NIHLISIME


Nihilisme dapat diartikan sebagai ketiadaan makna serta penolakan pada nilai-nilai absolut, karena itu yang ada adalah kekosongan nilai-nilai. “Nich ist wahr, alles ist erlaubt” Tidak ada sesuatu yang benar, segalanya diperbolehkan (Genecollogy, 1996: 121)

sehingga pernyataan dan pengakuan akan kebenaran dalam pandangan Nietzcshe adalah palsu. Dalam mengatasi nihilisme manusia harus menciptakan nilai-nilainya sendiri dengan mengadakan pembalikan nilai-nilai (transvaluation of all values), pembalikan nilai-nilai ini sebagai bukti kekuatan semnagat untuk menjadi manusia unggul.

Pemikiran Nietzsche bisa diringkaskan sebagai eksistensi manusia lama itu nihilisme, maka mesti diperbaharui. Nihilisme merupakan paham pemikiran yang menyatakan bahwa makna hidup manusia berakhir dalam ketanpaartian. Dalam pemikiran Nietzsche paham ini dipuncakkan dengan menunjukkan nihilisme nilai-nilai yang ada dan ia mewartakan nilai-nilai baru yang harus dihayati secara baru dengan moral baru yang bertolak pada manusia eksis¬tensial secara baru pula. Secara sepintas nihilismenya mempunyai arti yang sama dengan usaha melenyapkan – memusuhi nilai-nilai. Baginya nihilisme berarti melenyapkan nilai-nilai imanen, fisik, sejarah, material dengan cara menegaskan berlakunya nilai-nilai absolut, langgeng. Dengan demikian nilai-nilai yang kita pandang absolut, langgeng itu berlaku sebaliknya bagi Nietzsche. Dalam kerangka nilainya, Nietzsche bertitik tolak dari suatu pandangan revolusioner, yaitu bahwa nilai-nilai absolut (nilai-nilai rohani), transenden dan seterusnya itu benar-benar memalu¬kan, melemahkan manusia sejati yang merupakan kumpulan nilai remeh dan lemah yang diajarkan kaum imam dan penguasa yang mengajak umat manusia untuk baik, tunduk, rendah hati sehingga membuat manusia seperti unta yang mesti membawa semua beban kehidupan di punggungnya. Bagi Nietzsche sebenarnya hanya ada nilai-nilai otentik yang sejati, yaitu nilai-nilai material, nilai-nilai tubuh, nilai-nilai hidup, nilai-nilai dari bumi ini di dunia ini. Nietzsche sendiri sebelum meninggal berkata bahwa dalam seluruh hidupnya ia mempunyai satu tujuan, yaitu melenyapkan nilai-nilai transenden, rohani yang menjadi dasar kebudayaan Barat dan mau melaksanakan penggantian nilai-nilai. Dengan itu ia mau memulai suatu kebudayaan baru “dengan bangkit kembali, menapak selangkah lebih tinggi dari keadaan dan pandangan hidup yang lemah dan sakit menuju tapak konsep-konsep yang lebih sehat, menuju nilai-nilai kepastian dan kekayaan diri pribadi dalam hidup yang penuh. Sayalah guru itu dan dengan kepalan tanganku, aku siap merobek nilai-nilai yang melemahkan untuk menggantinya”.

Semua karangan dan tulisan dari tahun 1888-1889 mengarah ke ambisi tersebut sebagai karya sistematis tentang nihilisme nilai-nilai dan usaha penggantiannya (sampai ia sendiri lalu tidak waras). Jika ditelusuri, ada dua bentuk pemikiran dalam jalan pemikiran nihilisme Nietzsche. Di satu pihak, pemikirannya bersifat merombak, mendobrak, dan menghancurkan (una pars destruens). Di sini yang menonjol adalah pola pemikiran untuk memusnahkan nilai-nilai kekal, absolut dengan seluruh wujud-wujudnya yang diketahui terutama moral, agama, dan filsafat yang mendukung sistem nilai absolut tersebut.

