NEUROSAINS


NEUROSAINS TERHADAP : Near Death Experience NDE/PDK) DAN Out of Body Experience OBE/PKT)

Neurosains (atau neurobiologi) adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari otak dan sistem saraf di dalamnya, yang mengatur cara dan wilayah kerja sel-sel saraf yang dinamakan neuron, dalam hubungannya dengan seluruh tubuh manusia dan keadaan mental.

Jika neurosains menganalisis dan menjelaskan berbagai pengalaman keagamaan sebagai pengalaman-pengalaman yang dimunculkan oleh sistem neurologis dalam otak manusia karena dipicu oleh berbagai keadaan dan kondisi internal dan eksternal.

Penjelasan neurosains atas Pengalaman Dekat Kematian PDK) dan Pengalaman Keluar Tubuh PKT)
————————-
Pangkal otak, sebagai bagian dari “otak bawah” (lower brain, yang terdiri atas medulla, pons, midbrain, thalamus, hypothalamus), memungkinkan timbulnya PDK karena bagian otak ini sebetulnya dapat bekerja dan berfungsi lepas sama sekali dari bagian-bagian otak yang terletak di sebelah atas (disebut “higher brain”, yang secara keseluruhan dinamakan cerebrum atau korteks serebral atau korteks saja, dan terdiri atas bagian-bagian besar yang dinamakan frontal lobe, parietal lobe, occipital lobe, dan temporal lobe). Jadi, kalaupun bagian-bagian yang membentuk “otak atas” ini mati, pangkal otak dapat terus berfungsi, dan gangguan REM masih dapat terjadi.

Ilmu pengetahuan medis memberi bukti kuat bahwa banyak segi dari kedua fenomena ini bersifat fisiologis, biokimiawi dan psikologis. Para saintis sudah menemukan bahwa obat-obatan yang memberi efek halusinogenis, anestetis dissosiatif dan neurotoksis, seperti ketamine dan PCP (Phencyclidine), atropine dan alkaloid belladonna, DMT (dimethyltryptamine), MDA (methylenedioxy-amphetamine), dan LSD (lysergic acid diethylamide), dapat menimbulkan perasaan-perasaan dalam diri para penggunanya yang nyaris sama dengan perasaan-perasaan yang ditimbulkan PDK dan PKT. Malah beberapa pengguna obat-obat ini berpikir bahwa mereka sebenarnya sedang menuju kematian ketika menggunakannya.

Para neurosaintis telah menemukan bahwa kedua pengalaman yang aneh ini sebetulnya berlangsung tak lepas dari kerja neuron-neuron otak ketika otak kita memproses input data dan informasi yang berasal dari indra-indra. Apa yang kita lihat sebagai “realitas” di sekitar kita sebetulnya hanyalah suatu totalitas semua informasi indrawi yang diterima otak kita pada suatu momen tertentu. Pada waktu anda memandang layar komputer, cahaya (berupa partikel foton) dari layar sampai ke retina mata anda, dan informasi dikirim ke tempat-tempat yang cocok di otak anda untuk menafsirkan pola-pola cahaya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna―dalam hal ini kata-kata yang anda sedang baca.

Suatu sistem saraf dan fiber otot yang lebih rumit pun memungkinkan otak anda mengetahui di mana tubuh anda berada dalam hubungannya dengan ruang di sekitar anda. Tutuplah mata anda, lalu angkatlah tangan kanan anda sampai setinggi ujung kepala anda. Kendatipun anda tak melihat tangan kanan anda yang terangkat itu, anda tahu persis di mana lokasinya. Kenapa? Karena sistem pengindraan dalam otak anda memungkinkan anda mengetahui di mana tangan kanan anda berada, meskipun anda memejamkan mata anda.

