Gua Nggak Pernah Bantu Bini Gua.


Seorang teman berkunjung ke rumah. Kami ngobrolin berbagai topik, mulai dari politik sampai filosofi sambil makan siang. “Gua tinggal sebentar buat cuci piring ya, loe sementara baca2 koran atau majalah aja”, gua bilang setelah makan.

Dia liat gua dengan kagum campur heran. Katanya, “Salut, loe bantuin bini loe. Gua mah nggak pernah lagi, soalnya pernah gua ngepel seluruh rumah tapi dia bilang terima kasih pun enggak”.

Gua bilang, “Gua nggak bantuin bini gua. Bini gua gak butuh bantuan, dia butuh partner. Gua partner dia di rumah, dan bagi gua ngerjain urusan rumah tangga bukan ‘bantuan’ buat dia.”

Gua nggak “bantuin” bini gua bersihin rumah, karena gua juga tinggal di sini, dan gua perlu bikin rumah ini bersih.

Gua nggak “bantuin” bini gua masak karena yang makan bukan dia doang; gua juga, jadi gua juga perlu masak.

Gua nggak “bantuin” bini cuci piring; gua juga pake piring2, gelas2, dan alat2 masak yang sama.

Gua nggak “bantuin” bini ngurusin anak, karena anak dia anak gua juga. Jadi ayah yang baik adalah tugas gua.

Gua nggak “bantuin” bini nyuci, jemur, nyetrika, atau ngelipat baju, karena pakaian gua juga di situ.

Gua bukan pembantu. Gua adalah bagian dari rumah tangga ini. Soal terima kasih, gua tanya, kapan dia berterima kasih setelah bininya bersihin rumah, nyuci baju, ganti seprei, mandiin bayi mereka, ganti popok di tengah malam, masak, belanja di pasar, dan lain-lain. Bukan sekedar, “Makasih ya”, tapi, “Kamu hebat, honey, pengabdianmu sungguh tulus dan murni, kamu layak dapat bintang”.

Terlihat aneh? Kayak orang sinting? Waktu loe sekali dua kali ngepel lantai, loe berharap penghargaan setinggi langit?

Mungkin karena budaya macho bilang bahwa ngerjain itu semua adalah tugas istri.

Mungkin karena di masa kecilnya dia nggak pernah ngangkat satu jari pun, karena pembantunya (atau hanya ibunya) yang ngerjain itu semua.

Berlakulah sebagai partner sejati, bukan hanya tamu yang numpang makan, minum, tidur, dan berak di rumah.

Perubahan sejati di budaya kita berawal dari rumah masing2. Ajarkan anak2 kita partnership sejati!

*Notes: Tulisan ini diplagiat à la Afi dari postingan asli berbahasa Inggris. Terjemahan oleh Niko W.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s