JULIA KRISTEVA : Kembalinya Eksistensi Perempuan sebagai Subyek

0

Christina Siwi Handayani*

What does “woman” mean? . . . Indeed, she (woman) does not exist with a capital W, possessor of some mythical unity . . . I understand by “woman” that which cannot be represented, something that is not said, something above and beyond nomenclatures and ideologies.
Julia Kristeva

Bagi Freud, perempuan sebagai ibu adalah obyek hasrat anak laki-laki dan sebagai anak perempuan dia menerima penghiburan paternal. Bagi Winnicott, perempuan adalah “ibu yang memadai”, cermin perkembangan subyektivitas bayi. Bagi Julia Kristeva, perempuan tidak bisa didefinisikan. “Jika kita membuat satu penjelasan tentang perempuan, tidak mungkin tidak di dalam definisi itu akan ada risiko menghapuskan kekhasannya. Kekhasan itu mungkin terkait dengan keibuan mengingat itulah satu-satunya fungsi yang membedakannya dari eksistensi jenis kelamin lain” (Kristeva, 1984).

Dalam budaya patriarkal, makna perempuan direduksi ke dalam fungsi ibu, atau dengan kata lain perempuan telah direduksi menjadi fungsi reproduksi. Dengan menolak menjadikan fungsi ibu sebagai subyek, budaya ini secara bersamaan menolak perempuan, keibuan, dan femininitas karena semuanya telah tereduksi ke dalam fungsi tersebut (Tales of Love, Kristeva dalam Oliver, 1998). Wacana tentang tubuh yang diasosiasikan dengan feminin, perempuan, atau wanita juga selalu dianggap rendah. Dalam tradisi beberapa agama, tubuh perempuan selalu mendapat “perlakuan khusus” dengan menolaknya terlibat dalam upacara keagamaan di saat mengalami siklus bulanan karena dianggap kotor dan menjijikkan sehingga bisa menghilangkan kesakralan tradisi keagamaan. Dalam sejarah panjang kemanusiaan, perempuan kemudian selalu dianggap sebagai makhluk yang tak bermoral, tidak bersih, lemah, atau inferior (Oliver, 1998).

Kristeva menerima konsep teori Lacan dan menyarikan bahwa wanita memang tidak punya akses ke bahasa. Bahasa telah membuang perbedaan gender melalui korelasi nama gender yang hanya mempertimbangkan ada tidaknya penis. Ketika anak berumur 3-6 tahun (fase phallic dengan ciri-ciri genital infantil) hanya ada satu genital yang diakui yaitu male meskipun faktanya ada dua jenis seks. Artinya hanya ada falus primer dan bukan genital primer (Freud dalam Kristeva, 2004). Jika berbicara fisik maka ada maskulinitas yang melekat dalam diri anak yang tidak mengindahkan anatomi seks sehingga little girl is a little man (Kristeva, 2004). Perempuan didefinisikan sebagai other bukan karena dia memiliki esensi lain, tapi lebih karena wacana memang memproduksinya demikian (Crownfield, 2003). Jika wacana tentang identitas seksual hanya mempertimbangkan ada-tidaknya penis maka wacana tentang perempuan, tubuh perempuan, dan semua atribut yang melekat padanya menjadi hilang. Akibatnya, wanita tidak pernah punya akses ke bahasa, kekhasannya dihapuskan, fungsi keibuan tidak diperhitungkan, dan perempuan sebagai subyek aktif tidak pernah dianggap ada sehingga kita tidak memiliki wacana yang cukup tentang keibuan. Agama, khususnya Katolik (yang menganggap ibu suci), dan ilmu pengetahuan (yang mereduksi ibu sebagai alam) adalah dua wacana tentang ibu yang tersedia dalam budaya Barat (Crownfield, 1992).

Julia Kristeva adalah salah seorang penulis utama Prancis dan satu- satunya wanita penulis yang kontribusinya penting dicatat karena telah menantang tradisi Barat yang didominasi oleh pemikiran pria yang mengenyahkan wacana tentang perempuan. Kristeva mengembalikan pentingnya tubuh (khususnya tubuh maternal) sebagai sumber makna (Roudiez, 1984). Freud dan Lacan mempertahankan pendapat mereka bahwa anak memasuki kehidupan sosial dengan memenuhi fungsi ayah, khususnya ancaman ayah tentang pengebirian. Kristeva mempertanyakannya karena jika itu adalah motivasi kita untuk memasuki kehidupan sosial mengapa kebanyakan dari kita tidak menjadi psikotik. Dia juga mempertanyakan ide Freudian-Lacanian bahwa ancaman ayah menyebabkan anak meninggalkan tubuh ibu yang aman dan nyaman. Mengapa meninggalkan tempat yang seperti surga jika yang akan kaudapatkan nanti adalah ketakutan dan ancaman (Crownfield, 2003)?

Kristeva berargumen bahwa pintu masuk ke dalam bahasa dan kehidupan sosial—memasuki hukum ayah menurut istilah Lacan— bukanlah akibat dari kekurangan dan pengebirian. Sebaliknya, kesenangan dan kelebihanlah yang memotivasi anak masuk ke dalam bahasa dan kehidupan sosial. Dalam disertasinya, Revolusi dalam Bahasa Puitis, Kristeva mengubah psikoanalisis Lacan tentang tatanan imajiner dan simbolik menjadi semiotik dan simbolik.

Semiotik mempelajari tanda—ini dikontraskan dengan simbolik yang terkait dengan bahasa verbal dan kehidupan sosial. Semiotik mencakup bahasa rangsangan, impuls, erotik, ritme tubuh, dan gerakan yang masih tersimpan dari tahapan anak-anak umur 0-6 bulan yang sangat berhubungan erat dengan tubuh maternal sebagai sumber awal irama, nama, dan gerak manusia karena kita semua bertempat di tubuh tersebut. Dengan menggunakan fase ini, Kristeva menegaskan bahwa hukum ibu mendahului hukum ayah karena tubuh maternallah yang mengembangkan kontrol diri anak melalui penentuan kapan anak mendapatkan susu, belaian, dan pelukan melalui gerak dan gestur tubuh maternal. Sementara, simbolik adalah elemen signifikasi yang diasosiasikan dengan tata bahasa dan struktur signifikasi yang memungkinkan anak memasuki kehidupan sosial.

Dengan argumen tersebut, Kristeva menumbangkan ide Lacan tentang fungsi paternal. Dia menantang ide Lacanian tentang hukum ayah (yang melakukan fungsi pihak ketiga paternal) yang mendorong anak bergerak dari tubuh maternal ke simbolik, atau yang mendorong anak bergerak dari kenyamanan dalam perlindungan ibu ke kehidupan sosial. Kristeva tidak sependapat dengan pemikiran Lacan yang mengatakan bahwa ketidaksadaran terstruktur seperti bahasa adalah hasil dari hukum ayah.

