Non Overlapping Magisteria (NOMA)


Non Overlapping Magisteria (NOMA) :

Non-overlapping magisteria adalah sebuah konsep yang diperkenalkan oleh ahli biologi Amerika ternama, Stephen Jay Gould. Secara harfiah, konsep ini berarti “domain yang tak saling tumpang-tindih,” maksudnya adalah tumpang-tindih antara domain agama dan domain sains. Dalam perdebatan agama dan sains, para sarjana berbeda pendapat bagaimana sebaiknya menyikapi isu agama dan sains. Ada yang berpendapat bahwa agama dan sains bersifat kontradiktif, ada yang berpendapat keduanya bersahabat, ada juga yang berpendapat keduanya saling mengisi. Gould berpendapat bahwa domain agama dan sains sebaiknya dipisah secara total. Agama tak boleh ikut campur dalam urusan sains, begitu juga sebaliknya, sains tak boleh ikut campur dalam urusan agama.

Huxley : menyatakan bahwa persoalaan tentang tuhan tidak dapat dipecahkan dengan metode ilmiah

Menurut mc grath : pernyataan kaum theist dan atheist ialah sangat dogmatis dan didasari oleh bukti-bukti empiris yang tidak memadai

Stephen jay gould : sains sama sekali tidak dapat (dengan metode yang sah member keputusan menyangkut persolaan kemunginan pengawasan tuhan atas alam semesta

Mengapa kita tidak boleh berkomentar tentang tuhan sebagai ilmuwan, dan mengapa teko teh russel/FSM/fairy tooth, tidak kebal terhadap skeptism ilmiah.

Dalam rock of ages, gould menulis “Ranah Sains melingkupi wilayah empiris dari alam semesta ini yang terbuat dari fakta dan mengapa alam semesta berjalan seperti ini, yang membuahkan (theory), hukum, prinsip-prinsip. Sementara magisterium agama melingkupi persoalan-persoalan makna dan nilai-nilai moral tertinggi, kedua magisterial ini tidak saling bersinggungan dan mereka juga tidak mencangkup semua penyelidikan. Sains mengkaji zaman baru (age of rocks) dan agama itu sendiri rock of ages/oldiest/dullness. Sains mempelajari bagaimana langit dan cakrawala bekerja, dan agama mempelajari bagaimana menuju surga”

Lalu kenapa persoalan-persoalan tertinggi ini kehadiranya menjadikan agama sebagai tamu yang terhormat dan ains harus mengundurkan diri secara terhormat, seperti kasus yang masih menjadi misteri bagi science, contoh what happened before the big bang, dan apa yang menyebabkan itu, serta misteri segitiga Bermuda, ada banyak theory-theory. Mengapa kaum ilmuwan secara pengecut member penghormataan yang sangat besar pada ambisi para teolog dalam menyangkut persoalan-persoalan dimana para teolog jelas tidak lebih mempuni untuk menjawabnya, disbanding para ilmuwan sendiri.

Bagaimana sang teolog dengan yakin yang hanya bermodal kitab kuno dan mengklaim memiliki 100% kebenaran absolute, sementara para scientist sendiri yang bermodal satellite, misroskop, atau teleskop tercanggih, serta shuttle space yang harganya bermiliyar atau bertriliyun-triliyun dollar masih belum yakin, setidaknya tidak mengklaim memiliki kebenaran yang absolute.

Namun jika sains tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan pelik, apa yang menjadikan orang berfikir bahwa agama bisa menjawabnya?

Tidak ada alasan untuk memberia gama suatu lisensi gratis untuk member tahu kita apa yang harus kita lakukan, lalu agama yang mana ? agama ditempat kita kebetulan dibesarkan didalamnya ? bab berapa yang kita harus buka ? dari kitab apa ? itu (printah/theory/ajaran/dogma) agama satu akan berkontradiski dengan agama lainya? Apa setelah kita baca, apakah masuk akal ?

Misalnya :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kosmologi_Hindu, http://www.bbc.co.uk/schools/gcsebitesize/rs/environment/christianitybeliefsrev1.shtml, http://ratnakumara.wordpress.com/2008/11/07/awal-mula-penciptaan/ (budha)

http://www.quran-islam.org/main_topics/creation_of_universe_%28P1212%29.html,

http://www.keajaibanalquran.com/astronomy_origin_universe.html,

semua dirangkum disini : http://id.wikipedia.org/wiki/Mitos_penciptaan

Kita semua bersalah karena telah berusaha keras untuk bersikap ramah kepada musuh yang tak berharga namun kuat, kebohongan setiap kisah tentang mukzizat yang menjadi sandaran berbagai agama begitu memikat, begitu banyak orang beriman karena mukzizat, pada dasarnya mukzizat sendiri melanggar prinsip-prinsip science. Pengaruh supernatural pada dasarnya diluar jangkauan sains (seperti doa)

Anda bisa beranggapan bahwa sains sama sekali tidak mengancam karena ia tidak ada kaitanya dengan klaim-klaim kegamaan, agama hanya bisa ada tanpa kreasionsm, tapi kreasionism tidak akan ada tanpa agama, sains ialah merupakan suatu bentuk rasionalism, sedangkan agama suatu bentuk takhayul yang paling lazim.

