RIWAYAT & PEMIKIRAN NIETZSCHE


Friedrich Nietzsche adalah filsuf abad 19 yang lahir di Röcken, Jerman Timur pada 15 Oktober  tahun 1844.  Memahami filsafat Nietzsche melalui penyelaman ke dalam beberapa karya yang ditulisnya merupakan pekerjaan yang cukup sulit karena gaya penyampaian Nietzsche dalam karya-karyanya tidak seluruhnya sistematis. Dalam beberapa karyanya seperti On The Genealogy of Morality Nietzsche menulis dalam bentuk kumpulan esei yang saling terkait secara sistematis namun dalam beberapa karya lain Ia menulis dalam aforisme-aforisme pendek yang nampak sederhana dan to the point seperti dalam buku dan Also sprach Zarathustra (Thus Spoke Zarathustra). Terdapat pula penulisan aforisme dengan topik yang melompat-lompat seperti pada Die fröhliche Wissenschaft (The Gay Science) atau Ilmu Ceria. Meskipun demikian, setelah berusaha memahami apa yang ingin disampaikannya ternyata keunikan gaya menulis Nietzsche mengandung makna-makna yang mendalam dan subtil.

Setelah membaca beberapa karya asli Nietzsche dan bantuan berharga dari buku-buku tafsir atas teks Nietzsche, beberapa konsep-konsep kunci yang ingin disampaikan oleh Nietzsche dapat terlihat. Agak sulit untuk memahami dan meringkas pemikirannya dalam beberapa halaman saja oleh sebab itu dalam tulisan ini penulis pertama-tama akan membahas kehidupan Nietzsche secara singkat, kemudian memaparkan konsep-konsep kunci dalam filsafatnya yakni: Pencarian Kebenaran, Kematian Tuhan, Moralitas Tuan dan Budak, Manusia yang Melampaui (Übermensch). Dalam tulisan ini penulis tidak berpretensi untuk menjelaskan pemikiran Nietzsche secara komprehensif dan menyeluruh karena hal tersebut tidak mungkin dipaparkan hanya dalam beberapa paragraf saja. Penulis mencoba untuk merangkum beberapa konsep-konsep kunci Nietzsche (walaupun tidak semuanya) yang diambil melalui pecahan-pecahan tulisan dari beberapa karya-karya Nietzsche dan karya-karya interpretasi atas teks Nietzsche.


Riwayat Singkat Kehidupan Nietzsche

Nietzsche menerima beasiswa di sebuah sekolah asrama Protestan dan lulus tahun 1864. Setelah lulus Nietzsche melanjutkan studi ke Universitas Bonn untuk belajar teologi dan filologi (studi interpretasi teks klasik dan teks biblikal).  Pada abad 19 filologi mengacu pada studi bahasa dan literatur. Istilah ini jarang dipakai pada masa kini karena sudah ada pembedaan antara pertanyaan-pertanyaan pada studi literatur dan studi bahasa. Pada masa-masa perkuliahan, Ia menemui banyak momen yang merubah cara pandangnya terhadap kehidupan termasuk berkenalan dengan tulisan-tulisan Arthur Schopenhauer, berkenalan dengan komposer dan penulis drama terkenal Jerman, Richard Wagner, mengambil karir akademis, bergabung dengan militer,  serta tertular penyakit sipilis yang mendera sampai akhir hayatnya.

Tahun 1865 Nietzsche membaca buku Schopenhauer yakni Die Welt als Wille und Vorstellung (Dunia sebagai Kehendak dan Representasi) yang memengaruhi filsafat dan kehidupan Nietzsche selanjutnya. Nietzsche mengklaim bahwa buku ini mengubah dirinya menjadi filsuf. Di dalam buku ini Schopenhauer menyatakan konsepnya tentang kehendak sebagai kekuatan pendorong dalam kehidupan. Nietzsche kemudian memperluas dan memodifikasi ide Schopenhauer ini menjadi “Kehendak untuk Berkuasa”. Nietzsche bersahabat dengan Wagner yang mana Wagner memuji buku pertama The Birth of Tragedy from the Spirit of Music, namun persahabatan ini tidak berlangsung lama karena beberapa perbedaan pandangan di antara keduanya. Nietzsche menolak pandangan Wagner yang anti-semit dan tenggelam dalam fanatisme Kristen yang dinilai Nietzsche sebagai kemunafikan. Nietzsche juga sempat menjadi guru besar di Basel, Swiss tahun 1869 dan mengajar puisi-puisi dan lirik Yunani, gramar bahasa latin, pengantar studi Plato, dan pemikiran Sophocles. Nietzsche hanya mengajar sampai tahun 1879, karena ia mulai merasakan sakit yang dideritanya.

