PROCRUSTEAN METHOD


PRUCREATEAN.jpg

 

Elu ngerti procrustes method yang dimana diangkat dari kisah mitologi yunani, yang diceritakan dia suka menginvite pengembara ke rumahnya (attica, greece). Lalu menyambutnya dengan ramah, memberi ia makan, lalu memberi ia kamar dan tempat tidur untuk bermalam dan beristirahat.

Sebenarnya procrustes memiliki ‘twisted mind’ ia mau pengembara yang beristirahat di tempat tidur yang disediakan cocok untuk sang pengembara dengan proporsi tubuhnya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.

Cara dia untuk membuat si traveller fit in, ialah apabila elu terlalu tinggi, elu akan dipenggal bagian tubuh elu, apabila elu terlalu pendek maka elu akan di renggangkan mungkin dengan alat rack. Itu juga alasan kenapa dia mendapatkan pseudonym ‘procrustes’ yang artinya ‘the stretcher’.

Tanpa kita sadari, kita terkadang menggunakan metode ini ‘procrustean method’. yang seharusnya dimana kita membua tempat tidur ini cocok untuk sang traveller malah sebaliknya. Kita renggangkan dan kita potong-potong orang-orang yang ga fit terhadap tempat tidur itu.

Contoh :
Kita terkadang pernah memaksa murid-murid kita, in order to have straight As in our unbelievably flawed education, yang seharusnya kita menerapkan standard/model kurikulum yang cocok untuk masing-masing siswa kita.

Ada juga yang sampai stress, elu pikir fidget spinner untuk apa kalau bukan mengatasi kebosanan, gejala ADHD, dalam kelas. 10 tahun duduk di kelas, nilai academicnya gitu-gitu aja, lalu orang salah satu orang tuanya bilang ‘mah kayanya kita harus otak-atik brain chemistry anak kita deh, nilainya mengkhawatirkan untuk masa depanya.’

yang procrustes method juga mengarah ke perspective or has side effects :

1. Modifying human to statisfy technology
2. Blaming reality for not fitting in an economic model
3. Inventing diseases to sell drugs
4. Defining intellegence as what can be tested in a classroom
5. Convicing people that employment is not slavery

Sometimes we are not only put things in a wrong box we also change the wrong variable, because our limitation of understanding and observation, we constantly simplify and leaving important factors out of the equation.

Analoginya seperti elu solving puzzle tapi dengan cara memotong bagian dari keping-keping puzzle itu sendiri, daripada elu cari ‘a right place to put them’. They will take damage for sure, but it will fit eventually. Dari kejauhan mah orang ga tahu dan ga sadar bahwa itu keping puzzle yang salah dan sedikit rusak. Tapi mereka sadar bahwa ‘the bigger picture wont be right and it seems more likely as atrocious form.’

Kaya ibarat elu ditipu oleh konsultan/advisors yang bilang.. “Kamu harus nyetir uber to put the food on the table for your family and for living”. Ini menurut gw self delusion! Challange yourself delusions!

*If you work (and stay forever or until retirement age) for money, then it is slavery but if you work, because you love to work or your work, never minding the salary, then it’s freedom and happiness. Slaves are never happy with their lives or maybe simply put it this way. Slaves = No Complete Freedom (or has temporary freedom).

**Here is another aphorism for you. “Those who do not think that employment is systemic slavery are either blind or employed.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s