Kalimat Lacan yang terkenal, the unconsciousness is structured like a language—struktur bahasa adalah struktur ketidaksadaran, membawa kita ke ranah bahasa (simbolik). Ketika anak akhirnya bisa menyebut dirinya “aku”, membedakan dirinya dari orang lain dan memilih identitasnya, ia memasuki tatanan simbolik. Ia menjadi subyek yang berbicara. Menjadi penanda berarti menjadi bukan petanda. Pemikiran Lacan ini ditolak oleh Kristeva. Bagi Kristeva, ketidaksadaran itu sebagian besar adalah semiotik yang terdiri atas sensualitas diri praverbal yang terbangun oleh hukum ibu (Oliver, 1991). Ketidaksadaran terstruktur seperti alteritas sudah ada dalam tubuh maternal dan fungsinya. Dia menuntut wacana baru tentang keibuan yang mengakui arti penting fungsi ibu dalam pengembangan subyektivitas dan dalam budaya. Kristeva mementingkan fungsi ibu dan arti pentingnya dalam pengembangan subyektivitas dan akses kepada budaya dan bahasa.

Julia Kristeva dilahirkan di Bulgaria, 24 Juni 1941. Saat berumur 23 tahun, dia pindah ke Paris dan tinggal di sana sampai sekarang. Minatnya kepada bahasa dan linguistik sangat besar, dan pemikirannya dipengaruhi oleh Lucien Goldmann dan Roland Barthes. Dia juga mendalami psikoanalisis Freud dan Lacan. Dalam karyanya, Kristeva menggunakan pendekatan psikoanalisis untuk kritik pascastrukturalisme. Sebagai contoh, pandangannya tentang subyek dan pembentukannya mirip dengan pandangan Sigmund Freud dan Jacques Lacan. Tapi, Kristeva menolak pemahaman subyek dalam strukturalisme. Ia menganggap subyek selalu berada “di dalam proses” atau “di dalam krisis”. Hal ini adalah kontribusinya dalam kritik pascastrukturalisme terhadap strukturalisme, sementara tetap menerapkan ajaran psikoanalisis.

Kristeva berkarier sebagai peneliti dan akademisi. Dia filsuf, kritikus sastra, ahli psikoanalisis dan sosiologi, feminis dan sekarang juga novelis. Bersama dengan Roland Barthes, Todorov, Goldmann, Gérard Genette, Lévi-Strauss, Lacan, Greimas, dan Althusser, Kristeva menjadi salah seorang tokoh strukturalisme ternama saat strukturalisme memegang peranan penting dalam ilmu kemanusiaan. Karyanya memainkan peranan penting dalam pemikiran pascastrukturalisme. Penelitiannya di bidang linguistik, termasuk minatnya pada seminar yang diadakan Lacan pada tahun yang sama, dituliskan dalam karyanya Le Texte Du Roman (1970), Séméiotiké: Recherches pour une sémanalyse (1969), dan akhirnya disertasi doktornya, La Révolution du langage poétique (1974). Publikasi selanjutnya membuatnya diterima menjadi anggota kehormatan linguistik di Universitas Paris dan sebagai tamu kehormatan di Universitas Columbia New York. Kristeva juga menunjukkan pengaruhnya dalam analisis kritik, teori budaya, dan feminisme setelah menerbitkan buku pertamanya Semeiotikè. Ia menghasilkan banyak karya yang mencakup buku dan esai mengenai intertekstualitas, semiotika, dan penolakan secara psikologis (abjection) di bidang linguistik, teori dan kritik sastra, psikoanalisis, biografi dan autobiografi, analisis politik dan budaya, serta seni dan sejarah seni

Tubuh maternal, model yang memediasi hukum simbolik

Sejak awal tulisannya, Julia Kristeva berusaha membawa tubuh semiotik yang penuh dengan drive kembali ke strukturalisme. Usahanya juga ditandai dengan titik tolaknya dari teori Lacanian. Dia setuju bahwa pengurungan Lacan terhadap drive “mengebiri” penemuan Freud. Kristeva melindungi Bapak Psikoanalisis dari ancaman pengebirian dengan menuliskan kembali drive dalam bahasa. Strateginya adalah dengan mengembalikan bahasa ke dalam tubuh yang artinya menyetujui bahwa dinamika yang mengoperasikan simbolik telah bekerja dalam material tubuh dan imajiner prasimbolik. Dia menyimpulkan bahwa dinamika tersebut harus bersifat material atau biologis sekaligus simbolik. Dengan kata lain, strateginya adalah melacak penanda melalui tubuh untuk menuliskan kembali tubuh dalam bahasa pada saat yang sama (Oliver, 1991).

Bagi Kristeva, tubuh yang meletakkan dan melabuhkan simbolik (pada saat yang sama juga mengancamnya) adalah tubuh maternal. Tubuh maternal digambarkan lebih dulu daripada hukum ayah dan adalah permulaan simbolik. Tulisan-tulisan awal Kristeva berkenaan dengan penemuan tubuh maternal yang direpresi. Tulisan-tulisannya berikutnya berkenaan dengan abjek tubuh maternal yang diasosiasikan dengan relasi anak dengan kelahirannya dan jenis kelamin ibu. Tulisan- tulisan yang lebih baru lebih berkenaan dengan ayah imajiner yang oleh Oliver (1991) dibaca sebagai rahasia cinta ibu yang diasosiasikan dengan hubungan anak dengan konsepsinya dan rahim ibunya. Ayah imajiner menyediakan dukungan yang diperlukan bagi anak untuk bergerak ke dalam simbolik. Anak bergerak dari tubuh ibu ke hasrat ibu melalui cinta ibu (ayah imajiner). Tubuh ibu memediasi hukum simbolik. Tubuh maternal menjadi model yang menjembatani fondasi biologis dari fungsi penandaan dan determinasinya oleh keluarga dan masyarakat. Proses penandaan material atau drive adalah biologis sekaligus sosial. Tubuh maternal dengan penolakan dan reduplikasinya menjadi model untuk ketidaksadaran dan untuk hubungan antara drive dan simbol. Dengan menegaskan pentingnya tubuh maternal maka Kristeva mengubah psikoanalisis Lacan tentang tatanan imajiner dan simbolik menjadi semiotik dan simbolik (Kristeva, 1984).

Semiotik, fase chora

Semiotik Lacanian-Freudian menyatakan bahwa yang membentuk peran subyek dalam bahasa adalah ada-tidaknya penis pada diri seseorang. Kristeva menantang pendapat ini dengan penjelasan elemen semiotik yang menegaskan bahwa subyek terbentuk sebelum “fase kastrasi” yaitu saat masih berada dalam kontak dengan ibu dalam perkembangan anak yang sangat awal ketika ia masih sangat tergantung pada tubuh ibunya. Salah satu proposisi Kristeva yang paling penting adalah semiotika (yang berbeda dari semiotika Ferdinand De Saussure). Bagi Kristeva, semiotika berkaitan erat dengan praoedipal infantil yang mengacu pada pemikiran Freud, Otto Rank, dan khususnya Melanie Klein dan psikoanalis Inggris Object Relation, serta Lacanian (pre-mirror stage).

Semiotik mempelajari tanda yang dikontraskan dengan simbolik. Semiotik mencakup bahasa rangsangan, impuls, erotik, ritme tubuh, gerakan-gerakan yang masih tersimpan di tahapan anak-anak. Semua ini berhubungan erat dengan tubuh maternal, sumber awal irama, nama dan gerak manusia. Elemen semiotika adalah tindakan badani yang dilepaskan dalam proses signifikasi. Semiotika diasosiasikan dengan ritme, nada, gestur, vokal dan tindakan berikut pengulangannya. Seiring dengan pelepasan mekanisme, hal itu juga diasosiasikan dengan tubuh ibu, sumber pertama dari ritme, nada, dan gerakan
untuk setiap manusia karena kita semua bertempat di tubuh tersebut.