Setelah berhenti mengajar, Ia sempat bergabung dengan militer pada perang Franco-Prussia namun tidak berlangsung lama karena ia menderita masalah dengan kesehatannya. Nietzsche kemudian menjadi filsuf pengembara dan berkeliling  Swiss, Perancis, dan Italia serta menjadi penulis buku yang aktif walaupun buku-buku Nietzsche baru menjadi terkenal setelah kematiannya. Beberapa rumor juga beredar bahwa Nietzsche tertular sipilis karena ia senang main perempuan di rumah-rumah pelacuran. Penyakit inilah yang kemudian pada akhirnya mendera Nietzsche sampai akhir hayatnya dan memengaruhi cara pandang Nietzsche terhadap sakit dan kehidupan. Nietzsche meninggal tahun 1900 setelah sebelumnya mengalami penurunan mental dan menjadi gila.


Beberapa Karya Terpenting Nietzsche

Die Geburt der Tragödie,  (The Birth of Tragedy), 1872

Philosophie im tragischen Zeitalter der Griechen, (Philosophy in the Tragic Age of the Greeks), 1873

Über Wahrheit und Lüge im außermoralischen Sinn, (On Truth and Lies in a Nonmoral Sense) 1873

Menschliches, Allzumenschliches, (Human, All-Too-Human), 1878

Vermischte Meinungen und Sprüche, (Mixed Opinions and Maxims), 1879

Morgenröte, (The Dawn), 1881

Die fröhliche Wissenschaft, (The Gay Science) 1882, 1887

Also sprach Zarathustra, (Thus Spoke Zarathustra), 1883-5

Jenseits von Gut und Böse, (Beyond Good and Evil), 1886

Zur Genealogie der Moral, (On the Genealogy of Morality), 1887

Der Fall Wagner, (The Case of Wagner), 1888

Götzen-Dämmerung, (The Twilight of the Idols), 1888

Der Antichrist, (The Antichrist), 1888

Ecce Homo, 1888

Der Wille zur Macht, (The Will to Power), 1901


Konsep-konsep kunci dalam filsafat Nietzsche


Pencarian Kebenaran

Apakah kebenaran itu? Darimankah asalnya? Sebagai manusia kita seringkali menerima secara begitu saja konsep apapun yang diberi emblem sebagai suatu “kebenaran”. Saat kita dihadapkan pada pernyataan bahwa ada apel berwarna merah, kita langsung mengafirmasi bahwa benar ada apel yang memang berwarna merah. Dan jika ada seseorang mengatakan bahwa ada apel yang berwarna biru kita pasti akan langsung menyalahkan pernyataan orang tersebut dan akan mengklaim pernyataan orang itu sebagai kesalahan jika ia memaksakan pandangannya bahwa ada apel berwarna biru. Seseorang mungkin dapat mati-matian mempertahankan pernyataan bahwa warna beberapa apel memang merah karena hal itu sesuai dengan persepsi inderawi yang tertangkap melalui mata manusia, ditambah lagi dengan pengetahuan umum yang telah kita terima selama ini menegaskan bahwa memang benar beberapa apel itu berwarna merah.  Namun apakah secara absolut warna beberapa apel itu sebagai the thing in itself  atau das ding an sich? Apakah ini sebuah jawaban ultim yang harus kita terima sebagai sebuah kebenaran akhir saat kita mempertanyakan warna apel tersebut? Jika jawabannya adalah ya, mengapa manusia dapat sampai kepada kesimpulan tersebut dan menganggapnya sebagai pernyataan obyektif yang tidak perlu dipertanyakan keabsahannya? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin lebih mengacu pada obyektivitas kualitas properti warna yang terdapat pada sebuah apel. Dari contoh ini kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar lagi yakni mengapa manusia terdorong untuk menyatakan bahwa sesuatu adalah benar dan yang lainnya adalah salah?

Melalui contoh ini kita dapat melihat pada pertanyaan Nietzsche dalam karyanya yakni On Truth and Lies in a Nonmoral Sense[1] yakni: “Darimanakah asal dorongan manusia terhadap kebenaran berasal? Nietzsche berkata bahwa tahap pertama dorongan manusia terhadap kebenaran berasal dari efek dissimulation atau pemalsuan/penyembunyian dan deception atau penipuan yang dilakukan oleh individu.

