NIETZSCHE : ROH UNTA, SINGA, BAYI


Lahir, hidup, bertumbuh, sakit, dan pada akhirnya mati adalah pengalaman yang selalu ada sejak manusia ada di dunia. Setiap pengalaman tersebut dialami oleh setiap individu dari sekian banyak wajah kehidupan. Yang membedakannya adalah cara memaknai setiap pengalaman yang ada. Cara memaknai menentukan pula makna yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Setiap orang yang memaknai hidupnya secara berbeda, ada yang bahkan tidak menemukan makna hidup dalam kehidupannya sehingga hidup itu diakhiri dengan kematian melalui bunuh diri.

Friedrich Nietzsche (1844), filsuf yang menguraikan dengan sangat bagus mengenai pengalaman manusia itu, terutama pengalaman sakit. Uraian tentang pengalaman sakit itu tidak berangkat dari ruang kosong sebab dia sendiri, yang membahas tentang pengalaman sakit itu, mengalami sakit yang sedemikian hebatnya. Pengalaman sakit oleh Nietzsche dilihat sebagai suatu hal yang datang begitu saja kepada setiap orang. Terhadap pengalaman tersebut, Nietzsche menyikapinya secara bijak artinya ia tidak menolak sakit dengan sikap lantang tak gentar atau pun menerima dengan sikap pasrah tetapi ia menerima dan mengolah rasa sakit itu sehingga pengalaman sakit yang ia derita itu diubah menjadi suatu konsolasi bagi seluruh hidupnya.

Tulisan ini membahas bagaimana pengalaman sakit dihadapi dengan meneropong pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche sebagai pijak refleksi. Mengapa harus pemikiran Nietzsche yang dijadikan tolok ukur dalam merefleksi pengalaman sakit? Alasan yang paling mendasar adalah bahwa ia merupakan seorang filsuf yang membahas mengenai tema tersebut dan pembahasannya berangkat dari pengalaman yang dia sendiri mengalami. Betapa dalam-nya pengalaman orang yang mengangkat refleksi tentang sakit berdasarkan pengalamannya sendiri jika dibandingkan dengan mereka yang hanya sekedar mengamati pengalaman sakit.

Nietzsche menjadikan sakit dan pengalaman akan sakit sebagai locus philosophicus[1] karena memang sakit merupakan pengalaman eksistensial, seperti hal hidup dan mati, yang tidak dapat dihindarkan dari kehidupan ini. Barangkali kebanyakan karya-karya filosofis filsuf kebanyakan lahir dari pengalaman-pengalaman yang bersifat eksistensial tersebut.


Pandangan Nietzsche tentang Sakit

Nietzsche adalah filsuf yang membahas pengalaman sakit secara serius. Salah satu alasan yang memungkinkan ia merefleksi mengenai sakit adalah pengalamannya sendiri akan sakit berat yang menimpa dirinya. Rasa sakit yang sedemikian kerasnya itu memaksa Nietzsche menjadi filsuf pengembara yang hidup berpindah-pindah. Pengalaman akan sakit tersebut juga mempengaruhi gaya penulisannya yang terkesan bersifat aforistik (tulisan singkat padat yang kaya akan makna).

Sakit, menurut Nietzsche, bukanlah sesuatu yang mengenakkan yang harus kita raih dalam hidup ini melainkan merupakan sesuatu yang, karenanya, membuat orang kehilangan harapan untuk hidup, kehilangan semangat untuk maju, membuat orang menjadi pesimis terhadap kehidupan ini. pengalaman akan sakit bagaikan masuk dalam kegelapan kematian.[2] Kegelapan kematian merupakan realitas absurd yang karenanya kehendak manusia untuk hidup terus tercampakkan. Sakit merupakan pengalaman yang tidak masuk akal, sesuatu yang tidak dikehendaki oleh manusia, namun selalu datang, meski tidak diharapkan, membayangi manusia.