Semiotik adalah prasimbolik dari kehidupan lisan yang muncul  pada masa ketika anak-anak mempunyai hubungan dengan ibu yang dicapai melalui gerakan tangan, irama pendengaran dan vokal serta pengulangannya. Pada fase ini, Kristeva menyebutkan konsep chora yang sangat penting dalam hubungan tubuh maternal dan bayi.
Istilah ini dipinjam Kristeva dari filsuf Yunani Plato (427-347 SM). Dalam karyanya yang berjudul Timaeus, Plato memberikan penjelasan bagaimana alam semesta diciptakan. Ia menggunakan kata chora yang berarti wadah dan perawat. Chora adalah produsen alam semesta sebelum dan sebagai sesuatu yang ada. Plato berbicara tentang chora yang tidak bernama, mustahil, dan hibrid karena merupakan ruang asli.

Chora dipakai Kristeva menjelaskan bagaimana lingkungan psikis bayi berorientasi ke tubuh ibunya karena istilah ini menunjuk kepada tempat (jurang,mangkuk, rahim) kelahiran dan munculnya segala sesuatu, sebuat tempat yang tidak bernama untuk semiotik prasimbolik.Rahim inilah tempat segala sesuatu, energi, dan pribadi muncul (Crownfield, 2003). Wadah ini juga menjadi sumber perlindungan, cinta, dan makanan bergizi bagi bayi (anak). Dalam In the Beginning was Love: Psychoanalysis and Faith, Kristeva menemukan bahwa masa chora menjadi sumber cinta, hubungan, dan iman dalam modalitas psikis yang logis dan kronologis sebelum tanda, untuk makna dan untuk subyek. Chora adalah fase yang secara metaforis menyediakan segala sesuatu yang maternal dan bergizi (banyak makanan). Kristeva menemukan afek, cinta, dan maternal selalu ada dalam bahasa meskipun mendahului kata sebagaimana payudara ibu selalu bermakna melindungi, bergizi, dan cinta. Dalam ruang ini prinsip kesenangan tanpa batas dapat diperoleh anak. Pada tahap awal pengembangan ini, individu didominasi oleh kekacauan persepsi, perasaan, dan kebutuhan. Dia belum mampu membedakan dirinya sendiri dari ibu atau bahkan dunia di sekitar. Sebaliknya, individu menghabiskan waktu untuk mempertimbangkan diri sendiri bahwa hal yang menyenangkan bisa dialami tanpa batas.

Pun demikian tetap ada regulasi bagi anak, dan satu-satunya yang berlaku pada fase ini adalah regulasi maternal. Hukum ibu berlaku dalam bentuk pemenuhan dan tidaknya makanan, air susu ibu dan kebutuhan apa pun yang ada dalam diri anak. Seperti halnya tindakan badani yang dinyatakan dalam bentuk signifikasi, logika signifikasi sudah beroperasi dalam materialitas tubuh. Kristeva menyarankan kalau operasi identifikasi dan diferensiasi yang diperlukan untuk signifikasi ditandai dalam penyatuan tubuh dan khususnya pemenuhan makanan. Proses “identifikasi” dan “diferensiasi” tubuh ini diatur oleh tubuh ibu sebelum kelahiran dan oleh ibu pada saat anaknya masih bayi. Kristeva menegaskan bahwa ada aturan/hukum ibu sebelum hukum ayah yang menurut psikoanalis Freudian diperlukan untuk signifikasi. Jadi, aturan atau tata bahasa dan hukum bahasa sudah mulai beroperasi pada tahap tersebut. Tubuh ibu mengatur ketersediaan air susunya, makanan dan lainnya. Peraturan ibu ini beroperasi sebagai hukum sebelum hukum ayah yang dalam teori psikoanalisis tradisional memaksa anak ke dalam bahasa dan sosialitas.

Dalam pemikiran Kristeva, air susu ibu, tubuh ibu, tubuh maternal untuk bayi bukanlah obyek melainkan lebih sebagai model. Identifikasi bayi terhadap model tidak dengan imitasi tetapi reduplikasi model melalui penggandaan, pengulangan dan reproduksi gerak, gestur, dan suara ibu. Melalui kemampuan bayi melakukan asimilasi, pengulangan dan reproduksi kata, dan gerakan ibu maka bayi menjadi seperti the other atau mulai menjadi subyek. Dengan demikian dalam konsep Kristeva, bukan hukum ayah yang memaksa anak masuk ke dalam bahasa dan sosialitas melainkan hukum ibu yang mengatur dorongan oral dan anal si anak.

Bagi Kristeva chora menunjuk kepada situasi ketika seseorang memiliki sesuatu khususnya sebelum dia mengembangkan batas-batas yang jelas tentang identitas pribadi, antara inside dan outside. Dalam ruang psikis awal ini, bayi mengalami rangsangan yang kaya (perasaan, naluri, dan lain-lain) dalam hubungannya dengan ibu. Sebuah hubungan bayi dengan tubuh ibunya memberikan orientasi bagi bayi. Kristeva sering menggunakan chora dalam hubungannya dengan istilah semiotik. Frasa the semantic chora mengingatkan kita makna yang dihasilkan adalah semiotik yang berupa irama dan intonasi untuk bayi yang belum tahu bagaimana menggunakan bahasa untuk mengacu kepada obyek. Kristeva menekankan aspek yang diatur chora: vokal dan organisasi gestur yang bisa disebut sebagai an objective ordering yang ditentukan oleh batasan alam dan sosial-historis meliputi perbedaan biologis antarjenis kelamin atau struktur keluarga. Drive melibatkan fungsi semiotik praoedipal dan pelepasan energinya berhubungan dengan dan berorientasi pada tubuh ibu. Tubuh ibu kemudian memediasi hukum simbolik yang mengorganisir relasi sosial dan menjadi prinsip ordering dari the semiotic chora. Gerakan dari prasimbolik ke simbolik tidak dimotivasi oleh ancaman kastrasi atau perasaan kekurangan. Dalam konsep Kristeva, anak harus memutuskan identifikasinya dengan payudara ibu melalui abjection.

Abjection, terbangunnya identitas seksual

Dorongan kesenangan primer yang diasosiasikan dengan tubuh ibu mengancam simbolik atau menghambat anak memasuki kehidupan sosial sehingga harus ditekan, untuk itu perlu abjection (penolakan terhadap tubuh ibu). Identitas seksual ataupun identitas subyek terbangun melalui perjuangan anak dalam pemisahannya dengan tubuh ibu (maternal). Perjuangan menjadi otonom untuk bisa hidup bersama dengan orang lain dan memiliki cinta adalah perjuangan bersama ibu melalui represi identifikasi semiotik dengan tubuh ibu. Konsep Kristeva tentang abjection adalah ide yang berkaitan dengan kekuatan psikologis utama berupa penolakan yang diarahkan terhadap figur ibu.

