KERAMAHAN


Keramahan sejati hanya bisa ada kalau kita secara total membuka pintu rumah atau batas negara kita kepada siapapun tanpa syarat apapun. Namun, apakah itu mungkin?
Alasan kita membuka pintu bagi orang lain adalah karena kita berharap bahwa hal itu memungkinkan orang yang datang memperoleh kesempatan untuk hidup secara lebih baik, lebih aman atau lebih adil.

Keramahan kita didasarkan pada pertimbangan tersebut. Namun, kalau kita membuka pintu untuk siapa saja yang hendak datang, itu berarti kita juga membuka kemungkinan bagi masuknya orang-orang yang tidak hanya membahayakan atau mengancam hidup kita, tetapi juga berpotensi merusakkan hidup mereka yang mencari perlindungan pada kita.

Keterbukaan tanpa syarat yang kita tunjukkan atas nama keramah- tamahan, justru mendatangkan kecemasan pada mereka yang datang dan kita yang menerima. Tujuan kita tidak tercapai ketika berusaha mewujudkan keramahan secara murni. Kita justru tidak menjadi ramah dengan menjadi ramah.

Secara praktis, untuk menjamin tujuan keramahan, yakni memberikan peluang hidup yang lebih baik, aman dan adil bagi mereka yang tidak mendapatkannya di negeri asalnya, kita perlu memasang kriteria.

Kita perlu mencegah masuknya kelompok orang yang berpotensi menghancurkan kita dan orang lain. Namun, justru ketika kita memasang kriteria dan membuat pilihan, kita tidak lagi bisa disebut ramah, sebab kita sudah memilah. Kita membuat diskriminasi, menentukan siapa yang pantas untuk masuk dan siapa yang tidak. Kita berhenti menjadi ramah, ketika berusaha menjadi ramah bagi kelompok orang tertentu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s