Rasa sakit adalah apa yang datang begitu saja tanpa bisa dihindari oleh setiap manusia. Pemaknaan terhadap rasa sakit berbeda pada diri setiap orang tergantung bagaimana individu melihat dan menilainya. Reaksi terhadap rasa sakit bisa macam-macam: positif dan negatif. Secara positif berarti menerimanya dengan lapang dada rasa sakit tersebut atau secara negatif menolak rasa sakit tersebut. Reaksi negatif atas rasa sakit biasanya dengan mencari penyebab dari rasa sakit itu. Setelah menemukan penyebabnya orang kemudian mencari obat untuk menyembuhkan.

Nietzsche, yang adalah seorang pengembara, manusia yang hampir seluruh waktu hidupnya dihabiskan sebagai seorang soliter, berhadapan dengan pengalaman sakit menunjukan sikap siap waspada. Nietzsche membiarkan rasa sakit itu datang menghampirinya tanpa sedikit pun mengeluhkan kedatangannya namun di lain pihak menyadari bahwa sakit itu datang. Sakit adalah sesuatu yang tanpa makna pada dirinya sendiri yang datang menimpa seseorang haruslah disikapi secara bijak yakni dengan mengiyai sekaligus menidak. Terhadap pengalaman rasa sakit itu Nietzsche berkata:

Seorang pengembara yang sudah memutuskan bangun tidur pada jam tertentu lalu dia dengan tenang tidur: demikian pula kita para filsuf yang berbeda, dengan mengandaikan bahwa kita sedang jatuh sakit, kita juga menyerahkan jiwa dan juga tubuh kita kepada si penyakit—kita menutup mata, katakanlah terhadap diri kita sendiri. Sama seperti si pengembara yang tahu bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang tidak tidur, menghitung jam dan akan tahu jam berapa harus membangunkan sebagaimana dikehendaki sebelumnya, kita pun tahu sebuah saat yang menentukan akan menangkap kita dalam keadaan terbangun…[3]

Sikap yang dikehendaki Nietzsche terhadap rasa sakit yang datang adalah siap siaga. Dengan sikap demikian orang tidak akan lengah, ia akan dapat, setidak-tidaknya mengantisipasi rasa sakit yang datang, mengetahui apa yang datang. Dengan mengetahui yang datang sebagai sakit maka orang akan dapat dengan mudah juga untuk mengolah rasa sakit itu tanpa ada rasa takut akan apa yang menimpa dirinya. bagi orang yang telah mewaspadai rasa sakit yang datang akan dengan mudah mengenalinya dan mengidentifikasinya sebagai rasa sakit. Hal ini berbeda dengan orang yang sama sekali tidak menyadari kedatangan rasa sakit, akan dengan gampang menidaki rasa sakit itu, tidak menerima sakit sebagai sesuatu yang datang begitu saja. Lantas apa yang dilakukan? Mencari penyebab atas rasa sakit yang menimpanya sebab dengan berhasil menemukan penyebab dari rasa sakit maka orang akan dengan mudah menemukan obat untuk penyakitnya itu.

Di hadapan rasa sakit itu, Nietzsche menyarankan untuk bersikap hati-hati dan tidak terburu-buru mencari penjelas sebab barangkali rasa sakit yang datang itu merupakan tanda untuk masuk ke dalam suatu kedalaman. Kedalaman yang ditandai dengan kemampuan orang untuk mentransformasi rasa sakit yang absurd itu dengan rasionalitas manusia. Hal inilah yang kiranya dapat kita jumpai dari pengalaman Nietzsche melalui tulisan-tulisannya yang kaya akan makna dan dalam. Tulisan-tulisan Nietzsche mengalami masa produktif terjadi ketika ia sedang dalam pengalaman-pengalaman sulit rasa sakit. Banyak karya-karya besarnya, sebagaimana telah dipaparkan di bagian riwayat hidupnya, lahir dari pengalamannya akan rasa sakit. Hal ini dapat dipahami sebagai kemampuan Nietzsche dalam mengiyai sekaligus menidak rasa sakit yang datang dengan sikap waspada dan perlahan tetapi pasti mentransformasikannya menjadi karya-karya yang memiliki kedalaman makna. Maka benarlah bahwa sakit dan pengalaman akan sakit menjadi locus philosophicus. Karya-karya folosofis yang lahir dari permenungannya tentang realitas ini mendapat tempat dalam sakitnya yang ia derita. Dengan kata lain besar kemungkinan bahwa karya-karyanya tidak akan lahir tanpa melalui pengalaman sakit itu. Di sinilah letak kekhasan Nietzsche yang mengiyai sekaligus menidak pengalaman rasa sakit yang datang dan mentransformasinya menjadi sebuah karya yang besar.