Selama masa praoedipal bergerak dari imaginary ke symbolic order, atau dalam tahap cermin menurut Lacan (1977), anak belajar memisahkan antara me dan not me (Jones, 2007). Masa ini menurut psikoanalis Lacanian dan Freudian adalah masa penyapihan dan pemisahan yang biasanya menimbulkan frustrasi dan ketakutan akan kastrasi. Bagi Kristeva masa ini adalah masa antara chora dan tahap cermin yang adalah tahap pralinguistik penting pada usia 4-8 bulan, tahap sebelum masuk ke dalam bahasa. Namun, dalam pendapat Kristeva masa ini tidak selalu diwarnai dengan ketakutan karena penolakan maupun pemisahan bisa menyenangkan. Dalam tahap penyapihan ini terjadi krisis narsistik ketika bayi menjadi antara subyek dan obyek, self dan other, hidup dan mati. Masa pemisahan ini oleh Kristeva diasosiasikan dengan abjeksi. Tubuh ibu dibuat abjek untuk memfasilitasi keberhasilan pemisahan tersebut. Abjeksi adalah sebuah cara bagi anak untuk menolak identifikasi narsis dengan ibunya. Upaya menghindari pemisahan sekaligus identifikasi dengan tubuh maternal menyakitkan dan tidak mungkin oleh karenanya perlu abjeksi.

Abjeksi eksis sebagai “oral yang menjijikkan”, penolakan terhadap ibu yang dialami sebagai abjek sehingga anak dapat keluar dari hubungan ibu-anak dan menjadi subyek. Abjeksi berarti mengobyekkan seseorang menjadi sesuatu yang menjijikkan (tinja, darah, atau lendir). Dalam abjeksi, anak membuang atau mengeluarkan hal-hal yang diambil sebagai yang menjijikkan dan memuakkan. Menghadapi ketakutan terhadap penolakan ibu, selama penyapihan, anak akan mengabjekkan ibu. Momen ini adalah momen pemisahannya dengan tubuh ibu: momen yang paling tidak stabil dalam kedewasaan subyek karena harus berjuang dengan ketidakstabilan dalam batasan inside dan outside. Masa ini adalah masa membangun relasi antara organisme dan realitas—tidak ada obyek dan subyek, hanya ada abjek—untuk membangun batasan outside dan inside. Individu mengalami abjeksi sebagai reaksi spontan yang termanifestasi dalam bentuk horor yang tak terkatakan, sering diekspresikan pada tataran fisik seperti muntah yang tak terkontrol, ketika dihadapkan dengan kacaunya makna yang diakibatkan oleh kehilangan kebiasaan. Ketika ada perubahan ini, ia menjadi antara subyek dan obyek, self dan other, hidup dan mati hingga abjeksi mengambil tempat. Selama tahap ini, bayi mulai membuat pemisahan antara dirinya sendiri dan ibu. Hal ini menciptakan batas-batas antara diri dan orang (lain) yang harus dialami sebelum ia masuk ke dalam bahasa.

Dalam Power of Horror, Kristeva menulis bahwa identitas seksualitas anak secara spesifik dibentuk melalui perjuangan untuk lepas dari tubuh ibu. Anak laki-laki bukanmenolak tubuh ibu tapi mengabjekkannya. Sebaliknya, semakin anak wanita mengidentifikasi dirinya dengan tubuh ibunya, semakin sulit ia menolak atau mengabjekkannya.

Bagi anak laki-laki. Anak laki-laki harus memisahkan dirinya dari ibu agar mampu mengambil identitas maskulinnya. Ada dua kemungkinan mekanisme yang dilakukan anak laki-laki yaitu abjeksi dan sublimasi. Dalam mekanisme abjeksi ada pembentukan abjek ibu yang memungkinkan anak laki-laki terpisah dari ibunya dan menjadi otonom. Ibu menjadi abjek, artinya ada fobia terhadap tubuh ibunya. Dengan ibu sebagai abjek maka anak laki-laki tidak pernah menjadi abjek dan tentu tidak menjadi obyek cinta. Sedangkan dalam mekanisme sublimasi, ibu dibuat menjadi sublim yang mengandaikan anak selalu mencari strategi untuk menyalurkan hasrat bawah sadar atau dorongan kesenangan primer dengan mencari celah dari otoritas yang memenjara hasrat itu. Dalam mekanisme ini anak laki-laki tidak pernah terpisah dari ibunya, dia mengambil ibu sebagai obyek cinta. Tidak ada represi primer ataupun sekunder atas dorongan bawah sadarnya. Other tidak akan pernah terbentuk secara penuh, anak laki-laki ini akan menjadi psikotik (no one else, no object, no other[s]). Anak laki-laki yang melakukan sublimasi atas tubuh ibunya tidak akan pernah mampu mencintai wanita mana pun atau siapa pun juga karena dia tidak pernah sungguh- sungguh terpisah dari tubuh ibunya dan menjadi subyek otonom.

Bagi anak perempuan. Pengambilan identitas gender ibunya menuntut gadis kecil meninggalkan ibu sebagai obyek cinta ayah. Namun, jika dia memisahkan diri dari ibu maka dia harus memisahkan diri dari dirinya sendiri. Perempuan tidak dapat memisahkan diri dari ibu untuk mengambil identitas femininnya. Ketika perempuan membuat abjek ibunya untuk menolak ibunya, dia akan membuat dirinya abjek yang artinya dia juga harus menolak dirinya sendiri. Oleh karena itu yang bisa dilakukan oleh anak perempuan adalah dia tidak pernah “menyingkirkan” ibunya tetapi mencoba melupakannya. Gadis kecil ini menganggap tubuh ibunya tidak lagi mampu memberikan gizi untuknya sehingga harus dilupakan. Cara lain adalah membentuk pertahanan melawan ibu. Feminisme, ilmu, politik dan seni adalah bentuk-bentuk pertahanan tersebut. Jika anak gadis ini masuk ke pertempuran ini dengan ibunya tanpa pertahanan maka cara ini akan mendorongnya ke dalam bentuk serius psikosis.

Ketika anak akhirnya bisa menyebut dirinya “aku”, membedakan dirinya dari orang lain dan memilih identitasnya, ia memasuki tatanan simbolik. Ia menjadi subyek yang berbicara. Menjadi penanda berarti menjadi bukan petanda. Sementara Kristeva bekerja dalam kerangka Lacanian, ia mengkritik Lacan dalam menjelaskan proses yang terjadi sebelum tahap cermin. Menurut Kristeva, pintu masuk ke dalam bahasa bukan hanya akibat kekurangan dan pengebirian. Kesenangan, kelebihan, pula kekurangan memotivasi orang masuk ke dalam bahasa. Kristeva menunjukkan bahwa lebih banyak orang akan menjadi psikotik dan menolak meninggalkan tempat yang aman dari tubuh ibu jika masuk ke dalam bahasa hanya dimotivasi oleh ancaman dan kekurangan.

Ayah imajiner, cinta ibu. Bagi Kristeva, anak dapat menghasilkan abjek ibu hanya melalui beberapa agensi paternal. Agensi paternal ini membawa kebutuhan simbolisasi tetapi tidak seperti simbolisasi ayah otoriter Lacan. Kristeva mempertentangkan konsep ayah otoriter Lacan dengan gambaran ayah yang penuh cinta. Dalam Black Sun, Kristeva mengungkapkan dua wajah ayah yang sama, yaitu wajah ayah imajiner yang penuh cinta yang harus mampu mendukung fungsi paternal dan bergerak ke simbolik dan wajah ayah yang harus mampu pula mengambil tempat wajah oedipal ayah yang keras. Dalam Tales of Love, Kristeva mengungkapkan bahwa idenya tentang ayah imajiner didapatkan dari konsep Freud tentang “ayah dalam prasejarah individu”. Interpretasi Kristeva tentang konsep ayah Freud menjadi konsep ayah yang penuh cinta dan dia mencela Lacan karena tidak melihat ayah yang penuh cinta ini dalam konsep Freud (Oliver, 1991).