This art of dissimulation reaches its peak in man. Deception, flattering, lying, deluding, talking behind the back, putting up a false front, living in borrowed splendor, wearing a mask, hiding behind convention, playing a role for others and for oneself –in short, a continous fluttering  around the solitary flame of vanity- is so much the rule and the law among men that there is almost nothing which is less comprehensible than how an honest and pure drive for truth  could have arisen among them.[2]

Setiap individu mempraktekan kepura-puraan terhadap satu sama lainnya untuk bertahan dalam masyarakat. Namun lambat laun orang sadar bahwa kepura-puraan dan penipuan ini dapat mengarah kedalam perang antara orang-orang itu sendiri. Oleh sebab itu sebuah pergeseran dari penipuan menuju sebuah kesepakatan damai terjadi dengan membuat aturan-aturan umum dan larangan-larangan dalam masyarakat. Kebenaran pada tahap ini merupakan tujuan umum dan mengikat yang merupakan legislasi bahasa karena perbedaan antara kebenaran dan kebohongan muncul untuk pertama kalinya.

Namun, Nietzsche meragukan kebenaran yang dipertahankan dan diagungkan oleh orang-orang sebagai kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran yang murni, yang bebas dari kepentingan pragmatis sekelompok orang. Kebenaran merupakan kata yang disetujui melalui konvensi bahasa. Ia mempertanyakan apakah konvensi bahasa merupakan produk pengetahuan yang mendekati kebenaran yang sebangun dengan berbagai hal yang direpresentasikan oleh produk bahasa itu? Nietzsche meragukannya. Ia berargumen:

“It is only by means of forgetfulness that man can ever reach the point of fancying himself to posses a “truth” of the grade just indicated. If he will not be content with empty husks, then he always exchange truths for illusions”[3]

Manusia lupa bahwa kebenaran yang diyakininya hanyalah semata-mata sebuah kata yang mana jika ia tetap mempertahankannya, ia akan selalu mempertukarkan kebenaran yang dipegangnya dengan ilusi semata.Nietzsche memberi contoh seperti dalam bahasa Jerman, Orang Jerman membagi hal-hal kedalam jender seperti sebuah pohon (der Baum) sebagai maskulin dan tanaman (die Pflanze) sebagai feminin. Ia berpendapat bahwa kata-kata tidak pernah dipertanyakan sebagai kebenaran dan juga tidak pernah dipertanyakan sebagai sebuah ekspresi yang memadai.

Menurut Nietzsche, kata merupakan salinan suara dari stimulus syaraf yang tidak bisa secara sempurna merepresentasikan kebenaran yang murni. Menurutnya kebenaran yang murni (the thing in itself) merupakan sebuah hal yang tidak dapat dipahami oleh pencipta bahasa. Para pencipta bahasa hanya menunjukan hubungan-hubungan dari berbagai hal dengan manusia dan untuk mengekspresikan hubungan ini mereka menggunakan metafor-metafor.  Proses munculnya sebuah kata sebagai stimulus syaraf manusia dijelaskan oleh Nietzsche: Tahap pertama sebuah stimulus syaraf diterjemahkan kedalam sebuah gambar, yang merupakan metafor pertama, kemudian tahap kedua gambar itu diimitasikan ke dalam sebuah bunyi, yang merupakan metafor kedua. Sebagaimana dikatakan Nietzsche:

“Thus the genesis of language does not proceed logically in any case, and all the material within and with which the man of truth, the scientist, and the philosopher later work and build, if not derived from never-never land, is at least not derived from the essence of things.”[4]

Jadi apakah sesungguhnya kebenaran menurut Nietzsche? Terjemahan bahasa Indonesia dari buku A. Setyo Wibowo “Gaya Filsafat Nietzsche” tentang kebenaran menurut Nietzsche:

“Jadi, apa itu kebenaran? Kumpulan-bergerak dari metafor dan metonimi, antropomorfisme, singkatnya sejumlah relasi-relasi manusiawi yang telah ditinggikan, ditransposisikan, dan dihiasi dengan puisi dan retorika, yang setelah lama digunakan lalu tampak mapan, kanonik, dan bersifat mengikat bagi sekelompok orang; kebenaran-kebenaran adalah ilusi-ilusi yang telah dilupakan bahwa mereka itu ilusi, metafor-metafor usang yang telah kehilangan kekuatannya, keping uang yang telah terhapus gambarnya yang tidak lagi dianggap sebagai uang melainkan logam belaka.”[5]

