Kemana Kita Pergi dan Berhenti? Lewat Pertanyaan “Mengapa?”


Ketika manusia mengucapkan “mengapa?”, setiap sinapsis di dalam otak manusia mengirimkan sinyal berupa data-data dari masa lalu untuk diolah di dalam neuron menjadi sebuah infromasi. Ketika manusia mengucapkan “mengapa?”, setiap mata rantai sebab-akibat menghampiri mata rantai lain untuk menyusun sebuah asumsi atas sebuah peristiwa. Ketika manusia mengatakan “mengapa?”, sebuah semesta kecil terbentuk di dalam benak dan dari situlah muncul sebuah pengetahuan baru. Lewat “mengapa?”

Dalam lini masa yang telah berlangsung kurang lebih 150.000 tahun, manusia membentuk sebuah peradaban hingga akhirnya menjadi Primus interpares di dalam Ekumene. Homo sapiens bisa bertahan menjadi yang terbaik di antara semua makhluk karena manusia mampu mengembangkan otaknya untuk beradaptasi dengan segala kondisi. Manusia mampu mengembangkan akal budinya agar mampu menaklukkan alam yang ganas dan tak kenal kata toleransi. Jika tumbuhan dan hewan lain beradaptasi lewat fungsi anatomis dan fisiologis, manusia maju selangkah lagi lewat pemanfaatan sel-sel di otaknya untuk membentuk sebuah perilaku. Manusia bersama ras Hominidae lainnya, yaitu: Pan (bonobo dan simpanse), Gorilla, dan Pongo (orangutan) mampu mengolah apapun yang ada di lingkungan mereka untuk dibunakan sebagai alat bantu bertahan hidup. Manusia terhitung sukses di antara saudara yang lain hingga akhirnya memimpin rantai evolusi yang terjadi di atmosfer.

Ketika tuntutan untuk bertahan hidup berhasil diatasi manusia, dengan kata lain manusia mulai mengalahkan semua halangan primer di atmosfer, manusia mengembangkan peradaban. Mereka menghimpun sejumlah kelompok untuk hidup bersama. Maka muncullah konsep klan, yang akhirnya berkembang menjadi suku, kerajaan, negara, dan akhirnya sistem global. Hal itu tidak terbentuk sekejap mata. Perubahan demi perubahan, persaingan demi persaingan, interaksi demi interakasi, dan seleksi demi seleksi mewarnai pembentukan kelompok sosial manusia mulai dari skala terkecil hingga skala global.

Dalam proses pembentukan tersebut, manusia membuat ide-ide mengenai kehidupan yang berkaitan dengan interaksi sesama manusia dan interaksi manusia dengan alam. Dari situlah akhirnya muncul pelbagai macam ilmu yang membentuk kehidupan manusia: ekonomi, sejarah, sosiologi, fisika, biologi, astronomi, dan lain-lain. Ilmu-iilmu tersebut menjawab kebutuhan manusia akan rasa ingin tahunya yang termaktub dalam tiga pertanyaan: 1) siapakah diriku? 2) dari mana aku berasal? dan 3) ke manakah aku akan pergi?

Pada masa kehidupan pra-sejarah manusia menyerahkan semua keperluan yang berhubungan dengan ilmu kepada para cenayang yang dianggap memiliki kemampuan supranatural. Mereka yang didapuk tugas sebagai perantara manusia dngan alam gaib tempat semua jawaban atas ketiga pertanyaan itu berasal. Timbullah segala sesuatu yanng berhubungan dengan kondisi di luar kemampuan manusia: kepercayaan akan dewa-dewi dan tuhan, kehidupan setelah mati, surga dan neraka, hukuman dan imbalan. Setiap bangsa dengan latar belakang berbeda memiliki pandangan masing-masing. Kepercayaan ini akhirnya berkembang menjadi sebuah bentuk agama, yaitu sebuah tatanan nilai yang mengatur kehidupan manusia lewat doktrin yang bersumber dari kekuatan di luar kehendak manusia. Agama memberikan jawaban atas segala sesuatu yang terjadi di luar pengetahuan manusia, mulai dari bencana alam, kelahiran, kematian, dan lain-lain. Agama berkembang lewat perkataan yang keluar dari para nabi, resi, guru, rabi, dan segala panggilan yang dipandang mampu menyampaikan pengetahuan dari luar sana.

Manusia memberikan kiasan-kiasan gaib akan segala sesuatu yang terjadi pada dirinya dan alam di sekitarnya. Muncullah cerita tentang penciptaan bumi dan langit, peristiwa besar seperti banjir, hingga peperangan antar pelbagai wangsa yang ada di sebuah tempat. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, setiap peradaban memiliki bentuk legenda masing-masing yang sangat khas. Cerita-cerita itu pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu menggambarkan idealisme manusia akan peristiwa yang terjadi pada saat itu. Cerita terus menyebar lewat pelbagai jalan. Dalam peyebarannya cerita itu mengalami perubahan dan penyesuaian mengikuti bentuk sosial dan politik manusia pada saat itu.

