rasio dan bahasa. Husserl mencoba menemukan struktur asal dari pikiran dan persepsi. Baginya usaha itu berhasil karena menggunakan pengetahuan yang muncul dari ”kehadiran-diri”. Dalam karya Husserl, pembedaan yang paling utama adalah pembedaan antara bahasa ”ekspresif” dan ”indikatif” dimana kode ekspresif memuat maksud pribadi, sementara kode indikatif tidak memuat maksud pribadi dan hanya menunjuk pada sesuatu.(Sutrisno, 2005, 169)

Titik berangkat kritik Derrida terhadap Husserl terutama ditujukan pada logika kehadiran. Untuk mengkritik itu maka Derrida menggunakan Différance. Derrida menyerang pendapat Husserl dimana arti dalam terletak dalam kesadaran pribadi, dan terikat pada konteks serta tidak dapat berdiri sendiri. Bagi Derrida sebuah kata tidak mempunyai arti yang tetap dalam dirinya. Kata sebagai signifier juga dibedakan dari konsep, ide, persepsi atau emosi yang ditunjukkan oleh kata itu. Lewat Différance Derrida juga ingin mengkritik tradisi barat yang mengatakan bahwa tulisan hanyalah gambaran atau representasi dari ucapan manusia karena ucapan lebih langsung sifatnya dibandingkan dengan tulisan. (Sutrisno, 1005, 169-170)

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai konsep Différance, berikut ini ada 4 definisi yang menjelaskan hal ini, pertama, Différance adalah sebuah gerakan (aktif atau pasif) yang terdiri dari penundaan, keran penundaan, prutusan, penundaan hukuman, penyimpangan, penangguhan, penyimpanan. Dalam arti ini Différance tidak didahului oleh satuan yang asli dan individualdari kemungkinan dan atau kemungkinan hadir yang kita tempatkan pada penyimpanan. Kehadiran dinyatakan atai diinginkan dalam sifat representatifnya, tandanya atau jejaknya. Dalam hal ini Différance merupakan penundaan atau penagguhan, tetapi masih tetap tanpa ekstase waktu.

Definisi kedua, gerakan Différance adalah akar umum dari semua pertentangan konsep-konsep di dalam bahasa, dalam hal ini Différance tetap merupakan unsur yang sama yang menimbulkan pertentangan atau perlawanan tersebut.

Definisi ketiga, Différance yang menghasilkan perbedaan, adalah syarat dari semua makna dan struktur. Perbedaan-perbedaan yang dihasilkannya itu adalah akibat dari adanya Différance itu sendiri. Perbedaan-perbedaan itu ada secara nyata, bukan ada dalam khayalan. Karena itu konsep Différance bukanlah sekedar struktural aau genetik saja, dan juga Différance bukanlah sebuah konsep yang hanya sederhana saja.

Dan definisi keempat, Différance adalah berbeda secara khusus, tetapi perbedaan in secara ontologis benar-benar ada dan tampak. Dalam artini Différance dan dekonstruksi sering terlihat sama. Dekonstruksi membatalkan ekspresi ganda seperti dalam ucapana atau penulisan.(Sumaryono, 1999,127-128)


Dekonstruksi

Secara filosofis tujuan untuk melakukan dekonstruksi tidak hanya untuk menunjukkan bahwa “hokum-hukum” pemikiran itu tidak lengkap. Akan tetapi kecenderungan yang tampak jelas dalam oeuvre Derrida adalah untuk membangkitkan pengaruh, untuk membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreatifitas dan penemuan baru. (Lechte, 2001, 170-171)

Dekonstruksi memang kata yang sulit untuk didefinisikan, dan Derrida sendiri menolak untuk mendefinisikannya. Namun menurut Derrida dekonstruksi bukanlah sebuah mode atau teknik atau sebuah gaya kritik sastra atau sebuah prosedur untuk menafsirkan teks.

Inti dari dekonstruksi ini berhubungan dengan bahasa, dekonstruksi adalah semua yang ditolaknya. Konsep ini memakai asumsi filsafat atau filologi untuk menghantam logosentrisme. (Sutrisno, 2005, 171)

Fokus utama Derrida adalah bahasa tulisan atau teks, Ia menginginkan setiap manusia dalam membaca teks tidak dengan serta merta terlalu cepat menyimpulkan atau menyingkap arti dalam setiap teks yang dibacanya. Derrida menunjukkan berbagai kesulitan yang ada dalam teori-teori yang memaksa diri mencari keberadaan arti tunggal, baik dengan mengacu pada maksud penulis, aturan-aturan bahasa, maupun pengalaman pembaca. Karena Derrida percaya bahwa sebuah teks senantiasa berkorelasi dan mempunyai konteks sehingga selalu mengandung kemungkinan arti-arti yang lain.

Dengan Dekonstruksi ini Derrida menyerang ilmu filsafat yang dituduh terlalu logosentris dan obyektivistis. Bagi Derrida tidak ada bahasa yang dibatasi oleh dasar trasenden dan baginya mencari dasar transenden bagi bahasa adalah sesuatu yang sia-sia. Menurut Derrida tulisan tidak mempunyai acuan di luar dirinya. Karena itu prinsip utama ilmu filsafat haruslah berupa sistem simbol yang tidak mendasarkan diri pada apa pun yang ada di dalam dirinya, kecuali bahasa. Dan bagi Derrida tujuan ilmu filsafat adalah bukan mempertahankan atau menjelaskan sistem-sistem ini melainkan merobohkannya, atau dengan kata lain merobohkan pendekatan lama yang selalu merujuk pada maksud penulis aslinya menuju pada penemuan arti teks dari luar dirinya.


Penutup

Mencoba memahami kedua konsep yang dikemukakan oleh Derrida diatas memang sangat sulit dan membutuhkan usaha yang lebih. Namun dari sini terlihat bahwa pemikiran Derrida terus konsisten dan terus berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan pemikiran modern.

Pada konsep Différance terlihat usaha Derrida untuk mengkritik persoalan otoritas dan kekuasaan pemikiran modern yang sangat berpihak pada bahasa lisan yang selalu dianggap sebagai bahasa yang mengungkapkan realitas. dari sini juga terlihat bahwa Derrida bukanlah orang yang setuju adanya kebenaran tunggal, obyektif dan universal.

Pada konsep dekonstruksi terlihat bahwa Derrida berusaha mengadakan perubahan dengan sesuatu yang dihasilkannya sendiri. Derrida percaya bahwa untuk melawan pemikiran modern yang percaya akan kebenaran tunggal, ibyektif dan universal maka kita harus berani untuk melakukan penghancuran atau dekonstruksi yang kemudian dilakukan perobakan dan perbaikan pola pikir sehingga didapatkan cara berpikir baru yang lebih terbuka, dan mau menerima pendekatan apa saja dalam mendekati realita sebagai teks.


Daftar Pustaka

Bertens,Kees. 2001.”Filsafat Barat Kontemporer: Prancis”. Jakarta: PT. Pustaka Gramedia

Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius

Sumaryono, E. 1999.”Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat”. Yogyakarta: Kanisius

Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s