Arti dan Ketiadaan


Orang muda pencari kebenaran berjalan melalui tahap bertanya-tanya apakah hidup memiliki arti yang nyata. Mengapa kita disini? Mengapa alam semesta disini? Apakah ada tujuan dari semua ini? Ini adalah pertanyaan terakhir, meliputi yang lainnya. Para pencari biasanya terjun dalam filsafat, dan menghabiskan bertahun-tahun bersusah payah membahas “keberadaan” dan “esensi” dan berdebat tentang bagaimana pikiran mendapatkan pengetahuan, bagaimana kita menentukan realitas, dan bagaimana bahasa membentuk pengertian kita.

Pada akhirnya, sebagian besar muncul (seperti yang terjadi pada saya) dengan jawaban yang tidak lebih baik dari ketika memulai — dan perasaan bahwa mereka telah memboroskan banyak waktu dan usaha. Omar Khayyan merasakan hal yang sama sembilan ratus tahun yang lalu:

Diriku ketika muda bersemangat mengunjungi mahaguru dan santo, dan mendengarkan perdebatan agung Tentang ini dan itu, namun selamanya Muncul dari pintu yang sama seperti saat ku masuk. Bagaimanapun, meski sia-sia, saya pikir setiap orang cerdas dapat menunjuk pertanyaan mengenai arti hidup dengan rasional tanpa berkutat dalam rincian filosofis dan argumen. Itulah apa yang akan saya lakukan sekarang: hanya mengatakan apa yang dapat diketahui, sebagaimana saya melihatnya.

Berikut adalah pandangan pribadi saya yang bersifat amatir. Pertama, 90% umat manusia — penganut agama — tidak perlu bertanya mengenai arti hidup. Gereja mereka memberi mereka jawaban. Pendeta dan kitab suci mengatakan bahwa Tuhan yang magis, tak terlihat, menciptakan alam semesta dan menempatkan manusia disini untuk diuji, menetapkan peraturan untuk perilaku kita guna diikuti, dan menciptakan surga sebagai balasan bagi mereka yang mengikuti petunjuk setelah mereka mati serta neraka untuk tempat penyiksaan bagi pelanggar perintah setelah mereka mati. Beberapa penjelasan supernatural seperti ini diterima oleh mayoritas luas manusia.

Namun sebagian dari kita tidak dapat menelannya, karena tidak ada bukti. Tak seorangpun pernah membuktikan bahwa manusia terus hidup sesudah kematian. Tak ada yang dapat membuktikan bahwa manusia disiksa atau diberikan balasan atas kebaikannya di dunia kematian — juga tidak bahwa ada jiwa tak terlihat yang menyiksa dan memberi balasan.

Oleh karenanya, manusia yang tak mudah diyakinkan, yang dikutuk menjadi pencari kebenaran, selalu mencari arti hidup namun tidak pernah menemukannya. Saya telah melaluinya selama setengah abad. Sekarang, saya pikir saya dapat menyatakan bahwa terdapat dua jawaban jelas: (1) Hidup tak memiliki arti. (2) Hidup memiliki ribuan arti.

Pertama, kurangnya arti: tentang tujuan akhir atau transcending moral order, semua pemikir besar sejak zaman Yunani kuno telah gagal menemukannya. Telah ada teori tak terbatas, tapi tak ada jawaban jelas. Martin Heidegger menyimpulkan bahwa kita dikutuk

Ketika kita mempelajari fakta ilmiah kita menyadari bahwa kosmos dan biosfir kita tampak sangat tak peduli dengan kemanusiaan, dan tak peduli apakah kita kita hidup atau mati. Gempa bumi, topan dan letusan gunung berapi tak peduli apakah mereka mengenai atau tidak mengenai kita. Singa, cacing pita, dan bakteria menganggap kita makanan.

Mengenai moralitas, saya tidak berpikir hal itu ada terlepas dari manusia. Itu hanyalah peraturan-peraturan yang dikembangkan kebudayaan untuk diri mereka sendiri dalam upayanya untuk membuat hidup dapat berjalan baik. Kaum konservatif berbicara mengenai “hukum alam”, namun sebenarnya tidak ada. Jika orang Ku Klux Klan menggantung orang hitam di cabang sebuah pohon, pohon tak peduli. Tidak juga tupai dan burung-burung di dahan. Tidak juga matahari atau bulan di atas. Alam tak peduli. Hanya manusia peduli. Atau pikirkan hak-hak manusia. Thomas Jefferson mengatakan bahwa semua orang “diberikan oleh Pencipta mereka dengan hak-hak yang tidak dapat diambil atau dirampas.” Tapi saya pikir Jefferson salah. Tidak ada bukti bahwa Pencipta mengkaruniai seseorang dengan suatu hak-hak yang diberikan Tuhan. Hak-hak tak terampas apa yang dinikmati oleh orang hitam Afrika yang dijual ke perbudakan — termasuk mereka yang terdapat di perkebunan Monticello Jefferson? Hak-hak pemberian Tuhan apa yang menjamin enam juta bangsa Yahudi ke kamp kematian Nazi? Atau sejuta kelas menengah Kamboja yang dibunuh tentara petani Pol Pot? Atau satu juta suku Tutsi yang dibunuh Hutu? Atau anak-anak Uster yang dibunuh oleh bom kaum Katolik dan Protestan? Atau penduduk Hiroshima pada tahun 1945? Atau sekitar satu juta perempuan yang dibakar sebagai penyihir oleh Inkuisisi?