Ia menyerangnya dengan sistematis dan garang. Di lain pihak pemikirannya mempunyai pola membangun (una pars construens) yang meliputi uraian teori baru tentang nilai-nilai lalu disusul konsepsi baru mengenai realitas (itu berarti konsepsi vital dan dionisius). Dari empat buku pokoknya, tiga buku ditulis untuk pola yang pertama, yaitu merombak nilai-nilai absolut dan satu buku untuk pola yang kedua, yaitu untuk membangun dasar nilai-nilai baru. Seluruh karyanya berjudul Volontadi Potenza (Kehendak untuk Berkuasa) atau Transvalutasi (Penggantian Semua Nilai). Ia merencanakan membagi Transvalutasi dalam :
• Buku I : Antichrist, sebagai usaha untuk mengritik habis-habisan Kristianisme.
• Buku II : Roh yang Merdeka (Lo Spirito Libero), sebagai kritik terhadap filsafat yang merupakan usaha yang nihil.
• Buku III :The Immoralist, sebagai kritik terhadap moral yang merupakan ketidaktahuan yang paling kekanak-kanakan.
• Buku IV: Dionisius, sebagai sebuah filsafat tentang kembali¬nya keabadian.

Ia membuat strategi yang cukup pintar dengan menjual pemikiran pertamanya di pasar, lalu nilai-nilai barunya ia masukkan untuk mengganti nilai-nilai lama yang mau dibasminya.

yang pasti kita gak bisa mengartikan ‘God ist Tot’ itu secara harfiah, tapi ini adalah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi menjadi sumber aturan moral dan teleologi bagi manusia. Untuk paham mengapa Nietzsche mengatakan seperti ini, kita juga harus tahu gimana situasi dan kondisi masyarakat Eropa pada waktu itu

Sebenarnya maknanya lebih luas dari itu, ungkapan ini gak cuman mengajak manusia untuk menolak kepercayaan pada dunia kosmis atau tatanan kosmis, tapi juga penolakan terhadap nilai2 yang mutlak. Tuhan adalah salah satu konsep yang bersifat mutlak/absolut, yang telah ribuan tahun dipegang dan berakar dalam masyarakat Eropa, juga bersifat menyeluruh/universal. Jadi sebenarnya yang ingin dibunuh oleh Nietzsche itu adalah sifat absolutisme dan universalitas itu tadi. Salah satu simbol absolutisme bagi masyarakat Eropa pada waktu itu adalah Tuhan. Nah, untuk menghilangkan nilai2 moral absolut itu tadi, maka haruslah lewat sumbernya. Jadi Tuhan harus ‘dibunuh’.

Dengan ‘membunuh’ Tuhan maka Nietzsche telah mematikan nilai-nilai yang bersifat universal itu tadi, juga mematikan absolutisme dan objektivisme. Penolakan ini bisa kita lihat dari pandangan Perspektivisme-nya Nietzsche, dia menilai bahwa kebenaran absolut itu tidak ada, yang ada hanyalah interpretasi dan kebenaran itu adalah semacam suatu kesalahan dimana tanpanya manusia tidak akan bisa hidup. Nietzsche berharap agar manusia itu hidup secara bebas terlepas dari segala makna absolut. Jika suatu nilai kebenaran yang diyakini manusia mulai mengarah pada absolutisme, maka haruslah ditinggalkan!

Istilah ini pertama kali muncul dalam bukunya yang berujudul The Gay Science, lalu dalam buku berikutnya (Thus Spoke Zarathustra), Nietzsche lebih menegaskan lagi tentang ‘kematian’ Tuhan. Dia mengatakan tidak hanya satu Tuhan saja yang dibunuh, tapi juga Tuhan2 lainnya. Soalnya banyak manusia yang masih ‘MENUHANKAN’ sesuatu, entah itu sebuah prinsip, kemajuan, uang, jabatan, dll. Dead are all the Gods

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s