SISIFUS


Sisifus merupakan salah satu sosok paling sedih yang pernah diciptakan oleh mitologi. Dikisahkan bahwa Sisifus di Tartaross (semacam neraka dalam Mitologi Yunani), dia dihukum oleh para dewa untuk mengangkat batu besar ke atas bukit. Setelah sampai di atas, batu tersebut akan menggelinding kembali ke bawah dan Sisifus harus mengangkatnya lagi ke atas bukit dan batu tersebut menggelinding lagi, diangkat lagi, demikian seterusnya. Pendek kata, Sisifus dikutuk untuk melakukan hal yang sia-sia sampai selama-lamanya. Sial betul.

Kisah Sisifus ini hanyalah mitos belaka, tetapi sebuah kisah biasanya tidak lahir begitu saja. Biasanya, ada desakan sosial dan politis yang menyebabkan sebuah kisah lahir di dunia. Bila dikait-kaitkan dengan sembarangan, kisah Sisifus ini bisa ditemui dimana saja, pada diri siapapun.

Ambil saja sebuah contoh, seorang karyawan sebuah perusahaan. Sebagai karyawan, dia dituntut untuk bekerja lima hari seminggu, demi gaji yang akan ia peroleh setiap akhir bulan. Ketika gaji sudah diterima, ia habiskan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. Lalu ia harus bekerja lagi, lalu terima gaji, demikian untuk seterusnya. Membosankan? Tentu saja! Saya cukup yakin, bahwa menjadi karyawan dengan rutinitas yang itu-itu saja adalah sebuah pilihan yang menjemukan. Setidaknya, bisa dilihat dari laku kerasnya buku-buku tentang pengembangan karir.


KACAMATA ABSURD

Ada yang mengherankan dari kisah Sisifus, yaitu kenapa dia tidak memberontak saja? Diamkan saja batunya di bawah bukit. Atau biarkan saja batu tersebut menggilasnya, biar patah tulang, hingga ia bebas dari tugasnya yang sia-sia dan menyedihkan itu.

Tapi, Sisifus dengan patuh dan setia tetap mengangkat batu tersebut ke atas bukit, untuk menggelinding kembali ke kaki bukit, untuk diangkat lagi, dan seterusnya. Mungkin orang-orang bisa melihat sosok Sisifus sebagai sosok yang sial dan tragis. Hidupnya diisi dengan perjuangan yang konstan dan sia-sia. Kesia-siaannya ini yang membuat kisah sisifus tersebut menjadi begitu tragis dan menyedihkan.

Kisah Sisifus tentang perjuangannya mengangkat batu yang sia-sia ini sedemikian absurdnya, maka dari itu, ada baiknya kita meminjam kacamata Albert Camus.

Albert Camus, pencetus Absurdisme, punya pandangan lain tentang Sisifus. Sisifus bisa dikatakan tragis dan menyedihkan bila ia memiliki harapan, jika ia yakin ada hal yang lebih baik dibandingkan dengan mengangkat batu ke puncak bukit. Tetapi, Sisifus dengan setia tetap melakukan rutinitasnya itu. Hukuman untuk mengangkat batu itu diterimanya dengan lapang dada, ia menerima nasibnya itu dengan patuh.

Sisifus adalah gambaran tokoh yang memahami keterbatasan yang ia miliki, juga ia adalah tokoh yang memahami nasibnya. Dengan memahami kedua hal tersebut, ia menjadi sadar akan eksistensi dirinya, siapakah dia, dan apa kemampuannya. Kutukan Sisifus akan terlihat mengerikan baginya bila ia mengharapkan suatu keadaan yang lebih baik.

Tapi Sisifus menerima nasibnya. Sisifus menanggalkan harapannya, ia tidak memimpikan keadaan yang lebih baik, dan dengan begitu, ia tidak merasakan bahwa nasibnya itu buruk. Sebaliknya, ia menemukan kebahagiaan disitu, dalam setiap jengkal langkahnya tatkala ia mengangkat batunya menuju puncak bukit. Karena kebahagiaan itu hanya bisa diraih ketika seseorang mau menerima kehidupan dan nasibnya.


PARADOXICAL SISYPHUS

Di suatu bagian dunia yang mati, begitu ditulis oleh Homerous dalam The Iliad dan Odyssey, ada sebuah gunung yang tinggi. Gunung yang bersal dari Yunani. Di lerengnya yang terjal dan curam, bebatu dan penuh kerikil tajam, berliku dan kelam, mudah longsor dan seram; seorang lelaki berotot kuat, berkulit liat, bermandi keringat, dengan mata membeliak dan kaki terhentak-hentak menghela sebuah batu raksasa, mendorongnya ke puncak yang runcing menusuk langit.

Ini entah sudah kali keberapa, dan tiap kali ia menyelesaikan kerjanya, batu itu menggelinding kembali ke bawah dengan mudah. Lalu ia harus memulai dari awal; menyungkah batu itu menyusur tebing menuju puncak, terluka dan pedih, lelah dan perih, getir dan sedih; untuk kemudian batu bergegas turun, memintanya mengulang kutukannya yang abadi.

Lelaki itu Sisyphus namanya.

Selam berabad-abad dalam peradaban Barat, nama dan kisah ini menjadi lambang perjalanan hidup manusia yang nirhasil dan tanpa makna. Lelah menyiksa sekaligus tak berguna. Harapan yang setapak-tapak sampai ke puncak lalu sekejap sirna. Sia-sia sekaligus mengerikan.

Dalam cerita ini, sang gunung merasa menjadi yang paling tersiksa. Maka ia pun berkata,“Betapa bahagia menjadi Sisyphus yang berjalan-jalan antara kaki dan puncakku. Batapa bahagia menjadi batu yang punya Sisyphus untuk membantunya naik agar mengelindingkan dengan ceria. Bagaimana dengan aku yang diinjak-injak nista oleh mereka berdua ?”

Tetapi sang batu juga merasa menjadi yang paling merana. “ Betapa bahagia menjadi Sisyphus yang tubuhnya terlatih, kian kuat dan perkasa tiap kali mendorongku ke puncak sana. Betapa bahagia menjadi gunung yang berdiam anggun dalam rehatnya saat kami kepayahan mendakinya. Bagaimana dengan diriku yang di bawa ke atas hanya untuk terbanting kesakitan setiap waktu ?”

Demikian pulan Sisyphus merasa menjadi yang paling nestapa. Betapa bahagia menjadi batu yang tiap saat harus kuhela, dan tiap jatuh harus kusangga. Batapa bahagia menjadi gunung yang besar dan perkasa, kakinya di bumi dan puncaknya di angkasa. Bagaimana dengan diriku yang tanpa jeda harus mendorong batu dan mendaki lerengnya ?”

One thought on “SISIFUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s