MARI MENCARI TAHU


Saya Tahu bahwa Saya Tidak Tahu dan Mari Mencari Tahu

Mencari tahu adalah hal yang jarang dilakukan oleh manusia dalam hal ketidaktahuan mereka soal alam. Kebanyakan dari kita cenderung hanya mendengar langsung tanggapan orang, dan kemudian langsung mempercayainya (apabila seagama dan tidak dianggap aneh). Dan apabila tidak sepemikiran dan dianggap aneh? Maka seseorang akan berpikir kritis mengejek hal tersebut dibanding berpikir kritis dengan melakukan diskusi sehat dengan memberi pertanyaan-pertanyaan.

Saat masih kecil kita sudah didoktrin untuk mengimani Kitab Suci dan tak boleh mempertanyakan keabsahan kitab suci tersebut, karena akan dianggap aneh dan sesat oleh banyak orang. Hal inilah yang menyebabkan seseorang menjadi sosok yang tidak mau mencari tahu soal kebenaran, dan cenderung mempertanyakan realitas dunia ini kepada yang lebih tua dan sepemikiran dibandingkan bertanya kepada yang berlawanan pemikiran.

Kalaupun mencari lawan diskusi atau berdebat, kebanyakan dari mereka itu cenderung mencari-cari kesalahan argumen lawan dibanding melihat kesalahan yang ada pada argumennya itu sendiri. Ibarat Gajah di pelupuk mata tak tampak tapi virus di planet mars bisa tampak. Sosok inilah yang disebut dengan Sosok yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu oleh sebab itu tidak perlu mencari tahu.

Filsuf zaman dulu bisa diibaratkan dengan para Saintis zaman dahulu. Filsuf zaman dahulu terus-terusan dicemooh karena kebanyakan manusia lebih memilih mempercayai takhayul dibanding dengan mencari tahu. Saintis zaman sekarang juga seperti itu. Di zaman sekarang khususnya di Asia dan Afrika, masih sangat banyak di antara kita yang masih mempercayai takhayul, dan memilih jawaban kalau itu adalah “Buatan Tuhan” dibanding mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suatu kejadian alam.
Contohnya adalah tentang apa yang terjadi sebelum Big Bang, dan dari mana Big Bang berasal masih terus diteliti oleh semua Saintis hingga sekarang. Banyak spekulasi yang mengatakan kenapa Big Bang bisa terjadi, ada yang mengatakan dari Dunia Paralel dan ada juga yang mengatakan kalau alam semesta itu bisa mengembang dan bisa pula menciut, dan ada pula jawaban yang lebih ekstrim yaitu Tuhanlah yang membuat Big Bang itu sendiri.

Dengan jawaban “Tuhan” sebagai jawaban akhir, maka kebanyakan teis akan setuju akan jawaban tersebut, tapi kaum skeptik akan menjadikan jawaban itu sebagai lelucon karena jawaban tersebut hanya berdasarkan keimanan dan bukan berdasarkan ingin mencari tahu.
Contoh lainnya adalah Gempa yang dulu dianggap sebagai hukuman Tuhan, setelah diteliti ternyata gempa terjadi karena adanya aktivitas tektonisme dan vulkanisme (Walaupun masih ada yang percaya kalau itu adalah perbuatan Tuhan).

Menjadikan Tuhan/Dewa/Mahluk Halus sebagai jawaban akhir menjadikan dirimu menjadi sosok yang tidak mau mencari tahu, dan memilih menjadi sosok yang tidak tahu bahwa saya tidak tahu. Sangat banyak misteri alam semesta ini yang butuh pemecahan, dan hal ini belum tentu Tuhan ikut serta di dalamnya. Apalagi Tuhan itu sendiri belum terbukti ada dan nyata. Kebanyakan dari kita pun mempercayai Tuhan dan Agama itu karena agama dari warisan orang tua kita.

Jadikan dirimu menjadi sosok yang ingin mencari tahu, terkadang berdiskusilah dengan sosok yang berbeda pendapat atau sosok yang ahli di bidangnya untuk memperdalam ilmu anda. Atau anda ikut-ikutan menjadi Saintis amatir untuk memecahkan misteri alam semesta ini. Kita membutuhkan banyak orang yang ingin mencari tahu, dibanding orang yang selalu setia dengan jawaban Tuhan sebagai jawaban akhir.

Terakhir, jadikan dirimu sebagai sosok yang tahu kalau dirimu itu sebenarnya nggak tahu, dan mau mencari tahu. Karena dengan mencari tahu, maka dirimu akan menjadi sosok yang rasional dan tidak lagi menjadi sosok yang delusional.


