RADFEM? – PENGHAPUSAN GENDER?


william femini masculinity

Menurut gw konyol sih, karena elu ga bisa menghapuskan gender traits, elu hanya dapat menggantinya dengan kata yang lain, misal masculinity jadi XYX, lalu femininity jadi YXY. Bahwa itu semua bagian dari tata bahasa.

Gue sendiri sampe sekarang bingung yg dimaksud toxic masculinity itu apakah:


1. All masculinity is toxic … (tapi kalo begitu berarti ini redundant, kaya bilang “nasi putih”).


2. Ada masculinity yg toxic, ada yg gak. Makanya disebut toxic masculinity. Gue lebih prefer ini. Dan kalo loe tanya semua feminis yg loe kenal, jawaban mereka mungkin jg gak bakal seragam tentang definisi tersebut.

Kaya misalnya loe hemat, tapi pov orang lain liat loe pelit. Loe confident, tapi di mata orang loe bossy. Loe pengen sharing semua yg loe tau dan pengen denger apa kata orang-orang lain, tapi di mata orang loe itu smart-ass.

Check your privilege? How about I tell myself to check my privilege first. Mungkin sebelum jargon-jargon atau ayat-ayat tersebut gue lempar ke orang lain, gimana kalo gue lempar ke diri sendiri.

Conversation kaya gitu buat gue sehat sih. Laki dan perempuan idealnya ada di camp yg sama, saling dukung. Bukannya malah saling tuding who did it first or who did it worse. Tapi yah itu ngomongin individuality yah. Walaupun tentu ada korelasinya sama sistem-sistem yang dikritisi tapi bukan sistem-sistem itu sendiri, cuma tip of iceberg aja.

Tapi sudut pandang laki-laki, yg dimaksud toxic femininity bisa jadi toxic itu kecenderungan perempuan memanfaatkan laki-laki dari segi finansial karena harusnya yang maskulin yang provide.


‘In essence, the agenda of feminism is against the interests of men as a class. Or at least it should be. Even though nowadays certain forms of feminism (e.g. 3rd wave feminism, lipstick feminism, etc) have lost the radical/political root of it.’

‘Sure, men have their own problem within the current patriarchal system, namely the “toxic” masculinity (even though calling it ‘toxic masculinity’ implies that masculinity can be non-toxic) which hinders men from being emotional, sensitive, outspoken about their feelings, etc. It is a valid problem that needs to be addressed’


‘Sekali lagi gw menyayangkan tulisan-tulisan begitu sih, karena implikasinya bakal terjadi polarisasi antara male-female yg padahal sama-sama anti patriarchy / gender inequality.

Orang (cowo khususnya) gak bakal lagi give a shit terhadap slogan “feminism = gender equality”.

Padahal dengan meyakinkan cowo bahwa feminism bakal bawa benefit gak hanya bagi cewe tapi juga bagi cowo lah, feminism bakal dapat banyak support dari berbagai pihak, bahkan dari kelompok-kelompok religious selama ngak terlalu conservative banget.

Toxic masculinity itu narasi 3rd wave feminism. Padahal urgensi perjuangan gender equality di indonesia masih jauh dari standar narasi 2nd wave. Terlalu kecepatan kalau mau masturbasi pake buzzword macam itu di indonesia

Male-feminist:


>Mereka gak milih lahir sebagai cowo
>Mereka gak milih hidup di era dimana patriarchy masih ketal dan dapat keuntungan (walau kerugian juga banyak) dari itu sbg cowo
>Mau maju di barisan depan support feminism
>Sering kena ledek dari sesama cowo lain sebagai cuck, beta, nu-male dsb
>Maybe deepdown ngerasa bersalah sbg cowo atas system patriarchy, padahal yg “nyiptain” system itu udah mati embuh dari berapa ribu tahun lalu? tapi you know right, konsep “dosa turunan”…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s