SLIPPERY SLOPE


Slippery slope adalah sebuah alat berpikir logis. Slippery slope merupakan sebuah sistem argumentasi yang biasanya dimulai dari sebuah argumen kecil yang terus bergulir dan menciptakan sebuah reaksi berantai, persis seperti  sebuah benda yang diberilkan dorongan sedikit dan terus bergulir melalui sebuah lereng (slope). Kerapkali, pola ini digunakan untuk menjelaskan sebuah proses yang akhirnya akan mencapai pada sebuah efek yang signifikan. Hanya saja, tidak jarang sebuah argumentasi menggunakan pola slippery slope mengandung formal fallacy, atau argumentasi yang nyata-nyata salah namun tertutup oleh bangunan sebuah argumentasi yang sepertinya meyakinkan. Pola slippery slope ini juga dikhawatirkan memberikan hasil atau kesimpulan yang susah diterima atau tidak disukai karena begitu mengejutkan, meski tidak jarang kesimpulannya benar.

Saya akan coba memberikan sebuah argumentasi menggunakan pola slippery slope yang sebenarnya lebih bersifat suka-suka. Tidak ada yang mutlak menurut saya, dan tentu saja argumentasi ini bisa juga mengandung fallacies. Namun begitu, bukan berarti argumentasi yang saya berikan tidak mengandung kebenaran sama sekali. Selain demi tujuan suka-suka, artikel ini mungkin dapat menjadi semacam refleksi, dimana pembaca dapat mencari hal yang dirasa benar atau sesuai dengan pola pemikiran para pembaca sendiri. Ini juga dirasa dapat menjadi semacam teknik pertimbangan untuk melakukan beragam argumentasi di berbagai kesempatan, salah satunya adalah conversation class, atau debate class, dimana dari kelas yang ampu itulah ide ini berasal.

slippery

Seorang gadis mengatakan bahwa tidak ada salahnya seorang perempuan itu matre (material girl (gadis meterialistis): mengukur segala sesuatu dengan uang/harta/materi), karena ia merasa bahwa perempuan/cewek matre adalah sifat alamiah. Materi adalah hal utama yang harus menjadi pedoman dalam segala hal, termasuk hubungan percintaan dan pasangan hidup.


Logika pertama yang dibangun adalah:

Perempuan adalah matre, maka perempuan akan mencari laki-laki yang kaya atau memiliki kecukupan secara material.

Nah, argumentasi akan bergulir seperti ini:

Laki-laki yang kaya atau berkecukupan secara materi akan mencari perempuan yang cantik dan/atau seksi, ini karena ia kaya, maka ia memiliki ‘kuasa’ untuk memilih pasangan.


Logika kedua yang dibangun adalah:

Laki-laki kaya dan berkecukupan secara materi akan mencari seorang perempuan yang cantik dan/atau seksi. Semakin kaya ia, semakin cantik dan/atau seksi perempuan yang ia inginkan.

Logika masih akan bergulir dengan:

Perempuan hanya bisa matre bila ia cantik dan seksi, karena laki-laki kaya hanya mencari perempuan cantik dan/atau seksi. Semakin cantik dan/atau seksi si perempuan, semakin matre ia.


Bila semua perempuan matre maka semua laki-laki suka perempuan cantik dan/seksi, hanya saja hanya perempuan cantik dan/atau seksi yang bisa mendapatkan laki-laki kaya dan hanya pria laki-laki kaya saja yang bisa mendapatkan perempuan cantik/atau seksi.

Bagaimana dengan seorang perempuan yang cantik/atau seksi juga adalah seorang perempuan yang kaya? Perempuan tersebut tetap akan mencari seorang laki-laki yang jauh lebih kaya – ingat logika awal, perempuan cantik dan/seksi mencari laki-laki kaya, toh semua perempuan matre. Maka ia akan mendatkan seorang laki-laki yang sangat kaya, jauh melebihi dirinya.

Kemudian perempuan cantik dan/atau kaya kemudian pacaran/menikah dengan seorang laki-laki yang kaya.

Kemudiaan ketika laki-laki itu telah bersama sang perempuan, sang laki-laki semakin kaya dan perempuan semakin tua, karena kekayaan dapat bertambah, sedangkan fisik akan semakin berkurang – termasuk kecantikan dan keseksian. Maka, sesuai dengan logika sebelumnya, semakin kaya laki-laki, semakin cantik dan/atau seksi perempuan yang ia inginkan. Ketika pasangan si laki-laki bertambah tua dan kurang cantik dan/seksi, maka si laki-laki akan mencari perempuan yang lebih cantik dan/atau seksi – sesuai dengan logika sebelumnya.

Maka di laki-laki akan selingkuh atau mencari pasangan yang sesuai dengan logika awal.