Berhadapan dengan rasa sakit, individu hendaknya tidak terburu-buru untuk langsung menerimanya sebagai takdir yang harus dipikul bagaikan seekor unta yang menerima beban. Orang yang demikian menurut Nietzsche adalah orang yang bermentalkan roh unta yang penurut yang langsung memikul bebannya menuju padang gurun dirinya sendiri. Mental unta yang mengiyai secara naif pengalaman sakit yang datang sepintas kelihatannya baik namun jika mau ditelusuri secara lebih mendalam maka kita akan mendapati bahwa mentalitas seperti ini merupakan suatu tindakan masokhis. Artinya dengan mengiyai secara naif pengalaman sakit yang datang dia secara langsung mau menerimanya dengan segala konsekuensi yang ada. Seolah-olah rasa sakit adalah sesuatu yang masuk akal, sesuatu yang baik, sesuatu yang karenanya eksistensiku menjadi pasti dan sebaliknya tanpa rasa sakit aku menjadi tidak eksis. Kebersksistensiannya semata-mata hanya ditentukan oleh beban yang dia panggul itu.

Pada dasarnya orang yang bermentalkan mentalitas unta tidak sadar bahwa dirinya sepenuhnya tergantung pada beban yang di luar dirinya. ketidaksadaran ini lama-kelamaan akan menghancurkan dirinya sendiri. Menikmati rasa sakit sebagai sesuatu yang baik merupakan suatu tindakan yang naif karena berpotensi merusak diri sendiri. Namun Nietzsche mengatakan bahwa ada suatu titik di mana unta menjadi sadar akan kesendiriannya di padang gurun dirinya itu yang memaksa mentalitas unta untuk bermetamorfosis menjadi roh singa…dalam kesendirian memuncak, terjadilah metamorfosis kedua: roh menjadi singa.[4]

Pemberontakan akan pengalaman kesendirian ini memaksa roh bermetamorfosis menjadi roh singa. Mentalitas unta yang secara naif mengiyai sakit kini berubah menjadi mentalitas singa yang melihat sakit sebagai sesutu yang buruk dan berusaha untuk menidakinya secara naif. Mentalitas singa menolak sakit berkat kebebasan yang dimilikinya memandang sakit bukan sebagai yang harus dipikul sebagai beban melainkan harus ditantang dengan garang-ditolak. Kenaifan menolak rasa sakit bukan pada dasarnya bukan karena dia menolaknya karena itu buruk melainkan lebih kepada kehormatan harga diri. Harga diri yang tinggi, kesombongan, membuatnya menolak segala sesuatu yang datang, karena sesuatu yang bersifat eksternal, baginya adalah sesuatu yang dapat mengancam eksistensinya, menguasai dirinya, oleh karena itu harus ditolak.

Kedua model mentalitas di atas oleh Nietzsche tidak dapat menghasilkan nilai-nilai baru oleh karena itu harus melampaui diri untuk dapat menciptakan nilai-nilai baru, itulah yang dapat dibuat oleh kekuatan si singa. Melampau diri berari mengatasi kenaifan yang dimiliki oleh mentalitas mengiyai secara naif dan juga menidaki secara naif. Gambaran seorang bayi adalah gambaran yang, menurut Nietzsche, sangat tepat. Karena bayi adalah kepolosan dan pelupaan, permulaan baru, permainan, roda yang bergerak dari dirinya sendiri, penggerak pertama, afirmasi kudus.