Sains Tidak Tahu Semuanya, Agama Tidak Punya Bukti

Kaum agamawan sering mengatakan kitab suci mereka sempurna dan sains tidak tahu semuanya.

Di satu sisi itu benar, kalau sains tahu segalanya tentu para saintis ga akan lagi meneliti. Sains tidak mengklaim suatu kebenaran dan tidak pernah mengatakan semuanya telah diketahui. Sebliknya agama mengklaim kebenaran dan mengatakan segala sesuatunya ada di kitab suci mereka.
Banyak fakta dan bukti telah menunjukkan bahwa agama berkali kali salah, mulai dari bumi datar hingga teori penciptaan (adam dan hawa). Agama selalu menolak keaimpulan sains tapi TIDAK PERNAH MENCOBA MEMBERIKAN FAKTA bahwa klaim mereka benar. Sementara semakin hari sains terus memberikan bukti bahwa agama salah.

Contohnya dengan teori evolusi, tiap hari ada saja bukti dan fakta bahwa teori mereka benar, sementara agama tidak pernah mencoba memberikan bukti atau fakta bahwa teori penciptaan (adam dan hawa) benar, agama hanya meneriakkan iman. Kebayang kalo ada cewe yg punya cowo tukang selingkuh dengan bukti yang terus ada hari demi hari tapi si cowo cuma meminta cewe percaya saja, bodohnya si cewe menutup mata terhadap fakta dan memilih PERCAYA.

Untuk menebalkan iman pemeluknya agama memunculkan lah “fortune teller”, metafisika, pseudosains/cocoklogi dan sejenisnya. Yang hobi nonton tayangan “sains” on the spot dan sejenisnya sangat rentan percaya pseudosains. Semakin banyak ketahuan bohongnya suatu agama, semakin banyak kebohongan baru untuk menambal kebohongan lamanya.

Sains dilain pihak tidak mengklaim. kebenaran dan tahu segala. Teori yang ada bisa diruntuhkan dengan teori baru dengan adanya fakta baru. Tidak ada kepercayaan absolute di sains seperti di agama. Sekarang tergantung kita saja, masih percaya agama atau mencoba membuka mata?


POKOKNYA AKU BENAR DAN KAMU SALAH.

“Apabila aku mengusulkan bahwa antara Bumi dan Mars ada teko teh Cina yang mengitari matahari dalam orbit elips, tidak akan ada yang mampu menyangkal pernyataanku karena aku telah menambahkan bahwa teko teh itu terlalu kecil untuk dilihat oleh teleskop tercanggih kita. Namun bila aku tetap berkata begitu, karena pernyataanku tak bisa dibantah, adalah sifat akal manusia untuk meragukannya, sehingga pernyataanku akan dianggap omong kosong. Tetapi jika keberadaan teko semacam itu ditegaskan dalam buku-buku kuno, diajarkan sebagai kebenaran suci setiap Minggu, dan ditanamkan dalam pikiran anak-anak di sekolah, keengganan untuk memercayai keberadaannya akan menjadi tanda sebuah keanehan dan menggiring orang yang meragukannya ke psikiater pada abad pencerahan atau kepada anggota Inkuisisi pada masa lebih awal” -Bertrand Russell-

Akar permasalahan dari kefanatikan sebenarnya adalah indoktrinisasi sejak kita masih kecil, sehingga kita sulit untuk meragukan kisah-kisah yang sebenarnya amat sulit diterima oleh nalar dan logika kita. Saat hal yang irasional itu lengket di pikiran kita dan sulit untuk dilepas, maka kita akan sulit menerima pemikiran yang sangat berbeda dan anti-mainstream.

Dan bahkan banyak yang menganggap kalau hal yang anti-mainstream itu adalah ujian dari Tuhan untuk mencobai keimanan umatnya. Sebanyak apapun bukti yang kita berikan, maka dia akan semakin ngeyel dengan menyatakan kalau bukti yang diberikan itu adalah konspirasi dan ujian dari Tuhan untuk menguji imannya.

Dan saat kita berdiskusi dengan mereka pun, banyak diantara mereka pasti mengatakan “Pokoknya aku benar, dan kamu salah karena hanya ajaranku yang benar”. Itu adalah akibat dari indoktrinisasi sejak kecil itu. Indoktrinisasi yang salah akan menyebabkan seseorang akan menjadi manusia yang fanatik, tertutup pada ilmu pengetahuan, dan menjadikannya paranoid kepada umat agama lain.

Kesimpulannya anda butuh kebebasan berpikir untuk mencapai kebenaran dan bukan melalui indoktrinisasi berlebihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s