Bayangkanlah semua indra anda keliru berfungsi. Ketimbang otak anda menerima input data indrawi dari dunia objektif di sekitar anda, otak anda menerima informasi yang salah, mungkin dikarenakan obat-obatan, atau disebabkan oleh suatu bentuk trauma yang menyebabkan otak anda tak bekerja. Apa yang anda persepsi sebagai suatu pengalaman real sebenarnya adalah suatu tafsiran yang otak anda sedang coba lakukan atas informasi ini.

Beberapa ahli telah berteori bahwa “kebisingan neural”, yakni suatu keadaan penerimaan informasi yang sangat berlebihan yang dikirim ke korteks visual utama otak (terletak di belakang otak), menciptakan suatu gambar seberkas cahaya yang terang berkilauan yang terus bertambah besar secara bertahap. Otak dapat menafsirkan keadaan ini sebagai gerakan memasuki suatu lorong gelap yang di ujungnya cahaya memancar.

Michael Shermer, yang menulis sejumlah buku yang berkaitan dengan kajian neurosains, menjelaskan bahwa obat-obatan halusinogenik dan keadaan kekurangan/ketiadaan oksigen pada otak (keadaan yang dinamakan hypoxia/cerebral anoxia) dapat mengganggu kecepatan normal penembakan neuron-neuron saraf pada korteks visual dalam otak. Ketika hal ini terjadi, “alur-alur” aktivitas neural bergerak menjauhi korteks visual, menuju retina mata. Alur-alur neural ini ditafsirkan oleh otak kita sebagai cincin-cincin atau spiral-spiral konsentris. Spiral-spiral ini dapat “dilihat” sebagai sebuah lorong lurus atau lorong berpilin, yang bergerak menuju retina mata yang di luarnya cahaya terang benderang memenuhi ruang kamar si pasien.

Kemampuan tubuh untuk mengindrai ruang (ini adalah suatu kemampuan korteks parietal lobe) condong keliru berfungsi juga selama seseorang mengalami PDK. Kembali otak anda menafsirkan informasi yang salah tentang di mana tubuh anda berada dalam hubungan dengan ruang di sekitarnya. Akibatnya, anda merasa sedang meninggalkan tubuh anda dan melayang-layang di sekitar ruang kamar. Jika keadaan ini ditambah lagi dengan akibat-akibat trauma dan keadaan kekurangan oksigen (suatu simtom dalam banyak situasi PDK), hal ini akan menciptakan suatu pengalaman menyeluruh bahwa anda sedang mengapung menuju antariksa sementara anda menatap ke bawah ke tubuh anda, lalu anda melayang masuk ke dalam sebuah lorong.

Perasaan damai dan tenang selama PDK dapat timbul dari mekanisme penanggulangan (coping mechanism) yang bekerja dalam otak anda, karena dipicu oleh peningkatan endorfins (zat kimiawi dalam otak yang berfungsi sebagai neurotransmitter, penerus gelombang listrik dalam sistem saraf) yang diproduksi dalam otak selama trauma. Banyak orang merasakan suatu perasaan aneh bahwa dirinya dijauhkan dari tubuhnya dan respons emosionalnya menghilang selama kejadian-kejadian yang traumatis (entah berhubungan atau tidak dengan PDK). Ini adalah akibat yang sama.

PDK atau PKT yang mencakup perkunjungan ke surga atau pertemuan dengan Allah dapat melibatkan banyak faktor yang terkombinasi. Input data yang salah, kekurangan pasokan oksigen, dan euforia yang ditimbulkan oleh endorfins, kerap memunculkan suatu pengalaman surrealis meskipun dirasakan nyata. Ketika si subjek yang mengalami PDK dan PKT mengingat pengalaman perjumpaan ini, pengalaman ini melewati filter pikiran sadarnya. Pengalaman-pengalaman yang aneh yang tampak tak bisa dijelaskan ditafsir sebagai pengalaman-pengalaman bertemu makhluk-makhluk cahaya atau makhluk-makhluk rohani, atau berada dalam dimensi-dimensi lain, atau terlibat percakapan dengan Allah.

