REVIEW SOLANIN | SPOILER ALERT


Solanin bercerita tentang persahabatan lima sekawan yang dimulai sejak kuliah, mereka adalah Naruo Taneda (Kengo Kora), Jiro “Billy” Yamada (Kenta Kiritani), Kenichi Kato (Yoichi Kondo). Mereka bertiga membentuk band rock dengan nama Rotti, sedangkan Meiko Inoue (Aoi Miyazaki) dan Ai Kotani (Ayumi Ito) adalah pendukung.

Sementara Meiko Inoue dan Taneda Taneda adalah sepasang kekasih yang bertemu saat masa kuliah mereka. Taneda adalah gitaris dan vokalis sebuah band bernama Rotti yang ia berntuk bersama dua temannya Jiro ‘Billy’ Yamada (drummer) dan Kenichi Kato (Bassis). Meiko dan Taneda adalah sepasang kekasih yang tinggal dalam satu atap tanpa sepengetahuan orangtua mereka. Meiko merasa tidak nyaman menjadi pekerja kantoran, sementara pekerjaan Taneda mengharuskan ia berangkat sore dan pulang pagi, jadi begitu tiba di rumah Taneda hanya tidur karena kelelahan.

Ketika itu ada acara seleberasi kelulusan kampus mereka di sebuah club, rotti tampil untuk pertama kali, teneda sebagai vokalis pun merasa gugup, pertunjukan berjalan lancar, hingga tiba saat mereka membawakan lagu terkahir mereka yang baru saja buat dihari ini untuk seleberasi kelulusan mereka. Taneda kehilangan kata-kata dan lirik yang ia ingin nyanyikan. Tiba-tiba dia mengatakan :

‘Ah sial! Aku tidak membutuhkan lirik!’

‘Dengarkan!’

*Drum dan bass pun mulai dimainkan

** Taneda-pun mulai bernanyi dengan nada tidak beraturan seperti ‘rapping’ tapi ‘out of the tune’

“Ini adalah saat ketika pesawat menabrak gedung-gedung!, Di mana perang di mulai di suatu tempat!, Ini adalah Aku yang merasa muak tanpa perasaan gembira pada semuanya!… Itu karena kita tidak memiliki cahaya harapan di masa depan kita!… Tidak ada perubahan dramatis yang akan terjadi!, Setiap hari akan terus membosankan!… Mungkin hidup sangatlah membosankan!… Tapi Aku tidak ingin menjadi seseorang yang berpura-pura puas dengan itu!.. Berhasil lulus menjadi seseorang…!”

“Tapi Aku ..!”

“Tapi Aku ..!”

“… Aku perlu lebih banyak waktu …”

“… Sampai ku temukan jawaban …”

“Bahkan jika itu berbahaya, bahkan jika harus ke ujung dunia. Aku akan berjalan di jalan ku sendiri.”

Tapi setelah mereka lulus, mereka mulai memasuki dunia orang dewasa, dimana mereka harus memikirkan masa depan mereka, langkah selanjutnya yang harus mereka buat, mereka bekerja seperti layaknya orang dewasa. Tapi mereka masih bersahabat, mereka akan bertemu 2 kali dalam sebulan untuk berlatih band dan berkumpul bersama mengenang masa kuliah mereka.

Meiko bekerja sebagai pegawai selama 2 tahun. Ai-chan bekerja di toko pakaian, Billy mengambil alih bisnis farmasi ayahnya, Taneda bekerja sambilan ini dan itu, sementara Kenichi menjalani hidupnya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang belum lulus + bekerja sambilan di toko alat musik.

Tapi hidup tidaklah sempurna, ada masa dimana mereka bertanya-tanya apakah jalan yang mereka pilih sekarang benar, apakah mereka puas dengan apa yang mereka lakukan sekarang dan selalu, pertanyaan yang tidak meyakinkan pada diri sendiri, apakah benar apa yang mereka lakukan sekarang adalah yang mereka inginkan. Tapi meski begitu, hidup teruslah berjalan.

Pada akhirnya, Taneda menjadi serius, ia keluar dari pekerjaan paruh waktunya dan menciptakan lagu bersama yang lain. Meiko bagaimana pun mendukungnya. Menurutnya Taneda terlihat paling keren saat ia serius dengan musik. Dan saat itu lah tercipta lagu berjudul ‘Solanin’. Mereka membuat CD demo dan mengirimnya ke berbagai perusahaan rekaman. Tapi sayang sekali, hanya sampai disana, tidak ada perusahaan yang memanggil mereka kecuali satu, dan itu pun bukan untuk membuat debut mereka, tapi ingin memakai musik mereka untuk debut seorang idol, yang di langsung di tolak oleh Meiko.

