AJARAN DAN SABDA-SABDA NIETZSCHE : POINT-POINT NIETZSCHE


SABDA – SABDA NABI



Riwayat Hidup

Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 Oktober 1844. Beliau berasal dari keluarga gereja. Ayah Niezscthe, Karl Ludwig Nietzscthe,  adalah seorang pastur yang alim, sedangkan ibunya, Fransizka Oehler, seorang Lutheran juga. Bahkan, kakeknya pun merupakan seorang pejabat gereja Lutheran. Selama masa kecilnya, Nietzsche dijuluki sebagai “pendeta kecil”. Hal ini memang menunjukkan kalau beliau adalah seorang yang suatu saat kelak akan diprediksi menjadi seorang pendeta walaupun pada akhirnya beliau menjadi seorang ateis.

Banyak hal-hal yang menyedihkan semasa hidup Nietzsche. Semasa perjalanan hidupnya, ayah Nietzsche meninggal dan membuat beliau terpukul. Kemudbeliaun, Nietzsche juga sering sakit keras yang akhirnya membuat Nietzsche berpindah-pindah tempat untuk memperoleh kesembuhan. Namun, keadaan sakit itulah yang membuat beliau menjadi produktif dalam menghasilkan karya. Nietzsche juga merupakan seorang yang tidak memiliki pendamping karena pada saat itu terlibat cinta segitiga antara Lo Salome dan Paul Ree. Pernikahan yang beliau rencanakan ternyata batal karena hal tersebut. Berbagai penderitaan ini mempengaruhi karya-karya beliau dalam pemikiran filsafatnya.

Nietzsche dapat dikatakan sebagai seorang filsuf yang jenius. Beliau sangat pandai berpuisi. Beliau juga sangat pandai berfilsafat, bahkan dapat dikatakan sebagai orang gila. Filsuf-filsuf yang beliau senangi terutama pada filsuf pada zaman kebudayaan Yunani kuno sebelum sokrates, seperti Thales, Herakleitos, dan sebagainya. Beliau sangat terpengaruh oleh seorang filsuf yang bernama  Schopenhauer, namun  juga mengkritik pemikirannya. Salah seorang musisi juga menjadi pengaruh dalam pemikiran Nietzsche. Musisi itu bernama Richard Wagner. Beliau terpengaruh oleh Wagner karena music yang diciptakan Wagner melambangkan semangat kebudayaan yunani. Beliau menjadi dosen hingga akhirnya diangkat menjadi professor di Basel. Beberapa karya terbaiknya adalah Also Sprach Zarathustra, Der Antichrist, Ecce Homo, dan lain-lain.


Mentalitas Apollonian dan Dynosian

Dalam pemikiran Neitzsche, terdapat dua semboyan yang menjadi dasar pemikiran beliau. Semboyan  itu adalah Apollonian dan Dionysos. Masing-masing semboyan tersebut memiliki arti. Apollo merupakan dewa matahari dan ilmu kedokteran.[1] Dengan demikian, mentalitas apollonian merupakan mentalitas di mana mencerminkan kejeniusan orang-orang Yunani, membentuk keharmonisan, keindahan, dan symbol cahaya, ukuran, serta hambatan. Dionysos merupakan dewa anggur dan kemabukan.[2] Mentalitas Dionysos merupakan mentalitas yang melampaui dari segala aturan, yang bebas tanpa mengikuti batasan atas dorongan-dorngan hidup yang tak kenal batas.

Perpaduan mentalitas antara Apollonian dan Dionysian menjadi titik kunci bagi dasar mentalitas ini. Mentalitas Apollonian berfungsi untuk mengendalikan mentalitas Dionysian. Perpaduan antara semangat Apollonian dan Dionysian ini dapat menciptakan pergulatan hidup yang pada akhirnya akan menimbulkan keindahan.


Nihilisme

Nihilismee juga dapat dikatakan sebagai pandangan Nietzsche terhadap dunia ke depannya. Dalam nihilisme, Nietzsche memprediksi keruntuhan suatu zaman di mana akan ada dua bidang yang runtuh, yakni agama dan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, keruntuhan itu sudah dimulai sejak Nietzsche masih hidup. Nietzsche menolak adanya agama karena agama hanya akan memperlemah manusia dengan aturan-aturan yang ada. Oleh karena itu, Nietzsche mengkritik agama Kristen sebagai sesuatu yang manghambat diri manusia. Ada beberapa faktor yang melandasi penolakan Nietzsche terhadap agama Kristen. Pertama, moral Kristen membuat nilai-nilai absolute yang membuat manusia akan menjadi lemah. kedua, moral Kristen berlaku sebagai perintah Tuhan. Ketiga, moral Kristen memberikan nilai absolute yang dianggap penting. Keempat, moral kristen dapat menjadi sarana pemeliharaan manusia.