Jadi, Nietzsche menganggap bahwa kebenaran itu merupakan hasil subyektivitas manusia yang dilupakan manusia bahwa kebenaran itu merupakan ilusi belaka. Manusia dengan tidak sadar mengacu kepada kebiasaan-kebiasaan lama dan kelupaannya akhirnya sampai kepada perasaan kebenaran. Poin Nietzsche bukanlah berkata bahwa tidak ada hal apapun yang berupa kebenaran, namun bahwa kerap kali manusia melupakan atau dengan sengaja menekan fakta bahwa konsep kebenaran dikehendaki untuk ada untuk mengurangi konflik sosial dan memungkinkan perkembangan bentuk-bentuk baru dalam kehidupan.[6] Dengan demikian Nietzsche sepertinya ingin mendobrak dan menghancurkan kepercayaan membuta manusia dan kehausan manusia akan kebenaran melalui tulisannya ini.


Moralitas Tuan dan Budak

Nietzsche mengategorikan moralitas ke dalam dua kategori yakni moralitas Tuan dan moralitas Budak. Ini adalah sebuah deskripsi dan bukan sebuah resep yang ditujukan Nietzsche untuk diikuti oleh pembacanya. Ia sepertinya ingin agar pembaca karyanya melihat dinamika dan ketegangan di antara kedua moralitas tersebut.

Dalam moralitas Tuan, Nietzsche menjelaskan bahwa pertentangan antara “yang baik” dan “yang jelek” berarti sama dengan “yang terhormat” atau the noble dan “yang buruk”. Kategori yang jelek dan buruk ada pada moralitas budak. Ia berkata bahwa tipe orang yang memiliki moralitas tuan merasa hina di hadapan kepengecutan, tidak suka dengan orang-orang yang cemas, orang-orang yang remeh, orang-orang yang curiga, dan para tukang tipu. Kategori moralitas tuan ini mengalami dirinya sendiri sebagai nilai-nilai penentu dan tidak membutuhkan persetujuan dari orang lain. Lebih lanjut Nietzsche berujar dalam bukunya Beyond Good and Evil bahwa:

“the noble person will also help the unfortunate, but not, or not entirely, out of pity, but rather from the urgency created by an excess of power.The noble person reveres the power in himself, and also his power over himself, his ability to speak and to be silent, to enjoy the practice of severity and harshness towards himself and to respect everything that is severe and harsh.”[7]

Seseorang dengan moralitas tuan membantu orang lain yang kurang beruntung bukan karena belas kasihan namun sebagai dorongan yang tercipta melalui kelebihannya memiliki kekuasaan. Sebaliknya, Nietzsche berpendapat bahwa para orang-orang bermoralitas budak tidak menyetujui keutamaan yang dimiliki oleh mereka yang memiliki kuasa karena para mental budak ini ragu dan curiga kepada pemegang kuasa. Ia berkata bahwa orang-orang bermoral budak ini menghargai rasa belas kasihan, perasaan ramah, yang berhati hangat, penyabar, rendah hati, dan bersahabat.

Dalam buku Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, pada bagian tentang Nietzsche, Hamersma menulis bahwa suatu ketika para budak memberontak dan membalikkan semua nilai. Moral mereka mejadi norma satu-satunya. Revolusi ini menurut Nietzsche dimulai oleh orang Yahudi. Nabi-nabi Yahudi berhasil memberi arti negatif pada semua kata kunci “baik” dari kaum bangsawan dan yang kuat. Tempat “kebaikan”kasta tinggi diambil alih oleh “kebaikan hati”, dan “kerendahan hati” berasal dari kasta rendah. Perbuatan ini berasal dari rasa benci dan sakit hati serta melawan alam. Karena setelah perbuatan para budak ini yang tidak kuat, yang miskin, yang celaka, yang menderita, yang jelek, dan seterusnya disebut “baik”. Yang mulia, tinggi, dan bagus menjadi “jahat”.[8]

Tiap-tiap moralitas yang dideskripsikan oleh Nietzsche oleh sebab itu berpegang pada nilai-nilai yang bertentangan dan berada dalam konflik antara satu dengan yang lainnya. Nietzsche lebih lanjut menulis:

“According to slave morality, then, the ‘evil’ person evokes fear;according to master morality, it is exactly the ‘good’ person who evokes fear and wants to evoke it, while the ‘bad’ person is felt to be despicable.”[9]

Jadi, kedua tipe moralitas ini berada dalam ketegangan diantara satu dengan yang lainnya.


