COCOKLOGI


Kebanyakan orang tidak sungguh-sungguh menginginkan kebenaran. Mereka cuma ingin diyakinkan terus menerus bahwa sesuatu yang mereka percayai adalah sebuah kebenaran.

Sains dan agama adalah dua hal yang bekerja dalam domain yang berbeda. Sains dan agama dianggap sesuatu yang saling kontradiksi satu sama lain karena mekanisme antara dua hal tersebut memang berbeda 180 derajat.

Sains selalu bekerja berdasarkan bukti-bukti empiris. Sains bukanlah sesuatu yang mutlak benar setiap saat, sehingga teori-teori sains selalu terbuka untuk dikoreksi ataupun dianggap salah jika ditemukan bukti-bukti empiris yang membantah teori sebelumnya.

Sedangkan agama sendiri bekerja berdasarkan wahyu Tuhan. Dan wahyu Tuhan ini dituliskan dalam kitab suci dan kebenarannya tidak membutuhkan bukti empiris seperti sains. Kebenaran dalam agama dianggap sebagai kebenaran yang mutlak, sehingga kebenaran agama berlaku di setiap waktu.

Permasalahan mendasar antara sains dan agama saat ini adalah, temuan sains menegasikan kebenaran agama atau lebih tepatnya tafsiran agama. Misalnya saja yang paling umum adalah antara “Teori Evolusi dan Adam-Hawa”.

Sebagian penganut agama samawi seperti Yahudi-Kristen-Islam (yang hanya memaknai kitab suci secara harfiah), menolak teori evolusi karena teori tersebut dianggap menegasikan kisah penciptaan Adam-Hawa. Tak jarang para penganut agama ini menolak teori evolusi tersebut dengan memberikan pernyataan-pernyataan seperti; “masa manusia berasal dari monyet? Emangnya anda mau bersaudara dengan monyet ya?” dan pernyataan-pernyataan semacamnya yang menggambarkan ketidakterimaan mereka.

(Sebagai catatan, Teori Evolusi Darwin sebenarnya disalahpahami oleh sebagian besar theis. Pertama, sebagian besar theis menganggap kera dan monyet adalah sama, padahal tidak sama. Darwin tidak pernah mengatakan manusia berasal dari monyet, tetapi Darwin mengatakan manusia dan kera merupakan kerabat dekat karena manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama. Dan juga, evolusi tidak berjalan linear seperti yang diyakini sebagian besar theis tetapi bercabang)

Teori Evolusi mengatakan bahwa manusia pertama (homo sapiens) muncul di Afrika kurang lebih sekitar 250.000 atau 300.000 tahun yang lalu berdasarkan bukti-bukti arkeologis. Sedangkan Adam hidup tak lebih jauh dari manusia pertama (homo sapiens), dalam artian homo sapiens sudah ada jauh sebelum Adam hidup.

Masih banyak contoh-contoh lain ketika klaim sains membantah ‘salah satu tafsiran’ kitab suci. Saya sebut salah satu tafsiran, karena ada banyak penafsiran kitab suci mengenai Adam-Hawa ataupun kasus-kasus serupa dan sebagiannya bertentangan dengan sains dan sebagiannya lagi dianggap tidak bertentangan dengan sains.

Karena sains sudah dianggap bertentangan dengan ajaran agama, maka muncullah cocoklogi (yang seringkali absurd) dari pihak agamawan. Alasannya hanya untuk membuktikan bahwa ajaran agama memanglah benar. Misalnya saja, banyak bertebaran di google mengenai Big Bang menurut Al-Qur’an dan berbagai macam cocoklogi lainnya. (cocoklogi adalah mencocok-cocokkan penemuan sains dengan beberapa penafsiran agama)

Cocoklogi adalah behaviour umat beragama yang suka mencocokan hal lain dengan isi kitabnya. Ada dua kata kunci, prediksi dan postdiksi. Prediksi pasti ngerti kan? Postdiksi itu merunut kembali ke masa lalu. Cocologi adalah ilusi mereka yang merasa sedang melakukan prediksi, padahal sedang melakukan postdiksi.

Sains adalah korban dari cocoklogi. Dan efek pembodohan kepada mereka yang beragama itu mengerikan sekali. Contoh cocoklogi: “Big bang sudah diketahui di kitab kami.” “Bumi bulat sudah diketahui oleh nabi kami.” Yang menarik, klaim klaim seperti ini muncul SETELAH ada penemuan dari ranah sains. Jadi cara kerjanya adalah cari penemuan sains, dan baca kitab suci untuk dicocok-cocokan.