Mungkin setelah itu Taneda menjadi stress, itu lah yang dipikirkan oleh Meiko. Meski mereka terlihat baik-baik saja, mereka berkencan dan menghabiskan waktu bersama, tapi tiba-tiba Taneda meminta putus saat kencan mereka di perahu.

Lalu saya teringat ketika Taneda masih kuliah dan jatuh cinta pertama kali terhadap meiko, Taneda berkata : “ku pikir kita dapat bertahan asalkan kita bersama-sama, apakah itu salah?..

Lalu Meiko mengatakan : “Jangan berani-berani melepaskanya.”

Tetapi ketika di perahu itu, Taneda meledak. Tapi tentu saja Meiko tidak mau dan mengingatkan Taneda kalau Taneda berjanji mereka akan terus bersama-sama selamanya dan jika mereka bersama mereka akan baik-baik saja.

“Kau bilang kita akan selalu bersama!, kau tidak bisa mengatakan hal-hal seperti itu kecuali jika kau serius! Kau idiot!”

Pada akhirnya mereka berbaikan lagi. Keesokan harinya, Taneda pamit dan tidak pernah kembali. Kira-kira 5 hari setelah itu, Meiko mendapat telepon dari Taneda bahwa ia akan pulang, karena selama ini Taneda bekerja di tempat dahulu ia bekerja. Meiko tentu saja senang mendengar hal itu, tetapi ketika dalam perjalanan kecelakaan itu terjadi. Dan Meiko tidak pernah menjumpai Taneda kembali.

Dua bulan berlalu sejak saat itu. Meiko hidup dalam kesepian. Ia tidak bisa melupakan Taneda dan selalu mengurung diri, membuat teman-temannya khawatir. Ia bahkan melukai diri sendiri.

Meski ia terlihat baik-baik saja diluar, saat ia bekerja atau berkumpul bersama yang lain, saat ia sendiri Meiko benar-benar terlihat terluka.

Hingga sampailah disalah satu adegan kesukaan saya, ketika Billy dan Meiko bersepeda ke tempat latihan. Billy bertanya apakah Meiko baik-baik saja sekarang dan Meiko menjawab ia merasa baik-baik saja sekarang. Billy mengatakan ia sama sekali tidak sedih dengan kepergiaan Taneda, tapi ia marah padanya karena benari meninggalkan mereka, meski begitu, ia tidak tahu kenapa ia tak bisa berhenti menangis.

Billy : Maaf … Aku tahu ini adalah pertanyaan yang mengerikan tapi… Apa kau baik-baik saja sekarang… Tanpa Taneda?

Meiko : Tentu saja … Aku tidak apa-apa. Tapi… Tapi aku berpikir bahwa Aku harus berhenti merasa sedih.

Billy : Berani-beraninya brengsek itu!, Aku berpikir dia itu egois… Aku memikirkan ini setiap malam. Dia hanya mengacaukan kita dan aku tidak bisa berhenti meneteskan air mata.

Walapun di film ini kematian Taneda disebabkan oleh kecelakaan, disisi lain lain Aku juga berfikir bahwa terkadang orang yang melakukan bunuh diri itu ialah egois, egois bahwa ia memuaskan hasratnya pergi, tanpa sepengetahuan orang lain dengan anggapan tidak ada satupun orang yang akan membantunya, hanya demi menyenangkan egonya atau sebenarnya mereka yang berbuat tidak menyenangkan terhadap diri kita tidaklah jahat melainkan hanya untuk memuaskan ego mereka.

Inilah yang saya dapatkan ketika menonton Solanin, saya pun pernah merasakan apa yang dialami para tokohnya, dan mungkin banyak orang lain yang merasakan hal yang sama. Sehingga film ini bisa sangat bermakna. Aku merasa bahwa ini ialah cerita kita semua.

Saat muda, kita cenderung berpikir hanya ada satu cara yang sulit untuk mencapai kebahagiaan. Tapi sebenarnya cara itu lebih sederhana, ya kita berharap menemukan kebahagiaan yang sederhana, serta apa yang sebenarnya arti dari dunia yang penuh kepura-puraan dan ketidakwajaran ini. Kita yang beradaptasi dengan itu dan malah merasa bosan? kebebasan tanpa tujuan itu ternyata membosankan. Apa kita akan melakukannya hingga sampai masa depan yang membosankan?