Apakah arti hidup bagi jutaan yang sekarat karena AIDS, jutaan yang mati karena epidemi flu tahun 1918 atau Wabah Hitam, atau 900 orang yang memberikan sianida kepada anak-anaknya di Jonestown, atau 90 orang yang terbakar dengan anak-anaknya di kamp David Koresh? Apa arti yang ada bagi ribuan rakyat Honduras yang tenggelam dalam badai banjir dua tahun yang lalu? Atau enambelas murid taman kanak-kanak yang dibunuh oleh seorang psikopat dengan pistol? Atau dua ribu perempuan Amerika yang dibunuh oleh suami atau kekasihnya setiap tahun? Atau dua puluh ribu bangsa Aztec yang setiap tahun dikorbankan untuk ular terbang yang tak terlihat? Atau dua puluh ribu yang dicekik kaum Thugs untuk dewi mereka Kali?

Tak berarti, tak berguna (senseless), pointless — semua horror ini memiliki absurditas yang fantastis tentangnya. Kata-kata seperti tujuan, hak, dan moral tak dapat dipakai. Kejahatan seperti ini membuat jelas dengan logika sederhana bahwa tidak ada Tuhan ayah yang maha kasih, penyayang, pengampun. Akal sehat membuktikan bahwa Tuhan dermawan modern adalah fantasi yang sebenarnya tidak ada.

Dalam bukunya Consilience, ahli sosiobiologi besar E.O. Wilson menunjuk bahwa terdapat dua cara mendasar dalam melihat realitas: empirisme, hanya mempercayai apa yang diberikan oleh bukti, dan transendentalisme, mempercayai bahwa ketuhanan or hukum (order) moral kosmik eksis terlepas dari manusia. Jika ada bukti yang pernah mendukung yang terakhir, katanya, “Penemuan akan menjadi sangat berarti dalam sejarah manusia”.

Cukup untuk pengenalan bahwa hidup adalah tak berarti. Sekarang untuk realisasi bahwa hidup memiliki banyak arti. Jelas, realitas fisika, biologi, kimia, atom, sel, zat, radiasi — alam, dengan kata lain — memaksakan keteraturan fisik pada kita. Kita tidak dapat melarikan diri dari hukum alam yang mengatur bintang-bintang pada planet yang mengorbit. Kematian lebih besar dari kita; kita tidak dapat mencegahnya. Karenanya, apapun arti yang ada harus digunakan untuk waktu sementara sewaktu kita hidup. Jelas, terdapat tujuan fisik dan psikologis untuk hidup. Tubuh kita memerlukan makanan, pakaian,tempat berlindung, kesehatan, kenyamanan kasih sayang, dan keamanan dari kekerasan dan pencurian, dan seterusnya. Kita juga memerlukan hubungan dan reaksi sosial yang bersahabat dengan orang-orang di sekitar kita. Dan kita memerlukan kebebasan demokratis agar kita dapat bicara jujur tanpa takut hukuman, dan hukum supaya kita tidak akan diperlakukan secara kejam. Ini adalah tujuan humanis dalam hidup: untuk memberikan nutrisi yang lebih baik, obat-obatan, perumahan, transportasi, pendidikan, keamanan, hak asasi, dan kebutuhan manusia lainnya.

Untuk mencapai “kehidupan baik” humanis, manusia memiliki kebutuhan tinggi untuk membesarkan anak-anak yang cerdas, sehat, perhatian, dan bertanggung jawab. Kadangkala, saya berpikir bahwa satu-satunya tujuan terbesar dalam hidup ini ialah membesarkan anak-anak yang baik.

Saya pikir kita memberi persetujuan mengenai arti hidup secara biologis psikologis. Kita percaya dalam hal mencegah peperangan, menyembuhkan penyakit, mengakhiri kelaparan, meningkatkan literasi, mengurangi kejahatan, menghindari kekurangan makan, dan mengambil tindakan-tindakan lain yang membuat hidup menyenangkan — sampai kematian mengambil kita. Bagaimanapun, disamping dari tujuan berjenis “pekerjaan rumah tangga”, adakah arti yang lebih besar yang melampaui kebutuhan manusia? Saya pikir tidak. Paling tidak, saya tidak pernah dapat menemukan bukti apapun tentang itu. Kita hanya harus mencoba membuat kehidupan sebaik mungkin, dan menghindari horror, dan perhatian pada orang lain, dan membuat kegembiraan, meskipun tahu kekaburan sedang menjelang.

Tanam jerami selagi matahari bersinar, karena kegelapan menjelang. Carpe diem: renggut hari untuk saat ini; hidup sepenuhnya selagi anda bisa. Omar Khayyam melihat kebodohan dari mengagungkan diri sendiri, karena kebangkrutan atau sakit akan segera menghapus seseorang:”Bodoh, balasanmu tidaklah disini atau disana”. Jadi penyelesaian Omar adalah mencari kesenangan dalam puisi, anggur, dan kekasihnya “disampingku menyanyi dalam hutan belantara — dan hutan belantara cukup surgawi.” Sekitar 1400 tahun sebelum dia, skeptik besar Yunani Epicurus merasakan hal yang sama.

Jadi ini yang anda dapat: Kita yang bukan kaum ortodoks religius tidak dapat menemukan alasan yang mendasari eksistensi/keberadaan. Dan kita tahu bahwa kematian merangkak di depan. Jadi kita harus membuat masa antara sebaik mungkin sementara kita disini. Pandangan akan tujuan hidup seperti ini diringkaskan beberapa tahun yang lalu oleh judul seminar Unitarian:”Menari di Ngarai Gelap”. Dan Zorba Yunani mengajar kita, Apakah hidup, jika bukan untuk menari?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s