Kemampuan untuk melihat dan mendengar kejadian-kejadian selama PDK dan PKT, yang tak mungkin dapat dicerap oleh tubuh mereka yang sudah tak sadar, lebih sulit untuk dijelaskan. Tetapi sangat masuk akal jika kita berpendapat bahwa seseorang yang sudah tak sadarkan diri (atau mengalami koma) masih dapat mencatat dan mendaftarkan petunjuk-petunjuk indrawi (yang didengarnya dari orang-orang di sekitarnya) dan pengetahuan yang dimilikinya sebelumnya (segala pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kebudayaannya dan pengetahuan keagamaannya), lalu memasukkan semuanya ke dalam PDK. Hal ini dimungkinkan oleh masih bekerjanya otak bawahnya, seperti sudah dikatakan di atas.

Sebagaimana ditemukan oleh neurolog kebangsaan Swiss, Dr. Olaf Blanke. Ketika sedang melakukan pemetaan otak seorang pasien (umur 43 tahun) yang sering terserang epilepsi, jika kawasan persinggungan antara korteks temporal lobe dan korteks parietal lobe (dikenal sebagai “Temporal parietal junction”, TPJ), khususnya pada bagiannya yang dinamakan angular gyrus, diberi rangsangan gelombang listrik lewat elektroda, si pasien tiba-tiba saja mengalami PKT/OBE. Kata si pasien ini kepadanya, “Dok, dok, aku melihat diriku sendiri dari atas!”

TPJ selain berfungsi untuk menyatukan dan menyelaraskan berbagai informasi terpisah yang masuk ke dalam otak untuk ditafsirkan, juga berfungsi untuk mengontrol pemahaman atas tubuh dan situasinya di dalam ruang. Jika TPJ tidak bekerja dengan benar, PKT langsung terjadi. Jika informasi apapun yang sedang dipilah bersilangan, seperti informasi tentang di mana posisi kita di dalam ruang, tampaknya kita dapat dibebaskan dari batas-batas tubuh kita, mengalami PKT, sekalipun hanya sebentar.

Kalau PDK dapat muncul dari gangguan REM, yang dipicu di dalam pangkal otak yang terletak pada “lower brain”, PKT dikendalikan oleh kawasan TPJ yang terletak pada “higher brain”, yang secara klinis sudah mati ketika PDK terjadi. Maka tampaknya logis untuk percaya bahwa bagian-bagian otak yang terletak di sebelah atas (“higher brain”) harus masih berfungsi untuk dapat menafsirkan perasaan-perasaan yang ditimbulkan oleh gangguan REM yang dipicu di dalam pangkal otak.

Satu catatan akhir yang sangat penting pada bagian ini harus di kemukakan. Mata kita melihat sesuatu yang real dan kongkret karena ada berkas-berkas cahaya yang dipantulkan sesuatu ini yang masuk ke retina mata kita, lalu input data indrawi ini (dalam wujud partikel foton) diteruskan ke otak dan diubah menjadi informasi neural untuk ditafsirkan otak, sehingga kita bisa melihat dan memahami objek real yang kita lihat ini.

Nah, suatu “tubuh astral” atau suatu “roh” yang tak berdaging, tubuh non-protoplasmik, yang tak memiliki sepasang mata yang real dan kongkret, tentu saja tak bisa menerima input cahaya yang dipantulkan dari tubuh jasmaniah atau dari benda-benda yang termasuk ke dalam dunia empiris. Dengan kata lain, semua pengalaman PDK atau PKT sebetulnya hanyalah halusinasi dan fantasi, tak real ada, yang berlangsung hanya dalam tempurung otak manusia karena dipicu oleh berbagai macam faktor internal maupun eksternal.


NEUROSAINS – GOD HELMT : 
—————-
Neurosaintis Michael A. Persinger berpendapat, ya kita dapat menciptakan sendiri semua pengalaman keagamaan yang kita kehendaki. Persinger telah menulis sebuah buku bagus, berjudul Neuropsychological Bases of God Beliefs.

