DOA = EFEK PLACEBO



Efek Negatif Berdoa

Apakah berdoa punya efek negatif? Jawabannya ada, dan efeknya bisa berbahaya bagi kemanusiaan.

Kita lihat asumsi publik tentang doa, berdoa bagi mereka merupakan salah satu bentuk pertolongan bagi yang lagi menderita atau lagi dapat musibah. Doa juga merupakan tindakan yang sangat mulia dalam pandangan teis.

Misal ada temen bercerita si Udin opname di rumah sakit dan berencana membesuk, kita kadang cuma bisa bilang ‘astaga kasian sekali, andai saya bisa menengok, saya titip doa saja buat Udin’. Atau kadang kita menelpon mengatakan ga bisa besuk, hanya bisa kasi doa. Dengan berdoa kita merasa sudah menolong si Udin. Kita merasa tindakan kita terpuji.

Kadang saat ada bencana tsunami di suatu daerah, kita hanya berdoa agar korban selamat bisa tabah dan diberi kemudahan oleh tuhan. Dan dengan berdoa kita merasa telah menolong, kita merasa telah melakukan tindakan mulia.

Benarkah begitu? Tidak ada satupun bukti ilmiah yang membuktikan doa membuat perubahan. Bahkan sebuah jurnal kesehatan sempat mengadakan tes. Sekelompok orang yang akan melakukan terapi penyembuhan dibagi jadi kelompok A, kelompok B dan kelompok C. Kelompok A dan B didoakan untuk kesembuhan, dan kelompok C tidak didoakan. Kelompok A diberitahu bahwa mereka di doakan sementara kelompok B tidak diberitahu bahwa mereka di doakan. Hasilnya mengejutkan, secara ilmiah kelompok B dan C tidak mengalami hasil yang berbeda dari terapi tersebut. Sementara kelompok A secara mengejutkan justru hasil terapinya dibawah kelompok B dan C. Para peneliti tidak tahu kenapa begitu, mereka cuma menduga bahwa kelompok A justru khawatir dengan kondisi mereka karena mereka didoakan. Dalam kasus ini doa justru punya efek negatif.

Tapi yang paling parah, kebiasaan berdoa = menolong & mulia bisa merusak jiwa kemanusiaan. Orang akhirnya kehilangan empati, karena segala musibah mereka tolong dengan doa, lama2 tolong menolong bisa hilang dengan anggapan doa itu mulia dan merupakan pertolongan.
Bagi orang yang tau bahwa doa bukan suatu pertolongan, bahkan adalah tindakan egois (berdoa agar dpt menolong plus dapat surga). Maka orang itu tau kalau menolong secara langsung adalah tindakan pertolongan sesungguhnya dan yang seaungguhnya mulia.

Satu tangan berusaha lebih baik dari sejuta tangan berdoa.


Secara singkat, doa adalah masturbasi psikologis. Yang merasa tenang adalah yang mendoakan, apalagi pada kasus mendoakan orang mati. Ga ada yang tahu apa benefitnya selain buat diri sendiri.

“Ya tuhan sembuhkanlah teman kami dari bla bla bla” selain terkesan “cuci tangan” tanpa perlu usaha sama sekali, malah sudah ada riset scientific-nya yang terbukti membuat komplikasi terhadap orang yang tahu bahwa dirinya sedang didoakan ketika sakit. Orang yang ga didioakan sama sekali atau ga tau didoakan malah recovery-nya lebih baik daripada orang yang tahu didoakan.

[[patients who knew that others were praying for them fared worse than those who did not receive such spiritual support, or who did but were not aware of it.]]
http://www.freethoughtpedia.com/w…/Harvard_prayer_experiment

Here’s the paper: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16569567

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s