Satu hal lagi, prinsip Nietzsche tentang nihilisme adalah anggapan beliau bahwa Tuhan telah mati karena manusia telah membunuh dan menguburnya. Penguburan Tuhan dikatakan oleh Nietzsche berupa Requieum aeternam deo, yang berarti “semoga Tuhan beristirahat dalam kedamabeliaun abadi”.[3] Nilai-nilai yang diberikan oleh Tuhan harus dilawan dengan cara memutarbalikkan nilai-nilai tersebut. memutarbalikkan nilai-nilai itu dilakukan dengan cara mengadakan penilabeliaun kembali terhadap nilai-nilai yang sekarang.


Kehendak untuk Berkuasa

Ajaran kehendak untuk berkuasa merupakan ajaran Nietzsche yang berhubungan dengan kehendak seorang manusia untuk berkuasa. Secara singkat, kehendak untuk berkuasa adalah hakikat dari dunia, hidup, dan ada. [4] Nietzsche pernah menulis dalam bukunya yang berjudul Der Wille zur Macht berupa “Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa, dan tak lebih dari itu. Dan Anda sendiri pun adalah kehendak untuk berkuasa, dan tak lebih dari itu!”[5]Jadi, dapat juga kita katakana bahwa prinsip dari kehendak untuk berkuasa adalah hasrat untuk menguasai kekuasaan yang belum dimiliki.

Pemikiran Nietzsche tentang ajaran ini terpengaruh oleh pemikiran Schopenhauer. Dalam buku Schopenhauer yang berjudul The World as Will and Idea, pandangan dunia ini terbagi manjadi dua, yakni dunia nyata dan dunia maya. Namun, Nietzsche tidak mempercayai adanya dunia maya, sebuah dunia yang berada di luar realitas manusia. Nietzsche mempercayai dunia yang nyata. Cara pandang Nietzsche terhadap dunia tidak jauh dari nihilisme yang beliau cetuskan karena pandangan itu mengatakan “ya” pada nihilisme. Dalam dunia ini, manusia harus memperoleh suatu kekuasaan agar dapat membahagiakan dirinya. Kekuasaan itu juga menjadi pedoman hidupnya untuk memperkuat dirinya. Hal ini sangat berkaitan dengan Ubermensch.


Ajaran Ubermensch

Salah satu ajaran yang diperkenalkan oleh Nietzsche adalah ajaran Ubermensch. Banyak persepsi yang mengatakan bahwa ubermensch itu memiliki beberapa arti. Ada yang mengatakan sebagai superman. Namun, ada yang mengatakan bahwa ubermensch memiliki arti overman. Ada juga yang mengartikan ubermensch menurut suku katanya. Ubermensch terdiri dari dua kata, yakni uber (atas) dan mensch (manusia).[6] Jadi, Ubermensch memiliki arti sebagai manusia atas. Dari semua yang dipersepsikan tentang arti kata tersebut, ada satu kesimpulan berupa tujuan dari manusia adalah ubermensch.

Ajaran ubermensch adalah ajaran yang mengajarkan bahwa manusia harus bisa melampaui manusia lain dengan menjadi manusia atas. Ajaran ini berhubungan dengan ajaran kehendak atas berkuasa. Dalam dunia ini, manusia akan memperoleh kebahagiaan apabila kekuasaannya bertambah. Nietzsche mananggap bahwa ada sesuatu yang baik dan buruk. Sesuatu yang baik adalah jika kita berjalan ke depan, yakni mampu menghadapi konflik dan bahaya, seperti perang dalam dunia ini. Sesuatu yang buruk adalah jika kita menengok ke belakang, yakni mengikuti hawa nafsu dari sifat manusia dan menerima intervensi di luar manusia. kebahagiaandalam hidup diperoleh jika kita bergerak maju ke depan untuk menambah kekuasaan. Ketika kekuasaan bertambah, manusia akan semakin bahagia.

Dalam ajaran ubermensch, Nietzsche menganggap bahwa tidak ada dunia di luar manusia. Dunia luar yang dimaksud adalah dunia yang berseberangan dengan manusia, seperti surga dan neraka. Bagi Nietzsche, dunia-dunia yang berseberangan  tersebut hanya akan menghambat manusia untuk menempuh ubermensch. Nietzsche tidak mau menerima pengaruh itu karena adanya nihilisme.


[1] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2004. Hlm. 263

[2] Ibid.

[3] St. Sunardi, Nietzsche. Yogyakarta: LKIS. 2011. Hlm. 35

[4] Ibid. Hlm. 60

[5] F. Budi Hardiman, op. cit. Hlm. 272

[6] St. Sunardi, op. cit.  Hlm. 141


DAFTAR PUSTAKA

Hardiman, F. Budi. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sunardi, St. 2011. Nietzsche. Yogyakarta: LKIS.

Blackham, H. J. 2001. Six Existentialist Thinkers. London: Routleledge & Kegan Paul

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s