Kristeva setuju bahwa identifikasi primer bagi Freud adalah ayah dalam masa prasejarah seorang individu. Ayah ini bukanlah ayah sesungguhnya, atau bukan sosok seorang ayah. Ayah dalam masa prasejarah seorang individu adalah ayah imajiner Kristeva yang adalah kombinasi ibu dan ayah (kesatuan ayah-ibu). Hal ini bukan perbedaan seksual melainkan berkarakter maskulin dan feminin. Identifikasi dengan kesatuan ini adalah kisaran identifikasi primer di dalam apa yang dia sebut sebagai struktur narsistik dan identifikasi ini menetapkan semua identifikasi berikutnya, termasuk identifikasi ego.

Dalam Tales of Love, identifikasi dengan kesatuan ayah-ibu dalam prasejarah adalah identifikasi dengan ayah imajiner, transferensi (perpindahan) antara tubuh semiotik dan ideal other yang tidak memiliki apa-apa. Meskipun berupa kesatuan ayah dan ibu, Kristeva tetap menyebutnya ayah karena dia mengikuti Lacan yang mengidentifikasi simbolik sebagai ayah. Kristeva menjelaskan bahwa meskipun afeksi pertama anak langsung ditujukan kepada ibu, relasi obyek yang lama sudah bersifat simbolik diasosiasikan dengan ayah.

Hal ini sama saja hendak mengatakan bahwa logika simbolik sudah ada dalam tubuh maternal. Apa yang disarankan oleh Kristeva adalah bayi mengidentifikasi melalui transferensi yang muncul dalam praoedipal dengan kesenjangan antara ibu dan hasratnya, di mana oedipal bergerak dan memotivasi anak masuk ke dalam simbolik. Dalam hal ini ayah belum berupa ayah hukum simbolik. Ayah ini adalah ayah imajiner prasejarah sebagai dukungan bagi tempat hasrat ibu. Ayah imajiner adalah fungsi metaforis yang memberi jalan bagi fungsi paternal; cinta memberi jalan bagi hasrat (Oliver, 1991).

Kristeva mengklaim bahwa ayah imajiner mengizinkan identifikasi dengan hasrat ibu terhadap falus. Dengan kata lain, identifikasi dengan ayah imajiner mengizinkan identifikasi dengan fungsi paternal sebagaimana dia sudah ada di dalam ibu. Identifaksi dengan ayah imajiner ini juga memungkinkan anak untuk mengabjekkan tubuh ibunya sehingga terpisah dari ibunya. Pemisahan dengan tubuh ibu tidak bersifat tragis karena didukung oleh ayah imajiner yang adalah cinta ibu sendiri. Cinta ibu memungkinkan transferensi dari tubuh ibu ke hasrat ibu dan menyediakan dukungan yang diperlukan untuk transferensi ke situs hasrat ibu. Perpindahan ke ayah imajiner mendorong perpindahan ke situs hasrat ibu: hasratnya untuk ayah, hasratnya terpuaskan, implikasinya dalam fungsi paternal. Kesatuan ayah-ibu kemudian menjadi kombinasi ibu dan hasratnya. Hal ini berarti ayah ada di dalam ibu, maternal father. Ayah imajiner Kristeva dapat dibaca sebagai kesatuan imajiner dengan tubuh ibu yang mengambil tempat kesatuan riil dengan, tergantung pada, tubuh maternal. Kristeva membawa kita kembali kepada gambaran tubuh maternal semiotik yang bergelimang makanan dan gambaran abjek kelahiran untuk kemungkinan pertama kehidupan, yaitu konsepsi. Fantasi tentang ayah imajiner sebagai kesatuan ibu dan ayah dapat dibaca sebagai fantasi kesatuan kembali dengan tubuh ibu, mengambil tempat kesatuan riil yang harus hilang sehingga anak dapat masuk ke dalam bahasa. Dan identifikasi anak dengan kesatuan ayah-ibu dapat dibaca sebagai identifikasi dengan konsepsinya.Identifikasi dengan ayah imajiner, ayah dalam prasejarah individu, adalah identifikasi dengan fantasi konsepsi dirinya sendiri (Oliver, 1991).

Kristeva menyediakan analisis lanjutan yang mendukung pembacaan ayah imajiner sebagai fantasi tentang keutuhan. Dia menetapkan bahwa orang dewasa mencari cinta dalam bentuk relasi berpasangan agar mengalami perasaan keutuhan, di mana Kristeva mengidentifikasinya sebagai upaya penyatuan kembali dengan ibu. Kristeva setuju bahwa orang dewasa mencintai dalam bentuk relasi berpasangan, homoseksual atau heteroseksual sebagai upaya menciptakan kembali ayah imajiner, yang sekali lagi ternyata adalah ibu.

The child, male or female, hallucinates its merging with a nourishing-mother- and-ideal-father, in short a conglomeration that already condenses two into one . . . One soon notices, however, in the last instance (that is, if the couple truly becomes one, if the lasts), that each of the protagonists, he and she, has married, through the other, his or her mother (Tales of Love, 222-223).

Dalam skenario Kristeva, suami adalah ibu phallic untuk wanita, sementara istri adalah ibu yang mengizinkan pria tetap menjadi seorang anak. Dalam cerita oedipal tradisional, resolusi pria menemukan ibunya dalam diri istrinya, sementara wanita menemukan ayahnya di dalam diri suaminya. Bergerak dari pendapat Lacan tentang cerita oedipal, Kristeva menyetujui bahwa wanita menemukan ibunya di dalam diri suaminya. Dia akhirnya menjadi falus (kepuasan) untuk ibunya dalam person suaminya (yang bergelimang makanan). Kemudian oedipalnya berharap, menjadi falus ibunya, seperti kepuasan pria dalam perkawinan. Perempuan seperti pria, membutuhkan pasangan agar menemukan kembali ibunya yang hilang. Ibu adalah pedestal (tumpuan) dari pasangan karena pasangan menyediakan penyatuan kembali dengan ibu. Fantasi kesatuan ayah-ibu, fantasi keutuhan adalah fantasi penyatuan kembali dengan ibu. Kristeva mendalilkan bahwa ayah imajiner yang penuh cinta sebagai disposisi lama tentang fungsi paternal yang mendahului simbolik, fase cermin dan ayah oedipal (Oliver, 1991).

Kristeva melihat krisis paternitas sebagai akibat kurangnya cinta dan bukan kurangnya hukum. Jika yang terjadi hanya simbolik atau ayah oedipal maka tidak ada jalan bagi anak untuk memisahkan dari tubuh ibu abjeknya, tidak ada kemampuan melarikan diri dari abjek ibu. Wacana tentang batasan seseorang menjadi kosong jika tidak mendapat dukungan dari identifikasi primer dengan ayah imajiner yang penuh cinta. Dukungan ayah imajiner yang penuh cinta akan mengantarkan anak masuk ke dalam bahasa, tanpa dukungan tersebut maka seorang anak akan masuk ke dalam kehidupan sosial dengan murung dan berduka. Proses menjadi subyek mengharuskan seorang anak mengabjekkan ibunya tetapi proses ini harus didukung ayah imajiner—atau cinta ibu— karena tanpa dukungan ini yang muncul adalah kekosongan. Anak akan berada di antara antara drive dan simbol tanpa batas yang jelas.