Kematian Tuhan

Dalam bukunya The Gay Science bagian ketiga no. 125, Nietzsche menulis sebuah aforisme yang sangat terkenal tentang orang sinting yang menyalakan lentera di siang hari dan berteriak-teriak ditengah kerumunan orang-orang yang kebanyakan sudah tidak lagi percaya pada Tuhan di sebuah pasar. Ia berteriak “Aku mencari Tuhan, Aku Mencari Tuhan.” Si sinting tidak menemukannya dan berkata bahwa “Tuhan telah mati, Tuhan tetap mati, dan kita adalah pembunuhnya, kamu dan saya”. Pada bagian akhir aforisme tentang orang gila ini Nietzsche menulis : “Apakah gereja-gereja itu kalau bukan makam dan kuburan Tuhan?.”[10]

Berbagai macam tafsir bisa muncul sebagai reaksi atas tulisan Nietzsche ini yakni apakah Ia seorang ateis atau anti-teis. Beberapa pendapat kaum teistik bahkan menyerang Nietzsche secara ad hominem dengan membawa-bawa kegilaan yang diderita Nietzsche sehingga wajar saja jika Ia menolak Tuhan. Perbedaan tafsir atas Nietzsche ini merupakan hal yang wajar karena karyanya dibaca oleh orang-orang yang masih percaya pada Tuhan dan orang ateis. Meminjam penjelasan A. Setyo Wibowo bahwa si sinting dalam teks Nietzsche menganggap pembunuhan Tuhan merupakan hal yang serius di tengah-tengah ketidakpedulian orang yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tidak perlu dibahas lagi. Nietzsche mengajak orang sejamannya di Eropa untuk menyadari konsekuensi dari hilangnya Tuhan sebagai horizon yang membuat kita kehilangan arah dan tujuan masuk dalam kegelapan total.[11] Bagi sebagian orang, hidup tidak berarti lagi tanpa Tuhan.

Mungkin Nietzsche mengajak kita untuk menemukan sebuah pandangan baru setelah kematian Tuhan, walaupun mungkin bukan sebuah pandangan yang dipegang sebagai idée fix yang tidak dapat diganggu gugat seperti ide tentang Tuhan yang dibela mati-matian oleh orang fanatik. Lalu apakah pegangan yang menjadi makna baru pada kehidupan? Jawabannya mungkin dapat diperoleh dari teks Nietzsche lainnya, Thus Spake Zarathustra. Dalam bagian pertama, prolog nomor ketiga buku ini, Zarathustra mengajarkan tentang overman atau Übermensch, manusia yang melampaui. Ia menulis:

“Behold, I teach you the overman! The overman is the meaning of the earth. Let your will say: the overman shall be the meaning of the earth! I beseech you, my brothers, remain faithful to the earth and do not believe those who speak to you of extraterrestrial hopes! They are mixers of poisons whether they know it or not.”[12]

Nietzsche berpendapat melalui figur Zarathustra bahwa manusia yang melampaui adalah makna dari bumi yang bisa dibaca sebagai tempat manusia hidup. Ia mengajak kita untuk tidak memercayai harapan-harapan yang bersifat di luar bumi. Teks selanjutnya berbunyi:

Once the sacrilege against God was the greatest sacrilege, but God died, and then all these desecrators died. Now to desecrate the earth is the most terrible thing, and to esteem the bowels of the unfathomable higher than the meaning of the earth![13]

Nietzsche menyatakan bahwa karena Tuhan telah mati dan para penghujatnya juga sudah mati, sekarang hal yang paling buruk adalah mereka yang menodai bumi dan yang mengharapkan sesuatu yang lebih tinggi dari makna bumi atau kehidupan itu sendiri. Jika Übermensch merupakan makna baru bagi kehidupan manusia, lalu apakah manusia yang melampaui itu? Oleh sebab itu kita akan masuk pada pembahasan tentangnya dalam bagian berikutnya.


