LIYAN


Menjadikan individu/kelompok sebagai “yang lain” (atau “liyan”), a.k.a. “monster”, “yang pantas disingkirkan”, “yang pantas menderita”, “yang pantas mati” , “yang bukan manusia”, adalah salah satu metode disosiasi buat ngeblok empati dan rasa bersalah. Misalnya untuk dijadikan pembenaraan bahwa posisi kita mendukung pembasmian sang “liyan”—dengan kebrutalan diluar batas kemanusiaan pun—bukan sebuah tindakan yang jahat dan salah, bahkan sangat sah untuk dinikmati sebagai bahan orgasme moral.

Terlewat lah pertanyaan-pertanyaan valid soal bagaimana konsep liyan itu lahir, siapa yang menentukan siapa dan apa saja yang termasuk liyan ini, bagaimana orang bisa “jatuh” menjadi liyan, atau gimana struktur masyarakat mendorong orang-orang tertentu untuk jatuh menjadi liyan misal, terlepas dari terpaksa atau tidaknya, toh melawan demi keadilan dasar pun rentan terkena cap “liyan” dari pihak kuasa.

Nyaman saja kita mengamini kebrutalan terhadap pihak liyan ini, kita menganggap bahwa tidak mungkin menjadi liyan, kita adalah normal, kita orang baik yang taat aturan main (terlepas apakah aturannya adil atau tidak). Alasan sistemik-struktural paan sih? Aku miskin tapi moralku suci dan karakterku kuat, buktinya nih aku punya sertifikat antikorupsi, mana mungkin lah aku jatuh jadi liyan yang definisi dan perlakuannya sering ditentukan kuasa. Padahal ya suatu hari kuasa bisa saja me-liyan-kan kamu dan apa yang kamu lakukan, kaget lah kau ketika tahu para liyan ini ternyata nggak jauh beda dengan kau, tembak di tempat? kena deh! xD.

Tentu solusi keras untuk jangka pendek kadang perlu, tapi ketika ini terus-terusan menjadi posisi default seharusnya muncul pertanyaan, apa penentuan dan penanganan “sang liyan” di masyarakatmu ini benar-benar berdiri diatas fondasi yang adil? kenapa konsep liyan bisa ada? perlu sekali kah memaklumkan kebrutalan dan teror demi menyingkirkan sang liyan ini? kepentingan apa sih yang dilindungi disini? Jangan-jangan memang masyarakatmu ini saking gak adilnya sampai perlu memakai topeng koridor hukum demi mempertahankan keuntungan-keuntungan yang didapat oleh beberapa kelompok, keuntungan yang bisa ada berkat struktur yang tidak adil ini.
—–

Jangan-jangan memang masyarakatmu ini saking gak adilnya sampai perlu memakai topeng koridor hukum demi mempertahankan keuntungan-keuntungan yang didapat oleh beberapa kelompok, keuntungan yang bisa ada berkat struktur yang tidak adil ini.

–  Oleh Hanung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s