Kristeva menetapkan bahwa imaginary adalah kemampuan mentransfer makna yang hilang. Ayah imajiner mentransfer makna tentang tubuh ibu yang hilang. Kristeva berpendapat bahwa kita harus setuju kehilangan ibu agar dapat membayangkan dan menamainya, bahwa hubungan antara kenikmatan dan kewibawaan simbolik dijamin oleh ayah imajiner sebagaimana dia mendorong anak dari identifikasi primer ke sekunder. Kenikmatan imajiner diasosiasikan dengan tubuh maternal, sementara kewibawaan simbolik diasosiasikan dengan paternal. Cinta bagi Kristeva bukan biologis dan bukan hasrat. Cinta adalah domain imajiner yang bergerak antara biologis dan hasrat, antara tubuh maternal dan simbolik. Cinta ibu memanggil anak kembali ke tubuh maternal, menggerakkannya menuju hasrat maternal, menuju simbolik dari other. Cinta ibu mendukung gerakan ke simbolik melalui “idealisasi cinta” yang adalah fungsi ayah imajiner. Jadi cinta ibu adalah pihak ketiga imajiner.

Gerakan antara tubuh maternal yang diabjekkan dan ayah imajiner atau cinta ibu—yang menyediakan insentif bagi anak untuk menempatkan kembali tuntutannya pada tubuh ibu dengan hasrat dalam bahasa—menyarankan tiga istilah sebelumnya tentang segitiga psikoanalisis tradisional. Level imajiner prasimbolik di mana Kristeva menggambarkannya sebagai “subyek” narsistik hasil identifikasi transferensial dengan ayah imajiner, benih ego ideal yang mendukung pemisahan dari abjek ibu. Situasi oedipal yang digambarkan Kristeva lebih dulu beroperasi antara subyek narsis (anak), abjek ibu (tubuh ibu), dan ayah imajiner (cinta ibu). Istilah-istilah ini berkorespondensi dengan apa yang Oliver (1991) sebut sebagai payudara ibu (tubuh maternal), seks (jenis kelamin) ibu (kelahiran), dan rahim ibu (konsepsi). Kristeva menempatkan struktur oedipal dalam fungsi maternal. Dengan demikian, ayah imajiner lebih penting daripada father of the law tradisional, yang hanya menyamarkan cinta ibu. Bahkan gerakan oedipal dari ayah imajiner ke ayah oedipal yang keras ternyata menjadi gerakan dari cinta ibu ke hasrat ibu (Oliver, 1991).

Abjection, penjelasan munculnya penindasan dan diskriminasi terhadap perempuan Kristeva mengembangkan sebuah ide tentang penolakan yang sangat berguna untuk mendiagnosis dinamika penindasan. Hal ini terjadi dalam proses abjection yang salah. Dia menggambarkan penolakan sebagai sebuah tindakan psikis ketika identitas grup dan subyek dibentuk dengan cara mengesampingkan apa pun yang mengancam batasan seseorang. Ancaman utama pada subyek baru adalah ketergantungannya pada tubuh ibu. Oleh karena itu, penolakan pada dasarnya berkaitan dengan fungsi ibu.

Kristeva meminjam ide Mary Douglas sehingga abjeksi menghasilkan hal yang lebih besar, dimensi sosial dalam istilah larangan ritual didasarkan pada kode biner dan menghasilkan pemisahan dan segregasi gender, kelas, ras, umur, bahasa atau budaya (Semetsky, 2004). Hal ini terjadi karena proses abjeksi yang salah yang hanya terjebak pada penghinaan dan penjijikan tubuh maternal dalam perjuangan seorang anak menjadi subyek otonom dengan memisahkan diri dengan tubuh maternal. Kristeva berargumen bahwa dengan proses abjeksi yang salah ini kemudian kita tidak memiliki wacana yang cukup tentang keibuan.

Kristeva mengklaim bahwa “pembunuhan ibu” adalah kepentingan kita karena untuk menjadi subyek (dalam budaya patriarkal) kita harus menolak tubuh ibu. Celakanya karena budaya patriarkal yang menolak tubuh ibu ini menjadi satu-satunya wacana yang ada dalam masyarakat kita maka untuk menjadi subyek otonom dalam masyarakat kita yang patriarkal ini kita harus menolak tubuh ibu. Akan tetapi, karena wanita tidak bisa menolak tubuh ibu yang mengidentifikasi mereka sebagai perempuan, mereka mengembangkan seksualitas yang terdepresi. Oleh karena itu, kita memerlukan tidak hanya wacana baru tentang keibuan tetapi juga wacana tentang hubungan antara ibu dan anak perempuan. Kristeva menyarankan kalau penolakan yang salah adalah salah satu sebab penindasan perempuan dan penurunan harkat perempuan dalam budaya patriarkal.

Argumen Kristeva (mengikuti Freud dan Lacan) bahwa wanita lebih dekat dengan semiotik karena subyektivitas individual terbentuk dalam hubungan dengan ibu. Maka identifikasi wanita yang dekat dengan ibu dan keibuan menciptakan pada diri wanita hubungan dengan bahasa semiotik atau metabahasa yang lebih bersifat ambivalen. Apabila kastrasi menunjukkan adanya perjanjian simbolik, di manakah tempat wanita pada tatanan bahasa? Jawabannya bagi para wanita adalah bahwa wanita harus menumbangkan bahasa simbolik, tatanan masyarakatnya dan fungsi kebapakannya (baca Zaimar, 2003). Dengan kata lain wanita harus menumbangkan bahasa simbolik yang didominasi oleh budaya patriarkal. Ia menuntut agar kita menemukan wacana yang lebih dekat pada tubuh dan emosi, padahal keduanya ditekan oleh kontak dengan masyarakatnya. Kristeva menuntut wacana baru tentang keibuan yang mengakui kepentingan fungsi ibu dalam pengembangan subyektivitas dan dalam budaya.

Penutup

Kristeva menyatakan bahwa fungsi ibu tidak bisa dikurangi menjadi ibu, feminin atau wanita.Dengan mengidentifikasi hubungan ibu dan anak sebagai fungsi, ia memisahkan fungsi untuk memenuhi kebutuhan anak akan cinta dan nafsu. Sebagai seorang wanita dan ibu, seorang wanita mencintai dan memiliki nafsu karena ia adalah makhluk sosial dan wicara. Sebagai seorang wanita dan ibu, dia selalu didiskriminasi. Tetapi, jika dia memenuhi fungsi ibu, dia tidak didiskriminasi. Analisis Kristeva menyatakan bahwa siapa pun bisa memenuhi fungsi ibu, perempuan atau lelaki asalkan dia mampu menjadi maternal father (kesatuan ayah- ibu) yang berisi ayah imajiner (yang adalah cinta ibu). Maternal father ini menjadi lebih penting daripada father of the law yang berisi kesatuan antara ayah-ibu yang feminin sekaligus maskulin.

