NEIL DEGRESSE TYSON – MAJALAH HISTORY


Oleh Neil deGrasse Tyson
Dari Majalah Natural History, Maret 2001
________________________________________
Berbekal dengan panca indera, manusia menjelajahi alam semesta disekitarnya dan menamakan petualangan tersebut dengan ilmu pengetahuan.
— Edwin P. Hubble 1948

Mata kita adalah alat pendeteksi khusus. Mata membuat kita dapat menerima informasi tidak hanya dari ruangan di sebelah kita tetapi juga dari alam semesta. Tanpa penglihatan, ilmu astronomi tidak akan lahir dan kemampuan kita untuk mengukur tempat kita di alam semesta ini akan terhalang. Bayangkan kelelawar. Apapun rahasia kelelawar yang turun dari satu generasi ke generasi berikutnya, anda dapat bertaruh bahwa tidak ada diantaranya yang berdasarkan dari bentuk langit di malam hari.

Bila digunakan sebagai alat untuk bereksperimen, kumpulan indera kita menikmati ketajaman yang menakjubkan dan sejumlah kepekaan. Telinga kita tidak hanya dapat mendengarkan kerasnya suara pesawat luar angkasa yang lepas landas, tapi juga dapat mendengar suara nyamuk berputar di sekitar kepala kita. Rasa sentuh kita dapat merasakan sakitnya saat bola bowling jatuh di jari jempol kaki kita, juga saat seekor serangga berberat satu miligram melangkah di tangan kita. Beberapa dari kita menikmati mengunyah kertas habanero saat lidah kita yang sensitif mengetahui adanya rasa makanan dari beberapa bagian per sejuta. Dan mata kita dapat melihat cerahnya hamparan pasir pantai di siang hari, namun mata yang sama juga dapat menangkap cahaya korek api, yang baru terbakar, sejauh ratusan kaki di dalam sebuah ruangan yang suram.

Sebelum kita terlalu memuja diri kita sendiri, ingatlah apa yang kita dapat secara luas, kita tidak melihat detil karena kita melihat dunia secara logarithmic bukan dengan secara pertumbuhan linear. Sebagai contoh, jika anda menaikkan kekuatan suara dengan faktor sepuluh, telinga kita akan menganggap perubahan tersebut relatif kecil. Naikkan dengan faktor dua dan anda akan merasakannya perubahannya.

Hal yang sama juga berlaku pada saat kita mengukur cahaya. Jika anda pernah melihat gerhana matahari penuh anda mungkin akan menyadari bahwa seluruh matahari setidaknya tertutup sembilan puluh persen oleh bulan sebelum orang menyadari bahwa langit telah suram. Perbedaan cahaya bintang, skala desibel pada suara, dan skala seismic dari kerasnya gempa bumi setiapnya adalah bagian logarithmic karena tubuh biologis kita cenderung untuk melihat, mendengar, dan merasakan dunia seperti itu.

Apakah, jika ada, yang diluar jangkauan indera kita? Apakah ada cara untuk mengetahui apa-apa yang melampaui antar muka biologis kita dengan lingkungan?

Bayangkan jika manusia adalah mesin, walaupun bagus saat menterjemahkan dasar-dasar dari lingkungan sekitar — seperti siang atau malam atau saat sebuah mahluk akan memangsa anda — tetapi memiliki bakat yang sedikit dalam menterjemahkan bagaimana seluruh alam bekerja tanpa alat-alat ilmiah. Jika kita ingin mengetahui apa yang ada di luar sana maka kita memerlukan alat pendeteksi selain dari yang ada pada badan kita semenjak lahir. Hampir disetiap kasus, pekerjaan dari para ilmuwan adalah memperluas dan memperdalam indera kita.

Beberapa orang mengaku memiliki indera keenam, saat mereka mengaku mengetahui atau melihat sesuatu yang orang lain tidak. Peramal, pembaca pikiran, dan orang-orang mistis adalah tingkatan teratas dari orang-orang yang mengaku memiliki kekuatan misterius.

Dalam melakukannya, mereka membangkitkan ketakjuban orang-orang lain, terutama penerbit buku dan produser televisi. Yang menjadi pertanyaan dari ruang parapsychology ini adalah berharap adanya setidaknya beberapa orang yang menyembunyikan bakat ini. Menurut saya, misteri terbesar dari mereka adalah kenapa para peramal tersebut lebih memilih bekerja lewat telepon dan televisi bukan memanfaatkan kemampuannya untuk menambah kekayaan dengan meramalkan keadaan Wall Street pada masa depan. Secara tersendiri ini adalah misteri yang dalam, sering gagalnya sebuah percobaan yang terkontrol untuk mendukung klaim dari parapsychology ini memberitahukan bahwa apa yang mereka lakukan tidak masuk akal bukan lah indera keenam.

