MITOS


Pada mulanya adalah mitos. Lalu lahirlah peradaban. Namun mitos bukan hanya pencipta peradaban. Mitos mengenai apokaliptis tidak hanya ada dalam tradisi kuno tapi juga hadir dalam agama-agama yang masih hidup di abad modern. Logika kosmologinya terdiri dari dua hal sederhana yakni penciptaan dan penghancuran. Itulah sebabnya dalam tradisi kuno dewa-dewa dianggap sebagai pencipta sekaligus penghancur, yang dianggap sudah menjadi haikikat para dewa. Dan instrumen penghancur dianggap sebagai “yang suci”, hal ini menjelaskan mengapa ada dewa air, dewa api, dll. Bangsa Kreta memuja Banteng yang di-asosiasikan pada gempa bumi yang mengguncang pulau Kreta; Nergal, dewa bangsa Sumeria digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan badai. Kitab apokalitik, dalam bahasa Yunani tidak hanya ditafsir sebagai kitab tentang hari Kiamat tapi juga sebagai wahyu. Ada relasi antara penghancuran dan hadirnya wahyu.

Apakah ada kaitan antara aspek destruktif manusia dalam sejarah dengan mitos-mitos yang bersifat apokaliptis? kemungkinan besar iya, karena manusia selalu berupaya menghubungkan apa yang sakral dengan dunia aktual. Ritual “Penghancuran” dikaitkan dengan ritual keabadian, penyucian, pengudusan. pemurnian, pemulihan. dst.

Di hadapan sejarah, mitos apokaliptik dengan lantang mengungkapkan: “Akulah yang awal dan yang akhir”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s