Pandangan Kristeva menganggap subyek selalu berada “dalam proses” atau “dalam krisis”. Sebuah model untuk semua hubungan subyek. Seperti tubuh ibu, dia menyebut setiap kita sebagai subyek dalam proses. Sebagai subyek dalam proses, kita selalu bernegosiasi dengan yang lain, yaitu kembalinya yang direpresi. Seperti tubuh ibu, kita tidak pernah benar-benar menjadi subyek dari pengalaman kita sendiri. Sebab pembentukan makna menjadi proses yang tidak pernah berakhir. Kristeva mempertanyakan apa itu perempuan, penanda perempuan bisa berarti macam-macam tergantung pada konteks dan terbuka pada pembacaan dan penafsiran ulang—ada keberagaman budaya dan ras. Seksualitas beraneka ragam, sebanyak individu yang ada.

Daftar Pustaka

Crownfield, David R., ed., Body/Text in Julia Kristeva: Religion, Women and Psychoanalysis (New York: State University of New York Press, 2003).
Jones, Leisha, “Women and Abjection: Margins of Difference, Bodies of Art”, Visual Culture & Gender, Vol. 2, 2007
Kristeva, Julia, Revolution in Poetic Language (New York: Columbia University Press, 1984).
——–, In the Beginning was Love: Psychoanalysis and Faith (New York: Columbia University Press, 1987).
——–, “Some Observations on Female Sexuality”, Annual of Psychoanalysis
(2004), 32: 59-68.
Mooney, Edward F., “Julia Kristeva: Tales of Horror and Love” (2007), diunduh dari http://religion.syr.edu/Misc/Kristeva
Oliver, Kelly, “Kristeva and Feminism” (1998), diunduh dari http://www. cddc.vt.edu/feminism/Kristeva.html
——–, (1998), “Kristeva and Feminism”, diunduh dari http://www.cddc. vt.edu/feminism/Kristeva.html
Roudiez, Leon S., “Introduction” dalam Julia Kristeva, Revolution in Poetic Language (New York: Columbia University Press, 1984) . Semetsky, Inna, “The Age of Abjection: Kristeva’s Semanalysis for the Real World”, Centre for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, 28 April 2004.
Zaimar, Okke K.S., “Julia Kristeva (1941): Penggagas Semanalyse dan Intertekstualitas” dalam Apsanti Djokosujatno, ed., Wanita dalam Kesusastraan Prancis (Magelang: Indonesiatera, 2003).

For Ch Siwi Handayani

Christina Siwi Handayani adalah dosen sekaligus Dekan Fakultas Psikologi Universitas  Sanata  Dharma,  Yogyakarta. Ia meraih  doktor Psikologi Sosial dengan predikat cum laude dari Universitas Indonesia pada 2007. Pada 2007-2008 ia beroleh  beasiswa riset untuk  program post-doctoral di Universitas Kyoto, Jepang, dari Japan Foundation untuk meneliti gaya hidup anak muda Jepang.

Seluruh tulisan dalam buku ini telah dipresentasikan dalam Seri Kuliah Umum “Tentang Seksualitas” di Teater Salihara, 05, 12, 19, 26 Juni 2010, 16:00 WIB.

Diterbitkan pertama kali oleh Komunitas Salihara dengan dukungan Hivos

Cetakan pertama, Mei 2013

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Siwi Handayani, Christina dkk.
Subyek yang Dikekang;
Jakarta; Komunitas Salihara-Hivos, 2013 x + 78, 14,8 x 21 cm
ISBN: 978-602-96660-5-2

POEM #6

0

do not bother holding on to that thing that does not want you you cannot make it stay.


if you were the moon, then i was the sun, if you were meant to bloom, then i was meant to burn


Do you think it’s possible that some people are born to give more love than they will ever get back in return?


Better alone than badly accompanied


I’m full of love, and nobody wants it


She wrote the fairy tale, she was too afraid to live


Up until now I had sworn to myself that I’m content with loneliness


There’s nothing romantic about loving someone more than they love you. Love isn’t pain


The problem with putting people first is that you’re teaching them to put you second

 

RATHER THAN REALITY

0

Wendy Darling believed in fairies all her life.

This was based in kindness, not faith. It was a fearful thing. Sometimes she woke in the middle of the night panicked at the thought she might stop one day. What a world, to place the life of even as flawed a person as a Tinkerbell in the hands of child’s ability to believe.

Coming back, Wendy expected to miss the magic, the beauty, the feel of the wind in her unpinned hair. She expected to miss Peter, and she did. But she didn’t expect to miss the exhausting task of being the Lost Boy’s young mother.

And she didn’t miss it, not exactly. Wendy missed being useful, and she missed being listened to.

But she told her brothers stories, at night, still. She watched the light grow in their eyes and felt powerful for the first time since Neverland.

Michael came home from school crying one day. A boy on the playground had said fairies were stupid and fake. The teachers thought it was exhaustion or the disappointed hopes of a child who still believed his big sister’s bedtime stories. When father laughed at him at table, John hesitated for a moment and then joined in. Wendy pled an upset stomach and fled to her room.

Michael had nightmares for a week of a shining tiny person breathing their last on a Neverland forest floor._

Shaken awake in her own room, Wendy padded down the hall and creaked open his door. She gathered her smallest brother in her arms and said, “We’ll believe enough for all of them, every one. You and me, Michael, we’ll save them all.”

In the other bed John, pretending to sleep, squeezed his eyes shut. He wanted so badly to be grown.

His father had always told them true men protected people who needed it. John sat up. “I do believe in fairies,” he said, and his siblings chorused, “I do, I do.” Michael stopped crying. John started.

Wendy often asked herself why they had come back. The question surfaced over particularly tedious chores, or when her father came home drawn after a long day and picked apart her every flaw over the blandest supper Wendy’d ever tasted. But it surfaced also when she was happy, fetching sweets from the dime store, when Michael raced through the halls, hollering, an old shirt hoisted on a broom as a conquering flag.

Once, she had known how to fly. She remembered and it ached.
They tried to settle back in, all three of them, to shake lost boys and pirates from their heads. A year after leaving Neverland, Wendy’s mother asked why Wendy never brought nice girls home to play with. It took effort not to laugh.

Wendy didn’t say, “Nice girls? Tink tried to get the Lost Boys to shoot me out of the sky, tried to blow up her own home on the off chance she might get me, too.”

She didn’t tell her, “The mermaids would have liked to drown me, too, babbling away in those dolphin sounds that Peter could understand but that just gave me shivers.”

“All I want to be is a mother,” Wendy said instead, and meant, all I want is to be of use, to have people need me as much as they did. I want someone to believe my stories as much as Peter did.

She didn’t say, “And what could those girls offer me? I fought pirates. I touched the very stars.”

“I have all the friends I need in John and Michael,” Wendy offered. At mother’s frown, she added, “I’ll try harder.”

She joined a club against her own wishes. The club girls talked about dresses and Wendy thought about swords and crocodiles.

Wendy thought, these silly young things never heard that tick tock and shaken in their boots. They’ve never seen the stars up close.

They talked longingly of their mothers’ lipstick, of debutantes and growing up, and Wendy thought, How many fairies have you killed?

