DEMOKRASI TAK MATI KETIKA MASIH ADA CACI-MAKI, DEMOKRASI MATI KETIKA PEMUJAAN DIMULAI


Summary : ” Satu – satunya tempat paling bebas di alam semesta adalah ruang kelas, sebab di ruang kelas orang hanya bertumpu pada kekuatan argumen. Jadi apapun pikiran orang harus bisa disajikan untuk dibantai, termasuk pikiran tentang surga dan nasionalisme” ungkap Rocky Gerung

MP : Kalau fakta bahwa sekarang banyak nasionalisme buta dan syariat islam beredar di kampus, bagaimana cara menghadapinya?

RG: Satu-satunya tempat paling bebas di alam semesta adalah ruang kelas. Sebab di ruang kelas orang hanya bertumpu pada kekuatan argumen. Jadi apapun pikiran orang, dia harus bisa disajikan untuk dibantai. Termasuk pikiran tentang surga, pikiran tentang nasionalisme. Jadi, ga ada alasan bahwa kampus itu menutup diri dari semacam “oh canggung, hari ini soal agama segala macem” Enggak! Agama itu dibahas di kampus bukan keyakinannya, tetapi argumen tentang agama, argumen tentang keyakinan. Jadi, itu sebetulnya yang menyelamatkan dunia Eropa dari perkelahian perang agama disana. Karena kampus membuka diri untuk memeriksa argumentasi yang teologiskah, yang metafisik. Jadi biasakan aja mengundang orang, Anda punya pandangan tentang nasionalisme, oke. Letakkan di meja, kita diskusikan sampai betul-betul telanjang. Anda punya pandangan tentang agama, tentang keyakinan, tentang alam semesta, tentang Tuhan. Taruh di meja, kita diskusi. Syaratnya adalah: jangan marah kalau diskusi. Diskusi ditujukan untuk memperhalus argumen. Jadi argumen makin lama makin halus – kita bisa lihat serat-serat dari isi pikiran itu. Kalau dia menutup diri artinya dia tidak siap hidup didalam tradisi intelektual. ‘Kan dasarnya begitu.

Di kampus, ukuran pertama adalah anda intelektual. Intelektual berarti force of the better argument. Hanya argumen yang bermutu yang boleh diucapkan di kampus. Apa ciri argumen bermutu? Argumen bermutu adalah argumen yang membuka diri untuk dikritik ulang. Dengan cara itu ada dialektika ilmu pengetahuan. Jadi kalau bilang, “pokoknya gue yakin ya begini” you jangan debat. You bilang “pokoknya” itu artinya you menutup peluang untuk bertengkar secara rasional. Gitu, dong.

MP: Saya juga pernah datang ke seminar di ITB, mereka membagikan semacam flyer (selebaran – red) menyebarkan syariat islam dan anti-pluralisme. Bagaimana kita menyikapinya?

RG: Saya kira biasa aja orang mengedarkan itu, tapi mesti ditekankan bahwa anda mengedarkan artinya anda ingin terbuka untuk dipersoalkan. Kalau anda edarkan itu sebagai kebenaran absolut, maka saya tidak akan mengkonsumsi itu. Sebab yang diedarkan di ruangan kampus adalah sesuatu yang sifatnya falibilis. Falibilis artinya bisa dibuktikan salah. Kalau ga bisa dibuktikan salah, dirawatlah itu di ruang ibadah masing-masing. Supaya tidak ada problem dengan argumentasi. Jadi mau edarin proposal tentang negara islam, negara kristen, negara hindu, boleh aja tapi prinsipnya adalah kita mau debat tentang ide itu. Dalam islam misalnya juga, banyak ayat yang bisa diperdebatkan: ayat-ayat yang bersifat sosiologis, muamalah, soal -apa namanya – hukum waris kan bisa diperdebatkan.Yang ga bisa didebatkan adalah ayat-ayat yang sifatnya akidah, yang vertikal. Yang udah pasti. Kita ga bisa debatin tentang ada tidaknya Tuhan, dalam keyakinan. Di dalam teori evolusi boleh didebatkan. Jadi kalau dia datang dengan prinsip “Oke, ini ada pandangan saya” Oke, boleh ga itu dibicarakan secara akademis? Kalau enggak, oke, terimakasih tapi itu adalah keyakinan. Keyakinan tidak mungkin diperdebatkan. Tapi pengetahuan harus terbuka untuk diperdebatkan.

Simple aja, bilang aja oke, leaflet anda menarik. Saya mau bertanya Saya mau ajukan problem. Saya undang anda masuk kelas, kita debat disitu. ‘Kan itu gaya yang biasa, di luar negeri juga begitu, banyak pandangan yang absolut. Tapi kalau dia dipersiapkan untuk dipertengkarkan secara akademis, yang absolut juga bisa jadi relatif. Jadi ga ada pengentalan ideologi yang habis-habisan dikampus. ‘Kan kampus tempat orang menikmati masa muda. Masa muda adalah masa dimana semua kemungkinan harus diperlihatkan sebagai milik bersama. Hanya dengan cara itu, kampus bisa tumbuh. Kampus adalah tempat kemungkinan diolah dengan akal, bukan tempat keyakinan. Kalau keyakinan adanya di ruang-ruang privat. Ruang agama masing-masing orang. Jadi saya kira mesti terus terang mengatakan: “Apa yang anda sodorkan mengundang pertanyaan saya, kalau anda terbuka dengan pertanyaan itu, kita bisa bercakap-cakap. Kalau anda menutup diri, Saya juga mengembalikan aja.

Ya kalau soal kampus prinsip saya satu, kita mesti hidupkan pluralisme dalam kampus, terutama cara berpakaian, cara berpikir, orang ga dinilai karena celananya butut (pewawancara bercelana butut tertawa) Profesor Zizek (Slavoj Zizek, pemikir asal Slovenia -red) yang you sebut tadi, ada di tengah-tengah Occupy Wall Street, setiap hari pakai jins butut sama kaos oblong tapi bukunya ada kira-kira 500 yang dia tulis. Jadi bukan itu ukurannya, kita kadang-kadang judge orang dari penampilan segala macem. Juga ga bener orang yang pakaiannya kuyu-kumuh dianggap proletar misalnya. Jadi selalu mengukur orang di dalam debat dalam ruang kelas. Dengan cara itu kita tahu apa sense of justice dia, apa metodologi reasoning dia, apa logic dibelakang argumen.

Nah yang beginian, pasti sedikit dimana-mana. The priviliged few, namanya privileged few pasti sedikit. Tapi diseminasi dari pikiran kritis, begitu ada kesempatan sejarah, itu dia tumbuh lebih cepat dari virus. Dalam semua kesempatan, begitu critical mass-nya tumbuh, critical times-nya tersedia, maka yang tadi sedikit pasti, dalam istilah akademis, berkembang biak sebagai pikiran yang subversif dalam arti positif.

Noted :
MP (Media Parahyangan)
RG (Rocky Gerung)

Source : http://mediaparahyangan.com/wawancara-dengan-rocky-gerung-satu-satunya-tempat-paling-bebas-di-alam-semesta-adalah-ruang-kelas/2012/02/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s