LOGIKA IALAH TUHAN (MARI MENUHANKAN LOGIKA)


Sebuah pertanyaan yang sering ditanyakan oleh para teis yang ingin tahu soal kaum Agnostik/Ateis adalah “Apa benar Ateis/Agnostik menuhankan logika ataupun Sains?”. Atau ‘ateis menuhankan otak, ateis menuhankan logika, ateis menuhankan sains’. Kebanyakan teis yang sok tahu mengiyakan pertanyaan tersebut. Itu adalah sebagian dari kata-kata yang sering di lontarkan para teis kepada ateis.

Ada banyak sekali “ilmu” di luar sana, mulai dari astrologi, akupuntur, ilmu meraga sukma, ilmu santet, hingga filsafat. Seseorang bahkan mengajarkan tentang seluk beluk dunia jin dan mengutuk siapa pun yang mengkritiknya dengan tuduhan kafir.

Apa yang kita lewatkan di sini? Jelas bahwa siapa pun bisa mengarang secara detail sebuah buku tentang subyek apa pun dan lalu melabelinya dengan ilmu. Menurunkan kepada orang lain, dipelajari banyak orang, dan bahkan dianggap terlalu suci untuk dikritik. Pertanyaannya jelas, siapa yang bisa menjamin apa yang disampaikan oleh “ilmu-ilmu” tersebut memang benar? Dari mana kita mengetahui mana yang benar dan mana yang salah di tengah lautan informasi yang diklaim sebagai ilmu?

Dari situlah muncul orang-orang yang peduli dan mulai merumuskan sebuah metodologi untuk mendapatkan kebenaran sebaik mungkin. Mereka lalu membuat satu kategori yang hanya bisa dimasuki oleh ilmu-ilmu yang memenuhi kriteria ini. Sebuah ilmu harus bisa diamati, memiliki kemampuan prediksi, memiliki cara untuk dikonfirmasi, dan juga memiliki cara untuk dinyatakan salah. Metode ini disebut “metodologi ilmu pengeetahuan” atau “scientific methodology”. Dan ilmu yang memenuhi kriteria tersebut disebut sebagai sains. Sementara itu, ilmu yang tidak memenuhi metodologi tersebut dan mengklaim dirinya sebagai sains disebut sebagai “pseudoscience”.

Sains tak butuh orang percaya atau tidak percaya. Sains membutuhkan bukti atau fakta empiris. Fakta empirislah satu-satunya yang dibutuhkan sains. Dan sains tidak pernah memberikan claim, pernyataan yang diberikan pun didasari bukti-bukti valid.

Virus, kuman, elektron, proton, atau banyak hal lainnya secara fakta tidak dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Tapi, sains bisa membuktikannya bahwa semua itu memang real/ nyata. Pancaindra tidak mampu menjangkaunya, tapi alat bantu kehidupan manusia bisamenjangkaunya. Kini kita tahu bahwa objek-objek tersebut memang terbukti ada. Bukti-lah kuncinya, bukan klaim. Bisa saja seseorang mengklaim ini dan itu, karena ini dan itu tersebut tercantum dalam sebuah buku suci, tapi jika tidak ada bukti yang menyertainya, bagaimana bisa hal tersebut disebut real/ nyata. Patokannya adalah bukti. Alangkah bodohnya jika kita meyakini sesuatu tapi tidak memiliki bukti.

Mengklaim itu mudah, tapi membuktikannya itu yang susah. Klaim luar biasa membutuhkan bukti luar biasa itu kata Carl Sagan. Mengklaim bahwa perahu nuh itu ada, musa menyeberang laut merah dengan membelahnya itu terjadi, dan bulan pernah terbelah 2 dan menyatu kembali, itu adalah mudah. Tapi, jika tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim ini, bagaimana kita bisa membedakannya dari dongeng atau bukan dongeng? Dongeng tidak butuh bukti dan tidak ada yang menuntut bukti. Adakah yang menuntut sapu terbang dalam novel Harry Potter itu nyata atau tidak? Tidak ada. Adakah yang menuntut manusia hobita dalam The Lord of The Ring itu nyata atau tidak? Tidak ada. Adakah yang menuntut kantung ajaib dalam film doraemon itu nyata atau tidak? Tak ada kewajiban untuk membuktikan. Ya namanya juga dongeng. Dongeng tak butuh orang repot-repot membuktikannya. Dongeng memang tak ada bukti. Semua mengetahuinya. Sesuatu dianggap nyata membutuhkan bukti. Dongeng tak butuh bukti. Karena tidak ada bukti, dongeng bukanlah sesuatu yang nyata.

Dan ada lagi kalimat yang sering saya dengar dari teis:
A: Kitab suci agama saya yang benar.
B: apa buktinya?
A: sebab tertulis dalamnya bahwa kitab suci ini benar.