Perempuan yang cantik dan/atau seksi akan mencari pria yang lebih kaya ketika pasangannya tidak lagi kaya atau kekayaannya menurun – atau hilang dan bangkrut. Maka si perempuan akan selingkuh dengan laki-laki yang kaya.


Kesimpulan logika ini:

1.   Perempuan matre

Karena perempuan mencari harta dan,

2.   Laki-laki hidung belang

Laki-laki mencari perempuan cantik dan/atau seksi.

3. Bila perempuan merasa matre itu bersifat alamiah, maka perempuan tidak boleh mengeluh ketika sang laki-laki berselingkuh atau terus tertarik pada perempuan-perempuan cantik dan seksi, karena laki-laki secara alamiah adalah hidung belang – sesuai dengan logika diatas.

4.  Perempuan yang tidak cantik dan/atau seksi tidak akan mendapatkan laki-laki kaya, dan laki-laki yang tidak kaya tidak akan mendapatkan perempuan yang cantik dan/atau seksi.


Bagaimana dengan wanita yang tidak cantik dan/atau seksi tetapi kaya? Well, tentu saja ia tetap terikat pada logika semula, dimana ia tetap tidak akan mendapatkan laki-laki kaya, karena laki-laki kaya hanya akan mencari perempuan yang cantik dan/atau seksi, bukannya kaya.

Memang argumentasi dengan gaya slippery slope kerap melelahkan dan membuat tidak sabar. Apalagi hasilnya acapkali mengecewakan atau tidak sesuai dengan keinginan. Tetapi, ini memberikan kemungkinan dan kesadaran yang lebih besar, dimana seseorang dapat membuka wawasan dan pola pikir. Sebagai contoh lain dari slippery slope berasal dari Eugene Volokh dalam artikelnya The Mechanisms of Slippery slope dalam sebuah jurnal Harvard Law Review Volume 116:

We accept, because we must, some speech restrictions. We accept some   searches and seizures. We accept police departments, though creating such a department may lead to arming it, which may lead to some officers being willing to shoot innocent civilians, which may eventually lead to a police state (all of which has happened with the police in some places). Yes, each first step involves risk, but it is often a risk that we need to take.” (2003:1029).

Dimana ia memberikan contoh sebuah argumentasi yang terus bergulir dengan hasil yang mengejutkan, yaitu:

“Bila kita bisa menerima adanya Institusi Kepolisian, maka kita harus bisa menerima bila suatu saat seorang petugas polisi menembak seorang warga sipil. Ini karena argumentasi dan logika: Institusi Kepolisian memerlukan senjata, senjata digunakan untuk petugas polisi, senjata juga digunakan untuk menembak, anggota polisi bisa saja menembak seseorang karena anggota polisi tersebut dipersenjatai oleh institusinya yang mana telah disetujui oleh kita – warga.”

Memang seperti yang saya sebut sebelumnya, tidak ada yang mutlak dalam argumentasi yang saya buat, namun begitu, slippery slope digunakan untuk membuat orang lebih terbuka dan memikirkan beragam kemungkinan, dan yang paling utama adalah untuk membuat seseorang yang telah menggunakan sebuah logika tertentu merasa tertantang dan dipaksa menerima resikonya. Seperti contoh dari Volokh diatas, bahwasanya resiko penembakan warga sipil oleh seorang anggota polisi sangatlah besar kemungkinannya, namun resiko yang diambil dengan persetujuan adanya institusi penegak hukum dan penjaga keamanan dianggap sepadan dengan hasilnya.

Slippery slope ini juga saya digunakan untuk menantang para ‘perempuan’ yang merasa percaya diri mengatakan bahwa diri mereka memang materialistis, karena perempuan memang wajar adanya. Siapkah anda menerima resiko bahwa hanya perempuan cantik dan/atau seksi yang dapat memiliki pasangan seorang laki-laki kaya? Atau siapkah anda menerima resiko bahwa bila anda berhasil mendapatkan seorang laki-laki kaya, suatu saat ia akan selingkuh karena ia semakin kaya dan ia menginginkan seorang perempuan yang lebih cantik dan/atau seksi? Atau apakah anda merasa resiko sepadan bila suatu saat anda selingkuh karena pasangan anda mendadak miskin atau kekayaannya menurun, demi logika ‘perempuan itu matre’?

Namun, sekali lagi, tidak ada yang mutlak. Pada dasarnya, tulisan ini hanya demi tujuan ‘suka-suka’. Masih banyak faktor yang tidak dipertimbangkan. Misalnya cinta, kasih sayang, kesetiaan, kepandaian dan kecerdasan, kepercayaan dan sebagainya. Toh slippery slope yang saya gunakan hanya suka-suka, dan jawaban anda juga bisa suka-suka.

contoh slippery slope - nikodemusoul.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s