Gak setuju? Coba jawab tantangan saya : TUNJUKKAN PENCAPAIAN SAINS YANG DIDAPATKAN MENGGUNAKAN KITAB SUCI. Gak usah banyak-banyak, SATU SAJA cukup.

Padahal sains itu dinamis, dikoreksi jika ada yang baru. cocologist harus siap berdalih jika ada perubahan sains. Ironis, ketika agama mencari validasi iman menggunakan sains. Sebuah indikasi rendah diri. Perilaku menyedihkan ini populer karena Dr. Maurice Bucaille, yang nyambungin quran alkitab sama sains, disokong oleh saudi arabia.

Ilmuwan-ilmuwan beragama tersohor, gak maen cocoklogi. Mereka ngerti cara kerja sains dan iman. Dua hal beda yang tidak dicampur.

Itu cocologi pada sains, sekarang mari kita bahas cocologi sebagai primbon masa depan. Contoh cocologi primbon: Anak saya cacar air, sudah diramalkan di kitab suci. Sangat mudah untuk melakukan cocoklogi seperti ini, jika anda cari ayat yang bisa memiliki makna ganda. Atau, hal yg diramalkan itu bukanlah event yang unik dan sangat logis terjadi. Negara jatuh, pejabat mati, perperangan, krisis ekonomi, dll. ITU TERJADI SECARA PERIODIK DAN BUKAN HAL BARU. Persis kayak buku ramalan Nostradamus. Isinya gajebo, jadi gampang dicocokin sama world events.

Cocologist juga suka menggunakan hitungan-hitungan gak jelas, semua dikali ditambah sampai hasilnya cocok. Cocoklogi adalah bahasa peyoratif indonesia. Bahasa kerennya (biar keliatan pinter) shoehorning fallacy.

Kenapa agama perlu cross check kalau bertentangan sama sains atau gak? Kenapa agama jadi “nunduk” sama sains? Tidakkah Anda percaya kebenaran absolut kitab Anda? Padahal sains sendiri gak pernah ngaku merek 100% bener, agama itu absolut 100%. Kalau kamu beriman, seharusnya kalau ada beda, agama bener, sains salah. Jadi, gak perlu lah ngecek2 (validasi) sama sains, percaya mah percaya aja. Iman itu gak butuh bukti.

Sains mulai di agamisasi kan dengan adanya cocoklogi dari pihak kaum agamawan. Bahkan untuk tingkat yang cukup ekstrim (ketika cocoklogi dianggap tidak cukup), dibuatlah argumen yang penuh dengan fallacy dengan melakukan pendekatan sains hanya untuk membantah salah satu teori sains yang sudah dianggap sangat kuat karena ditunjang banyak bukti empiris.Yang paling terkenal dalam kasus ini adalah tulisan di buku Harun Yahya yang berjudul Keruntuhan Teori Evolusi.

Sebenarnya jika dianalisa lebih jauh, tujuan utama dari agamisasi sains adalah untuk membuktikan bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah hasil dari campur tangan Tuhan. Tapi karena hal itu, kaum agamawan seringkali (dengan tanpa sadar) telah membunuh Tuhan.

Mengapa tidak membiarkan sains dan agama bekerja di wilayahnya masing-masing..?
————————————————
Apa Kesalahan Cocoklogi Sains dan Agama?
————————————————
jelas adalah sebuah kesalahan besar ketika berusaha menghubung-hubungkan antara sains dan agama, mencocok-cocokkan antara sains dengan agama. karena bagaimapun keduanya punya batu-bata bangunan yang berbeda. sains berangkat dari pertanyaan dan keraguan. sedang agama berangkat dari keyakinan. yah, sebuah keyakinan tanpa ragu.

sains berusaha menemukan sesuatu yang lain dan meninggalkan keraguan untuk maju, sedang agama berusaha memperkokoh keyakinan yg suda diyakini sebelumnya dan bertahan pada keyakinan.

dan jika tujuannnya adalah hanya untuk sekedar melawan hegemoni dan dominasi barat pada bidang sains dan teknologi, dan ingin diakui sebagai umat yang maju, berperadaban tinggi, maju dalam penguasaan iptek, tinggalkan cocoklogi sains dan agama, lakukan kajian dan penelitian sains dengan benar!

Sekian tentang cocoklogi. Semoga iman anda bisa semakin kuat tanpa perlu validasi menggelikan dari primbon dan sains.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s