Gimana sih, mengklaim sendiri, lalu menyatakan benar sendiri. Bagaimana mungkin sumber pembenarnya dari kitab sucinya sendiri. Jeruk makan jeruk lah yah. Bisakah kitab suci membuktikan klaim kebenaran dengan bukti di luar dirinya? Tentu saja bisa. Saya sangat yakin bahwa hal tersebut bisa dilakukan. Jika sudah ada bukti, ya selanjutnya adalah tinggal mengumumkan bukti tersebut agar bisa dinilai keabsahannya secara lebih seksama. Mengclaim sana-sini seperti yang sering dilakukan para teis. Tapi, kembali ke maksud tulisan ini bahwa sains memang membutuhkan bukti, tapi iman tidak. Jelas sudah bahwa keduanya memiliki paradigma yang berbeda.

Ateis = tidak percaya tuhan, lalu bagaimana bisa menuhankan sains?

Kalau menuhankan sains bukan ateis dong namanya! Sains sendiri juga otomatis mengkritik dirinya sendiri, apabila bertentangan dengan fakta dan bukti yang ada, Sementara agama? Agama tidak bisa dibantah, yang bisa kritisi hanya tafsir agama tersebut, tapi tidak dengan isi dari kitab suci tersebut. Agama tidak memiliki keberanian untuk difalsifikasi.

Sementara kitab suci berbeda, kitab agama tidak bisa dikritik, dan cenderung bukti, dan fakta yang ada serta perkembangan peradabaan yang ada di cocok-cocokan ke dalam gambaran kitab suci. Science terus mengikuti perkembangan zaman, sementara dalam agama kita dibuat seolah-olah mengikuti konten-konten yang dibuat kitab suci post diksi/(dicocokan).

Sains juga tidak pernah mengklaim sebagai sebuah kebenaran yang mutlak, berbeda dengan agama yang selalu mengklaim dirinya sebagai sebuah kebenaran mutlak, dan yang lain sebagai sebuah kesalahan.

Sains menjadi produk yang berharga karena segala hasilnya telah melalui serangkaian pengujian dan terbuka untuk selalu dikritik dan disempurnakan. Evolusi misalnya, secara tegas mengatakan tentang konsekuensi, dan kemampuan untuk memprediksi semua jenis mahkluk hidup yang mungkin ditemukan di kemudian hari. Ditemukannya melinjo berbunga, pakis berkayu, burung yang memiliki susu, mamalia berbulu burung, atau ikan dengan gigi geraham dan taring sekaligus adalah secuil contoh dari apa yang tidak mungkin akan terjadi jika teori evolusi benar. Dan sejauh ini, semua species baru yang ditemukan hampir setiap minggu, sejalan dengan rantai DNA, dan tree of life yang dikemukakan teori evolusi. Secara sederhana, kita mempercayai hal-hal yang terbukti, yang sejalan dengan apa yang telah terlebih dulu dibuktikan.

Sekarang bandingkan dengan “ilmu” lainnya. Masing-masing agama misalnya, memiliki teori sendiri bagaimana alam semesta ini bermula, bagaimana munculnya mahkluk hidup. Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, titik. Tuhan menciptakan alam semesta dalam 7 hari, titik. Tidak boleh ada kritik. Jika suatu saat manusia membuktikan hal-hal yang bertentangan dengan “ilmu” pada teks-teks suci, kita dipaksa menerjemahkan kembali teks-teks itu hingga sesuai dengan fakta baru yang ditemukan. Teks suci tidak pernah salah, terjemahan manusia bisa salah. Sementara itu, mempertanyakan apakah ‘teks suci’ itu adalah buatan manusia dianggap sebagai penistaan agama.

Inilah kenapa kita melihat sains sebagai cara yang paling tepat untuk mencari fakta. Karena sistemnya memungkinkan untuk selalu dikaji ulang dan siap diruntuhkan ketika ada bukti baru yang bertentangan. Berbeda dengan cara lain yang sering mengaku sebagai “kebenaran mutlak” dan mengancam siapa pun yang hendak mengujinya.


Bayangkan, bayangkan saja…ada 3 ruang dgn 2 pintu, 1 dibelakang, 1 lagi didepan kita.

Pintu dibelakang adalah tempat kita datang, kita tidak ingat apa yg ada dibalik pintu itu. . .dan ini tdk penting.

Pintu yang didepan adalah pintu yg kita tuju, kita semua tdk tahu apa yang ada dibalik pintu itu.

Lalu salah seorang dr kita dgn alasannya sendiri, memberitahu kita kalau dibalik pintu yg kita tuju itu ada sesuatu luar biasa, yg dan tdk tergambarkan, tdk bisa dinalar dst, tapi ada…pokoknya ada.

Sementara kita tahu org yg mengatakan itu sama seperti kita, belum pernah masuk ke pintu yg ada dihadapan kita. Karena siapapun yang sudah melewati pintu itu tidak akan pernah keluar lagi.

Pertanyaan sederhana, apakah orang ini bisa dipercaya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s