Allah dan semua pengalaman spiritual/paranormal (seperti PKT/OBE, atau perasaan kuat bahwa sesuatu yang supernatural, Allah atau malaikat atau suatu demon/setan, hadir dekat kita, yang disebutnya “a sensed presence”) memiliki basis fakta bukan di dunia adikodrati, melainkan pada kerja neuron-neuron otak kita, yakni ketika temporal lobes dari otak kiri (wilayah neural dalam organ otak, yang terletak persis di atas telinga) diberi rangsangan medan elektromagnetik secara teratur lewat elektroda yang dipasang pada sebuah helm yang sudah dimodifikasi, lalu helm ini, yang dikenal sebagai “God Helmet”, dipasang pada kepala si subjek yang sedang diteliti.

Rangsangan medan elektromagnetis ini menimbulkan apa yang disebut temporal lobe transients, yakni peningkatan dan ketidakstabilan pola-pola penembakan neuron-neuron otak dalam aktivitas elektrokimiawi pada wilayah temporal lobe ini. Ketika keadaan ini tercipta di temporal lobe otak kiri, sehingga tak terjadi sinkronisasi antara otak kiri dan otak kanan, temporal lobe pada otak kanan mengalami gangguan, dan gangguan pada otak kanan ini ditafsirkan oleh otak kiri sebagai suatu “kehadiran diri lain” atau suatu “kehadiran yang dirasakan.” Pada kondisi kerja otak yang normal, temporal lobe otak kiri dan temporal lobe otak kanan secara sinkron dan harmonis memberi kesadaran pada diri kita bahwa kita ini memiliki “satu identitas” diri; ketika sinkronisasi dan harmoni antara keduanya tak terjadi, temporal lobe otak kiri menafsirkan “jati diri” yang muncul dalam temporal lobe otak kanan sebagai “suatu diri yang lain” (Allah, santa/santo, malaikat, bahkan demon).

“God Helmet” yang digunakan Persinger dalam studi-studinya mendapat perhatian kalangan luas. Kurang lebih 80 % pengguna helm khusus ini merasa ada suatu kehadiran spiritual di sisi mereka ketika pengujian sedang dijalankan.

Ketika helm istimewa ini selama 40 menit dikenakan pada Prof. Richard Dawkins, seorang ateis dan kritikus agama, biologiwan yang termasyhur ini tak berhasil mengalami perasaan dihadiri Allah di sisinya, tetapi pernafasan dan anggota-anggota tubuhnya terpengaruh oleh helm ini. Mungkinkah keadaan yang dialami Dawkins ini menunjukkan bukan kegagalan kerja God Helmet, tetapi karena Dawkins, seperti dikatakan Uskup Stephen Sykes dalam konteks lain, tidak memiliki “bakat untuk agama”? Atau, barangkali Dawkins, selama uji coba helm istimewa itu, melakukan perlawanan mental terhadap situasi yang di atas disebut temporal lobe transients?

Michael Shermer, misalnya, seorang skeptik dan penulis banyak buku kajian neurosains, pernah juga menjadikan dirinya subjek uji coba God Helmet. Pada uji coba ronde pertama, karena dia tidak percaya dan melakukan perlawanan mental terhadap suasana neurologis yang ditimbulkan helm ini, dan ingin mengontrolnya, dia gagal mengalami fenomena paranormal. Tetapi pada uji coba ronde kedua, ketika dia menuruti kekuatan magnetisme yang melanda temporal lobe-nya, dia sedikit banyak terhanyut ke dalam suatu pengalaman yang dirasakannya aneh dan tak biasa, seperti diakuinya dalam bukunya bahwa dia merasa sedang terlibat dalam suatu pertempuran sengit antara bagian rasional dan bagian emosional otaknya “untuk memutuskan apakah perasaan bahwa aku ingin meninggalkan tubuhku sendiri adalah suatu perasaan yang real.”