Sikap yang paling bijak di hadapan realitas semacam itu adalah mengiyai sekaligus menidak sebagaimana dimiliki oleh seorang bayi yang polos yang dengan kemurnianya memberikan afirmasi kudus pada apa saja yang datang.[5] 

dengan realitas yang datang, bagi seorang bayi, tidaklah untuk dipikul secara naif bagai seekor unta atau ditantang secara garang bagai seekor singa. Sikap yang demikian adalah sikap orang yang dikuasai pemikiran yang sangat tidak sehat. Pemikiran yang sehat adalah pemikiran yang selalu terlibat dalam ralitas yang salalu tidak pasti, waspada pada apa saja yang datang, dengan demikian selalu dapat mentransformasikan realitas yang ada. Model bayi yang seperti ini, memiliki cita rasa ningrat, dapat dijumpai di kalangan para seniman besar dan juga di kalangan lemah, kaum petani.

Sakit dan pengalaman akan sakit, oleh Nietzsche, tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri. Namun pengalaman secamacam ini dapat dimasuki secara serius dalam arti untuk mentransformasikannya menjadi suatu nilai yang berharga. Berhadapan dengan rasa sakit orang mungkin akan melarikan diri dari padanya atau bahkan menjadikan rasa sakit sebagai ajang heroisme. Para martir dalam gereja katolik misalnya melihat rasa sakit sebagai bentuk solidaritas terhadap penderitaan Kristus oleh karena itu ketika dicambuk, dibakar, dll., mereka sedikitpun tidak mengeluh. Rasa sakit bagi mereka ini menjadi pintu masuk ke dalam horizon baru, kebahagiaan kekal bersama Allah. Bukankah hal ini merupakan bentuk pelarian dari realitas? Kehidupan lain yang sifatnya utopis yang diimani itu menjadi alasan bagi mereka untuk menahan rasa sakit itu sedemikian rupa. Kematian sebagai konsekuensi pun menjadi kesenangan karena mampu menderita bersama Kristus. Pelarian semacam ini menghilangkan kesempatan untuk pentransformasian nilai yang lebih tinggi. Padahal dalam pengalaman semacam ini, orang dapat menghadapinya dan memasukinya dengan rasa keingintahuan yang besar tentu saja dengan kewaspadaan sehingga ia memiliki kesadaran akan kedalaman dari kehidupan ini.

Pengalaman sakit bisa menjadi semacam titik pijak bagi seseorang untuk masuk dalam kedalaman realitas kehidupan ini. Hanya mereka yang telah terlibat dan bergulat dengan kegelapan kematian yang tahu bagaimana bersikap di hadapan kehidupan ini. Nietzsche melihat pengalaman sakit dan kehidupan ini sendiri menjadi sebuah locus dan kesempatan untuk berfilsafat, mengubah secara terus-menerus realitas yang ada. Segala bentuk yang bersifat tidak teratur olehnya diubah menjadi sesuatu yang teratur dengan sikap berani, tanpa sedikit pun membuatnya dalam suatu konsep yang fiks. Kesadaran akan realitas yang abyssal membuatnya selalu mentransfigurasi segala hal untuk semakin dalam menyelami realitas yang ada itu.

Pengalaman sakit yang diderita Nietzsche secara hebat sampai kematian menjemputnya membuatnya semakin mendalam dalam melihat kehidupan ini. iabagaikan dilahirkan kembali, dengan kulit baru yang lebih peka.[6]


Daftar Pustaka

[1] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm. 58

[2] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm 50

[3] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm 53

[4] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm 61

[5] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm 65

[6] A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hlm. 90

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s