Kondisi itu terus terjadi hingga akhirnya muncul sekelompok manusia yang menamai dirinya sebagai filosof di daratan Yunani lima abad sebelum Kristus. Mereka berusaha menyingkap selubung pengetahuan yang selama ini tertutup. Para filosof ini memiliki tiga senjata utama brupa kata-kata, yaitu: apa, bagaimana, dan mangapa. Para filosof menerjemahkan, mengonstruksikan, atau bahkan mendobrak segala ide-ide tentang manusia dan alam pada saat itu. Mereka menggunakan pendekataan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berikut ini: 1) mengajukan pertanyaan, 2) memberikan dugaan awal, 3) merumuskan kerangka berpikir, 4) mengumpulkan data, 5) menganalisis sekumpulan data, dan 6) menarik simpulan atas pertanyaan yang diajukan di awal. Segala sesuatu akhirnya perlu dipertanyakan.
Setiap simpulan yang muncul dari sebuah pertanyaan tentunya masih perlu diuji keabsahannya. Maka terjadi proses yang dinamakan dialektika. Dialektika adalah proses pertukaran pikiran antara beberapa entitas yang memiliki cara pandang yang berbeda. Pandangan yang digugat adalah tesis, pandangan yang digunakan untuk mendialogkan pandangan sebelumnya adalah antitesis, ketika pandangan-pandangan ini berinteraksi maka terbentuklah sebuah sintesis. Sintesis akan menjelma sebagai sebuah tesis ketika sudah diterima sebagai sebuah common sense. Tesis ini akan bertenu lagi dengan antitesis lain dan terbentuklah sintesis baru, begitu seterusnya dialektika ini berjalan. Cerita tentang tiga orang buta yang memegang bagian tubuh gajah yang berbeda adalah gambaran sederhana mengenai dialektika ini.
Dahulu manusia memberikan warna mistis bagi hujan di mana hujan adalah tangis dari salah satu dewi di surga yang ditinggal kekasihnya berperang. Kini manusia mampu menjelaskan proses terjadinya hujan mulai dari penguapan air tanah yang selanjutnya terkondensasi menjadi awan dan turunlah kristal-kristal air itu menjadi hujan. Pengetahuan ini muncul setelah manusia menyingak tabir yang memisahkan dirinya dengan alam.

Sekarang pada akhirnya manusia mampu menjawab pertanyaan dari mana sesungguhnya manusia berasal. Tugas ini dilimpahkan kepada para ilmuwan yang mengerjakan tugas mulia menjawab pertanyaan ini lewat kemampuan intuisi dan akal mereka. Penjelasan mengenai proses terbentuknya alam semesta dibukukan lewat Teori Dentuman Agung. Penjelasan mengenai materi fundamental pembentuk alam semesta dijabarkan dalam Teori Dawai di mana dawai-dawai mikroskopis saling beresonansi membentuk elektron dan quark. Empat gaya fundamental berupa gravitasi, elektromagnet, nuklir lemah, dan nuklir kuat diajukan untuk menjelaskan proses interaksi antar materi dengan empat materi pembawa gaya itu dan dua belas materi pembentuk zat. Begitulah ilmuwan yang sejak abad kelima belas berusaha mencari jawaban lewat metode yang dikembangkan para pendahulu mereka para filosof. Nama-nama seperti Galileo Galilei, Leonardo da Vinci, Sir Isaac Newton, Charles Darwin, Nicolaus Copernicus, Kepler, Max Planck, Albert Einstein, dan Richard Dawkins telah menorehkan nama mereka dengan tinta emas dalam lembaran peradaban. Juga tidak ketinggalan para pemikir seperti Rene Descartes, David Hume, Thomas Aquinas, John Locke, Kant, Karl Marx, dan Friedrich Engels yang menyumbangkan pemikirannya guna membentuk peradaban manusia hingga saat ini.

Ketika manusia sudah puas dengan jawaban atas pertanyaan apa, manusia beralih pada pertanyaan bagaimana. Dan ketika manusia berhasil menjelaskan bagaimana, manusia mengajukan pertanyaan bagaimana. Hingga abad kelima belas sains masih hidup dalam pangkuan filsafat, segala pertanyaan dijawab oleh para filosof. Sains baru disapih ketika dia berhasil mengungkapkan bagaimana, dan di situlah tugas ilmuwan berjalan. Namun, pertanyaan mengapa sepertinya masih harus dijawab oleh para filosof. Para filosof inilah orang-orang yang berani ragu atas segala sesuatu yang menyelubungi mereka. Para filosof adalah pendobrak kebuntuan manusia. Para filosof adalah mereka yang berani melebarkan cakrawala pandang manusia.

Para filosof dan ilmuwan adalah garda terdepan pembentuk pengetahuan. Mereka yang menjumpai Tuhan lewat karya yang mereka tulis. Mereka adalah orang yang terus mendorong manusia untuk mencari dan mencari. Mereka yang mengantarkan manusia agar dekat dengan sumber segala misteri alam semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s