Meskipun God Helmet-nya gagal bekerja pada diri Richard Dawkins, si pembuat helm ini, Persinger, tidak patah semangat. Menurutnya, kepekaan temporal lobes terhadap magnetisme berbeda-beda dalam diri setiap orang, dan orang-orang yang mengidap temporal lobe epilepsy (TLE) khususnya sangat sensitif terhadap medan magnet.

Bahkan Persinger berpendapat bahwa ada orang yang secara genetik memiliki kecondongan untuk bisa merasakan dan terpengaruh oleh sesuatu yang “adikodrati”, dan mereka yang semacam ini tidak memerlukan God Helmet untuk mengalami pengalaman-pengalaman keagamaan. Menurutnya, medan elektromagnetik yang tercipta secara alamiah (lewat kejadian alam) dapat juga memunculkan pengalaman-pengalaman keagamaan. Sebagai contoh, ketika Bumi dihujani meteor-meteor dari angkasa luar yang memancarkan gelombang elektromagnetik yang sangat kuat, Joseph Smith, sang pendiri Gereja Orang Suci Zaman Akhir, mengklaim dikunjungi malaikat Moroni, dan Charles Taze Russell mendirikan Saksi Yehovah.

Jika magnetisme yang dengan kuat merangsang korteks-korteks neural dalam otak manusia memunculkan berbagai macam pengalaman spiritual, maka sesungguhnya pengalaman-pengalaman ini, dalam bentuk yang masih sangat natural dan primitif, belum dirasionalisasi dan disistematisasi ke dalam suatu belief system, juga mustinya sudah dialami oleh homo sapiens (makhluk cerdas) ketika “animisme” menjadi bagian sehari-hari kehidupan spesies ini sekitar 14.000 tahun yang lalu, di era pra-sejarah dan pra-ilmiah, sementara spesies cerdas ini sendiri sudah muncul di muka Bumi 200.000 tahun yang lalu setelah melewati proses evolusi biologis yang memakan waktu sangat panjang. Pada sisi lain, kita tahu, sejak awal planet Bumi terbentuk (3,5 milyar tahun yang lalu), dari inti dalam planet ini memancar medan magnit Bumi, yang membuat kedua kutub Bumi bersifat magnetis. Selain itu, di ruang antarbintang dan antarplanet, dan antargalaksi, juga memancar gelombang elektromagnetis. Jadi, alam sendiri memang memungkinkan pengalaman-pengalaman spiritual akhirnya muncul sebagai bagian dari berbagai kejadian alamiah: evolusi spesies (khususnya evolusi otak homo sapiens) dan magnetisme Bumi.

Selain lewat rangsangan medan elektromagnetis pada korteks-korteks otak, PKT atau OBE juga dapat dialami, sebagaimana disarankan Prof. Richard Wiseman dalam bukunya Paranormality, lewat latihan-latihan yang mencakup relaksasi (yang disebutnya “relaksasi otot progresif”, dengan mula-mula menegangkan berbagai otot di seluruh tubuh anda, lalu melepas semua ketegangan otot itu), visualisasi (membayangkan di depan anda berdiri duplikat diri anda, yang selanjutnya melakukan berbagai kegiatan di dalam ruang di mana anda berada atau di luar ruang), dan konsentrasi (pusatkan pikiran anda pada satu tujuan anda: menyatu dengan duplikat diri anda, dan melaksanakan semua yang anda telah bayangkan dilakukan oleh duplikat diri anda). Pada bagian akhir uraiannya tentang OBE, Wiseman menulis, “OBE bukan paranormal dan tidak memberi bukti adanya jiwa manusia, melainkan menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih luar biasa mengenai kerja otak dan tubuh anda sehari-hari.”