Suatu hari ayah Taneda datang mengambil barang puteranya di apartemen Meiko dan Meiko menemukan sebuah catatan dari Taneda sebelum kepergiannya.

Dari sana Meiko menyadari kalau alasan Taneda pergi bukanlah kesalahannya, selama ini ia selalu menganggap semuanya salahnya. Lalu Meiko masih dalam fase ‘bargaining’ – ‘what if’. Seandainya ia tidak berhenti bekerja, seandainya ia tidak mengatakan apapun pada Taneda hari itu, seandainya mereka tidak bertemu dan tidak pacaran.

Ketika itu saya berfikir bahwa segalanya lebih rumit daripada apa yang selama ini saya pikirkan, mungkin. Saya mungkin hanya melihat 1/10 kebenaran yang ada yang dimana kemungkinan ada jutaan, terkadang ada jutaan-jutaan tali kecil yang melekat pada setiap pilihan yang engkau buat saat ini dan saat ini juga saya dapat menghancurkan hidup saya sendiri dengan pilihan yang saya ambil. Tapi ketika umur bertambah 20 tahun kemudian, saya tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah bisa melacak darimana sih semua sumber malapetaka ini. Saya hanya dapat memilih satu dari jutaan senar atau tali-tali itu untuk saya mainkan dan hanya ada 1 kesempatan untuk memainkanya. Misalnya mencari tahu sebab kenapa kita bisa bercerai.

Disamping itu Taneda memberi judul lagi ciptaannya ‘solanin’, ada saat Meiko bertanya apa arti judul lagu itu dan Taneda menjawab ‘racun kentang’. Tapi Meiko menanggap itu ialah perpisahan, awalnya ia menyangka itu lagu perpisahan untuknya yang artinya Taneda memang ingin berpisah darinya. Tapi lama kelamaan ia menyadari itu adalah lagu untuk perpisahan pada masa lalu. Taneda menulis itu untuk ‘say goodbye’ pada masa lalunya dan Meiko menyanyikan lagu itu untuk ‘say goodbye’ pada masa lalunya juga.

“Kesalahpahaman ini melampaui langit

Apakah kehidupan manusia hanya sebatas ucapan selamat tinggal?

Sedikit masa depan, walaupun terlihat

hanya sebuah ucapan selamat tinggal

Kamar kecil yang pernah kutinggali dulu

Sekarang telah ditinggali oleh orang lain

Kalimat yang pernah kaukatakan, walaupun dengan kata kasar

Setiap hari pun tetap tidak memiliki makna

Seandainya waktu itu kita melakukannya begini, seandainya hal itu dapat kembali

Akungnya Aku yang waktu itu sudah tidak dapat kembali

Walaupun kebahagiaan ini terus melonggar

pasti akan tumbuh bibit yang jelek

Karena itu, sekarang saatnya mengucapkan selamat tinggal

Kaleng kopi yang mendingin bersama musim dingin saat itu

Syal panjang berwarna pelangi itu

Semuanya kucoba untuk mengingatnya kembali

Walaupun kebahagiaan ini terus melonggar

pasti akan tumbuh bibit yang jelek

Karena itu, sekarang saatnya mengucapkan selamat tinggal

Bagaimanapun

Ucapan selamat tinggal pun tidak masalah

Aku dapat merelakannya di mana pun

Selamat tinggal, Aku pun entah bagaimana akan merelakannya

Selamat tinggal, itulah yang akan kukatakan”


Lagunya sangat bagus. Liriknya menyentuh. Saya berusaha merasakan perasaan Meiko ketika sedang bernyanyi lagu yang diciptakan oleh kekasihnya yang telah tiada, yang dimana tersurat lirik-lirik perpisahan, selamat tinggal, aku tak peduli!. Meiko menangis saat Meiko menyanyikan lagu terakhirnya. Lagunya sangat bagus. Liriknya menyentuh. Aku tidak membayangkan Aku akan menangis saat Meiko menyanyikan lagu terakhirnya, tapi ternyata Aku menangis. Film ini ditutup dengan happy ending, tapi Aku merasakan happy ending yang tidak sempurna, happy ending yang kehilangan sesuatu, satu yang hilang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s