Di sisi yang lain, ilmu modern menggunakan lusinan indera. Dan para ilmuwan tidak pernah mengakui bahwa itu merupakan hasil dari sebuah kekuatan khusus, hanya sejumlah perangkat keras. Pada akhirnya, tentu saja, perangkat tersebut mengubah informasi sedikit demi sedikit dari indera tambahan ini menjadi sebuah tabel, grafik, diagram, atau gambar sederhana yang mana indera kita dapat menterjemahkannya lebih lanjut. Di sebuah serial fiksi Star Trek, anggota yang dikirim dari pesawat ke sebuah planet yang awam selalu membawa tricorder, yaitu sebuah perangkat yang dapat menganalisa apa yang mereka temui, hidup atau tidak hidup, untuk mengetahui sifat dasarnya. Saat tricoder tersebut digoyangkan ke benda yang tidak diketahui, alat itu akan menghasilkan sebuah suara yang dapat diterjemahkan oleh pengguna.

Misalkan ada segumpal benda berkilap terhampar di depan anda. Tanpa alat penelitian seperti tricoder untuk membantu, manusia akan bingung akan komposisi kimiawi atau nuklir dari gumpalan tersebut. Kita tidak dapat mengetahui apakah terdapat elektromagnetik, atau apakah ia dapat menangkap sinar gamma, sinar x, ultraviolet, microwaves atau gelombang radio. Tidak juga kita dapat menentukan struktur cel atau kristal pada gumpalan tersebut. Jika gumpalan berada jauh di luar angkasa, tampak hanya sebagai sebuah titik di langit, panca indera kita tidak dapat mengukur jaraknya, kecepatannya di angkasa, atau laju perputarannya. Lebih lanjut kita tidak memiliki kapasitas untuk melihat spektrum warna yang membentuk cahaya yang diterimanya, dan tidak juga kita mengetahui apakah cahaya terpolarisasi atau tidak.

Tanpa perangkat untuk membantu kita dalam menganalisa, dan tanpa keinginan untuk menjilat benda tersebut, apa yang dapat anda laporkan kembali ke pesawat, Kapten, itu adalah sebuah gumpalan. Mohon maaf kepada Edwin P. Hubble, tetapi pernyataan pembukaan, walau tampak pedih dan puitis, harusnya seperti ini Berbekal panca indera, berikut dengan teleskop dan mikroskop dan sejumlah spectrometers dan seismographs dan magnetometers dan akselerasi dan pendeteksi partikel untuk spektrum elektromagnetik, kami menjelajahi alam semesta di sekitar kami dan menamakan petualangan tersebut dengan ilmu pengetahuan. Bayangkan kayanya dunia dan banyaknya alam semesta kita ketahui lebih awal jika kita lahir dengan mata yang dapat diatur, dengan presisi yang tinggi. Menggunakan gelombang radio sebagai bagian dari spektrum dan siang hari tampak seperti malam hari, kecuali untuk lokasi-lokasi tertentu. Galaksi kita termasuk salah satu tempat terterang di luar angkasa dan berada di belakang sebuah bintang utama dari kelompok Sagittarius. Bergabung dengan microwaves dan seluruh alam semesta tampak bercahaya bekas dari alam semesta sebelumnya, dinding cahaya yang terbentuk 300,000 tahun setelah big bang. Bergabung dengan x-rays dan lokasi dari black holes, dengan segala hal yang berputar di sekitarnya, akan langsung terlihat. Bergabung dengan sinar gamma dan dapat melihat pecahan kapal titanik bertebaran di seluruh alam dengan laju sekitar satu pert perhari. Melihat di sekitar bahan-bahan efek dari ledakan akan tampaklah panas dan kilauan di bagian cahaya lainnya.

Jika kita lahir dengan pendeteksi magnet, kompas tidak akan ada karena kita tidak membutuhkannya. Cukup dengan bergabung dengan jalur magnet bumi dan arah ke magnet Utara akan terbayang seperti Oz terbentang di horizon. Jika kita memiliki alat analisis spektrum di retina kita, kita tidak perlu khawatir apa yang ada di udara yang kita hirup. Kita cukup melihatnya dan dapat mengetahui apakah terdapat cukup oksigen untuk bertahan hidup. Dan kita seharusnya mengetahui ribuan tahun lalu bahwa bintang-bintang dan nebula di galaksi mengandung elemen yang sama dengan yang ada di bumi.