—————
NEUROSAINS – ANATOMI OTAK :
—————-

*The Function of Human Brain : Sejumlah area fungsional di otak, seperti korteks somatosensori dan korteks visual, yang jika terpengaruh oleh trauma dapat menimbulkan halusinasi yang ditafsirkan sebagai PDK

*Gambar bagian-bagian besar organ otak manusia : Empat korteks besar yang berada di bagian atas otak (disebut “higher brain”, otak atas), terdiri atas frontal lobe, parietal lobe, occipital lobe, dan temporal lobe. Sedangkan bagian-bagian yang terletak di bawah (disebut “lower brain”, otak bawah) terdiri atas medulla oblongata, pons, dan otak tengah (midbrain). Jika terjadi sesuatu yang menyebabkan otak atas tak berfungsi atau mati, otak bawah masih bisa berfungsi. Jika seluruh lipatan dan lekukan otak atas dibuka dan dibentang, luasnya sampai dua halaman kertas koran besar.


*Gambar tentang neurons work design ialah gambar diperbesar satu sel saraf (neuron) dalam otak manusia, yang jumlah keseluruhannya ada 100 milyar sel

*Gambar diatas dengan nama major parts of human brain menjelaskan tentang : bagian-bagian besar internal otak manusia


NEUROSAINS  : KESIMPULAN
—————
Siapapun, kapan pun dan di mana saja, dapat mengalami berbagai pengalaman keagamaan yang sudah dikemukakan di atas, jika berada dalam situasi dan kondisi berikut ini: kekurangan oksigen (misalnya ketika sedang berada di puncak gunung sangat tinggi), menghirup carbon dioksida (CO2) dalam jumlah berlebih (keadaan klinis yang dinamakan hypercardia), mengalami trauma, kehilangan banyak darah, terserang penyakit-penyakit berat (seperti serangan jantung, epilepsi, dan trauma pada otak), sedang terserang stres dan depresi, meminum obat-obat yang berefek halusinogenis, anastetis dan neurotoksis, menerima rangsangan gelombang elektromagnetis pada korteks-korteks otak, pikiran yang terkonsentrasi, mengalami kelelahan berat dan kurang tidur yang berlarut-larut, dan kecondongan-kecondongan genetik.

Tak pelak lagi, harus disimpulkan bahwa berbagai pengalaman spiritual yang di antaranya sudah diuraikan di atas bisa berlangsung bahkan dengan sangat intens karena organ otak manusia memang memiliki berbagai kemampuan neural untuk menimbulkan pengalaman-pengalaman itu. Semua pengalaman spiritual dengan demikian terhubung sangat kuat, hard-wired, dengan neuron-neuron dalam organ otak; atau sebaliknya, otak manusia hard-wired dengan pengalaman spiritual. Dengan kata lain, “roh” (spirit) atau “pikiran” (mind) manusia ada karena otak bekerja. Otak dan “roh” tak terpisah; otaklah yang memunculkan “roh”. Tanpa organ otak, tak ada roh. Tanpa tubuh, tak ada pikiran. Keduanya menyatu, tak terpisahkan. Kalau tubuh/otak mati, maka “roh” dan pikiran pun lenyap, tidak pergi ke “suatu tempat” lain dalam dunia immaterial.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, ketika dalam suatu pengalaman spiritual seseorang merasa “roh”-nya keluar dari tubuhnya, atau terbang melayang ke angkasa, perasaan ini timbul karena aktivitas otaknya, tak lebih dan tak kurang. Sesuatu sedang terjadi bukan di luar otaknya, tetapi di dalam tempurung kepalanya, di dalam organ lunak keabu-abuan yang beratnya 1,5 kg, yang kita namakan otak.