Manusia yang Melampaui ( Übermensch)

Melalui idenya tentang moralitas budak dan warta kematian Tuhan, Nietzsche menolak untuk hidup dalam ketakutan, kepura-puraan, dan tidak bisa mengambil jarak karena manusia budak lupa bahwa konsep-konsep yang dipegangnya hanya metafor-metafornya yang diciptakannya sendiri. Manusia bermoral budak ini sudah terlalu lama tenggelam dalam kesakitannya. Dalam teks Zarathustra, Nietzsche berkata:

“I teach you the overman. Human being is something that must be overcome. What have you done to overcome him? All creatures so far created something beyond themselves; and you want to be the ebb of this great flood and would even rather go back to animals than overcome humans?[14]

Ia berpendapat bahwa manusia (human being) merupakan sesuatu yang harus diatasi atau dilampaui supaya manusia tidak kembali menjadi sekedar binatang buas saja. Manusia yang melampaui adalah tujuan yang harus dicapai untuk mengisi kekosongan berujung nihilisme setelah kematian Tuhan, oleh sebab itu harapan tertinggi manusia yang baru adalah sang Übermensch. Hal ini ditegaskan melalui tulisan pada bagian prolog nomor lima dari teks Zarathustra:

It is time that mankind set themselves a goal. It is time that mankind plant the seed of their highest hope.[15]

Nietzsche berkata bahwa pelampauan manusia sesungguhnya adalah mengatasi diri sendiri yang artinya mengatasi ketakutan-ketakutannya sendiri, menyadari nilai dan maknanya sendiri. Seseorang perlu menyadari kekuatannya sendiri untuk mencipta. Pada bagian kedua karyanya ini tentang self-overcoming, melalui Zarathustra, Nietzsche berkata  tentang rahasia kehidupan:

And this secret life itself spoke to me: “Behold,” it said, “I am that which must always overcome itself.[16]

Manusia perlu untuk mengatasi dirinya terus menerus melalui transformasi diri.

Apa sajakah tahapan transformasi manusia menjadi manusia yang melampaui menurut Nietzcsche? Jawabannya dapat ditemui pada teks tentang tiga metamorfosis roh. Roh pertama adalah roh unta, dari unta bermetamorfosis menjadi singa, dan dari singa menjadi bayi manusia. Menurut A. Setyo Wibowo sikap unta adalah sikap iya secara naif terhadap apa saja yang datang. Roh yang selalu membutuhkan beban eksternal untuk selalu bertahan hidup. Saat unta menyadari bahwa beban yang dipanggulnya tidak lagi bermakna dia akan berubah menjadi Singa. Singa merupakan roh menidak naif yang hanya tahu untuk berkata tidak karena takut apa yang menyentuhnya akan menundukanya dan merebut daerah kekuasaanya. Roh singa ini tidak akan menciptakan nilai-nilai baru karena selalu menidak. Saat singa menjadi roh seorang bayi, roh ini kemudian punya kemampuan untuk bersikap sekaligus iya dan tidak dengan kepolosannya. Ia akan mendapatkan dunianya yang baru, yakni menciptakan dunianya sendiri.[17] Memiliki roh bayi ini, manusia menjadi manusia yang melampaui karena ia mempunyai kekuatan untuk mencipta makna dengan posisi iya dan tidak sekaligus agar tidak terjatuh dalam salah satu ekstrim saja.

Mengambil pendapat Lee Spinks, Übermensch mewakili sebuah visi kreatif dan afirmatif kehidupan yang melampaui negativitas nihilisme, ressentiment, dan moralitas budak. Ajaran Nietzsche ini berusaha mengatasi pengalaman nihilistik yang dihasilkan dari kematian Tuhan dan untuk mengafirmasi sebuah interpretasi baru atas eksistensi tanpa pertolongan nilai-nilai supernatural. Interpretasi baru kehidupan ini mempertimbangkan sebuah cara baru untuk mengada yang hanya mengetahui tentang afirmasi dan menciptakan nilai-nilai melalui keberlimpahan kehendak dan kekuatan. Untuk mengafirmasi eksistensi melalui perspektif ini artinya mengatasi visi reaktif manusia dan mistifikasi sebuah dunia “atas” dan menekankan perbedaan antara bentuk kehidupan yang menaik (ascending) dan menurun (descending). Manusia yang melampaui memperkuat re-interpretasi aktif dari kehidupan melalui ajaran tentang eternal reccurence atau kekembalian yang sama secara abadi. Kekembalian yang sama secara abadi ini menggambarkan sebuah visi non-teleologis kehidupan dan sebuah filosofi tentang kekuatan dan afirmasi. Individu yang kuat mampu untuk merengkuh kekembalian abadi yang tak terhidarkan dari seluruh pengalaman masa lalunya, yang baik maupun yang buruk karena ia memiliki kekuatan untuk memilih mana dari pengalaman-pengalaman yang ingin diafirmasinya, yang oleh sebab itu menciptakan sebuah interpretasi baru kehidupan yang melampaui setiap moral dan evaluasi reaktif.[18]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s