Bukanya menghargai keterpisahan dari wilayah kajian sains, kaum kreasionis tidak memiliki kegemaran lain, selain menginjak-injak wilayah sains..

Saya ingin punya tuhan (kalaupun ada) dikehidupan saya, bukan di akhirat nanti (kalaupun ada), yang baik hati yang selalu menolong dan membatu saya dalam melalui hari-hari (memperlihatkan kebaikanya kepada setiap umat manusia) , yang menjawab doa baik saya, dan memperlihatkan mukzizat terhadap saya setiap hari..

Apa gunanya suatu tuhan yang tidak memperlihatkan mukzizat dan tidak menjawab doa?

Sains dan agama tidak dapat dicocok-cocokan karena, seperti kata Stephen Jay Gould dalam usulan NOMA (non-overlapping magisteria)-nya, keduanya berada di ranahnya masing-masing. Upaya pencocokan pun pada akhirnya hanya akan berakhir pada penistaan agama, karena seperti kata Karl Popper sains bersifat harus selalu bisa difalsifikasi, sehingga ketika teori sains salah maka ayat Quran yang dicocokan juga menjadi salah, sehingga kehilangan wibawanya. Selain itu, pencocok-cocokan Quran dengan sains hanya akan menjatuhkan kredibilitas Quran karena dibuat mengikuti ke manapun arah sains bergerak.

Sebenernya simple, kalo teis mau mengakui bahwa kepercayaannya itu hanya berdasarkan RASA percaya saja, ya kasus selesai. Kalo teis mau mengakui bahwa kepercayaannya hanya berdasar emosi dan rasa hangat di hati, yasudah saya juga diem. Tapi kan nggak gitu, teis NGOTOT mau masuk ke ranah sains, masuk ke ranah faktual dan logika, mengacak-acak realita. Ketika teis mulai mencampur adukan imajinasinya dengan fakta dan sains, di sini terjadi benturan. Saya jadi pengen noyor.

Ada istilah NOMA: Non Overlapping Magisteria. Agama dan sains itu dua hal yang gak bisa tumpang tindih dan disatukan. Saya lebih respect pada teis yang mengakui NOMA, “Ateis mungkin benar tapi saya percaya tuhan karena saya butuh untuk percaya..”

Kalo teis mengakui bahwa rasa percayanya hanya hal subyektif sama seperti kesukaannya pada es krim coklat, ya debat selesai. Tapi kalo masih mau ngotot mencoba membuktikan tuhan dan imannya lewat sains dan logika, oh ayo sini..


Hingga beberapa abad lalu, orang-orang berpikir Tuhan pasti menjadi pengontrol segala sesuatu. Kenapa angin berhembus? Kenapa ada petir? Kenapa matahari dan bulan mengelilingi bumi? Kenapa orang bisa sakit dan mati? Kenapa semua itu bisa terjadi?

Jawabannya simpel, karena itu semua telah jadi kehendak Tuhan. Ketika orang tidak bisa menjelaskan sesuatu, dengan mudah dia akan berkata,”Tuhan lah penyebab semuanya.”

Jawaban semacam ini disebut sebagai “god of the gaps” (ruang kosong yang ditempati Tuhan) atau “argument from ignorance” (argumen karena ketidaktahuan/abai). Disinilah letak pusat konflik antara sains dan agama. Sains mencari sebab natural sedang agama mencari sebab supranatural.

Secara konsisten, sains telah menyediakan jawaban atas banyak hal. Ruang yang dulunya ditempati Tuhan perlahan-lahan mulai semakin menyempit. Semakin kita memahami sesuatu, semakin sempit ruang bagi Tuhan untuk beroperasi. Ketika kita memahami pergerakan matahari, dewa Yunani Helios jadi tak diperlukan lagi. Ketika kita memahami terjadinya kilat, Zeus atau Jupiter jadi tidak valid lagi untuk menjelaskan fenomena ini.

Saat Benjamin Franklin menemukan penangkal petir, terjadilah kehebohan di kalangan gereja. Apakah gereja mesti dilengkapi juga dengan penangkal petir atau cukup mengandalkan perlindungan Tuhan saja?

Akhirnya toh mereka memutuskan untuk memasang penangkal petir setelah melihat gereja lebih sering disambar petir dibanding bangunan lain yang diberi penangkal petir. Apa yang terjadi, bukankah gereja merupakan rumah suci yang seharusnya dilindungi Tuhan?

Cerita ini menjadi contoh bagus bagaimana ruang yang dulu ditempati Tuhan telah diganti oleh penangkal petir temuan Benjamn Franklin.

Dari hari ke hari ruang untuk Tuhan semakin tergusur, gap itu pun kian mengecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s