Michael Shermer dalam bukunya, The Believing Brain. dengan bagus menyatakan, “Pikiran adalah apa yang dikerjakan otak. Tidak ada apa yang disebut ‘pikiran’ pada dirinya sendiri, di luar aktivitas otak. Pikiran hanyalah sebuah kata yang kita gunakan untuk mendeskripsikan aktivitas neurologis dalam otak. Jika otak tak ada, pikiran juga tak ada. Kita mengetahui ini karena jika suatu bagian dari otak hancur karena stroke atau kanker atau luka atau pembedahan, apapun yang bagian otak yang rusak itu sebelumnya lakukan, kini lenyap sama sekali…. Tanpa koneksi-koneksi neural/syaraf dalam otak, pikiran tidak ada.” Jadi, tak ada zat yang dinamakan roh atau pikiran yang faktual bisa lepas dari tubuh manusia.

Selanjutnya perlu diketahui bahwa para neurosaintis bukan saja menyelidiki hubungan pengalaman keagamaan dan otak dengan memakai orang pada masa kini sebagai subjek-subjek uji coba klinis, tetapi mereka juga menerapkan perspektif neurosains pada orang-orang suci zaman yang sudah sangat lampau, yang dikisahkan dalam kitab-kitab suci pernah mengalami pengalaman paranormal.

Beberapa neurosaintis mengaitkan peristiwa yang dialami Musa dan Rasul Paulus, sebagaimana dikisahkan dalam Alkitab, dengan Temporal lobe epilepsy (TLE) . Seorang yang menderita epilepsi karena mengalami gangguan pada temporal lobes-nya cenderung dapat mengalami berbagai pengalaman keagamaan, yang jika ditinjau dari neurosains adalah tanda-tanda terserang penyakit ini, seperti mendapat penglihatan dari dunia adikodrati, mendengar suara Allah atau suara malaikat, mengalami halusinasi, mengalami fenomena fotisme (= melihat terang berkilauan), jatuh ke tanah tanpa daya, lalu menyusul suatu serangan kebutaan pada mata.

CITATION :

http://www.science.howstuffworks.com/science-vs-myth/extrasensory-perceptions/near-death-experience.htm.

http://science.howstuffworks.com/science-vs-myth/afterlife/science-life-after-death.htm.

http://science.howstuffworks.com/science-vs-myth/extrasensory-perceptions/near-death-experience3.htm; dan

http://science.howstuffworks.com/science-vs-myth/extrasensory-perceptions/near-death-experience4.htm.

Michael Shermer, Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time (New York: St. Martin’s Griffin, 1997, 2002) hlm. 81.

http://science.howstuffworks.com/science-vs-myth/afterlife/science-life-after-death1.htm.

http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0017006.

http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=religious-experiences-shrink-part-of-brain&print=true.

Simak kajian yang dilakukan Lazar SW, Bush G, Gollub RL, Fricchione GL, Khalsa G, et al., “Functional brain mapping of the relaxation response and meditation” dalam NeuroReport 11:1581-1585, tahun 2000.

Shankar Vedantam, “Tracing the Synapses of Our Spirituality”, dalam Washington Post, 17 Juni 2001; lihat juga http://www.maps.org/media/vedantam.html.

Steve Paulson, “Divining the Brain”, Salon, 20 September 2006; lihat juga http://www.salon.com/books/int/ 2006/ 09/20/newberg/print.html.

Lihat Benedict Carey, “A Neuroscientific Look ast Speaking in Tongues” dalam New York Times, 7 November 2006; juga http://www.nytimes.com/2006/11/07/health/07brain.html?scp=9&sq=brain,%20religion&st=cse.

Michael Persinger, Neuropsychological Bases of God Beliefs (New York: Praeger, 1987).

Lihat “BBC: God on the Brain” dalam http://www.bbc.co.uk/science/horizon/2003/godonbrain.shtml.

Michael Shermer, The Believing Brain: From Ghosts and Gods to Politics and Conspiracies―How We Construct Beliefs and Reinforce Them as Truths (New York: Henry Holt and Co., 2011) hlm. 90-93.

Richard Wiseman, Paranormality: Why We See What Isn’t There (2010) hlm. 51.

Michael Shermer, The Believing Brain, hlm. 111.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s