The years rolled on. Wendy fell in love with boys who needed her, who fascinated her, a long line of sharp-boned muses who forgot to eat their vegetables for weeks.

These boys only knew one kind of woman. They expected mothers, all of them, women childless or not, beautiful women with strength and graces pressed into their souls. If they had ever found Wendy crying over a thimble, they would not have known what to do with this alien fragile thing.

So they did not find her so. Wendy Darling was well versed in being the thing people needed her to be. Even to the most magical place she knew, Wendy had been brought for one reason. Peter’s boys had needed a mother

That thought sat rancid in her stomach for days, but then she remembered: Peter had lingered at her window all those nights not because he needed soup or love or tucking in. He had loved her stories.

She had taken the wild boy, the lost bird, the starcatcher, and had stolen his breath away with words of her own making. On the other side of years and years, Wendy caught her own breath.

She started carrying a thimble in her pocket. When Wendy felt powerless, like a thing and not a person, she slipped a finger against the chill shape. It was a slip of puckered metal, an odd knick knack of women’s work. But once, Wendy had named it something else, given it power.

Boys boasted around her, of jumping fences and wrestling, of stealing kisses. Wendy thought, you think you know the power of a kiss? I once defeated death with a thimble, because I gave it a name. I believed. Words are power, and the words are mine.

One day, someone did find her crying. Wendy was in the girl’s lavatory. It had been a little thing, John snapping at her over breakfast, and then some boy in the yard saying something careless. Wendy had thought, I once knew how to fly, and suddenly everything seemed too dirty and too confining to stand. She hid in the furthest stall from the door, and cried angrily about every speck of magic she had lost in her life.

There was a light knock on the door and some wispy little thing from the club Wendy’d been calling her penance peeked in

“My grandma died last year,” the girl said. “I was crying in the next stall over.” The girl sat up on the edge of the sink and said, “Do you want to hear a story about her?”

At the next club meeting, Wendy listened. A grinning redhead always used the past tense when she spoke of her father. Another girl, wan, flinched at loud sounds. They knew the sound of the ticking clock, these young women, some of them better than she ever had. Wendy had walked away from one beautiful world and into another. They had lost one, or many; or wished they could fly away the way she had gotten to, once.

Wendy stopped crying in bathrooms, mostly. She started checking them, quietly, and offering shoulders and stories of a magical land to the people she found there.

Wendy listened. One of the club girls was obsessed with trains, the way they take you away, the way they come back on schedule, the sound of them. Wendy asked, and she listened. A young woman whose hands folded in her lap like a wayward haystack stared out the window, entranced by a world only she could see.

Wendy thought, you’ve never seen the stars up close. She thought, maybe I can show you.

She dragged them all out one night, late, when they were out in the country for a school trip. They snuck out of their lodgings and got in terrible trouble for it, but that night the moon was missing and the sky was dusted with more blazing stars than they had ever seen, except for Wendy.

None of them but one odd duck knew the boys’ parts, but they did their best to dance there beneath them, to pretend they could catch starlight on their outstretched tongues.

Wendy wondered what the mermaids would have said, if she had ever learned their tongue. She wondered what stories Tinkerbell could have told her. She wondered if Tiger Lily would have taught her how to dance.

She wondered why none of the women in Neverland had been able to speak to her. She wondered why she hadn’t tried.

Michael sprouted inches and inches, his voice dropping to an alien depth. He stopped planting broomsticks tied with old red shirts on the dining room table and declaring the room claimed for Neverland.

Michael buried himself in books instead, as though that might be a way out. He started scribbling in journals, for all John teased him about it. Wendy was sure that those messy lines were not all poetry about the chin of the girl down the street, sure some of them were the adventures Michael was having still, somewhere inside. She was sure. She hoped with every ounce of herself, hoped like it was the kind of faith that makes children fly.

John buried himself in books, too, but all his joy in it was wrapped up in how they helped him win: win grades, and commendations, pats on the shoulders from their learned teachers, their father’s nod at supper. Wendy’s father had always terrified her, his hooked rage, the way he ran from meeting to appointment, pursued by the tick of the clock on his heels.

John joined debate, cricket, an honors society or two, a young businessmen’s club for boys.Wendy told him once, in a quiet moment alone, that she could hear the tick tock at his heels, too, these days.

John squeezed her hand. “Me, too, but it’s okay Wendy. C’mon, I always wanted to be a pirate.” He squeezed her hand again. “I’ll be better than he ever was, Wendy. I’ll be good.”

In their nursery room games, years ago now, John had always played Hook. Michael had played Peter.

Wendy had always been the narrator, the storyteller, the minstrel. She thought she rather liked it that way.

Wendy grew into a young woman. She went out dancing with her friends, whispered a pretend background for every eligible young bachelor who watched them, and listened to her friends’ laughter make those stories true.

They talked about dresses over light lunches, about boys and babies, about industrialism and pollution, about Plato and Darwin, the epiphanies and practicalities of falling in love. They talked Eleanor, the wispy girl from the bathroom, through her parents’ disappointment as she pursued a life as a legal secretary. Wendy dictated stories to give Ellie something interesting to practice on.

Another friend taught Wendy how to crochet. They made piles of socks for a charity drive, meeting up in the afternoons to sit in a sunlit window and crochet and talk the light away.

Wendy ran her hands over the heaps of warm socks when they were done. She was a girl who believed in magic, and this took her breath away, how patterns and patience could lead to this, could build something so good and solid.

No child ever grows up. They grow out. They grow down and deep, textured and heavy. They grow.

One day, decades later, Peter lighted on her old windowsill, chasing down a runaway shadow.

He thought she was her daughter. Wendy watched Jane stare up at this fey creature. Wendy could feel the weight of all the years between her daughter’s anxious gawky adolescent age and her own taller years, the backaches and the tragedy, the things her hands had built. Peter would never know them. Wendy wanted to weep as hard as she once had, at fifteen, over a thimble.

Wendy went downstairs, made a bag of sandwiches that she put in a backpack with some sturdy clothes and a pair of good shoes. Her daughter would not be going on any adventures clad only in a nightgown.

When she got back, Jane was flying. Wendy’s heart was breaking, was singing, was soaring. Peter was laughing. His shadow was watching her. It knew more than it told and always had.

Wendy pulled her daughter back to earth. She gave Jane the backpack and said, “You be brave. You be good. Remember to talk to the mermaids. Ask them to sing to you. Tell them your stories.”

 

YOU

0

Come closer, I want to forget what time feels like..
I know that we can’t hide. I know that time follows our every move, because everything around us is immersed in this transient element.
But I want to feel like time has no string to tie us into its border.. I do not want to remember the way it relentlessly chews and chomps us between its jaw..
So come closer my dear, and I’ll forget what time feels like..

PICTURE OF YOU

0

I’m desperate to know how you are
I hope you’re deep asleep
I’ve been awake for days
Trying to study every inch of your body

In this picture, from a distant day
When I could safely say
Nothing in this world
Could tear me down in any way

But like a dream you disappeared
Without a sound, without a trace

Sleep well, darling, wherever you are
I hope that you’re happy tonight
And maybe you found
Someone who will love you right

Sleep well, darling
I’m desperate to say
Now I need you more than ever
But all I could say was goodnight

This is for a girl back home
She tore down all my walls
Left me for all she had known
But I pushed it all away from me