Dan jika lahir dengan mata yang besar dan memiliki pendeteksi gerak seperti Doppler, kita akan melihat langsung, walaupun hanya dalam bentuk gerutuan troglodytes, bahwa seluruh galaksi di alam semesta menjauh dari kita.

Jika mata kita memiliki resolusi seperti mikroskop bertingkat tinggi, tidak akan ada yang menyalahi wabah dan penyakit-penyakit disebabkan oleh sesuatu yang Maha Kuasa. Bakteri dan virus yang menyebabkan anda sakit akan tampak saat ia menjalar di makanan atau saat ia merangkat ke bagian luka di badan anda. Dengan percobaan sederhana, anda dapat mengetahui mana dari mahluk tersebut yang baik dan mana yang buruk. Dan tentu saja masalah infeksi sesudah operasi dapat ditangani ratusan tahun yang lalu.

Jika kita dapat melihat partikel berenergi tinggi, kita dapat melihat radioaktif dari jarak jauh. Tidak perlu lagi alat Geiger. Anda dapat melihat gas radon menyusup lewat bawah rumah anda tanpa perlu membayar orang untuk mengetahui hal tersebut. Pengasahan indera kita sejak dari lahir sampai masa kanak-kanak membuat kita sebagai orang dewasa mengindahkan hal-hal dan fenomena di hidup kita, menganggapnya masuk akal atau tidak. Masalahnya adalah, tidak banyak penemuan dari masa lalu yang tercipta dari penggunaan langsung panca indera kita. Mereka umumnya berkembang dari penerapan ilmu matematik dan perangkat keras. Fakta sederhana ini bertanggung jawab terhadap kenapa, pada orang umum, relativitas, partikel physics, dan teori sepuluh-dimensi string menjadi tidak masuk akal. Termasuk di dalamnya, black holes, wormholes, dan big-bang.

Sebenarnya, ide ini tidak masuk akal bagi para ilmuwan, sampai kita menjelajahi luar angkasa dalam waktu lama dengan segala indera teknologi yang ada. Akibatnya, pada akhirnya, adalah sebuah indera baru dengan tingkat yang lebih tinggi yang membolehkan ilmuwan berpikir dengan kreatif dan mengindahkan anggapan tentang dunia awam di bawah atom atau di luar angkasa. Ahli ilmu fisika dari abad 20 German Max Plank membuat pengamatan yang mirip tentang penemuan quantum mechanics:

Fisika modern mempengaruhi kita terutama dengan kebenaran dari doktrin lama yang mengajarkan bahwa terdapat kenyataan selain dari persepsi-indera kita, dan disanalah masalah dan konflik dimana kenyataan tersebut apakah bernilai lebih tinggi bagi kita dari pada kekayaan berharga dari pengalaman di dunia.

Panca indera kita bahkan mempengaruhi jawaban terhadap sebuah pertanyaan metaphysical seperti, Jika sebuah pohon roboh di dalam hutan dan tidak ada orang di sekitarnya, apakah ia mengeluarkan suara? Jawaban terbaik saya, Bagaimana anda tahu pohon itu roboh? Tapi itu hanya membuat orang-orang (yang bertanya) merasa marah. Jadi saya memberikan analogi yang lebih masuk akal, Q: Jika anda tidak dapat mencium bau karbon monoksida, lalu bagaimana anda tahu ia ada di sana? A: Anda mati. (Gas alami tidak memiliki bau bagi hidung manusia. Sebagai perlindungan, bau-bauan yang tajam ditambahkan supaya bocornya gas dapat ditemukan dan ditutup.) Di masa maju, jika seluruh anggapan di luar sana keluar dari akal sehat (indera) anda maka hidup yang berbahaya akan menunggu anda.

Menemukan suatu cara yang baru dalam mengetahui sesuatu selalu membuka sebuah jendela baru terhadap alam semesta — alat pendeteksi baru yang dapat di tambahkan ke daftar indera di luar badan kita. Bila hal ini terjadi, sebuah tingkat baru dari keagungan dan kompleksitas di alam semesta akan membuka dirinya sendiri kepada kita, walaupun kita berevolusi secara teknologi ke arah mahluk berakal luar biasa, membuatnya masuk akal sehat kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s